Rate : T

Disclaimer : sayangnya KHR bukan punyaku walau aku jungkir balik menginginkannya! *ditimpuk*

.

.

.

Pagi itu Lirina berangkat lebih awal, bahkan ketiga anak perempuan yang menginap di kamarnya tak sadar pemilik rumah telah pergi. Matahari masih malu-malu mengintip di ufuk timur.

.

"Jam 05.15 pagi, aku terlalu pagi..." desahnya. Halaman sekolah bahkan masih gelap, namun entah kenapa ia melihat lampu diruang OSIS menyala. "Apakah Kyouya sudah disini?"

.

Dengan agak tergesa pemilik orb karamel itu menuju ruang kelas untuk meletakkan tas kemudian berlari ke ruang OSIS. Mengintip melalui celah pintu, yang dilihatnya justru ruangan kosong. Ia melanjutkan langkahnya ke ruang UKS, yang sama sepinya dengan ruang lain namun ia melihat bayangan seseorang di balik tirai salah satu tempat tidur. Perlahan ia menyingkap tirai, melihat seorang remaja berambut hitam dan berkulit pucat tengah tertidur di atas ranjang putih. Lirina duduk di samping Hibari, matanya terus menatap sang prefek yang tampak lelap. Orb kelabu perlahan terbuka, menatap sosok yang ada di sampingnya. Entah karena masih mengantuk atau apa Hibari meraih tangah Lirina,menggenggamnya dengan erat.

.

"Kyouya..."

"Diamlah, paling tidak hingga bel berbunyi. Aku masih mengantuk, Rin..." katanya sebelum kembali tertidur.

"Baiklah Kyouya..." ia tak berani menganggu lebih lanjut.

.

Hatinya belum siap kembali beradu argumen dengan sang prefek. Dulu mereka pernah bersama dengan keadaan yang mirip tapi saat itu dialah yang menggenggam tangan Hibari. Memintanya tetap tinggal hanya untuk menemani dirinya yang tengah demam saat masih play group. Betapa ia merindukan tangan dingin yang membelainya saat sakit, senyum lembut yang selalu dilihatnya tiap ia keluar dari pintu gerbang sekolah play group. Sayangnya semua itu tinggal kenangan, semua harusnya dilupakan. Hubungan mereka hanya teman sekolah, ketua dan wakil ketua osis, kenalan di tempat latihan. Tak pernah diakui oleh Hibari sebagai sahabat, sebagai teman pun hanya dia sepihak yang mengakui dan memaksa. Dia yang selalu mengekor sang prefek dari belakang, mengejarnya sekuat tenaga agar bisa menyamakan langkah dan ada di sisinya, untuk mendapatkan pengakuan akan keberadaanya. Tak peduli ditolak, diusir, dimarahi, ia sudah bertekad mengejar Hibari untuk kembali mendapatkan tempatnya dulu.

.

"Lirina-san! Bel sudah berbunyi!"

"Hah?" Lirina terkejut oleh suara guru kesehatan, apa lagi kini ia terbaring di atas ranjang yang seharusnya diisi oleh Hibari. "Sudah jam 9? Kyouya mana? Tadi Kyouya disini kan?"

"Saya hanya melihat anda." Lirina mengerjapkan mata beberapa kali. Berarti Hibari yang memindahkan posisinya dari bersandar ke ranjang.

"Ah, pelajaran hampir mulai!"

.

Lirina melompat dari ranjang, segera berlari ke kelas tanpa peduli peraturan 'dilarang berlari di koridor'. Dengan nafas masih ngos-ngosan dibukanya pintu kelas dan langsung membungkuk.

.

"Maaf terlambat, saya ketiduran di UKS!"

"AHAHAHAHA!" Suara tawa langsung menyambutnya. Lirina mendongak melihat tak ada guru yang seharusnya mengajar, yang ada malah sang guru bahasa Ingris berdarah Italia, Lampo Bovino.

"Lirina-san, segera ketempat dudukmu!"

"Yes sir!" Lirina menarik nafas lega, betapa beruntungnya gurunya tak bisa mengajar karena menemani istrinya yang akan melahirkan.

.

"Tak biasanya kau datang pagi dan tidur di sekolah,byon." seorang remaja menarik tempat duduk tak jauh darinya untuk duduk berhadapan dengan Lirina yang sedang mengerjakan tugas. "Hei, kau dengar aku tidak, byon?"

"Iya aku dengar tuan berisik!"

"Lalu bagaimana dengan Hibari? Tadi kau tidur bersamanya kan, byon?" Kali ini suaranya nyaris berbisik agar tak ada yang dengar selain mereka.

"Kau cari masalah denganku, Joshima Ken?" dengan tatapan membunuh yang intense Lirina menatap remaja pirang dengan bekas luka lebar di wajahnya.

"Jika Ken cari masalah maka lempar saja dia keluar jendela." Remaja lain berambut bob hitam mendekati Lirina dan Ken sambil membetulkan letak kacamatanya.

"Oi, kakippi! Jangan mengajari anak ini hal yang buruk, byon!" protes remaja dengan rambut pirang acak-acakan tak pernah disisir *di hadiahi kong chanel*

"Aku sie setuju aja melempar Ken-chan dari lantai 3 ini." Lirina menyerahkan lembar tugasnya untuk dicocokkan dengan kedua teman sekelasnya.

.

Joshima Ken melotot pada saran sahabatnya yang berhasil membuat Lirina setuju dengannya. Bisa mati muda dia kalau kedua anak ini bersatu mengerjainya, dia masih mau jadi ahli fauna atau keliling dunia mencari spesies hewan baru.

.

"Jam kedua ini kita ada praktek kimia, byon. Kau ikut atau bolos Rin?"

"Ikut jika Kyouya tak menarikku untuk mengerjakan laporan OSIS."

"Huh, Kyouya Hibari itu pacarmu? Sampai selalu menyeretmu kesana kemari."

"Lebih tepatnya aku dianggap babu sejak masuk SMP. Waktu SD aku yang nguber-nguber supaya bisa jadi temannya."

"Dasar tak berotak,byon."

"Apa enaknya nguber Hibari yang seperti setan itu?" Ken dan Chikusa menimpali bergantian. Menurut mereka anak perempuan keliwat tomboy ini sudah sedeng atau memang pengen mati muda karena memilih Hibari sebagai temannya.

"Aku punya alasan sendiri kenapa bisa tahan dengan Kyouya." katanya dengan nada menggantung.

.

Masih sisa 30 menit sebelum jam pelajaran berakhir tapi karena tugas telah selesai Lirina memutuskan untuk membeli roti dan susu ke kantin. Bagaimana pun juga dia tak sarapan jadi perutnya sudah menabuh genderang minta diisi. Ken dan Chikusa hanya membeli minuman namun masih bersedia menemaninya makan. Dengan cepat 2 roti cream keju, roti coklat, roti mocca, sandwich ham, puding custard dan 2 kotak susu telah berpindah ke perut Lirina. Kedua remaja yang menatap cara makannya hanya bisa menggeleng, padahal tubuhnya kecil untuk anak usia 10, malah terlihat seperti usia 8 tahun namun makannya banyak banget.

.

"Kemana larinya semua gizi makanan sampai-sampai tubuhmu tetap sekecil ini, byon?" celetuk Ken yang dibalas pelototan oleh Lirina.

"Aku juga heran, kau ini kecil-kecil makannya banyak."

"Itu urusanku. Aku kan masih masa pertumbuhan."

"Huh, dapet bulanan saja belum kan, byon! Dadamu saja masih rata seperti laki-laki, byon!" pletak! Plak! Sebuah tamparan dari Chikusa dan kotak susu kosong dari Lirina mengenai mulut ember Ken. "Aku kan ngomong benar,byon!" si pirang jabrik membela diri.

"Tahu diri kau, jangan mencampur adukkan masalah pribadi perempuan!" geram Lirina pada teman sekelasnya yang super nyebelin.

"Padahal kau itu seperti laki-laki betulan kok! Lihat saja seragammu, byon!"

"Ken..., jika kau tak tutup mulutmu maka aku akan laporkan kau pada Hibari-san atas pelecehan anak dibawah umur, menghina anggota OSIS dan berbuat mesum di tempat umum."

"O-oi kakippi! Aku kan hanya bercanda, byon!"

"Bercandamu tak lucu."

"Fufufufufu..., memang apa lagi yang kau lakukan kali ini, Ken?"

"Satu lagi orang mesum..." gerutu Lirina ketika sosok remaja berkepala nanas indigo menghampiri mereka. "Kemana saja kau sampai tak kelihatan di kelas, Mu-ku-nya-ro-pi?"

"Kufufufu, kau mau mati eh memanggilku dengan nama sialan itu?" Rokudo Mukuro menodongkan garpunya di leher wakil ketua OSIS Namimori yang lebih muda tiga setengah tahun darinya.

"Huh, mulut mulut gue." sahut Lirina acuh. "Heh, aku tanya kau kemana? Tugasmu kumpul nanti sebelum pulang sekolah!"

"Kufufufu..." Mukuro duduk di sebelah Lirina, memakan kare udonnya dengan malas-malasan. "Aku hanya tidur malas-malasan di pojok ruang perpus."

"Hah..., kau setipe dengan Kyouya, tukang tidur. Bedanya kau nanas mesum."

"Kufufufu, aku lebih memilih tutup mulut jika jadi kau. Kita sudah kenal lama jadi kau tak mau aku bicara apapun kan?"

"Rokudo Mukuro, jika kau mengancamku dengan statusku sebelumnya maka kau salah sasaran. Kyouya takkan tertarik meladenimu." Mukuro hanya ber'kufufu mendengar balasan ucapannya.

.

Setelah menghabiskan makanannya kembali ide jail muncul di otaknya. Posisi Lirina yang duduk bersandar di tembok membuatnya makin bersemangat. Ken dan Chikusa sejak tadi menjadi silent audience ketika Mukuro meletakkan kedua tangannya di kiri kanan Lirina, menyudutkan anak bertubuh mungil itu ke tembok. Lirina mendongak menatap dengan tatapan datar sementara Mukuro tersenyum lebar melihat calon korbannya yang cuek bebek.

.

"Dari pada kau mengejar Kyouya-kun yang dingin, bukankah lebih baik bersamaku? Menjadi uke-ku pasti lebih menyenangkan."

"Aku mau saja jadi uke tapi sayangnya aku perempuan." jawabnya dengan nada datar. "Mending kau jadi uke kakakku."

"Kalau begitu apa kau tak tertarik menjadi pacar pemuda tampan sepertiku?"

"...aku rasa lebih baik aku jadi pacar kak Rashiel saja. Paling tidak dia tak semesum dirimu."

"Rashiel? Siapa itu? Kau tahu Chikusa?" Kini Mukuro bingung mendengar nama asing alias bule dari calon korban yang nga ngeh ama feromonnya.

"Hum..." Chikusa mengeluarkan sebuah catatan membolak baliknya beberapa saat. "Rashiel Reiyes Alexander Reinhadd, kelas satu Varia International Junior High School. Peringkat satu sejak Tk, IQ 200, langganan pemenang Olimpiade Science, keturunan bangsawan Inggris-Italia. Saudara Kembarnya Belphegor juga sama jeniusnya."

"He..., memang kau benaran kenal anak Varia, byon?" Ken ber'O ria mendengar penjelasan Chikusa.

"Um, sebenarnya selama Byakuran-nii masih di luar negeri aku diminta tinggal bersama mereka, tapi aku malas. Jadi jauh kalau mau ke sekolah. Toh beberapa hari lagi kita mau mengadakan Festival tahunan. Karena acara klub science kemarin batal kami jadi baru bisa melaksanakannya hari ini."

"Iya juga, semua sudah mulai sibuk. Kufufufufufu, kelas kita buat maid animal cafe kan?"

"Hm..., sebaiknya buang jauh-jauh ide mesummu tentang seragam seksi. Kita hanya pakai atribut hewan bukan kostun ala animal host club!"

"Aku tetap ingin tahu apa yang akan kau dapat, Kufufufu. Kau pakai rok kan? Perlu kupinjamkan wig dari MM?"

.

Lirina memutar matanya, bosan dengan kegigihan Mukuro untuk menganggunya. Terlepas dari kemesuman, keusilan dan pucuk nanasnya, dia akui Mukuro memang tampan lagi pula mereka sama-sama penggemar coklat. Hari ini kesibukan belajar di kelas mulai terganti dengan kegiatan menghias dan bersih-bersih. Tugas rumah diberikan sebagai ganti jam pelajaran yang hilang. Anak laki-laki sibuk mengecat dan membuat papan untuk nama cafe dan anak perempuan membuat hiasan ruangan. Beberapa yang pintar menjahit dan prakarya membuat telinga dan ekor hewan yang nanti akan mereka gunakan karena tak mungkin membeli untuk semuanya jadi mereka hanya membeli satu tiap jenis untuk contoh.

.

"Oke, ayo semua ambil undian dikotak untuk hewan apa yang akan kalian gunakan! Ada 5 kostum khusus sumbangan Mukuro-chan bagi yang beruntung!" teriak MM.

"Ah, aku dapat rubah..." kata Chikusa.

"Aku dapat anjing, byon!"

"Ahahahaha!" satu kelas tertawa.

"Cocok banget..." sahut Lirina, MM, Chikusa dan Mukuro berbarengan.

"A, apa maksud kalian, byon?" sembur Ken namun tak diguris oleh yang lain.

.

Lirina melirik kostum khusus yang disiapkan oleh Mukuro. Blazer dengan atribut rubah perak dan kucing hitam, seragam sailor dengan atribut serigala, gaun ceonsang dengan atribut kucing siam dan terakhir agak keluar jalur...

.

"Ini kostum iblis?" tanya Lirina sambil membolak balik kostum dengan warna serba hitam dan sedikit aksen merah dengan assesories perak.

"Ini kostum siluman kelelawar." jawab MM yang masih sibuk mencatat.

"Hm..., lebih mirip iblis."

"Terserah apa menurutmu, ayo cepat ambil bagianmu bocah!"

"Ah..." Lirina mengubek-ubek isi kotak sebentar sebelum mengambil sebuah kertas lalu menyerahkannya ke MM.

"Lho?" mata MM berkedip menatap kertas yang dibacanya. "Kok seperti yang diinginkan Mukuro?"

"Kenapa?" Lirina langsung meraih kertas itu -matanya terbelalak melihat isinya 'SELAMAT! Kau dapat kostum khusus KELELAWAR!'

"Kufufufu, kau dapat yang paling bagus!"

"Aaahhh! Siapa pun tolong tukaran denganku!" Lirina menjerit histeris menatap semua teman sekelasnya dengan 'puppy eyes no jutsu' ( Ini bukan Naruto...).

"Untuk yang satu itu, tak mau!" seisi kelas menjawab bersamaan.

"Mukuro! Kau saja yang pakai!"

"Maaf, ukurannya terlalu kecil."

"Grrr! Aku benci Mukunyaropi!" jeritnya yang kembali mengundang tawa semuanya.

"Kau berisik hermaprodite!" sebuah pukulan di kepala membuat Lirina nyaris mencium lantai jika Mukuro tak menangkapnya. "Apa kelas kalian sudah selesai sampai begitu ramai?"

"Ma-masih pembagian kostum, Hibari-sama!" jawab MM gemetaran. "Ri-rin, ini kostimmu!"

"Aku tak mau!" wakil prefek masih kekeuh menolak. Hibari melirik kostum yang disodorkan MM, ia tersenyum sinis-mengejek.

"Apa kau liat-liat sipit sialan!" sembur Lirina karena tatapan Hibari. Nampaknya si kecil sudah lupa dengan perasaan canggungnya kemarin. Semua anak -kecuali Mukuro- mundur beberapa langkah menjauh dari kedua pimpinan OSIS yang SINDENG alias SINting Dan Extreme tENan sanGarnya *author dihajar*.

"Kau yang menyiapkannya NANAS?"

"Kufufufu, jangan memanggilku begitu Kyouya-chan!" Trang! Sebuah tonfa dan triden yang entah datang dari mana langsung beradu. "Oya,oya, jangan marah. Nanti cepat tua."

"Kamikorosu!"

"Kufufufu, aku lebih suka dicium dengan mesra." goda Mukuro tanpa kenal takut.

"Satu maniak disiplin, satunya maniak mesum, dua setan maniak sedang berlantem..."

"Perbaiki dulu kosa katamu sebelum mengejek orang, anak pendek!" bentak keduanya pada Lirina yang bersiul-siul gaje sok budek. Para penghuni kelas 1-2 sudah makin panik_takut ruang kelas mereka rusak karena pertarungan keduanya.

"Ops!" Lirina berdiri ditengah keduanya_menghadap Mukuro "Cukup dulu ya, kita masih banyak kerjaan."

"Minggir kau hermaprodite!"

"Maaf, meski kau prefek aku ini wakilmu dan ini kelasku jadi tolong jangan buat keributan disini, Kyouya." semua -kecuali Mukuro- menahan nafas menanti reaksi Hibari.

"Baiklah, sebagai gantinya kau bawakan aku makanan ke atap jam makan siang nanti."

"Baiklah."

"Dengan memakai kostum itu."

"Apa?" Mukuro segera menangkap pinggang Lirina sebelum dia yang kembali memancing keributan dengan sang prefek.

"Tenang saja, akan kuurus soal kostummu." Akhirnya semua menarik nafas lega setelah Hibari benar-benar pergi hanya Lirina yang masih meronta-ronta karena Mukuro masih menolak melepasnya.

"Lepasan aku Mukunyaropi! Akan kuhajar skylark sialan itu!"

"Masalah itu pikir nanti saja, sekarang urus kelas ini!"

"...baiklah..."

.

.

.

"Mukuro."

"Apa?" perhatian Mukuro teralihkan pada anak yang kini masih setengah manyun sambil mengenakan kostum kelelawar alias iblis.

"Kau dulu sempat masuk SMP Kokuyo kan?"

"Iya, aku, MM, Ken dan Chikusa dulu masuk sana beberapa bulan sebelum pindah kemari. Memangnya kenapa?"

"Tidak, bersyukur saja kau tak disana lagi karena aku sempat berkelahi dengan preman Kokuyo."

"Oh, tapi kau tak luka kan?"

"Luka di punggung kena gear, tapi sudah hampir sembuh." glekh! Mukuro menelan ludah, apa para preman itu cari mati? Melukai adik kesayangan pengusaha muda kaya raya yang juga wakil prefek Namimori, ia yakin nasib para murid Kokuyo itu takkan berjalan baik setelah ini. "Kakakku tak tahu, tapi Hibari sudah tahu karena ada anak buahnya yang melihatku berkelahi kemudian melapor."

.

Lirina berkelahi dengan anak sekolah lain, itu jarang sekali. Remaja berpucuk nanas tersebut tahu kalau teman kecilnya takkan berkelahi kecuali ditantang, diganggu -pengecualian untuk Hibari, biasanya dia yang berulah duluan untuk membuat kesal sang prefek- atau terdesak.

.

~2 hari menjelang ulang tahun sekolah~

.

"Lirina, bisa tolong buang sampahnya kan? Aku mau beli minum untuk semua!" seru MM.

"Baik! Aku minta susu strawberry!"

"Baiklah, kau ini minum susu sepuluh liter sehari tetap saja kecil."

"MM!" seruan Lirina disambut gelak tawa dari seluruh anak kelas 1-2.

"Hei, seperti apa orang yang mengeroyokmu?" Mukuro membantu Lirina membuang sampah.

"Sekelompok anak, salah satunya badan dan muka mirip kingkong."

"Kufufufufufu, sepertinya aku tahu."

"Benarkah? Lalu kau mau apakan mereka?"

"Jika kau mau aku bisa membuat mereka bersujud padamu. Itu pun jika kau bersedia memakai gaun ala cinderella." Lirina merinding disko karena membayangkan gaun macam apa yang harus dia pakai. 'HELL NO!' jeritnya dalam hati meski ekspresi wajahnya masih sedatar tripleks.

"Tidak usah, kak Rashiel sudah melakukannya untukku. Dia menghajar mereka hingga mirip tumpukan mayat." separuh bohong separuh benar sieh.

"Kufufufu, aku sungguh penasaran dengan 'Rashiel' yang kau sebut terus sejak tadi."

"Jika ada jodoh kalian akan bertemu suatu saat di masa depan...mungkin..." gumamnya malas. Capek meladeni kenistaan dan kemesuman Mukuro yang sama parah dengan kakaknya.

.

Akhirnya semua selesai tepat jam 6 sore. Kelas telah dihias dan suduk kelas menjadi dapur darurat juga tempat menyimpan makanan yang akan dijual. Lirina masih berkeras menolak kostumnya dan saat mengantar makan siang tadi Hibari nyaris menciumnya dengan tonfa. Nyaris karena Mukuro yang ditarik sebagai tameng hingga pucuk nanasnya mendapat satu teman alias benjol.

.

"Kau tak apa pulang malam?" tanya Ken dan MM yang tengah memeriksa kelengkapan kostum untuk terakhir kali.

"Iya, rumahku kan hanya 30 menit jalan kaki dari sini."

"Jangan mengikuti ajakan orang asing!" pesan MM sebelum menghilang bersama Chikusa dan Ken. Rumah mereka satu blok sih, jadi selalu bareng.

"Memangnya aku anak usia berapa hingga diberi pesan begitu?" Lirina masih enggan beranjak dari jendela. Seingatnya semua anak sudah pulang, sekolah sudah sangat sepi, sebagian besar lampu sudah padam, hanya tersisa lampu di koridor.

"Kau belum pulang?"

"Kau sendiri?"

"Kufufufu, aku baru saja kembali dari perpus."

"Hm..."

"Kenapa?" Mukuro mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat halaman belakang yang sepi. "Ini sudah mau larut. Kita pulang."

"Ba-" suara ponsel memotong ucapannya. Sebuah nomer asing. "Halo?"

[Hoi! Dimana kau sekarang?]

"Sekolah?"

[Ngapain kau masih di sekolah selarut ini dasar bo- ADUH!]

[Dasar bodoh, sudah kubilang jangan bicara kasar pada anak kecil!]

"Halo?" Lirina bingung mendengar keributan di telpon.

[Che, kami menunggumu satu jam di depan apartement! Telpon juga tak diangkat kau malah di sekolah!]

"Hah? Ini siapa?"

[tut, tut, tut]

"Ye...diputus."

"Kenapa? Siapa yang menelponmu?"

"Au deh. Mereka malah ribut sendiri. Ke ruang OSIS dulu ya, tasku kutinggal disana."

"Hm..."

.

Keduanya melangkah menuju ruang OSIS tanpa berniat memulai pembicaran. Ruang OSIS sepi, namun lampu masih menyala semua. Entah kemana perginya Hibari, Lirina menyambar tas dan kotak bekal kosong di atas meja. Suara ribut di halaman menyita perhatian perhatian mereka ketika baru saja menginjakkan kaki di halaman depan. Keduanya berlari menghampiri Hibari yang tengah berdebat dengan seseorang.

.

"Kyouya ada apa?"

"Ah, ternyata kau memang masih di sekolah!"

"Kak Bel? Sedang apa disini?"

"Menjemputmu. Jill menunggu di apartemenmu kalau-kalau kau pulang."

"Hermaprodite, untuk apa kau berurusan dengan anak sekolah lain?"

"Dia anak dari rekan bisnis Byakuran, tapi untuk apa kakak menjemputku?"

"Ayah menelpon minta agar mengajakmu makan malam di rumah hari ini."

"Tak usah repot."

"Kalau kau tak ikut, kami dilarang pulang oleh ibu."

"Hah?"

"Kufufufu, ikut saja. Kau ini jadi anti social kalau di luar sekolah?" tanya Mukuro sembari melirik Hibari.

"Nga juga..." Hibari masih melotot pada mereka bertiga. "Kalian mau ikut?"

"Kufufufu, adikku menunggu."

"Huh."

"Ayo cepat naik! Aku sudah bosan menunggumu!"

"Baiklah. Sampai besok Mukuro, Kyouya."

.

Keduanya masih tak bergerak memandang porcea merah yang melaju menjauh membawa wakil prefek Namimori. Hibari tak menggubris senyum yang diberikan Mukuro, prefek lonewolf itu kembali ke dalam sekolah setelah Hibird hinggap di kepalanya.

.

.

.

.

.

"Kau sungguh selalu pakai seragam laki-laki?" tanya Rashiel ketika mereka sedang dalam perjalanan ke kediaman Reinhadd. Lirina masih memakai seragamnya karena Rashiel bilang soal baju bisa pakai bekas mereka.

"Iya, ada sih rok seragam tapi aku tak suka. Kenapa hari ini kalian maksa sekali?"

"Huh, salahkan ibu yang selalu ingin punya anak perempuan. Saat tahu kau adik albino itu dia langsung meminta kami menjemputmu. Pasti asik rame-rame."

"Menyusahkan!" gerutu Belphegor.

"He..." kali ini kepala Lirina beneran miring 90 derajat melihat kedua kembar berambut pirang. "Kalian ini beneran tak mirip."

.

.

.

.

.

"Wah, manisnya! Pakai seragam laki-laki pun tetap manis!" seru seorang perempuan berambut gelap panjang ketika Lirina baru masuk keruang makan bersama si kembar. "Coba aku punya anak perempuan semanis ini!"

"Ibu...kau bisa membunuhnya jika memeluknya seperti itu." perempuan itu tersadar melihat wajah anak yang kini dipeluknya sudah agak membiru.

"Maaf! Bibi terlalu senang! Siapa namamu? Kau boleh panggil aku bibi Lal atau ibu juga boleh!"

"I-iya, namaku Lirina, bi."

"Panggilannya?"

"Rin."

"Nama dan panggilannya pun manis!" hegh! Lagi-lagi Lirina harus merasakan pelukan maut Lal.

"Jika dia jadi adik kita, dia pasti sudah mati sejak bayi." gumam Belphegor yang disambut anggukan oleh kakak kembarnya.

"Bel, Siel! Cepat ganti baju! Siapa suruh kalian bengong!" wajah Lal tiba-tiba berubah galak.

"Baik,bu..." jawab keduanya sambil lalu, mereka pastinya sudah biasa dengan sifat ibunya.

"Nah, kau juga ganti baju! Bibi sudah siapkan baju untukmu!"

"Eh?" tak bisa menjawab apa lagi menolak karena keburu diseret oleh beberapa pelayan dan Lal, adik kesayangan Byakuran itu cuma bisa berdoa masih bisa pulang dalam keadaan utuh.

.

.

.

"Ano...bibi?"

"Ya?"

"Apa ini tidak berlebihan?"

"Kalau tak begini mana cocok!"

'Namu amitaba, budha maha pengasih, prama achinty, kenapa kau tak bunuh saja aku dalam pelukanmu?' Pakaian bukan masalah, meski rok pendek motif kotak merah mitam 10cm diatas lutut, parka abu-abu dan boots hitam menjurus ke gaya sporty yang memang selalu jadi ciri pakaiannya sehari-hari. Namun yang membuat Lirina berdoa gaje dalam hati karena harus memakai sebuah wig hitam lurus hingga pinggang dengan poni yang membuat mata agak tertutup. Jika matanya sedikit lebih sipit jadilah dia versi sempurna dari...

.

"Hibari Kyouya?" DEG! Jantung Lirina serasa mau copot mendengar nama sang skylark. "Oh, maaf. Menurutku kau ini kalau sipit sedikit pasti mirip dengannya." Rashiel terkekeh, tak sadar dalam hati Lirina sudah ada badai berkecamuk!

"He...,sekarang kau jadi perempuan." Belphegor ikut nimbrung setelah bergabung bersama kakak dan ibunya di meja makan.

"Ah, kenapa Rin tak tinggal disini selama kakakmu tak ada?"

"Sebenarnya paman juga minta begitu tapi sekarang teman-temanku sudah menginap di apartement untuk menemaniku hingga kakak pulang. Apa lagi disini jauh dari sekolah dan aku terbiasa sudah di sekolah jam 6 pagi karena tugas sebagai wakil ketua OSIS."

"Sayang sekali, Siel juga Ketua OSIS ya? Apa sesibuk itu?"

"Memang, apa lagi nanti ada ulangtahun sekolah. Kelasku membuat animal maid cafe dan aku juga panitia."

"Kalau begitu bibi akan main ke sekolahmu nanti! Bagaimana? Kalian mau ikut?"

"Kalau sempat aku ikut."

"Sheshesheshe, tak masalah."

"Kami boleh tahu kau dapat kostum apa?" Pertanyaan Lal membuatnya membatu.

"Ra-Rahasia...!" jawab Lirina sambil menyendok cream sup hangat yang baru dihidangkan di depannya. Ditanya oleh Lal membuat Lirina makin ingin membuat Hawaian sandwich dengan isi Mukuro di tengahnya lalu mengumpankannya ke ikan Hiu.

"Baiklah, aku tak sabar melihat seperti apa kostummu!"

.

Jam 10 malam Lirina baru pulang karena Lal menanyakannya berbagai macam hal tentang masa kecil, kesukaan, hobby hingga sekolahnya sejak TK hingga SMP. Apartementnya sepi karena hari ini Tsuna, dkk tak menginap atau mungkin malah nginap di tempat Gokudera? Entahlah.

.

"Sungguh mirip dengan Kyouya..." desahnya ketika melihat pantulan dirinya di cermin. Poni wig membuatnya makin jengkel dan jika Hibari melihat ini, maka sudah pasti skylark tersebut akan makin marah. "Hanya kenalan, hanya teman sekolah, tak ada...hubungan darah..." gumamnya ketika masuk kamar.

"Kenapa baru pulang?" Lirina terbelalak, matanya pasti sudah sangat mengantuk hingga melihat Hibari duduk di balkon kamarnya. "*ngucek mata* Kyouya?"

"Siapa lagi menurutmu? Ayahmu? Dan apa-apaan penampilanmu itu?"

"Bu-bukan apa-apa!" Lirina segera menyambar wig yang masih terpasang dikepalanya "Aw!" ups, dia lupa kalau wig itu dipasang dengan hair clip.

"Bodoh." Hibari menghampirinya dengan pandangan sinis mengejek. "Diam atau kubuat kau botak."

"A...a..." Lirina bergumam takut. Jari-jari Hibari menyentuh rambutnya, melepaskan hair clip dan wig yang dipakaikan oleh Lal dengan perlahan.

"Sudah." Lirina masih menunduk.

"Terimakasih..."

"Kau didandani begini oleh si pirang itu?"

"Tepatnya oleh ibu mereka."

"Huh, tak pantas."

"Menurutku juga begitu, aku tak-"

"Kau lebih cocok mengenakan yukata atau kimono."

"Eh?" Akhirnya Lirina menatap Hibari. "Kenapa kau kesini Kyouya? Ini sudah larut-"

"Ayah dan ibu tak ada. Aku sudah tinggalkan pesan."

"Tapi...bukankah kau benci disini?"

"Kecuali kamar ini." sekali lagi Hibari membuatnya terkejut, bingung. Kenapa sikap Hibari berubah?

"Kau sudah makan?"

"Hn..."

"Mau kubuatkan apa? Omelet? Ramen atau sandwich?"

"Hm."

"Omelet? Baiklah!" Lirina berlari ke dapur menyiapkan semua bahan untuk membuat omelet rice.

.

.

.

"Apa kau tidur disini?"

"Hn." Hibari menyuap sedikit omelet rice sebelum kembali menambahkan saus di atas omeletnya.

"Pakai kamarku saja, aku akan tidur di kamar kakak."

"...tidak."

"Apanya?"

"...lupakan. Ambilkan aku air lagi."

"Baik." Lirina mengambil gelas yang sudah kosong, begitu kembali ia melihat beberapa butir pil di tangan Hibari yang kemudian ditelannya sekaligus dengan bantuan air.

"Ne...Kyou...itu obat apa? Kau kelihatan baik-baik saja."

"Bukan urusanmu Hermaprodite!"

"Sudah kubilang aku perempuan dan kau harusnya tahu itu." sahut wakil prefek dengan geram, sampai kapan dia akan disebut Hermaprodite?

"Bukan urusanku..."

"Yah...memang bukan...selamat malam."

.

Setelah membereskan piring kotor, Lirina mengambil seragam untuk esok dan beberapa potong pakaian lain dari kamarnya sebelum masuk ke kamar Byakuran. Hibari masih duduk di ruang tengah, menonton televisi sambil membaca laporan bulanan club juga proposal acara yang diadakan tiap kelas untuk meramaikan festival budaya sekaligus ulang tahun Namimori.

.

"Ayah, kalau kau masih hidup...mungkin keadaan akan lebih baik sehingga Kyouya-nii tak membenciku begini. Apa ini salahku karena lebih memilih Byakuran-nii?" bisiknya sebelum tertidur.

.

.

.

.

.

To Be Continue.

.

.

.

Kayaknya ini makin nga jelas...tapi sungguh di awal aku lupa membuat prolog cerita ini. Tak terasa sudah akan tamat dan aku jadi harus mengganti gender ceritanya karena akan berubah di ending. Kakakku bilang dia yang akan nulis endingnya dan chapter ini aku mengulang 6 kali sampai dia setuju dengan isi dan alurnya *sigh*. Salam kenal untuk teman-teman baru di SMA nanti dan halo buat temen lama dan sampai jumpa buat yang beda sekolah. Pertengahan bulan ini kita resmi jadi anak SMA!