Sarapan dengan sepotong roti bakar dan segelas susu sudah menjadi rutinitas Sungmin yang dilakukan di pagi hari. Para maid tengah membersihkan rumah yang besar ini dari debu-debu yang bisa mengganggu kesehatan Tuan Mudanya. Rumah ini harus bersih dari segala kotoran. Atau kalau tidak, maka Kyuhyun akan turun tangan untuk memberikan pelajaran terhadap mereka.
Sungmin memilih untuk diam saat Kyuhyun lagi-lagi melarangnya untuk kembali bersekolah dengan berdalih bahwa kesehatannya belum pulih. Padahal Sungmin sudah merasa yakin bahwa dirinya sudah sehat dan dalam kondisi prima.
Suara bel yang ditekan berkali-kali menandakan bahwa sang pelaku bukanlah orang yang sabar. Membuat Sungmin maupun Kyuhyun mengernyitkan kening mereka. Situasi ini terasa familiar. Tapi kenapa Sungmin merasa bahwa selama beberapa hari ini rumahnya terus kedatangan tamu?
Sungmin melirik Kyuhyun, dan Kyuhyun mengerti apa arti lirikan Sungmin. Dengan segera ia meletakkan nampan yang dipegangnya dan melangkah menuju pintu untuk menerima tamu.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
There is Always You
Story By: Haren Sshi
Super Junior, SNSD, F(X) © SM Entertainment
Inspired By: Kuroshitsuji © Yana Toboso
…
Don't Like Don't Read
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"Apa Sungmin-ah ada di dalam, Oppa?"
Kyuhyun sedikit terkejut saat seorang gadis menarik jasnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu. Karena perbedaan tinggi yang jauh membuat Kyuhyun menunduk searah dengan tarikan jas yang dimilikinya.
"Nona—" Kyuhyun bisa melihat bagaimana pancaran mata gadis muda yang tiga tahun lebih tua dari Sungmin itu terlihat khawatir, "—Tuan Muda ada di dalam dan se—" perkataannya terputus saat tiba-tiba gadis itu melepaskan tangannya dari jas miliknya dan berlari menuju ke dalam rumah.
Kyuhyun hanya menghela nafas pelan melihat tingkah salah satu sepupu Tuan Mudanya. Tapi buat apa dia ke sini?
"Ah, Kyuhyun-sshi?"
Kyuhyun yang tadinya memperhatikan bagaimana Nona itu berlari ke dalam, berpaling ke depan dan menemukan adik Nona itu kini berdiri di hadapannya. "Oh, Tuan Muda Hyukjae? Kau ikut juga?"
Hyukjae hanya mengangguk singkat dan menggaruk belakang kepalanya salah tingkah. "Ya, Sunny memaksaku untuk ikut." Jawabnya.
Kyuhyun hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Hyukjae. "Lebih baik Tuan Muda Hyukjae segera masuk," Kyuhyun menggeser sedikit tubuhnya, "Di luar sangat dingin, sangat tidak baik untuk kesehatan Tuan Muda."
"Benar 'kah?" Hyukjae tertawa riang. "Aku merasa tidak dingin sama sekali." Lanjutnya sembari masuk ke dalam rumah megah milik Sungmin dengan riang.
Dan ketika Hyukjae melintas di depannya, Kyuhyun bisa merasakan aura yang berbeda dari sepupu Tuan Mudanya itu yang membuatnya terbelalak. Aura yang sama dengan miliknya.
"Kyuhyun?"
Kyuhyun berbalik dan menemukan seseorang yang begitu dikenalnya berdiri di hadapannya. "Hyung?"
Pemuda itu tersenyum tipis. "Lama tidak berjumpa."
Mata Kyuhyun menyipit. "Mau apa kau? Apa kau bersekongkol dengan Vict?"
"Vict?" Raut wajah itu sedikit terkejut. "Aku tidak tahu Vict akan berkunjung ke sini."
"Jangan pura-pura, Hyung." Kyuhyun menggeram, tangannya terkepal kuat.
"Aku mengatakan yang sebenarnya." Ia berjalan ke depan untuk memasuki rumah itu. Sebelum langkahnya melaju lebih dalam, ia berdiri tepat di samping Kyuhyun dan menepuk pundak adiknya pelan. "Lagipula aku ke sini hanya untuk menemani Tuan Muda Hyukjae."
Mata Kyuhyun sedikit terbelalak. "Jadi kau yang—"
Pemuda itu hanya melirik sedikit. "Kau bisa menyimpulkannya." Lalu melanjutkankan langkah menuju ke dalam.
Sungmin yang sedang duduk di meja makan hanya bisa pasrah saat Sunny—sepupunya—datang memeluknya erat sambil memeriksa anggota tubuhnya secara rinci. Ia ingin membentak, tapi tak bisa. Lagipula, gadis itu akan lebih keras kepala kalau ia membentak.
"Sungmin-ah, katakan dimana yang sakit? Apa kepalamu sakit? Apa badanmu terasa tidak enak? Atau—"
"Aku baik-baik saj—"
"Omo! Lihat wajahmu pucat, Sungmin-ah! Apa oppa merawatmu dengan benar? Apa kau sudah minum obat? Ini, sarapanmu harus kau habiskan. Biar aku yang menyuapimu, oke? Oh! Kau juga harus makan bubur, aku dengar bahwa orang sakit apabila makan—"
"Sunny." Sungmin sedikit meninggikan suaranya yang sanggup membuat Sunny terdiam dan menatap khawatir padanya. "Aku baik-baik saja."
"Tapi—"
"Apa yang dikatakan Sungmin-ah itu benar, Sunny." Sungmin menoleh dan menemukan adik kandung Sunny berdiri beberapa meter dari dirinya. "Bukankah oemma sudah bilang untuk jangan merepotkan Sungmin? Lagipula kita hanya menjenguknya."
"Hyukjae, kau di sini juga?"
Hyukjae mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi—" Sunny mengelus kedua belah pipi Sungmin yang terlihat putih pucat. "Kau seharusnya memberitahuku jika kau sedang sakit. Kalau aku tidak menelpon Taeyeon-ahjumma, mungkin aku tidak akan pernah tahu apa yang terjadi padamu."
Sungmin merasa sedikit bersalah. Walau bagaimanapun ibu Sunny dan Hyukjae adalah orang yang selama ini merawatnya setelah kematian kedua orang tuanya. "Mianhae."
Sunny memeluk Sungmin kembali melihat tingkah Sungmin yang begitu menggemaskan di matanya. "Lihatlah sepupuku yang begitu menggemaskan ini~" Lalu gadis itu pun melepaskan pelukannya. "Ah! Aku ingin bertemu dengan Taeyeon-ahjumma dulu!" Lalu setelah itu dia pergi dari hadapan Sungmin dan berlari menuju dapur.
"Sunny begitu mengkhawatirkanmu." Sungmin melirik Hyukjae yang perlahan berjalan mendekat padanya. "Dari rumah kami di Jepang sampai ke sini, dia selalu mengkhawatirkanmu."
Sungmin yakin bahwa dia melihat kilat merah di mata Hyukjae sebelum iris mata itu kembali berwarna hitam. Tidak, ia tidak salah lihat mengenai itu.
"Hyukjae…" Sungmin terdiam cukup lama memandang pada bola mata Hyukjae, "Kau—"
Hyukjae tersenyum, mengerti apa yang dimaksud Sungmin. "Jangan beritahu Sunny." Hyukjae memeluk Sungmin, menyalurkan kerinduannya selama ini. "Aku tidak ingin membuat kakakku kecewa."
"Siapa yang telah mengubahmu?" Sungmin membiarkan Hyukjae memeluknya tanpa membalasnya.
"Menurutmu siapa?" Sungmin melirik ke arah Kyuhyun yang tengah memandang pemuda asing dengan tatapan tajam. Sungmin tidak mengenal siapa orang itu. Tapi tampaknya pelayannya itu mengenalnya dengan baik. "Aku tahu bahwa Kyuhyun-sshi juga sama sepertiku." Hyukjae pun melepaskan pelukannya. "Ah, aku kenalkan kau dengan seseorang." Hyukjae pun melangkah cepat dan menarik pemuda di samping Kyuhyun ke hadapan Sungmin. "Sungmin-ah, perkenalkan, dia adalah Lee Donghae, pelayanku."
"Salam kenal, Tuan Muda Sungmin." Pemuda yang bernama Donghae itupun menunduk sedikit kepalanya sebagai bentuk hormat. Setelah ia tunggu selama hampir semenit lamanya, Sungmin tidak juga membalas sapaannya. Ia pun mengangkat kepalanya dan memandang Sungmin heran. "Tuan Muda?"
Hyukjae yang memandang wajah sepupunya itu berubah menjadi cemas. "Sungmin-ah?"
Sungmin memandang Donghae sejenak lalu beralih ke arah Hyukjae. Ekspresinya datar. Dan setelah itu ia berbalik dan menuju kamarnya.
Hyukjae tidak tahu apa yang terjadi pada Sungmin. Ia paham betul bahwa Sungmin merupakan orang yang dingin. Tapi ia tidak pernah sedingin ini sampai-sampai tidak menjawab sapaan orang lain.
Kyuhyun yang melihat tingkah Sungmin yang tidak biasa itupun memilih untuk menyusul Tuan Mudanya ke kamar. Ia ingin tahu mengapa Sungmin bertingkah seperti itu.
"Tuan Mu—"
"Cho."
Ucapan Kyuhyun terpotong sesaat setelah ia menutup kamar Tuan Mudanya. Ekspresi yang ditampilkan Sungmin tidak terbaca. Membuat ia mengira-ngira apa yang hendak diucapkan oleh Tuan Mudanya.
"Aku yakin kau mengenalnya, lelaki itu."
Kyuhyun terdiam dan memilih membuang pandangan ke arah jendela yang terbuka.
"Jawab, Cho."
Kyuhyun menggertak giginya pelan. "Dia… Hyungku."
Tangan Sungmin mengepal. Ia berjalan cepat ke arah Kyuhyun yang berjarak dua meter di hadapannya dan mencengkram permukaan jas yang dipakai oleh Kyuhyun. "Apa yang telah ia lakukan pada Hyukjae, hah?"
Kyuhyun tak menyangka bahwa ia mendapati Sungmin seemosi ini. Kyuhyun merasa bahwa ini pertama kalinya ia melihat Sungmin yang begitu emosi. "Aku… tidak tahu."
"Kau pasti tahu, Cho!" Sungmin makin mencengkram jas milik Kyuhyun. "Apa aku juga akan berubah sepertimu karena membiarkanmu mengambil darahku?"
Kyuhyun menggeleng. "Tidak." Ia melepaskan cengkraman Sungmin dan menggenggam kepalan tangannya. "Sebanyak apapun aku meminum darahmu. Kau tidak akan menjadi seperti kami, Tuan Muda. Kami tidak memiliki racun di taring kami."
"Lalu kenapa Hyuk—"
"Dia pasti meminum darah vampire."
Sungmin terbelalak. "Apa?"
Kyuhyun tersenyum lembut. Pancaran matanya menghangat saat memandang ke dalam bola mata Sungmin. "Seperti yang kita tahu bahwa Tuan Muda Hyukjae selama ini menderita kanker. Aku yakin Hyung menawarkan darahnya untuk kesembuhan Tuan Muda Hyukjae dan membuat dirinya menjadi seperti kaum kami."
Sungmin menundukkan kepalanya dan melepaskan tangannya dari genggaman Kyuhyun. Ia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Hyukjae. "Kenapa… kenapa harus Hyukjae yang menjadi seperti ini." Tanpa terasa air matanya menetes perlahan. "Bagaimana jika ia memburu manusia dan membunuhnya? Apa Hyukjae akan menjadi pembunuh?" Membayangkan jika sepupunya itu berlumuran darah dan membunuh manusia sanggup membuat tubuh Sungmin bergetar hebat. Airmatanya pun semakin deras mengalir menuruni pipinya.
"Tidak, tidak seperti itu, Tuan Muda." Kyuhyun dengan cepat memeluk Tuan Mudanya dan membenamkan wajah yang penuh air mata itu ke dadanya. "Tuan Muda Hyukjae akan bergantung pada darah Hyung dan tidak akan membunuh manusia. Karena darah Hyung lah yang membuat dia menjadi vampire."
Kyuhyun bisa merasakan badan Sungmin berhenti bergetar. Tuan Mudanya itu mendongak untuk menatap wajah Kyuhyun. "Benar kah?"
Kyuhyun mengangguk sekilas dan tersenyum tipis. "Tentu saja."
"Jadi dia selamanya akan bergantung pada darah hyungmu?"
Kyuhyun mengangguk lagi.
Raut wajah Sungmin terlihat tenang. Ada raut kelegaan yang terbaca di wajahnya. Tapi itu hanya sementara ketika raut wajahnya kembali murung.
"Sebaiknya Tuan Muda beristirahat." Kyuhyun mengelus-elus rambut hitam Sungmin yang membuat remaja itu merasa nyaman.
Sungmin tak menyahut, hanya menganggukkan kepalanya sekali yang menandakan dirinya menyetujui ucapan Kyuhyun. Yang Sungmin butuhkan saat ini adalah menenangkan diri. Kyuhyun yakin bahwa remaja itu sedikit syok saat mengetahu apa yang terjadi pada sepupunya itu.
Kyuhyun menyelimuti tubuh Sungmin sampai ke dagu, melindungi tubuh mungil itu dari hawa dingin yang menyerang pagi ini. "Beristirahatlah. Nanti siang aku akan bangunkan Tuan Muda untuk makan dan minum obat."
Lagi-lagi Sungmin hanya menganggukan kepalanya dan memejamkan matanya.
Ketika Kyuhyun keluar dari kamar Tuan Mudanya, Sunny dan Hyukjae langsung memandangnya dengan tatapan bertanya-tanya. Kyuhyun ingin mengucapkan sesuatu untuk menenangkan kedua bersaudara ini, tapi begitu melihat hyungnya berdiri di belakang Hyukjae membuat raut wajahnya mengeras.
"Oppa, apakah Sungmin-ah baik-baik saja?" Sunny bertanya yang membuat pandangannya beralih pada Sunny.
"Ya, Tuan Muda hanya merasa tidak enak badan."
"Bolehkah kami melihatnya?"
Kyuhyun tersenyum tipis. "Untuk saat ini tidak bisa. Dia sedang beristirahat."
"Begitu." Raut wajah Sunny langsung berubah murung.
"Tapi, jangan khawatir. Tuan Muda akan bangun nanti siang saat jam makan telah tiba."
Raut wajah Sunny berubah cerah. Sunny menjentikkan tangannya seakan mendapatkan ide yang bagus. "Ah, kalau begitu aku akan buatkan makan siang yang spesial untuk Sungmin dan juga kita semua. Hmm, mungkin aku butuh Taeyeon-ahjumma dan Jessica-unnie untuk membantuku." Lalu gadis itupun pergi dari hadapan Kyuhyun.
Namun Hyukjae masih di sana. Ia terdiam seolah tak terpengaruh pada ucapan Kyuhyun. Ia menundukkan wajahnya. Tapi Kyuhyun tahu bahwa sepupu Tuan Mudanya ini tengah bersedih.
"Pasti ini semua salahku."
Kyuhyun melirik pada hyungnya yang berdiri di seberangnya. Namun Donghae hanya mengangkat bahunya, seolah-olah mengatakan bahwa ini semua bukanlah urusannya.
"Tuan Muda selalu dingin terhadap orang asing. Bukankah dia memang seperti itu?" Kyuhyun mengelus-elus rambut coklat milik Hyukjae. Membuat Hyukjae mendongakkan kepalanya menatap Kyuhyun yang terlihat lebih tinggi dari dirinya.
"Ya, kau benar, Kyuhyun-sshi." Hyukjae tertawa. "Ah, bodohnya aku sampai berpikir seperti ini."
"Sebaiknya kita tinggalkan Tuan Muda. Jangan sampai kita membangunkannya."
.
.
.
.
.
Sepiring nasi goring kimchi dan segelas air putih ditambah dengan beberapa buah anggur sebagai makanan penutup menjadi menu makan malam yang dibawakan Donghae untuk Tuan Mudanya di kamar. Meskipun Tuan Mudanya tak makan nasi sampai satu tahun ke depan pun Donghae yakin ia takkan apa-apa. Karena saat ini makanan manusia bukanlah makanan pokoknya saat ini. Tapi Donghae juga tidak ingin membiarkan para manusia itu bertanya mengapa Tuan Mudanya tidaklah makan untuk waktu yang lama. Dia tidak ingin para manusia itu tahu mengenai kondisi Tuan Mudanya yang berbeda. Yah, pengecualian bagi adiknya dan juga Tuan Muda Sungmin yang sudah mengetahuinya dari awal.
Ketika Donghae membuka kamar tamu yang ditempati Tuan Mudanya, suasana gelap langsung menghampiri pandangannya. Di tambah lagi Tuan Mudanya yang berdiri di hadapan jendela yang terbuka, membuat hembusan angin yang begitu kencang menghuni kamar ini. Tapi Tuan Mudanya hanya diam berdiri mematung, seolah-olah tak terganggu dengan hembusan angin tersebut.
"Biarkan seperti ini, Donghae-yah." Kegiatan Donghae terhenti saat dirinya mencari saklar lampu agar kamar ini memiliki penerangan. Hyukjae yang memandang suasana di luar jendela kini menghadap dirinya dengan mata yang berpendar merah.
Donghae tersenyum tipis sembari melangkah maju menuju ke arah Hyukjae. "Wah, wah~ Kau lapar, Tuan Muda Hyukjae?"
"Aku menginginkannya, Donghae-yah. Aku menginginkannya."
Donghae meletakkan nampan yang dibawanya ke meja di dekat kasur. Ia mendudukkan dirinya di tepi kasur dan membuka jas hitam yang dikenakannya. Ia juga membuka tiga kancing teratas kemeja putih polos yang terpasang di tubuhnya. Iris mata Donghae perlahan-lahan berpendar merah, dan kedua tangannya terangkat, mengajak Hyukjae untuk mendekat padanya. "Kemarilah, Tuan Muda."
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Hyukjae menghambur ke pelukan Donghae hingga menyebabkan dirinya terbaring di kasur dengan Hyukjae yang berada di atasnya.
"Kau boleh meminumnya sekarang."
Hyukjae mengendus-ngendus permukaan leher kanan milik Donghae, seolah mencari titik dimana ia bisa menghunuskan taringnya di permukaan leher Donghae. Begitu ia menemukannya, ia jilat sekali dan menghujamkan taringnya dalam-dalam demi menyesap darah untuk memenuhi dahaganya.
Donghae memeluk Tuan Mudanya, kemudian mengelus helai coklat dengan sayang. Membuat Hyukjae sedikit bersemangat meminum darah Donghae.
Hyukjae mengakhiri acara melepas dahaganya. Ia menjauh dari leher Donghae dengan menahan kedua tangannya di sisi kepala pelayannya itu. Mata yang pada awalnya berpendar merah, perlahan-lahan memudar dan berganti menjadi hitam legam seperti sebelumnya.
Donghae sedikit terkekeh saat melihat lelehan darah menurun dari bibir ke dagu Hyukjae, hingga berakhir dengan menetes ke pipinya. "Kau malam ini meminum sedikit lebih banyak dari biasanya." Ucapnya sembari mengusap lelehan darah dari dagu Hyukjae dengan jempolnya, lalu kemudian menjilatnya.
Hyukjae mengalihkan pandangannya dari tatapan Donghae. "Maafkan aku. Aku merasa sedikit kelaparan malam ini."
"Tak apa." Donghae menarik Hyukjae kembali ke pelukannya dan mengusap helai rambut coklatnya. "Asalkan kau memenuhi janji yang kita buat sebelumnya. Bukankah aku sudah memberikanmu keabadian dan juga kesembuhan dari penyakitmu?"
"Aku ingat itu, Donghae-yah." Ucap Hyukjae. Ia sedikit mencengkram kemeja putih Donghae yang sedikit ternoda darah akibat perbuatannya. "Asalkan kau tak mengorbankan siapapun, sekalipun itu adalah Sungmin yang menjadi target utama kita."
Donghae sedikit mendengus. "Tenang saja. Sungmin hanya mati sejenak."
Perkataan Donghae membuat emosi Hyukjae naik. Ia bangkit dan mencengkram kuat kemeja Donghae. "Kau! Bukankah sudah kubilang—"
"Aku hanya membuatnya mati sejenak, Hyukjae." Tatapan Donghae menajam. Sanggup membuat tubuh Hyukjae sedikit bergetar walau hanya dengan tatapan itu. "Kau tahu apa artinya itu. Bukankah kau sudah pernah mengalaminya?"
Cengkraman Hyukjae mengendur. "Aku tahu. Maafkan aku."
Donghae mendesah. Ia merasa menyesal karena telah menekan emosi Hyukjae dengan tatapan tajamnya. Ia memejamkan matanya dan kembali menarik Hyukjae dalam pelukannya. "Maafkan aku juga karena telah menekanmu."
Hyukjae mengangguk pelan. "Tapi kau harus berjanji untuk tak membuat Sungmin meninggalkanku selamanya."
Lagi-lagi Donghae mendesah. "Harus berapa kali aku katakan untuk menyakinkanmu? Kau tidak percaya padaku, Tuan Muda Hyukjae Yang Terhormat?"
Hyukjae terkekeh. Suasana tegang yang melanda mereka berdua perlahan memudar. "Aku hanya takut kau mengkhianatiku."
"Kapan aku pernah mengkhianatimu?"
Hyukjae terdiam. Memang benar bahwa selama ini Donghae tidak pernah meninggalkannya, apalagi sampai mengkhianatinya. Bahkan ia merasa bahwa Donghae telah menjaganya selama dua puluh empat jam penuh, hingga ia merasa dirinya aman.
"Dua hari." Hyukjae mendongak ke atas, memandang Donghae dengan bingung. "Dua hari lagi kita akan melakukannya."
Hyukjae berubah murung. Ia menggigit bibirnya. "Aku belum siap."
"Siap belum siap kita harus melakukannya. Kita tidak ada waktu lagi, Hyukjae."
Hyukjae tidak tahu apakah ia sanggup melakukan semua ini pada Sungmin. Ia sangat menyayangi Sungmin. Tapi berbuat seperti ini sama saja dengan mengkhianatinya. Tapi ia harus melakukannya daripada menyesal kemudian hari. Lagipula, semua yang ia lakukan demi masa depan Sungmin, bukan untuk keuntungan dirinya pribadi ataupun Donghae. Ya, ini semua demi Sungmin.
"Kau harus melakukannya. Karena jika tidak, kau, aku bahkan Sungmin sekalipun tidak aka nada lagi di dunia ini."
Hyukjae memejamkan matanya, guna memantabkan dirinya. Setelah menghirup nafas dan menghembuskan nafasnya perlahan, ia sudah yakin bahwa ia akan melakukan semuanya.
"Aku akan melakukannya, Donghae-yah."
…
TBC
…
Maaf Haren harus memotongnya sampai sini. Pendek banget? Iya, Haren tau kok : Sebenernya Haren agak lupa plotnya habis ini. Tapi yang pasti plot klimaks sampai ending sudah Haren rencanain kok. Cuma adegan habis scene ini dan menuju klimaks aja yang Haren lupa. Entah Haren pikirkan lagi. Ntar kalau dipaksain malah kacau plotnya :
Maunya sih Haren mikirin plot satu adegan dulu baru dipublish. Tapi takutnya ntar Haren malas ngetik trus nga dilanjut-lanjutin sampai bertahun-tahun kemudian kan nga lucu. Jadi terpaksa dan bener-bener terpaksa harus dipotong sampai sini.
Oke, review!
And last, makasih udah review chapter sebelumnya
