Saat keadaan begitu gelap, saat udara seakan tak dapat lagi terhirup, saat pilu benar-benar menyakitkan.
Dia datang dengan senyuman.


Disclaimer : Echiiro Oda

Warning : AU, OOC, Typo, dll.

Complicate!


Apa yang terjadi? Mangapa kepalaku terasa sangat berat? Sekarang aku dimana? Dan dia siapa?

"Aku dimana? Kau siapa?"

"Kau dirumahku. Aku membawamu pulang karena kemarin sore aku melihatmu tergeletak di jalan. Sebenarnya aku ingin mengantarmu kerumahmu, tapi aku tak tahu dimana rumahmu. Aku Sanji."

"Sudah berapa lama aku pingsan?"

"1 hari. Oh ya Nami, maaf aku belum mengabari keluargamu. Ponselmu menggunakan password."

"Iya, tidak apa-apa."

Untuk apa juga mengabari Zoro, toh dia juga tidak akan peduli.

"Darimana kau tahu namaku?" Aku teringat tadi dia memanggilku Nami.

"Tentu saja aku tahu. Kita kan satu kuliah dan jadwal kita pun sama persis."

Lucu sekali, dia satu kuliah denganku dan mempunyai jadwal yang sama persis denganku, tapi aku tak mengenalnya. Apa separah inikah sifat masabodoku? Aku jadi merasa tidak enak dengannya.

"Mari, aku antar kau pulang." Tawarnya.

Tawaran yang menarik. Tapi aku harus berlagak tidak enak dulu, karena aku tak mau dicap sebagai wanita murahan. Aku menunggu sampai dia memaksaku.

"Tidak usah. Terlalu merepotkan."

"Tak perlu sungkan. Mari."

"Sungguh?"

"Sungguh."

"Baiklah, terimakasih."

Akhirnya dia aku menerima tawarannya.


Sanji mengantarku dengan mobil Honda Jazz nya.

Diperjalanan aku menanyakan beberapa pertanyaan kepadanya untuk mengusir kehiningan antara kami berdua. Dan sepertinya dia sama sekali terganggu dengan pertanyaan-pertanyaanku, malah mungkin dia menyukai aku yang terus-menerus bertanya.

"Rumahmu sangat sepi. Orang tuamu kemana?" Tanyaku.

"Ibuku tadi ada dirumah, dia sedang sakit, jadi dia hanya dikamar. Sedangkan ayahku sedang bekerja."

"Oh. Kalau boleh tahu ibumu sakit apa?"

"Ibuku mengidap penyakit leukimia sejak 2 tahun yang lalu."

Seketika raut wajah Sanji tampak lesu.

"Maaf."

"Tak apa." Ucapnya sambil tersenyum.

'Deg! Deg! Deg!' Jantungku berdebar tak karuan. Dia mampu menghipnotisku hanya dengan sebuah senyuman.

"Ada apa denganmu?" Tanyanya aneh. "Oh, aku tahu. Kau kagum terhadap ketampananku. Benar?"

Sepertinya dia dapat membaca ekspresi wajahku.

"Hahaha, kau terlalu percaya diri."

Lagi lagi dia hanya tersenyum.

Akhirnya selama perjalanan menuju rumahku terisi dari perbincangan yang penting sampai yang sama sekali tidak penting. Terimakasih Sanji. Setidaknya kau telah sedikit mengobati perih lukaku.

End Nami's PoV


To Be Continued