The Golden Fox

Disclaimer:

Saya tidak memiliki hak kepemilikan atas Naruto, High School DxD, Dog Days, InuYasha, dan anime atau manga lainnya.


Chapter 7

Pulau yang Terisolasi

Setelah bermalam di sebuah desa kecil di Negara Petir, Yasaka membawa Naruto dan Yukikaze ke sebuah pantai di perbatasan antara Negara Petir dan Negara Air. Yasaka berkata bahwa seorang kenalannya akan membawa mereka melintasi lautan menuju pulau kecil yang menjadi tujuan mereka.

Di sinilah ketiga kitsune itu berada. Naruto dan Yukikaze menyaksikan Yasaka berdiri di tepi pantai sambil memandang lautan, terlihat sedang menunggu sesuatu terjadi.

"Yasaka-neechan, di mana orang yang kau bilang akan mengantar kita?" tanya Naruto.

"Tunggulah sebentar, aku harus memanggilnya dulu" jawab Yasaka. Gadis berusia 18 tahun itu mengambil sebuah sangkakala dari dalam tasnya. Kemudian dia meniup sangkakala itu dengan sekuat tenaga.

"Umm, apa yang dilakukannya?" tanya Naruto.

"Aku tidak tahu. Mungkin saja onee-chan sudah kehilangan akal sehatnya" balas Yukikaze. Dia berpikir kakaknya terlihat seperti orang gila yang meniup sangkakala di tepi pantai.

Yasaka berhenti meniup dan menarik nafasnya, kemudian lanjut meniup sangakakala. Setelah berhenti untuk menarik nafas lagi, Yasaka meniupnya untuk ketiga kalinya. "Kuharap dia mendengarnya" gumam Yasaka sambil memasukkan kembali sangkakala ke dalam tas.

Beberapa saat kemudian, permukaan laut yang ada di depan mereka bergetar. Mereka melihat sirip punggung seekor ikan yang sangat besar mendekat. Naruto dan Yukikaze menatap dengan mata terbuka lebar saat seekor hiu raksasa keluar dari dalam permukaan air dan berhenti di depan Yasaka. Hiu raksasa itu memiliki ekor menyerupai kail pancing yang bahkan lebih besar darinya dan ditutupi oleh duri-duri kecil.

"A-Apa itu?" tanya Yukikaze dengan tubuh bergetar.

"Kuperkenalkan kepada kalian. Si lucu ini bernama Isonade, seekor youkai hiu" Yasaka memperkenalkan hiu itu kepada Naruto dan Yukikaze, "Sebenarnya dia masih belum memiliki nama, tapi orang-orang sering menyebutnya Isonade atau Ōguchiwani" lanjutnya.

"Jangan bilang kita akan menaikinya?!"

"Tidak perlu takut, Yukki. Dia adalah hiu yang jinak, tidak seperti peliharaan kita yang baru itu" Yasaka tersenyum saat Naruto tidak menyadari apa yang dimaksudnya, "Tapi aku belum pernah menaikinya juga, jadi kalian bukan satu-satunya yang harus merasa gugup."

"Itu bahkan lebih buruk lagi!"

Tidak peduli seberapa banyak Yasaka mencoba menjelaskan, Yukikaze tidak akan bisa melihat hiu raksasa dengan mulut besar dan ekor berduri-duri itu sebagai makhluk yang baik. Naruto tidak segugup Yukikaze karena dia sudah pernah bertemu dengan makhluk yang jauh lebih besar. Dia yakin Yukikaze akan lebih takut pada seekor katak raksasa daripada hiu ini.

Yasaka tidak menyadari situasi adiknya atau dia mungkin menyadarinya tapi tidak menghiraukan. Gadis berusia 18 tahun tersebut melompat ke atas punggung Isonade tanpa ragu lalu dia duduk di depan sirip punggungnya.

"Hei, ini tidak terlalu buruk! Cobalah naik ke atas sini, Yukki!" Yasaka memanggil adiknya dengan senyuman lebar. Ya, dia benar-benar tidak menghiraukan ketakutan yang terpancar jelas dari Yukikaze.

Tidak seperti Yukikaze yang penuh keraguan, Naruto melompat ke atas punggung Isonade, "Oi, cepatlah! Aku tidak sabar melihatnya berenang!" teriak Naruto.

Jika Yasaka sedang mengabaikan ketakutan adiknya, maka Naruto memang tidak menyadarinya sama sekali karena dia sedang bersemangat untuk menaiki hiu raksasa.

"Tidak! Aku tidak akan pernah naik ke atas sana! Ikan itu amis, basah, dan… dan licin. Bagaimana jika aku terjatuh nanti ke laut?!"

"Aku akan memelukmu!"

"B-Bodoh! Jangan mengatakan sesuatu yang memalukan!"

Setelah waktu yang lama, Yukikaze dipakasa oleh Naruto untuk melompat ke atas punggung hiu raksasa yang sangat dibencinya itu.

"Uwaahh! Celanaku menjadi basah dan bau- ugh, aku akan mencucinya dengan semua sabun yang kupunya!"

"Kau berisik sekali."

"H-Hei, di mana kau menaruh tanganmu! Jangan memelukku, bodoh!"

"Kau bilang kau akan terjatuh."

Yasaka memerintah Isonade untuk memulai perjalanan mereka. Meskipun hiu raksasa itu tidak bisa berbicara, dia dapat memahami kata-kata Yasaka dan menjalankan perintahnya dengan berenang ke arah lautan yang luas.

Sebagai seekor hiu, Isonade dapat berenang dengan kecepatan tinggi di permukaan laut. Yasaka dapat memperhitungkan mereka akan mencapai tujuan mereka sebelum malam tiba. Naruto dan Yukikaze yang duduk di belakangnya menjerit keras, tentu saja dengan alasan yang berbeda. Naruto menikmatinya dan Yukikaze tidak.


"Jadi, mereka tidak menemukan apa-apa" Sakura menundukkan kepalanya saat dia mendengar kabar dari Kiba.

Ada 10 orang yang sekarang sedang berkumpul di taman. Mereka adalah anggota-anggota dari Tim 7, Tim 8, Tim 9, dan Tim 10 Konohagakure. Nara Shikamaru, Yamanaka Ino, dan Akimichi Chōji dari Tim 10. Rock Lee, Hyūga Neji, dan Tenten dari Tim 9. Inuzuka Kiba, Hyūga Hinata, dan Aburame Shino dari Tim 8. Terakhir adalah satu-satunya anggota yang tersisa dari Tim 7, Haruno Sakura.

"Bahkan anjing-anjing dari klan Inuzuka tidak bisa melacak keberadaan Naruto" ucap Neji.

"Oi, apakah kau meremehkan kemampuan anjing-anjing kami?!" Kiba menggeram, dia tidak terima saat seseorang mengatakan sesuatu yang buruk mengenai klannya.

"Dia bukan mengatakan sesuatu yang buruk" Shikamaru membela Neji dan menghela napasnya, "Kiba, kami menaruh harapan besar pada kalian karena kalian adalah salah satu klan yang paling hebat dalam mencari orang hilang. Aku yakin orang-orang dari klan Hyūga dan klan Aburame juga pelacak yang hebat, namun mereka tidak sebaik klanmu. Jika kalian tidak bisa menemukan Naruto, maka tidak akan mudah untuk menemukannya lagi."

Penjelasan dari Shikamaru membuat Kiba menjadi lebih tenang, namun fakta bahwa orang-orang dari klannya tidak bisa menemukan Naruto tetap membuat Kiba geram. Siapapun akan seperti itu jika mereka tidak bisa menemukan seorang teman.

"Bagaimana denganmu, Hinata? Kau juga ikut dalam pencarian itu, kan?" tanya Ino kepada gadis berambut biru tua pendek yang berasal dari klan Hyūga itu.

Hinata menundukkan kepala seperti Sakura, "T-Tidak. Kami… kami tidak menemukan apapun juga" ucapnya dengan pelan.

"Kami dari klan Aburame telah mencari dengan menggunakan serangga-serangga yang berada di lokasi menghilangnya Naruto-san. Tapi hasilnya tidak berbeda dengan yang lainnya" ucap Shino.

'Aku tidak tahu kalian bisa bertanya pada serangga' semua orang memikirkan hal yang sama setelah mendengar ucapan Shino.ō

Kiba mendecih setelah mendengar jawaban dari kedua anggota timnya, "Tch, andaikan saja aku bisa ikut dengan kalian!"

"Aku juga akan ikut dengan pencarian Naruto jika aku bisa" Neji mengungkapkan keinginannya, "Tapi tidak peduli seberapa keras kita meninginginkannya, kita tidak diperbolehkan untuk bergabung dengan mereka. Setelah kegagalan kita untuk membawa Sasuke kembali, kondisi kita tidak memungkinkan untuk keluar dari rumah sakit."

Tim Pengejaran Sasuke yang dipimpin oleh Shikamaru, dan anggotanya adalah Neji, Kiba dan anjingnya Akamaru, Chōji, dan Naruto pulang dari misi mereka dengan kegagalan. Chōji dan Neji hampir mati, Akamaru terluka parah, dan Shikamaru dengan jari tangannya yang patah kecewa pada dirinya sendiri karena dia merasa telah menjadi pemimpin yang buruk.

Lee yang saat itu sedang terbaring di rumah sakit secara diam-diam mengejar tim tersebut dan membantu mereka, namun keikutsertaannya tidak mengubah apapun. Beruntung bagi Shikamaru, Kiba, dan Lee, desa Sunagakure mengirim bantuan sehingga mereka bertiga tidak berakhir dalam kondisi kritis seperti Chōji dan Neji. Chōji dan Neji selamat hanya karena mereka berdua adalah yang pertama ditemukan dan segera diberi pertolongan.

Perhatian semua orang teralihkan pada Sakura yang tiba-tiba berdiri. Naruto dan Sasuke adalah anggota setim Sakura, dan sekarang hanya Sakura yang tersisa dari Tim 7. Namun tanpa dugaan, gadis berambut merah muda pendek itu tersenyum seolah-olah tidak ada yang terjadi.

"Semuanya akan baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir."

Setelah mengatakan itu, Sakura meninggalkan mereka.

"Sakura…" Ino bergumam dengan khawatir.


Perjalanan menuju pulau terisolasi berlangsung selama berjam-jam. Yasaka, Naruto dan Yukikaze berangkat dengan menaiki Isonade. Meskipun Naruto dan Yukikaze ingin beristirahat di tengah perjalanan, Yasaka bersikeras memaksa Isonade untuk melanjutkannya.

"Aku bosan" ucap Naruto.

"Aku juga" tambah Yukikaze.

"Aku tidak" Yasaka mengakhirinya.

Naruto dan Yukikaze tidak bisa melakukan apapun selain duduk di atas seekor hiu raksasa yang sedang berenang dengan kecepatan tinggi itu. Mereka masih anak-anak, sudah pasti mereka akan bosan jika tidak melakukan apapun selama berjam-jam.

"Bersabarlah. Kesabaran adalah kunci menuju keberhasilan" ucap Yasaka.

"Kesabaran adalah kunci menuju kebosanan" balas Naruto.

"Kebosanan adalah kunci menuju kematian" tambah Yukikaze.

Yasaka tidak peduli apapun yang mereka katakana, dia tidak akan membuat Isonade berhenti di tengah lautan yang kosong. Tiba-tiba Yukikaze menembakkan bola api biru ke langit.

"Apa yang kaulakukan?!" tanya Yasaka pada adiknya.

"Aku sedang bosan" jawab sang penembak api biru dengan santai.

"Oh, bagaimana jika kita berlatih sekarang?" tanya Naruto.

"Benar. Ayo kita lihat apakah kau bisa mengeluarkan yōki sekarang."

"Lihat saja, aku akan mengeluarkannya sebelum kita mencapai pulau!"

Yasaka menghembuskan napasnya sambil berusaha mengabaikan dua orang di belakangnya, 'Paling tidak, mereka tidak akan mengeluh lagi… kuharap' batinnya.

Beberapa jam berikutnya, Yasaka harus menahan diri dari melemparkan Naruto dan Yukikaze dari atas punggung Isonade karena keduanya sangat berisik. Latihan yang mereka lakukan, atau lebih tepatnya usaha Naruto untuk mengeluarkan yōki, tidak menghasilkan apapun. Yukikaze menjadi kesal dan memarahi Naruto, dan Naruto membalasnya dengan kesal juga.

Yasaka penasaran mengapa Naruto tidak bisa mengeluarkan yōki meski telah berlatih selama berhari-hari. Semua yōkai sudah seharusnya memiliki energi bernama yōki di dalam tubuh mereka. Bahkan hanyō yang merupakan setengah yōkai juga memilikinya. Naruto adalah seorang hanyō, tapi dia juga seharusnya memiliki energi tersebut.

Setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan hanya untuk Isonade, mengingat ketiga kitsune yang berada di punggungnya hanya duduk saja, akhirnya sebuah pulau muncul dalam pandangan mereka.

"Pulau!" Naruto dan Yukikaze berteriak keras.

"Jangan berteriak di telingaku!" Yasaka memarahi mereka, "Isonade, percepat lagi!"

"Dia masih bisa lebih cepat lagi?!" tanya Yukikaze.

Isonade mengikuti perintah Yasaka dan berenang lebih cepat. Patut dipertanyakan mengapa seekor hiu raksasa mendengarkan perintah dari seorang gadis berusia 18 tahun. Biarkan pertanyaan itu tidak terjawab sampai nantinya dan alasannya akan membuat Naruto dan Yukikaze kesal.

Sesuai perhitungan Yasaka, mereka tiba di tujuan mereka tepat sebelum matahari terbenam. Yukikaze jatuh di atas pasir dengan tubuh terlentang, senang karena telah berpisah dari Isonade.

"Terima kasih, Isonade. Aku akan membalas kebaikanmu hari ini, dan juga bantuanmu di masa lalu. Sampaikan salamku pada Inukimi-sama."

Isonade menggoyang-goyangkan ekornya, persis seperti seekor anjing yang senang jika dimanjakan tuannya. Yasaka tahu bahwa itu artinya Isonade akan mengirimkan salamnya. Hiu raksasa itu masuk ke dalam air dan berenang menjauh dari pulau.

"Sekarang, ayo kita lihat seberapa besar pulau ini!" ucap Yasaka dengan antusias.

"Etto, Yasaka-neechan…?"

Berbeda dengan Yasaka, Naruto dan Yukikaze memiliki ekspresi khawatir. Yasaka mengikuti arah pandangan mereka dan terkejut ketika menemukan sekumpulan orang asing sedang memperhatikan mereka dari jauh. Yang lebih mengejutkan lagi, beberapa dari mereka memiliki penampilan yang seharusnya tidak dimiliki seorang manusia biasa.

Di antara orang-orang itu, ada yang memiliki ekor dan telinga hewan, ada yang memiliki tanduk di kepala, ada yang memiliki sepasang sayap di punggung, dan beberapa lainnya yang bisa dikatakan tampak tidak seperti manusia. Saat itulah Yasaka menyadari bahwa mereka adalah yōkai.

Secara tiba-tiba ketiga kitsune yang berasal dari luar pulau itu dikelilingi oleh sekumpulan orang lainnya. Namun mereka tidak memiliki penampilan yang menunjukkan bahwa mereka adalah yōkai. Senjata-senjata yang mereka bawa berupa kunai, shuriken, dan tantō membuat mereka tampak seperti shinobi.

Pemimpin kelompok shinobi itu mendekati mereka dan mengarahkan tanto miliknya ke arah Yasaka. Dia memiliki rambut putih pendek, mata ungu, dan gigi-gigi yang tajam seperti hiu.

"Siapa kalian, penyusup?"

"Kami datang ke sini tanpa niat yang buruk" Yasaka menjawabnya dengan tenang, "Kami bahkan tidak menduga akan ada penghuni di pulau ini."

Shinobi yang bertanya tadi menyipitkan matanya dan menatap Yasaka dengan curiga, kemudian dia menurunkan tantō yang diarahkannya pada Yasaka. "Ikutlah dengan kami!" perintah sang shinobi sebelum berjalan pergi diikuti yang lainnya.

Naruto dan Yukikaze mengirim Yasaka tatapan khawatir, tapi Yasaka hanya tersenyum kepada mereka dalam artian tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka bertiga mengikuti orang-orang itu masuk lebih dalam lagi ke dalam pulau.

Tidak lama setelah mereka mulai memasuki pulau, ketiga kitsune itu melebarkan mata mereka. Ternyata di balik pepohonan tinggi yang menutupi pandangan orang dari luar pulau, terdapat pemandangan yang sangat indah. Mereka menemukan pemandangan itu setelah keluar dari pepohonan dan harus diakui apa yang mereka lihat adalah sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya.

Mawar. Bukan hanya satu tangkai, tapi banyak sekali dan ada di mana-mana. Memang ada beberapa jenis tanaman lainnya, tapi jumlah bunga mawar yang sangat banyak itu membuat tanaman-tanaman itu sulit dilihat. Tidak, bukan jumlah mawar yang membuat Yasaka, Naruto, dan Yukikaze terperangah.

"E-Emas…" gumam Naruto dengan mulut terbuka.

Yang membuat mereka terperangah adalah mawar-mawar tersebut memiliki kelopak yang unik. Kelopak berwarna emas. Warna dari semua mawar itu membuat ladang yang mereka lewati tampak berkilauan di bawah rembulan.

"Apakah itu benar-benar emas?" tanya Yukikaze.

Shinobi yang berjalan di dekatnya menjawab, "Tanaman itu asli tumbuh hanya di pulau ini dan selama mereka tertanam di tanah, mereka tidak akan pernah layu atau gugur. Baunya juga enak untuk dicium dan dapat dijadikan obat untuk segala jenis racun. Kami menyebut mereka 'harta abadi'."

"Wow" Naruto dan Yukikaze menjadi lebih tertarik dengan mawar emas.

"Ehem, kau tidak boleh mengatakan apapun" shinobi yang tampak seperti pemimpin mereka menegur bawahannya.

Yasaka, Naruto, dan Yukikaze terus mengikuti orang-orang yang membawa mereka sambil memandangi ladang emas di kiri dan kanan mereka. Selain mawar emas, ada juga beberapa tanaman lainnya yang indah, tapi tidak seindah mawar emas yang jumlahnya paling banyak.

Kemudian, mereka tiba di sebuah desa. Bukan desa yang besar seperti Konohagakure, namun luasnya kurang lebih sama dengan Shimogakure. Di dalam desa, banyak manusia dan yōkai yang hidup Bersama. Ini adalah pemandangan yang langka karena Yasaka tahu yōkai selalu bersembunyi dari manusia dan dinggap sebagai mitos atau cerita masyarakat.

Jika bukan, ada kemungkinan bahwa semuanya adalah yōkai namun mereka terlihat seperti manusia. Namun mengingat orang-orang yang sedang membawa mereka bertiga adalah shinobi, Yasaka berpikir tempat di mana manusia dan yōkai hidup bersama memang benar-benar ada.

Orang-orang yang ada di sekitar mereka menatap mereka dengan penasaran, membuat Naruto dan Yukikaze gugup. Yasaka tidak gugup, namun dia penasaran dengan penampilan orang-orang yang terlihat buruk dan beberapa bangunan yang rusak. Bahkan tembok yang mengelilingi desa ini juga hancur.

Tanpa sadar, mereka bertiga telah dibawa ke sebuah rumah. Seorang anak perempuan keluar dari dalam rumah itu dan menyambut mereka. Anak perempuan itu berkulit coklat, berambut perak panjang, dan bermata ungu.

"Shiori, apakah tetua desa ada?"

"Ah, jii-chan ada di dalam."

Tampaknya anak perempuan itu adalah cucu dari tetua desa. Sang shinobi dan bawahannya membawa ketiga 'penyusup' masuk ke dalam rumah tersebut sementara Shiori memanggil kakeknya. Tidak lama kemudian, seorang pria tua muncul sambil memegang tongkat. Pria tua itu duduk dan menatap kawanan Yasaka.

"Siapa mereka?" tanya si tetua desa.

"Mereka adalah orang-orang dari luar pulau, kami menangkap mereka mencoba masuk saat berada di pantai barat" jawab pemimpin shinobi. Naruto dan Yukikaze jelas tidak senang saat dituduh sebagai penyusup.

Tetua desa menatap para 'penyusup' sebelum mengalihkan pandangannya kepada pemimpin shinobi dan bawahannya, "Siapa kalian?"

Semua orang sweatdrop. "Tetua, ini aku. Hōzuki Mangetsu" jawab pemimpin shinobi yang sekarang diketahui bernama Mangetsu.

Tetua menatapnya sebentar sebelum menunjuk dirinya sendiri, "Siapa aku?". Semua orang sweatdrop lagi, kemungkinan besar pria tua ini sudah mulai pikun, "Aku hanya bercanda. Aku ingat siapa diriku dan siapa kau, Mangetsu. Sekarang, biarkan aku berbicara dengan para pengunjung ini. Perkenalkan siapa kalian dan tujuan kalian datang ke pulau ini."

Yasaka berjalan maju untuk berbicara, "Tetua, namaku adalah Yasaka. Mereka berdua adalah adik-adikku, Yukikaze dan Naruto. Kami adalah yōkai."

Semua orang terkejut dengan identitas para 'penyusup', mereka tidak tahu bahwa ketiga orang ini adalah yōkai. Yasaka mengangguk kepada Yukikaze dan Naruto dan menyuruh mereka untuk menunjukkan jati diri mereka. Kedua anak itu mengerti dan mengeluarkan ekor dan telinga rubah mereka. Yasaka juga mengeluarkan telinga dan sembilan buah ekor rubah yang berbulu kuning.

'Wow!'

Ini adalah pertama kalinya Naruto melihat telinga dan ekor Yasaka. Entah mengapa, penampakan Yasaka sekarang membuat pipinya memerah. Reaksinya disadari oleh Yukikaze, membuat gadis itu menatapnya dengan tajam.

"Seperti yang tetua lihat, kami adalah kitsune. Kami datang ke sini tanpa motif tersembunyi. Saat aku mendengar ada sebuah pulau kecil, aku ingin mengunjunginya untuk satu atau dua hari. Orang-orang dari luar berkata bahwa ini adalah pulau tak berpenghuni, jadi kupikir tidak ada salahnya masuk begitu saja. Maafkan aku dan adik-adikku jika kami sudah masuk tanpa izin, tetua."

Pria tua itu tersenyum dengan ramah, "Pulau ini tidak pernah mendapatkan pengunjung sejak Mangetsu dan orang-orangnya datang. Kami, penghuni asli pulau ini, tidak pernah keluar dan berinteraksi dengan dunia luar selama bertahun-tahun. Orang-orang yang berasal dari luar menganggap pulau ini tidak berpenghuni karena letaknya yang jauh dari pulau-pulau lainnya di negara ini. Kami bahkan tidak tahu apakah pemerintah negara ini menganggap pulau ini sebagai bagian dari negaranya. Aku senang masih ada orang-orang yang mau berkunjung dan aku akan menyambutnya juga. Tetapi, anak muda, kuharap kalian segera meninggalkan pulau ini sebelum hal buruk terjadi."

Tetua desa mengucapkan bagian terakhir dengan wajah yang cemas. Yasaka dapat melihat kecemasannya dan dia menjadi penasaran. Sikap orang-orang yang berada di sekitar mereka juga berubah, dan Shiori memegang tangan kakeknya.

"Apakah sesuatu terjadi?"

Orang-orang saling memandang saat Yasaka bertanya. Wajah si tetua menjadi sedih sebelum dia menjawabnya, "Lebih baik jika kau tidak mengetahuinya dan segera pergi. Aku tidak membenci kalian, tetapi aku takut kalian akan terlibat dengan masalah yang tengah dialami desa ini. Mangetsu, tolong bawa mereka ke pantai agar mereka bisa meninggalkan pulau."

Mengangguk kepada tetua desa, Mangetsu mempersilahkan tamu-tamu mereka untuk keluar dari rumah. Yasaka melihat si tetua sekali lagi dan membungkuk, "Terima kasih untuk keramahan tetua, kami akan pergi."

Setelah mengucapkan itu, mereka semua meninggalkan tetua dan cucunya. Mangetsu dan shinobi yang lain berniat membawa ketiga tamu mereka kembali ke pantai.

Saat melewati ladang mawar emas, Yukikaze berharap bisa memetik beberapa bunga. Awalnya Mangetsu segan, namun dia akhirnya membiarkan gadis itu mendapatkan keinginannya. Yukikaze senang dan mengambil bunga yang diinginkannya. Dia mengambil beberapa jenis bunga, namun yang paling banyak diambilnya adalah mawar emas.

Mereka melanjutkan sampai pantai terlihat dalam pandangan mereka lagi.

"Di sinilah kita akan berpisah, kuharap aku tidak akan melihat kalian meninjakkan kaki di pulau ini lagi" ucap Mangetsu.

"Kau tidak baik seperti kakek tua itu" balas Naruto.

"Percayalah, aku mengatakan ini demi kebaikan kalian. Tetua juga akan mengatakan hal yang sama" Mangetsu melihat sekitarnya sebelum ekspresi bingung muncul di wajahnya, "Sekarang aku memperhatikannya, aku ingin tahu bagaimana caranya kalian bisa datang ke pulau ini."

"Kami menunggangi seekor hiu."

Mangetsu memberi tatapan datar pada jawaban Yukikaze. Yasaka berjalan ke tepi pantai dan mengeluarkan sangkakala yang digunakannya untuk memanggil Isonade. Dia mulai meniup sangkakala itu.

"Apakah dia sudah gila?"

"Itulah yang kami pikirkan ketika pertama kali melihatnya meniup benda itu."

Yasaka mengabaikan ucapan Mangetsu dan Yukikaze. Setelah tiga kali meniup sangkakala tersebut, dia berhenti dan menatap ke depan dalam diam. Beberapa detik berlalu, dan dia masih menatap ke depan, seakan-akan menunggu sesuatu terjadi.

"Ada apa?" tanya Mangetsu.

"Dia tidak menjawab panggilanku" jawab Yasaka dengan pandangan yang masih berfokus ke laut.

Naruto dan Yukikaze tahu siapa yang dimaksud oleh Yasaka. Kitsune yang paling tua di antara ketiganya sedang mencoba memanggil hiu raksasa yang telah mereka tunggangi untuk datang ke pulau ini. Namun seperti yang dikatakan Yasaka, Isonade tidak menjawab panggilannya.

Yasaka meniup sangkakala itu tiga kali lagi. Sama seperti sebelumnya, tidak ada tanda-tanda datangnya Isonade. Gadis itu mengerutkan keningnya, dia tidak tahu apakah Isonade sudah kembali ke rumahnya di Negara Petir atau hiu itu sudah berada di luar jangkauan panggilannya.

Yasaka berbalik, "Maaf, bolehkah kami tinggal di sini sampai besok pagi. Ini sudah malam dan aku yakin adik-adikku sudah lelah."

"Kami belum-" Yukikaze segera menutup mulut Naruto karena dia mengerti apa yang coba dikatakan kakak perempuannya.

Mangetsu mengeraskan tatapannya kepada Yasaka, "Aku tidak bisa membiarkan kalian berada di sini lebih lama lagi di sini."

"Aku tidak mengatakan kami akan tinggal di desa, kami akan beristirahat di pantai ini sampai matahari terbit besok pagi. Aku tahuIni adalah pilihan yang buruk bagi kami bertiga, tapi itu tidak akan merugikanmu, kan?"

"…Baiklah. Sebaiknya kalian bertiga sudah meninggalkan pulau ini saat matahari terbit besok."

Setelah memperbolehkan Yasaka dan yang lainnya beristirahat di pantai, Mangetsu dan kelompoknya meninggalkan mereka.

"Umm, onee-chan. Bagaimana caranya kita akan tidur malam ini?" tanya Yukikaze.

"Aku sudah mempersiapkan semuanya sebelum datang ke sini. Lagipula sejak awal kita berpikir ini adalah pulau tak berpenghuni dan kita akan tidur di hutan atau pantai. Naruto, carilah kayu bakar. Yukki, ayo bantu aku mendirikan tenda. Setelah itu, kita akan memancing."

Yasaka melihat langit malam. Dia memiliki perasaan buruk karena tingkah laku orang-orang dari desa.

To Be Continue


Chapter 7 selesai!

Tiga bulan berlalu sejak chapter yang lalu! Baiklah, jika ada yang ingin marah, silahkan saja. Saya tidak bisa meminta maaf lagi. Penyakit "writer's block" telah membuat saya tidak bisa menulis apapun. Hasilnya, saya membuat cerita baru (Millennium) dan menghapus cerita lama (Naruto Chronicles).

Ada yang mengenal siapa cucu tetua desa? Saya ragu hanya segelintir orang yang tahu, dia adalah Shiori dari serial InuYasha. Lalu, mengapa Mangetsu masih hidup? Biarkan itu menjadi misteri sekarang.

Isonade adalah karakter buatan saya, atau lebih tepatnya saya meminjamnya langsung dari legenda aslinya langsung. Dia adalah monster laut menyerupai hiu yang dikatakan hidup di tepi pantai kota Matsuura. Tahukah anda bahwa tidak ada yōkai ikan di anime manapun (kalaupun ada, itu adalah bijū seperti Isobu/Sanbi, manusia ikan dari One Piece, dll.).

Tetua desa adalah OC, tidak berasal dari cerita manapun.

Ada pertanyaan apakah Naruto akan kembali ke Konoha? Saya tidak tahu. Saya belum menentukannya sampai sejauh itu. Untuk saat ini, mereka akan menetap di pulau yang terisolasi.

Jā matane!