"Hiks—"

Isak sedu itu lolos begitu saja. Asalnya dari tubuh mungil yang meringkuk di pojok kamar.

"Sakit—hiks—jijik."

Ia menekuk lutut, sembab sebabkan bengkak pada lingkar mata bulatnya. Rambut cokelatnya teracak, peluh melipir lewat pelipisnya. Detikan jam terus bergerak, menunjuk angka satu dini hari saat ini. Kyungsoo dengan piyamanya—kesulitan meredam tangis dan teriak histeris. Ia malu, terlalu malu untuk sekedar ditatap banyak orang.

"Kenapa—jahat? Kenapa—jahat?"

Setelah Baekhyun menjemputnya dan berikut dengan omelan panjang lebar ibunya yang menyambut didepan pintu—Kyungsoo benar-benar tidak tahu caranya mengatakan apa yang baru saja ia alami. Maka, ia putuskan untuk diam. Terus membungkam mulut agar membisu entah sampai kapan. Mungkin sampai ibunya sadar perangainya yang berubah.

"Hiks—hiks—" Kyungsoo tidak bisa tidur—atau sengaja tidak mau tidur. "Kyungsoo salah apa? Ungh, kenapa semua membenci Kyungsoo? Hiks—hanya Umma dan lelaki pipi gembul itu yang baik padaku—hiks—" Sebelah tangannya menghapus setitik-dua titik airmata yang meluruh, lalu ia membenturkan kepala menuju dinding yang menjadi sandaran punggungnya.

Brak!

Kyungsoo melempar kotak mainan lego-nya dan berhasil mengenai pintu. Ia marah, entah pada kondisi atau situasi. Ia hanya tidak tahu cara meluapkan kekesalan—dan rasa malu. Kaki-kakinya menjejak udara, tangan-tangannya memukuli diri sendiri. Ia berani, karena ia tahu tidak akan ada yang mendengar.

"Aaaah—!"

Cklek.

Oh. Kyungsoo hanya lupa satu fakta—kalau ayahnya masih terjaga hingga subuh menjelang nanti.

"Apa yang kau lakukan, anak bodoh?!"

Bahkan gertakan menggelegar itu bisa didengar telinga Kyungsoo. Derap langkah sepatu pantofel yang kian mendekat—meski dari penerangan remang kamarnya—membuat ia kelabakan dan terus memundurkan diri.

"Setelah menghilang tadi, kenapa kau tidak mati sekalian? Kenapa harus kembali dan puas kau membuat isteriku khawatir, hah?!"

Ya. Sosok tinggi tegap itu akhirnya sampai dihadapan Kyungsoo. "Kenapa kau menangis? Ingin normal? Sudah tahu alasan kenapa banyak orang membencimu? Hah?" Mendapat pertanyaan itu, Kyungsoo hanya bisa menggeleng lemah.

"Maaf, App—Appa." Kyungsoo tidak berani membalas delikan tajam Ayahnya—ia menghindari kontak mata dan terus berupaya menutupi wajahnya dengan telapak tangan. "Ja—jangan, hiks. Aku takut, Kyungsoo takut."

Figur Ayah tersebut malas mengais diri untuk memberi perhatian lebih. Ia hanya tidak peduli. Ia mengakui bahwa Kyungsoo kini tampak—mengenaskan. "Jangan coba-coba kau memancing rasa ibaku. Tidak akan mempan, idiot."

Telunjuk itu mengarah pada Kyungsoo, seketika maju dan menoyor kepalanya. "Appa, hiks—jangan membenciku. Kyungsoo janji akan menjadi anak baik, Kyungsoo janji akan bekerja keras. Hiks—"

Kyungsoo menunduk dan Ayahnya mendecak. "Sudah berapa kali kubilang, jangan panggil aku Appa. Aku tak pernah mempunyai anak penanggung aib sepertimu." Kemudian ia berlalu keluar kamar, sisakan Kyungsoo yang menegang tegak.

Brak.

Bahkan pintu kamarnya dibanting dan ciptakan debum keras—sempat mengejutkan Kyungsoo hingga ia berjingat sedikit. Entahlah. Tapi beberapa jam ini ia selalu waspada akan apa yang terjadi disekitarnya. Suara, langkah, ucapan, pandangan—apapun. Kyungsoo hanya tergugah untuk menutup diri, mengurung jiwanya rapat-rapat.

Setelah pelecehan yang dilakukan Kai—ia tidak punya pilihan lagi. Kyungsoo hancur-lebur. Hangus tak bertakhta. Ia lalu memegangi luka lebam yang diberikan Kai, begitu pula denyut ngilu di bagian belakang tubuhnya yang juga diberikan Kai.

Kenapa—rasanya semenyedihkan ini?

"Hiks—semua orang di dunia ini—hiks. Jahat."

Kenapa—rasanya sepedih dan seperih ini?

Kyungsoo memungut kembali lego-lego-nya. Memainkan satu-persatu di jemari mungilnya—ia meretas senyum. "Apa Kyungsoo tidak bisa hidup menjadi mainan saja? Hiks—mereka tidak pernah merasa sakit, malu, dan marah. Kyungsoo mau seperti itu." Lalu ia menabrakkan benda kecil beragam warna itu, memainkannya kasar.

Terus berlalu hingga Kyungsoo mulai lelah. Ia tertidur, pejaman mata yang syahdu dan gumaman tak jelas dari bibirnya. Untuk tiga jam kedepan, ia akan tidur disini dan terbangun esok pagi di lantai dingin.

Biarkan. Sesuka hatinya dan sesuka perasaannya.

Kyungsoo hanya butuh penyesuaian diri. Kyungsoo hanya butuh kehidupan yang selayaknya. Bukan tekanan, bukan gertakan, bentak dan sentak. Ia ingin tersenyum tanpa beban, berbahagia selalu. Apa Tuhan sesulit itu mengabulkannya?

Biarkan. Senyaman pikirannya dan senyaman keinginannya.

Kyungsoo butuh—teman dan Ayah.

Don'tJudgeMeLikeYou'reRight

Proudly Present

"When Life Gets Hard"

Chapter Seven

Kim Jongin—Do Kyungsoo—Byun Baekhyun—Oh Sehun—Xi Luhan—Park Chanyeol | Angst—Hurt/Comfort—Romance | Chaptered | Mature

© 2015

Disclaimer : Stories are mine. But, not for the cast. Fiction, not real. Don't copas or plagiat it without my permission.

-ooo-

"Pokoknya Kyungsoo tidak mau sekolah."

Wanita itu tengah membujuk anak sematawayangnya—yang sedang meringkuk di pojok kamar seraya menggelengkan kepala berulang kali.

"Kyungsoo benci sekolah, Kyungsoo tidak suka sekolah."

Sepagian ini, hanya racauan suara parau itu yang terlontar dari bibir hatinya. Entahlah, tapi disini memang ada sesuatu yang tidak beres. Kyungsoo pun enggan beranjak dari sana, sekarang ia sedang bersembunyi dibawah kolong ranjang.

"Keluarlah, Sayang. Ada apa tiba-tiba seperti ini? Kau takut dengan seseorang—adakah yang memperlakukanmu tidak baik?" Banyak dan sering sekali. Sayangnya, batinan itu belum tertabung di bank keberanian Kyungsoo. "Biasanya kau senang sekali kalau diajak pergi ke Sekolah."

Maka, hal inilah yang membuat Nyonya Do bingung setengah mati. Ada yang aneh, ada yang salah. Ia tahu anaknya kerap sekali mengalami perkucilan, mendapatkan gunjingan dan lain-lain yang tidak sepantasnya dilakukan manusia pada manusia. Namun, kalau memang sudah begini adanya—tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain bersabar, bukan?

Pepatah bilang, semua akan indah pada waktunya. Dalam pikiran Nyonya Do adalah—kapan?

Kini Kyungsoo semakin masuk, tertutup gelap dan usang sawang laba-laba. Ia keukeuh menetap disana dan benar-benar tidak ingin menjumpai raut khawatir ibunya. Sementara wanita separuh baya itu mulai menjulurkan tangan—agar Kyungsoo menggapai tangan tersebut sebagai jemputan sayang. Tetap sama, remaja itu malah berteriak.

Pada akhirnya, Nyonya Do mundur teratur. Memilih untuk membiarkan saja.

"Kyungsoo mau sendirian! Pergi, pergi!"

Ini pertama kalinya, Kyungsoo mengusir seseorang yang paling ia sayang—ibunya. Jika pun ia melakukan itu, biasanya hanya akan menggunakan nada lembut dan gestur sopan. Lalu, apa yang didapati Nyonya Do sekarang? Anaknya, anak kebanggaannya benar-benar berubah.

"Berjanjilah, kau akan keluar dari sana dan makan makanan yang sudah Umma siapkan, ya."

Sembab terasa semakin menjadi di pelupuknya. Sebagai seorang ibu menyaksikan ini adalah hal terberat. Kyungsoo-nya mendadak tidak sewajarnya. Kyungsoo-nya mendadak kasar dan keras. Sebagai seorang ibu, ia merasa gagal. Sangat gagal terlebih sudah membebankan cacat mental dan hidup menyakitkan seperti ini.

"Tidak apa-apa tidak ke sekolah. Tapi, jangan kurung dirimu, Kyungsoo, ada Umma disini."

Bahkan saat ibunya kembali melongokkan kepala—Kyungsoo memalingkan wajah. Ia bergumul bersama debu dan selimut tebal yang telah ia seret bersamanya. Kedua lututnya tertekuk dan tampilannya acak-acakan. Bukankah hal ini membuat nyali ibu segera ciut? Anaknya—darah daginya telah menderita sedemikian rupa.

"Baiklah. Umma keluar, ya, Kyungsoo juga harus keluar."

Keputusan Nyonya Do telah bulat. Meninggalkan Kyungsoo dengan waktu tenang yang dimintanya. Begitu derit dan debum pintu terdengar lamat, Kyungsoo menggeser posisi tubuhnya. Ia merangkak menuju udara segar, ia memanjat menuju kusen jendela—yang menjadi tempat favoritnya untuk termenung sendiri.

"Hiks—Kyungsoo takut. Hiks—sakit. Kyungsoo tidak berani cerita." Makna kalimatnya juga secepat itu terenggut hampa udara, seiring dengan uap nafasnya yang ikut lenyap terbawa angin. Kyungsoo menempelkan kepala di jendela, lalu membenturkannya pada kaca beberapa kali. "Uh, kenapa—kenapa harus ada orang jahat seperti dia? Hiks—"

Karena Tuhan tahu, yang Kyungsoo maksud adalah Kim Jongin.

-ooo-

Luhan selesai dari aktivitas mandi paginya saat mendapati Kai sudah menikmati kopi hangat—di dapurnya. Tentu si mata rusa sempat heran bagaimana cara bocah SMA itu masuk kemari, terlebih setelah ia memastikan bahwa kunci rumahnya masih berfungsi baik.

"Jangan kaget. Aku punya kunci cadanganmu, kan?" Deklarasi Jongin barusan serasa mengingatkan Luhan dari kedunguannya. Ia lupa—benar-benar lupa hingga menepuk jidatnya sendiri. "Aku sempatkan mampir kemari sebelum ke sekolah. Boleh, kan?"

Memang ada kesempatan untuk melarang kalau tamu tak diundang itu sudah duduk manis disana?

"Kukira kau akan terlambat." Luhan mendekat demi bisa membelai dada bidang dan menggelayut manja atas Kai. "Lihat jamnya, sudah hampir pukul delapan." Luhan melempar tatapannya pada jam dinding dan serta-merta Kai mengikuti. Ia tidak kelabakan sama sekali, lebih-lebih malah bersikap santai.

"Do you wanna morning kiss or morning sex, honey?"

"Bukannya aku yang seharusnya menawarkan hal itu?"

Nada seduktif Luhan tengah membelah telinga Kai. Membuat libidonya terangsang seketika. Membuat dirinya gerah saat itu juga. Tapi Luhan malah semakin intens memeluk Kai dari arah belakang, mengelus surai hitam itu dengan gerakan panas yang sensual.

"Kau menggodaku, Lu."

"Supaya kau melupakan nama asing yang pernah tersebut itu."

Kai terperanjat—ia jelas tahu nama yang dimaksud Luhan pasti Kyungsoo. Karena tidak ingin terjun lebih jauh dari pembahasan awal, Kai segera membalik tubuhnya agar berhadapan langsung dengan Luhan. Begitu wajah cantik lelaki itu memenuhi penglihatannya, Kai hilang akal untuk tidak meraup bibir ranum didepan sana.

Luhan tidak menolak, ia membalas ciuman itu seerotis mungkin dengan rabaannya menjelajah punggung Kai. "Uhm, aku baru saja selesai mandi dan kau mau mengotoriku, hm?" Luhan bisa merasakan Kai menggeleng disela kepala mereka yang dimiringkan. "Mmph—"

"Aku hanya memberimu noda sedikit, Sayang." Kai melepas tautan saliva-nya dengan Luhan, ia terburu menggiring Luhan menuju sofa dan sesegera mungkin menghempaskan tubuh ramping itu terbaring disana. Kai mulai menindih dan mengecupi seluruh wajah Luhan, intensif. "Ini akan menjadi semangatku saat di sekolah, Lu."

Luhan mengalungkan lengannya di leher Kai, memberi sentuhan lembut di antara tengkuk yang kian meremang karena nafsu. "Hentikan, Kai. Cukup—kau harus ke sekolah." Meski sebagian dirinya mengatakan tidak usah, Luhan tetap punya nalar untuk berpikir jernih. "Kai—hh—"

Desahan Luhan selalu membangkitkan apapun dalam diri Kai, dan sekalipun Luhan menahannya, Kai tahu itu percuma. Luhan tidak punya elakan pasti, sehingga Kai bisa semakin memperdayanya sekarang.

"Lu—Luhannie, baby." Kai berhenti. Ia menjauhkan diri meski masih tersisa ling-lung. "Aku akan pergi sekarang. Oh, thank you, honey. Kau yang terbaik." Sebelum bangun, Kai mengecup kening Luhan cukup lama.

Tersambut oleh senyuman sumringah, Luhan membenahi pakaian dan rambut basahnya yang berantakan. Begitu pula Kai, ia bercermin sebentar agar bisa menyisir rambut serta merapikan seragam.

"Aku jadi ingin mengunjungi sekolahmu, Kai." Sekalian mencari siapa Kyungsoo.

Tambahan itu tak disuarakan Luhan lantaran hubungan tanpa status antara dia dan Kai sangat mengikat. Kalau ia cemburu, memang dia siapa? Kalau ia marah, memang Kai siapa? Luhan masih ingat bagaimana posisinya untuk Kai—hanya pemuas seks bayaran semata.

"Untuk apa? Nanti kalau kau ditaksir teman-temanku, aku yang kerepotan, Sayang."

Kai berbalik, ia menangkup wajah cemberut Luhan dan menatap iris cokelat itu lekat-lekat. Luhan terlihat baik-baik saja, ia normal. Kai sadar jika selama ini banyak pihak yang telah ia sakiti. Termasuk si cantik didepannya kini. Luhan—apa dia di mata Kai? Sebatas pemenuhan kebutuhan, tapi adanya dia adalah primer.

Lalu, kalau nama Kyungsoo muncul ke permukaan pikirannya? Kai tidak bisa lari dari rasa bersalah yang berlomba mengejarnya saat ini.

-ooo-

Baekhyun sudah berdiri gamang di depan pagar kediaman keluarga Do. Seperti biasa, seperti setiap pagi di hari sekolah—ia ada disini untuk menjemput Kyungsoo. Baekhyun terus mengumpat tatkala tak didapatinya sosok konyol itu dengan keceriaan menyambutnya. Tidak ada senyum bodoh, tingkah laku kekanakan, dan apapun. Hari ini nihil.

"Oh, Baekhyun." Namun, sapaan itu datang dari wanita bersetelan padu. Ibu Kyungsoo menghampirinya dan tersenyum pahit tanpa ramah-tamah sama sekali. "Kyungsoo tidak mau sekolah. Dia berubah—seperti takut pada sesuatu hal yang tak kami ketahui. Sejak kemarin. Ada yang salah sejak semalam."

Semalam. Baekhyun memutar otak. "Benarkah? Biasanya dia semangat sekali pergi ke sekolah, dan dari ceritanya ia selalu tidak sabar bertemu Sehun, sahabatnya." Baekhyun mengoceh alakadarnya. Ia mengucap sembarang meski pada kenyataannya, ia tak pernah benar-benar menyimak cerita Kyungsoo. Baekhyun menyebut Sehun—karena beberapa kali Kyungsoo sering bercerita tentang pemuda itu. "Kalau begitu, apa ada surat yang bisa saya sampaikan ke sekolah Kyungsoo?"

Baekhyun bukan sedang berpura-pura baik sekarang. Topengnya memang masih terpasang—tapi ia girang bukan main. Kyungsoo tidak akan membuntutinya, Kyungsoo tidak akan mengekorinya.

Tidak ada tawa berlebihan, tidak ada suara cempreng. Ah, bukankah hari ini hari keberuntungan Byun Baekhyun?

Mengenai penyampaian surat ke sekolah Kyungsoo—Baekhyun rasa tak ada gunanya lagi menyembunyikan identitas. Kai toh sudah tahu segalanya dan mungkin pagi ini seisi sekolah bersiap menertawainya. Jadi, Baekhyun tidak perlu malu untuk hal apapun tentang Kyungsoo.

"A-ah, ada, Baekhyun. Tunggu sebentar, ya." Lalu Nyonya Do berlalu menuju rumahnya. Sementara ia menunggu dengan ketukan sepatu di aspal, tetapi tahu-tahu saja postur tinggi tegap berdiri didepannya.

"Selamat pagi," Baekhyun membungkuk hormat.

"Anak bodoh itu tidak sekolah hari ini. Sepertinya dia tidak merepotkanmu sekarang."

"Uhm," Baekhyun hanya bergumam—lebih tidak paham. "Ya. Ku—kurasa begitu."

Selain masih terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Tuan Do, Baekhyun acapkali mendapati ketidaksukaan saat pria didepannya membicarakan Kyungsoo. Yah, semudah itu ia menemukan wajah mengeras dan nada membius—yang terkontaminasi benci. Hingga menit berselang, ibu Kyungsoo datang tergopoh bersama seamplop surat di tangan kanan, ia terburu mengangsurkannya pada Baekhyun—dan tidak memedulikan posisi suaminya.

"Ah, maaf terlalu lama, Baekhyun."

Baekhyun menggeleng sopan disertai senyum lembut, "Nan Gwaenchana. Baiklah, aku akan mengantarkannya. Mohon pamit dulu, Nyonya dan Tuan Do." Ia membungkuk, lalu sebuah suara menginterupsinya lagi.

"Kenapa memanggil kami seperti itu? Panggil saja kami Appa dan Umma agar lebih akrab. Oh—seandainya, anak sebaik dirimu menjadi anak—" kami. Hampir saja kalimat penuh makna itu meluncur bebas dari mulut Ayah Kyungsoo. Tertunda karena istrinya sudah lebih dulu menyikut dan memberi tatapan mematikan. "Apa? Itu benar, kan? Kau pasti juga mendam—"

"Berangkatlah, Baekhyun. Nanti kau terlambat." Senyum sumringah dari Ibu Kyungso menggantikan suasana kaku sekaligus memotong ujaran Tuan Do barusan. "Terima kasih, ya."

"Ne,"

Setelah kesanggupan itu, Baekhyun kehilangan konsentrasinya saat ada di perjalanan menuju sekolah. Ia memang tidak seharusnya mempedulikan keadaan dan kondisi si idiot itu. Toh, sudah menjadi ketetapan hatinya bahwa ia benci berurusan dengan Kyungsoo. Namun, ada sisi lain yang mendobraknya agar terenyuh.

Ia cukup sakit—saat fakta Ayah Kyungsoo ternyata membenci anaknya sendiri. Hal itu sungguh berbalik dengan kecintaan Ibu Kyungsoo yang murni dan apa adanya. Bagi Baekhyun, itu kenyataan yang pedih dan perih. Terlampau tak adil.

Tapi, ia bisa apa?

-ooo-

Suasana kelas Kai berlalu seperti biasa.

Ramai, urakan dan tidak terkendali. Duapuluh dua murid disini kebanyakan tidak menaruh seratus persen perhatiannya pada penjelasan Mr. Han di papan tulis. Mereka jauh lebih peduli pada ponsel dan obrolan tanpa ujung atau bahkan sekedar memejamkan mata untuk kemudian lari ke alam mimpi.

Kalau Kai—ia hanya menghabiskan waktu tak bergunanya dengan memikirkan sesuatu. Oh, seseorang, karena ini menyangkut masa depan ia sebagai pihak utama yang terlibat. Tentang Kyungsoo. Anak idiot itu memberinya dua cabang pikiran—antara bingung bagaimana mengatasi rasa bersalah ini atau malah merasa semakin horny begitu mengingat adegan persetubuhan mereka.

Hah. Kai menghela nafas panjang, Chanyeol pun merasa gusar saat menemukan Kai bukan tertidur malah melamun. "Wae? Tumben sekali kau tidak nyenyak molor di mejamu." Cibiran Chanyeol hanya mendapat kibasan tangan Kai sebagai respon lalu. "Menurutmu, pergi kemana Byun Baekhyun hingga ia datang seterlambat ini?"

Crap.

Mengingat nama Baekhyun, Kai hampir saja lupa bahwa ia telah menjadi saksi atas rahasia terbesar sahabat bermata sipitnya itu. Namun, Kai jelas tahu resiko jika ia berani menceritakan kebenarannya—apakah perbuatan bejatnya pada Kyungsoo juga akan ikut terbongkar?

"Tidak biasanya ia tidak masuk sekolah." Tanggapan Kai membuat Chanyeol spontan menoleh. Ya, karena maksud Kai, Baekhyun terlalu pandai mengatur waktunya antara harus mengantar-jemput Kyungsoo baru kemudian masuk ke kelas ini. Tsk. "Dia pasti punya urusan penting, Yeol."

Chanyeol hanya manggut-manggut—entah mengerti atau masa bodoh. Ia melanjutkan permainan di ponselnya, memekik dan bereaksi berlebihan seperti biasa. Kai tidak pernah protes atau terganggu, toh ia suka berteman dengan Chanyeol si jangkung tanpa jagaan imaji.

"Kumohon, maafkan aku, Saem. Karena telah terlambat sepuluh menit." Itu dia sosok mungil Baekhyun. Sedang membungkuk sembilanpuluh derajat dan dua tangan menyatu didepan tubuhnya.

Mr. Han menghentikan pengajaran materinya dan memusatkan seluruh perhatian pada salah satu murid berseragam yang kini berdiri kikuk disebelahnya. Byun Baekhyun. "Kenapa kau terlambat?"

Karena Baekhyun menghindari pertanyaan semacam ini, karena ia tak punya jawabannya. Ia belum menyiapkan alasan yang tepat. Sementara tidak mungkin bila Kyungsoo ia sebut dalam masalah ini.

"U-uhm. Aku terlambat karena—" Baekhyun menggerakkan matanya liar. Berusaha sebisa pikiranya agar cepat menemukan ide. Tapi, nihil, ia benar-benar kosong sekarang. Sedangkan Kai hanya melempar tatapan pada Chanyeol. Mereka berdua pun kesulitan membantu Baekhyun keluar dari kecaman guru Matematikanya yang terkenal ketat. "Ah, aku hanya—"

"Hanya apa, Byun Baekhyun?" Mr. Han mendesak sekaligus menuntut.

"Saem," Kai mengangkat sebelah tangan, menginterupsi atensi penghuni kelas. "Baekhyun tadi kelupaan membawa catatan saat kami berangkat bersama. Dia tidak ingin saya terlambat, jadi Baekhyun menyuruh saya berangkat lebih dulu sementara ia kembali ke rumah."

Entah reaksi Baekhyun yang Kai tangkap ini—girang atau terkejut. Kai tidak tahu dan tidak peduli. Pentingnya, ia telah menolong Baekhyun agar sahabatnya itu tak berbelit didepan sana. Meski Kai sengaja melupakan bagaimana Baekhyun memperlakukan Kyungsoo kala itu. Ia sadar saja—bahkan perlakuannya jauh lebih jahat, jauh sangat jauh. Jadi, bukankah mereka sama saja?

"Begitukah? Baiklah. Jangan kau ulangi, duduk ditempatmu." Mr. Han akhirnya mempersilahkan.

Baekhyun berjalan pelan menuju tempatnya didekat Kai dan Chanyeol. "Kenapa kau mengatakan itu, Kai? Kita bahkan tidak bertemu di jalan tadi." Baekhyun bersuara, memecah belenggu heran yang bersarang di kepalanya. "Tapi, terima kasih."

"Apa kau baru saja mengantar Kyungsoo?" Nah. Lewat pertanyaan itu, Baekhyun berkesimpulan bahwa Kai ketagihan dengan sosok bernama Kyungsoo—tetangga idiotnya.

"Tidak. Dia tidak masuk dan aku hanya mengantar suratnya." Baekhyun menoleh ke belakang karena bangkunya berada didepan bangku Kai dan Chanyeol.

Kai terdiam—tampak sedang bergelut dengan ironi dalam memorinya. Chanyeol yang tak mengerti ada apa dengan dua sahabatnya, hanya bisa mengulum suara. "Dia sakit?" Kai bertanya lagi, serasa penasaran.

"Aku tidak tahu. Saat aku menjemputnya, ibunya hanya menitipkan surat itu tanpa bilang apa alasan Kyungsoo tidak masuk sekolah." Baekhyun berbisik kali ini. Tentu ia tak mau terjebak dalam dua hukuman sekaligus, sudah cukup terlambat saja kesalahannya hari ini. "Datang saja ke rumahnya kalau kau ingin tahu."

Saran Baekhyun jelas telak-telak menyindir Kai. Mungkin ia tahu apa yang telah Kai lakukan pada Kyungsoo atau mungkin juga tidak. Chanyeol memicing, ia tidak tahan lagi. "Memang ada apa dengan si idiot itu? Kenapa kalian terlalu peduli padanya?"

"Tanyakan saja pada Kai. Semalam melakukan apa—hingga Kyungsoo benar-benar anti pergi ke sekolah. Kai tahu segalanya, Kai mungkin bisa menjawab pertanyaannya sendiri, kan?" Baekhyun berujar acuh, ia cepat-cepat berbalik dan melanjutkan tulisannya di buku catatan. Enggan lagi menyimak respon Kai atau tanya bertanya dari Chanyeol.

Kai terlalu pintar menyembunyikan kalut serta gelagapnya. "Aku tidak melakukan apa-apa. Aku—" Bohong besar, karena nyatanya Kai membuat Kyungsoo menangis kesakitan. Ia memaksa, ia menekan dan ia berlaku kekerasan. Jadi, apa ini murni akibat dari kelainan Hypersex-nya? "Mm, kenapa kau tak berniat menjenguknya, Baek?"

Kai bisa mendengar suara kekeh Baekhyun, "Kau sudah menangkap basah jika aku memiliki kedekatan yang tak seharusnya dengan Kyungsoo—lalu, kalau kau tahu aku membencinya, kenapa aku harus berbaik hati mempedulikannya?" Omongan bak belati itu Baekhyun lontarkan semudah meludah.

Chanyeol seolah mendapat lampu bohlamnya, "Jadi, Baekhyun mengenal Kyungsoo?"

"Kai belum cerita?" Baekhyun melirik Kai yang kelimpungan mengalihkan diri. "Ya. Dia tetanggaku. Kurasa, sekarang aku akan membuka semuanya dan tak perlu menutupinya lagi. Aku benci Kyungsoo, aku benci saat disuruh mengantar-jemput anak idiot sepertinya. Kau tahu, Yeol, remaja seusia kita—mana yang tidak malu saat berteman dengan Kyungsoo?"

Panas. Kai gerah seketika. Tapi Chanyeol malah membelalakkan mata, "Kau tidak mau kami tahu dan nantinya akan memperolokmu? Oh, kalau tahu Kyungsoo tetanggamu, kami tidak akan menyakitinya sedemikian rupa, Baek." Ya, karena Chanyeol adalah satu diantara ketiganya—yang memiliki hati tulus meski kadarnya hanya satu persen.

"Lupakan, Yeol." Desisan Kai menyergap Chanyeol yang masih terombang-ambing. Sedangkan Baekhyun hanya mendengus tanda tak peduli. "Lanjutkan belajarmu dan jangan tanya macam-macam tentang si idiot itu."

Kemudian, situasi berubah separuh canggung. Chanyeol menuruti titah Kai dengan membungkam suara dan mengunci rapat mulutnya. Pun dengan Baekhyun yang kembali memunggungi Kai. Baginya, ia selalu tahu apa saja perbuatan Kai. Baekhyun tahu apa yang dilakukan Kai sebagai manusia gila seks dan terlebih melihat reaksi Kyungsoo sebegitu takutnya.

Apalagi, selain seks?

-ooo-

Kyungsoo mengguyur tubuh telanjangnya dengan air dari pancuran—yang mulai menderas, basah pada kepala dan merata ke seluruh pori kulitnya. Tapi disana, di wajah pucatnya selalu tersembunyi airmata yang mengalir dari pelupuknya.

Namun, dua ketukan di pintu kamar mandinya malah membuat Kyungsoo mematikan pancuran. Itu pasti ibunya, dan mana mungkin ayahnya? Kyungsoo tidak mau bernajak dari tempatnya berdiri saat ini, ia memilih untuk bergeming.

"Kyungsoo? Jangan kau kunci pintunya, Sayang." Nada suara itu ada pada range khawatir.

Kyungsoo tidak menyahut. Tidak membalut tubuhnya dengan handuk, tidak mengeringkan rambutnya. Ia malas, ia muak. Kyungsoo berjalan menuju cermin besar yang menampilkan refleksi tubuhnya secara utuh.

Bilur dan lebam, merah dan biru. Masih bersisa—perasaan hina, terbuang dan jijiknya. Kyungsoo kotor, Kyungsoo hancur. Ia tak punya harga diri, ia benar-benar kehilangan masa depan. Karena peristiwa malam itu adalah hal terburuk yang pernah terjadi sleama tujuhbelas tahun hidupnya. Bahkan, luka-luka menyakitkan ini bukan karena ayahnya.

Kyungsoo menjerit dan wanita didepan pintunya malah ikut berteriak. Kyungsoo mengusap kasar bagian dadanya yang terekspos, Kyungsoo meremat keras masing-masing lengan kurusnya. Ia benci, ia benci sebegini terendahkan.

"Kyungsoo! Buka pintunya! Umma harus masuk!"

Wanita itu sendirian yang mengurus Kyungsoo, tidak ada bantuan dari suaminya yang kepalang menjauhkan diri dari anaknya sendri. Selama belasan tahun ini, hanya wanita itu yang berjuang, hanya seorang ibu yang membela Kyungsoo dari rasis dan diskriminasi orang-orang normal.

"Hiks—Ummaaa~! Tolong, hiks, Kyungsoo~" Kyungsoo merosot, mencekal dadanya kuat-kuat. Ia terduduk pasrah di lantai dingin kamar mandi, ia menangis histeris. Bukan lagi sedu dan isak tapi ia benar-benar tak terkontrol. Tangannya bergerak, membanting sikat gigi, sabun, sampo, apapun yang ada disana. Ia marah, Kyungsoo tidak suka dicampakkan. "Sakit, Umma~! Hiks—aaaah!"

Nyonya Do tentu semakin kalang-kabut. Mana mungkin ia terima-terima saja saat anaknya berteriak sedemikian mengilukan? Maka, otaknya mulai bekerja meski terlalu terlambat. Kunci cadangan. Wanita itu mengobrak-abrik laci Kyungsoo demi menemukan anak-anak kunci tersebut. Ya, beruntungnya bahwa di dalam lubang pintu sana tidak ada kunci yang menetap sehingga kunci baru ini bisa menerobos masuk.

Crap.

Naluri seorang ibu itu bisa melihat kejelian yang mengenaskan disana. Secepat kilat, ia segera merangkul, memeluk dan mendekap tubuh Kyungsoo yang polos. Toh, sudah tidak ada batasan meski Kyungsoo tampil begini didepan ibunya sendiri. Bukan masalah. Tangisan Nyonya Do ikut luruh seraya sebelah tangannya yang mengelus surai hitam Kyungsoo.

Ia mengecup kening anak ajaibnya, berturut. "Ada apa, Sayang? Ceritakan pada Umma, ya. Biar Umma tahu dan kita bisa menyelesaikannya bersama-sama. Hiks—jangan menangis. Kalau Kyungsoo menangis, Umma semakin merasa hancur, Sayang. Katakan apa yang terjadi, ya~"

Kyungsoo menggeleng, "Terlam—hiks—bat." Ia mengusap airmatanya tidak serantan. "Sa—hiks—kit."

Tetap saja, setajam apapun insting ibu—ia tidak akan mengerti dengan masalah Kyungsoo.

"Ada yang berbuat jahat padamu, Kyungsoo? Katakan siapa orangnya, Sayang. Ya?"

Sekali lagi, Kyungsoo membuang jauh-jauh keberadaan suara ataupun cicit lirihnya.

Kyungsoo mendapati wajah ibunya mulai panik, tapi ia terlalu enggan membuka diri, ia terlalu enggan menyatakan bagaimana kronologis. "Ky—Kyungsoo malu, hiks—"

"Kenapa harus malu pada Umma, Sayang?" Tak henti ia membelai, mengusap ataupun menghapus lelehan airmata Kyungsoo. "Kau bilang, kita berdua selalu terbuka. Saling bercerita dan menyelesaikan masalah. Bukankah Kyungsoo sendiri yang menjanjikan itu?"

"Jijik—kotor. Hiks. Kyungsoo tidak mau—hiks—cerita. Pokoknya, hiks, Kyungsoo malu."

Ya, dan itu adalah pamungkas dari kejaran ibunya. Hasil akhir yang diperoleh karena Kyungsoo kokoh membangun benteng pertahanannya lagi, meski berulang kali ia kehilangan rudal dan penembak. Kyungsoo tidak peduli.

Desahan nafas berat dari Nyonya Do menjadi titik renggang pelukan keduanya. "Umma akan menunggu sampai kau siap bercerita, tapi selama menunggu saat itu, Umma akan berusaha mencari tahunya sendiri." Kyungsoo mendelik, tidak terima. "Sekarang, ayo pakai bajumu. Mau ikut ke kedai?"

Kedai. Tempat Umma-nya mencari uang tambahan selain dari bisnis Appa-nya. Kedai. Tempat terbaik bagi Kyungsoo untuk mencari kesibukan. Ia betah disana. Setelah Nyonya Do mendapati anggukan Kyungsoo, ia segera membantu remaja lelaki kesayangannya agar dapat berdiri.

"Selamanya—kau adalah anak Umma yang paling sempurna. Biarkan dunia kejam padamu, hanya ingatlah kalau kita berdua berpegangan pada tumpuan yang sama. Ya, Sayang?"

Kyungsoo mengangguk lagi, kali ini dengan keringanan hati yang lebih membludak. Setidaknya, masih ada malaikatnya disini. Setidaknya, masih ada topangan dan tuntunan abadi dari kasih sayang wanita ini. Kyungsoo tidak melulu keluh akan kepuasan, ia tidak meminta apa-apa selain hidup tenang dan bahagia.

Atau setidaknya, hilang dari bayang-bayang Kai.

-ooo-

Luhan memacu langkah stabilnya menuju pertokoan. Ia sungguh lapar siang ini dan sedang malas memasak. Jadi, ia putuskan bahwa tidak ada yang salah untuk jajan sesekali. Saat matanya menjelajah untuk sekedar window shopping, ia tak begitu menyadari dadanya telah menabrak dada orang lain.

"A—ah, maafkan aku. Aku tidak seng—"

"Tidak apa-apa." Sebelum Luhan menyelesaikan permintaan maafnya, secara rutin pula lelaki berpipi gembul ini tersenyum menenangkan. "Kau baik-baik saja, kan? Aku yang salah karena tidak melihat jalan."

"Aku juga—uhm, aku terlalu asik melihat-lihat, jadi—"

"Kalau begitu, salah kita berdua." Selanjutnya hanya tawa khas dari si ramah itu yang mendominasi dan Luhan pun sempat terpesona saat menjadi penonton. "Oh, namaku Xiumin. Namamu?" Ia menjulurkan tangan kanannya, meminta balasan dari Luhan yang malah mengerjap bingung.

"Oh, mm, Lu—Luhan."

Xiumin memiringkan kepalanya, "Kau bukan orang Korea?"

"China. Aku berasal dari sana."

Tanpa sadar, keduanya melangkah berdampingan di trotoar. Mulai mengakrabkan diri, mulai belajar mengenal satu sama lain. Dari perkenalan ini, setidaknya Luhan tahu Xiumin pribadi yang menyenangkan. Belum lagi, ia bisa menjadi teman Luhan di kala sepi tanpa Kai mulai mendera.

"Sepertinya aku tahu kedai ramen terenak di daerah sini." Xiumin menawarkan traktir secara samar.

"Aku memang berniat mencari makanan tadi." Akuan Luhan membuat Xiumin menggandengnya untuk masuk ke sebuah kedai kecil yang ada di ujung jalan. "I—ini, kita makan berdua?"

"Mm-hm. Kenapa? Kau keberatan? Rasanya makan sendirian itu tidak enak." Xiumin kembali mengungkapkan argumen tak dimintanya.

Mereka duduk di bangku tengah. Luhan berhadapan dengan Xiumin sementara keduanya sama-sama sibuk memilih Menu. Ketika Xiumin memanggil pelayan dan Luhan menyebutkan pesanan, disanalah Kyungsoo muncul. Ini kedai milik ibunya, kan?

Remaja terbelakang itu sedang menggambar sesuatu di kertas seukuran A3-nya. Ia duduk di pojokan dekat jendela. "Hanya itu pesanan anda?" Ternyata pula, pelayan itu adalah Ibu Kyungsoo. Merasa anaknya dipandangi Xiumin, ia pun bertanya, "Ada yang salah dengan anak saya?"

Xiumin mengedip dua kali. "I—itu Kyungsoo? Jadi, dia anak anda?" Saat Xiumin memastikan, Luhan lebih-lebih tidak percaya. Penemuannya berakhir mudah. Penemuannya berbuah cepat. Dengan hasil yang memuaskan. "Di—dia, maaf, tapi dia idiot, kan?"

Idiot. Kyungsoo. Idiot. Luhan sangat ingat bagaimana Kai menyebut nama itu saat bercinta dengannya. Ia tahu karakteristik yang berhubungan dengan nama ini adalah kebetulan semata—bisa jadi dia bukan Kyungsoo yang Luhan cari. Namun, batinnya mengatakan, Ya.

"Dia—retardasi mental." Kesenduan dan mata sayu wanita itu siratkan rasa kasihan dari Xiumin. Sebaliknya, Luhan menyerupai rasa penasaran yang tinggi. Luhan terus mengamati perbincangan Ibu Kyungsoo dan Xiumin, dan dalam pemikirannya—sungguh keberuntungan bagi Luhan karena bertemu Xiumin malah mengantarkannya pada objek utama. "Kau mengenalnya?"

"Boleh aku mendekat sebentar? Tenanglah, aku bukan orang jahat."

Bukan orang jahat. Ah, seklise itu, kah? Luhan kepalang percaya karena ia bisa melihatnya secara langsung. Tapi saat Xiumin meyakinkan wanita itu, rasanya terlalu—aneh.

"Silahkan, silahkan. Kalau kau mau mengajaknya bicara—karena dia butuh teman."

Ini dia Kyungsoo. Pemilik nama yang kerap kali menghantui Luhan—karena Kai mengucapnya begitu nikmat. Luhan pun menyusul Xiumin, ia berusaha mengenyahkan rasa penasarannya juga. Luhan ikut berjongkok—sama seperti posisi Xiumin—dan memasang senyum setengah masam setengah lembut. Luhan punya seribu kedok.

"Hei, Kyungsoo. Kau ingat aku, kan? Temanmu?"

Kyungsoo meletakkan pensil warnanya, menjauhkan kertas gambarnya. Seketika itu pula, matanya tertuju pada Xiumin, bukan pada Luhan yang bertindak sebagai orang asing disini. Xiumin jengah saat mendapati reaksi Kyungsoo—ia menunduk, membuang muka dan memundurkan kursi.

"Masa kau lupa? Aku Xiumin, yang tempo hari bertemu denganmu di gang gelap."

Gang gelap. Kyungsoo seolah ditonjok, diingatkan dengan pukulan dan hajaran. Ia enggan menyingkap tabir dan kembali terseret ke lubang hitam. Mata bulatnya membola sempurna, bibir hatinya antara mengatup dan membuka—Xiumin mulai tersambung, apa ini karena Kyungsoo trauma?

"Tidak. Tidak. Dia jahat. Dia jahat."

Kyungsoo mengulang, agak-agak membuat Luhan semakin tak mengerti.

"Lupakan saja dia. Kelak, orang yang menyakitimu akan mendapat balasannya, ya." Xiumin berucap sabar sembari mengelus telapak tangan Kyungsoo. "Kau sudah menceritakannya pada Ibumu?"

Kyungsoo tersentak, ia menggeleng berkali-kali.

"Jangan. Jangan. Aku—malu. Jangan bilang."

Xiumin menghembuskan nafas berat, merasa bahwa Kyungsoo benar-benar mengalami beban yang luar biasa menyakitkan dan hampir mematikan. Ia juga sadar Kyungsoo tidak ingin masalahnya terlalu diumbar. Jadi, Xiumin tak ingin mendului bercerita pada Ibu Kyungsoo, sebelum anak itu sendiri yang memperbolehkan.

Namun, jika Kyungsoo sudah sangat keterlaluan, Xiumin akan memecah semuanya. Lengkap.

"Maaf, aku terlambat menolongmu." Jeda. Tidak ada jawaban dari Kyungsoo, ia memilih untuk mendengar lebih lanjut daripada harus memotong pembicaraan. "Kalau aku datang lebih cepat, kau tidak akan seperti ini."

Pada kenyataannya, Luhan disini hanya sebagai penyimak. Ia enggan bertanya, ia enggan memutus—ia sengaja memperhatikan interaksi mereka.

"Kau pasti mengalami kesulitan. Ingat kalau aku temanmu dan—lihat, aku membawa teman baru." Teman baru. Saat Xiumin menengok pada Luhan, Kyungsoo bisa membaca raut dan mata Luhan yang memancarkan sinar antusias. "Namanya Luhan."

Inisiatif Luhan, tangannya menyambut tangan Kyungsoo. "Halo, Kyungsoo. Salam kenal." Nah. Meski sebagian dirinya menolak mentah-mentah, tapi Luhan bisa mencoba ini sebagai sandiwara. "Aku dan Xiumin, bisa menjadi temanmu."

Kyungsoo menarik tangannya lagi, kini memandang kosong menuju arah depan dan sengaja menghindari dua pasang mata yang intens mengharap padanya. "Jahat. Sakit. Malu. Hiks—" Ia mulai menangis dan tentu saja keduanya kelabakan.

Luhan tidak tahan untuk menjadi pihak yang tak tahu apa-apa. Akhirnya ia menyikut Xiumin, meminta penjelasan. "Dia kenapa?" Namun, senyuman Xiumin malah melumerkan hati beku Xi Luhan disini.

"Akan kuceritakan nanti."

Sejurus kemudian, Xiumin menggapai jemari Kyungsoo agar tergenggam dalam tangannya.

"Kyung, kau harus kuat, ya?"

Memang bodoh kalau Xiumin berulang menyemangati Kyungsoo. Nyatanya, tetap tidak ada perubahan berarti. Memang dungu kalau Xiumin berlagak tahu seperti apa rasanya menjadi Kyungsoo, tapi hal apa lagi yang bisa ia lakukan?

"Sakit—hiks—sakit. Di bawah sana, nyeri, ngilu. Kyungsoo susah berjalan, hiks—orang itu jahat."

Deg.

Orang itu jahat. Kalau Kai sesuai praduga Luhan. Bahwa saat Kai menyebut nama Kyungsoo, ia bukan sedang mendamba. Tapi ia sedang eksplor tentang kejadian yang telah terlaksana. Apakah Kai sebejat itu? Pikiran Luhan mulai berkelana seiring hatinya yang buru-buru berkelakar. Apalagi mengenai Di bawah sana.

Kai memperkosa Kyungsoo? Di gang sempit yang gelap? Luhan bisa berasumsi, Kai menjadi penjahat dan Kyungsoo korbannya. Lalu Xiumin, dia yang menolong Kyungsoo? Ah, rasanya pening di kepala dan tersiksa di perasaan bagi Luhan.

Kenapa kesannya Kai begitu jahat? Kenapa niat awalan Luhan adalah membenci Kyungsoo?

Tidakkah hubungan antara Luhan, Kai dan Kyungsoo begitu rumit?

-ooo-

Malam ini, setelah pertemuan singkat Kyungsoo dengan Xiumin dan teman barunya, Luhan—tak ada hal signifikan yang membuat Kyungsoo terhibur sedikitpun. Pembicaraan bersama Xiumin tadi hanya berlangsung tanpa hasil, dan mengenai Luhan—pria itu bukan lagi remaja seumuran Kyungsoo, melainkan seumuran Xiumin.

Menurut Kyungsoo, Luhan cukup baik. Ya, hanya cukup.

Meski masih ada yang mengganjal. Senyuman Luhan hampir mengindikasikan dengan seringai Kai. Apa keduanya saling mengenal? Tapi, sekali lagi Kyungsoo pikir, itu terlalu mustahil. Yah, adakalanya batin gemar bertarung dengan otak. Entah mana yang harus ia bela, hanya saja batinnya selalu menuntut kebenaran.

Masa bodoh. Kyungsoo tidak mau memikirkan orang lain sementara dirinya ada di ambang kegelisahan.

"Kyungsoo, kau kedinginan?" Ibunya bertanya sesaat setelah gigi Kyungsoo bergemeletuk gigil.

Gelengan sekali kepalanya menjadi jawaban pasti, "Ahni."

"Ini pakai saja mantel Umma." Wanita itu cekatan memakaikan penghangatnya untuk Kyungsoo.

Ia membiarkan tangan-tangan halus bergurat lelah itu bergerak memberinya kain tebal. Sedikit melindungi kulit tubuhnya dari serangan hawa dingin yang siap menerkam. Sejenak itu, Kyungsoo meletakkan kepala di bahu perempuan kesayangannya sambil masih tetap berjalan membelah sepi.

"Kyungsoo sayang Umma—kalau Umma meninggal, Kyungsoo bagaimana?" Nyonya Do merasakan degup jantungnya mencelos seketika. Jujur, ia belum memikirkan kemungkinan tersebut sama sekali. "Appa membenciku. Di dunia ini, hanya Umma yang menyayangiku, kan? Kalau Umma tidak ada, Kyungsoo juga tidak ada."

"Eh? Tidak boleh begitu, Kyungsoo." Umma-nya mendadak melepas pelukan itu. Ingin lekat-lekat menatap manik mata Kyungsoo. "Bukankah Umma ingin kau tumbuh menjadi anak yang kuat dan tahan banting? Kalau Umma tidak ada, tetaplah berjuang." Kemudian, satu kecupan mendarat di kening Kyungsoo—berlangsung lama.

"Kyungsoo tidak bisa. Kalau tidak ada Umma, Kyungsoo—hiks—bisa apa? Umma jangan pergi, ya." Kyungsoo kembali mengeratkan pelukannya pada sang Ibu. Airmata pun jelas tak dapat di tolerir lagi kehadirannya, seolah keran telah diputar. Keduanya menangis tanpa usaha saling menenangkan. Hanya membiarkan. "Umma mati, Kyungsoo menyusul."

Nyonya Do seakan disedak paksa. "Kalau kau berani melakukan itu, di Surga nanti Umma tidak mau bertemu denganmu." Akhirnya, ia mengancam meski bukti pun hanya mengada-ada. "Ada Appa-mu, sayangi dia. Ya, Kyungsoo? Sebenarnya, Appa sangat menyayangimu, Nak, sangat. Umma yakin."

Ia tidak mau menimpali. Percuma—karena Umma-nya selalu menguggulkan Appa-nya—toh Kyungsoo tahu perbedaan menyayangi dan membenci. "Tidak apa-apa. Asal Kyungsoo bisa melihat Umma."

"Lalu Umma akan bersembunyi dan menolak untuk menemuimu selamanya. Bagaimana, hm?"

Selamanya. Kyungsoo selalu parno akan makna yang tersimpan dalam kata itu. Maka, ia memilih bisu sesaat. Tidak menjawab karena ia tak juga punya alasan. Mengelak, membantah, pun tak berguna.

"Um—mma. Baik-baik saja?"

Sayangnya, ketakutan dalam bersit pikir Kyungsoo menjadi nyata. Ia menangkap gelagat tak biasa yang ditunjukkan Ibunya. Antara menahan sakit dan berpura-pura tersenyum. Kyungsoo sudah lama mengetahui ini—ia sudah tahu sebaik apa Ibunya bermain peran—bahwa seseorang disampingnya merahasiakan sesuatu.

"Ngh. Ah—Kyung, uhm. Ca—cari bantuan, Umma tidak memb—bawa ponsel."

Nyonya Do segera mendudukkan diri di trotoar pinggir jalan. Ia memegangi perut bagian bawahnya—tempat si Rahim dahulu kala ada disana—dengan tangan meremas. Tak kuasa, Kyungsoo mondar-mandir kebingungan.

Tidak ada ponsel artinya tidak bisa menelepon Appa. Untuk berlari pulang pun, jaraknya tidak memungkinkan.

"Hiks—" Tak terhitung berapa kali Kyungsoo menangis hari ini. Ia sungguh tidak tahu harus melakukan apa. Demi Tuhan, dia hanya tidak memiliki kecerdasan baik meski hatinya selalu memiliki ketulusan. "Kyung—Kyungsoo takut, Umma. Ti—tidak ada orang, hiks—bertahan."

Penggalan-penggalan kata yang Kyungsoo ajukan benar-benar tak berdampak apik. Ia tidak melakukan apapun selain celingukan.

Namun, untuk malam ini—Tuhan baru saja mengabulkan rapalan doa Kyungsoo. Lampu depan sebuah mobil terang menyala—menyinari posisi Kyungsoo dan Ibunya. Meski silau, Kyungsoo segera berdiri dan melambaikan tangannya, mengharap sedikit kebaikan hati si pemilik mobil.

Sementara mobil itu semakin dekat, Kyungsoo pun semakin erat memeluk ibunya. Begitu deru mesin berhenti dihadapan mereka, tiga siluet tersebut mulai menuruni kendaraan mereka. Ini seperti dejavu bagi Kyungsoo, rasanya malam seperti ini pernah ia lalui.

Crap.

Sosok pertama yang muncul adalah—Byun Baekhyun, tetangganya.

"Baekkie!" Maka, Kyungsoo memekik. Baekhyun disana sudah tidak menyembunyikan apapun, sehingga ia tak perlu lagi berkating heboh. Ia segera menghampiri Kyungsoo, bertanya apa yang terjadi dan akhirnya meminta bantuan seseorang untuk membawa ibu Kyungsoo ke dalam mobil mewah itu.

Tunggu. Mobil mewah. Kyungsoo mengenal mobil ini. Ia tak begitu yakin sebelumnya, tapi setelah seseorang yang dimintai tolong Baekhyun itu datang tergopoh—Kyungsoo sadar telah berhadapan dengan hal yang salah.

Jika disini ada Chanyeol, maka disini juga akan ada—Kai?

Dugaan Kyungsoo tidak meleset sedikitpun. Ia benar seribu persen adanya. Kai disana, memandang iba. Kyungsoo membeku, terpasung di trotoar ini sedangkan Ibunya sudah terbaring dipangkuan Chanyeol.

Apa-apaan. Kyungsoo merasa sangat takut sekarang, trauma melingkupi dirinya lagi.

Orang itu, orang jahat yang telah melukainya tanpa rasa kasihan. "Kyungsoo? Ayo, masuk. Ada apa denganmu, sih? Kita harus segera membawa Ibumu ke Rumah Sakit. Oh, biar aku telpon Umma-ku dulu. Ya! Kyungsoo!" Pada akhirnya, Baekhyun tak serantan menyentak.

Kyungsoo sempat berjingat kaget. Ia malah beringsut mundur saat Baekhyun mendekat. Belum lagi tatapan Kai yang memojokkannya. Menyeramkan, mengerikan. "Jangan. Hiks—hiks—jangan."

Baekhyun memutar bola matanya, merasa jengkel. "Kyungsoo! Kenapa, sih? Ayo, masuk ke mobil atau kau mau kutinggal disini, hah?!" Namun, mata bulat dan bibir hati itu terus memejam dan bergetar. Hingga Baekhyun sadar telah melupakan satu fakta. Ia menoleh kebelakang, tepat menghunus keberadaan Kai disana. "Oh. Kai. Matilah aku. Bagaimana dia bisa setakut ini padamu, hm? Apa yang kau lakukan padanya?"

Seharusnya, Baekhyun memang tak perlu bertanya. Ini jelas menghambat waktu dan lagi-lagi ia memang sudah tahu apa yang telah Kai lakukan. "Paksa saja dia. Memangnya kau tega membiarkan tetanggamu sekarat seperti itu?" Kai berujar apa adanya dengan kedikan di bahu. Lalu segera duduk di bangku kemudi dan bersiap pada setirnya.

Baekhyun meniupkan udara dari nafasnya, kesal. "Ya! Kyungsoo! Ayo, cepat naik! Kau mau ibumu tidak bisa diselamatkan?!" Tangan Baekhyun pun sudah gencar menarik tangan Kyungsoo, agar tubuh mungil itu mau berdiri dan beranjak dari sana. "Cepatlah, Kyungsoo. Kai sudah tidak berbahaya lagi. Oke?" Kyungsoo pun terpaksa mengikuti seretan Baekhyun, hingga ia sampai didepan pintu mobil dan kembali menggeleng.

"Shireo! Aku takut, Baek—hiks." Dengan susah payah pula, Baekhyun mendorong punggung Kyungsoo.

"Ya! Chanyeol! Bantu aku menarik tangannya atau apapun, buat dia segera masuk." Karena tidak mungkin Baekhyun meminta tolong pada Nyonya Do, toh wanita itu telah pingsan lebih dulu. Chanyeol tidak perlu banyak menuai tanya, ia segera menarik dua tangan Kyungsoo yang menahan pergerakan dirinya sendiri. "Cepat, Yeol!"

"Ouh. Dia benar-benar tidak mau, Baek. Memang dia kenapa, sih?" Tapi, sekuat tenaga pula Chanyeol akhirnya menarik Kyungsoo.

Berhasil. Baekhyun segera menghimpit Kyungsoo agar remaja itu tak keluar lagi. "Kai, Rumah Sakit terdekat."

Gallardo Kai melaju cepat membelah perkotaan Seoul. Ia tak banyak berbicara, selain hanya suara Chanyeol dan Baekhyun yang saling bertanya dan menjawab. Selebih itu, Kai hanya memandangi Kyungsoo lewat spion—anak itu menundukkan kepala dalam-dalam.

Takut. Ngeri. Trauma.

Kai memusatkan diri, apakah Kyungsoo mengidap Paranoid karena ulahnya?

-ooo-

To Be Continue

A/n :

Like I'm exactly just Semi-Hiatus here, but idk. Hah. Need rest so much then I uploaded this junk fic, haha. Enjoy it, pleasee~

Tidak banyak momen KaiSoo yang bisa aku persembahkan karena ini harus sesuai jalannya cerita. Maaf terlalu lama menunggu. Maaf jika hasilnya mengecewakan.

Actually, I won't make Kai so cruel in this story. But I like how the dominant act by him, its just so perfect if I compare with Kyungsoo's submissive.

Daaaan KaiSoo sailing togetheeer terus yaah xD Akhir tahun ini, momen mereka bener-bener bertebaran, uhuk.

Okay. Mohon maaf bagi anda yang menantikan ff lainnya. Seperti FF yang baru muncul teaser, tenang-tenang pasti dilanjut, kok, cuman kan harus menunggu waktu senggang aku. Sebenernya, Ujian Nasional CBT bener-bener menyiksa. Maafkaaan, ya, readerdeul. Aku harus ekstra kerja keras dulu, biar ntar enak kedepannya. Doain biar lancar aja deh, biar cepet update fic yang kalian tungguin.

Then, emang ada yang nungguin? -_-

Oke, slanjutnya, mau FF apa yang dilanjut, hm? Biar Author kabulkan, sini xP

Sincerely,

-Don'tJudgeMeLikeYou'reRight-

SEE YA ON NEXT CHAPTER!