Seperti mimpi saja merayakan natal bersama seperti itu. Bahkan kami bermain ski bersama, sampai awal tahun baru kami masih bersama, berdoa di kuil. Tapi sesudah itu… aku tidak dapat kabar lagi dari Seicchi sampai akhirnya tahun ajaran baru pun dimulai. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitarku mencari rambut merah menyala di antara murid-murid Teikou yang lain dan akhirnya aku menemukannya. Aku segera menghampiri Seicchi.

"Seicchi! Ohayou~!"

"Ohayou. Semangat sekali. Seperti seekor anak anjing yang baru bertemu tuannya."

"Habisnya setelah dari kuil Seicchi tidak memberi kabar sama sekali. Seicchi ngapain aja sih ssu?"

"Oh. Aku dapat ribuan spam, jadi ponselku kumatikan." Jawab Seicchi datar. Spam? Jadi… aku mengganggunya ya? Hiks, jadi sedih. "Kenapa? Aku tidak bilang yang kumaksud pesan darimu kan?"

"Eh? Benarkah?"

"Kenapa? Apa setelah kutinggal kau menangis sendirian lagi?"

"Aku tidak menangis, soalnya aku punya ini." Jawabku sambil menunjukkan kalung pemberian Seicchi dengan berbinar-binar. Seicchi sedikit terkejut mendengar jawabanku maka aku melanjutkan, "Aku ingat apa yang Seicchi katakan kok. 'Ini adalah bukti kalau kau adalah milikku, jadi jangan sampai lupa.' Berkat ini, aku jadi selalu bersemangat ssu!"

"Kau tenang sekali ya?" Eh? Apa maksudnya? Aku mengernyit heran kemudian Seicchi melanjutkan kalimatnya, "Kau harus ingat aku bisa membuangmu kapan saja. Dan saat itu terjadi benda itu tidak akan ada gunanya lagi." Setelah berkata demikian Seicchi menyeringai kemudian meninggalkanku yang pundung di pojokan. Jahat sekali.

Tidak apa-apa, pasti Seicchi berpikir aku istimewa meski hanya sedikit. Ini juga mungkin hanya cinta kepada hewan peliharaan tapi aku akan berjuang sehingga suatu saat peringkatku naik dari hewan peliharaan menjadi pacar. Yosh! Aku akan memanfaatkan even valentine yang akan datang sebentar lagi. Seicchi mungkin benci acara-acara seperti ini tapi kalau coklat tidak masalah 'kan?


~Dai-chan's POV~


Orang bodoh itu masih saja mengejar Akashi-teme padahal sudah dibegitukan. Lihat? Lagi-lagi Akashi-teme itu membuatnya pundung di pojokan. Aku mendekatinya berniat menghiburnya dengan mengajak one on one tapi sepertinya dia masih larut dalam pikirannya sendiri jadi dia tidak merasakan kehaidranku. Jangankan kehadiranku, aku memanggilnya saja dia tidak dengar. Sialan, aku bukan Tetsu.

"Oy Kise!" seruku akhirnya. Kesal juga dicuekin.

"Oh Aominecchi, ada apa?" tanya Kise.

"Dari tadi kau melamun saja, aku mengajakmu one on one mau tidak?"

"Eh? One on one? Tentu saja ssu yo! Ayo!" seru Kise bersemangat dan segera mengambil bola basket lalu berjalan ke lapangan.


~Ryou-chan's POV~


"Apapun itu aku tidak mau. Aku tidak suka makanan manis." Ucap Seicchi saat aku memancing percakapan mengenai coklat. "Kalaupun kau memaksaku, nanti akan kuberikan pada Murasakibara." Tambahnya lagi yang membuat niatku semakin down.

"Be-begitu ya?" Tapi aku tetap ingin membuat coklat untuknya.

"Acara yang bodoh. Tapi jika kau membawa sesuatu yang bisa kumakan, mungkin takkan kutolak." Ujarnya lagi. Eh? Kenapa? Apakah aku terlihat sekali kecewa saat dia tidak mau coklat? Atau dia tahu aku akan membuatkannya coklat? Atau keduanya? Ya, apapun itu berarti masih ada kesempatan. Aku akan berjuang.

Sesampainya di rumah aku segera kembali keluar untuk membeli beberapa bahan membuat coklat. Aku memilih bahan-bahan terbaik agar Seicchi mau memakan coklat buatanku. Seusai memilih bahan coklat aku segera mengantri untuk membayar.

"Lama banget sih, cepet dikit ngapa?" komentar seseorang yang mengantri di depanku.

"Ck. Kuso! Dompetku tertinggal!" rutuk seseorang yang suaranya familier bagiku. Aku pun menelengkan kepalaku untuk melihat siapa yang berada di depan sendiri dan aku melihat Aominecchi yang terus-terusan merutuk sambil mencari dompetnya.

"Aku akan membayarnya." Ucapku sambil berjalan maju ke kasir.

"Oy Kise, tidak perlu, aku tidak terlalu butuh barang ini, aku akan segera mengembalikannya." Tolak Aominecchi.

"Tidak apa-apa, Aominecchi bisa mengembalikannya nanti. Berapa semuanya?" tanyaku pada kasirnya.

"2800 yen." Jawab penjaga kasir itu.

Setelah membayar belanjaan Aominecchi aku pun melanjutkan antriku dan membayar barang-barang belanjaanku. Saat aku keluar dari supermarket aku menemukan Aominecchi menungguku di sana.

"Eh Aominecchi?"

"Terima kasih Kise. Aku akan segera ke rumahmu setelah ini untuk mengembalikan uangmu." Ujar Aominecchi sambil menggaruk belakang kepalanya. Apa dia gatal? Jangan-jangan Aominecchi kutuan. Wkwkwk. "Kenapa tertawa? Ada yang lucu?"

"Hehe habisnya Aominecchi nggak nyantai, besok juga kan kita latihan basket. Besok saja. Lagipula ada yang mau kulakukan di rumah." Jawabku sambil tersenyum manis.

"Ya-yasudah kalau begitu. Thx, Kise." Ucap Aominecchi lagi. Eh?

"Wa Aominecchi merona." Ujarku sambil menatapnya.

"A-apa— aku tidak—"

"Wah ternyata Aominecchi bisa merona juga ya~"

"Apa yang kau katakan? Tentu saja bisa! Hanya saja karena kulitku gelap jadinya tidak terlihat!"

"Eh? Maaf. Aku tidak bermaksud menghinamu."

"Ck. Sudah biasa kok."

"Eh tidak kok, menurutku itu justru keren sekali. Terlihat seksi. Aku bahkan ingin punya kulit seperti itu" ucapku dengan mata yang berbinar-binar.

"Tch. Kau tidak perlu berpura-pura seperti itu." Ujar Aominecchi sambil membuang muka, aku dapat melihat wajahnya lebih memerah daripada tadi.

"Tidak, itu sungguhan. Selain itu badan Aominecchi juga bagus jadi kulit Aominecchi yang sedikit gelap itu semakin membuatnya nampak seksi. Saat Aominecchi ganti baju aku bahkan terbersit ide untuk memfotonya dan menjadikannya screensaver! Agar memberiku semangat untuk membentuk badanku seperti Aominecchi. Tapi tidak jadi habisnya nanti ambigu hehe~"

"Cukup! Lagipula itu memang ambigu! 'ttaku!" komentar Aominecchi sambil facepalm dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau tidak perlu berkata seperti itu."

"Ck. Aominecchi selalu menolak apa yang kukatakan. Bukankah tidak sopan menolak setiap ucapan sesorang padahal dia serius?"

"Wari' wari'." Ucap Aominecchi lagi.

"Eh tidak apa-apa kok, aku tidak marah. Hanya saja seharusnya Aominecchi tidak berpikir negatif hanya karena warna kulit Aominecchi yang sedikit berbeda. Aku baru tahu ternyata Aominecchi kurang percaya diri dengan warna kulit Aominecchi."

"Siapa bilang aku tidak percaya diri? Kau 'kan tahu kalimatku yang—"

"'Tidak ada yang bisa mengalahkanku selain aku' itu namanya bukan pecaya diri, tapi arogan."

"Itu percaya diri! Percaya bahwa tidak ada yang bisa mengalahkanku selain aku."

"Ya terserahlah~ tapi intinya, warna kulit Aominecchi tidak buruk, aku suka kok." Ucapku sambil tersenyum. "Ah, aku duluan ya, sudah sore."

"Hn." Jawab Aominecchi sambil lalu.

Segera setelah sampai rumah aku membuat coklat untuk Seicchi. Aku berencana untuk membuat coklat yang tidak terlalu manis agar Seicchi mau memakannya. Setelah diajari nee-chan dan beberapa percobaan gagal akhirnya aku berhasil membuat coklat yang luar biasa hehe jadi tidak sabar besok.

"Oy, Kise." Sapa Aominecchi.

"Ah, Aominecchi! Ohayou!" sapaku balik.

"Dapat banyak coklat seperti biasa, eh?"

"Iya, hehe… Aominecchi dapat?"

"Tidak. Dan tidak peduli." Jawab Aominecchi sambil berjalan.

"Eh kenapa? Padahal Aominecchi itu keren lho." Ujarku mengekori Aominecchi.

"Kenapa kau tanya a—"

"Ah aku tahu, itu karena Aominecchi garang sekali. Seharusnya kau sedikit tersenyum seperti ini." Ujarku sambil menarik sudut bibir Aominecchi. "Puh!"

"Dasar bodoh! Kalau kau tarik begitu yang ada ini kelihatan aneh tahu!"

"Hehe maaf, maaf."

"Ryouta, Aomine, ohayou." Sapa Seicchi yang entah muncul darimana merangkul pinggangku.

"Se-Seicchi? O-ohayou." Jawabku gugup dengan wajah yang sedikit memerah.

"Ohayou, Akashi. Aku duluan ya." Ujar Aominecchi sambil meninggalkan kami berdua.

"E-Eh? Aominecchi?" gumamku hendak menahan Aominecchi tanpa menyadari tatapan dingin Seicchi pada Aominecchi.

"Kau keberatan?" tanya Seicchi.

"Ti-tidak, hanya saja kalau begini orang-orang akan melihat kita seperti pasangan."

"Oh kau benar." Ujar Seicchi segera melepaskan rangkulannya.

"Ah Seicchi, aku berhasil membuat coklatnya lho."

"Padahal aku berharap kau gagal."

"Mou, hidoi ssu yo Seicchi!" rengekku, Seicchi hanya menyeringai. "Akan kuberikan saat istirahat nanti tunggu aku di tempat biasa ya."

"Merepotkan sekali."

"Pokoknya Seicchi harus datang." Ujarku sambil berlalu. "Janji loh."

"Hah~ apa boleh buat." Jawab Seicchi sambil tersenyum.

~Daicchi~

Begitu bel istirahat berbunyi aku segera berjalan menuju tempat Seicchi menunggu, niatnya. Tapi pak guru menyuruhku membawakan beberapa dokumen ke ruangannya karena aku tertidur di kelas saat pelajaran tadi. Hah~ akhirnya selesai juga, sekarang aku harus segera menemui Seicchi. Aku berlari menuju tempat yang dijanjikan tapi ketika melewati gym aku melihat Aominecchi sedang bermain basket jadi aku memutuskan untuk berhenti sebentar.

"Aominecchi~" sapaku yang ternyata mengagetkannya karena meski bolanya tetap masuk, dia jatuh saat selesai melakukan formless shotnya. Wkwkwk. Lucu sekali sampai aku tidak bisa menahan tawaku. "Pft. Kaget ya?"

"Tch. Ada apa?"

"Tidak apa, hanya mau menyapa saja." Jawabku.

"Kalau hanya menyapa saja—coklat… untuk Akashi ya?"

"Iya, kemarin aku membuatnya sendiri."

"Oh jadi ini urusanmu kemarin."

"Iya."

"Kalau begitu sebaiknya kau segera menghampiri Akashi. Sudah mau bel." Ujar Aominecchi sambil memungut bola basket tadi.

"Ah kau benar." Ujarku hendak berlari lagi tapi kemudian aku berhenti. "Aominecchi, ini untukmu." Ujarku memberikan sebuah coklat.

"Bukankah ini untuk—"

"Tidak, bukan yang itu. Ini coklat yang dari fansku. Coklatku terlalu banyak jadi—"

"Aku tidak mau."

"Eh? Kenapa? Kau juga tidak suka makanan manis?"

"Bukan begitu. Ini coklat dari fansmu, seharusnya ini untukmu."

"Tidak apa, itu'kan sudah diberikan padaku, berarti itu sudah jadi milikku. Jadi, bisa dikatakan itu coklat dariku."

"Tapi—"

"Sudahlah, terima saja. Itu coklat bermerk, enak pasti. Nah, aku duluan ya Aominecchi." Ujarku sambil berlalu meninggalkan Aominecchi yang mendecih namun kemudian tersenyum dan memakan coklatnya. Hihi.

"Kau lama Ryouta."

"Ma-maaf Seicchi tadi aku ada sedikit urusan."

"Urusan, heh?" gumamnya dengan ekspresi yang tidak dapat kuartikan.

"I-iya, nah ini buat Seicchi. Coklatnya kucampur dengan kopi jadi seharusnya tidak manis."

"Oh jadi kau berusaha keras membuatnya ya? Hanya untukku 'kan?" ujar Seicchi menerima coklatku tapi kemudian melemparkannya padaku yang secara refleks langsung kutangkap. "Aku tidak mau ini."

"Tu-tunggu! Katanya Seicchi mau mencobanya dulu~ Kenapa~? Aku sudah mencobanya enak kok~" rengekku.

"Kau pikir aku peduli dengan rasanya? Kalau aku makan hal menjijikan begitu aku bisa mati."

"E-Eh? Apa maksudnya? Hidoi ssu yo!"

"Kau memberi coklat pada Aomine juga kan?"

"A-Aku punya alasan memberikannya, itu hanya coklat untuk teman saja lagipula bukan coklat buatanku yang kuberikan."

"Aku tidak peduli. Aku tidak mau disamakan dengan Aomine."

"Memangnya kenapa sih? Coklat yang kuberikan 'kan berbeda, lagipula Aominecchi keren kok, dan meski dia suka meledekku tapi Aominecchi sebenarnya orang yang baik dan sangat perhatian."

"Begitu? Kalau begitu kau minta saja dia untuk jadi pacar bohonganmu."

~Daicchi~

"Oy Kise! Awas!" seru Aominecchi tapi terlambat, bola basket sudah menghantam wajahku.

"Itte."

"Ada apa sih kau melamun terus dari tadi?"

"Ng-nggak papa kok."

"Kalau nggak papa jangan melamun begitu bodoh, permainanmu yang buruk mempengaruhiku juga!" bentak Aominecchi. Tanpa sadar aku pun menitikkan air mata. "Wa-warui, a-aku tidak bermaksud membentakmu, jangan menangis."

"Huee Aominecchi~ aku benci valentine." Tangisku dengan air mata yang mengalir deras.

"E-eh?"


~Seicchi's POV~


"Kau jahat sekali dengan Kise, Akashi." Komentar Midorima saat melihat Kise sedang menagis di sana. "Kau seharusnya minta maaf padanya sekarang."

"Kau memerintahku? Lagipula untuk apa aku minta maaf?"

"Kau ini benar-benar iblis ya?"

"Terima kasih. Kau orang yang kesekian yang mengucapkan itu."

"Kise memberikan coklat pada Aomine karena ada alasannya 'kan? Lagipula coklat yang diberikannya bukan coklat buatannya."

"Aku tidak peduli. Itu salahnya karena membuatku marah."

"Hm, ternyata seorang Akashi Seijuurou cemburuan juga." komentar Midorima membuatku mengernyitkan alisku.

"Siapa bilang aku cemburu?" sangkalku. "Kenapa juga aku harus senang kalau anjingku menjilatku?"

"Kau ini. Aku yakin Kise tidak akan meninggalkanmu. Karena itulah mau sejahat apapun kau padanya ia akan tetap mengejarmu, tapi kau benar-benar sudah menyakitinya. Bukan hanya kau manusia di dunia ini. Jika terus seperti ini, Kise bisa jatuh ke tangan orang lain. Apalagi dia populer."

"Aku hanya kehilangan salah satu mainanku. Hanya seperti itu saja. Latihan dibubarkan." Ujarku sambil lalu.


~Ryou-chan's POV~


"Cuma karena hal seperti itu saja dia sampai marah begitu." Aduku pada Aominecchi sambil sedikit terisak.

"Kau yang bodoh, sudah kubilang 'kan jangan memberikan coklat itu padaku? Sudah jangan menangis! Brisik tahu!" seru Aominecchi padaku.

"Hidoi ssu yo, Aominecchi!" seruku sambil menghapus air mataku. "Pokoknya, aku sampai sekarang masih berpikir kalau aku tidak salah. Aku sebenarnya senang dia menolaknya."

"Kau ini sudah tahu Akashi seperti itu."

"Iya dia memang menyebalkan, sombong, suka ngatur, mencari-cari kesalahan orang lain, orangnya membingungkan. Dia senang sekali mempermainkanku. Kadang-kadang bisa baik juga tapi sering membuatku menangis juga."

"Aku sudah tahu." Aku baru mau membuka mataku untuk menanggapi kalimatnya tapi dia sudah memotongku. "Lagipula kau masih menyukainya 'kan? Dasar bodoh."

"Iya sih."

"Kenapa sih kau ini masih menyukainya?"

"Entahlah. Padahal sebaiknya aku menyerah saja kan?" ujarku menghela nafas dan meletakkan kepalaku di meja, hendak menangis lagi.

"'ttaku! Berhentilah menyukainya! Denganku saja!" seru Aominecchi.

"Eh?" aku segera mengangkat kepalaku karena kaget.

"Memang aku tidak sesempurna Akashi tapi aku tidak akan membuatmu menangis sungguhan!" seru Aominecchi sambil menatapku. Aku dapat melihat rona merah dipipinya. Aku pun tertawa.

"Hahaha, berkata seperti itu, tidak seperti Aominecchi sama sekali."

"Teme—"

"Aku akan memikirkannya." Jawabku sambil tersenyum manis.

"Tch. Aku duluan." Jawab Aominecchi sambil berjalan meninggalkanku.

"Eh tunggu! Jangan marah Aominecchi! Aominecchi~!" seruku mengejarnya. Hihi aku terkejut, tapi entah kenapa aku juga sedikit senang.


~Seicchi's POV~


Aku membuka ponselku. Tidak ada pesan baru, sejak kemarin. Tch. Dia tidak meminta maaf padaku? Belum jera juga. Kemarin dia menyiramku dia juga tidak minta maaf. Sepertinya aku harus melatihnya lebih baik lagi.

"Akashi, pak guru memintamu untuk datang ke ruang guru saat makan siang." Ujar Midorima.

"Baik."

Seusai urusanku dengan pak guru aku tidak segera kembali ke kelasku. Entah kenapa aku berjalan ke kantin. Aku melihat sekeliling dan tidak menemukan Ryouta di antara Kuroko dan Momoi. Kenapa juga aku mencarinya?

Aku melanjutkan perjalananku ke kelas saat aku melihat Aomine keluar dari kelasnya. Aomine menghentikan pergerakannya sesaat tapi kemudian segera berlalu. Ketika ia sampai di dekatku dia segera berhenti lagi lalu menatap mataku. Berani sekali, eh?

"Apa yang mau kau katakan?" ujarku menatapnya balik.

"Kise."

"Hn?"

"Kise. Kau menyukainya tidak?"

"Apa yang kurasakan padanya bukan urusanmu 'kan?"

"Memang bukan urusanku, tapi kau sering menyakitinya. Kau tahu itu 'kan?"

"Itu sudah jelas 'kan?"

"Lalu kenapa kau melakukannya? Tidak bisa kah berbuat baik padanya sedikit saja?"

"Entahlah. Saat melihat dia tersipu dan kegirangan dengan setiap yang kukatakan, entah kenapa aku tidak bisa menghentikannya."

"Jadi begitu? Kise… benar-benar tidak ada artinya bagimu. Aku menyukai Kise! Dia belum menjawabnya karena dia masih memikirkannya." Ujar Aomine sedikit mengagetkanku. Aomine menyukai Kise? Menyatakan perasaan padanya? "Aku memang tidak sesempurna kau tapi aku tak akan membuatnya menangis."

"Jangan munafik, kau sering membuatnya menangis juga."

"Tapi dia tidak sungguh-sungguh menangis."

"Apa bedanya 'kan?"

"Tentu saja berbeda. Untuk seseorang yang hanya menggunakannya sebagai alat pemuas, aku yakin tidak akan mengerti."

"Kalian semua sama saja, terserah kalian saja. Kau boleh menjadi pacarnya, membuatnya bahagia, atau apalah itu. Kalian serasi. Aku yakin kalian akan langgeng dan punya hubungan yang bahagia." Ujarku sambil berjalan meninggalkan Aomine.

"Teme, kau benar-benar tidak menyukai Kise?"

"Kise… sejak awal hanya alat untuk menghabiskan waktuku saja."


~TBC~


A/N: Maaf ya ternyata aku tidak bisa membuat satu POV saja. Di sini ada POV-nya Dai-chan lah, Sei lah. Maaf banget. Sebagai permintaan maaf saya mengupdatenya lebih cepat, sekalian minta maaf karena kemarin pendek sekali. Semoga kalian menyukainya~

Akaverd20: iya kah? Sepertinya sudah seminggu hehe

undeuxtroisWaltz: Oh iya kah? Hehe sepertinya saya yang salah, gomenasai~ Iya dia maso sekali, unyu deh /dibalang. Nggak ada, tapi yang ini ada kok.

kise cin: Eh? Padahal sudah seminggu. Haha sama-sama.

hyena lee: Belum, belum. Ah di chap ini belum bisa so sweet hehe…

Qq: Iya, author juga kurang paham kok sama bokushi. Lha Sei nya php sih jadi bolak-balik gitu Ryou-channya~

yuu: nggak kok Cuma ditindih aja/heh /ambigu. Aku juga suka, rasanya gimana gitu ya ngguyur the Almighty Emperor wkwkwk. Sayang tidak bisa diulang hehe.