"Yoongi hyung, terimakasih" Jimin memeluk Yoongi dari belakang dan menempelkan pipinya di punggung Yoongi.
"Ada apa?" Tanya Yoongi bingung dan melirik Jimin kebelakang punggungnya.
"Aku menemukannya…" Jimin tersenyum dan makin mengeratkan pelukannya.
"Menemukan apa?" Yoongi mengernyit bingung. Dia sedang sibuk memasang box bayi milik Mino di kamar mereka.
"Piyama"
"Oh…" jawab Yoongi sekenanya.
"Kenapa tidak bilang kalau hyung membelinya?" Jimin terkekeh pelan, mengurai pelukannya dan bergeser untuk berdiri didepan Yoongi.
"Apa?"
"Piyama, hyung… piyamaaa…"Jimin berucap geram.
"Kau kan ingin sekali punya piyama itu, ku beli saja" ucap Yoongi dan kembali sibuk dengan box bayi milik Mino.
Jimin tertawa. "Manisnyaa…." Ucap Jimin dan memeluk Yoongi lagi. "Gomawo, Appa"
"Hmm…"
.
.
.
KOI NO YOKAN-2
.
.
.
"Kau melakukan apa lagi, sekarang?" Yoongi memijit kepalanya yang terasa pusing. Wonho baru memberitahunya kalau Changmin masuk rumah sakit karena ulah Stella.
"Kita membahas soal siapa sekarang?"
"Changmin" ucap Yoongi jengah.
"Oh.. aku hanya bermain sedikit" Stella merapatkan jari telunjuk dan ibu jarinya bersamaan didepan Yoongi.
"Kenapa kau menembak kedua betis dan kedua bahunya? Kau sudah gila?"
"Aku sedang bermain, Asshole. Kau tuli?" Stella memutar bola matanya.
"Kau juga mendorong Hoseok dari tangga!" tuduh Yoongi.
"Huh? Ya! aku bahkan sama sekali tidak menyentuhnya. Dia sendiri yang jatuh dari tangga karena menyeret mundur tubuhnya, kenapa menyalahkan ku?" Stella tak terima.
"Kau bisa kena kasus karena hal ini, kau tau?"
"Hey, Appa baru, aku tau apa yang sedang ku lakukan. Aku hanya menunjukan pada si Changmin itu bagaimana seharusnya laki-laki berperang. Bertatap muka langsung, kau tau?"
"Dasar psikopat"
"Seperti kau waras saja" cibir Stella. "Lagian, aku tidak membunuhnya. Aku hanya membuatnya … setengah mati…" Stella tertawa senang. "Sama seperti yang dia lakukan saat mensabotase mobilku. Si sialan itu beraninya bertarung lewat belakang, tidak jantan" Stella kembali mencibir.
"Ya, terserah. Kalau kau akhirnya di panggil di kantor polisi, jangan bawa-bawa aku" kesal Yoongi.
"Aku telanjang saja mereka juga akan melepaskanku Cuma-Cuma" Stella mengedipkan matanya.
"Menjijikan…"
"Kau tidak tahu saja rasanya menjadi aku yang sekarang. Banyak lelaki yang bersedia mencium kaki ku hanya untuk bisa jalan denganku. Harusnya aku jadi perempuan sejak dulu saja. Kau tau, mereka semua menuruti permintaanku, memanjakanku dengan barang mahal dan memandikanku dengan uang" Stella tersenyum bangga.
"Seperti yang kau lakukan pada Jisung-mu dulu?"
"Fu*k you, Asshole" Stella menggebrak meja Yoongi dan berjalan keluar ruangan kerja Yoongi.
"Mau kemana? Kau tidak mau mendengar kabar dari cinta pertamamu?" Yoongi tertawa keras.
"Keep it yourself, stupid Asshole. I hate You!" Ucap Stella dan membating pintu ruang kerja Yoongi. Meninggalkan Yoongi yang sudah tertawa puas di dalam ruangan.
.
.
.
"Tidur lagi?" Yoongi menatap lurus pada Mino yang tertidur di tengah-tengah tempat tidur mereka.
"Hyung, sudah pulang?" Jimin yang baru saja keluar kamar mandi, tersenyum lebar saat mendapati Yoongi sudah pulang.
"Ne." Yoongi mengecup bibir dan dahi Jimin begitu Jimin sampai di depannya.
"Ingin kopi?" Jimin menawarkan.
"Nanti saja" ucap Yoongi dan berjalan mendekat ke tempat tidur, mendudukan diri di ujung ranjang dan tangannya bergerak menoel pipi Mino yang masih terlelap. "Apa anak bayi kerjanya tidur terus?"
"Masih seminggu hyung, tentu saja kerjanya masih tidur. Mino bangun hanya untuk minum dan mengganti popok saja" jelas Jimin sambil berdiri dan merangkul bahu Yoongi.
"Begitu ya…" guman Yoongi mengerti.
"Hyung, mandi dulu, kau bau asap rokok" ucap Jimin sambil mengendus jas yang Yoongi pakai.
Yoongi menurut, namja pucat itu berdiri dan Jimin membantu Yoongi melepas jas dan dasi milik Yoongi.
"Kita pakai piyama kembaran ya?" Jimin menatap penuh antusias pada Yoongi.
"Kalian saja." Tolak Yoongi.
"Hyuuung…" Jimin mengekori Yoongi yang berjalan menuju lemari pakaian didalam kamar mandi.
"Apppaaa…." Bujuk Jimin lagi,
"Tidak, Jim. Kau dan Mino saja yang pakai" ucap Yoongi.
"Piyama untuk Mino masih kebesaran hyung, Mino baru bisa memakainya saat dia berumur 9 bulan nanti" Jimin merengek.
"Ya sudah, nanti saja kalau Mino sudah berumur 9 bulan"
"Ahhh… hyyuungg…" Jimin kembali merengek. Tangannya terentang untuk menghalangi Yoongi berjalan.
"Tidak, Jim"
"Appaaa…." Rengek Jimin lagi dan kali ini memeluk Yoongi erat.
Yoongi menghela napas. "Kenapa harus sekali di pakai sekarang?"
"Aku ingin mengambil foto" Jimin mengubur wajahnya di leher Yoongi.
"Mengambil foto tidak harus pakai baju yang sama, kan?"
"Harus! Mino juga akan kupakaikan baju yang senada dengan warna piyama kita, hyung. Mau ya?" bujuk Jimin, matanya menatap memohon pada Yoongi.
Yoongi menghela napas dan mengangguk tidak ikhlas.
"Yey! Saranghae Appa" Jimin mengecup bibir yoongi dan berjalan menuju lemari untuk mengambil piyama kembar milik mereka.
Yoongi telah selesai mandi dan hanya memakai celana piyama-nya saja. Ditempat tidur Jimin sedang memegang botol susu dan sibuk bermain dengan Mino yang sepertinya sedang bangun. Yoongi berjalan cepat dan menatap interaksi Jimin dan Mino dari ujung tempat tidur.
Mino terlihat menggerakan tangan dan kaki nya karena Jimin sudah tidak lagi membungkusnya dengan kain dan mengganti baju Mino dengan baju bayi yang tertutup sampai kaki berwarna navy, sama seperti warna piyama milik mereka.
"Appa cudah celecai mandi, Mino-yaa" ucap Jimin main-main dan menggerakan tangan Mino pelan. "Beri calam pada Appa…." Jimin menggerakan tangan Mino yang terkepal kearah Yoongi yang masih berdiri di ujung tempat tidur.
Yoongi tersenyum kecil dan ikut duduk di dekat kaki Mino.
"Kenapa tidak pakai baju, hyung?" Jimin menatap.
"Rambutku masih basah" Jawab yoongi. Tangan Yoongi bergerak mengambil kaki kecil Mino dan mengecup kaki kecil itu. Jimin tersenyum hangat melihatnya.
Ya, walaupun Yoongi belum berani menggendong Mino, setidaknya selama seminggu ini Yoongi sudah sangat membantu Jimin dalam menjaga Mochi kecil mereka saat malam hari. Sudah seminggu ini Yoongi yang selalu membuatkan dan memberi susu untuk Mino saat tengah malam sementara Jimin disuruh tidur oleh Yoongi.
"Kenapa tidak dikeringkan, hyung? Nanti kau kena flu"
"Keringkan rambutku kalau begitu" perintah Yoongi.
Jimin terkekeh. "Maaf Appa, tapi boss Mino sedang minum susu. Appa harus mandiri. Papa sedang sibuk"
Yoongi menaikan alisnya. Biasanya memang selalu Jimin yang mengeringkan rambutnya, kadang juga Jimin yang selalu memasangkan baju Yoongi atau hanya sekedar mengancing piyama milik Yoongi. Itu sudah kebiasaan sejak mereka menikah. Tapi sepertinya kebiasaan Yoongi tidak bisa diteruskan lagi.
"Ya sudah, ku keringkan sendiri" Yoongi kembali mengecup telapak kaki Mino dan berdiri untuk mengambil handuk rambut yang ditinggalkanya di kamar mandi. Ada saingan, eoh?
Yoongi kembali ke tempat tidur dengan handuk kecil yang tersampir di lehernya, kembali duduk di dekat Mino dan memainkan kaki kecil anaknya. Sama sekali tidak mengeringkan rambut.
"Appa, sini" panggil Jimin sambil menepuk tempat di sampingnya.
"Wae?"
"Sini. Pegang botol susu Mino"
Yoongi bergeser dan memegang botol susu Mino. Jimin sedikit mundur kearah kepala ranjang, berlutut ditempat tidur dan kemudian tangannya bergerak mengeringkan rambut Yoongi dari belakang.
Yoongi tersenyum kecil.
"Kita sudah punya anak, hyung. Hyung tidak boleh manja lagi seharusnya." Ucap Jimin dan tangannya sibuk mengeringkan rambut Yoongi.
"Siapa yang manja?"
Jimin menghentikan gerakan tangannya. "Jadi tidak mau mengaku? Hmm?" Jimin memeluk leher Yoongi dan menatap Yoongi dari samping.
Keduanya bertatapan. Jimin dengan tatapan memicing tajam dan Yoongi dengan tatapan datarnya.
Kemudian Yoongi mengedipkan satu matanya genit dan tersenyum.
"Menyebalkan!" Jimin mengecup bibir Yoongi dan kembali sibuk untuk mengeringkan rambut suaminya itu. Pipinya merona.
"Hyung, kalau mau pakai hairdryer ke kamar mandi ya, nanti Mino kaget" ucap Jimin.
"Aku mau tidur saja. Lagian rambutku sudah cukup kering, jadi bisa tidur" Yoongi membaringkan tubuhnya disamping Mino sambil telungkup, tangannya bergerak melepas botol susu yang sudah kosong dari bibir Mino. Anaknya kembali tidur.
"Kita kan mau foto, hyung…"
"Nanti saja, aku ingin tidur" Yoongi mengelak. Tangannya menyerahkan botol susu pada Jimin dan ikut menutup mata untuk tidur sore-nya.
"Hyung pergi ke club nanti malam?" Jimin sedikit menundukan tubuhnya untuk bisa melihat wajah Yoongi yang sudah bersembuyi di lengan kecil Mino.
"Tidak. Aku betah di rumah"
Jimin tersenyum hangat. Sebelum pergi untuk menyimpan botol susu dan handuk, Jimin menyempatkan untuk mengecup pipi Yoongi dan Mino.
"Jadi sekarang dada ku sudah diganti dengan tangan kecil Mino, ya… baiklah…" guman Jimin pelan.
Belum sempat Jimin bergerak dari tempat tidur, tangan Yoongi yang bebas bergerak menahan Jimin.
"Kenapa, hyung?" Tanya Jimin penasaran.
"Aku butuh pahamu untuk jadi bantal" ucap Yoongi tanpa membuka matanya.
"Sudah tidak suka tidur di dadaku lagi hyung?" bisik Jimin.
"Aku tidak pernah bilang begitu, kalau bekas oprasimu sudah sembuh aku akan kembali tidur di dadamu" jawab Yoongi lagi-lagi tanpa membuka mata.
Jimin terkekeh dan kembali mengecup pipi Yoongi.
"Sebentar ya, Mino Appa. Papa ingin menyimpan handuk Boss Appa dan botol susu Boss Mino dulu…" pamit Jimin.
.
.
.
Changmin sudah sadar. Hal pertama yang dilihatnya saat membuka mata adalah ruangan serba putih dan bau obat yang menyengat. Changmin meringis kesakitan. Kedua bahu dan betisnya terasa kebas dan nyeri disaat yang bersamaan, belum lagi perutnya terasa sakit.
Hoseok bergerak mendekat ke ranjang rumah sakit dimana Changmin tengah berbaring, setelah melihat pergerakan Changmin, Hoseok tersenyum lega dan berjalan keluar memangil suster.
"Hosiki…" panggil Changmin pelan.
"Ne? jangan terlalu banyak bergerak, hyung" ucap Hoseok dan memegang tangan Changmin.
"Kau tak apa?" suara Changmin terdengar parau.
"Tidak. Kakiku hanya keseleo dan badanku memar karena bergelinding di tangga. Tapi, aku sudah baik-baik saja"
"Jangan berurusan lagi denganku. Pergilah. Kau bisa berada dalam bahaya…" guman Changmin pelan.
"Hyung, kau meracau. Tunggu suster datang, oke?"
"Hosiki…"
"Tidak sekarang, hyung. Tunggu sebentar, aku akan memanggil susternya lagi" ucap Hoseok sambil berjalan keluar ruangan.
"Lapor, Stella-Nim. Changmin sudah sadarkan diri" Wonho berjalan santai melewati ruangan rawat Changmin setelah mendapatkan perkembangan baru soal namja itu.
"Kau bisa pergi dari sana sekarang." Perinta Stella dari sambungan telepon.
Stella memandang pantulan dirinya dikaca, tersenyum sinis sambil menggoreskan lipstick merah di bibirnya. "Ini masih awal, Changmin. Persiapkan mental dan fisikmu jika bermain denganku" Stella melepas satu kancing kemeja yang digunakannya hingga belahan dadanya sedikit terlihat.
"Tunggu sampai kau benar-benar akan memohon ampun padaku…"
.
.
.
"Aku perlu tau, dia siapa" Yongguk melemparkan selembar foto ke atas meja.
"Apa yang ingin anda ketahui soal wanita ini tuan?"
"Semuanya. Tanpa terkecuali. Aku tidak puas hanya mengetahui namanya. Aku tidak peduli, kau harus mendapat info soal dia secepatnya. Aku ingin menaklukan ratu malam itu ditanganku" Yoonguk menaikan alisnya senang.
"Oh, dan cari tahu apa hubungannya dengan mafia tak tersentuh Min Yoongi. Kalau dia adalah peliharaan Min Yoongi, aku tidak tertarik lagi. Jadi, cari tahu selengkap-lengkapnya"
"Baik tuan"
"Kau bisa pergi" ucap Yongguk.
Setelah pintu ruangannya di tutup, Yongguk menatap kearah layar ponselnya. Sebuah foto yang berisikan seorang wanita cantik bergaun merah dan terkesan berani terpampang disana. "Stella ya…. sial, aku tegang"
.
.
.
"Hyung, ada hubungan apa kau dengan Stella-ssi?" Tanya Jungkook penasaran.
Sikap tidak bersahabat yang di tunjukan Stella secara terang-terangan pada Taehyung, sedikit banyak mengganggu perasaan Jungkook. Jelas dia penasaran tentang masa lalu Taehyung dan Stella sebelum ini.
"Itu hanya masalalu, Kookie"
"Ya sudah, tinggal beritahu aku, kan?" paksa Jungkook.
"Aku merebut pacarnya, dulu" aku Taehyung.
"Kau…"
"Itu dulu Jungkook. Dulu dia memiliki pacar bernama Yoon Jisung. Jisung itu teman satu sekolahku. Aku sudah tau Jisung berpacaran sejak masuk sekolah dengan seseorang yang kuliah di luar negeri waktu itu, tapi aku tidak tau kalau yang dipcaranyi adalah Stella." Guman Taehyung.
"Lalu?"
"Aku mendekati Jisung dan tidak menyangka dia sedang dalam masa renggang waktu itu. Dia membiarkanku memperhatikannya, menjaganya, mengajak kencan dan akhirnya aku… tidur dengannya" Taehyung menatap penuh sesal pada Jungkook.
"Semuanya berjalan baik-baik saja sampai Stella pulang ke Seoul tanpa memberitahu Jisung. Dia… melihat kami sedang… kau tau…"
"Lalu?" Jungkook mengerjab tak percaya.
"Dia menghajarku habis-habisan waktu itu. Kalau Jisung tidak menariknya, aku pasti sudah mati ditangannya" Taehyung terdiam.
"Apa… apa Stella-ssi sudah seperti sekarang waktu itu?"
"Tidak. Dia tidak seperti sekarang yang mengenakan pakaian perempuan. Dia seperti namja lainnya."
"Lalu, bagaimana bisa hyung tau kalau Stella itu adalah mantan kekasih Jisung?" Tanya Jungkook penasaran.
"Tato nama Jisung di bahunya terlihat jelas saat malam pernikahan Yoongi hyung dan Jimin"
Jungkook terdiam, dia tidak tahu harus merespon seperti apa masalah ini.
"Tidak heran kalau dia membenciku sampai sekarang. Dia dan Jisung sudah berhubungan sangat lama. Dari pengakuan Jisung, mereka berpacaran lebih dari 6 tahun dan aku merusak hubungan mereka,jelas dia membenciku" guman Taehyung menyesal.
"Stella dominan?" Tanya Jungkook penasaran.
"Ne. dulu tingkah dan penampilannya barbar seperti brandalan. Tapi satu hal yang aku sadari, dia benar-benar sayang pada Jisung. Saat dia mendapati kami sedang seperti itu, dia hanya memukulku, tapi tidak menyentuh Jisung sama sekali…" kenang Taehyung.
"Kau benar-benar bermasalah, hyung" komentar Jungkook.
"Aku tau. Aku pengacau…" sesal Taehyung.
"Cobalah bicara baik-baik dengan Stella-ssi, hyung. Itu sudah lama berlalu, siapa tau dia sudah bisa memaafkanmu" ucap Jungkook sambil mengelus rambut Taehyung.
"Aku tidak siap di banting dan dihajar lagi olehnya, Kookie. Aku bahkan masuk rumah sakit karena dipukuli dengan tangannya. Tulang rusukku bahkan ada yang retak. Dia seperti monster kalau sedang mengamuk" Taehyung merasa ngeri.
Jungkook terkekeh. "Lalu, kenapa Stella-ssi merubah penampilannya seperti sekarang?"
"Tidak tahu. Aku pernah bertanya pada Yoongi hyung, Yoongi hyung bilang, Stella-ssi hanya bosan dengan wajahnya, jadi dia merubah dirinya seperti sekarang. Tidak masuk akal" ucap Taeyung.
.
.
.
Stella berjalan angkuh di lorong rumah sakit. Setelah mendapatkan nomor pasti kamar rawat Changmin, Stella berniat mengunjungi Namja itu. Tanpa rasa cemas atau apapun, Stella membuka ruangan rawat inap Changmin, berjalan kearah ranjang dan memukul bahu Changmin yang terluka.
"Bangun" Stella melipat kedua tangannya di depan dada.
Changmin meringis merasakan nyeri luar biasa di bahunya yang baru saja di pukul oleh Stella.
"Begitu saja kesakitan" ejek Stella.
"Ma-mau apa kau?" Tanya Changmin panic. Dilihatnya Hoseok sedang bergelung didalam selimut diatas sofa untuk memastikan Hoseok baik-baik saja.
"Berkunjung." Jawab Stella cuek dan mendudukan diri diranjang Changmin.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?" Changmin menatap geram pada Stella yang tersenyum mengejek padanya.
"Mengganggu kejiwaanmu, tentu saja" bisik Stella. Matanya berkilat jahil menatap Changmin. "Aku akan membiarkanmu hidup, kembali sehat dan aku akan kembali membuatmu sekarat seperti sekarang" Stella menaikkan alisnya dan menggigit bibir bawahnya. "Itu rencanaku, Changmin-ssi"
"Kau sakit jiwa!" geram Changmin.
"Memang!" ucap Stella ceria. "Aku lebih suka membuat orang setengah mati daripada langsung mati, Changmin-ssi. Enak sekali kalau langsung mati. Terutama kau! Kau sudah sangat nakal dengan mensabotase mobilku, kali ini, aku akan mensabotase kewarasanmu, menghancurkannya dan membuatmu memohon untuk mati saja" Stella mengelus dada Changmin seduktif.
"Oh, ya, padahal aku menunggu surat panggilan dari polisi, kenapa tidak datang juga?" Stella melipat tangannya di dada Changmin, badannya membungkuk hingga dadanya bertabrakan langsung dengan badan Changmin. "Kau mengecewakanku, Chagya" Stella pura-pura merajuk.
"Aku benar-benar akan menghancurkanmu. Tunggu saja" ancam Changmin.
"Aw… do it, Daddy! Aku suka di hancurkan" Stella mengecup dagu Chagmin yang tepat didepannya.
"Keluar dari sini" geram Changmin.
"Daddy takut kalau ketahuan kekasihnya yang sedang tidur itu, ya?" Stella menegakkan tubuhnya lagi, menatap polos penuh kepalsuan pada Changmin.
Changmin hanya menatapnya penuh amarah.
"Baiklah. Stella berjanji akan menjadi simpanan yang baik untuk Daddy. Jadi, stella akan menurut kali ini." Stella berdiri disamping ranjang, menarik dagu Changmin dan mencium bibir Changmin hingga lipstick Stella menempel berantakan di bibir Changmin.
"Cepat sembuh, Changmin-ssi. Aku tidak sabar bermain-main lagi" Stella kembali memukul bahu Changmin dan berjalan keluar ruangan.
Stella berjalan santai menuju parkiran mobil, menyalakan rokok dan mengepulkan asap sebelum dia masuk kedalam mobilnya. Stella menatap kesekitar hingga matanya menangkap seseorang yang sedang menatapnya tanpa berkedip.
"Sial" maki Stella dan berlalu masuk kedalam mobil.
Jisung. Orang yang sedang menatap syok pada Stella yang berlalu begitu saja. Jas dokter miliknya bahkan jatuh ketanah. Jisung jelas sangat hapal dengan bentuk wajah Stella, tidak peduli seperti apa Stella merias wajahnya.
Tangan Jisung bergetar, dadanya seperti dihantam palu besar. Dia tidak bisa bohong, dia rindu pada sosok itu, sosok yang enam tahun lebih menjadi kekasihnya. Sosok yang menato namanya di tubuhnya. Sosok Stella yang dalam balutan busana brandalannya.
.
.
.
TBC
