Junmeanssi proudly presents
"Faith, Mistake, and Dream."
"….the new world shall open up, secrets are coming from the darkest place, and finally truth is leading, leaving all the lies behind…"
a/n : akhir akhir ini aku merasa kesulitan kembali ke plot awal yang sudah aku rangkai, karena itu aku memutuskan untuk hiatus. Banyak yang berputar di kepalaku belakangan ini.
-xoxo-
Sepeninggal Jongin, Junmyeon sedikit merasa kalut. Akhir akhir ini kehidupannya hampir tak menemui kendala apapun, bisnis pastry-nya menunjukkan perkembangan pesat, perusahaan sang suami menjadi primadona di kalangan investor asing maupun dalam negeri. Namun mendengar nama mantan suaminya kembali untuk bermitra kembali dengan suaminya, Junmyeon merasa bahwa hal ini yang sudah ditunggunya sejak lama, tetapi tetap saja ini terkesan mendadak dan dirinya tidak siap.
Junmyeon kalut karena ia takut, bagaimana kalau suatu saat Yifan akan kembali. Sebenarnya Junmyeon baik baik saja dengan hal itu, justru itu lebih baik, melihat Yifan meminta maaf dan menemuinya akan menjadi satu-satunya hal yang ditunggu olehnya. Namun tetap saja, Junmyeon hanya menginginkan Yifan tidak pernah melihat atau sekalipun bertemu dengan Sehun. Sehun, walaupun tidak gamblang mengakuinya,Sehun terlihat sangat takut dan trauma dengan apa yang dialaminya saat dirinya masih kecil. Wajah kerasnya dan rahangnya seolah menegang jika disinggung soal sang Ayah. Sorot matanya kerap kali berubah sendu, menyiratkan pandangan luka yang sering kali Junmyeon lihat.
Sehun menyayangi dan menghormati Jongin sebagai Ayahnya, namun dilain sisi, Junmyeon bisa merasakan kalau Sehun juga sangat merindukan Yifan. Impian Sehun tetap sama, dia hanya ingin melihat senyum Yifan terkembang karena karya lukisan yang dibuatkan Sehun untuknya, walaupun dulu seringkali berakhir di tempat sampah. Sehun rindu. Sehun menahan rindunya pada Yifan, sang Ayah yang menyiksanya. Sehun terkadang berdiam diri di dalam ruangan hobinya, yang penuh dengan lukisan tentang Ayahnya. Wujud dari lukisan yang sering kali Sehun buat tentang Yifan seringkali abstrak, terkadang beraliran kubisme, dan pandangan realisme, tak jarang itu hanya wujud sketsa yang terlihat dari samping, belakang, atau bayangan. Lukisan Sehun memang terkadang harus ditelaah sedikit demi sedikit, tidak bisa hanya dilihat sekilas. Namun Junmyeon tahu, jika Sehun menyindiri di dalam ruang hobinya, dia pasti mengingat Ayahnya.
Junmyeon kerap kali menemukan Sehun berjalan keluar dan duduk di kursi dekat taman di belakang rumahnya, sesekali melukis, mendengarkan beberapa lagu yang menjadi favorit Sehun, dan menangis. Menangis tanpa suara adalah hal yang Sehun kerap lakukan saat Junmyeon tidak sengaja melihatnya. Junmyeon merasa bodoh, dia pikir dengan menikah dengan Jongin, Sehun akan merasa bahagia karena memiliki keluarga yang utuh dan mencintai Sehun. Ya, keluarga Jongin sangat perhatian dan ramah terhadap dirinya dan Sehun. Keluarga Jongin sangat menyayangi Sehun, mengasuh Sehun sampai trauma yang melekat kental pada anaknya tersebut memudar, terganti oleh senyum kecil Sehun yang melebar setiap harinya. Junmyeon belum tahu jika dirinya akan siap menerima jika suatu saat Sehun meminta dirinya kembali pada Yifan. Tidak, dia tidak bisa. Junmyeon yakin dirinya mencintai Jongin.
Tetapi, perasaan apa yang melingkupi hatinya saat ini, jika dia mengingat Yifan?
Apa yang terjadi padanya?
Junmyeon mengurut keningnya dan mengusap kasar wajahnya lalu menangkupkan wajahnya pada kedua tangannya. Mau tidak mau, Junmyeon sadar jika keadaan yang akan dihadapi setelah ini terlihat berat untuknya.
Junmyeon tidak akan lari, tidak.
Dia akan mempertahankan apa yang memang miliknya, dan tidak akan membiarkan siapapun merusaknya.
Keluarganya.
-xoxo-
Chanyeol gugup, begitu pula dengan Sehun. Saat ini mereka berempat, ya berempat, Sehun, Chanyeol, Baekhyun, dan kekasihnya yang sangat tampan berambut pirang, Huang Zitao, lelaki keturunan Cina yang menetap di Korea untuk bekerja dan menemani Baekhyun tentu saja, duduk untuk minum kopi dan mencicipi kue di café yang terletak tak jauh dari rumah sakit.
Baekhyun tengah bercanda dengan kekasihnya, Tao, yang ternyata berkepribadian jauh dengan Baekhyun. Tao—panggilan akrabnya dari Huang Zitao, sangat maskulin dan rapi. Irit berbicara dan menjawab seperlunya. Namun pandangan matanya pada Baekhyun, sorot matanya yang terlihat berbinar saat Baekhyun menyuapinya kue, saat Baekhyun berceloteh tanpa henti, pipi Tao seringkali merona. Sehun bisa melihatnya.
Skinship antar pasangan yang sama sama menyukai steak itu seringkali membuat Sehun gigit jari, bagaimana tidak, Tao seringkali mendaratkan kecupan ringan di pipi dan ciuman lembut di dagu dan bibir Baekhyun saat yang berkenan tidak sadar dirinya akan dicium oleh kekasihnya.
Chanyeol terkekeh melihatnya lalu bertanya, "Sudah berapa lama kalian berpacaran?"
Baekhyun langsung menjawabnya dengan cepat, "Sudah satu setengah tahun. Seringkali hubungan kami merenggang karena Zitao sibuk dengan tugas tugasnya, dan aku sibuk mengurus pekerjaannku. Kau kan tahu, Chanyeol, sebagai asisten dosen tidak selamanya menyenangkan." Baekhyun mengendikkan bahunya lalu melihat sekilas Tao yang menyeruput gelas kopinya dengan—ehem tampan.
"Apa?" sanggah Tao saat diperhatikan oleh Baekhyun. Baekhyun bisa meraskaan kalau pipinya memanas saat ditatap Tao, lalu memalingkan wajahnya. "Ti-tidak" jawabnya malu malu.
Chanyeol berdecak malas, "Hey, kalian ini benar benar seperti pasangan yang belum lama bersama. Kalian yakin kalian sudah satu setengah tahun berpacaran? Kenapa aroma romantisnya menguar sekali? Aku jadi gerah."
Sehun yang mendengar perkataan Chanyeol hanya tersenyum, lalu kembali memakan kue yang dipesannya tadi. Sementara Baekhyun mengerucutkan bibirnya dan memukul lengan Chanyeol sedikit, si empunya meringis kesal karena pukulan Baekhyun sementara Tao memperhatikan Sehun. Sehun yang diperhatikan tentu salah tingkah, dan beralih menundukkan wajahnya dan memakan kuenya dalam diam.
"Hey, namamu siapa?" tanya Tao pada Sehun. Sehun mengangkat kepalanya perlahan lalu menjawab pertanyaan Tao dengan jarinya.
"Kim Sehun, namaku Kim Sehun"
Dahi Tao berkerut heran, namun setelahnya dia mengerti dengan isyarat tangan tersebut lalu memilih menggerakkan jemarinya dan menggerakkan bibirnya untuk membalas perkataan Sehun. "Bahasa isyarat? Apa kau—maaf, bisu?"
Sehun tersenyum kecil, "Ya, aku terlahir bisu dan pita suaraku terinfeksi. Jadi aku tidak tahu jika aku bisa berbicara atau tidak."
Tao menganggukkan kepalanya tanda ia paham dengan keadaan Sehun. Sayang sekali, lelaki semanis dan setampan Sehun harus terlahir bisu, tapi saat Tao mengingat kembali namanya—
Kim Sehun?
Sehun?
Tao seperti pernah mendengar nama itu. Namun Tao belum mau berspekulasi macam macam, mungkin saja namanya saja yang mirip, belum tentu orang inilah yang dicarinya. Tapi tetap saja, menjadi stalker bukanlah kebiasaan Tao, dia lebih suka bertanya, wlalupun pertanyaan itu menyangkut privasi sekalipun. Namun Tao tetap tahu diri, dia tidak ingin terlihat mengganggu. Namun karena ia ingin menepis keingintahuan dirinya sendiri, dia memutuskan berani untuk bertanya pada lelaki di depannya ini.
Tao lalu menggerakkan kembali jemarinya, "Apa kau punya nama dalam bahasa cina, jika aku boleh tahu?"
Sehun mengangguk. Sehun memang memiliki nama dari cina, karena dirinya yang kerap kali harus mengunjungi beberapa pameran dan konferensi pers tentang lukisannya disana.
Jemari Sehun lalu bergerak dan membalas pertanyaan Tao, "Shixun."
Seketika itu juga, Tao terhenyak.
M-mungkinkah?
-xoxo-
Pastry yang dikelola oleh Junmyeon berkembang pesat, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, beragam kue dan cokelat yang di padu padankan dengan baik oleh Junmyeon menghasilkan peminat yang mengalir deras, baik dari pria maupun wanita begitu menyukai karya Junmyeon ini. Jongin, tentu saja bangga dan bahagia dengan apa yang sudah dicapai oleh istrinya tersebut. Jongin tak jarang mengirimkan karangan bunga lengkap dengan surat yang isinya sangat romantis, dan kerap kali membuat pegawai, maupun pembeli yang melihatnya meringis iri. Bagaimana tidak, Jongin memang sangat suka membuat Junmyeon terkejut dengan kejutan-kejutan kecilnya, dengan ucapan cinta yang sering kali dilontarkannya seolah tak pernah bosan, dan bagaimana Jongin memperlakukan Junmyeon seakan Junmyeon adalah satu satunya orang yang membuat Kim Jongin yang awalnya tidak suka terikat, malah jatuh dan tenggelam dalam pesona Junmyeon.
Seperti saat ini, saat istirahat siang, Jongin menyempatkan diri untuk datang ke pastry milik istrinya dan memesan miliknya tersebut.
"Hey sayang." Panggil Jongin seraya berjalan pelan kearah Junmyeon yang duduk dan berkutat dengan laptopnya.
"Hmm?" jawab Junmyeon sekenanya, pandangannya belum sekalipun lepas dari laptopnya, sementara Jongin memilih berdiri di sebelahnya, memperhatikan apa yang dikerjakan oleh istrinya.
"Resep lagi?" tanya Jongin.
Junmyeon mengangguk, "Iya, aku butuh resep baru, sepertinya pembeli ingin beberapa variasi dalam kue macaroons milikku, apa perlu aku menambahkan beberapa rasa dan warna baru ya, ah aku pusing sekali."Junmyeon memijit pelan pelipisnya dan bibirnya manyun karena sebal.
Jongin lalu dengan sigap mengambil laptop Junmyeon dan menutupnya lalu meletakkannya di diatas meja.
"J-jongin! Yah!"Junmyeon setengah berteriak sampai Jongin membungkamnya dengan bibirnya, kecupan lembut dan hangat, yang membuat Junmyeon lemas sampai kedua kakinya, dengan pasrah dia membiarkan Jongin bertindak semaunya dan menindihnya di sofa ruang kerja Junmyeon. Jongin terus menyerangnya dengan ciuman basah, mengecapnya pelan bibir Junmyeon yang menjadi candu untuknya sejak beberapa tahun lalu menikah. Jongin juga tidak berhenti menggerakkan kedua tangannya untuk mengelus lembut leher Junmyeon, turun ke punggung dan terhenti di pingganggnya dan membuat Junmyeon mengerang tertahan.
Seksi, sial, aku benar benar ingin melakukannya, pikir Jongin.
"Kau tahu? Kau begitu seksi saat tengah serius begitu. " kata Jongin pelan setelah melepaskan tautan bibirnya dengan Junmyeon yang setengah memerah karena ciumannya yang sedikit brutal.
Junmyeon masih terengah engah dan menjawabnya dengan nafas tersengal, "Tsk, cheesy. Lalu apa yang kau lakukan disini, sayang? kau datang lalu mengajakku bercinta saat aku bekerja, kau ini benar benar menyebalkan."
Jongin tersenyum dan mengelus punggung Junmyeon sekali lagi, ditatapnya istri yang menjadi cinta terakhirnya itu begitu lembut, penuh dengan cinta. "Aku hanya memesan milikku yang ada di pastry ini, apa kau keberatan?"
Junmyeon terkekeh dan menepuk pelan pipi suaminya, "Tidak sama sekali, tuan Kim. Aku milikmu."
"Kalau begitu, bisa aku memiliki milikku sekarang? Aku sangat merindukkannya." Pandangan Jongin berangsur berubah, pandangan itu sarat akan nafsu dan cinta. Junmyeon mengerti akan hal itu, tangannya beralih mengelus pelan pipi suaminya lalu terhenti pada bibir Jongin yang merekah merah.
"Tentu, sudah kubilang, aku milikmu."
-xoxo-
Setelah sekitar 2 jam bersenda gurau, Sehun, Chanyeol, Baekhyun dan Tao akhirnya memutuskan untuk pulang dan berjanji akan membuat pertemuan berikutnya di lain hari. Dengan sengaja, Baekhyun mengajak Tao untuk pulang bersama, meninggalkan Chanyeol dan Sehun untuk pulang bersama.
Ya, itulah rencana Baekhyun sang diva, yang berniat membuat dua insan yang malu malu karena cinta itu mau bersatu, dan Tao juga kelihatan tidak keberatan dengan ide tersebut saat Baekhyun membisikkannya pada Tao. Dengan mengacak pelan rambut Baekhyun, Tao menyetujui rencana kekasih manisnya tersebut lalu meninggalkan Chanyeol dan Sehun untuk pulang.
"Kau mau aku antar?"
Sehun terperanjat kaget mendengar suara Chanyeol bertanya padanya, karena saat ini mereka berdua berjalan beriringan. Sehun sendiri tidak ingin pulang, dia ingin menghabiskan harinya dengan Chanyeol, jujur saja pertemuan dua jam tadi itu terasa singkat, terutama untuk seseorang yang sedang dimabuk cinta seperti Sehun. Rasanya tidak bertemu dengan kekasih hati walaupun sehari saja, rasanya sangat menyesakkan.
Sehun perlahan menggerakkan jemarinya, "T-tidak, aku tidak mau pulang." Jawabnya malu malu.
Chanyeol bisa melihat pipi Sehun sedikit merona, entah karena pengaruh cuaca dingin atau memang Sehun malu dan memilih menyembunyikan perasaan malunya.
"Kau kedinginan, ayo kita pulang." Tekan Chanyeol lagi. Namun, Sehun memang luar biasa lucu dan imut saat ini, pipinya sedikit menggembung sebal karena Chanyeol menyuruhnya pulang.
Sehun menggeleng dan menggerakkan jemarinya, "Tidak. Aku tidak mau."
Chanyeol lalu tertawa pelan, "Kenapa kau tidak mau pulang? Apa kau sedang ada masalah dirumah?"
Sehun menggeleng dan memilih mendekatkan syal yang melilit lehernya lalu menggerakkan lagi jemarinya untuk menjawab Chanyeol, "Tidak ada, hyung. Aku ingin menghabiskan hari ini diluar saja."
Chanyeol tertawa pelan dan menepuk pelan kepala Sehun, "Aku tahu kau bohong, Sehun." Sehun yang mendengarnya sedikit kesal, mungkin bukan kesal, tapi gemas. Bagaimana Chanyeol bisa tahu kalau dirinya sedang berbohong?
Sehun memanyunkan bibirnya lucu, "Aku tidak bohong!"
"Lalu? Aku yakin kau punya alasan lain kenapa kau tidak mau pulang, kau kan tidak bisa berbohong. Aku sudah lama jadi trainer sekaligus doktermu, jadi aku tahu kalau pasienku sedang berbohong." Jelas Chanyeol sembari berjalan beriringan dengan Sehun di trotoar yang tak terlalu ramai dengan orang orang. Chanyeol akui jika saat ini jantungnya berdetak sangat cepat jika dirinya bersama dengan Sehun seperti sekarang ini, belum lagi ada rasa gugup dan takut salah tingkah, biasanya dirinya tidak pernah mengalami hal ini. Chanyeol juga heran, apa yang terjadi padanya?
Sehun menggerakkan jemarinya kembali, "Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan orang yang aku sukai, hyung." Lalu tersenyum setelahnya, dan membuat Chanyeol heran karenanya.
"Orang yang kau sukai?" tanya Chanyeol, mencoba menerka siapa yang disukai oleh Sehun.
Sehun mengangguk.
"Apa dia baik?"
Sehun mengangguk lagi.
"Apa dia tampan sepertiku?"
Sehun mengangguk lengkap dengan cengiran lebarnya.
"Apa aku mengenalnya?"
"Kau sangat mengenalnya, hyung."
Chanyeol mencoba berpikir, mencari cari siapa yang disukai Sehun, dia tak bisa menyangkal kalau hatinya juga sedikit nyeri mendengar Sehun ternyata sudah menyukai orang lain, "Arrgh aku menyerah! Ini terlalu sulit, aku tidak bisa memecahkannya. Lalu siapa dia, Sehunna?" Chanyeol memutuskan menyerah dan bertanya pada Sehun langsung. Sehun malu mengakuinya, tapi Chanyeol terlihat sangat tampan jika dia sedang berpikir keras seperti tadi.
Sehun mengarahnya telunjuknya tepat di depan Chanyeol, lalu menggerakkan bibirnya perlahan yang sedari tadi terkatup.
Gerakan bibir yang terbaca oleh Chanyeol sontak membuat Chanyeol salah tingkah, jantungnya begitu bahagia dan berdetak sangat kencang. Begitu pula dengan Sehun, yang setengah mati menahan rasa malunya untuk mengungkapkan perasaannya pada dokter muda tampan di depannya ini.
"Aku menyukaimu, hyung."
-tbc-
