Chapter 7

MATAHARI

Cerita ini terinspirasi dari drama Korea Master Sun

.

.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing :Namikaze Naruto X Hyuga Hinata

Rated : T

Warning : Typo, gaje,OOC,dan Alur kecepatan

Terima kasih pada kalian yang telah mereview cerita ini. Akhirnya aku dapat melanjutkan cerita ini

Happy Reading

Cerita sebelumnya:

Mereka berjalan dengan berbagai cerita dan tiba-tiba…..

Brakkkk

Sebuah mobil melaju kencang dan menabrak tubuh Naruto.

"NARUTOOOO-KUN"teriak Hinata.

Chapter 7

Hinata menunggu di balik pintu ICU dengan wajah khawatir. Sesekali matanya melirik kea rah pintu ICU. Sudah hampir 2jam tapi dokter yang menolong Naruto tak keluar juga. Hinata merosotkan tubuhnya ke dinding rumah sakit wajahnya tertutup kedua telapak tangannya. Karna tak ingin seseorang pun yang melihat dirinya menangis.

Cklek

Hinata mendongakkan kepalanya, dan segera berlari setelah tahu bahwa seorang wanita setengah baya berambut pirang keluar dari ruang ICU.

"Bagaimana keadaan teman saya Dok?"tanya Hinata cepat

"Hm...semoga dia dapat melewati masa kritisnya"ucap Dokter wanita

Hinata hanya menghela nafas sedikit bersyukur. Seketika dia melihat perawat yang mendorong tempat tidur pasien di atasnya terdapat tubuh pemuda yang sangat dikenalnya. Segera Hinata mengikuti suster yang membawa Naruto ke ruang rawat.

.

.

.

Hinata mendudukan dirinya di samping ranjang rawat Naruto. Hinata menatap wajah tan yang terlihat pucat. Tangan Hinata menggenggam tangan Naruto seakan menyalurkan kekuatan untuk pemuda pirang itu.

"Sembuhkanlah Naruto-kun,akan ku tukar apapun untuk membuat dia tersenyum kembali" doa Hinata.

Seketika Hinata teringat untuk memberi kabar untuk keluarga Naruto. hinata berdiri dan mengambil Handphone Naruto mencari nama orang tua Naruto. setelah menemukan nama Kaa-san di phonebook Hinata segera melakukan panggilan.

Tut..tut..tut..

"Moshi moshi" terdengar suara seorang wanita dari seberang

"Ha…lo..apa be..nar..ini..orang tua Naruto Namikaze?"tanya Hinata sedikit gugup dan terbata

"Benar..ini siapa?kenapa Hp anak saya bisa bersama Anda?" tanya balik Kaa-san Naruto

"Saya Hinata Hyuga teman Naruto. saya ingin mengabarkan bahwa anak anda ada di rumah sakit Konoha karna mengalami kecelakaan"

"APA!"segera Hinata menjauhkan ponsel dari telinganya

"Baik,saya akan segera kerumah Sakit sekarang tolong jaga anak saya"

"Ha'I"

Dan mematikan sambungan telepon dan mendekati Naruto duduk kembali di samping ranjang Naruto.

.

.

.

Seorang pemuda tengah duduk di café samping jendela. Mungkin orang yang melihatnya akan mengira ia tengah menunggu seseorang atau hanya sendiri. Namun, siapa sangka ternyata ia tengah berbincang dengan gadis manis memakai seragam sekolah.

"Jadi sekarang dia tengah dekat pemuda kuning itu?"

"hm.."

"terima kasih kau telah menjaganya Matsuri-chan"

"Sama sama Toneri-kun, aku senang membantumu"

"pulanglah,aku takut Hinata mencarimu"

"Hm.."

Toneri masih terdiam di café sambil memperhatikan orang berlalu lalang setelah kepergian Matsuri. Ternyata Toneri sama seperti Hinata dapat melihat arwah.

"Aku pasti akan mendapatkanmu Hime?" gumam Toneri

.

.

.

Hinata terduduk di depan kursi tunggu di kamar VIP ruang rawat Naruto. karna di dalam kedua orang tua Naruto tengah menunggu kesadaran naruto. tiba tiba ayah Naruto keluar dari ruang rawat Naruto terlihat panik. Hinata terkejut segera ia berlari menghampiri ayah Naruto.

"Ada apa dengan Naruto paman?"

"Ia mengalami kritis" Hinata tersentak dan jatuh terduduk dilantai ia hanya memandang ayah Naruto yang tengah mencari dokter. Tiba tiba cahaya putih menyilaukan membuat Hinata memandang intens dan terdapat sosok Naruto yang tengah tersenyum menghampiri Hinata.

Hinata terbangub dan berdiri menghadap Naruto.

"Ternyata benar kau terang seperti matahari" Hinata hanya terdiam menanggapi ucapan Naruto.

"Ada yang ingin aku katakana Hinata-chan"

"Aishiteru Hinata-chan…"setelah mengatakan itu ia pergi menghilang hinata berteriak Histeris. Ibu Naruto yang tengah menunggu diluar hanya menatap sendu Hinata, ia hampiri Hinata.

"Tenanglah nak,Naru-kun anak yang kuat aku yakin ia dapat melewati ini." Hinata terdiam dan masih menangis karena ia tau arwah Naruto telah menghampirinya dan itu berarti ia telah tiada. Tak lama dokter keluar

"Gimana anak saya Dok?" tanya ayah Naruto

"Dia koma" ucapan dokter membuat tiga orang disana terdiam tak dapat melakukan apa apa. Hinata berlari keluar rumah sakit Kushina ibu Naruto tak dapat mencegah Hinata karna ia tau Hinata juga sedih seperti dirinya.

.

.

.

Hinata terus berlari ia tak sadar ternyata ia menuju taman dekat sekolahnya ia tak merasa takut dengan hantu hantu di sekitarnya. Yang ia khawatirkan seseorang yang sedang tertidur di sana.

Pluk..

"Kenapa kau sedih?"Hinata menolehkan wajahnya dan mendapati Matsuri tengah memandangnya khawatir

"Kenapa kau disini?"

"Kau lupa aku hantu, dan aku bisa ada dimana aja" Hinata terdiam Matsuri yang mengetahui kesedihan Hinata mencoba bertanya.

"Ceritakanlah siapa tau membantu" Hinata menceritakan apa yang tengah Naruto alami.

"Oh…menurutku ia belum meninggal namun, terjebak ke dalam dunia lain." Hinata terdiam Matsuri mengelus dagunya berfikir.

"Mungkin ia bisa membatu" ucapan Matsuri membuat Hinata menatap Matsuri seketika.

.

.

.

Hinata termenung ia tak mengerti kenapa Matsuri membawanya kemari.

"Ketuklah pintunya Hinata-chan" Matsuri membuka suaranya karena jengah melihat Hinata yang sedari tadi cuman memandangi pintu kayu di depannya.

Tok..tok..

Setelah beberapa menit Hinata mengetuk pintu itu terbukalah dan tampaklah seorang pemuda berambut putih tengah tersenyum memandangnya.

"Masuklah Hinata" Hinata terkejut kenapa pemuda di depannya bisa tau namanya. Hinata masuk mengikuti pemuda di depannya.

"Ano…em.."

"Ya" pemuda itu berbalik dan menghadap Hinata

"Apa kita pernah bertemu?" pemuda itu tersenyum

"Kau benar melupakanku?"dengan masih tersenyum menambah kesan tampan di wajahnya

"Gomen aku benar lupa siapa kamu?"

"Baiklah Hinata aku akan menjelaskan nanti,sekarang duduklah"Hinata menuruti pemuda di depannya.

"Namaku Toneri Ootsuki, dan kita emang pernah ketemu saat kau mengalami koma selam tiga tahun,saat kau menjadi arwah gentayangan aku yang menemanimu" jelas pemuda yang bernama Toneri

"Jadi kau juga dapat melihat Hantu"

"ya,dan aku juga mengenal hantu yang ada di belakangmu" Hinata menoleh kea rah Matsuri Matsuri hanya tersenyum manis.

"sebenarnya dia tidak lupa dengan kejadian sebelum dia meninggal,aku yang menyuruhnya untuk menjagamu dari hantu hantu jahat yang ingin mengambil tubuhmu"

"APA!"

"Maafkan aku Hinata-chan" ucap matsuri sedikit menyesal

"Sudahlah Hinata,aku akan membantumu mengembalikan arwah pemuda kuning kembali ke tubuhnya, tapi…jika ia sudah kembali ia akan melupakan kebersamaan kalian,apa kau siap?" hinata sedikit terkejut dengan perkataan Toneri.

'jadi apa yang dia katakana semuanya ia tak ingat,apa yang harus kulakukan?' batin Hinata

"Jadi gimana Hinata?" Hinata tersentak

"Baiklah…apapun yang terjadi aku terima". Setelah memberi keputusan Toneri segera melakukan ritual untuk menarik Naruto dari alam lain untuk kembali ke tubuhnya.

.

.

Naruto tengah berada di ruangan dengan satu kursi di tengah,ia berjalan menuju kursi dan mendudukkan dirinya di tengah ruangan tiba tiba sebuah cahaya menerobos masuk tanpa komando Naruto mengikuti arah cahaya itu dan keluar dari ruangan gelap itu.

.

.

"Dia sudah sadar" tanpa aba aba Hinatab langsung berlari menuju rumah sakit tanpa mengingat apa yang di ucapkan oleh Toneri tadi.

Sampai dirumah sakit ia langsung menuju kekamar rawat Naruto. di depan pintu kamar rawat Hinata bertemu dengan Minato ayah Naruto.

"Hinata-chan masuklah Naruto sudah sadar" Hinata masuk ke dalam di sana ia melihat Naruto tengah bercakap dengan ibunya. Ketika Kushina melihat Hinata.

"Kemarilah Hinata-chan" naruto kebingungan ketika melihat Hinata mendekat. Seperti tak asing pikirannya dipaksa untuk mengingat namun nihil ia lupa.

"Kamu siapa?" Hinata baru teringat dengan ucapan Toneri hatinya mencelos sakit.

"APa yang kau katakana Naruto-kun bukannya ia temanmu" sela Kushina

"Taka pa bibi mungkin benturan yang mengakibatkan ia sedikit lupa dengan memorynya" ucap Hinata

"Yang dikatakan Hinata betul, tadi dokter juga bilang begitu" sela Minato

"Kalau begitu saya permisi dulu paman, bibi" Hinata pun keluar ruangan sambil menahan tangis Kushina yang menyadari itu ikut merasa sedih.

.

.

.

Sudah dua bulan semenjak kejadian di rumah sakit. Toneri menjadi anak baru di mana Hinata bersekolah menjadi teman sekelas. Naruto belum ingat tentang siapa Hinata, namun dia ingat semua teman teman sekolahnya. Namun, pandangan mata shapire Naruto tetap tak beranjak dari gadis berambut indigo yang berada di depannya.

Naruto POV

Siapa dia?apa aku sangat mengenalnya?kenapa pikiranku tak dapat berhenti memikirkannya. Tapi aku mengenal lainnya kenapa aku tak mengenalnya.

"Huh…kepalaku sakit" entah kenapa tiba tiba kepalaku merasa sakit sangat sakit saat aku mencoba untuk mengingatnya.

"Naruto-kun,kau kenapa?" aku langsung mengadahkan pandanganku ke depan kulihat gadis yang selalu menghantui pikiranku menatapku dengan khawatir.

"Tidak,aku tidak apa apa hanya sedikit pusing" bohongku

"Ada apa dengan Naruto Hinata-chan?"tiba tiba seorang pemuda bersurai putih menghampiri kami berdua.

"Entah dia mengerang mungkin kepalanya pusing"jawab Hinata khawatir terhadapku.

"Aku tidak apa apa Hinata" bohongku kembali.

"Betulkah?"tanya Hinata tak percaya. Aku menganggukkan kepalaku untuk menyakinkan dia.

"Kalau begitu kita ke kantin Hinata-chan?" ajak pemuda bersurai putih pada Hinata.

"Tapi gimana dengan Naruto-kun?"

"Tak apa pergilah Hinata" namun Hinata masih enggan untuk meninggalkanku sendiri, ada sedikit rasa senang di hatiku ketika Hinata enggan pergi meninggalkanku sendiri.

"Kurasa dia sudah tidak apa apa Hinata-chan" suara Toneri menyadarkan kesenanganku sesaat. Aku merasa sebal dengan ucapan Toneri ingin sekali aku tonjok muka bersihnya. Namun Hinata masih enggan untuk meninggalkanku.

"Pergilah" ucapku sedikit kesal bukan aku kesal pada Hinata tapi aku kesal pada pemuda di samping Hinata.

Akhirnya Hinata dengan sedikit enggan pergi meninggalkanku yang menatap punggung mereka berdua. Ada rasa sakit menjalar di hatiku. Apakah ini yang dinamakan aku cintadia?tapi siapa dia?kepalaku kembali terasa pusing kurebahkan kepaku di atas meja untuk meredam sakitnya.

Naruto POV End

.

.

Hinata duduk di depan Toneri dengan pikiran berkecambuk. Hinata sangat khawatir dengan kondisi Naruto. walaupun naruto tidak mengingatnya namun, perasaan ini tak dapat dihilangkan. Ia tau bahwa ia mencintai Naruto.

"Ada apa Hinata-chan?"tanya Toneri. Hinata hanya menggelengkan kepala.

"Gimana?apa kau jadi ikut ke Korea denganku?"

"Ya,setelah kita lulus aku akan ikut denganmu ke Korea" jawab Hinata dengan lesu

"Tapi jika kau tak siap meninggalkannya aku takakan memaksamu untuk ikut denganku?"

"Takapa,aku akan tetap ikut denganmu ke Korea, mungkin itu bisa melupakannya. Dan aku bisa memulai hidup baru disana"

Toneri tersenyum menanggapi ucapan Hinata.

.

.

.

Tak terasa telah menginjak hari kelulusan siswa siswi kelas XII Senior High Scholl telah bersiap di aula untuk melakukan acara Wisuda. Naruto dan yang lain pun ikut untuk melakukan upacara kelulusan. Mata shapire Naruto tak berhenti menelusuri gadis yang hampir setahun telah membuat pikirannya penuh. Namun matanya tak menemukan sosok gadis berambut indigo tersebut.

Pluk.. Naruto menolehkan kepalanya kebelakang di temukan gadis bersurai pink tengah tersenyum kepadanya.

"Kau mencari sesuatu Naruto?"tanya Sakura

"Aku tak menemukan Hinata apa dia tak datang?"

"Apa semalam kau tak diberi tahu bahwa dia hari ini akan berangkat ke Korea?" . pertanyaan Sakura membuat Naruto terkejut. entah kenapa seketika kakinya melangkah keluar aula untuk menuju ke bandara.

Naruto POV

Sial, kenapa aku harus berlari untuk mengejarnya kenapa aku begitu takut kehilangannya padahal aku pun tak begitu akrab dengannya. Kakiku terus berlari namun,….

"AWAS!" teriakkan seseorang menghentikan lariku. Kepalaku menoleh kea rah sumber suara. Seketika aku terpatung tubuhku membaku. Dengan jarak beberapa meter di depanku terdapat sebuah mobil tengah melaju kencang. Aku memejamkan mataku. Tak tau apa yang akan terjadi tiba tiba pikiranku kembali melayang pada setahun yang lalu dimana saat aku tertabrak mobil. Aku mengingat siapa tiba tubuhku jatuh ke tanah aku tak dapat merasakan apa apa lagi. Oh, Tuhan apa ini balasanku karena aku melupakan gadis yang aku cintai.

Naruto POV End

.

.

.

Naruto mencoba membuka matanya, yang pertama kali dilihatnya atap yang berwarna putih. Naruto melihat kekanan ada seseorang yang tengan menidurkan kepalanya disamping kanannya. Tangan Naruto megelus rambut panjang.

"Hinata"gumamnya. Menyadari ada pergerakan di rambutnya seseorang yang ternyata wanita mengangkat kepalanya dan melihat seseorang yang tertidur di ranjang sudah sadarkan diri ia langsung terlihat senang.

"Minato-kun…Minato-kun" teriak wanita yang ada disamping ranjang Naruto.

"Kaa-san?"tanya Naruto

"ya,nak kau sudah sadar?apa yang sakit?"tanya Kushina yang ternyata ibu Naruto. Minato menghampiri putra tunggalnya dan istrinya.

"Apa yang terjadi kaa-san tou-san?"

"Kau hampir mengalami kecelakaan mobil?"kata kata Kushina mengingatkan Naruto dengan kejadian tentang dirinya yang akan tertabrak mobil.

"Aku harus ke bandara, Hinata-chan akan pergi ke Korea"ucap naruto sambil segera turun dari ranjangnya.

"Kau sudah mengingat Hinata?"Naruto mengangguk dan segera turun tapi Minato mencegahnya.

"Tenanglah Naruto,kau baru saja terbangun dari tidurmu selama seminggu" Naruto tercengang dengan ucapan ayahnya.

"Jadi aku sudah kehilangan Hinata-chan, aku benar benar bodoh"teriak Naruto sambil menangis tersedu sedu.

Ayah dan ibunya hanya bisa terdiam melihat putra semata wayangnya menangis.

To be continued