Previous Chapter :

"HOI! APA YANG BARU SAJA KAU LAKUKAN!" serunya

Judai langsung melindungi diri dari amukan Johan "A-Anu Johan~ Aku hanya ingin menyadarkan pikiranmu yang daritadi terus bengong~ Hahahaha~" jawabnya sambil tertawa garing

Twitch!

"SETIDAKNYA JANGAN SAMPAI MEMATAHKAN LEHERKU! IDIOT!" serunya lagi

"Hoo~ Akhirnya JOHAN sadar juga~ Yatta~ Aku ambil Tempura Udangmu yaaa~" tambah Judai bak tidak mempedulikan apa-apa langsung mengambil tempura udang di makanan Johan

"Hei! ITU MILIKKU!"

"Lalalalala~ Sekarang sudah jadi milikku~"

"SEJAK KAPAN!"

Sho yang berada di tengah-tengah keributan hanya bisa mengangkat bahu sambil mendesah "Benar-Benar deh~…"

.

.

Secret Bodyguard

chapter 7 by : Gia-XY

.

Disclaimer :

Yu-Gi-Oh! GX (c) Kazuki Takahashi

Story (c) YuGiOh Newbie Author

Kyora Yagami (c) Runa Ryuuokami

.

Warning :

OC, OOC, genderbender, krisis kosakata, criminal, typo(s), misstypo(s), beberapa kalimat code, gaje, gak nyambung (maybe?), dll.

.

A/N :

Yo! Readers! Kembali ke saya! Entah kenapa saat dikocok sata kena lagi TTwTT, dikocok 2 kali saya yang kena terus!? Emang udah nasib *mundung* Ya sudah, happy reading~! Semoga gak cacad deh~

.

Chapter 7

An Unforgettable Night

.

.

~In front of Room 201~

Lagi-lagi terjadi! Judai, Johan dan Sho baru saja selesai makan malam, tentunya dengan leher Johan yang agak sakit. Oh tenang-tenang, kata si petugas kesehatan lehernya biarin saja juga gak apa, paling nanti juga sembuh sendiri. Oke, back to topic! Dan lagi-lagi terjadi! Judai baru saja mau membuka pintu kamar, dan lagi-lagi ada surat, LAGI!? Dengan malas Judai mengambil surat tersebut.

'Jangan bilang dari Jun-Jun lagi...' pikir Judai malas begitu melihat tulisan di amplop.

Untuk Judai Yuki

PENTING!

Coba bayangkan teman-teman! Di suratnya, tulisan 'PENTING!'nya itu ditulis besar-besar dengan spidol, digaris bawah dan memakai tinta warna merah!

Judai lalu membuka pintu kamarnya sambil membolak-balik surat itu.

'Nanti saja deh baru dibaca... Males kalau jangan-jangan dari Jun-Jun lagi!' pikir Judai lalu masuk ke kamarnya.

"Surat lagi ane-san?" tanya Sho sambil mengikuti Judai masuk ke kamar.

Sedangkan Johan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat surat yang dipegang Judai.

'Jangan bilang nanti aku harus mengikuti cewek hyperactive ini lagi dan tau-tau itu bukan jebakan dari Half Vampire, LAGI!?' pikir Johan stres.

Johan lalu merebahkan dirinya di kasur dan berpura-pura tidak peduli dengan surat yang dipegang Judai. Sedangkan Judai, dia duduk di atas kasur Johan dan Sho sambil membuka amplop surat tadi.

Kenapa Judai tidak duduk di atas kasurnya sendiri? Kuberi sedikit penjelasan. Di kamar mereka itu, ada sebuah tempat tidur dengan 2 tingkat. Johan dan Sho (seharusnya) tidur di kasur bawah, sedangkan Judai (seharusnya) tidur di kasur atas. Hanya saja, kemarin malam begitu Judai dan Johan pulang berhujan-hujanan dengan payung HITAM (Johan : Woi Gia! Lu mau malu-maluin gue dengan ngingetin kejadian memalukan yang dibuat sama Litte ya!? Sampe tuh kata-kata 'hitam' pake huruf gede semua, di-bold, di-italic sama di-underline! ; Gia : Tuh lu tau` Mwahaha~ *Author gak bener*), mereka mereka melihat Sho sudah tidur di atas KASUR JUDAI. Yah, Sho lupa kalau ada anggota baru di kamarnya dan langsung saja tidur di kasur bekas teman sekamarnya yang bernama Hayato itu seperti biasanya. Jadi terpaksa semalam itu Judai tidur di kasur bawah bersama JOHAN, karena tidak mungkin Johan tidur bersama Sho di kasur atas karena kasur atas cuma muat untuk menampung satu orang saja. Lagipula Johan tidak mau kasurnya ambruk dan menimpa Judai Yuki—orang yang seharusnya dia lindungi kan?

Oke, penjelasan selesai. Dan soal kenapa Judai tidak ke kasurnya sendiri saja, karena dia terlalu malas untuk menaiki tangga kasur dan nantinya harus turun lagi untuk meletakkan suratnya ke atas meja. (Gia : Dasar anak males -.-"; Judai : KAYA LU KAGAK AJA!)

Begitu Judai membuka suratnya langsung sdaja wajahnya langsung terlihat bosan. Bagaimana caranya dia tidak bosan!? Begitu dia membuka suratnya langsung saja ada tulisan 'Dari : Jun Manjoume' yang membuat Judai langsung tambah malas membaca suratnya. Yah, kali ini Jun menulis identitasnya sebagai sang pengirim surat.

Dari : Jun Manjoume

AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU KABUR KALI INI!

POKOKNYA KAU HARUS DUEL DENGANKU BESOK!

Besok datanglah ke pantai sepulang sekolah!

POKOKNYA HARUS!

Aku tidak terima penghinaanmu tadi!

"Dari siapa ane-san? Tanya Sho sambil merapikan decknya sendiri.

"Dari Jun-Jun lagi~ AHHH! AKU MALASSS!" seru Judai sambil mengacak-ngacak rambutnya sendiri.

"Memang isinya apa? Ajakan duel lagi?" tanya Sho.

"Iya... Sho~ Gantikan akuuuu~ Aku sudah lelah hidup seperti ini~~~ Lebih baik aku matiiiii~! HUEEE~~!" seru Judai dengan lebaynya.

'Cih, kalau kau memang mau mati silahkan saja, tinggal serahkan dirimu ke Half Vampire dan masalah selesai. Kalau kau mati kan aku jadi tidak usah melindungimu lagi dan misi ini dinyatakan selesai karena kau sendiri yang memilih untuk MATI,' pikir Johan dengan kejamnya.

Haiah~ Nak Johan~ Jangan kejam begitu napa? Kasian tuh anak kan stres gara-gara diajakin duel mulu sama si Jun Manjoume alias Chazz Princeton dalam kamusmu itu, Jo.

"Jangan berkata seperti itu ane-san! Nanti mati beneran baru tau rasa!" seru Sho.

'Benar sekali Sho, kurasa kalau tidak ada aku juga sekarang dia juga sudah MATI di tangan Half Vampire seharusnya,' pikir Johan masih dengan sangat kejamnya.

"Oke-oke, maaf. Jadi, apa kau bersedia menggantikanku?" tanya Judai dengan puppy eyes.

Wow! Rupanya dia serius meminta Sho untuk menggantikannya menerima tantangan duel Jun!

"He!? TIDAK MAU! YANG ADA NANTI MALAH AKU KENA DEATHGLARENYA MANJOUME-SAN TERUS DIBANTAI HABIS-HABISAN!" seru Sho yang dari dasarnya takut sama si Jun.

"Johan..." panggil Judai sambil menengok ke Johan perlahan-lahan menggunakan jurus puppy eyesnya lagi.

"Tidak," kata Johan dengan singpalas (Singkat, padat, dan jelas) (Yurika : Abaikan saja, ini singkatan asal dari sang author) yang membuat Judai langsung suram.

"Ukh... Terpaksa deh..." kata Judai sambil guling-guling di atas kasur Sho.

"Sho, tolong hari ini jangan sampai salah tempat tidur lagi. Kau juga Judai, jangan sampai ketiduran di sampingku," kata Johan.

"Ah, iya, maaf kemarin aku ketiduran," kata Sho.

"Nyeh~ Tenang tidak akan~!" kata Judai dengan tenangnya masih sambil berbaring di atas kasur Sho.

Wah, yakin nih tidak akan? Judai-Judai... Asal kau tau saja ya, kayanya semua cewek yang ada di samping Johan aja bisa langsung pingsan loh~ Mwahaha~!

"Johan~ Johan~ Sudah mau tidur ya~?" tanya Judai sambil mencolek-colek pipi Johan.

"Belum, dan tolong jangan mencolek-colek pipiku seperti itu," kata Johan sambil masih terus berbaring di atas kasurnya.

"Johan~ Johan~ Kok rambutmu bisa biru begini sih?" tanya Judai lagi.

"Bukannya rambut Sho juga biru?" tanya Johan.

"Johan~ Johan~ Kok sikapmu dingin banget sih?" tanya Judai lagi.

Twitch! Twitch!

'berisik sekali sih dia! Kalau saja misiku bukan untuk melindunginya, sudah kulempar cewek ini sampai terpental ke dinding!' pikir Johan kesal.

Johan, kejam amat sih lu mau ngelempar cewek polos begini~

"Aku memang begitu," jawab Johan dengan nada dingin masih berusaha menahan amarahnya.

'Sabar Johan, sabar," pikir Johan.

"Johan~ Johan~ Fansmu ada berapa sih?" tanya Judai masih meneruskan pertanyaan mautnya.

"...Aku tidak tau..." jawab Johan.

"Johan~ Johan~ Kau belum dengar cerita saat tadi aku ke tebing belakang Osiris Dorm tadi dan saat aku ke Duel Academy malem-malem kemarin kan? Ayo dengar sekarang! Aku mau cerita!" seru Judai.

"Aku tidak mau dengar..." kata Johan cuek.

"Nee~ Johan~ Dengar dong~ Sho jugaaa~" kata Judai sambil merengek layaknya anak kecil.

"Iya-iya, aku dengar. Lagian aku juga penasaran," kata Sho sambil berdiri lalu berjalan menuju kasurnya dan duduk di atas kasurnya sendiri.

"..."

Sebetulnya Johan tidak mau mendengar cerita Judai, karena memang dia tau semua kejadiannya. Tapi Johan memilih untuk tetap diam. Toh apapun yang dia katakan, Judai pasti tetap akan cerita.

"Jadi, kemarin saat aku ke Duel Academy sambil hujan-hujanan, masa waktu aku sudah mau masuk, tiba-tiba kepalaku ditimpuk potongan kayu! Sial banget kan!?" tanya Judai sambil bercerita dengan kesal sekaligus semangat.

"Kayu? Kok bisa?" tanya Sho.

"Mana kutau! Pokoknya ada potongan kayu menimpa kepalaku! Terus tadi saat aku sampai di tebing, ternyata yang menunggu di sana Jun-Jun! Dan surat pertama tadi itu ternyata surat panggilan duel dari Jun! Terus aku tolak ajakan duelnya si Jun gara-gara aku lapar~" cerita Judai dengan masih bersemangat.

"Tuh kan! Apa kataku!? Itu dari Manjoume-san!" seru Sho ikutan bersemangat.

Saat dua orang itu sedang bercerita dengan semangatnya sambil duduk di sampingnya, Johan malah tenggelam dalam pikirannya sendiri.

'Kenapa Half Vampire itu bisa tau kalau aku diam-diam melindungi Judai? Half Vampire memang hebat... Dia bisa mendapat informasi dengan sangat cepat, padahal aku baru pindah sehari. Dan beraninya dia mengataiku BOCAH INGUSAN! Cih! Menyebalkan! Dia mengatai agent profesional sepertiku BOCAH!?' pikir Johan kesal.

Sedangkan diluar kamar mereka, lagi-lagi sepasang mata mengamati mereka.

"Percuma Jesse Andersen, bocah ingusan sepertimu tidak akan bisa melawanku... Kau tidak akan bisa menghalangiku mendapatkan apa yang kuinginkan," kata pemilik sepasang mata itu sambil menyeringai licik.

Dan lagi-lagi, entah karena feelingnya yang kuat atau apa, Johan lagi-lagi merinding ketakutan dan berkeringat dingin.

'Half Vampire... Dia pasti ada di sekitar sini...' pikir Johan sambil memicingkan matanya.

Dia lalu mengubah posisinya yang tadinya berbaring di atas kasur menjadi duduk di sebelah Judai.

'Cih, dia memang tidak pernah mengenal waktu... Kapan saja bisa menyerang...' pikir Johan.

"Kenapa Johan? Kok tampangmu kesal begitu," tanya Judai.

"Tidak apa-apa..." kata Johan.

"Apa mungkin Johan-san kesal gara-gara tidak bisa tidur karena kami berisik? Maaf..." kata Sho.

"Bukan, aku memang belum mau tidur," kata Johan.

"Kalau begitu, lebih baik kita pikirkan Stand apa yang akan kita buat untuk festival nanti!" seru Sho.

"Ah iya! Aku lupa! Stand untuk Festival! Bagaimana kalau bikin Stand Takoyaki?" saran Judai.

"Ane-san... Di pikiranmu Cuma ada makanan ya?" tanya Sho sambil bersweatdrop ria.

"Eh? Habis aku langsung kepikiran itu!" seru Judai.

"Benar-benar deh... Kalau Johan-san?" tanya Sho sambil menengok kearah Johan.

"Aku... Belum kepikiran," kata Johan.

"Hm... Sama, aku juga..." kata Sho.

"Bagaimana kalau Stand Okonomiyaki!?" tanya Judai masih dengan semangat.

'Lagi-lagi makanan...' pikir Sho dan Johan bersamaan sambil bersweatdrop ria menatap gadis itu.

"Hei! Bagaimana ideku!?" tanya Judai kesal karena perkatannya tidak dugubris oleh 2 orang di sampinya itu.

"Err... Lebih baik kita bahas saja bersama Asuka-san dan teman-temannya besok," kata Sho.

"Oh iya! Besok kita kan harus ke pantai untuk menemui Asuka! Kalau begitu, bagaimana dengan Jun-Jun yang mengajakku duel di tempat yang sama?" tanya Judai.

"Ya sudah, ane-san duel saja dulu, biar kami yang sisanya membahas duluan. Nanti setelah ane-san selesai baru kita bahas bersama-sama. Gampang kan?" tanya Sho.

"Hem, baiklah... Ya sudah, kalau begitu, aku tidur dulu ya!" kata Judai sambil meletakkan surat yang tadi dipegangnya ke atas meja.

Judai baru saja mau berbaring di atas tempat tidur Sho dan Johan, tapi langsung dihalangi oleh Johan.

"Kasurmu di atas," kata Johan dengan nada datar sambil menunjuk kasur di atasnya.

"Oh iya! Aku lupa!" kata Judai sambil beranjak naik ke kasurnya.

"Kalau begitu, oyasumi~" kata Judai yang sekarang sudah berbaring di atas kasurnya sendiri.

"Oyasumi," balas Sho.

"Hm..." balas Johan hanya dengan berdehem pelan.

~30 minutes later~

30 menit berlalu, Judai dan Sho sudah tertidur, sedangkan Johan masih terjaga. Johan lalu mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk di atas kasur.

'Apa mungkin kalau Half Vampire akan menyerang saat kami tidur? Aku tau kemarin dia tidak menyerang saat kami tidur, tapi bagaimana kalau dia memutuskan untuk menyerang saat kami tidur hari ini? Mungkin saja kan?" pikir Johan.

"Nghh... Jangan Yagami-sensei... Aku tidak mauuu...' igau Judai.

Johan yang mendengar igauan Judai hanya bersweatdrop ria saja.

'Mimpi apa sih dia? Mimpi dihukum ya?' pikir Johan.

"Ane-san... Jangan dimakan... Itu beracun..." igau Sho yang membuat Johan sweatdrop untuk kedua kalinya.

'Ini juga... Ya ampun, mimpi apa sih mereka?' tanya Johan dalam hatinya.

"Johan... Aku capeeeek... Bantu aku dooong~~~" igau Judai lagi.

'Sekarang dia menyebut namaku...' pikir Johan.

"Makan malamkuuuuuuu~~~" igau Judai lagi-lagi dengan gajenya.

'Ya ampun, apa di pikirannya benar-benar cuma makanan?' tanya Johan sambil menepuk keningnya sendiri.

"Mungkin memang sebaiknya aku tidur... Lagipula kurasa Half Vampire juga perlu istirahat. Kalau aku tidak tidur yang ada aku akan kurang istirahat dan tidak bisa menjalankan misi dengan baik," kata Johan.

"Nghh... Johan? Kau belum tidur?" tanya Judai yang baru saja terjaga karena suara Johan tadi.

'Dia terbangun!? Apa dia mendengar ucapanku tadi!? Tenang Johan, tenang, dia pasti tidak dengar!' pikir Johan berusaha menenangkan dirinya yang sedang panik itu.

"Hm..." jawab Johan dengan dehaman singkat untuk menutupi kepanikannya.

"Tidak bisa tidur?" tanya Judai lagi.

"Sekitar begitulah..." kata Johan.

'Aku memang tidak bisa tidur karena takut kalau-kalau Half Vampire akan menyerang saat kita tertidur,' pikir Johan.

"Mau jalan-jalan keluar bersamaku? Mungkin dengan jalan-jalan kau bisa kecapean dan mengantuk," kata Judai sambil mengucek-ngucek matanya.

'Keluar malam hari akan sangat bahaya. Lebih baik jangan...' pikir Johan.

Baru saja Johan mau menolak ajakan Judai, tapi Judai sudah mengambil jaketnya dan merangkak-rangkak di kasur Johan lalu menariknya tangan Johan untuk mengajaknya keluar kamar.

"Ayo~" ajak Judai sambil masih menggandeng tangan Johan dan berjalan menuruni tangga Osiris Dorm.

"Kita mau kemana?" tanya Johan.

"Pantai! Kau belum pernah ke sana kan?" tanya Judai sambil tersenyum ceria.

"Hm..." Jawab Johan lagi-lagi dengan deheman singkat.

'Kalau begitu... Aku sekarang harus berhati-hati kalau-kalau Half Vampire menyerang...' pikir Johan masih sambil berjalan di samping Judai dengan bergandengan tangan.

Yah, kau tau kan malam-malam itu sangat dingin? Johan tidak mau gadis di sebelahnya ini sakit karena mengajaknya keluar malam-malam dan nantinya Johan sendiri yang disalahkan kalau Judai sampai sakit. Setidaknya menggandeng tangan Judai cukup untuk membuat tangannya tidak kedinginan bukan? Johan~ Kenapa sekarang aku berpikir kalau kau itu so sweet banget ya~?

~Beach~

Judai dan Johan sudah sampai. Judai lalu mengajak Johan duduk di atas pasir sambil memandangi laut di malam hari.

"Kata orang angin malam bisa membuatmu mengantuk. Yah, semoga setelah ini kau bisa tidur," kata Judai masih sambil terus menggandeng tangan Johan.

'Kurasa sebenarnya sikap gadis ini tidak terlalu buruk juga... Dia lumayan baik,' pikir Johan sambil tersenyum tipis, sangat tipis dan mungkin saja tidak bisa dikatakan sebagai tersenyum.

"Kau mengajakku keluar malam-malam begini, memangnya kau tidak ngantuk?" tanya Johan.

"Yah, lumayan sih... Tadinya aku memang sudah tertidur. Hanya saja aku kan tidak bisa membiarkan teman sekamarku yang tidak bisa tertidu begitu saja," kata Judai sambil tersenyum manis sambil menatap Johan.

Entah kenapa tiba-tiba wajah Johan memanas. Baru saja hari itu dia merasakan kembali yang namanya ketakutan oleh karena sang Half Vampire, dan di hari yang bersamaan dia juga merasakan perasaan baru lagi?

'Ada apa denganku? Kenapa rasanya wajahku memanas begini? Dan... Jantungku berdebar-debar? Ini aneh...' pikir Johan kebingungan.

"Ada apa Johan? Kok diam saja?" tanya Judai.

Johan lalu berdiri sambil menggandeng Judai. Judai lalu berdiri mengikuti Johan yang menariknya meninggalkan pantai.

"Kurasa angin malam semakin dingin, aku tidak mau kau sakit gara-gara mengajakku keluar dan nantinya aku yang disalahkan. Lagipula kita besok harus membahasa tentang Stand, jadi kau tidak boleh sakit. Ayo kita kembali," kata Johan.

'Aku juga tidak mau mengambil resiko kalau-kalau Half Vampire akan datang menyerang kalau kita semakin lama di luar. Dan juga... Aku tidak mau terus-terusan merasakan dan memikirkan perasaan aneh ini...' pikir Johan .

"Lalu, kau sudah ngantuk?" tanya Judai.

"Hm... Sedikit..." jawab Johan sambil terus berjalan menggandeng tangan Judai.

'Ini benar-benar aneh! Kenapa jantungku bisa berdebar-debar begini!?' pikir Johan bingung.

Tanpa disadari oleh keduanya, wajah Johan sedikit memerah. Untunglah gelapnya malam menutupi semburat merah di wajah Johan itu. Sedangkan tidak jauh dari sana, sepasang mata blue ocean dari tadi terus mengamati mereka tanpa ada seorangpun yang sadar, kecuali... Pemilik mata itu sendiri.

'Tenang saja Jesse Andersen, aku tidak akan menyerang hari ini. Hmph! Tidak kusangka, sepertinya seorang Jesse Andersen mulai memendam perasaan yang berbeda pada mangsaku—orang yang seharusnya dilindunginya,' pikir pemilik mata blue ocean itu—sang Half Vampire...

Seringai licik lalu terlukis di wajahnya.

'Menarik, kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya,' pikir sang Half Vampire sambil pergi meninggalkan mereka berdua.

Agent Jesse Andersen, are you start to fall in love with Jaden Yuki?

.

.

Tsuzuku

.

.

Gia : BANZAI! SELESAI SEHARI SEBELUM MASUK SEKOLAH! SISTEM SKS! *Lompat-lompat kesenengan* #plak

Yurika : Selesainya maksa banget -.-"

Johan : WOI THOR! APAAN TUH! KENAPA GUE KAYA ORANG BEGO GITU TERAKHIR-TERAKHIR!?

Gia : aduh Jo, lu co cwit banget~ ahihihihihi *Gila*

Judai : Jadi lehernya Johan gimana tuh?

Gia : Oh, itu mah beberapa hari juga sembuh kok~ Kaga parah-parah banget~ Gue kagak tega sama dia! Gue kan masih baik~

Yurika : Lebih tepatnya, kalau si Johannya sakit, nanti siapa yang ngelindungin si Judai?

Johan : Ja-Jangan bilang gue itu... SIALAN LU THOR! KAGA SUDI GUE SAMA NIH CEWEK SATU! DIA BUKAN TIPE GUE! GUE KAGA SUKA CEWE!

Gia : Wow! Sabar Jo! Gue kan bebas melakukan apapun!

Yurika : Jadi, chapter selanjutnya...

Gia : Runa Ryuuokami! *Nunjuk-nunjuk Runa* Anata no taan! Ganbatte~ Mwahaha~

Yurika : Maaf kalau ada typo yang bertebaran

Gia : Saya pamit dulu siap-siap besok sekolah ya~ JA READERS! *kabur*