Disclaimer: Akiyoshi Hongo dan Toei Animation

Chapter 6: Rest Is Over. Get back to mission!

Hagashiyama High School, jam 16.00

"Junpei!" teriak seorang remaja putri berambut coklat pendek. Sang pemilik nama yang disebutnya hanya menoleh sekilas.

"Kenapa, Himuro?"

Si gadis mengacung-acungkan selembar kertas di hadapan wajah Junpei dengan over excited. "Ini! Kurang dari 2 minggu lagi akan ada festival sekolah, kan? Menurutku bagaimana kalau klub kita mengambil tema kegiatan ini untuk festival? Ide bagus, kan? Sebagai ketua klub, bagaimana, kau setuju tidak?"

Junpei menatap lekat-lekat kertas yang dibawa gadis itu, Chihiro Himuro. Tertulis di kertas itu: Festival Taiko Shibuya 2010. Melihatnya, Junpei hanya mengerutkan alis. "Taiko? Perwakilan klub seni dalam festival nanti akan menggelar Taiko? Kau serius, Himuro-san?" kentara sekali bahwa sesungguhnya dia kurang tertarik.

"Ya iyalah, Junpei! Gimana? Gimana?" desak si gadis dengan mata berbinar-binar.

"E..Ettou..." Junpei memundurkan badannya tanpa disadari, "Ng..coba saja Himuro-san tanya kepada anak-anak klub lainnya. Aku ngikut saja deh."

"Heeehhhh...? Ayolah, Junpei. Kamu kan ketua."

"Untuk yang ini aku beneran tidak ada bayangan, Himuro-san," Junpei mengambil sesuatu—untuk jelasnya, sepasang sepatu—dari dalam lokernya,kemudian memakainya dengan terburu-buru," jadi aku serahkan saja kepada kamu dan anggota lainnya."

"He? Junpei sudah mau pulang? Sebentar! Masa begitu sih. Ini bagaimana?"

Junpei memelototi jam tangan silver yang melingkar di lengan kirinya. " Uups. Udah jam segini. Maaf, Himuro-san. Kamu bicarakan ke yang lain dulu ya. Aku ada janji."

Dan dengan kecepatan kilat, Junpei segera melarikan diri dari tempat tersebut. Meninggalkan gadis sekertaris klub seni pimpinannya itu berteriak jengkel,"Junpei...!"

-000-

.:Shibuya

Langkah-langkah kecil milik si pemuda bertubuh gemuk itu menyusuri jalan-jalan Shibuya yang masih dipadati oleh warga yang berlalu-lalang. Pada suatu momen ia berhenti. Dengan irama nafas sedikit berkejaran, ia memperhatikan plang sebuah café yang akan dimasukinya, memastikan ia tidak salah tempat. Setelah yakin itulah tempatnya, tanpa lebih membuang waktu dia memasuki café itu dengan diiringi nafas terengah-engah. "Ma..Maaf aku telat.."

"Junpei lamaaaa..." celetuk Takuya menyambutnya.

"Maaf..Maaf...Sedikit ada urusan klub sih tadi. Buat persiapan festival." cengir Junpei sambil memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya. Ia segera menarik sebuah kursi kosong yang tersedia di samping si kembar yang sudah duduk manis di deretan para anak-anak Legendary Warriors."Jadi..Apa sudah ada pembicaraan penting yang aku lewatkan?" tanyanya.

Ken menggeleng. "Belum, kok." responnya, diikuti dengan gerakan menaruh kedua siku tangannya di atas meja, Membentuk pose serius dengan dagu ditahan oleh punggung tangan. "Nah, sekarang kita semua sudah lengkap."

Aura serius menyelusupi masing-masing dari mereka. Sedikit candaan yang sebelumnya timbul entah kenapa langsung terlupakan.

"Kita mulai dari perkenalan. Dimulai dari kubu kami, ya. " sebelah tangan Daisuke mempersilahkan orang yang berada di samping kirinya. Kemudian ia berujar.

"Disebelahku, dia bernama Hida Iori. Partnernya adalah Armadimon, atau Upamon, dalam wujud ini."

Remaja disebelah kiri Daisuke menganggukkan kepalanya, tanda perkenalan bersahabat. "Hida Iori desu. Yang ini Upamon. " sahutnya sambil menunjukkan digimon kecil miliknya. "Salam kenal. Aku seumuran dengan kalian, kok."

Digiscan: Upamon. Digimon tingkat baby level bertipe amfibi. Dia bisa tinggal di tanah atau di bawah laut. Merupakan Digimon yang sangat periang, namun apabila diganggu dia akan mengeluarkan serangan Shock Shout miliknya, berupa teriakan melengking yang memekakkan telinga.

"Salam kenal, Iori-kun." tanggap keenam Legendary Warriors serempak.

"Yang ini," Ken menunjuk perempuan berambut pink panjang berkacamata,"dia—"

"Inoue Miyako! Dan ini partnerku, Poromon. Salam kenal, Legendary Warriors." jawabnya dengan sangat riang. Bahkan mendahului perkenalan dari Ken.

Digiscan: Poromon adalah jenis burung kecil Digimon yang berevolusi dari Pururumon. Memiliki ciri khas berupa bulu di atas kepalanya yang akan tetap ada saat telah berevolusi menjadi Hawkmon. Serangan miliknya adalah Pororo Breeze, di mana flap sayap kecil miliknya menyebarkan debu di mana-mana.

Ken sempat melongo sebentar. Tapi akhirnya tersenyum memaklumi tindakan yang memang sangat khas Miyako ini.

"Miyako ini pacar Ken, loh." celetuk Daisuke tiba-tiba.

Semburat merah tersembul dari wajah Ken dan Miyako.

"Da..Daisuke!"

"Ung...hahahha. Yah, begitulah." tawa Miyako canggung.

"Su..Sudah. Mari kita lanjutkan." ucap Ken berusaha mengalihkan pembicaraan sambil memperkenalkan dua orang sisanya yang berada di samping kanannya. "Yang ini, Takaishi Takeru, partnernya adalah Patamon yang sekarang telah menjadi Seraphimon, dan Yagami Hikari, yang partnernya sekarang telah menjadi Ophanimon."

Pemuda pirang itu tersenyum kepada para Legendary Warriors."Takeru desu. Yoroshiku."

"Hikari desu." si gadis cantik berambut coklat pendek melanjutkan rangkaian perkenalan dirinya sambil menyunggingkan senyum hangat."Yoroshiku."

"Yoroshiku. Kami, para Legendary Warriors. Sistem kami sedikit berbeda dengan kalian. Kami tidak memiliki digimon partner secara nyata, melainkan dalam bentuk data yang tersimpan dalam digivice, dan kamilah yang berubah menjadi sosok digimon itu. Dimulai dari aku, Kanbara Takuya, yang kembar itu Kouji dan Kouichi;yang berambut pendek Kimura Kouichi, yang berambut panjang Minamoto Kouji, gadis pirang itu Orimoto Izumi, yang paling besar ini Shibayama Junpei, dan yang masih SMP itu, Himi Tomoki." runtut Takuya panjang lebar.

Merasa haus setelah melakukan penjelasan, ia segera menyambar gelas minuman di hadapannya, menghabiskan isinya dengan sekali tegukan sebelum akhirnya menyambung pembicaraan kembali. "Spiritku, Agnimon dan Vritramon, elemenku api. Double spirit Ardhamon."

Tanpa perlu dikomando, mereka masing-masing mulai memperkenalkan perubahan mereka masing-masing.

"Spiritku Wolfmon dan Garmmon, elemenku cahaya. Double spirit Beowolfmon."

"Aku Fairymon dan Shutsumon, elemenku angin."

"Milikku Chakkumon dan Blizzardmon, elemenku es."

"Punyaku Lowemon dan KaiserLeomon. Elemenku kegelapan."

"Diriku Blitzmon dan Bolgmon, Halilintar."

-000-

Satu jam berlalu setelah perkenalan mereka. Sedari tadi mereka terus membicarakan taktik apa yang selanjutnya akan dilakukan. Pembicaraan makin menegangkan sedang berlangsung di antara mereka.

"Jadi...begitulah keadaan saat ini yang kami mengerti. Ada usul?" lontar Kouji setelah penjelasan keadaan sampai pada situasi kemarin.

Hening tercipta. Masing-masing dari mereka nampak mengerutkan dahi dan berusaha berpikir keras.

"Bagaimana..." bisik Hikari nyaris tidak terdengar. Sebelas pasang mata langsung menengok ke arahnya secara serempak."Kalau kita mengatur pertemuan dengan Ophanimon dulu?"

"Jika bisa, memang itulah yang kami cari. Bisa kau usahakan, Yagami-san?"

Hikari mengangguk pelan."Aku coba yah."

"Lalu..."

Piiip...Piip...Piip...

Digivice para Legendary Warriors menyuarakan sebuah pertanda buruk yang tidak mereka tunggu. Kepanikan melanda dalam hati mereka. Tidak menyangka bahwa digimon yang menginvasi dunia manusia sudah mulai beraksi lagi sekarang.

"Digimon?" pekik Izumi.

Mereka berenam segera mengambil digivicenya masing-masing dengan tatapan geram.

"Ciih! Sial! Pada saat seperti ini..!" rutuk Junpei.

"Kouji..." Kouichi berkata sambil meneguk ludah. "Mereka di dekat sini.."

Adik kembarnya hanya merespon dengan sebuah anggukan. Matanya nyalang memperhatikan keadaan sekitar. Membaca situasi ini, Daisuke cs ikut bersiaga.

"Poromon."

"Upamon."

Komando Iori dan Miyako kepada dua digimon mungilnya. Makhluk -makhluk itu mengangguk bersamaan. Menyelusup dari jendela café yang terbuka, Upamon dan Poromon keluar café.

*Upamon shinka..!*

*Armadimon..!*

*Poromon shinka...!*

*Hawkmon..!"

Digiscan 1: Hawkmon. Child Level Digimon berwujud burung dengan keseluruhan tubuh berwarna merah dan hanya bagian leher ke atas yang berwarna putih. Digimon yang tergolong sangat sopan, adil,dantenang. Senjata andalannya adalah Feather Slash.

Digiscan 2: Armadimon. Child Level Digimon bertipe Mamalia yang tubuhnya ditutupi dengan kulit keras. Menurut Digi Legend, Armadimon merupakan salah satu keturunan ras kuno Digimon. Serangan andalannya adalah Rolling Stone.

"Hawkmon..! Cari lokasinya ya!" seru Miyako. Iori juga menyamakan komandonya.

"Kau juga, Armadimon."

"Baik!"

Takuya melepaskan jas dan dasi yang masih terpakai dengan baik di baju seragamnya. "Ayo, teman-teman! Kita juga!"

-00-

Sekelabat ruang lingkup yang berkabut dan samar-samar, kini berada tepat di hadapan Armadimon dan Hawkmon. Kedua Digimon itu dengan mantap berdiri di depan lokasi sambil menunggu kedatangan partnernya yang menyusul cukup jauh dibelakangnya.

"Bagaimana, Hawkmon? Disinikah tempatnya?" tanya Miyako.

"Tidak salah lagi, Miyako-san."

"Begitu. Kerja bagus, Hawkmon, Armadimon."

Berbondong-bondong langkah kaki menyusul di belakang Miyako dan Iori. Iori membalikkan badan. Melambai-lambai tanpa banyak berkata-kata.

"Inikah zona zero?" tanya Takeru.

Si kembar mengangguk."Tidak salah lagi. Ayo!"

Bersama-sama, mereka memasuki wilayah zona zero tersebut. Kabut tebal menutupi pandangan mereka semua. Posisi tubuh mereka saling memunggungi. Berusaha untuk saling melindungi.

"Dimana Digimonnya..?" gumam Tomoki waspada sambil menengok ke segala arah.

Tetap dalam posisi seperti itu, mereka masih menunggu. Menunggu lawan yang sekiranya akan muncul.

Namun apa yang terjadi benar-benar tidak mereka prediksi. Sinyal kedatangan Digimon di digivice mereka menghilang. Kabut-kabut yang menyelimuti wilayah yang mereka masuki mulai menghilang sedikit demi sedikit hingga tidak tersisa lagi. Menyisakan mereka yang masih berdiri waspada dengan posisi punggung-memunggung di tengah masyarakat kota yang lalu lalang.

"Apa ini? Zona zero menghilang?"

"Takuya! Tanda di digivice kita juga menghilang!" lapor Izumi.

"Sebenarnya apa yang terjadi..?" lirih Kouichi.

Ken cs juga merasa heran akan hal ini. Hingga Miyako dan Iori mencoba mencari tindakan baru.

"Hawkmon, Armadimon! Tolong cari wilayah zona zero itu lagi. Kemungkinan hal itu berpindah lokasi!"

"Siap!" seru Armadimon dan Hawkmon. Mereka berdua langsung berpencar menuju ke dua arah yang berbeda.

Takuya melirik Kouji,"Sekarang bagaimana, Kouji?"

"Lebih baik kita kembali dulu ke café."

-000-

Waktu kian berputar. Dewi Malam pun pada akhirnya tiba. Kejadian lenyapnya zona zero yang tiba-tiba pada sore hari ini berhasil membuat kedua belas orang yang kini sedang terlibat di dalamnya penasaran setengah mati. Bahkan setelah penantian mereka menunggu laporan kemungkinan berpindahnya lokasi dari Hawkmon dan Armadimon pun pencarian kembali ke titik nol. Pertemuan mereka semua di café nampak tidak berbuah apa-apa selain bertambahnya teka-teki baru yang makin sulit dipecahkan.

Saat ini, seorang Kimura Kouichi sedang termenung di kamarnya. Buku pr Kimia terbuka di hadapannya yang sedang duduk di kursi meja belajar. Namun herannya, malam ini ia sama sekali tidak berniat mengerjakannya. Pikirannya melayang-layang dengan segala misteri yang makin lama makin terkait membingungkan.

"Sebenarnya apa yang terjadi..?"gumamnya sambil memutar-mutar tidak jelas pensil yang ia genggam.

Di satu sudut hatinya ia merasa geli sendiri. Apakah ia mulai menjadi seperti Takuya? Padahal malam ini juga seharusnya bukan waktunya untuk bersantai-santai. Sesudah pr Kimia selesai, ia masih harus mengkonsepkan kegiatan yang akan dilakukan kelasnya untuk festival sekolah tak lama lagi.

Merasa suntuk dengan pr Kimia di hadapannya juga setumpuk masalah di otaknya, pada akhirnya ia memilih menyingkirkan buku pr Kimia dari hadapannya. Menggantikannya dengan buku rencana kegiatan kelas. Sepertinya ia memilih untuk mengerjakan konsep festival terlebih dahulu.

"Hihihi.." cengirnya tak kentara sambil memandang lucu buku Kimianya."sepertinya aku akan mencontek saja pr kimianya besok."

Oh. Ternyata dia sudah berniat untuk melakukan apa yang biasanya hampir selalu Takuya lakukan.

-000-

Esoknya, waktu Istirahat makan siang.

Seperti biasa, Takuya, Kouji, Kouichi, dan Izumi sedang menikmati bentou mereka di atap sekolah bersama. Biasanya waktu istirahat makan siang adalah waktu yang bisa dikatakan paling seru diantara mereka. Namun kini semuanya terkesan suram.

"Haaah..." desah Izumi. Sambil tidak semangat ia mengambil sebuah tamagoyaki dari kotak bekalnya dengan sumpit. "Aku capek sekali..."

Yang lain hanya mengangguk mengiyakan. Setelah anggukan itu, semua hening kembali. Suasana canggung yang aneh menyeruak.

Trrrrrrrrr...

Tiba-tiba digivice yang berada di kantong seragam Takuya bergetar. Waspada, pemuda berambut coklat jabrik itu langsung meletakkan kotak bentounya dan segera menggenggam digivice.

"Aduuuh...Jangan sampai ada Digimon lagi sekarang..."paniknya.

Syukur ternyata, yang diterima oleh digivice sekaligus handphone mereka hanya telepon dari nomor tak dikenal.

"Eh? Telepon?"

"Dari siapa, Takuya?" tanya Kouji.

Takuya menggeleng sambil menekan suatu tombol di digivicenya. "Hallo?"

"Ini Takuya, kan?" cerocos suara dari sambungan Digivice itu langsung. Suara cewek.

"Eh?..I..Iya. Ini siapa?"

"Ini Yagami Hikari."

"Oh, Yagami-san." seru Takuya dengan volume besar, hingga teman-temannya dapat mendengarnya dengan jelas. Si kembar dan Izumi pun menghela nafas lega."Ada apa?" lanjutnya.

"Dengar, Takuya. Aku sudah berhasil mengontak Tailmon..ah, maksudku Ophanimon dan menjelaskan semua yang terjadi. Ophanimon meminta kita semua untuk datang kembali ke dunia Digital nanti sore. Jadi, kita bertemu di stasiun Shibuya jam 5 sore. Paham?" jelas Hikari.

"Jam 5 sore di Shibuya? Ok. Arigatou, Yagami-san."

"Sama-sama. Nanti di Shibuya jam 5 ya. Ah, satu lagi. Ophanimon bilang, sudah berkali-kali hendak mengontak kalian, tapi tidak ada satupun sambungan yang berhasil dilakukan. Kalian..tidak merasa mendapat kontak dari Ophanimon?"

"Ophanimon ingin mengontak kami selama ini? Tidak. Kami tidak mendapat pertanda apa-apa. Justru kami menunggu-nunggu kontak dari Ophanimon, namun tidak kunjung ada."

"..." Hikari terdiam beberapa saat." Begitu. Hal ini semakin membingungkan sudah,Takuya. Sampai nanti sore, ya."

Klep. Dan sambungan komunikasi terputus.

"Takuya..Yagami-san bilang apa?" selidik Kouichi.

"Yagami-san bilang dia berhasil melakukan kontak dengan Ophanimon. Kita diminta untuk kembali berangkat ke dunia Digital bersama mereka. Nanti sore, jam 5 di Stasiun Shibuya."

-000-

Jam 5 sore. Kedua belas pemuda dan pemudi ini berkumpul di Stasiun Shibuya. Mereka memasuki kereta bawah tanah menuju dunia Digital. Namun, mereka tiba di tempat yang lain dari keberangkatan Takuya cs sebelumnya, yaitu Terminal Kota Api.

-00-

Tap.

Kaki Takuya berhasil menapaki permukaan stasiun sekeluarnya mereka dari Trailmon. "Akhirnya tiba juga! Ini Terminal Kota Api...!" teriaknya bersemangat.

Tomoki memperhatikan sekeliling sebelum akhirnya bersahut. "Wah..kangen juga ya. Tapi, suasana Kota Api tidak berubah.."

"Ini Kota Api?"

"Hmm...Benar-benar beda dengan dunia Digital zaman kita dahulu ya, Hikari."

Yang ini suara Hikari dan Takeru yang memandang takjub pemandangan sekitar.

"Ngomong-ngomong.." ucap Kouji meluruhkan segala suasana nostalgik yang terbentuk."Ayo segera kita mulai perjalanan menuju Terminal Hutan. Kita tidak boleh menghabiskan waktu lebih banyak dari ini, teman-teman."

"Ah, ya. Benar juga. Kalau begitu..Hawkmon..!" teriak Miyako.

"Ok!"

*Hawkmon shinka...!*

*Aquilamon..!*

"Ayo, Wormmon."

"Siap, Ken!"

"Veemon."

"Siap!"

*Veemon, armor shinka..!*

*Lightdramon..!*

*Wormmon shinka...!*

*Stingmon!*

DigiScan 1: Aquilamon. Merupakan Digimon burung raksasa yang memiliki dua tanduk besar"Giant Eagle of the Desert", di kepalanya. Karakterisitik sifat masih membawa kepada sifat dasar Hawkmon, yakni sopan dan sangat loyal kepada partnernya.Serangan miliknya adalah Blast Laser, yaitu serangan berupa meluncurkan sinar cincin seperti dari mulutnya, dan Glide Horn.

Digiscan 2: Lightdramon, Beast Type Digimon yang merupakan armor shinka dari Veemon menggunakan Digimental of Friendship.Serangannya berupa Lightning Blade, yaitu serangan petir yang berasal dari tanduk halilintar di kepalanya, dan Blue Thunder, serangan listrik kuat dari tiga tanduk di punggungnya.

Digiscan 3: Stingmon. Insect type Digimon yang tergolong langka. Struktur tubuhnya mengambil bentukyang lebih humanoid. Digimon yang memiliki exoskeleton yang keras dan kelincahan yang tinggi seperti halnya Digimon jenis serangga yang lain. Digimon ini unggul dalam kemampuannyasebagai pembunuh. Sifatnya tenang,dingin dan pintar. Senjatanya adalah Spiking Finish, yakni menusuk titik vatal musuh dengan spike dari lengannya.

*Spirit, Evolution..!*

* Fairymon..!*

* Blitzmon..!*

*Kaiserleomon..!*

* Vritramon..!*

* Chakkumon..!*

*Garmmon..!*

Chakkumon langsung dibawa oleh Fairymon dan Iori segera dibawa oleh Blitzmon. Takeru menumpang di Lightdramon dan Hikari menumpang di Garmmon. Mereka langsung melesat menuju Terminal Hutan.

-000-

.: Terminal Hutan.:

"Kita sampai, teman-teman." kata Garmmon setibanya mereka di pintu gerbang Terminal Hutan. Evolusinya berakhir bersamaan dengan Aquilamon, Stingmon, Lightdramon serta para Legendary Warriors lainnya.

"Istana Seraphimon, ya?" gumam Takeru. "Keren. Boleh juga."

"Ayo kita masuk."

-000-

Krieet..

Pintu gerbang itu dibuka oleh Takuya sambil memanggil nama Digimon pemilik istana itu. "Seraphimon."

Tiba-tiba dari dalam istana muncul Digimon penyihir berjubah putih yang telah dikenal para Legendary Warriors sambil menyambut mereka. "Selamat datang, Legendary Warriors dan teman-teman Seraphimon dan Ophanimon-sama."

Digiscan: Sorcerymon adalah Digimon penjaga Istana Seraphimon di Terminal Hutan. Merupakan digimon penyihir yang menguasai es dan sihir penyembuh. Tampilannya serupa dengan Wizardmon, hanya saja ia berwarna putih. Serangan miliknya adalah Crystal Cloud.

"Sorcerymon." kata Tomoki sambil tersenyum.

Hikari terkejut. "Ekh? Wizardmon...putih?"

Menjawab pertanyaan itu Sorcerymon menggeleng. "Nona Hikari, sayang sekali aku berbeda dengan Wizardmon. Tampilan kami memang serupa, tapi elemen saya berbeda. Saya menguasai sihir es dan penyembuh."

"Oh.." senyum Hikari getir. "Maaf."

"Tidak masalah. Mari saya antar ke dalam." tunjuk Sorcerymon ke dalam istana.

Mereka melangkah semakin dalam. Hingga..

"Selamat datang, Legendary Warriors.." sambut Seraphimon.

"Selamat datang.." ucap Ophanimon. Lalu bibirnya tersenyum simpul melihat siapa yang juga menyertai. "Hikari, Takeru, dan yang lain."

Hikari tersenyum takjub melihat digimonnya sekarang. Bagaimanapun, ini adalah pertama kalinya ia melihat sosok Ultimate Level Digimonnya yang sudah lama tidak ia temui. "Ophanimon.."

"Yang lain?" ucap Daisuke sembari memasang ekspresi manyun karena merasa kurang diperhatikan. Ken yang berada di sampingnya terkikik maklum melihat reaksi partnernya itu.

"Ophanimon..Seraphimon. Kami langsung saja pada masalahnya. Sebenarnya, apa yang terjadi di kedua dunia ini?" buka Kouichi langsung.

"Baiklah. Kami mulai dari siapa para Digimon yang kalian lihat itu, Takuya, Kouji. Mereka adalah para Seven Lord Demon." ucap Ophanimon.

Alis mata Kouji bertaut mendengarnya. "Lord Demon?" ulangnya dengan nada sengit.

"Ya. Mereka adalah para raja dan ratu Iblis Dunia Digital. Keberadaan mereka tersembunyi, namun ketika mereka muncul, kekacauan akan terjadi. Saat ini dapat dikatakan mereka baru saja muncul dan memulai serangannya di dunia manusia."

"Bisa jelaskan lebih detail mengenai para Lord Demon itu?" tanya Izumi.

"Tentu. Seven Lord Demon adalah kelompok tipe Demon Lord Digimon yang masing-masing mewakili salah satu dari Tujuh Dosa Mematikan dan didasarkan pada tujuh setan dari mitologi Yahudi-Kristen. Mereka terdiri dari; Daemon, Beast Type Virus Digimon; Lilithmon, Dewi Kegelapan Digimon yang berwujud seperti wanita berkimono hitam-ungu; Leviamon, Beast Type Virus Digimon berbentuk buaya raksasa; Beelzemon, Human Type Virus Digimon yang berwujud seperti iblis ketua Gengster; Barbamon, Human Type Virus Digimon yang berwujud seperti kakek bengis berjenggot putih panjang; Belphemon, Beast Type Virus Digimon. Lord Demon yang satu ini memiliki dua wujud. Sleep Mode dan Rage Mode, kemudian, yang ketujuh..Lucemon."

Takuya tersentak. "Jadi..mereka..?"

"Jadi itu hubungan mereka dengan Lucemon, ya..Mereka satu kelompok.." ucap Kouji.

Seraphimon mengangguk membenarkan. '"Benar sekali."

"Tu..Tunggu.." usik Kouichi tiba-tiba."Mereka adalah seven Lord Demon. Sedangkan yang dilihat Takuya dan Kouji hanya ada 5. Anggaplah kalau Lucemon itu sudah dikalahkan kita 5 tahun lalu. Lalu..siapa sisa satu lagi? Apakah itu..?"

"Pertanyaan yang bagus, pejuang Kegelapan. Benar katamu, para seven Lord Demon memang tidak bisa disebut seven lagi karena kelompok mereka telah kehilangan Lucemon yang telah dikalahkan oleh kalian. Sisa satu lagi adalah...Belphemon." lanjut Seraphimon.

"Jadi..Kemarin saat kami datang ke markas mereka, Digimon itu tidak ada?" tanya Takuya.

"Tidak. Menurut kami..Belphemon masih tertidur. Digimon itu masih berada dalam Sleep Mode-nya. Dia belum terbangun dari dunia kegelapan. " ucap Seraphimon.

"Tertidur..?"

"Jadi begini, kalian semua," suara Ophanimon melanjutkan. "Ketujuh Lord Demon itu selama ini sesungguhnya berada tersegel di daerah Kegelapan. Tepatnya, daerah yang pernah dilihat oleh Ken dan Hikari. Kau ingat tidak, Hikari? Saat pertama kali kau berada di Laut Kegelapan? Apa yang kau lihat?" tanyanya.

"Aku.."Hikari berusaha mengingat sambil menaruh punggung tangan di bawah dagunya. "Ada sekumpulan digimon-digimon kecil yang ketakutan oleh sesuatu. Mereka hanya mengatakan takut oleh hal 'itu' tapi tidak menjelaskan dengan spesifik. Aku tidak mengerti apa itu. Tapi memang ada yang tidak beres. Aku dapat merasakannya. Kemudian...a..aku..melihat bayangan..Bayangan sosok mengerikan di balik kabut awan. Sesuatu yang besar..bertanduk. Matanya bersinar...merah.."

Ophanimon menghela nafas. "Sudah kuduga. Hikari..Sebenarnya saat itu kau nyaris bertemu dengan Daemon." ucapnya mengagetkan mereka semua.

"Daemon...?"

Mendengarnya, bahu Hikari bergetar semakin kencang dan tampak merinding ketakutan. Takeru merangkulnya. Tindakan ini terlihat jelas oleh Daisuke yang hanya bisa manyun dan diam melihat.

"A..Aku nyaris bertemu Daemon..?" getir Hikari.

"Menurut kami, saat itu hanya Daemon-lah yang hampir terbangun. Sementara keenam Lord Demon lainnya masih terkunci dan tersegel di dalam kegelapan. Hal itu terus berlangsung..hingga Daemon muncul di Hikarigaoka. Tentu kau masih ingat kan, Takeru? Kita memang tidak mengalahkannya, namun hanya membuangnya kembali ke dunia Kegelapan berkat Ken."jelas Seraphimon.

Takeru mengangguk.

"Lalu berikutnya..setelah kalian berhasil mengembalikan Daemon ke dunia kegelapan, Daemon kembali tertidur, namun Lucemon terbangun. Setelah para Legendary Warriors asli kembali menyegelnya di dalam kegelapan, untuk beberapa saat sebenarnya Lucemon masih terbangun dan menyiapkan kelahiran kembalinya secara perlahan-lahan. Dunia Digital semakin porak-poranda. Selanjutnya, seperti yang kalian ketahui. Takuya, Kouji, Kouichi, Izumi, Tomoki dan Junpei datang ke dunia ini menggantikan para Legendary Warriors asli. Dan kalian berhasil memusnahkan Lucemon. Tapi dunia Kegelapan yang asli, yang kalian hancurkan saat itu..bukan tempat berdiamnya mereka semua sebelumnya. Tempat itu hanya milik Lucemon. Sedang dunia tempat sisa Lord Demon lainnya masih belum terjamah."

"Jadi..dimana dunia Kegelapan tempat sebenarnya mereka berasal itu, Seraphimon? Bukankah, saat itu, saat inti kegelapan itu berhasil kami hancurkan, sudah tidak ada lagi sisa-sisa tempat di dunia Digital sampai pada saatnya dunia Digital diciptakan kembali? Lalu, dimana mereka?"tanya Tomoki.

"Dunia Kegelapan tempat mereka semua berasal adalah dunia parallel. Bukan bagian dari dunia Digital itu sendiri, pejuang Es. Justru setelah mereka terbangun, mereka akan keluar dari dunia kegelapan parallel itu kemudian menciptakan tempatnya sendiri di dunia Digital. Saat ini, keenam Lord Demon sisanya sudah hampir terbangun semua. Mereka mulai menciptakan tempatnya sendiri. Dunia Digital mulai kacau. Tapi sepertinya target utama mereka kali ini adalah dunia Manusia langsung."

"Sebenarnya, apa yang membangunkan mereka, dan apa alasan mereka memulai tindakan di dunia Manusia?" Kouji yang bertanya.

"Hal itu.."

"Sepertinya pemicu kebangkitan mereka itu sendiri berasal dari dunia Manusia. Manusia yang memiliki kegelapan mendalam di hatinya secara sengaja maupun tidak sengaja membangunkan dan memanggil mereka untuk menghancurkan dunianya sendiri."

"Apa...?"

"I..Itu tidak mungkin, bukan? " suara Junpei panik. "Ma..masa ada manusia yang ingin menghancurkan dunianya sendiri saking gelapnya hatinya. Itu tidak mungkin. Ophanimon, Seraphimon, kalian pasti salah!"

"Itu mungkin saja, Junpei." Ken bersuara."Sebagai orang yang pernah dihinggapi kegelapan, aku paham itu. Saat kesedihan..kekecewaan..dan sebagainya merasuk di dalam hati manusia, maka semua pikiran gelap dan jahat sangat mudah mempengaruhi segala tindakannya menjadi jahat. Analoginya, anggap saja orang yang sebaik apapun, jika mengalami deru kesedihan setiap saat pasti muncul pikiran dalam dirinya untuk menghilang dari dunia ini..atau..menghancurkan dunia itu sendiri. Betul, kan, Ophanimon? Seraphimon?"

Ophanimon dan Seraphimon mengangguk bersamaan. "Benar. Hal itu memang sangat mungkin terjadi."

"Aku setuju dengan pendapat Ken.." kata Kouichi tiba-tiba. "Karena apa yang kualami pun juga seperti itu." lanjutnya dengan mata sendu.

"Kouichi.." lirih Kouji kepada kakak kembarnya.

Mereka berdua belas terdiam dan menunduk. "Benar juga ya.."

Lalu keheningan kembali menyapa.

"Kalau begitu...apa yang perlu kita perbuat, teman-teman? Tentu saja kita tidak akan membiarkan ini terus terjadi bukan? Ayo semangat!" ucap Daisuke tiba-tiba. Ia kembali menyalakan semangat mereka semua yang berada di situ.

"Kita bisa berusaha menemukan siapa orang itu, bukan? Kita akan coba..untuk mengurangi kesedihan di hatinya dan mengembalikannya kepada kenyataan bahwa dunia ini sebenarnya indah."

Kebanyakan kepala mengangguk setuju. "Aku setuju."

"Tapi, kalian semua.."

Mereka menengok kepada si kecil dalam kelompok ini. Tomoki, yang bersuara barusan. "Orang yang memendam kesedihan..kekecewaan..dan kemarahan di dalam hatinya itu kan, bukan cuma satu? Sedangkan, dunia ini luas. Jangankan dunia. Jepang-pun sangat luas."

.

.

Terdiam.

"Menurut kami.." suara Ophanimon memecah keheningan,"Kalian bisa membatasi pencarian kepada seseorang yang memiliki akses Digital. Akses ke dunia Digimon. Orang itu mungkin memiliki akses secara tidak langsung melalui sambungan..game, misalnya. Tapi tidak memiliki kekuatan untuk terlibat langsung seperti kalian. Mungkin dia hanya berusaha untuk melampiaskan perasaannya di dalam game. Tapi akhirnya justru malah membangunkan para Lord Demon."

"Begitu. Baiklah. Mari kita coba, teman-teman! Kita temukan orang itu, kemudian membereskan para Lord Demon, kembali membuangnya ke dalam kegelapan abadi dan menyegelnya sebelum Belphemon sempat terbangun sempurna!"

Wajah kedua belas orang itu bersemangat seketika. "Ou...!"

-000-

.:Kediaman Murasaki .:

PRAAANG..!

Kembali sebuah vas keramik mahal pecah bertebaran di lantai akibat bantingan seorangwanita—lebih tepatnya ibu—yang berpenampilan modis. "Sudah, Pa! Aku tidak tahan jika begini terus! Kau selalu membuat masalah, lagi dan lagi! Aku sudah capek, Pa! Capek! Kita cerai saja!" marahnya.

"Kau bicara apa, hah? Terus saja bicara omong kosong sampai kau bosan!" bentak sang Papa.

Sementara seorang anak kecil berusia sepuluh tahun itu berdiri termangu di depan pintu gerbang rumahnya sambil menggendong ransel merah dan masih memakai seragam. Air mata menggenang di kelopak matanya. Seluruh tubuhnya bergetar, tangannya mengepal penuh kemarahan. Tak tahan, ia segera berlari menuju kamarnya di lantai dua. Di tengah perjalanannya ke kamar, cairani-cairan bening itu mulai menetes dengan deras.

"Aku benci...! Aku benci Papa dan Mama! Aku benci dunia ini! Kapan dunia ini akan berakhir...?"

TO BE CONTINUED

What's next on Chapter 7?

Titik terang permasalahan mulai terlihat. Kedua belas anak ini semangat untuk meneruskan pencarian terhadap seseorang yang mengakibatkan ini semuanya terjadi. Petunjuk demi petunjuk mereka kumpulkan.

Tetapi...

Waktunya bertepatan dengan musim festival di Hagashiyama High School!

Bagaimana cara mereka melewati semuanya?

a/n: Inilah chapter 6. Bagaimana?

Haha..pasti pada bilang tidak seru. Soalnya di chapter ini tidak ada action-nya dan hanya penjelasan-penjelasan beruntun. Apalagi ditambah dengan kata-katanya. Uughh...tanda-tanda mau WB lagi, nih. Kata-kata udah mulai abal sangadh.

Harap bersabar dengan action-nya.=="

Memang perkembangan plotnya begini, sih. Ada satu chapter yang full berisi penjelasan apa yang terjadi serta taktik mereka. Dan, di chapter 6 inilah Natsu menaruhnya.

Di chapter 5 Natsu mendapat saran dari beberapa reviewer untuk lebih menggunakan 3rd pov dibanding chara pov. Mulai dari sini akan Natsu coba untuk menerapkannya. Thx atas reviewnya, ya.

Di chapter berikutnya diusahakan school life dan action akan kembali digali.

Tetap RnR yach? ^.^