VII
Jungkook mengetuk pintu ruangan Han Mingyu, dokter kepolisian Federal Bureau of Investigation. Ia mendudukkan dirinya dengan pandangan bertanya. Dokter Han mengamati Jungkook, sebelum menyuguhinya secangkir kopi. "Agent Jeon?". "Ya, Dokter? Ada yang bisa saya bantu?". "Chief menugaskanku untuk menjalankan sebuah terapi".
"Terapi?", Jungkook tertawa geli. "Aku tidak tertatik".
"Ini sebuah keharusan", Dokter Han berdeham, membalik kertas di tangannya. "Chief berkata unitmu mendapat sedikit masalah, ne? Ia ingin kalian‒kau, tepatnya‒fokus kepada pekerjaan", Dokter Han menangkupkan jemarinya. "You went too deep on the case, Agent Jeon".
Jungkook mengangkat tangan, "Maksud Anda kasus 'Red John', Dokter? Tidak perlu khawatir, aku sudah dikeluarkan dari kasus". Jungkook tersenyum, "Permisi". Ia hendak bangkit ketika Dokter Han menyuara. "Masalahnya, Agent‒".
"Ya?", Jungkook mengangkat alis tidak sabar.
"Chief berkata seluruh unitmu dikeluarkan dari kasus".[]
•
•
•
"Chief, apa yang kau maksudkan?", Seokjin mengernyit ketika mendengar kabar dari Jungkook. Ia menghadap kepada pria yang menghela napas berat. Lee Shiyuk mendekat kepada Seokjin yang menatapnya tidak habis pikir. "Apa kau tidak memercayai kami?", sambung Seokjin.
Shiyuk mengurut pelipisnya yang penat, "Agent Kim, kau sudah masuk terlalu dalam. Kau kira berapa kali aku harus menutup nutupi tindakan untimu yang sangat tidak profesional?", Shiyuk mendengus. "Aku bahkan mendengar banyak tindak kekerasan yang dilakukan keparat Jeon itu kepada tersangka".
"Aku?", Shiyuk berjengit ketika Jungkook mengetuk pintu.
"Hey, ada apa ini? Mereka juga dikeluarkan dari kasus?".
Shiyuk mendengus kehabisan sabar, "Ini, Agent Kim‒", ia menuding Jungkook. "Ini yang kusebut sebagai tindakan tidak profesional. Dia melakukan sugesti, membuang buang waktu dengan delusi sintingnya‒".
Shiyuk menatap Jungkook geram, "Dan dia sangat kurang ajar!".
Seokjin menyalak cepat, "Dokter Jeon sangat membantu kami dalam menyelesaikan kasus, Chief. Kau tidak bisa menyangkal itu". "Tepat sekali", Jungkook menyeringai. "Kau tidak berguna tanpaku".
"Apa kau sudah gila?!", Shiyuk menggertak pria yang tertawa geli. "Kau mengerti maksudku, Agent Kim. Aku harus mengeluarkan unitmu dari kasus. Penilaian kalian sudah tidak akurat!".
Ekspresi pada wajah Jungkook berubah dingin. "Lalu? Siapa yang kau serahkan untuk menyelidiki kasus 'Red John'?". "Seorang detektif profesional", Shiyuk memberi penekanan di akhir kalimat.
"Kau boleh keluar, Agent Kim", Shiyuk mendelik kepada Jungkook. "Jangan sampai cenayang konyolmu berkeliaran di kantorku". Seokjin membungkuk hormat, menarik paksa Jungkook yang tersenyum pahit.
"Jungkook‒".
"Tidak. Aku dulu‒", Jungkook mendekat kepada Seokjin yang menghela napas panjang. "Aku mengerti banyak tentang Park Jimin, okay?". "Benarkah?", Seokjin mengangkat alis.
"Hey, aku bahkan berhadapan dengan psikopat sinting itu secara langsung".
Seokjin mengusap kepala Jungkook, meremas pundaknya ketika raut pria itu berubah muram. "Jungkook, mungkin memang ini yang terbaik untuk kita", Seokjin memaksakan seulas senyum. "Mereka detektif yang hebat. Mereka akan menyelesaikan kasus ini".
Jungkook menepis tangan Seokjin, melangkah pergi dengan bola mata yang berkilat sedingin es.
"Jungkook".
Jungkook tidak menoleh.
Seokjin menunduk gelisah ketika Jungkook berjalan tanpa menghiraukannya. Ia tidak ingin pria itu terperangkap ke dalam obsesinya. Ia tidak ingin dendam dan trauma Jungkook menjadikannya seseorang yang tak berperasaan lagi.
"Kumohon…", Seokjin menggeleng lirih, "…jangan kembali seperti dulu".
•
•
•
Jungkook berjalan di lorong markas, ia terhenti ketika melihat seorang pria jangkung yang tengah bercakap cakap dengan Shiyuk. Ia berdeham, "Chief, apakah ini detektif profesional yang kau bicarakan?", Jungkook mengangkat alis kepada pria yang mengamatinya jeli.
Park Chanyeol menyeringai ketika berbalik menghadap Jungkook, "Apa kau dokter gadungan yang berhubungan seks dengan tersangka utama?".
Jungkook terengah, "Apakah itu berita umum? Atau kau semacam stalker?". "Apa?", Shiyuk mendelik kepada Jungkook. "Belum cukupkah kau mempermalukanku?!".
Chanyeol menghela napas, "Tidak kubayangkan kau harus menangani bocah dungu sepertinya, Chief".
"Hey, hold on‒", Jungkook menuding Chanyeol. "Aku mengerti kasus 'Red John' lebih dari siapa pun‒apalagi kau". Chanyeol tertawa, "Tentu saja, kau pasti sudah mendapatkan petunjuk yang sangat berguna, ne?".
Jungkook menyilangkan tangan di depan dada defensif, "Bagaimana dengamu?". Chanyeol berlagak berpikir, "Yah, aku mengerti Red John memiliki 51 korban. Termasuk‒", Chanyeol menatap Jungkook. "Ayah dan ibumu?".
Raut Jungkook berubah dingin seketika. Park Chanyeol mendekat kepada pria yang menatap geram, "Biarkan unitku yang menangani ini. Jangan ikut campur. Meskipun, aku mendengar kau cenayang yang cukup hebat".
"Cenayang?", Jungkook mendengus kesal. "Aku seorang dokter!". "Tapi kau melakukan sugesti?", Chanyeol tertawa rendah, menepuk kepala Jungkook yang menepis tangannya kasar.
"Berbeda denganmu, unitku akan menemukan bukti. Aku yang akan menangkap Red John", ia tersenyum miring. "Bersenang senanglah dengan teorimu, Dokter".
Jungkook terdiam ketika pria itu berjalan pergi ke ruangan kantornya. Hoseok mendekati Jungkook yang hanya berdiri diam di lorong. Ia menepuk pundak pria itu pelan, "Hey, Jungkook?". Jungkook berpaling dengan dengusan jengkel, "Kau tahu bagaimana rasanya berbicara dengan bangsat arogan yang merasa dirinya mengetahui segala hal?".
Hoseok menatap tepat ke arah Jungkook, "Well…seperti itu rasanya berbicara denganmu". Jungkook mendengus kesal, mengumpat sebelum berjalan kembali ke ruangan kantornya. "Jeon?", Hoseok tersenyum cemas. "Get your head together, okay?".
Ia melesakkan tangan di saku, "Aku merasa kau mulai bingung".
Jungkook mengibaskan tangannya kasar, "Whatever", ia memutar mata. "Silahkan bergabung dengan unit menyebalkan Detektif Park kalau kau menganggapku sinting".
Hoseok terengah, merasa semakin khawatir ketika Jungkook membanting pintu kantornya, menyebabkan beberapa polisi menatap penuh kebingungan.[]
•
•
•
Seokjin memeriksa lokasi kejadian pembunuhan yang bertebaran oleh sampah. Ia mendekat kepada Jungkook yang bergumam pelan sembari memperhatikan sekeliling. "Jungkook?". Seokjin menggoyangkan pundaknya, "Hey, Jungkook? Kau mendengarku?". Jungkook mengerjap, "Ah, maaf, bagaimana?".
Seokjin berdeham cemas, "Kita sedang mengerjakan kasus, Jeon. Aku membutuhkanmu disini, okay?", ia kembali mencari mayat yang tidak ditemukan oleh polisi lokal. "Mereka sudah mencari di berbagai tempat di sekitar sini, Jin", Namjoon menghela napas berat.
"Hasilnya nihil".
Jungkook mengamati rentetan semut yang berjalan di dinding gang, mengarah kepada pintu logam yang berada di ujung lorong.
"Bagaimana dengan tempat sampah?", ujar Seokjin yang disambut dengan gerutuan risih Yoongi. "Tidak. Dumpster diving sangatlah menjijikkan", pria itu bergidik jijik untuk memperkuat argumennya.
"Detektif Min, tolong periksa", Seokjin tersenyum kecil ketika Yoongi terenyak kaget, sebelum dengan terpaksa membuka tempat sampah.
Jungkook menghampiri Seokjin dengan tangan dimasukkan ke dalam saku, "Kau tahu berapa banyak semut yang ada di dunia ini, Boss?". Seokjin mengernyit, "Tidak?". ""Jika mengambil angka konservatif, 1 persen dari serangga adalah semut, maka jumlah mereka adalah sekitar 10 ribu triliun. Mengangumkan, benar?".
Seokjin berdeham bingung, "Wow. That's a lot of ants".
Jungkook tersenyum, menengadahkan kepalanya kepada langit yang cerah dan tak berawan, "Kondisi udara sangat kering akhir akhir ini, ne?".
"Yes?".
"Dan kau tahu, semut selalu mencari tempat yang lembab". "Okay?", Seokjin mengangkat alis. "Aku tidak melihat relasinya dengan kasus ini, Jungkook. Apa kau baik baik saja?". Jungkook mendengus, "Aku tidak mengerti mengapa kalian menyanyakan hal yang sama kepadaku".
"Karena kau terlihat keluar jalur", Seokjin merendahkan suaranya. "Kau tidak bisa berhenti berpikir tentang Red John". Jungkook mengangkat bahu, mengikuti aliran semut yang bergilir masuk ke dalam pintu logam.
"Mungkin?", Jungkook tertawa geli.
"Mungkin aku banyak bersugesti, mungkin kau tidak percaya dengan teoriku", ia menyentak pintu yang terbuka dengan keriut nyaring. Seokjin membeku ketika melihat mayat pria yang dikerubungi oleh semut.
"But there he is, Boss", Jungkook menelengkan kepalanya. "And once again, I'm right".
Seokjin segera memeriksa tiga luka tembak yang melubangi tubuh pria itu. "Detektif Min!", ia menyeru kencang. "Hubungi forensik untuk mengidentifikasi mayat ini". "Tidak perlu", Jungkook menyeringai lebar. "Pria malang ini bernama Kim Ruyeong".
"Dan darimana kau tahu?".
Jungkook mengangkat bahu enteng, "Dia seorang pedofil yang dipenjara karena telah memperkosa lima belas anak dibawah umur". "Apa kau benar benar seorang cenayang?", Yoongi mendengus berat. "Aku yakin dia seorang cenayang".
Jungkook tertawa jengah sebelum menjawabnya, "Tidak, Detektif Min", ia menuding mayat Ruyeong yang membusuk. "Tapi aku yang menjebloskannya ke penjara".[]
•
•
•
Dokter Han berjalan cepat ke arah pria yang tengah menyeruput kopi di dalam kantornya. "Agent Jeon? Hey, Agent Jeon?". Jungkook berbalik badan, menyeringai lebar. "Ah, Dokter Han! Aku terburu buru, permisi", Jungkook terengah ketika pria itu menahan lengan kemejanya. "Maaf, Agent. Chief bersikeras untuk melakukan terapi mental kepadamu secara rutin".
Jungkook terdiam lama, kemarahan berkilat di dalam bola matanya sebelum pria itu mendengus geli, "Aku tidak punya waktu, Dokter". "Agent‒", Dokter Han kembali menghentikannya. "Ini bukan sebuah penawaran". Jungkook mengangkat alis, "Kau akan memaksaku?".
"Kalau memang diperlukan".
Jungkook menghela napas sebelum tersenyum paksa dan mengikuti dokter yang menuntun Jungkook ke ruangan pribadinya. Jungkook berpaling ketika melewati kantor Detektif Park. Ia melihat pria yang tengah berdisuksi dengan rekan kerjanya.
"Agent Jeon?".
Jungkook menunduk. Ketika Park Chanyeol menyelidiki kasus tentang 'Red John', Jungkook justru harus mengikuti terapi konyol ketidakstabilan mental yang terpaksa dijalaninya. Ia memejamkan mata, menahan rasa frustasi yang mulai menyerang.
"Agent? Kau baik baik saja?".
Jungkook menghembuskan napas panjang, "Ya", ia tersenyum tipis. "Aku baik baik saja".
•
•
•
Jungkook berjalan keluar dari ruangan Dokter Han setelah sesi terapinya. Ia memejamkan mata, mengurut pelipisnya yang berkedutan. Jungkook terengah ketika melihat Chanyeol yang berdiskusi dengan rekan kerjanya di ujung kantor. "Hey, Detektif Park?", Jungkook mendekati pria yang menyeringai.
"Cenayang kita telah menyelesaikan terapi mentalnya, ne? Apa kau merasa lebih baik?". Jungkook mengabaikan ejekan Chanyeol, menatap ke arah dokumen yang tergenggam di tangan kirinya. "Kau mendapatkan petunjuk ya?". Park Chanyeol mengangkat alis, "Itu bukan urusanmu", ia menghadang jalan Jungkook yang hendak menyelinap ke dalam kantornya.
"Ini bukan kasusmu, Jeon", ia mendesis tegas.
"Ya, ya, terserah kau", Jungkook mendorong Chanyeol yang terengah tak percaya. "Apa kau bercanda?! Detektif macam apa kau?", ia merebut dokumen yang hendak Jungkook ambil. "Kalau kau sebegitu penasaran dengan Red John, tidak seharusnya kau mengacaukan investigasimu".
Chanyeol menuding berkasnya, "Itu petunjuk yang kutemukan, propertiku. Mengerti?".
Jungkook menyilangkan tangan di depan dada, "Sebenarnya, apa yang kau cari? Kita telah mengerti Park Jimin pelaku dibalik 'Red John'". "Benarkah?", Chanyeol mengangkat alis. "Apa menurutmu pembunuh profesional sepertinya akan mengungkapkan jati diri semudah itu?".
"Ya", Jungkook menjawab, menunduk ketika menyadari bahwa ia sendiri tidak yakin. "Dengarkan dirimu sendiri, Dokter", Chanyeol memberi penekanan di akhir kalimat. "Kau hanya seseorang yang percaya kepada sugesti".
Chanyeol mendekat kepada Jungkook, "Kita seorang detektif. Kita bekerja untuk mengungkapkan fakta berdasarkan bukti yang akurat, mengerti? Kalau kau ingin bersenang senang dengan sugesti dan teorimu‒", Chanyeol mensejajarkan wajahnya dengan Jungkook.
"Silahkan menjadi seorang psychic. Mungkin kau bisa berbicara dengan arwah gaib yang sudah meninggal".
Jungkook menggeram ketika ujung telinganya memerah, "Kau tidak mengerti apa apa tentangku". "Benarkah? Biar kucoba", Chanyeol menudingkan jemarinya pada dada pria yang terdiam.
"Kau seorang narsistic, arogansimu membuatmu percaya kepada deduksi yang tidak nyata". Chanyeol menambahkan, "Kau berpikir kecerdasanmu paling hebat, kau justru membuat keputusan yang gegabah".
Chanyeol menghela napas rendah, "Itu sebabnya kau tidak pernah menangkap 'Red John'". Jungkook terdiam, mengernyit dengan pandangan menerawang. "Kau membaca berkasku ya? Menarik‒", ia mendecak kagum. "Kau bisa membaca!".
Chanyeol tertawa sinis, "Bersikaplah semaumu, Jeon. Karena faktanya?", ia tersenyum miring. "Aku yang dipilih untuk menangani kasus ini", Chanyeol membanting pintu kantor di depan wajah Jungkook yang mengacak rambutnya kesal.
Ia menarik napas, menghembuskannya secara perlahan sebelum berjalan kembali ke ruangan unitnya.[]
•
•
•
"Jungkook. Hey, Jungkook!", Seokjin menghampiri pria yang tertidur di sofa dengan pandangan cemas. Jungkook mengerjap kaget, berpaling kecil, "Ada apa, Boss?". Seokjin menghela napas kasar, "Kau tidak akan mempercayai ini". Jungkook mengernyit ketika mendengar langkah kaki yang memburu ke dalam kantornya.
Park Chanyeol dan Lee Shiyuk menatap Jungkook dengan tajam.
"Okay…Ada apa ini?", Jungkook terduduk dengan limbung, meremas kepalanya yang sedikit pusing. "Forensik sudah menganalisa murder weapon yang digunakan untuk menembak Ruyeong".
"Dan?", Jungkook bertanya tidak sabar.
Chanyeol mendekati Jungkook, "Sidik jarimu terdeteksi disitu".
Jungkook membeku, berpaling kepada pria yang menatapnya menyelidik. "A‒Apa?", Jungkook bangkit dengan cepat, tertawa geli. "T‒Tidak. Tidak. Tidak. Pasti ada sebuah kesalahan", ia menoleh kepada Seokjin yang memucat.
"Kau tahu? Forensik pernah melakukan kesalahan seperti ini dengan L.A.P.D. Periksa ulang saja, tidak mungkin seperti ini", suara Jungkook bergetar di akhir kalimat. Chanyeol mendudukkannya lagi. "Pembunahan Ruyeong terjadi pada Selasa malam. Dimana kau waktu itu?".
Jungkook menatap geram, "Apa ini semacam interogasi? Seriously?!", ia berpaling kepada Seokjin yang menunduk gelisah. "Apa aku tersangka sekarang?". Jungkook bangkit sebelum Chanyeol kembali menekan pundaknya untuk duduk. "Calm down, Agent!".
"How the fuck am I suppose to calm down?!", Jungkook berteriak, menyebabkan polisi disekitarnya menoleh kaget. Seokjin merangsek maju, meremas tangan Jungkook yang bernapas tidak stabil.
Shiyuk mendekatinya, "Kalau begitu, kita akan melakukan tes dengan Polygraph12".
12Polygraph : Perangkat pendeteksi kebohongan
"Apa kau bercanda?!", Jungkook terengah tidak habis pikir, mendorong Chanyeol yang menghalangi jalan keluarnya. "Agent!", Chanyeol menarik lengan Jungkook yang menepis kasar. "Get out of my way!", ia berjalan keluar, tidak menghiraukan Seokjin yang mengejarnya di belakang.
"Jungkook, berhenti!".
"Jungkook, please!", Seokjin menahan kedua pundak Jungkook yang bernapas kasar. "Kau hanya memperparah keadaan!", Seokjin meremas tangannya. "Jungkook, katakan kepadaku. Apa yang kau lakukan pada Selasa malam?". Jungkook terdiam sebelum menggeleng dengan gelisah.
"…a‒aku tidak tahu".
"Apa maksudmu?", Seokjin mencengkeram kedua pundak Jungkook yang menunduk frustasi. "Aku tidak tahu, hyung!", ia tercekat putus asa. "Aku tidak bisa mengingat apa apa".[]
•
•
•
Seokjin menatap muram ketika Jungkook didudukkan pada kursi dengan paksa. Park Chanyeol memasang blood pressure cuffs pada lengan atas Jungkook untuk mengukur detak jantung dan tekanan darahnya. "Angkat tanganmu", Chanyeol melingkarkan dada Jungkook dengan rubber tubes untuk mengukur kecepatan napas.
Pria jangkung itu melesakkan two metal plates pada kedua jari Jungkook untuk mengukur keringat yang mengalir selama sesi dijalankan. Ia menyambungkan Polygraph dengan komputer sebelum menghadap kepada Jungkook. "Kau siap?".
Jungkook mendengus berat, "Apa aku mempunyai pilihan lain?".
Hoseok mendecak cemas di samping Seokjin, memperhatikan tiap pertanyaan dan jawaban yang Jungkook berikan. "Apa menurutmu dia pelakunya, Boss?". "Tidak", Seokjin menyahut dengan suara yang bergetar. "Tidak mungkin dia bisa membunuh seseorang".
"Kau tahu Jungkook membenci Ruyeong, kan?", Yoongi menghela napas. "Dia memang pantas mati, kalau menurutku". "Lalu apa?", Namjoon menyalak tajam. "Kau membenarkan tindakan Jungkook?".
"Kalau dia bahkan pelakunya", Seokjin membantah lantang.
"Ada kemungkinan memang Jungkook Unsub kita, Boss", Hoseok menyambungkan. Seokjin terengah tidak habis pikir, "Unsub? Begitu sekarang kau memanggilnya? Aku kira kau dekat dengan Jungkook, seharusnya kau mengerti dia tidak mungkin bisa melakukan ini!".
"Justru karena aku mengenalnya", Hoseok menatap pria yang terduduk di samping Polygraph dengan pandangan gelisah. "Aku mengerti apa yang mampu dia lakukan". Seokjin menahan pundak Hoseok yang hendak melangkah pergi, "…apa kau berpikir dia pembunuhnya?".
Hoseok mengangkat bahu, "Yang kutahu persis, Jungkook tidak seperti yang kita kira", ia menatap Seokjin lekat lekat. "Ada sesuatu yang lebih dalam tentang dirinya, Jin".
"…terkadang‒", Hoseok menunduk resah. "Aku bisa melihat sesuatu yang liar di dalam matanya. Seperti…ketika kau melihat sebuah jiwa yang sudah rusak".[]
•
•
•
Jungkook melahap roti bakar dimejanya dengan rakus, ia bangkit ketika Seokjin menghampirinya dengan pandangan cemas. "Tidak, aku tidak ingin berbicara denganmu", Jungkook dengan cepat meraih rotinya di meja. "Aku sibuk, Boss", ia berjalan menghindari rekan kerjanya yang mendesah panjang.
Jungkook terhenti ketika Hoseok berdiri di lain sisi, "Whoa", Jungkook kembali berbalik, menyerah ketika Yoongi dan Namjoon juga mengelilinginya. "Ada apa ini? Kalian juga tidak memercayaiku? Apa kalian mau menginterogasiku secara pribadi?".
"Jungkook, hentikan", Seokjin berhati hati mendekatinya. "Kami hanya ingin berbicara denganmu, itu saja. Aku‒", ia memaksakan suaranya agar tidak bergetar. "Aku khawatir dengan kondisimu, Jungkook".
Jungkook menghembuskan napas panjang, "Apa ada diantara kalian yang tidak mempertanyakan kondisi mentalku, for godsake?".
Yoongi menyilangkan tangan di depan dada, "Bahkan aku menyadari perubahan sikapmu, Jeon". Ia mendekati Jungkook yang mendengus jengah, "Kau terlihat kebingungan".
"Disoriented?", Jungkook mengangkat alis. "Please". Jungkook meraih kunci mobilnya, hendak berjalan pergi ketika Shiyuk dan Chanyeol menghampiri dengan wajah tegas. Jungkook menarik napas panjang, "Ada apa lagi?".
Shiyuk menatap Jungkook tajam, "Kau gagal tes Polygraph, Jeon. Alat itu menyatakan kau berbohong selama seksi interogasi". "Apa?", Jungkook mengernyit kalut.
"Tolong serahkan tanda pengenal dan senjatamu". "T‒Tunggu‒", Jungkook terengah di tempat.
"Kau dikeluarkan dari FBI".[]
•
•
•
Jungkook menyerahkan tanda pengenalnya dengan pandangan kosong, melepas pistol dari sabuk kulitnya, memberikannya kepada Park Chanyeol yang langsung mengamankan perlengkapan Jungkook. Seokjin mematung di tempat, tidak dapat berkata kata ketika Jungkook berbalik tanpa ekspresi.
"Jungkook‒", Seokjin menarik lengan pria yang menepis tangannya.
"Let me talk to you, please".
Jungkook tidak menjawab, ia mendesis ketika Chanyeol membalikkan badannya dengan paksa. "Colt 1911?", ia mengangkat pistol Jungkook di depan wajahnya. "Senjata yang sama dengan yang membunuh Ruyeong".
"Ya, itu sangat penting sekarang", Jungkook berjalan pergi, namun Seokjin kembali menariknya.
"Jungkook, kalau kau bisa menjelaskan kepadaku apa yang terjadi Selasa malam‒". "Aku tidak bisa mengingatnya!", Jungkook berteriak, menyebabkan aktivitas di markas terhenti total. "Kau mendengarku?! Aku tidak bisa mengingat apa pun!".
Ia tertawa frustasi, mendelik kepada polisi yang memperhatikannya di sekitar. "Apa yang kalian lihat?!", Jungkook meremas rambutnya tidak habis pikir. "What's wrong with all of you?! Mengapa kalian menatapku seperti aku pembunuh, hah?!".
"Jungkook, calm down!", Seokjin berusaha meraihnya.
"Menyingkir dariku!", Jungkook mendorong pria yang terengah kaget, berjalan menjauh ketika Namjoon dan Hoseok menghadangnya, "Jungkook, dengarkan aku!". "Get away from me!", Jungkook menepis tangan Hoseok dengan pandangan liar.
"Just leave me alone!".
Jungkook bernapas tidak stabil, mempercepat langkahnya ketika Chanyeol mengejar dari belakang. "Hey, aku tahu kau terobsesi dengan Red John! Aku mengerti kau marah karena aku mengambil alih kasusmu!". "Benarkah?", Jungkook tertawa keras. "Aku tidak peduli!", ia bernapas pendek pendek. "Aku benar benar tidak peduli!".
"Jungkook‒". "Aku tidak peduli!".
Jungkook meraih kursi besi dan melemparnya ke wajah Chanyeol. Park Chanyeol merunduk dengan kaget, menyebabkan kursi itu terbanting ke kaca kantor polisi yang pecah berkeping keping.
PRANG!
Jungkook menjerit frutasi ketika semua mata membeliak kepadanya. Seokjin membeku di tempat, "Oh, my god". "Apa dia baru saja menyerang Detektif itu?!", Hoseok terengah kaget ketika Jungkook mengusap air matanya sebelum berlari keluar markas.[]
•
•
•
Dokter Han mengetuk pintu apartemen pria yang tengah terduduk dengan butiran pil berceceran di meja. Jungkook bangkit dengan limbung, membuka pintu dan tersenyum lebar, "Dokter? Kau datang kemari?", ia kembali terduduk dengan pandangan tidak fokus.
"Agent Jeon? Apa kau baik baik saja?", ia terengah melihat pil yang dikonsumsi Jungkook. "Chief ingin memastikan kondisimu".
"Apakah itu penting, Dokter?", Jungkook melukis gambar tersenyum imajiner dengan jemarinya. "Aku bukan asetnya lagi, neee?".
"Jungkook, berbicaralah kepadaku. Mengapa kau menjadi seperti ini?", Dokter Han mendekati pria yang tertawa kecil. "Aku tidak mengerti maksudmu. Kau tahu‒aku hanya‒", Jungkook menghela napas panjang. "Tidak. Aku tidak bisa mengingat apa apa".
Dokter Han meremas pundak pria yang menatapnya dengan pandangan kosong. "Jungkook, aku percaya itu adalah memory block, disebabkan oleh trauma masa kecilmu". Pria gempal itu mengusap tangan Jungkook yang mendengus geli, "Terkadang otak kita melupakan sesuatu yang begitu mengerikan tanpa sadar".
Jungkook menghela napas panjang, "Ya. Ya. Ya. Mungkin", Jungkook mengeluarkan pistol yang membuat Dokter Han membeku. Pria itu mengarahkan senjata api ke wajahnya, "Kau tahu perasaanku ketika menangani kasus, Dokter?".
"J‒Jungkook, put the gun down".
"Aku merasa sangat lemah, putus asa!", ia menengadahkan kepalanya lesu. "Mendengarkan cerita miris dari keluarga korban, rasanya aku ingin membunuh para pelaku tak berhati itu", Jungkook mendesis benci. "Rasanya, aku ingin menyiksa mereka sampai mati".
Jungkook mendekat kepada dokter yang menatap laras pistolnya penuh teror, "Kau tahu apa yang aneh dengan senjata ini…Dokter?", Jungkook tertawa kecil. "Tombol safety‒nya justru terletak di pelatuk", ia menyeringai lebar. "Makes me want to pull the trigger".
"J‒Jungkook. Kita bisa membicarakan ini, okay? Tolong, letakkan senjatamu".
Jungkook mengusap badan pistolnya dengan senyum pahit, "Sepertinya…kau benar, Dokter", ia tersenyum kosong. "Sepertinya, memang aku yang membunuh Ruyeong". Ia bangkit, mendekati Dokter Han yang merangsek mundur, "Kau tahu? Aku sangat membenci pedofil menjijikkan sepertinya. Memperkosa anak di bawah umur?".
Jungkook tertawa tidak habis pikir, "Benar benar bajingan tak berhati".
Dokter Han menelan ludah, mengawasi pistol Jungkook yang tercengkeram erat di jemarinya, "Bagaimana kau melakukan itu? Bagaimana bisa kau membunuh Ruyeong?".
Jungkook mengernyit, mendecak sebelum mengangkat bahu lagi, "Aku tidak ingat. Aku hanya berasumsi".
Dokter Han menyentuh pundak Jungkook sangat pelan, berhati hati ketika mendekatinya. "Aku akan membantu mengembalikan ingatanmu, Jungkook". Jungkook menggeleng. "Bayangkan lokasi pembunuhan Ruyeong".
Jungkook memejamkan mata, kembali menggeleng. "Aku tidak bisa".
"Bayangkan gang yang bertebaran dengan sampah. Malam itu kau mendatanginya, benar? Kau membawa pistol ditanganmu". Jungkook merintih kecil ketika bayangan mengerikan mulai mendatangi kepalanya. "Kau menarik Ruyeong dan menembaknya di dada sebanyak tiga kali".
"Kemudian, kau memasukkan mayatnya ke dalam pintu besi, label garis kuning berada di dindingnya". Jungkook terdiam, bernapas pendek pendek ketika wajahnya berubah menjadi dingin.
"Label garis kuning?", Jungkook menyeringai lebar. "Bukankah lambang itu berada di dalam pintu…Dokter?", ia mendekat dengan senyum lapar. "Bagaimana caramu mengetahuinya…kalau kau tidak berada disitu pada malam Ruyeong dibunuh?".
Dokter Han tergagap, merangsek mundur dari pria yang tertawa dingin, "T‒Tidak. A‒Aku hanya‒aku hanya berusaha membantumu mengingat, Agent Jeon".
Jungkook bangkit dari duduknya, wajahnya kembali cerah, "Apa benar? Bagaimana dengan Benzodiazepin yang kau masukkan ke dalam kopiku, hn?".
Dokter Han mematung.
"Kau kira aku apa?", Jungkook mendengus. "Cenayang?". Dokter Han terbata bata ketika Jungkook melanjutkan, "Kau memberiku secangkir kopi untuk mendapatkan sidik jariku, ne?", ia tertawa geli. "Very impressive, Doctor".
Lee Shiyuk dan Kim Seokjin berjalan dari dalam kamar apartemen, membuat Dokter Han tercengang di tempat. "Apa‒Apa yang meraka lakukan disini?!". Jungkook mengangkat bahu, "Menyaksikan kebenaran teoriku?", ia tergelak keras. "Kau adalah pembunuh Ruyeong, Han Mingyu".
Jungkook tersenyum ketika Dokter Han memucat, "Kau membaca berkas file‒ku, ne? Kau mengerti ayahku mengidap penyakit mental yang sering memberinya blackouts", Jungkook mendekat kepada dokter yang menunduk gelisah.
"Kau memanfaatkan itu untuk menjebakku, Dokter? Kau memberiku Benzodiazepin untuk memberiku memory block. Agar aku tidak mengingat apa pun, agar aku meragukan kewarasanku sendiri". Jungkook tertawa tidak percaya, "Dan kau memanipulasi murder weapon dengan sidik jariku yang kau dapatkan di cangkir kopi".
Jungkook bertepuk tangan girang, "Well done, Doctor!".
Dokter Han mengamati Jungkook dengan bola mata membeliak, "Jadi, kau sudah mengetahuinya dari awal? Semua ini hanya sandiwara? Breakdown di kantor polisi itu hanya sebuah akting?!".
Jungkook mengangkat bahu santai, "Well, what can I say? Aku hanya bajingan tak berperasaan yang senang memperdaya seseorang". Jungkook tertawa dingin, mengibaskan tangannya kasar, "Bawa pria menjijikkan ini pergi dari hadapanku".
Seokjin memborgol tangan dokter yang tersentak kaget, menatap Jungkook dengan pandangan tidak percaya, "B‒Bagaimana kau tahu dia yang melakukan ini, Dokter Jeon?".
Jungkook menyeringai lebar, "Aku bertanya kepada arwah arwah gaib. Kau harus mencobanya sesekali".
Shiyuk mendecak tidak habis pikir, memperhatikan pelaku yang digeret Seokjin keluar dari apartemen. Ia mendengus berat ketika tatapannya bertemu dengan Jungkook, "Berhenti menyeringai seperti bajingan, Jeon".
"Hn?", Jungkook tergelak kecil.
"Kau bekerja denganku lagi".
"Wow!", Jungkook tertawa riang. "Kabar yang sangat baik!", ia melambai kepada dokter yang terseret keluar, merapikan butiran pil yang tidak pernah dikonsumsinya. "Kerja bagus", Shiyuk memutar bola mata ketika Jungkook tersenyum puas.
"Sampai bertemu denganmu lagi di kantor".
"Goodbye, Chief!", Jungkook meregangkan tubuhnya. Ia pun berjalan ke kamar untuk mendapatkan istirahat yang panjang.[]
•
•
•
Jeon Jungkook mengetuk ruang kerja Park Chanyeol yang mendelik garang di belakang meja. Jungkook mengangkat tangan, memberikan sebuah kotak donat kepada Chanyeol, "Hey, Detektif Park. Aku hanya ingin memberimu hadiah", Jungkook meletakkan kotak donat itu di meja.
"Apa ini? Kau mau beramah tamah denganku setelah melempar kursi?", Chanyeol mendengus ketika Jungkook tertawa kecil. "Aku sudah mendengar penangkapannya. Sugesti yang bagus… Dokter", Chanyeol kembali membaca dokumen kasus.
"Dengar, donat adalah lambang perdamaian di kepolisian", Jungkook menjelaskan ketika Chanyeol mengernyit. "Aku hanya ingin kau tahu, aku sudah paham", Jungkook menghela napas panjang. "Aku mengerti maksudmu, Detektif".
"Ya?".
"Aku mempercayakan kasus 'Red John' kepadamu sepenuhnya. Aku tidak akan ikut campur dan membuatmu terganggu lagi, aku berjanji". Chanyeol menengadah dan menatap Jungkook dengan pandangan menyelidik. "Mengapa aku tidak percaya ketika kau yang mengatakannya?".
"Hey, aku tidak akan memaksa", Jungkook menatap Chanyeol dalam. "Aku hanya memohon kepadamu untuk menemukan 'Red John', hidupku‒", Jungkook menunduk muram. "Hidupku bergantung kepada penangkapannya".
Chanyeol terdiam, sebelum menghela napas panjang, "Baiklah. Akan kupastikan aku menangkapnya. Terimakasih atas pengertianmu". Jungkook membungkuk hormat, tersenyum tulus sebelum berjalan keluar dari kantor Chanyeol.
"Tsk", Chanyeol mendengus, "Singkirkan donat itu dari mejaku sekarang juga", Park Chanyeol menggeram kesal. "Siapa yang mengerti benda macam apa yang dimasukkan bocah gila itu ke dalam?".
Jungkook merebahkan tubuh di dalam kantornya dengan senyum tenang, mendengar keresekan tangan pria dan kelontangan benda yang dibuang ke dalam tempat sampah. "Jadi, kita akan mengevaluasi kemajuan kasusnya", Park Chanyeol pun memaparkan perkembangan kasus Red John.
Jungkook memejamkan mata, tersenyum tenang ketika informasi terus bergilir ke dalam comms yang tersemat di telinganya, tersambung dengan alat penyadap yang dipasangnya di bawah meja kerja Park Chanyeol.[]
