Disclaimer : Applied

Warning : sebuah fik ringan, AU, OOC, Typo(s), baca author notenya di bawah yah.

Chapter 7 : A new housekeeping.

.

.

.

Sebenarnya jadi pembantu saja Sakura tidak punya niat sedikitpun. Pekerjaan ini terlalu mengeluarkan tenaga. Tapi kalau seperti ini terus. Lama-lama ia terbiasa juga. Iya. tapi tidak diperhatikan seperti sekarang ini juga kali. Sakura tidak bisa bekerja kalau ada wanita yang menungguinya. Ia seperti majikan saja mengawasi setiap pergerakannya dari mencuci, mengepel, bahkan saat akan memulai masak untuk makan malam nanti. Sampai sini Sakura harus menghentikan pekerjaannya dahulu.

"Maaf, aku telah mengabaikanmu beberapa jam ke belakang."

"Tapi, aku tidak juga tega untuk mengusirmu."

Hinata hanya menunduk mengalihkan pandangannya dari mata Sakura. Ia tahu ini tidak sopan, hampir setengah harian ini ia berada di dalam sini. Sakura tidak mungkin mengabaikan pekerjaan rumah karena ada tamu.

Tapi hati ini tidak bisa berdiam diri terus. Ia ingin membuat suatu perubahan, bolehkah sebelum semuanya terlambat? Masih ada waktu jika benar Naruto memiliki perasaan padanya. Masih ada waktu untuk menolak pernikahan itu sebelum waktunya tiba.

Dan karena kedatangan Sakura yang tinggal di apartemen Naruto, membuat Hinata tidak habis pikir. Jaman sekarang masih ada ya gadis muda yang ingin menjadi pembantu? Ini terlalu berbahaya, sedikit banyaknya Hinata juga tidak rela mengetahui hal itu. Semua itu baru terpikirkan olehnya sekarang.

"Aku hanya ingin bertemu dengan, Naruto-kun."

Sakura melirik jam, masih ada satu jam lagi saat Naruto pulang bekerja. Kenapa tidak datang pada malam hari saja? Wanita cantik ini benar-benar membuat Sakura hampir emosi. "Maksudku, kalau kau mau menunggunya, kau bisa duduk di ruang tamu saja. Dapur ini agak kotor, kurasa kau tidak akan nyaman." Sesopan mungkin Sakura mencari alasan untuk mengusirnya.

Hinata berdiri dari kursi makan yang di dudukinya. "Kau pasti lelah, bagaimana kalau malam ini aku saja yang memasak, lebih baik kau saja yang istirahat." Hinata malah mendorong Sakura ke luar dapur. Membuat Sakura benar-benar ingin marah. Kalau saja ia bukan temannya Naruto, mengusirnya adalah salah satu jalan agar ia bisa kembali bekerja.

"Silahkan duduk di sini, Sakura-san. Biar aku saja yang masak." Hinata menyuruh Sakura duduk di sofa ruang tamu.

Tunggu, mengapa kini wanita itu bersikap seperti ini?

"Tapi, Hina—"

"Dulu Naruto-kun sering makan masakanku kok. Kau tidak perlu khawatir." Setelah mengatakan itu Hinata langsung berlari ke dapur dengan semangat.

.

.

.

Tenten tidak mengerti mengapa atasannya setiap hari selalu berganti suasana hati. Kemarin mood Naruto baik, jadi kesalahan Tenten saat mengajukan laporan tidak terlihat. Kini mood-nya buruk sekali. Walau laporannya tidak salah, Naruto malah menyilangnya. Tapi, setelah mengetahui itu, Naruto malah meminta Tenten mengeprint kembali.

"Kalau kau kesal, jangan lampiaskan dengan laporanku." Tenten memprotes tidak terima.

"Yaaa maaf, aku kurang konsentrasi saja."

"Jadi, apa yang sudah terjadi padamu? Sebentar lagi ada rapat, aku tidak mau laporan ini akan membuat kesalahan nanti."

Naruto menaruh kepalanya di atas meja. Seperti anak sekolah yang sedang patah hati saja. "Aku kurang sehat untuk ikut rapat. Kau saja yang datang."

"Mana bisa begitu!" biasanya Naruto melakukan hal ini jika ada masalah dalam kehidupannya. Tenten mengerti betul dengan sifat Naruto. Selama setahun ini menjadi bawahannya sudah bisa membaca banyak ekspresi Naruto. "Katakan, ada apa denganmu. Kalau sesuatu itu benar-benar menyita pikiranmu, aku akan membiarkanmu absen rapat."

Naruto tetap bergeming.

Kemudian Tenten bicara lagi, ia hanya menebak. "Kau sedang patah hati lagi? Apa karena wanita Hyuuga itu?"

"Apa hubungannya dengan dia?" sahut Naruto akhirnya.

"Lalu wanita yang mana bisa merebut hatimu kali ini, setelah kau melepas wanita Hyuuga itu kemarin?"

Naruto mengangkat kepalanya kembali menatap Tenten. Mengapa wanita selalu tertarik dengan masalah orang? "Sepertinya aku kurang pandai menyembunyikan sesuatu darimu."

Mata Tenten menyipit. "Kau-lah yang selalu menampakan setiap masalah di tempat kerja. Kau kurang profesional, bos."

"Sudah kubilang tidak usah panggil aku bos." Ia sudah memperingatkan itu kepada bawahannya. Baginya dengan begitu hanya akan ada batasan dari rekan-rekan di bawahnya. Ia tidak menyukainya. Lagipula ia hanya atasan di bidang pemasaran.

Tenten melipat tangan. "Jadi, apa wanita itu menolakmu?

"Aku malah belum mengatakan perasaanku," Naruto bergumam.

"Kalau begitu segera katakan! Kau sudah dewasa, kurasa kau tahu harus melakukan apa?"

"Tapi, aku belum mendapatkan waktu yang cocok untuk mengatakannya?"

"Jangan menunggu waktu yang cocok!"

Mendengar kalimat Tenten, bayangan Gaara malah yang muncul. Membayangkannya saja sudah membuat Naruto benar-benar cemburu. Bagaimana bisa pria itu bisa pergi kencan dengan Sakura?

"Ini tidak semudah yang kau kira." tanya Naruto.

"Jangan mempersulit situasi kalau begitu."

Beberapa saat Naruto hanya memandang wajah Tenten yang benar-benar semangat. Wanita itu cukup memberikannya semangat setelah mengatakan semua ini. "Baiklah, aku akan bersiap untuk rapat kalau begitu."

.

.

.

Naruto tidak bisa berkata apa-apa lagi saat orang lain yang membukakan pintu apartemen, bukan orang seperti biasanya. "Hinata?" lalu apa yang sudah terjadi sekarang? Wanita ini adalah salah satu orang yang tidak ingin ia temui sampai saat ini. Kenapa kini berada di hadapannya?

Iya, ini pasti mimpi.

"Selamat datang, Naruto-kun." Ada celemek yang berada di depan badan wanita berambut panjang itu. Ada pula aroma sebuah masakan dari dalam rumah. Sepertinya ia baru selesai memasak. Sebentar, mengapa ini bisa terjadi?

"Kau mau makan atau mandi dulu?"

Ragu-ragu Naruto melangkah masuk ke dalam apartemennya. Apa ia salah masuk apartemen, atau masa lalunya memang benar-benar tidak pernah ia tinggalkan. Dan ia yakin telah benar-benar meninggalkan masa lalu saat melihat Sakura duduk di ruang tamu sambil menonton dengan malas.

"Selamat datang, Naruto." Sakura menyadari Naruto yang berada di belakang sofanya, ia menyapanya santai seperti biasa. Pemuda itu masih belum mengerti dengan situasi ini.

"Sakura, apa yang sudah terjadi?"

Sebelum Sakura bisa menjawab pertanyaan itu, Hinata muncul dari belakangnya, "aku sudah menyiapkan air panas dan makan malam. Setelah mandi kita akan makan malam bersama, Naruto-kun."

Sementara Sakura lebih baik diam saja. Sedikit banyaknya ia juga kesal untuk hari ini. Pekerjaannya diawasi, lalu saat pekerjaan yang paling disukainya direbut oleh orang lain—yaitu memasak, mendadak malam ini ia rela untuk berpuasa dulu karena nafsu makan tidak ada sedikit pun. Cih, sabar sajalah.

Sakura yakin, ini tidak akan bertahan lama.

.

.

.

Minggu pertama Sakura bekerja di Puskesmas ternyata lebih banyak di atas meja ketimbang di dapur. Ia hanya mencatat setiap makanan yang harus dikonsumsi oleh ibu hamil dan anak balita. Kebetulan ia ditempatkan di posko untuk anak dan ibu.

Oh, ia sempat bersyukur memiliki pekerjaan sekarang, kalau tidak ia hanya akan menganggur saja di rumah seharian, ada yang menggantikannya secara sukarelawan di apartemen. Ia tidak perlu lagi memikirkan itu tiap hari. Dan apa orang lain bisa bayangkan? Sakura hampir ingin membuat keributan dengan Hinata saat wanita itu sudah menguasai apartemen Naruto hampir seminggu. Siapa yang bisa membayangkan semua ini? Pemikirannya yang hanya bisa menebak semua itu terjadi hanya sementara ternyata tidak tepat.

Ini terlalu buruk. Sakura harus selalu makan di luar karena sangat dan sungguh malas untuk mencoba duduk di meja makan bersama mereka berdua. Mukanya tidak setebal itu—karena kini ia merasa dengan perlahan jabatan pembantunya mulai didepak. Sementara Naruto terlihat hanya bisa diam saja. Seolah kini Sakura hanya menumpang (atau bisa disebut menyewa kamar kost) dan untung saja—terkadang saat malam tiba Gaara mengajaknya makan di luar.

Hanya saat bekerja ia bisa melarikan diri sementara dari apartemen itu. Sakura pula tidak terlalu suka untuk berbasa-basi dengan Hinata.

"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?"

Lagi-lagi Gaara.

Pria berumur dua puluh tujuh tahun itu tahu, Sakura pasti akan menuju halte saat pulang dari Puskesmas. "Sekarang kau jadi pengangguran ya? Soalnya kapan saja kau terlihat." Sakura naik ke dalam halte bus.

"Pengangguran atau tidak aku masih kaya juga."

Sakura mendengus mendapati Gaara berbicara seperti itu. Walau ia dingin, pria itu memiliki percaya diri yang tinggi. "Aku senang bekerja di tempat baru ini. Terima kasih ya!"

"Kurasa kau akan membuat perubahan di sana."

Sakura memecah tawanya. "Jangan terlalu memujiku. Aku bukan seorang yang bisa merubah apapun."

"Benarkah?" Gaara hanya mengingatkan kalau-kalau Sakura terbayang dengan Hokaido kembali. Sepertinya untuk sekarang ini sungguh mustahil. "Aku baru ingat ada kerjaan di kepolisian. Kalau begitu sampai jumpa."

Saat Gaara berdiri ada sesuatu perasaan yang ingin menahannya pergi. Di kota ini hanya ada Gaara yang dapat membawanya kemana-mana. "Tunggu!"

Gaara berhenti, ia menoleh dengan muka menunggu. Tumben sekali Sakura menahannya. "Ada apa?"

Sakura menghela napas, sebenarnya ia ingin minta Gaara menemaninya untuk ke suatu tempat. Tapi, nanti Gaara malah mengetahui kondisi di dalam apartemen Naruto. Hm, setelah dipikir-pikir siapa yang peduli antara Gaara dan apartemen Naruto?

"Kupikir siang ini kau tidak sibuk." Sakura melebarkan cengirannya. Iya, Gaara sudah mengerti maksud Sakura. Ia pasti minta ditemani ke suatu tempat.

"Kau mau kemana memangnya? Sebenarnya aku bisa menunda ke sana sebentar."

Sakura malah teringat dengan kejadiannya sehabis dirampok itu. Benar-benar mengenaskan dan ia memang butuh teman untuk mencari sesuatu itu.

"Bisakah kau menemaniku mencari kontrakan di sekitar sini?"

.

.

.

Seminggu yang berbeda. Biasanya di dalam meja ini hanya ada ia dan Sakura, lalu dengan hidangan makanan super lezat yang sederhana. Akan ada obrolan-obrolan seputar kegiatan apa yang sudah mereka lalui hari ini.

Kini di hadapannya ada Hinata. Wanita itu selalu begini dan melalukan hal-hal yang membuat Naruto tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Ia akan merasa buruk kalau ia membentak Hinata dan menyuruhnya menghentikan ini semua. Tapi, wajah Hinata benar-benar seperti hal yang baru—seolah beberapa minggu lalu tidak pernah adanya perpisahan di antara mereka berdua. Wajah itu membuatnya tidak bisa menghentikan aktifitas aneh di sekitar apartemennya. Ini terjadi begitu saja.

Naruto tahu, masakan Hinata lezat. Wanita itu menghidangkan pasta dan juga spaghetti. Kuahnya pas, kejunya juga pas. Semua terasa pas. Tapi, mood ini mendadak benar-benar buruk.

Lalu, ada apa pula dengan Sakura? Mengapa wanita itu tidak pernah ikut duduk makan malam bersama mereka? Memangnya apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua? Selama ini pun Naruto telah kehilangan kontak dengan pembantu terpelajarnya itu.

"Naruto-kun, kau mau menambah pasta lagi?" Hinata mencoba menawarkan. Karena dilihatnya Naruto hanya makan beberapa sendok. Padahal dahulu ini adalah favoritenya.

"Aku sudah kenyang." Naruto mengelap mulutnya dengan menggunakan tisu yang disediakan Hinata di atas sana. "Terima kasih atas makan malamnya."

"Kau sudah selesai makan?" Hinata tahu, pasti pemuda pirang itu akan segera pergi dari sana. Jadi, sebisa mungkin ia akan menahannya.

Naruto tidak menjawab pertanyaan itu. Ia berniat akan kembali ke kamar saja, tapi, Hinata begitu keras kepala. "Naruto-kun!" wanita itu ikut berdiri juga. Ada raut kekecewaan di wajahnya. Kenapa sikap pria itu begitu berbeda? "Aku minta maaf."

"Untuk apa?"

"Karena keluargaku menjodohkanku." Hinata berkata lamat-lamat. Akhirnya obrolan ini keluar juga. Naruto kira ia sudah lupa ingatan. "Aku tahu kau pasti sangat kecewa. Makanya kau berbuat seperti ini padaku. Tapi demi Tuhan, keputusanmu ini bukanlah yang terbaik untukku."

Respon Naruto hanya mengangkat alis sebelah. Kalau tahu kejadiannya akan begini, lebih baik kenapa tidak sekalian saja Naruto pindah apartemen—sehingga wanita itu tidak bisa mengganggunya lagi.

"Oh, aku tidak pernah menyalahkan itu." Naruto berbalik melangkah keluar dari dalam dapur. Niatnya akan kembali ke kamar saja lalu segera tidur. Dan di sini ia tidak akan pernah menyangka aksi nekat Hinata yang mengejarnya.

"Naruto-kun, apa kau tidak mengerti keinginaku?!"

Naruto menghentikan langkahnya. Harus mengeluarkan kata-kata apa lagi pada wanita ini biar ia hidup tenang saja di keluarga Hyuuga, tidak seperti ini.

Sementara Sakura di dalam kamar tentu mendengar drama ini, mengabaikan perut keroncongan yang sedari tadi ia tahan sampai kedua mantan kekasih itu selesai makan malam.

"Maaf, aku sangat lelah hari ini, aku ingin segera istirahat."

Mendadak wajah Hinata memerah, ia bukan sedang tersipu karena malu. Melainkan sedang menahan tangis. Walau begitu, Naruto tidak sampai hati membentaknya. Bukankah ia dulu bagian dari hidupnya? Dan Naruto tidak akan pernah melupakan itu—itu karena Naruto masih menghargainya sebagai seorang wanita.

"Kurasa kau harus segera pulang, Neiji pasti mencemaskanmu."

.

.

.

Seharusnya, Naruto tidak pernah membiarkan Hinata keluar masuk dari apartemen dengan sesuka hati. Sakura tidak menyangka Hinata memiliki kunci dulpikat apartemen ini. Baik, mereka dulu memang sepasang kekasih. Hingga saat ini, menggantikan seluruh pekerjaan Sakura dari A sampai Z tanpa seizinnya. Ketika Sakura bangun tidur, Hinata akan berisik di dalam dapur, dan ketika Sakura sudah pulang dari Puskesmas, semua pekerjaan sudah terselesaikan. Termasuk memasak.

Sakura sebenarnya kurang suka dengan apa yang Hinata masak. Sama halnya dengan pemuda itu. Semua komunikasi tidak berjalan dengan lancar seperti biasa. Untuk bertemu Naruto saja bisa dihitung dengan jari dalam minggu ini. Semua ini karena kedatangan Hinata.

Niat untuk segera pindah dari apartemen itu tentu saja ada. Sakura selalu mengumpulkan brosur-brosur tentang sewa menyewa apartemen. Naruto tentu saja mengetahui ini. Ia bisa menebak isi hati Sakura. Tak sekali pun wanita itu mengajaknya berbicara. Ia lebih mengabaikannya. Walaupun mereka berdua ada dalam satu atap, herannya ia sangat merindukan itu.

"Sakura?"

Sakura menoleh, rambutnya masih terselubung dengan handuk guna untuk mengeringkannya. Tidak biasanya jam sembilan Naruto belum mengunci diri di kamar. Wanita Hyuuga itu juga telah pulang, makanya ia baru bisa mandi jam larut begini. Iya, Sakura tahu mandi malam itu tidak baik. Hanya saja, ia kurang suka saat wanita itu berada di dalam sini. Jadi, yang bisa Sakura lakukan hanyalah mengurung diri di kamar. Anggap saja untuk saat ini ia tinggal di tempat kost-nya Naruto.

"Kau mandi malam terus."

"Ada banyak pekerjaan yang harus aku susun setiap malam di Puskesmas. Makanya aku lebih sering menghabiskan waktuku di dalam sana saat malam." Sakura sebisa mungkin mencari alasan yang tepat.

"Aku baru tahu kalau pekerjaan di Puskesmas begitu menyita waktumu."

Sakura tahu, Naruto menyadari kalau alasannya adalah sebuah kebohongan. Dengan berbohong tidak ada satu orang pun yang dapat menatap mata lawan bicaranya.

"Ini brosur punyamu?" Naruto mengangkat brosur-brosur cicilan apartemen yang diantaranya terletak di daerah sini. Tentu saja pria itu bisa menebak Sakura berniat akan pindah karena kejadian ini.

"Dimana kau menemukan itu?"

"Di bawah meja ruang tamu." Naruto langsung membuang semua brosur itu di depan mata Sakura—ke dalam sebuah keranjang sampah di samping pintu kamar mandi. Sakura tidak bisa memprotes. Karena brosur sebelumnya pernah hilang juga. Dan kali ini ia tahu siapa pelakunya—ups, padahal awalnya ia sempat menyalahkan Hinata.

"Ada apa denganmu, Sakura? Kau berbeda sekali akhir-akhir ini."

Alis Sakura mendadak bertaut, berbeda? Bukankah ini juga atas ketidak tegasan pria itu kepada Hinata. "Aku tetap seperti ini, tidak ada yang berbeda dariku."

"Apa harus aku sebutkan sesuatu yang berbeda darimu?" Naruto memberi jeda beberapa saat kepada Sakura untuk menjawab. Tapi, wanita itu tidak bisa berkata apa-apa. "Kau tidak pernah mau berbicara padaku, bahkan membuatkanku sebuah masakan lagi?"

"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Kau sudah tidak membutuhkan aku lagi. Aku juga sudah tidak bisa tinggal di sini lagi. Maka dari itu aku memiliki brosur-brosur itu."

"Sakura, aku mohon. Aku juga tidak menginginkan ini. Hinata sendiri yang datang dan tanpa seizinku melakukan semua ini." Naruto mencoba memohon. "Aku ingin semua ini berakhir."

"Loh, bagus, kan ia peduli padamu. Kau tidak membutuhkan pembantu yang lain kalau begitu."

"Sakura dengarkan aku," Naruto meraih kedua bahu Sakura dengan tangannya, membawa mata mereka saling beradu pandang. "Aku tidak membutuhkan ini. Aku hanya membutuhkanmu. Aku bersungguh."

Beberapa saat Sakura hanya terdiam. Mendengar itu ada sesuatu yang tergelitik di dalam perasaannya. Naruto, membutuhkannya? Sebagai apa? Pembantu?

"Kemarin aku terlalu mendadak memutuskannya. Kurasa itu sedikit membuatnya tertekan. Tapi, aku ingin ia bisa hidup bahagia menjalani tata krama kehidupan yang sudah ditentukan keluarganya. Aku melakukan semua itu karena aku menghormati Hinata."

Sakura masih berdiam diri. Dari awal ia tidak mengetahui ini. Apalagi menyangkut tata krama dan masalah asmara orang lain. Tujuannya kemari bukanlah hal itu. Tapi, kenapa rasa ingin tahu lebih dalam tentang kehidupan Naruto begitu kuat? Sakura juga melihat ada keinginan yang sama kuatnya di mata Hinata, dan ini membuatnya ingin melarikan diri.

"Lalu, sekarang apa yang harus kau lakukan? Kulihat kau hanya berdiam diri saja."

"Aku berdiam diri karena mungkin apa yang ia lakukan ini adalah keinginannya."

"Keinginannya untuk menjadi pendampingmu? Makanya dia rela melakukan itu."

"Sakura?" Naruto tidak menyangka Sakura bisa berkata seperti itu. Nadanya lebih sinis dari biasa-biasanya. "Tapi kau benar, makanya aku harus berdiam diri."

"Itu namanya kau memberinya harapan!"

"Aku tidak memberinya."

"Bohong!" Sakura melipat tangan di depan dadanya. Apa yang ada di pikiran Naruto sekarang? Sudah cukup ia selalu merutuki Hinata terus-menerus. Apa Naruto ingin dirutuki juga?

"Sakura, aku tidak berbohong. Awal bulan nanti adalah pesta pernikahannya. Aku tahu saat itu tiba, ia akan menghentikan ini dengan sendirinya. Makanya aku diam saja."

Sakura melepas pegangan tangan Naruto di kedua bahunya. Entah mengapa obrolan ini terasa berat untuk dibicarakan dan Sakura tidak menyukai tema ini.

"Jadi, aku mohon kepadamu, Sakura. Jangan pernah mengambil brosur-brosur atau berniat pergi dari apartemen ini."

.

.

.

"Hari ini bubur kacang merah ya?"

Sakura mengangkat kepala untuk melihat siapa yang berbicara. Oh, ternyata salah satu dokter anak di puskesmas ini.

Sakura hanya mengulum senyumnya. Ia belum terlalu mengenal dokter itu. Padahal umurnya sudah hampir lima puluh. Tetapi mukanya masih tetap kencang. Dan juga err... dadanya yang, yah bagus. Dan Sakura selalu sulit mengatakan itu. Apalagi kalau soal dada, ingatannya ke arah gadis Hyuuga lagi. Wanita itu dadanya—ehem, ok dan badannya terlihat seperti model. Ini sangat sulit untuk diterima. Kalau soal urusan dada, entah mengapa sedikit membuat Sakura mundur teratur.

"Boleh aku minta satu mangkuk?"

"Tentu saja." Segera Sakura menyendok bubur itu ke dalam mangkuk plastik kecil dan memberikannya kepada dr. Tsunade.

"Kau sangat pandai memasak. Seharusnya kau bisa bekerja lebih dari ini," Tsunade berkata setelah sendokan pertama buburnya. Kemudian ia mengambil tempat duduk di samping meja Sakura.

"Anda terlalu memuji saya. Sebenarnya pekerjaan yang tidak menyita waktu saya seperti inilah, yang saya butuhkan."

"Oh, begitu." Tsunade menyendokan lagi buburnya dan masuk ke dalam mulutnya. "Awalnya posko imunisasi hanya menyediakan bubur dua kali seminggu. Itu juga hanya bubur kacang hijau saja. Semenjak kau di sini pasien meminta menu bubur tiap hari."

Kadang harus Sakura akui, memang benar bahagia saat makanan yang dimasaknya dipuji orang—dan itu sedikit membuat perasaan anehnya teralihkan. "Oh, jadi begitu. Aku juga merasa heran mengapa mulai minggu ini tugasku memasak bubur setiap hari. Rupanya begitu."

"Tapi kau juga kreatif ya. Ada banyak varian yang kau buat."

"Soal itu agar pasien tidak bosan tentunya."

Tsunade tersenyum. Kini mangkuk buburnya sudah kosong. "Baguslah, semoga kau betah bekerja di sini."

.

.

.

"Lebih baik kau pulang sekarang, biar aku saja menunggu Naruto."

Sudah jam sembilan lewat namun Naruto belum kembali juga. Sakura sengaja keluar kamar karena ia tahu Hinata masih menunggunya di meja makan. Ia juga tahu beberapa kali Hinata mencoba menghubungi Naruto tapi tidak ada balasan. Kemana pria itu pergi sekarang ini?

"Ta-tapi aku—"

"Mungkin dia lembur. Ini sering terjadi."

Hinata menundukan kepalanya. Ia sebenarnya tidak bisa segera pulang sebelum bertemu dengan pemuda itu. Hari pernikahan semakin dekat. Untuk merubah keputusan Naruto sangat begitu sulit.

"Kau belum makan, kan?"

Hinata tidak menjawab, dan Sakura sudah tahu jawabannya pasti belum.

"Bagaimana kalau kita makan dulu?" ini adalah tawaran yang sebenarnya tidak pernah ia pikirkan.

Hinata menggeleng. "Sepertinya aku akan pulang saja, tolong sampaikan salamku kepada Naruto-kun."

Sakura hanya tersenyum sembari mengangguk. Tentu saja ia tidak akan repot-repot menahan wanita itu untuk tetap makan malam bersamanya. Setelah itu Hinata bergegas keluar apartemen dan pulang. Barulah setelah itu Sakura bisa bernapas lega. Diliriknya jam dinding lagi, hari hampir jam sepuluh malam.

Sedikit banyaknya Sakura merasa cemas juga, ia takut terjadi apa-apa pada Naruto. Sakura langsung menepis pikiran negatifnya. Ia selalu begini. Selalu berpikir negatif pada sesuatu apapun yang akan terjadi.

Hampir setengah jam kemudian terdengar suara bel apartemennya berbunyi. Sakura langsung meleset membuka pintu dengan perasaan yang cukup melegakan.

"Selamat malam, maaf mengganggu."

Seorang wanita bercepol dua ternyata, bukan Naruto. Sakura mendadak terdiam kecewa dengan keadaan sekarang.

"Ah, Sakura apa kabar?" Tenten membuka suara lagi, karena dilihatnya Sakura hanya terdiam.

"Baik." Sakura hanya bisa menjawab pendek. Otaknya mendadak kosong.

"Sudah lama ya tidak ketemu. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu."

Sakura tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Di depan pintu ternyata udara cukup dingin. Sedikitpun Sakura tidak sadar untuk membawa Tenten masuk ke dalam. Dan seharusnya Sakura merasa heran mengapa Tenten bertamu di tengah malam seperti ini?

"Ya ampun lama sekali sih Sai ini. Naruto sedang mabuk, kami mau membawanya ke atas, sepertinya temanku sedikit kesusahan, kurasa aku harus kembali ke bawah."

Sakura mengerti. Sebelum Tenten benar-benar berbalik arah, ia langsung turun tangga duluan ke bawah melihat sang majikan yang baik hati itu. "Ya ampun, sini biar kubantu." Sakura melirik ke arah Sai yang kelihatannya mabuk juga. Pantas saja ia agak kualahan membopong Naruto.

Tenten turun satu lantai untuk membantu Sakura membawa Naruto menuju ke tempat tidurnya. Sungguh, tidak mudah membopong seorang pria dalam keadaan mabuk. Selain mereka berat, mereka juga bau sake.

"Terimakasih sudah mengantar Naruto." Sakura membungkuk saat Tenten sudah berada di pintu depan kelihatannya wanita itu sedikitpun tidak mabuk.

"Tadi hanya ada pesta kecil-kecilan di kantor. Makanya kami sempat minum. Sepertinya agak merepotkanmu." Ujar Tenten. "Baiklah, aku permisi dulu."

Sakura membungkuk lagi. Setelah Tenten menuju ke lantai bawah, barulah ia menutup pintu dan berjalan masuk ke dalam.

Sakura bergegas membuka kulkas, kalau tidak salah ia masih menyimpan air kelapa. Dicari-carinya minuman itu tetapi ia tidak menemukannya. Sayang sekali, padahal air kelapa dapat membantunya sedikit sadar dari mabuk. Kalau tidak, Sakura yakin besok Naruto akan muntah. Kemungkinan terburuknya ia akan sakit kepala atau demam.

Sakura hanya bisa membawa segelas air putih hangat ke dalam kamar Naruto. Di lihatnya pria itu masih bersandar di kepala ranjang dengan muka memerah. Sakura yakin Naruto belum tertidur. Ia hanya memejamkan mata.

"Aku tahu, kau pasti tidak biasa minum, kan?" Sakura mulai duduk di sisi ranjang Naruto sambil menghadap pria itu.

Perlahan Naruto membuka matanya. Ia benar-benar sempoyongan.

Sakura mendengus. "Kalau tidak biasa minum kenapa nekat minum? Lain kali jangan memasukan lagi sake ke dalam perut. Sebenarnya itu sangat tidak bagus." Sakura terus saja mengomel. Walaupun ia tahu orang mabuk tidak akan menyesap tiap kalimatnya. "Ayo minum air putih, atau kau mau muntah?"

Naruto menarik badannya dari sandaran, Sakura masih bergeming walau kini tubuhnya sudah bersandar di bahu Sakura. Tangan Naruto terangkat untuk memeluk tubuh langsing wanita itu. Dalam keadaan seperti ini, Sakura bisa merasakan napas hangat Naruto di persimpangan lehernya.

"Naruto?" Sakura menggerakkan badannya. Berusaha untuk melepaskan diri. Tapi, yang ada pria itu semakin menenggelamkan wajahnya di sana. "Apa yang kau lakukan sih?" Sakura menaruh gelas yang dipegangnya ke meja samping ranjang—tentunya ia sedikit kesusahan melakukan itu.

Dalam posisi seperti ini badan Sakura mendadak hangat. Jujur saja ia benar-benar sedikit terganggu dengan napas Naruto yang terhembus pada lehernya. Sudah lewat berapa puluh detik pria itu masih dalam posisi seperti itu. Sakura mulai lelah dalam posisi seperti ini. Bagaimanapun juga ia harus melepaskan diri.

"Sakura..." Naruto bergumam dengan suara serak. Sial, mengapa rambut pemuda itu bisa seharum ini kalau begitu dekat. Dan bisikannya cukup terdengar seksi.

"Berjanjilah tidak akan pernah pergi dariku," tambah Naruto. Sakura tidak tahu mengapa kalimat itu meluncur dari bibirnya. Entah ia sadar atau tidak. Mengerti atau tidak kalimat yang diucapkannya.

"Aku tidak ingin kehilanganmu."

Tentunya mata emerald itu melebar beberapa saat. Dan pada detik berikutnya mata itu meredup dan mengerti. Sakura menyandarkan pipinya di bahu Naruto, berusaha menyamankan posisinya. Perlahan tangan Sakura pun terangkat membalas pelukan itu.

.

.

.

TBC

.

.

.

Hei, apa kabar? Senang bisa bertemu dengan kalian kembali.

Sudah tahu kan event NaruSaku yang akan diselenggarakan nanti? Amai sudah punya grup sih, namanya Tsubobayo. Itu singkatan dari Tsubomi dan Dattebayo. Tsubomi berarti kuncup bunga dan Dattebayo, amai yakin semua sudah cukup tahu.

Jadi, dalam kelompok Tsubobayo baru ada tiga author, amai butuh satu lagi author yang mau masuk ke grup kami :D jika ada salah satu dari kalian yang mau, tolong komen di kotak review dan jangan lupa besertakan nama facebooknya ya, amai akan langsung sambut kamu dengan suka hati *ceileh*

Terimakasih kepada: berry uchiha, hikikaze naoe, Blu Kira, dhanynaksevenfolddism, Arata Aurora, caklaura bozz 19, A zoldyck, adityapratama081131, Guest(huahahha rate tetep T kok, gak kok review kamu bikin kk senyum XD terimakasih ya) , Naumi Megumi, Rikijo (Terimakasih sudah menunggu, ini amai apdet spesial deh untuk kamu), Ae Hatake, Sai Akuto, Guest, Guest, MysteriOus Girl, Guest, SR not Author, hana, asdf (apa kamu manggil amai 'kang' maksudnya akang? XD), ohssarang, Rizka scorpiogirl, Meris97 (hai Meris salam kenal, terimakasih sudah membaca ff NaruSak-ku, jadi selama ini kamu suka baca pairing apa emang?), miiko mimi.

Well, bagaimana chapter ini? Apa kah readers berpikir Sakura sudah memiliki perasaan kepada Naruto?

Sampai jumpa di chapter depan.