Enjoy guys. \(^o^)/

Disclaimer: Muter-muter di Surabaya, Harry Potter JK Rowling yang punya


Chapter VII

Ketika aku tersadar aroma rumah sakit langsung tercium oleh ku. Aku sama sekali tak tahu kapan aku dipindahkan.

Ku coba membuka mataku perlahan, menahan sakit kepala yang samar masih aku rasakan.

"Rose, sukurlah kau sudah bangun." Seru albus. "Sebentar , aku akan memanggil Madam Hilda." Albus lalu berlari meninggalkanku kesebuah pintu kayu yang terletak di pojok ruangan.

Aku bangkit dari tidurku. Kurasa demamku sudah turun walaupun kepalaku masih sedikit pusing. Aku melihat sekeliling berharap mataku menangkap sosok seseorang, tapi ruangan ini kosong. Hanya ada beberapa tempat tidur dengan sprei putih dan lemari-lemari kayu yang berisi berbagai macam ramuan.

Malfoy tak disini, yang ada hanyalah jubah Slytherin nya yang terlipat rapi di sebelahku. Aku ingin meraihnya namun tiba-tiba Albus datang bersama Madam Hilda dan tak lama pula Louis datang dari pintu masuk.

"Oh syukurlah kau sudah bangun." Madam Hilda melihat kearahku dengan lega, lalu ia menyiapkan sesuatu untuk ku, yang aku tau itu pasti tak enak.

Madam Hilda bertubuh pendek dan gemuk, hidungnya lancip dengan wajah yang bulat,beberapa uban sudah tumbuh di kepalanya.

"Ini minum lah. Ini akan menghilangkan sakit kepalamu." Ujarnya sambil menyodorkan mangkuk keramik yang didalamnya terdapat ramuan kental berwarna hijau pekat dengan bau yang menyengat.

Aku meneguk ramuan yang pahit itu. Menahan rasa ingin muntah, benar-benar tidak enak. Albus dan Louis hanya memandangiku dengat sedikit berjengit melihatku meminum ramuan itu sampai habis.

"Untung saja pagi-pagi sekali Miss. Thompkins datang dan membukakan pintu itu, kalau tidak demam mu pasti bisa semakin parah." Madam Hilda mengambil mangkuknya. "Kau juga harus berterima kasih terhadap Mr Malfoy, Miss Weasley." Jarinya menunjuk jubah Slytherin disampingku lalu pergi meninggalkan kami. Meninggalkan aku, Albus, dan Louis untuk berbicara.

"Jadi..." Louis memicingkan matanya. "Apa yang kau lakukan sih sama si Malfoy itu? Tak mungkin kan kalau kau dan si Malfoy itu...ah, bukannya kau membencinya ya?

"Apa sih yang kamu pikirkan Louis? Memangnya aku memiliki otak yang sama dengan dayang-dayang bodohmu itu apa?" teriakku kesal. "Anggap saja aku hanya mengalami malam yang buruk. OKE!" Aku menyandarkan punggungku pada bantal.

"Lalu bagaimana ceritanya kalian bisa terkurung begitu. Kalau itu kebetulan, kebetulan yang aneh. Kau dan Malfoy terkunci dalam satu ruangan semalam suntuk. Aku tak menyangka kalian tak membunuh satu sama lain." Albus tertawa.

"Sama sekali tak lucu Al." Aku mendengus jengkel. "Aku baru saja bangun dan kalian langsung mengolok-olok ku seperti ini. Benar-benar deh. Lagian si Malfoy itu Cuma meminjamkan jubahnya. Itu saja."

"Maaf maaf, hanya saja waktu mendengar kalau kau ditemukan oleh si Thompkins terkunci dalam ruangan itu bersama Malfoy benar-benar membuat kami kaget. Terlebih lagi saat aku mendengar Malfoy menolongmu seperti itu." Ujar Albus.

"Kenapa ya? Aku juga kaget. Apa dia salah makan ya? Atau terkena mantra aneh yang bisa mengubah sifat seseorang seperti itu? Atau jangan-jangan Malfoy punya seorang kembaran!" Aku berfikir sambil mengingat-ingat kejadian semalam yang membuat seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku. Ah, ini pasti karena obatnya tadi. "Yang penting aku tak akan tertipu. Kebaikannya itu tak bakal bisa menutupi semua sifatnya yang menyebalkan terhadapku!" aku kembali meyakinkan diriku.

"Tidak tau deh, yang penting kami lega sekarang kau baik-baik saja." Mereka berdua secara bersamaan mengacak-acak rambut merahku.


Sepanjang perjalanan kembali ke asrama aku sama sekali tak melihat sosok Malfoy. Aku mendekap jubahnya di dadaku. Bau mint nya masih sangat tercium, membuatku kembali teringat kejadian tadi malam. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, sadar akan apa yng baru saja aku pikirkan.

Focus Rose! Focus! Kau tak boleh melembek terhadapnya hanya karena ia meminjamimu jubah. Demi Merlin! Scorpius Malfoy adalah musuh terbesarmu. Kau tak boleh tertipu oleh sifat manisnya.

Aku terus mengulang-ulangnya sepanjang perjalanan sampai akhirnya aku menyadari tatapan liar para siswi-siswi Hogwarts. Bahkan samar-samar aku bisa mendengar mereka berkata dasar jelek, rambut singa, kutu buku, culun, dan bahkan penggoda.

Aku memelototi mereka dengan tatapan kejam andalanku, dan itu berhasil membuat mereka diam dan pergi.

"Kenapa sih mereka?" tanyaku kepada Albus dengan nada yang pelan.

Tapi Albus tertawa."Kau taulah gosip disini sangat cepat menyebar."

" Lebih cepat dari pada si Peeves." Louis menambahkan dengan santai.

"Gosip? Apa sih maksudmu" baru selesai menutup mulut aku langsung ingat bahwa si Malfoy itu adalah si tuan-tampan-dan-seksi-nomor-satu-di-seantero-Hogwarts bagi gadis-gadis bersel otak satu ini.

"Well, ada beberapa versi sih." Jawab Albus. Ia menghitung dengan jarinya, "Pertama, kau memantrai Scorpius Malfoy. Kedua, kau diam-diam mengikuti Malfoy menuju menara, mengunci pintu dan membuang kuncinya. Ketiga, kau mencoba untuk mencumbu si Malfoy."

Aku meng-EEWWWW pada kalimat terakhir yang Albus katakan. Serius deh gadis-gadis itu benar-benar bodoh. Apa sih yang ada dalam otak mereka. Tak bisa dipercaya.

"Louis" panggil seorang gadis hampir seperti merengek dari arah belakang kami. Ia langsung memeluk pinggang Louis dengan lengannya yang kecil. Gadis itu berambut hitam legam yang panjang dan lurus.

"Hei Luwina." Sapa Louis lembut dengan senyum penggodanya. Oh tolong deh Louis.

Gadis itu terkekeh sok imut dan berbisik di telinga Louis.

Louis menatapku seakan menimbang-nimbang sesuatu. Aku tahu apa yang sedang dia pikirkan. Aku memelototinnya. Lalu ia kembali menatap Luwina.

"Maaf dear, sepertinya kali ini bukan waktu yang tepat. Kau tau kan Rose baru saja sembuh. Mungkin nanti malam kita bisa bertemu." Louis mengedipkan matanya.

Luwina cemberut, lalu menatapku dari ujung rambut hingga ke kaki dengan tatapan sinis yang seakan bilang kau-itu-nggak-banget-aku-lebih-cantik-daripada-kau.

"Terserah deh." Lalu ia pergi meninggalkan kami dengan kesal.

"Whoa Rose sepertinya kau jadi musuh sejuta umat sekarang." Ledek Albus.

"Hahaha, lucu sekali Al." Balasku sinis.

Sesampainya di ruang rekreasi Gryffindor, Lily langsung berlari mendatangiku dengan mata berbinarnya yang menggebu-gebu bahkan sebelum aku bisa menghirup aroma kayu yang terbakar di perapian dan menarikku menjauh dari Albus dan Louis.

Matanya menangkap jubah Slytherin milik Malfoy yang aku pengang. Ia memekik girang, "Ini milik Malfoy?" Ia langsung mengambilnya tanganku. Dengan cepat ia memakai Jubah itu, berputar-putar dengan girang dan menciumi lengan jubahnya.

Aku hanya bisa melongo heran melihat tingkah sepupuku yang satu ini. Dasar bodoh.

"Oh Merlin! Baunya Malfoy banget." Dia memekik girang lagi. Aku tak sanggup berkata-kata.

"So, ceritakan padaku apa yang kalian lakukan semalam?" Tanyanya penasaran setelah ia berhasil keluar dari fantasi gilanya. Berharap mendapatkan sebuah cerita fantastis dari mulutku.

"Tak ada Lils." Aku memutar mataku, tapi Lily tetap saja menatap ku tak percaya.

"Urgh, serius deh. Kami cuma tak sengaja ketemu di menara dan terkunci berdua disitu. Aku sakit dan dia meminjamkan jaket nya agar aku tidak kedinginan itu saja." Aku berbicara sangat cepat dan menghembuskan nafasku."Puas kau sekarang?"

"Merlin! Merlin! Merlin! Oh Rose! Romantis sekali. Hidupmu sempurna sekali Rose" Pekiknya. Aku hanya bisa melongo keheranan berharap aku salah mendengar. Permisi Lily, kau masih waras kan?

"Itu benar-benar seperti film-film Muggle itu! Kau ingat kan film yang sering ditonton Mom. Oh! Terperangkap berdua dengan seorang yang super duper ganteng dalam sebuah ruangan yang sempit ditengah-tengah badai, tak ada orang lain selain mereka berdua. Si ganteng itu berusaha menghangatkan si gadis yang sedang kedinginan, dan akhirnya mereka berciuman. Oh! Apakah kalian berciuman?"

Aku sering berfikir kalau aunt Ginny semakin tua dia semakin mirip dengan Grandad Weasley, suka hal-hal yang berbau Muggle. Terutama drama-drama romantis nya. Raknya malah terisi penuh dengan segala macam DVD romantis dari jaman klasik hingga yang terbaru. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku ketika melihatnya.

"Lily Potter! Bisa-bisa nya kau berkata seperti itu. Itu semua bukan seperti yang ada dalam otak kacang mu itu Lily." Bentakku marah. "Lepaskan jubahnya, kurasa itu yang membuatmu gila."

Dengan berat hati ia melepaskannya dan memberikannya lagi kepadaku.

"Tapi Rose, tak pernahkah berfikir kalau ini semua mungkin adalah TAKDIR?" dia memberi penekanan pada kata takdir. "Dan di film itu si gadis dan si tampan itu biasanya pesti menjadi sepasang kekasih lho."

"NO! Sama sekali tidak!" sergahku jengkel. "Lily itu hanya film. Dan akan ku pastikan hidupku tak akan berakhir sama dengan film bodoh yang kau tonton itu!" Aku merasakan suatu gejolak dalam perutku ketika aku mengatakan itu. Tapi aku tak mau memperdulikannya."Ku rasa aku harus bilang kepada aunt Ginny untuk tak mengizinkan mu menonton film-film itu lagi bersamanya"

Aku tak mau lagi berurusan dengan percakapan bodoh ini.

Aku meninggalkan Lily dan berjalan dengan cepat menuju ke kamarku. "Adikmu sudah gila!" kataku kepada Albus ketika melewatinya.

Sesampainya di kamar, aku melemparkan jubah Malfoy ke tempat tidur. Ini semua gara-gara kau jubah Slytherin sialan!

Mungkin bantal yang empuk bisa menenangkan pikiranku.