Harvest MoonSTER: Friends of Monster Town

Disclaimer: I don't own Harvest Moon, just this fic only.

Chapter 7: Panen

Sapi Uduk terlihat sangat senang dengan sarapan paginya, apalagi Jack menggosok badannya dengan sikat yang baru dibelinya dari Saibara, tukang pandai besi. Tak lupa Jack juga membeli tas yang ukurannya besar dan kuat sehingga dia bisa membawa barang dan peralatan yang lebih banyak, dia juga membeli keranjang untuk wadah hasil panen di super market.

Setelah selesai menggosok sapi Uduk, Jack lalu membawanya keluar kandang karena kata Barley jika cuaca dalam keadan bagus maka lebih baik membawa binatangnya keluar. Dan akhirnya sapi Uduk pun keluar dari kandangnya setelah keringat Jack terkuras habis. Jack lalu melanjutkan ke pekerjaan berikutnya, dia lalu mengambil keranjang yang ada di dekat rumah Claire. Dia sudah lama menunggu hari ini, hari memanen lobak. Hampir setengah ladang Claire dipenuhi oleh lobak yang siap dipanen, sisanya adalah rumput 500G yang dibelinya dari super market.

Jack memang tak tahu banyak tentang cara bertani dan berternak dia hanya belajar dari beberapa buku yang pernah dibacanya, tak jarang dia mampir ke perpustakaan hanya untuk sekedar membaca buku. Jack sangat bersemangat dalam mengurus ladang milik majikannya itu, dia bahkan kerja sampai malam hanya untuk menanam bibit lobak bahkan ketika dia sakit masih tetap bekerja. Claire pun tidak segan-segan membantunya, majikannya yang cerewet dan manja itu memang mempunyai bakat bertani yang hebat. Mungkin itulah yang membuatnya betah untuk tinggal di Farmnya.

Hampir setengah lobak yang ada di ladang sudah Jack panen tapi keranjangnya sudah penuh, dia lalu menaruh semua lobaknya ke kotak Shiping. Dengan begitu nanti sore dia akan dapat bayaran besar ketika Zack mengangkutnya, ya uangnya pun akan diberikan semua kepada Claire. Setelah selesai mengosongkan keranjangnya, Jack kembali memanen lobak-lobaknya. Tibalah dia pada lobak yang menurutnya cukup besar, Jack nenariknya tapi tidak bisa dicabut. Jack terus menariknya sekuat tenaga tapi tetap tidak bisa dicabut.

"Woy Jack lagi ngapain? Kok sampai ngotot gitu?" tanya Claire yang baru saja keluar dari dalam rumahnya.

"Ini, aku gak bisa nyabut lobak ini," jawab Jack sambil tetap menarik lobaknya.

"Hah? Masa' gitu aja gak bisa?" tanya Claire penasaran lalu dia mendekati Jack.

"Beneran, gak bisa dicabut!"

"Sini biar aku ajah yang nyabut," kata Claire, dia lalu menarik lobak tersebut tapi tetap tidak bisa tercabut. "Duh, susah yah! Hehehe," ujar Claire sambil tersenyum malu.

"Huh, dibilangin susah," ujar Jack jengkel.

"Eh, tapi lobak ini aneh yah. Coba lihat daunnya, beda dengan yang lain, kalau yang ini lebih panjang," kata Claire heran.

"Benar juga. Apa jangan-jangan ini lobak super yah jadi susah dicabut," kata Jack senang.

"Duh, mana ada!"

"Iya yah, hahaha," Jack ketawa sendiri.

"Aneh!" gumam Claire. "Ya udah, ayo kita tarik bareng-bareng ajah!" saran Claire.

"Ayo!" jawab Jack semangat.

Jack dan Claire lalu menarik lobak itu bersama-sama, mereka menariknya dengan sekuat tenaga. Tampak jelas urat nadi di wajah mereka, keringat mereka pun bercucuran, menandakan bahwa dalam 3 detik lagi Claire akan berteriak.

"Waah cape! Jack, aku udah gak kuat lagi!" teriak Claire dengan nafas yang tersenggal-senggal.

"Iya, sama. Sialan lobak ini! Biar kupotong saja!" umpat Jack kesal, dia lalu mengambil sabit dari tasnya kemudian memotong salah satu daun lobak.

"SLASH!" Daun lobak terpotong dengan mudah tapi tiba-tiba tanah di sekitar Jack dan Claire bergetar, tampak Claire sudah mulai panik.

"BRUAAAH!" Lobak raksasa muncul dari tanah. Claire panik setengah mati lalu pingsan seketika sedangkan Jack hanya diam, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Wahh! Benar kan Claire! Ini lobak super! Asyikk!" teriak Jack senang lalu memeluk lobak raksasa tersebut.

"Beraninya kamu memotong daunku yah! Bagiku itu adalah nyawaku! Sekarang bersiaplah kau mati!" kata lobak raksasa.

Ternyata lobak raksasa mempunya mata dan mulut yang lebar yang sekarang siap untuk melahap Jack.

"Sial!" seru Jack lalu melompat menghidari serangan lobak raksasa.

Lobak raksasa ikut melompat, bahkan lompatannya lebih tinggi daripada Jack dan menghantam tubuhnya.

"DUAAKH!" Tubuh Jack terhimpit keras, darah keluar dari mulutnya.

Lobak raksasa melompat lagi, kali ini lebih tinggi. Jack dengan sisa tenaganya berdiri lalu berlari. Jack berhasil menghindari Lobak raksasa tapi tubuh Jack dihantam keras oleh puluhan lobak kecil.

"Huahaha, rasakan serangan Turnip Bomb-ku!" Ternyata lobak kecil tadi berasal dari mulut lobak raksasa.

Jack terkapar tidak berdaya, serangan lobak tadi membuat tubuhnya serasa remuk. Lobak raksasa mendekati Jack, membuka mulutnya lebar bersiap menembakkan puluhan lobak.

"ZRAAANG!" Sabit Jack mengenai Lobak raksasa tepat sebelum menembakkan lobaknya.

"Hahaha, percuma saja! Tubuhku sekeras baja, serangan seperti ini gak akan mempan!" kata Lobak raksasa, tubuhnya sama sekali tidak tergores.

Jack kaget, tidak percaya sabitnya tidak mempan sedikitpun. Serangan lobak kecil kembali dilancarkan, kali ini Jack menghindarinya dengan mulus.

"Sial! Kalau begitu akan kubunuh duluan perempuan itu!" Lobak raksasa berbalik bersiap menembakkan bom lobaknya pada Claire yang pingsan.

"BRAKKK!" Jack memuntahkan darah segar dari mulutnya, dia menahan seluruh bom lobak yang mengarah ke Claire dengan tubuhnya.

"Ugh! Aku gak akan biarkan siapapun melukai Claire! Aku pasti akan melindungimu Claire!" teriak Jack keras. "Hey lobak bodoh! Bersiaplah untuk mati!"

Jack berlari ke arah Lobak raksasa, dengan cepat dia menyabetkan sabitnya.

"CRAAACK!" Sabit Jack retak, serangannya sama sekali tidak melukai Lobak raksasa.

"BRUAAAGH!" Lobak raksasa menembakkan ratusan bom lobaknya tepat ke arah Jack yang berdiri di depannya dan membuat Jack terpental jauh.

"Hahaha, aku bilang percuma kan! Serangan seperti apapun tidak akan melukaiku! Kau jadi mati kan! Hahaha," tawa Lobak raksasa senang.

Jack tidak bergerak, tubuhnya yang penuh luka dan darah tergeletak tidak berdaya. Lobak raksasa mendekati Jack, memastikan kalau Jack telah mati. Kemudian dia berbalik ke arah Claire berniat menghabisinya juga. Dia membuka mulutnya lebar-lebar bersiap untuk menembakkan ratusan Bom lobak.

"Lobak bodoh! Aku bilang kan gak akan membiarkan siapapun melukai Claire," teriak Jack yang sekarang berdiri menarik daun Lobak raksasa.

"Hah! Bagaimana kamu bisa berdiri? Aku sudah pastikan kalau sudah mati tadi," tanya Lobak raksasa ketakutan.

"Bodoh, aku hanya memakan lobakmu yang berawana merah tadi! Hey, bukankah tadi kau bilang daun ini nyawamu kan? Kalau begitu akan kutebas nyawamu!"

"ZRAASH!"

"AAAAARGGH!" Daun di kepala Lobak raksasa tertebas membuat Lobak raksasa berteriak keras.

Jack mundur beberapa langkah, Lobak raksasa berguling-guling tidak karuan kemudian melompat tinggi.

"DUAAAARHH!" Lobak raksasa meledak keras menjadi ratusan lobak kecil dan terjadilah hujan lobak.

Claire yang dari tadi pingsan bangun, dia terbangun karena beberapa lobak menimpa kepalanya. Dia hanya bisa heran melihat hujan lobak dan ratusan lobak yang ada di ladangnya.

Bersambung.

Saya bingung mau bilang apa di sini :o chapter ini gaje banget :(

Silver Jack : Makasih banyak. Iya, maksud saya tuh Jack. Karena tadinya lupa warna rambut Jack tuh apa, belum lagi buatnya pakai hp jadi ribet. Hehehe :D