Author: aurorarosena
Cast: Seventeen, etc.
Main pairing: VerKwan, VerChan
Rate: T
Genre: School-life, romance
Disclaimer: Casts aren't mine, storyline/plot is mine
Warning: typo(s), boyxboy, indonesian, bahasa amburadul/?, etc.
Please leave this story quickly if you don't like the casts, story, and author :)
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
Author POV -
Sudah tiga hari, tapi Seungkwan masih belum menemukan sosok yang begitu spesial baginya. Si bule yang baru beberapa hari dia kenal, si bule favoritnya, bule yang dalam beberapa hari itu membuat suasana hatinya membaik dan terus membaik. Mulai dari dua hari yang lalu, Seungkwan tidak melihat sosok orang itu.
Vernon, kemana dia? Itu yang selalu Seungkwan pertanyakan di dalam lubuk hatinya. Menelponnya? Itu masih menjadi aktivitas yang asing bagi Seungkwan. Sejujurnya, ia ingin sekali membuka ponselnya, menulis nomor telpon Vernon dan menghubunginya, berbicara padanya, bertanya apa yang terjadi kepadanya sampai ia harus meninggalkan sekolah selama tiga hari.
Biasanya, setiap pagi mereka selalu saling tersenyum meski tidak ada kata sapaan apapun terucap dari mulut mereka. Tidak banyak yang mereka bicarakan di sekolah, tapi setidaknya ada tatapan mata yang mengucapkan segalanya.
Dan untuk tiga hari ini, Seungkwan mulai merindukannya.
Hatinya tidak berhenti hancur sedikit demi sedikit setiap kali ia melihat Jinhong dan Moonbin melakukan aktivitas tanpa ada Vernon di antara mereka. Ingin rasanya Seungkwan berlari kepada mereka, bertanya tentang keberadaan dan kabar Vernon. Setidaknya hati Seungkwan memiliki sebua clue dan tidak buntu karena rasa penasaran seperti ini.
"DUAR!"
"Haish! Dokyeom-ah! Kau nyaris membuatku mati di tempat!" Seungkwan meninggikan suaranya sekali ia berbicara.
"Hehe, mianhae, kau lebay ah."
Kim Seokmin, atau yang biasa dipanggil Dokyeom, sahabat Seungkwan dari kelas yang lain. Mereka juga dekat karena mereka berdua turut andil dalam OSIS, yang mana sekarang ini sedang bersaing dalam memperebutkan kedudukan sebagai ketua. Hebatnya, mereka tetap bersaing secara sehat dan tidak pernah mempermasalahkan hal semacam itu. Terlebih lagi sikap Dokyeom yang begitu ramah dan hangat membuat Seungkwan semakin merasa cocok untuk berteman dengannya.
"Nanti ada pulang sekolah ada rapat OSIS, kau akan datang, kan?" tanya Dokyeom.
"Mmm," Seungkwan mengerutkan dahinya, berpikir apakah ia akan melakukan rencana yang ia buat diam-diam di benaknya, "aku belum tahu, aku ada janji dengan saudaraku."
"Yah, kau bagaimana, sih? Kau kan calon ketua OSIS, masa rapat selama dua jam saja kau tidak datang?"
"Aku tahu, tapi aku sudah berjanji dengannya minggu lalu, dan ini menyangkut tentang keluarga, kupikir ini jauh lebih penting."
"Eo." Dokyeom mengangguk. "Omong-omong, wajahmu tidak terlihat baik. Wae geurae? Kau biasanya orang yang paling berisik setelah aku. Aniyo, aku yang paling berisik setelahmu."
"Aniyo, aku hanya... bosan saja."
"Bosan? Perlu aku menghiburmu?"
"Hehe, aniyo, gwenchana, aku sudah cukup terhibur dengan kedatanganmu." Seungkwan menyeringai.
"Hehe, kau bisa saja. Oh iya, kalau nanti siang kau tidak datang, sebaiknya kau lapor kepada Joshua hyung supaya tidak ada presepsi yang buruk terhadap calon ketua OSIS yang baru."
"Ne, aku pasti melakukannya, jangan khawatir."
"Baiklah. Besok mau pulang sekolah bersama? Aku ingin mengajakmu makan di restorannya Jung ahjumma, aku yang akan menraktir."
"Omo, tidak biasanya kau melakukan ini. Tentu saja aku mau, besok pulang sekolah kita bertemu di depan, okey?"
"Fix. Kalau begitu aku ke perpustakaan dulu ya, aku harus belajar tentang cara mengorganisir sebuah organisasi dengan baik."
"Ne, belajarlah yang baik, Dokyeom-ssi."
Seungkwan memberikan Dokyeom sebuah senyuman yang hangat selagi Dokyeom meninggalkannya sendirian di depan kelas. Masih, perasaan itu masih belum hilang dari dalam dada Seungkwan. Usahanya untuk bertanya kepada teman terdekat Vernon masih belum terlaksanakan, dan mungkin Seungkwan memang benar-benar harus melakukannya.
Dengan kaki yang bergetar Seungkwan berjalan ke depan kelas sebelas B, yang bukan lain adalah kelas Vernon. Kebetulan, Moonbin dan Jinhong sedang berada di sana, saling mengobrol berdua dengan wajah mereka yang tidak secerah biasanya. Mungkin mereka juga merindukan Vernon.
"Uhh, jogiyo,"
"Oh, Seungkwan-ah." Moonbin mengubah raut wajahnya, lebih ceria dari sebelumnya.
"Ada yang bisa kami bantu?"
"Ehh, anu... sebenarnya... aku hanya ingin bertanya." suara Seungkwan terdengar lemah.
"Tanyakan saja, kami akan menjawab sebisa kami."
Sekali lagi, Seungkwan berpikir apakah ia harus benar-benar bertanya tentang keberadaan dan kabar Vernon kepada mereka. Namun, nasi sudah menjadi bubur, Seungkwan tidak mungkin melangkah ke belakang dan meninggalkan suasana canggung di antara mereka bertiga.
"Aku mau tanya... Vernon... kenapa dia tidak masuk selama beberapa hari ini?"
Moonbin dan Jinhong saling menatap.
"Memangnya," Moonbin perlahan mengembalikan wajahnya menghadap Seungkwan yang gugup, "kau belum tahu ceritanya?"
"Ceritanya?"
x
- SKIP -
x
"Jadi, Seungcheol hyung dan Vernon itu pernah satu sekolah juga?"
"Eo. Kami bahkan baru tahu kemarin ketika Vernon menceritakannya. Dan lebih parahnya lagi, Vernon sendiri tidak sadar bahwa Seungcheol pernah menjadi sunbae-nya juga di SMP." kata Jinhong.
"Vernon memang bukan anak yang peka, dia sering kali bersikap acuh tak acuk dengan lingkungan sekitarnya. Makanya, banyak orang yang muak dengan sikapnya yang memang tidak baik itu. Tapi jangan khawatir, meskipun begitu, Vernon tetap anak yang baik, sekali kau mengenalnya, sudah pasti sulit untuk 'tidak mengenalnya' kembali." jelas Moonbin.
Seungkwan menghabiskan waktu istirahatnya untuk sekedar mendengar cerita dari kedua teman Vernon, Moonbin dan Jinhong, bahkan mereka sengaja tidak masuk ke kelas dan bersarang di toilet hanya untuk menghabiskan cerita tentang Vernon.
Tidak banyak reaksi yang dilakukan oleh Seungkwan, hanya sejujurnya ia merasa sangat sedih ketika mendegar Vernon melakukan hal yang begitu tragis demi kepentingan orang lain. Hatinya terisis, sangat menyakitkan. Sebisa mungkin dirinya untuk tidak menangis, mecoba untuk bersikap normal meskipun pada kenyataannya Seungkwan sangat ingin berteriak. Menemui Vernon adalah keinginan terbesarnya saat ini.
Seungkwan sendiri tidak mengerti kenapa namanya disebut di dalam suatu masalah yang bahkan tidak ia kenali, lebih parahnya lagi ketika Vernon harus menyelesaikan segalanya sendirian. Apa jadinya jika Vernon tidak ingin melakukannya? Jika hatinya tidak berkenan?
Dan... apa jadinya jika Vernon akan benar-benar mencintai Lee Chan di kemudian hari?
Meski Seungkwan tidak tahu perasaan macam apa yang Vernon miliki terhadapnya, siapa dia bagi Vernon, meski Seungkwan tahu bahwa Seungkwan mungkin tidak berhak untuk mengatakannya, namun ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ada benih rasa suka yang mulai tumbuh di dalam hatinya untuk Vernon sejak mereka berdua makan donat bersama di bawah pohon rindang.
"Kalau aku boleh tahu," Seungkwan menelan salivanya, "apa... Vernon sedang mencintai seseorang saat ini?"
Gestik kedua namja itu berubah seketika, menjadi kaku dan pura-pura menghindar dari mata Seungkwan yang nanar.
"Uhmm, soal itu, kami tidak tahu."
Moonbin dan Jinhong memang menceritakan segalanya dengan detail, tapi ada satu bagian yang sengaja mereka sembunyikan demi kebaikan, baik di pihak Vernon atau Seungkwan sendiri, atau mungkin Lee Chan.
"Jadi... Lee Chan dan Vernon sekarang sudah berpacaran?"
"Kami masih tidak yakin karena Vernon tidak memberi tahu kami secara jelas. Mungkin jika ada waktu, kau bisa bertanya sendiri kepada Vernon. Atau kapan-kapan kalau kau masih penasaran, kau boleh kembali dan bertanya kepada kami, mudah-mudahan kami sudah tahu jawaban yang sebenarnya."
"Arraso." Seungkwan mengerti.
"Hey, jangan sedih seperti itu. Kami tahu usahamu untuk menjadi teman baik Vernon masih belum sepenuhnya terlaksanakan," Jinhong menggenggam bahu Seungkwan dan mengusapnya perlahan, "jangan khawatir, jika kau mau, kami bisa bantu."
"Ne, gomawoyo, Jinhong-ssi, Moonbin-ssi."
x
x
x
x
x
DING DONG~
Seseorang membukakan pintu untuk Seungkwan. Yap, seseorang yang sudah pasti Seungkwan kenali meskipun hanya sekali bertemu. Namja yang belum pantas disebut ahjussi, tapi juga tidak muda, yaitu ibu dari Vernon.
Dengan senyuman yang merekah, ibunya menyambut Seungkwan.
"Apa Vernon ada di rumah?" tanya Seungkwan dengan sopan.
"Eo, dia ada di kamarnya. Baik sekali kau mau bertemu dengannya di hari sekolah seperti ini." balas sang ibu.
"Ne, Moonbin dan Jinhong bilang mereka akan mengunjungi Vernon besok."
"Senang sekali mendengar Vernon punya teman-teman yang baik seperti kalian." sang ibu mengelus punggung Seungkwan. "Kau mau minum teh atau yang lainnya? Aku sudah masak siang hari ini, mungkin akan lebih baik kalau kita makan bersama."
"Uhh, gwenchana, Tuan-ssi, aku akan menemui Vernon sejenak lalu pulang."
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke kamarnya."
Penuh perhatian terhadap Seungkwan, ibunya Vernon sampai menyimpan rasa simpati kepadanya, bahkan ia masih mengobrol dengan Seungkwan di perjalanan menuju ke kamar Vernon.
Sang ibu membukakan pintu kamar Vernon untuk Seungkwan dan terlihat secara sekilas ada Vernon sedang duduk di lantai. Entah apa yang sedang dia lakukan di sana, tapi begitu saja sudah cukup membuat hati Seungkwan bergetar.
"Vernon."
"Yes, mom?"
"Ada Seungkwan berkunjung, katanya dia ingin menemuimu." katanya. Seungkwan masuk ke kamar Vernon, dan sang ibu membiarkan mereka berdua memiliki waktu privat mereka di dalam kamar.
Penampilan Vernon kali ini benar-benar mengganggu Seungkwan. Bagaimana tidak? Vernon menggunakan topi dan juga masker hingga Seungkwan benar-benar tidak dapat melihat wajah Vernon, matanya yang bulat dan memar. Kesannya seperti Vernon menolak untuk bertemu dengan Seungkwan dan memilih untuk bersembunyi.
"Annyeong, Vernon-ssi." sapa Seungkwan.
"Ne, annyeong." jawaban Vernon tidak begitu jelas terdengar karena masker yang menutupi.
"Ada apa dengan masker dan topinya?"
"Uhhh... ini..."
Seungkwan berjalan selangkah mendekat, tapi Vernon malah mundur selangkah menjauh. Seungkwan membenci hal semacam itu, Vernon tidak bertingkah seperti biasanya. Yang ia inginkan hanyalah sebuah kenyamanan bagi Vernon untuk berada di dekatnya, seperti yang pernah Vernon katakan; lakukanlah layaknya seperti teman pada umumnya.
Sekali lagi Seungkwan mencoba untuk mendekati Vernon, tapi Vernon masih melakukan hal yang sama; menjauh setiap kali Seungkwan melangkah mendekat. Kali ini, Seungkwan tidak akan membiarkan Vernon melakukan hal yang sama.
"Jangan menjauh!" serunya, Vernon terdiam. "Tetap diam di tempatmu dan biarkan aku mendekat!"
Vernon memang diam di tempat, di mana dia sedang berdiri saat ini, tapi dia memalingkan wajahnya dan berusaha agar Seungkwan tidak mengetahui apa yang ada di balik masker dan topi itu.
Langkah Seungkwan mendekat hingga mereka benar-benar nyaris tidak berjarak lagi. Hati keduanya saling meledak-ledak untuk satu sama lain, karena sebelumnya mereka belum pernah sedekat ini meskipun sudah beberapa kali melakukan hal bersama-sama. Keyakinan Seungkwan sudah bulat meskipun ia tidak dapat menolak rasa gugup yang mengguncang dadanya. Tanpa menunggu lagi, Seungkwan membuka topi Vernon dari kepalanya.
Rambut Vernon yang berwarna cokelat terang jatuh hingga ke dahinya, berhasil menutupi luka yang berada di sekitar kepalanya. Seungkwan sudah sempat melihat luka-luka itu dan hatinya semakin terluka. Vernon memejamkan matanya, membiarkan tangan Seungkwan menjamah rambut dan dahinya yang masih sedikit berdarah.
Tangan Seungkwan berlari ke belakang telinga Vernon dan bertemu dengan tali masker yang terkait di baliknya. Seungkwan melepasnya perlahan dan napasnya berhenti sejenak ketika melihat wajah bagian bawah Vernon yang terluka begitu parah.
Seungkwan tertawa sinis, menyimpan banyak kekesalan di hatinya. "Bagaimana bisa wajahmu tetap tampan meski terluka seperti ini?"
Vernon tidak menjawab, hanya tersenyum tipis dan merasa lebih baik.
"Vernon-ssi, bogoshipoyo." bisik Seungkwan. "Kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak bercerita kepadaku?"
"Aku tidak bisa."
"Tentu kau bisa. Meski aku tidak tahu kenapa aku berada di dalam masalah ini, aku menyesal karena aku telah menyuruhmu untuk memilih angka sepuluh. Aku ingin mengulangi segalanya."
"It's okay," Vernon mencoaba untuk memberikan senyuman terbaiknya, "semua ini akan berlalu-"
"Kau melakukan sesuatu yang bahkan hatimu tidak ingin lakukan." Seungkwan menyela. Ada air mata di pelupuk matanya yang dengan susah payah ia tahan agar tidak jatuh ke pipi. "Lihat kan akibatnya? Kau di skors dari sekolah, wajahmu terluka, musuhmu semakin besar."
"..."
"Tidak tahu..." suara Seungkwan bergetar, "tapi... aku sedih melihatmu seperti ini:"
"Aku memang menyedihkan."
"Vernon-ssi, kenapa kau tidak mudah bergaul dengan banyak orang? Kenapa kau tidak dapat mengenal orang lain dengan baik, huh?"
"Seungkwan-"
"Kau tahu, banyak orang yang muak dengan kelakuanmu yang satu itu?! Yang pura-pura dingin keadaan sekitar hingga semuanya mengira bahwa kau adalah orang yang hanya ingin diperhatikan. Kau tahu betapa menjijikannya sikapmu itu?!"
"Dengarkan-"
"Tidak bisakah kau mengubahnya dan berteman dengan banyak orang? Mengenal mereka dengan baik? Sadari keberadaan mereka di sekitar-"
"Boo Seungkwan!" suara Vernon melengking, tangannya seketika menarik pinggang Seungkwan kepadanya, menghancurkan jarak mereka yang seharusnya, juga melewati batas perasaan mereka lewat tatapan mata yang begitu intens sehingga Seungkwan melupakan kalimatnya. Air matanya sudah sempat jatuh dan Vernon ingin menghentikannya, dengan cara apapun. "Kalau begitu..."
"..."
"Kalau begitu, izinkanlah aku untuk mengenalmu lebih jauh lagi, Boo Seungkwan. Aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi, aku ingin menjadi orang yang paling mengenalmu, dan paling kau kenal. Aku ingin mengenalmu lebih dari apapun, siapapun."
"..."
"Aku ingin mengenalmu, angka sebelas yang pernah kusia-siakan. Izinkan aku untuk melakukannya, jika kau memang menginginkannya."
"..."
Seungkwan tidak berani melihat mata Vernon yang berwarna hazel itu, mata Vernon yang terkenal dengan tatapan dalam membunuh jiwa. Mungkin semua orang menyukainya karena tatapannya, yang tidak pernah berhenti melihat seseorang dengan tulus sekaligus menggoda. Dan bagaimana jika Seungkwan menginginkan tatapan yang membunuh itu menjadi miliknya? Hanya untuknya?
Sambil mengerlingkan mata dan pura-pura menahan amarah, Seungkwan membuka mulutnya untuk berbicara. Namun, belum saja dia menyelesaikan kata pertamanya, bunyi dan getaran dari ponsel Vernon menghancurkan atmosfir yang nyaris berakhir indah itu.
Sebisa mungkin Vernon tidak membiarkan layar ponselnya terlihat oleh Seungkwan, bagaimanapun juga, hati Seungkwan yang saat ini sedang kelabu biru tidak seharusnya terganggu, bahkan oleh bunyi-bunyi kecil yang mencurigakan.
Lee Chan, hati Vernon memekik.
Bahu Vernon jatuh.
"Yoboseyo?" sapa Vernon di dalam telefon, di samping itu, matanya tidak berhenti menatap mata Seungkwan. "Eo, Chan-ah,"
Sret.
Tangan Vernon bergerak secepat kilat meraih lengan Seungkwan, menahan tubuhnya untuk pergi menjauh. Tidak peduli seberapa besar usaha yang Seungkwan lakukan untuk melepas dirinya dari sentuhan Vernon, memang sulit bagi dirinya sendiri untuk melarikan diri dari situasi itu, karena itulah yang dia inginkan; merasakan kesungguhan Vernon.
"Please, stay." bisik Vernon, benar-benar perlahan. "Ne, Chan-ah,"
"..."
"Gwenchana, hyung juga perlu istirahat. Jangan khawatir, hyung akan kembali minggu depan."
"..."
"Ne, jangan lupakan makan malammu."
"..."
"Ekhm." Vernon berdehem. Bahasa tubuhnya berubah, seketika saja ia terlihat gugup dan kebingungan. Tidak tahu apa yang ada di jalan pikirannya, tapi itu membawanya kepada Seungkwan, membuatnya mendekap Seungkwan dengan begitu erat dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih menahan ponsel di telinga.
Seungkwan sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi, yang ia tahu hanya tubuhnya sudah berada sangat dekat dengan Vernon, bahkan tanpa jarak sesenti pun. Di tulang belikatnya ada ada tangan Vernon yang melingkar hingga ke pundaknya yang satu lagi. Rasanya memang hangat, tapi ada sesuatu yang hilang darinya karena Vernon tidak sepenuhnya ada untuk Seungkwan.
Vernon mendesah sangat berat, "ne, chagi, hyung baik-baik saja. Jaga dirimu baik-baik, jangan lupa juga mengerjakan PR, arasso, chagi?"
Nyawa Seungkwan melayang saat itu juga.
"Mmm, selamat beristirahat, nae aegi."
Tangan Vernon jatuh bersama dengan ponselnya. Ia menaruh dagunya di atas bahu Seungkwan, bahkan menyembunyikan wajahnya di balik leher Seungkwan yang agak jenjang. Mendekap Seungkwan dengan semakin erat adalah satu-satunya cara untuk meyakinkan Seungkwan bahwa apa yang baru saja terjadi bukanlah sesuatu yang Vernon inginkan.
"Aku tidak mencintainya, apa kau percaya padaku?" kata Vernon.
Seungkwan tidak ingin menjawab.
"Seungkwannie, aku tidak mencintainya. Aniyo, aku tidak mencintai Chan."
Sedikit demi sedikit tangan Seungkwan mulai berani menyentuh punggung Vernon dengan sendirinya, meskipun tetap ada emosi yang terkumpul di sana hingga ia harus mencengkram baju Vernon layaknya akan menghancurkan sesuatu dengan satu kepalan saja.
"Seungkwannie, you believe in me, don't you?"
Satu isakan tangis, dua, tiga isakan tangis, tepatnya keluar dari rongga hidung Seungkwan. "Ne, Vernon-ssi, aku percaya padamu."
"Kalau begitu aku mohon jangan menangis."
"Tapi apakah kau pernah menyadari bahwa aku juga mencintaimu, Vernon-ssi?"
"..."
"Mianhae." Seungkwan melepas pelukan Vernon dan menenggelamkan wajahnya, menghapus air mata yang masih tergenang di pipi chubby-nya. "Mianhae, Vernon-ssi, aku mungkin terlalu cepat, aku terlanjur menyukaimu dari awal."
Vernon menyeringai. "Tidak ada yang terlalu cepat. Kau mengatakannya tepat waktu."
"Vernon-ssi," suara Seungkwan terputus-putus karena isak tangis yang tidak tertahankan, "bagaimana... bagaimana jika seiring berjalannya waktu, kau mencintai Chan?"
"Jinjja? Apa hal seperti itu akan terjadi?"
"Sejak kapan-kau... berkencan dengan Lee Chan?"
"Tepat di hari setelah aku bertengkar dengan Seungcheol hyung." jawab Vernon. "Aku melakukan ini demi kau, demi Joshua hyung. Seungcheol bisa saja berbuat sesuatu yang jauh lebih gila terhadap kalian, terhadapmu, apa kau pikir aku akan membiarkannya menyakitimu?"
"Apa... apa yang sebenarnya terjadi hingga kau harus mengencani Lee Chan?! Tidak ada satupun yang dapat kumengerti."
"Seungkwannie, dengarkan aku." Vernon menaruh tangannya di atas kepala Seungkwan. "Apapun yang terjadi, yang kuinginkan hanyalah kebaikanmu. Tolong jangan terlalu larut dalam-"
"Bagaimana bisa aku tidak menjadi larut!?" bentak Seungkwan. "Vernon-ssi, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
"..."
"Aku juga mencintaimu, okey? Aku tidak yakin perasaan macam aku yang kumiliki saat ini, tapi aku berani berkata bahwa aku mencintaimu."
Seungkwan menggigit bibir bawahnya.
"Aku memang masih anak kecil, Seungkwannie, anak kecil yang polos, tidak mengerti banyak tentang hal di dunia ini. Tapi aku ingin sekali mengerti tentangmu."
Seungkwan masih hening.
"Kau mengerti apa maksudku, kan? Aku ingin yang terbaik untukmu, aku akan menyelesaikan segalanya. Dan kau tidak perlu khawatir." ucap Vernon, intonasinya meninggi hingga ia harus memaafkan dirinya sendiri. "Kau percaya kan, kepada anak kecil yang ada di depan matamu ini?"
"Aniyo." jawab Seungkwan cepat. "Tapi aku mencintaimu, makanya aku terpaksa percaya." kalimat Seungkwan membuat Vernon terkekeh sekilas, ditambah lagi dengan wajah ,bekas tangis' Seungkwan yang menurut Vernon menambah keimutan di wajahnya. "Jadi kau akan memiliki dua namjachingu sekaligus?"
"Maksudmu?"
"Lee Chan... aku..."
"Aniyo, aku tidak akan menduakanmu."
"Katanya kau mencintaiku!?"
"Memangnya kau mau dijadikan yang nomor dua? Tidak, kan?" Vernon membulatkan matanya. "Cukup. Aku akan menyimpan semua sisi romantisku hingga aku benar-benar berkencan denganmu."
Seungkwan mengerlingkan matanya malas. "Tetap saja. Yang merasakan sisi roamantismu kan Lee Chan duluan, aku tetap yang kedua."
"Jealous?"
"Pokoknya segera bereskan masalahmu!" Seungkwan menyentak. "Segera putus dengan Lee Chan, aku tidak menyukainya."
"Ne, Seungkwannie."
"Dan pastikan tidak ada pertengkaran apapun, dengan siapapun. Kau tahu? Seungcheol hyung juga macho dengan tampangnya yang babak belur seperti itu. Jika kau menghajarnya, hatiku bisa kapan saja berpaling kepadanya."
"Yak!"
"Terserah." Seungkwan memajukan bibirnya sesenti. "Putus dengan Lee Chan!"
"Hffft," Vernon mengadahkan kepalanya ke atas, "bagaimana, ya? Kau menggemaskan, aku ingin menciummu tapi aku tidak ingin menjadi romantis dulu."
"Cium saja, apa susahnya!? Oh, mungkin kau ingin menyimpan sikap romantis dan ciumanmu itu untuk Lee Chan."
Sikap Seungkwan itu menggetarkan dada Vernon hingga membuatnya ingin segera bergerak, menyentuh bibirnya seperti keinginannya saat itu; saat Seungkwan tertidur di kamarnya, memejamkan mata dan menggodanya untuk segera mencium bibir yang berwarna peach. Vernon berjalan mendekat ke arah Seungkwan, menggunakan jarak yang sama seperti saat Seungkwan membuka topi dan masker dari wajah Vernon.
Vernon memiringkan kepalanya sedikit dan menempatkan bibirnya di depan bibir peach Seungkwan, sekitar beberapa milimeter jaraknya. "Aku menyimpannya untukmu, pabo."
Seungkwan mengendus kesal. "Yak! Bule! Kau menggodaku?!"
"Kau mau makan? Aku lapar."
"Vernon-ssi."
"Eommaku memasak sesuatu yang enak. Aku yakin kau pasti suka."
Vernon POV -
Sebenarnya aku masih belum bisa mempercayai bahwa Seungcheol hyung akan menjadi sejahat itu. Ya, memang salahku jika aku tidak mengenalnya meskipun kami sudah beberapa tahun berada di sekolah yang sama. Aku mengaku bahwa Seungcheol hyung bukanlah orang yang lemah, dia juga punya keunikan pribadi di dalam dirinya. Jika saja aku dapat mengenalnya lebih baik lagi, aku tidak akan berpendapat seburuk ini tentang dia. Mungkin kami hanya kebetulan saling membenci. Dia tidak menyukai sikapku, aku juga tidak menyukai sikapnya.
Kau ini sudah terlalu lama menjadi tenar di sekolah, begitu katanya. Soal itu, mana aku pernah tahu. Semua orang menyukaiku, mereka melihat ada karisma pada diriku, dan aku berdampak baik bagi semua orang. Well, mungkin tidak semua orang, Seungcheol hyung tidak dapat menerimaku dengan baik.
Aku mulai mengerti bagaimana plot dari masalah ini.
Aku dan Seungcheol hyung berada di sekolah yang sama Aku tenar dan Seungcheol hyung tidak Seungcheol hyung bosan dengan dirinya yang tidak tenar Seungcheol hyung iri padaku Seungcheol hyung tidak menyukaiku Seungcheol hyung balas dendam Seungcheol hyung menggunakan Chan sebagai bonekanya, yang mana Chan juga benar-benar cinta buta padaku sejak SMP Seungcheol hyung mengancamku untuk mengencani Chan Jika aku tidak mengencani Chan, orang-orang terdekatku akan dihabisi olehnya Aku tidak punya pilihan Aku mengencani Chan Chan bahagia dan aku tidak Seungcheol hyung menyebarkan berita kencanku kepada semua fansku Semua fansku kecewa Aku dibenci.
Rencananya memang sempurna, dan juga berhasil. Ada banyak dari teman-teman di sekolah (yang termasuk fansku) mencacimaki namaku di sosial media dengan begitu brutalnya. Bahkan mereka mungkin menjadi Vernon haters karena aku lebih memilih Lee Chan ketimbang mereka. Dasar menyebalkan, aku bahkan tidak memilih salah satu dari fansku, aku memilih yang bukan siapa-siapa Seungkwan.
Di bawah selimutku yang hangat, aku berpikir mengenai jalan terbaik apa yang harus kupilih. Jalan yang tidak akan melukai siapapun; Seungkwan, Joshua hyung, kedua sahabatku Moonbin dan Jinhong, Lee Chan, atau bahkan Seungcheol hyung, dan juga diriku sendiri. Apakah mungkin ada jalan terbaik itu? Mungkin saja. Porosnya hanya ada pada Seungcheol hyung.
"Vernon." suara daddy mengganggu konsentrasiku. Seperti biasa, dia selalu muncul dengan cara itu; muncul di ambang pintu dengan tiba-tiba tanpa mengetuk pintunya. "Kau tidak tidur?"
"I can't sleep."
"Why? What does my little angel think until he can't sleep? This is already late."
"Dad, I'm seventeen."
"Still," daddy menghampiriku dan ikut berselonjor di atas kasurku, "you are still my little angel no matter what."
Aku hanya bisa pasrah jika dia sudah berbicara seperti itu.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada."
"Bohong."
"Okey, Seungkwan."
"Aku sudah tahu." daddy terkekeh, sepertinya dia puas mendengar jawabanku. "Daddy tidak pintar dalam hal cinta, sih, tapi daddy bisa membantumu."
"Dad," aku masuk ke dalam rangkulan tangannya dan menyandarkan kepalaku di dadanya yang bidang dan terasa keras, "apa dulu daddy pernah terpaksa untuk mencintai seseorang?"
"Hmmm," daddy menaruh pipinya di atas kepalaku, "daddy tidak ingat. Tapi... dulu daddy pernah memiliki seorang mantan kekasih, dia seorang yeoja, namanya Krystal. Dia wanita yang sangat cantik dan penyayang, tapi untuk beberapa alasan daddy harus meninggalkannya hingga akhirnya daddy bertemu dengan ibumu. Tapi, meskipun daddy berpisah dengan Krystal atau sengaja memutus hubungan dengannya, daddy tidak pernah merasa bahwa cinta yang pernah daddy miliki untuknya adalah sebuah paksaan. Semuanya mengalir murni dari hati daddy."
"Mmm." aku mengangguk.
"Kenapa? Kau memiliki sebuah komplikasi?"
"Aniyo."
"It's okay, kau boleh menceritakan segalanya."
"Tadinya aku hanya ingin bertanya, tapi kupikir aku memiliki masalah yang berbeda."
"Begini," lanjut daddy, "daddy jelas tidak akan ikut campur dengan masalahmu, tapi daddy akan mencoba sebisa mungkin untuk membantumu. Karena daddy yakin kau cukup kuat untuk menyelesaikan segalanya sendirian."
"Cih, daddy, tidak lihat wajahku nyaris meledak karena Seungcheol menghajarku gila-gilaan?" ujarku. "Tapi, dad, apa kau pernah bertengkar seperti ini? Sampai wajahmu babak belur?"
"Pernah."
"Oh, jinjja?"
"Kau mengenal Jackson Wang? Sahabat daddy?"
"Ne. Kau bertengkar dengannya? Jeongmal?!"
"Makanya aku tidak bisa memarahimu dengan cara yang terlalu keras seperti yang mommy lakukan. Ya, memang, tidak ada orang tua yang merasa senang ketika anaknya jatuh ke masalah, tapi daddy sadar bahwa kau dan aku tidaklah berbeda. Bahkan mommy yang waktu itu memarahi daddy karena bertengkar."
Aku tertawa sejenak mendengarnya. "Seungkwan juga tadi memarahiku."
"Jadi Seungkwan itu cinta pertamamu?"
"Katakanlah begitu."
"Lalu, kalau Seungkwan adalah cinta pertamamu, apa yang kau maksud dengan cinta yang terpaksa?"
Oh, aku lupa mengatakan kepada daddy bahwa aku masih memiliki masalah lain selain hanya bertengkar dengan Seungcheol hyung, maksudku... masalah yang ada di balik pertengkaranku dengan Seungcheol hyung.
"Mollayo, aku hanya penasaran saja."
"Jadi kau sudah berkencan dengan Seungkwan?"
"Belum."
"Wae?"
"Ya aku harus mencari tahu tentang cintaku yang dipaksa ini, cintaku yang dipaksa untuk si angka sepuluh."
"Angka sepuluh?"
"Lupakan."
"Jangan menunggu terlalu lama. Kalau Seungkwan berpaling kepada yang lain bagaimana?"
"Ish, daddy, bukannya mendukungku malah berkata seperti itu."
"Mianhae, daddy hanya mengajarkanmu dari pengalaman."
"Masa SMA-mu benar-benar membosankan, dad." aku berbalik badan dan memunggungi daddy. Padahal masih banyak sekali hal yang ingin kubicarakan padanya, tentang cerita cinta yang sebenarnya lebih membosankan ini.
"Kau ingin tahu jalan keluar tentang cintamu yang terpaksa ini? Daddy tahu kemana kau harus pergi. Dia adalah orang yang tepat."
"Nugu?"
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
- To be continued -
Yeyy balik :3 untuk kesekian kalinya author mau ngucapin terimakasih yang sangat banyak karena kalian udah setia nungguin FF aneh ini, FF geje ini. Author juga seneng banget karena kalian masih nyempetin buat review huhuhu padahal author udah hampir desperate nulisnya T_T chapter yang ini jangan lupa di review yaaa mudah mudahan author bisa update cepet lagi, okeey? :* sampai ketemu di chapter selanjutnya aminn.
