Happy reading guy's~

Jongin keluar dari mobil KIA picanto berwarna silver disampingnya.

"Jongin, nanti jika Sehun tak bisa menjemputmu telfon saja aku". Jongin mengangguk. Xiumin tersenyum, ia mulai menghidupkan mesin mobilnya.

"Hati-hati hyung". Kali ini gantian Xiumin yang mengangguk, perlahan mobil mungil itu melaju hingga tak terlihat lagi dari pandangan Jongin.

"Wah, aku tak menyangka ternyata sekarang kau bergaul dengan seorang ajusshi". Jongin terkejut mendengar suara menyebalkan tepat di telinganya. Itu Baekhyun, sahabat menyebalkannya.

"Jangan sembaran bicara". Setelah mengatakan hal itu Jongin melenggang pergi tanpa memperdulikan berbagai protes yang dilontarkan Baekhyun di belakangnya.

"Hey Kai, tunggu aku". Baekhyun mengekori Jongin hingga kelas mereka.

"Baekhyun, soal kemarin.. Aku minta maaf". Jongin mendudukan bokong berisinya di bangku tepat di sebelah bangku Baekhyun.

"Tak usah dipikirkan". Barkhyun mengambil ponsel miliknya dan mulai memainkannya.

"Btw, Malam ini Kris sunbae mengundangmu ke pestanya". Jongin menoleh ke arah Baekhyun yang masih asik dengan ponselnya.

"Pesta? Pesta apa?". Baekhyun mengangkat bahunya.

"Katanya sih pesta untuk merayakan menangnya dia saat balapan kemarin.. Oh iya... Siapa pria yang mengganggu balapan kemarin". Baekhyun menatap Jongin dengan padangan menuntut.

"D-dia.. Hyungku". Jongin menjawab dengan terbata, tapi Baekhyun tak mau ambil pusing, ia hanya mengangguk.

"Ada apa dengan keningmu, Kai?". Jongin menyentuh keningnya, ia tersenyum dan menceritakan kejadian tentang lukanya yang sebagian dibuat dengan kebohongan.

.

.

_HunKai_

.

.

Sehun memijat pangkal hidungnya. Kepalanya berdenyut karena beberapa menit yang lalu Luhan memberikan kabar buruk tentang perusahaan sang ayah yang berada di China.

Sebagai anak tunggal ia harus melakukan sesuatu untuk membatu prusahaan ayahnya yang tengah berada dalam masalah. Ia rasanya ingin pulang ke China tapi disana banyak orang yang benar-benar malas untuk ia temui terlebih ibu tirinya.

"Ah, aku tak mungkin pulang". Sehun berguling-guling di atas ranjangnya, hari ini ia tak masuk kerja karena diare yang dialaminya.

"Hanya satu orang yang dapat membantuku". Sehun meraih ponselnya dan segera menghubungi Luhan.

"Bagaimana? Kau sudah dapat solusinya?". Suara Luhan terdengar begitu kacau dari sebrang sana.

"Hanya satu cara, dan hal ini sama saja dengan menginjak-injak harga diriku sendiri". Suara Sehun tak kalah kacau, ia pusing harus melakukan apa. Semoga ini adalah jalan yang terbaik.

"Hubungi dia. Xiao Lu Feng".

.

.

_HunKai_

.

.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen Sehun, Jongin terus saja memasang wajah murung. Ia dipaksa untuk mengajak Baekhyun ke apartemennya, persetan dengan foto pernikahannya.

"Hei, ada apa dengan wajahmu?". Baekhyun yang tengah menyetir mobil menegur Jongin yang tengah murung, seolah-olah ada badai di atas kepalanya.

"Tak ada, cepat sedikit". Jawab Jongin ketus. Tak ingin memperpanjang pembahasannya, Baekhyun segera menambah kecepatan mobilnya.

.

.

_HunKai_

.

.

Sehun menatap tajam ke arah pria mungil dihadapannya, sorot matanya mengatakan bahwa Sehun tak suka dengan kehadiran pria pendek itu di apartemennya.

"Hyung, berhenti menatapnya seperti itu, kau membuatnya merasa tak enak". Jongin menarik ujung baju Sehun yang berada di sebelahnya dan berbisik di telinganya.

"Ah.. Aku Byun Baekhyun, teman sekelasnya Kim Jongin. Salam kenal.. Em.. Hyung". Baekhyun memperkenalkan dirinya dan sedikit membungkuk. Bersikap sopan untuk kesan pertama itu suatu hal yang Bagus kan?.

Sehun terdiam, entahlah ia sedikit merasa cemburu dengan Baekhyun. Tadi Baekhyun bilang bahwa ia teman sekelasnya Jongin kan? Otomatis mereka bertemu setiap hari, dan hal itu sukses membuat Sehun Badmood.

"Hyung, temanku sedang memperkenalkan diri. Jangan bersikap dingin, aku mohon". Sehun menghela nafas dengan kasar, ini adalah permohonan dari beruang manisnya mana tega ia tidak menurutinya.

"Aku.. Oh Sehun... Suami dari Oh Jongin". Sehun mengakhiri perkataannya dengan smirk menyeramkan di bibirnya. Jangan di tanya tentang ekspresi Jongin dan Baekhyun yang hanya dapat melotot dengan tidak elitnya. Baekhyun melotot karena tak percaya sedangkan Jongin karena tak terima dengan ucapan Sehun yang blak-blakan, memang sih jika Sehun adalah suaminya tapi apakah harus mengatakannya di hadapan Baekhyun yang notabennya adalah sahabatnya.

"Maksudnya.. K-kau gay?". Baekhyun menatap Jongin dengan pandangan yang sulit di artikan, sedangkan Jongin panik mendapat tatapan seperti itu. Ia takut Baekhyun jijik dan membencinya, ia tak ingin kehilangan teman seperti Baekhyun walaupun kadang Baekhyun itu menyebalkan.

"Engh. Begin—"

"Dia gay karena aku". Sehun memotong ucapan Jongin barusan dengan santai tanpa memperdulikan ekspresi kesal yang Jongin tunjukan semenjak Sehun mengatakan secara gamblang tentang status hubungan mereka.

Tapi, tunggu dulu. Sehun tadi mengatakan bahwa Jongin menjadi gay karenanya? Yang benar saja. Jongin itu masih normal, percaya diri sekali tuan Oh ini.

"Oh.. Em.. M-maaf". Baekhyun menundukan kepalanya, ia merasa tak enak dengan pertanyaan barusan terlebih sejak tadi Sehun menatapnya dengan tatapan tak suka.

"Baek, kau tak perlu minta maaf. A-aku harap kau tidak jijik terhadapku". Baekhyun mengangkat kepalanya saat mendengar suara lirih Jongin. Ia menggeleng cepat, 'kenapa Kai berpikiran aku akan jijik terhadapnya? Hubungan gay bukan suatu hal yang menjijikan'. Batin Baekhyun.

"Hey, kenapa kau berkata seperti itu? Hubungan gay bukanlah sesuatu yang menjijikan". Baekhyun tersenyum hingga matanya menyipit. Jongin menatap Baekhyun dan mengisyaratkan ucapan terima Kasih dari bibirnya.

Sehun memandang interaksi kedua pria dihadapannya. Sebuah pemikiran muncul begitu saja. 'Untuk apa aku cemburu padanya? Bahkan ia tak ada pantas2nya untuk menjadi seme Jongin. Lagipula lebih tampan aku daripada dia'. Sehun membanggakan dirinya sendiri dalam hati hingga sebuah senyuman muncul di wajahnya.

"Hyung, aku engh.. Mau minta izin". Jongin memangdang Sehun yang tengah tersenyum lebar dengan pandangan yang kosong, terdengar menyedihkan kan?.

"Hyung!". Jongin menyentuh pelan bahu Sehun namun reaksi yang diberikan oleh Sehun sangat jauh dari prediksinya.

Sehun berbalik ke arah Jongin dan memeluknya erat, hingga menciptakan pandangan aneh yang di lontarkan Baekhyun kepada keduanya.

"H-hyung s-sesak". Jongin memukul-mukul dada bidang Sehun dengan berutal agar Sehun melepaskan pelukan eratnya.

"Ada apa denganmu sih?". Jongin bertanya dengan kesal saat pelukan itu sudah terlepas.

"Aku hanya terlalu senang, sayang".

"Uhuk". Panggilan Sehun kepada Jongin barusan sukses membuat Baekhyun yang sedang berada diantara mereka menjadi salah tingkah sendiri.

"Em.. Maaf, silahkan lanjutkan". Baekhyun menundukan kepalanya ketika ia mendapat tatapan dari Jongin dan Sehun saat Baekhyun tak sengaja terbatuk.

.

.

_HunKai_

.

.

Jongin dan Baekhyun kini tengah berada dalam perjalanan menuju rumah Kris. Setelah mendapat izin dari Sehun tadi, Jongin dan Baekhyun segera melesat menuju kediaman keluarga Wu itu. Karena tak ingin membuang-buang waktu Baekhyun meminjam pakaian untuk dipakainya saat menghadiri pestanya Kris. Jadi ia tak perlu repot-repot untuk pulang hanya untuk berganti baju.

"Em.. Kai.. Kau tadi serius dengan ceritamu?". Baekhyun melirik Jongin sekilas. "Aku bahkan tak tau bahwa ibumu telah meninggal, ya tuhan teman macam apa aku ini". Baekhyun sedikit memukul stir mobilnya, ia merasa kecewa pada dirinya dan juga kepada Jongin. Ia kan temannya kenapa juga Jongin tidak bercerita apapun tentang ibunya seolah-olah ibu Jongin masih sehat dan hidup.

"Maaf Baek, bukannya aku tak ingin memberitahumu tentang ini. Aku bahkan lupa jika aku sudah kehilangan ibuku, aku masih tak percaya dengan kenyataan itu". Jongin menghela nafasnya pelan, jujur ia juga merasa bersalah pada Baekhyun.

"Em.. Baiklah, aku maafkan. Aku mengerti posisimu Kai. Tapi lain kali ajak aku ke makam ibumu". Jongin mengangguk dan menggumam pasti tentang hal itu.

Mobil hitam milik Baekhyun berhenti tepat didepan sebuah rumah besar yang sebagian dindingnya terbuat dari kaca. Kemeriahan sebuah pesta sangat terasa walaupun mereka baru masuk kedalamnya. Keramaian memenuhi seluruh sudut rumah besar itu.

"Wah.. Sepertinya si Wu itu sangat bangga karena sudah mengalahkan Chanyeol. Ini pesta sangat berlebihan, sungguh". Baekhyun tak henti-hentinya menggumam dan berdecak kagum tentang kemeriahan pesta milik Kris. Sedangkan Jongin hanya diam menikmati kemeriahan yang tersaji dihadapannya.

Baekhyun menarik pergelangan tangan Jongin ke arah meja bar disudut ruangan. Ternyata disana ada Jongdae yang tengah mengobrol dengan seorang bartender.

"Hey! Jongdae!". Jongdae yang merasa namanya dipanggil segera monoleh, dan mendapati Jongin dan Baekhyun yang sedang berjalan ke arahnya.

"Oh.. Kalian di undang juga? Kurikira hanya aku yang diundang dari kelas 2. Syukurlah aku tak perlu sendirian lagi haha". Jongin mendudukan dirinya disamping Baekhyun. Setelah mereka duduk, Baekhyun asik mengobrol dengan Jongdae tanpa memperdulikan Jongin yang mulai meneguk wine dihadapannya.

"Kai.. Aku ada urusan dengan Jondae sebentar, kau tunggu saja disini ok?". Jongin tak menjawab, ia hanya mengakat jepolnya mengisyaratkan setuju dengan ucapan Baekhyun. Setelah Baekhyun dan Jongdae pergi, Jongin melanjutkan acara minumnya.

"Kim Jongin?". Sebuah tepukan mendarat dipundak Jongin dan disertai sebuah suara yang memanggil namanya, Jongin menoleh. Itu si pemilik pesta, Wu YiFan atau lebih akrab dipanggil Kris Wu.

"Oh.. Sunbae.. Pestamu luar biasa". Jongin memulai obrolan di antara mereka, toh daripada ia tidak memiliki teman mengobrol kan?

"Terimakasih, ngomong-ngomong jangan panggil aku seperti itu. Panggil Hyung saja agar terlihat akrab". Jongin mengguk pelan dan tersenyum simpul.

"Jongin.. Aku ingin bertanya sesuatu". Setelah memesan wine kepada bartender, Kris memulai obrolan yang sedikit serius dengan Jongin.

"Tanyakan saja". Antara perduli dan tidak, Jongin tetap meneruskan acara minumnya. Entahlah hari ini ia ingin merasakan semua bebannya terangkat walaupun hanya sebentar.

"Saat balapan kemarin.. Boleh aku tahu siapa nama pria yang bersamamu itu?". Jongin menoleh, ia menautkan alisnya. Bingung? Tentu saja, untuk apa kris menanyakan tentang suaminy— m-maksudnya Oh Sehun?.

"Hanya untuk memastikan, sepertinya aku pernah melihatnya". Melihat ekspresi Jongin yang seperti itu, Kris pun segera menjaskan maksud dari pertanyaannya barusan.

"Namanya.. Oh Sehun". Kris terdiam sejenak dan setelahnya ia tersenyum cerah, hey ada apa dengan Kris sebenarnya?

"Akhirnya.. Aku bisa bertemu dengannya". Sebuah kalimat yang tak dimengerti Jongin melucur begitu saja dari bibir Kris.

"Maksudmu?"

"Oh Sehun.. Atau.. Wu Shixun.. Dia adalah kakak tiriku..". Kris berucap dengan semangat dan Jongin hanya dapat mengeluarkan ekspresi terkejutnya.

"APA?!". Jadi.. Secara tidak langsung Kris adalah adik iparnya? Hell itu mimpi buruk.

"Kenapa reaksimu berlebihan?". Melihat ekspresi Jongin yang jauh dari ekspetasinya membuat Kris sedikit bertanya dalam hatinya, apa hubungan Sehun dengan Jongin sebenarnya?

"T-tidak.. A-ku hanya.. Terkejut". Jongin gugup, ia bingung harus menjawab pertanyaan Kris dengan jawaban seperti apa, tidal mungkin kan Jongin menjawab. 'Jika kau benar adik tiri Sehun Hyung berarti aku adalah kakak iparmu' maaf-maaf saja, itu bukan gaya Jongin.

"Em... Boleh aku minta alamat Sehun Hyung? Aku.. Merindukannya". Jongin bimbang, ia bingung harus memberikan alamat apartemen Sehun atau tidak. Jujur saja ia tak ingin Kris mengetahui hubungannya dengan Sehun, cukup Baekhyun saja yang tau. Tapi, jika alasannya rasa rindu apa boleh buat. Dan tanpa berpikir lebih panjang lagi, akhirnya Jongin mengiyakan keinginan Kris dan dihadiahi ucapan terima Kasih dari Kris.

Tiba-tiba saja Jongin teringat sesuatu yang 'sedikit' membuat dirinya cemburu.

"Em.. Hyung bilang tadi adik dari Sehun hyung. Jadii...

Apakah kau tau..

Tentang..

Wendy?"

.

.

Tbc~

Xiao Lufeng. Ada yang tau?

gw pinjem nama yaw.. hehehe:v

Sorry for typo's