"Sasuke-kun,"

.

.

"Sasuke-kun,"

.

.

"SASUKE-KUNNNN!"

.

.

.

Ia terbangun dari mimpinya. Entah itu mimpi apa yang baru saja berkeliaran dalam tidurnya. Peluh yang membasahi keningnya mulai mengalir ke pelipis serta lehernya. "Gosh, mimpi sialan itu lagi!" ia kembali merebahkan dirinya di atas kasur, mendongakkan kepalanya agar bagian lehernya mendapat asupan udara dingin dari air-conditioner yang ada di kamarnya.

"Sasuke-kun.." gumamnya. Pikirannya mulai berfantasi dan melayang-layang. Namun, sepertinya fantasinya terhenti saat mulai muncul bayang wajah seorang gadis didalam otaknya. Kilatan amarah mulai terlihat di kedua matanya.

"Haruno Sakura.."

Kedua tangan putih itu mengepal keras. "Takkan ku biarkan kau menyentuh Sasuke-kun walau hanya dengan seujung jarimu,"

.

.

"Sasuke-kun hanya milikku seorang. Selamanya."

.

.

.

.

.


NARUTO and All The Characters belongs to MASASHI KISHIMOTO

"OH!"

Story © Syifafiap

Title Fiction © Girls' Generation (SNSD)

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort, Family, Drama

Warning: T+ (soon M), AU, typo(s), Bad EyD, OOC

.

.

.

OH!

.

.

.


Chapter 7 : Rough


.

"Ohayou, Nona Sakura."

Nenek Chiyo terpaku melihat nona besar yang masih mengenakan piyama tidurnya itu sedang fokus menghias sebuah bento berukuran besar. Bahkan gadis itu tak menyadari kehadirannya dan juga tak membalas sapaannya.

"Apa yang sedang kau lakukan pagi-pagi buta begini, Nona Sakura?" pertanyaan kembali terlontar dari bibir sang Nenek. Kali ini, gadis berambut merah muda yang diikat dua itu menengok ke arah sang Nenek sambil tersenyum. "Aku sedang membuat bento spesial, Nenek Chiyo.." jawabnya semangat.

"Jadi apa yang membuat bento itu spesial?" tatapan penasaran itu terlihat menginterogasi gadis remaja yang sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri.

"Bagian yang spesial pada bento ini ialah aku membumbui bento ini dengan kasih dan cintaku untuk Sasuke-kun,"

Jawaban polos Sakura membuat sang nenek tertawa pelan.

"Kau sedang jatuh cinta, Nona Sakura?" senyuman hangat terpancar di wajah tua itu. Ia menepuk-nepuk pundak nona kesayangannya pelan. Haruno Sakura—gadis itu, ikut tersenyum ceria dan mengangguk mantap.

"Mengapa kau cepat sekali besar?" tangan keriput itu berpindah ke pucuk kepala gadis itu. Mengelus-elusnya pelan penuh kasih. Kedua mata yang dikelilingi guratan-guratan keriput itu menatap sendu sang nona bungsu keluarga Haruno.

Melihat itu, tentu saja membuat Sakura merasa sedih. "Nenek Chiyo, meski aku sudah dewasa.. Aku tetap akan menjadi cucu kesayangan Nenek," ujarnya sembari memeluk wanita tua didepannya.

.

.

.

"APANYA YANG SUDAH DEWASA?!" Wanita tua itu melepas pelukan Sakura dengan tepukan keras mendarat ditangan mulusnya. Sakura yang sedang terbawa suasana tentu saja terkejut dengan pukulan maut yang sudah biasa menghantui dirinya juga kakaknya.

"Kau bahkan terkadang tidak menghormati kakakmu," Ketus sang Nenek.

POONG!

.

.

SKAKMAT.

"I—Itukan karena ada alasan yang tepat," bibir tipis itu mengerucut kedepan. Sembari membungkus bento yang sepertinya telah selesai dihias. Senyumnya merekah melihat bungkusan besar yang rapi didepannya.

"Karena Sasori selalu menggodamu?" Nenek Chiyo tertawa pelan. Ia mulai memakai apron berwarna hijau dan sekiranya bersiap untuk menyiapkan sarapan pagi untuk kedua cucu kesayangannya.

"Salah satunya itu, Nek." jawab Sakura dengan percaya diri.

"Baiklah, Nek.. Bentonya sudah selesai. Aku akan letakkan di mobil saja agar tidak ketinggalan," lanjut gadisSakura membawa bento ke arah bagasi rumah megahnya. Ia letakkan bento itu beserta tas punggung berwarna putih di jok belakang mobilnya. Setelah selesai, ia bergegas kembali kedalam rumah untuk mempersiapkan dirinya bertemu pangeran tercintanya.

.

.

.

Haruno Sakura—gadis itu terduduk di bangku taman sekolah, memainkan handphonenya dengan serius. Wajahnya terlihat sedang fokus untuk menginformasikan pada teman-teman cheerleaders-nya untuk melakukan latihan dance jika istirahat kedua tiba via group chat. Lalu, pikirannya berputar, mengingat-ngingat gerakan dance yang nanti harus diajarkan pada teman-temannya nanti.

"Haahh, bukan hanya tubuhku yang lelah. Otakku pun juga lelah," ia menghembus nafas pelan. "Rasanya aku ingin melihat Sasuke-kun agar aku bersemangat," keluh Sakura, ia menatap kosong bento besar disebelahnya.

.

"Sakura!"

Sakura yang sedang termenung, sedikit terkejut saat seseorang memanggil namanya. Ia menengok kearah sumber suara. Emerald teduhnya menangkap sosok yang ia kenal.

"Karin?"

Karin langsung mendudukkan dirinya disamping Sakura, "Kau sedang apa disini? Mengapa tidak langsung kekelasmu?" tanyanya dengan wajah heran.

"Hehehe, aku sedang ingin menghirup udara pagi lebih lama. Kau baru datang, Karin?" tanya Sakura setelah ia melihat Karin masih setia memegang tasnya.

"Ya, aku baru datang. Aku baru saja akan kekelas jika aku tak melihatmu termenung menatap bentomu itu," jawab Karin polos. Sakura tertawa pelan mendengar penjelasan singkat Karin. "Bento ini bento spesial untuk Sasuke-kun. Kau tahu? Aku bangun jam 3 pagi hanya untuk memasak semua ini." ujar Sakura bersemangat.

Mendengar itu Karin ikut terkikik pelan, ia menepuk pundak Sakura. "Kalau begitu berusahalah, Sakura." ujar pelan sambil tersenyum.

"Tentu saja! Akan ku pastikan Sasuke-kun menghabiskan bentonya," balas Sakura sambil tersenyum manis pada teman se-timnya itu. Sakura menatap penuh cinta bento besar yang terbungkus oleh tas jinjing berwarna tosca.

"Baiklah, baiklah, sisakan semangatmu untuk latihan nanti. Ayo kita kekelas," Sepupu dari Naruto itu berdiri dan berjalan pelan meninggalkan Sakura.

"ROGER!"

Kedua gadis itu meninggalkan taman sekolah yang kini sudah mulai sepi. Membiarkan burung-burung dan kupu-kupu meramaikan taman yang indah dan asri itu untuk sementara.

.

.

.

"INOOOO-PIG!"

"WAAAAAAAAAAA!"

Raut wajah terkejut terpampang di wajah barbie—Yamanaka Ino saat sahabat anehnya mengagetkan dirinya yang sedang serius chatting dengan pangeran impiannya. Si Art Prince yang masih setia membuat dirinya gemas.

"FOREHEAD! KAU MEMBUATKU JANTUNGAN, BODOH!"

Sakura yang mendengar itu hanya terkikik keras, lalu ikut mendudukkan dirinya disamping gadis blonde pucat yang menatap dirinya tajam.

"Maaf, maaf.. Apa aku sangat mengganggu acara kencan via chat dengan Art Prince? Hihihi,"

BLUSH—

"Forehead! Jangan keras-keras!" kata Ino pada Sakura. Tampak semburat merah menyelimuti kedua pipi mulus Ino.

"Jadi kapan kau akan bertemu dengannya? Aku sudah tidak sabar seperti apa wajahnya," kata Sakura menggebu-gebu. Ino menghela nafas pelan, "Aku akan bertemu minggu ini, Forehead,"

"APA?! MINGGU INI?!"

Ino mengangguk pelan. Wajahnya terlihat lesu dan tidak bersemangat.

"Itu bagus, Pig. Ada apa dengan wajah jelekmu itu? Mengapa kau lesu?" tanya Sakura, tanpa sadar kedua tangannya menggoyang-goyangkan bahu Ino dengan semangat.

"Aku khawatir dia tidak menyukaiku. Karena aku sudah terlanjur menyukainya," jawab Ino pelan.

"Mengapa kau berpikiran seperti itu? Tak biasanya kau tak percaya diri seperti ini," Sakura melepas genggamannya dari bahu Ino. Tak biasanya melihat seorang Yamanaka Ino lesu dan tak bersemangat hanya karena mengkhawatirkan tentang cinta.

"Sudah dua hari ini Art Prince bersikap acuh padaku. Ia seperti malas-malasan membalas chatku, padahal sebelumnya ia tak pernah begitu, Forehead."

Sakura mengangguk pelan, "Kurasa itu wajar saja, Pig. Mungkin ia mempunyai masalah di dunia nyatanya, dan berdampak padamu juga," ujar Sakura sembari tersenyum polos. Ino pun terdiam mendengar penjelasan Sakura.

"Benar juga, tapi aku tetap saja cemas jika ia hanya tak menyukaiku,"

"Ia akan menyukaimu, Pig. Kau cantik dan kau baik hati, aku yakin ia akan menyukaimu dan tergila-gila padamu,"

.

.

.

"Kau benar."

Aquamarine yang sedari tadi muram berubah cerah seketika. Wajah cantik itu menampakkan raut wajah penuh harapan. "Kau benar sekali, Forehead. Terima kasih!" pelukan hangat ia berikan pada sahabat terbaik di hidupnya yang pernah ada. Betapa beruntungnya ia memiliki sahabat yang freak seperti Haruno Sakura.

"Jadi, kau dan Hinata akan menemaniku shopping, bukan? Aku harus tampil cantik saat bertemu dengannya nanti," Ino mencubit-cubit kedua pipi putih Sakura dengan gemas.

"Baik, tapi kau harus menemaniku mencari Blue Ocean sekarang." ancam Sakura pada Ino. Ia mengelus –elus kedua pipinya sembari memanyunkan bibirnya.

"Apa? Kau ingin tebar pesona didepan Sasuke lagi?"

POONG.

.

.

SKAKMAT.

"Aku hanya ingin memberinya bento buatanku, Pig!"

Ino menghela napas pelan, "Ya, sekaligus kau ingin tebar pesona didepan pangeranmu itu, bukan? Aku kan sudah pernah bilang padamu.. Penggemar Sasuke itu sangat banyak di sekolah ini, aku hanya takut jika kau keterlaluan, salah satu dari mereka atau bahkan mereka semua bisa membunuhmu," keluh gadis blonde itu. Terlihat sekali raut wajah cemas dan khawatir kembali menghiasi wajahnya.

Sakura hanya terkekeh pelan. "Ino, aku pun sudah pernah bilang padamu, jika itu sampai terjadi.. Sasuke-kun akan melindungiku,"

Aquamarine bening itu mencari kebenaran pada lawannya, terlihat sekali keyakinan di kilatan iris emerald itu.

"Aku tak—"

"Ino.. Aku tak peduli seberapa banyak penggemarnya. Mereka tak lebih banyak dari rasaku padanya, dan mereka takkan bisa mengambil hati seorang kapten Blue Ocean. Kapten itu seorang yang hebat, maka harus berpasangan dengan kapten yang hebat juga," senyuman percaya diri terpancar pada wajah elok kapten Cheerleader itu. Kedua tangan putihnya langsung menarik tangan Ino beserta tas berisi bento penuh cinta itu.

"Ayo kita ke lapangan! Blue Ocean sedang latihan basket!"

"Tapi kau janji akan menemaniku shopping' kan, Forehead?!"

"Baiklah, baiklah.."

"Dan jangan lupa kau harus menemaniku nanti saat bertemu dengannya!"

"Iya, iya, cerewet. Ayo, cari Hinata terlebih dahulu! Lalu kita ke lapangan!"

"Bagus! Roger, Kapten!"

.

.

.

Lapangan basket Konoha High School kini sedang dihuni oleh Blue Ocean. Terlihat disana para lelaki-lelaki berlarian penuh peluh dibalik jersey berwarna-warni berebut bola basket berwarna merah bata dengan garis hitam mengelilingi. Disana Uzumaki Naruto sedang santai berdiri di sisi samping lapangan. Kedua matanya fokus memperhatikan pergerakan lincah seluruh anggota yang berada di lapangan besar itu. Sepertinya ia sedang menunggu..

"DOBE!"

Dengan cepat kedua tangan berkulit tan itu langsung melempar bola basket yang baru saja ia terima dari sang kapten Uchiha Sasuke.

.

.

"GOL!"

.

.

Senyuman lebar terpampang di wajah rubah Naruto. "YEAHHHH! YOOHOOOO! AKU BERHASIL!" teriakan cemprengnya mengundang banyak tawa dan senyuman memuja dari para siswi yang mengintip dibalik jaring-jaring besi dipinggir lapangan.

"Kerja bagus, Naruto!" Kiba dan Lee menepuk punggung Naruto keras. Naruto hanya terkekeh tak peduli. "Tentu saja, aku kan hebat dalam bidang apapun!" kepalan tangannya ia pukulkan ke dada bidang yang terlapis jersey basah.

"Tidak dalam hal pelajaran,"

Naruto menatap tajam Sai yang kini sedang memainkan handphone-nya sembari tersenyum palsu padanya. "Berisik kau, Sai."

"Kau lebih berisik dari pada aku, Naruto," ucapan bengis yang keluar tanpa rasa bersalah itu kembali membuat Naruto bergidik ngeri sekaligus kesal.

Tak menghiraukan perdebatan antara kedua teman baiknya, Kapten Uchiha Sasuke menepuk-nepuk tangan sebagai tanda untuk Blue Ocean agar segera merapat dan berkumpul untuk evaluasi kembali.

"Kerja bagus, Blue. Semua memainkan perannya dengan baik." Ucap sang kapten, wajah datarnya sedikit menampakkan raut wajah puas.

"Pertama-tama aku ingin memberitahu kalian bahwa aku akan menurunkan Sai ke lapangan. Aku sudah mendiskusikannya dengan Shikamaru."

Sai yang sedang terdiam, tiba-tiba saja terkejut saat sang kapten menyebut namanya. "Maaf, bisa kau ulangi lagi, Sasuke-san?"

"Kau akan turun ke lapangan, Sai."

Tepukan tangan dan teriakan ricuh dari Blue Ocean menyeruak di telinganya. "Kau serius?"

Sasuke mengangguk sembari melipat tangannya didepan dada. Ia melirik Shikamaru yang duduk di sampingnya. Sai tersenyum tipis. "Terima kasih, Sasuke-san, Shikamaru-san." Terlihat jelas raut senang di wajah tampan yang pucat itu meski samar dan hampir tak terlihat.

"Kau akan berada di center bersama Neji."

Dan semua mata yang ada disana terbelalak saat Sasuke kembali berbicara. Termasuk Sai yang menjadi topik pembicaraan saat itu.

"Center?! Apa kau tak salah? Bukannya kau yang berada di posisi center sekaligus point guard? Begitu juga aku?" pekik Naruto keras.

"Tidak, aku sudah berdiskusi pada Shikamaru sebelumnya. Lawan-lawan kita sebelumnya juga akan mengikuti olimpiade, dan mereka sudah pasti tahu bahwa aku dan Naruto selalu menjadi center utama. Maka dari itu, aku mengambil Neji dan Sai yang berperan di bagian center kali ini untuk mengecoh para lawan."

Penjelasan panjang Sasuke sepertinya masih belum bisa membuat para anggota paham.

"Lalu, bagaimana dengan kau dan Naruto yang berperan juga dalam center?" tanya Neji, matanya melirik Shikamaru yang masih menatap Sasuke malas.

"Aku dan Naruto akan ikut bermain dibagian center tanpa diketahui oleh lawan. Namun, kau dan Sai akan tetap berperan besar di bagian center."

Kali ini semua mengangguk mengerti dan paham akan maksud dari perkataan kapten Blue Ocean tersebut.

"Waktu kita hanya tinggal 3 bulan lagi untuk melawan tim-tim diseluruh pesohor Jepang. Ku harap kalian tetap bisa diandalkan," perkataan Sasuke sekaligus menutup pertemuan dan latihan di pagi hari menjelang siang itu.

"Sasuke-kun!" tanpa beban, si cantik Haruno Sakura berjalan santai menghampiri Blue Ocean yang sedang beristirahat di pinggir lapangan. Di susul dua sahabat cantiknya, Ino dan Hinata yang membawa sebuah kotak berisi lemon madu.

"HINATA-CHAN!"

Hinata tersenyum manis saat melihat kekasihnya melambai-lambaikan tangannya dengan semangat ke arahnya.

"Apa hanya mereka bertiga yang datang?" keluh Kiba. Yang dibalas gelengan oleh Shino, "Kau keterlaluan, Kiba." Ujar Shino, ia membetulkan letak kacamata hitamnya.

"Lagi-lagi kau tidak jelas, Shino." Dengus Kiba kesal, sepertinya ia sudah biasa dengan sikap teman baiknya itu. Ya, teman baik kedua setelah Akamaru, anjing kesayangannya.

.

.

Sasuke menatap datar gadis cantik yang kini mendudukkan dirinya tepat dihadapannya. Lalu, pandangannya melayang pada sebuah tas jinjing berwarna tosca. Rasanya ia tahu apa yang ada didalam tas berwarna cerah itu.

"Aku tidak lapar,"

"He?" Sakura yang masih setia menatap keseksian Sasuke yang baru saja latihan dan penuh peluh pun membelalakan matanya.

"Apa kau bilang?"

"Aku tidak lapar." ketus Sasuke lagi, ia justru sibuk meminum air dari botol minum favoritnya. Tanpa mempedulikan wajah bingung Sakura.

"Bagaimana kau bisa tahu ka—"

"Kau itu mudah ditebak." Potong Sasuke cepat. Onyx miliknya sedikit melirik pada gadis yang sedang menunduk, rasa penasaran sedikit menggelitik hatinya, ingin melihat reaksi seperti apa yang akan muncul dari gadis itu.

"Kau harus makan bento buatanku, Kapten. Bagaimana bisa kau memimpin tim jika kau masih saja susah untuk makan?"

Tak ada jawaban dari bibir lelaki tampan itu. Sepertinya tak berniat membalas perkataan sang gadis.

Emerald milik Sakura sedikit melirik kemesraan sahabatnya, Hinata dengan kekasihnya, Uzumaki Naruto. Dengan lahap bocah rubah itu menghabiskan bento yang Hinata bawa untuknya. Dalam hatinya, ia sedikit merasa iri pada Hinata, ia bisa melihat betapa Naruto sangat menyayangi gadis yang selalu identik dengan bunga lavender itu.

"Ck, berikan padaku!" seketika sebuah tangan merebut kasar bento yang semula ada ditangannya.

Terpampang jelas disana, sekepal nasi yang dibuat menyerupai sebuah kepala dengan berbagai hiasan mulai dari telur gulung, rumput laut, sayur-sayuran, daging sapi kering, sosis, dan potongan tomat ceri segar. Jika dilihat dengan seksama, bento itu membentuk wajah sang kapten Blue Ocean yang kini menatap kesal bento tersebut.

"Bento macam apa ini?" ketusnya sebal.

Bibir tipis Sakura mengerucut mendengar ejekan lelaki tampan didepannya itu. "Itu wajahmu tahu!"

Pandangan Sasuke mendadak aneh melihat bento spesial yang tak bersalah itu. "Cih, sama sekali tidak mirip denganku, bodoh."

Sasuke mulai memasukkan sesuap nasi dengan potongan daging sapi kering ke dalam mulutnya. Lalu, ia ambil potongan tomat ceri segar favoritnya untuk menambah cita rasa.

"Tidak enak,"

"Jelas sekali anda berbohong, Tuan Uchiha. Karena aku sudah mencicipi setiap masakan yang aku masukkan kedalam bento itu,"

Tak ada jawaban dari mulut Sasuke yang masih sibuk mengunyah makanannya. Sakura hanya memperhatikan dengan gemas gerak-gerik lelaki tampan didepan matanya. Tanpa ia sadari, tangan kanannya yang mungil memainkan rambut mencuat milik lelaki itu.

"Sasuke-kun, kau suka gadis berdada besar atau kecil?"

.

.

.

UHUK!

.

Sasuke yang sedang asyik mengunyah tomat cerinya pun tersedak sesaat ia mendengar pertanyaan aneh yang keluar dari mulut gadis berambut merah muda pucat itu.

"Apa-apaan kau? Aku lebih tidak suka pada gadis yang menanyakan hal-hal bodoh seperti itu," tatapan tajam khas Uchiha seketika menusuk. Tangan kirinya menepis tangan Sakura yang sedari tadi sibuk memainkan rambutnya.

"Aku hanya bertanya, Sasuke-kun, apa masalahnya?" dengus Sakura, ia sandarkan dirinya disamping kiri Sasuke sembari merengut.

"Kau itu punya otak atau tidak? Dasar bodoh." Sasuke meletakkan kotak bento itu sedikit keras. Terlihat bento itu tak menyisakan apapun didalamnya. "BENTONYA HABIS?! Terima kasih sudah menghabiskannya, Sasuke-kun!" jerit Sakura. Ia apit lengan telanjang Sasuke dengan erat, tak merasa risih dengan lengket serta keringat yang hampir mengering.

"Aku mengantuk, Sasuke-kun. Rasanya lelah sekali,"

DEG.

.

.

Ada sesuatu yang menggelitik dirinya saat gadis disampingnya itu mengapit erat lengannya. Merapatkannya dengan tubuh mungilnya. Rasanya saat itu aliran listrik menyengat dirinya. Ia tak menyukai itu, namun ia juga menikmatinya.

"Lepas!"

Sasuke melepas paksa lengannya dari apitan tangan Sakura. Tentu saja Sakura yang sedang bersandar di lengannya itu terkejut dan..

DUK!

"AWWWW!"

.

.

Secara tak sengaja kepala gadis itu terbentur dinding dibelakang mereka. Sepertinya benturan itu cukup keras, bisa dibuktikan dengan beralihnya pandangan orang-orang di lapangan ke arah mereka sekarang.

"Apa yang terjadi?"

Ino menghampiri Sakura yang masih mengaduh kesakitan sembari memegangi kepalanya. "Sakura, kau tidak apa-apa?"

Sementara Sasuke hanya terdiam tanpa arti. "Lain kali jangan sembarangan bersandar, lemah." ketusnya, lalu pergi meninggalkan lapangan. Riuh ejekan pada sang kapten Cheers yang masih terduduk mulai menggema.

"Sakura, apa yang terjadi?" Ino pun berlutut, mengusap pundak Sakura pelan. Disusul Hinata beserta anggota Blue Ocean yang lain.

"Sakura-chan, maafkan Teme. Akan ku hajar dia nanti," geram Naruto sembari tersenyum, ia menatap ngeri ke arah Sakura yang masih terduduk.

"Sakura-chan, apa kepalamu tidak apa-apa?" Hinata ikut berlutut sembari mengusap kepala Sakura. Sakura melepas usapan tangan Ino dan Hinata bersamaan, ia angkat wajah cantiknya itu sambil tersenyum manis.

"Heh, mana bisa kata-kata seperti itu menghancurkanku,"

Kapten Cheerleaders itu berdiri. Menatap fokus ke arah lelaki yang sedang berjalan menjauhi lapangan.

"SASUKE-KUN!"

Semua pasang mata tertuju pada dua insan yang kini saling menatap. Onyx yang menatap dengan kebencian serta emerald yang balik menatap dengan pandangan penuh cinta. Atmosphere yang terasa disana mulai merambah. Seakan-akan pesona dua kapten yang sedang berbelit dalam drama itu menghipnotis siapa saja yang melihat.

"MAAF SAJA TAPI AKU TIDAK LEMAH!"

Dua kaki jenjang milik gadis itu mulai berlari, menuju dimana sang pemilik onyx berada. Sebuah pelukan merengkuh dirinya.

"Takkan ku biarkan kau memanggilku dengan sebutan 'lemah' kedua kalinya, Sasuke-kun.." kedua tangan mungil itu mengeratkan pelukannya. "Soon.. I'll be your everything," lanjutnya pelan.

"LEPASKAN AKU!" tangan kekar itu mendorong keras tubuh mungil yang memeluknya. Mencengkram kuat bahu kecil itu. Terlihat sekali gadis itu berusaha keras tak melepas pelukannya.

"Kapten hanya pantas bersanding dengan kapten. Kau hanya pantas bersanding denganku." Seringai terpampang di wajah cantik Sakura. Ia tak bergeming, ia kuatkan lagi pelukannya di pinggang kapten basket itu. Tak peduli rasa nyeri yang timbul di bagian bahunya akibat cengkraman dan dorongan lelaki itu.

"Kau sama saja. Kau sama saja dengan gadis-gadis bodoh lainnya. Kau hanya menggunakan kecantikanmu dan tubuhmu untuk menarik perhatian lelaki."

"A—Apa maksudmu?"

Emerald hijau Sakura terbelalak mendengar pernyataan yang baru saja ia dengar.

"Perlu ku ulangi?" onyx dingin itu balik menatap Sakura tanpa ragu. "Kurasa aku sudah cukup jelas mengatakannya," lanjutnya pedas. Ia bisa merasakan pelukan yang sedari tadi menguncinya mengendur perlahan. Gadis itu memundurkan langkahnya ke belakang, menatap intens dirinya.

"Sudah berulang kali aku mengatakannya padamu, aku tidak akan menyerah. Meski kau membenciku hingga membuatmu ingin membunuhku, aku akan tetap menyukaimu dan mencintaimu,"

"A—Apa?"

"Kau akan mencintaiku, aku percaya itu."

.

.

.

.

Dua bibir itu bertemu. Dan bisa dicatat, dua kapten itu melakukan ciuman mereka yang kesekian kalinya ditengah lapangan dan di tonton oleh seluruh penghuni sekolah. Sepertinya akan berkibar bendera putih dari para penggemar Sasuke maupun penggemar Sakura.

.

.

"KYAAAAA, SASUKE-KUN BERCIUMAN!" / "TIDAK, SAKURA-CHAN!"

Sepertinya riuh kekecewaan tengah melanda Konoha High School saat ini.

.

.

.

.

.

"Beraninya kau, Haruno Sakura! Beraninya kau menyentuh milikku!" pekik kecil seorang gadis yang tengah berdiri memperhatikan romantic scene yang sedang berlangsung dilapangan basket itu.

"Kau benar-benar menantangku, gadis tak tahu diri. Akan kubuat kau menyesali perkataanmu, lihat saja nanti,"

Gadis itu menatap tajam ke arah dua sejoli yang tengah berciuman mesra ditengah lapangan. Ia meremas ujung rok sekolahnya dengan kencang.

"Awas kau!"

Ia pun berlalu dengan membawa kebenciannya. Lalu menghilang dibalik dinding-dinding sekolah.

.

.

.

.

.

"Kau yang menyuruhku untuk 'membuktikan'-nya, bukan? Jadi.. Apapun akan kulakukan sampai kau juga mencintaiku, Sasuke-kun. Aku tak peduli—Ah, aku peduli dengan pendapatmu yang mengatakan aku ini hanya mengandalkan kecantikan. Aku harap kau akan mengubah pendapatmu tentangku."

Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bisa ia lihat tatapan memuja dan tatapan kecewa dari gadis-gadis yang mengelilingi lapangan itu. "Menyebalkan,"

"HOI! SASUKE-TEME! BAGAIMANA?! ENAK TIDAK DICIUM SAKURA-CHAN?!" teriakan khas yang sudah sering ia dengar terdengar. Disana Naruto melambaikan tangannya sambil menampakkan cengiran lebar. Nampak juga tim basketnya dan dua anggota cheerleaders memandang lucu ke arahnya sembari tertawa puas.

"BERISIK, NARUTO BODOH!" teriak Ino, langsung menjitak kepala kuning Naruto dengan keras.

"SAKURA-CHAN, JANGAN LUPA LATIHAN NANTI!"

.

.

Krik.

.

.

Semua terdiam.

"He? Hinata-chan? Kau bisa berteriak?"

"Tentu saja bisa, Naruto-kun.."

"Tak bisa ku percaya Hinata bisa berteriak," Kiba dan Lee menggeleng-gelengkan kepala mereka.

.

.

"Lihat, teman-teman kita mendukung kita berdua, Sasuke-kun," girang Sakura keras. Meloncat-loncat sembari melambaikan kedua tangannya kearah teman-temannya.

Semburat merah muda tipis tampak di kedua pipi tirus seorang Uchiha Sasuke. "Cih, sudahlah. Aku ingin ganti seragam," ketus Sasuke.

"Kau butuh bantuan?" kerling Sakura, membuat lelaki itu menatap kesal kearahnya. "Berisik kau,"

"Aku hanya bercanda, Sasuke-kun. Tapi, jika kau benar-benar butuh ban—"

"Urusai!"

"Ampun, ampun, kapten!"

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.


BLUE OCEAN PROFILE

Tim basket andalan Konoha High School sejak pertama kali KHS didirikan. Tim basket Blue Ocean dari KHS ini sejak generasi pertama telah membawa nama baik sekolah dan hampir selalu menyabet juara atau olimpiade, dan itu adalah salah satu faktor utama mengapa Konoha High School selalu diincar dan digemari oleh para remaja. Blue Ocean identik dengan warna biru, notabene jersey utama mereka adalah warna biru. Saat ini Blue Ocean telah sampai pada generasi ke 8, dan generasi ke-8 akan terjun ke olimpiade paling besar di Jepang untuk kembali menyabet juara.

UCHIHA SASUKE

T/T/L : Konohagakure, 23 Juli 1xxx

Nomor punggung : 23

Posisi : Leader, Center, Point Guard

UZUMAKI NARUTO

T/T/L : Konohagakure, 10 Oktober 1xxx

Nomor punggung : 10

Posisi : Center, Small Forward

NARA SHIKAMARU

T/T/L : Konohagakure, 22 September 1xxx

Nomor punggung : 21

Posisi : Point Guard

SHIMURA SAI

T/T/L : Konohagakure, 25 November 1xxx

Nomor punggung : 22

Posisi : Center

HYUUGA NEJI

T/T/L : Konohagakure, 3 Juli 1xxx

Nomor punggung : 9

Posisi : Center

INUZUKA KIBA

T/T/L : Konohagakure, 7 Juli 1xxx

Nomor punggung : 12

Posisi : Small Forward

ABURAME SHINO

T/T/L : Konohagakure, 23 Januari 1xxx

Nomor punggung : 15

Posisi : Power Forward

AKIMICHI CHOUJI

T/T/L : Konohagakure, 1 Mei 1xxx

Nomor punggung : 5

Posisi : Power Forward

ROCK LEE

T/T/L : Konohagakure, 27 November 1xxx

Nomor punggung : 14

Posisi : Shooting Guard

SABAKU NO KANKUROU

T/T/L : Sunagakure, 15 Mei 1xxx

Nomor punggung : 7

Posisi : Power Forward

SABAKU NO GAARA

T/T/L : Sunagakure, 19 Januari 1xxx

Nomor punggung : 11

Posisi : Shooting Guard


.

.

.

.

.

A/N

Pertama-tama aku ingin mengucapkan..

HAPPY INDEPENDENCE DAY, DIRGAHAYU-71, INDONESIA! /lalayeyelalayeye/ *ngibarin bendera merah putih*

Semoga kedepannya Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik dan terus berkembang dan membanggakan.

Btw, hari ini 17 Agustus kan ulang tahunnya Indonesia nih, nah satu hari sebelumnya yaitu 16 Agustus itu adalah hari ulang tahunku. /yey, HAPPY BDAY AUTHOR! /PLAK!/XD. Jadi aku bangga gimana gitu beda sehari ulangtahunnya sama Indonesia XD LMAO.

Hari ini aku apdet ya, dan ini spesial profil singkat pemain BLUE OCEAN. Berarti apa? Chapter selanjutnya giliran Pink Ocean3 oh iya aku juga lagi bikin fiction baru loh dan pairingnya masih tetep setia deh, SASUSAKU :) dan berita gembiranya aku juga sedang meneruskan fic sebelah loh, tinggal tunggu diapdet aja yah. /plak/ XD.

Maaf ya, updatenya lama lagi dan pendek. Author nerusin abis ikut lomba 17-an nih, kecapean. Author abis selesai uas dan uu di kampus, ini baru saja liburan wihihihi. XD

BTW, KEMARIN SIAPA YANG IKUT KE GELAR JEPANG UI HARI KEDUA? AKU ADA DISANA LOH! XD /gak nanya, thor/

Yaudah deh, terima kasih ya teman-teman sudah mau menyempatkan membaca dan mereview fic ini. Fic ini akan terus berlanjut berkat dukungan kalian seperti biasa, jika ada kesalahan dan saran, tolong dilontarkan dikotak review ya

Hope you like this fiction :)