I own nothing, unless several unknown chacarters. JK. Rowling has

Chapter 7

You say good morning when it's midnight

Going out of my head alone in this bed

I wake up to your sunset, it's driving me mad

I miss you so bad and my heart, heart, heart is so jetlagged

(Jet Lag – Simple Plan)

Seminggu setelah pendeklarasian tentang kehamilan Hermione di hadapan para sahabatnya, berita itupun menyebar cepat keseantero masyarakat sihir Inggris. Victoria Malfoy menjadi salah satu pihak yang sangat gembira mendengar kabar ini. Setelah mendengar berita ini langsung dari Draco, Victoria secara khusus datang ke kediaman mereka untuk menyampaikan selamat. Tidak hanya itu dia juga menawarkan beberapa peri rumah dan pelayan serta koki pribadi bagi Hermione. Draco dan Hermione hanya melongo dan menolak dengan lembut segala pemberian dari bibinya itu. Berita inipun akhirnya sampai di telinga klien Hermione. Bukannya penolakan yang diterima olenya justru Hermione mendapat kontrak baru. Kontrak lamanya dialihkan menjadi kontrak baru untuk menjadi model pakaian hamil terbaru kliennya itu.

Perut Hermione terlihat semakin membuncit. Usia kandungannya kini telah mencapai tiga belas minggu. Napsu makannya kian melesak naik. Dia bisa menghabiskan empat pancake, waffle, bacon dalam sekali sarapan. Draco hanya ternganga dan tertawa melihat selera makan Hermione yang terlihat berubah menjadi seperti Hagrid. Kehamilannya ini membuat Hermione mengurangi drastis kegiatannya sebagai model . Dia lebih fokus di belakang layar. Seperti biasanya dia selalu datang ke kantor tapi bukan untuk memeriksa jadwal pemotretannya pada Sabine, melainkan menjadi penata fashion bagi para model junior. Baru menjalani profesi barunya beberapa minggu belakangan ini Hermione sudah terkenal sebagai sosok yang tegas mendekati galak pada model juniornya. Bukan bermaksud sok senior tapi semata-mata hanya untuk melatih mental mereka saja, begitulah dalihnya pada teman-teman modelnya yang lain.

Setiap harinya juga Gerrad, orang kepercayaan Draco, mengiriminya roti lapis, susu kotak, dan berbagai macam makanan yang ia anggap sebagai cemilan baginya. Draco membuatnya mejadi seperti ratu. Apapun yang ia inginkan dalam sekejab mata akan diwujudkan. Tapi untuk kali ini Hermione merasa sedikit terganggu dengan semua kebaikan hati suaminya itu. Terdengar desas-desus yang tak mengenakan di telinga Hermione. Para model dan staff-staff lainnya mengatakan kalau Hermione hanya memanfaatkan Draco saja. Terlebih lagi ada yang mengatakan bahwa kehamilannya hanyalah sandiwara belaka saja guna mendapatkan perhatian serta warisan dari keluarga Malfoy. Jadi, dia meminta Gerrad untuk tidak mengantarkan makanan lagi ke kantornya dan berhenti menjemputnya setiap pulang dari kantor.

Melihat Gerrad yang sudah dua hari ini tidak lagi mengantarkan makanan pada istrinya membuat Draco mulai curiga. Mereka sedang tidak bertengkar lalu mengapa ia menolak makanann dari Draco? Saat Draco menanyakan hal ini pada Gerrad, ia hanya menjawab tidak tahu. Mrs. Malfoy begitulah ia memanggil Hermione hanya menyuruhya untuk tidak mengantarkannya makanan lagi dan berhenti untuk menjemput dan mengantarnya setiap hari. Karena merasa ada hal aneh dan ia merasa perlu mengetahui apa itu, ia memutuskan untuk datang ke kantor Hermione siang ini.

Kantor istrinya terlihat begitu lenggang. Begitu juga dengan ruangannya. Ia melihat Hermione sedang mencoret-coret perkamen dihadapannya dengan mulut yang sedikit mengerucut. Kertas cokelat yang terlihat berisi makanan berada disampingnya. Gelas kertas yang terlihat mengepul itu juga ikut menemaninya. Draco masih memerhatikan istrinya itu dari luar ruangannya. Masih melihat Herrmione dengan kacamata berbentuk persegi yang terlihat begitu cantik membingkai wajahnya. Dia terlihat semakin pintar. Saat itu juga dia mendongak dan mendapati Draco yang berdiri di depan pintu kaca ruangannya. Dia tersenyum dan Draco melangkah masuk ke ruangannya.

"Hai," sapa Hermione melepaskan kacamatanya.

"Hai," balas Draco yang langsung duduk di hadapannya "kau sibuk?" tanya Draco kemudian menaruh paper bag yang berisi makanan untuk Hermione di mejanya.

Hermione menggeleng "Aku hanya sedang menggambar beberapa sketsa baju dan memadumadankan untuk para modelku besok. Apa yang membawamu kesini?" ucapnya setelah menyesap minumannya.

"Ada apa sebenarnya?" tanya Draco yang kemudian bersandar dan menyilangkan kakinya.

Hermione mengerutkan dahi "Kenapa sekarang kau berbalik tanya?"

"Apa yang membuatmu menyuruh Gerrad berhenti membawakanmu makananan dan mengantar jemputmu?"

Kini Hermione diam dan sedikit mengerucutkan bibirnya "Aku hanya ingin mengganti menu saja," jawabnya yang terdengar sedikit bingung "lagipula aku ini wanita mandiri."

Draco meraih kertas cokelat dan melihat apa yang ada di dalamnya "Roti lapis tuna?" Draco menaikkan sebelah alisnya "ini yang kau sebut dengan mengganti menu?"

Hermione menghela napas "Aku rasa ini bukan urusanmu," balasnya setengah kesal.

"Jadi kita kembali pada urusanmu dan urusanku," ucap Draco yang menekankan pada setiap kata 'urusan'.

"Aku sedang tidak bersemangat untuk bertengkar dengamu, Draco."

"Aku tidak mengharapkan untuk bertengkar denganmu, Hermione. Aku hanya ingin menanyakan mengapa kau menyuruh Gerrad untuk tidak menngantar makanan lagi."

"Sudah kukatan aku ingin merubah menu makananku," jawab Hermione yang sudah mulai terpancing amarahnya.

Draco bangkit dari senderannya "Kau berbohong. Katakan padaku sebelum aku mencari tahunya sendiri."

Hermione melotot mendengar pernyataan Draco. Pria di hadapannya selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan dan masalah seperti ini adalah hal sepele baginya. Hanya dengan memanggil Gerrad dan menyuruhnya menyelidiki dalam sekejab saja Draco akan tahu hal apa yang mengganggu pikiran Hermione saat ini.

"Aku hanya tak ingin orang-orang di kantor agensiku ini kembali menggosipkan diriku yang tidak-tidak. Aku cukup muak mendengar semua desas-desus itu," Hermione berkata dengan sedikit emosi.

"Apa yang mereka gunjingkan? Tentang kau memanfaatkanku lagi?"

Hermione hanya diam dan mengangguk lemah.

"Shit, Hermione! Kau seharusnya sudah kebal dengan semua mulut-mulut orang yang suka seenaknya berbicara," Draco berujar kesal padanya.

Kini Hermione yang terpancing emosinya. Ia tak mengerti mengapa Draco harus semarah ini padanya. Bukankah ini hal yang sepele. "Kau tahu rasanya saat kau mendengar dirimu diberitakan hamil hanya karena mengharapkan warisan dari keluarga suaminya," Hermione berujar keras padanya "itu yang aku dengar hampir setiap hari saat Gerrad mengantarkanku makanan atau menjemputku ke kantor saat pulang. Mereka mengatakan bahwa kehamilanku hanya untuk memanfaatkanmu, Malfoy!"

"Kau seharusnya sudah siap dengan semua ini bukan! Lagipula itu semua tidak benar, kenapa kau harus memikirkannya," Draco terdengar sangat kesal namun tetap berusaha menahan amarahnya agar tak terdengar orang lain.

"Kau tidak mengerti perasaanku!"

"Apa perlu aku membeli perusahaan agensimu dan memecat semua orang-orang yang memiliki ekstra mulut itu, huh?" Draco mendesis kesal.

"DRACO!"

"Apa?"

"Keluar," Hermione kesal bukan kepalang.

Draco menatap istrinya dengan sangat kesal "Baiklah, aku juga mau keluar. Aku akan ke luar negeri. Jaga dirimu."

Kemudian Draco menghilang dari hadapannya. Hermione terduduk lemas dan elihat paper bag yang ditinggalkan Draco di atas mejanya. Roti lapis tuna dan susu cokelat. Setelah merapalkan mantra pengedap suara ia menangis sejadi-jadinya.

ooo

Hari-hari Hermione berjalan seperti biasanya. Bangun di pagi hari, sarapan, berangkat ke kantor atau lokasi pemotretan, dan kembali ke rumah pada sore hari hari. Satu hal yang sudah empat hari ini menghilang. Benar. Draco. Dia sudah pergi atau lebih tepatnya menghilang sekitar empat hari belakangan ini. Terakhir kali Hermione bertemu dengannya adalah saat ia datang ke kantornya dan terjadi adu mulut yang diakhiri dengan perginya Draco. Hermione mendapat kabar dari Gerrad bahwa Draco sedang memantau bisnisnya di kawasan Asia sekitar satu minggu kedepan. Tinggalah Hermione sendiri di rumah mereka yang nan megah ini.

Setelah mandi Hermione merangsek ke dapur untuk menghangatkan makanan yang tadi sore ia pesan. Dia duduk dalam diam di pantri dengan alunan musik yang tak bosan menemaninya sedari tadi. Makanan yang tadinya panas kini telah beranjak dingin di hadapannya. Pasta yang tadinya sangat menggoda itu kini terlihat seperti tumpukan mie yang tidak karuan bentuknya karena Hermione hanya mengaduknya terus menerus. Selera makannyapun lenyap begitu saja. Dia mengayunkan tongkatnya dan segelas susu hangat datang ke hadapannya. Buru-buru dia meminum susu itu. Dia tak mungkin menyengsarakan bayi yang ada di dalam kandungannya dengan tidak mengisi perutnya sama sekali.

Hermione beranjak ke kamarnya. Dengan tak bersemangat ia menghidupkan televisi dan pemutar video-nya kemudian memutar koleksi filmnya, tapi tak satupun yang menarik perhatiannya. Dia merutuki semua teman-temannya. Ginny sedang sibuk karena kekasihnya baru saja mendapat tender baru dan otomatis dia turut menjadi sibuk karena dia adalah bagian dari perusahaan itu. Sedangkan Luna menghilang begitu saja dengan Blaise sudah hampir seminggu belakangan ini. Jangan tanyakan Harry atau Ron karena pastinya mereka sibuk sebagai Auror, belum lagi kegiatan baru Ron sebagai ayah baru. Hermione berjalan menuju kamar mandi. Dia berniat untuk menyikat giginya. Saat ingin mengambil sikat giginya bayangan Draco muncul di benaknya ketika melihat sikat gigi mereka yang berdiri berdampingan. Dimana dia sekarang? Dan sedang apa dia sekaranglah yang menyelimuti pikirannya. Dengan cepat ia menyikat giginya dan kembali ke ranjang. Semua yang ada di rumah itu mengingatkannya pada Draco. Walk-in closet, handuk, jubah mandi, dan ranjang. Semua itu hampir membuatnya gila.

"Aku pasti sudah gila sekarang," ucap Hermione lemah.

Dia kembali di ranjangnya dan sesekali mengelus perutnya. Saat itu juga dia menekan nomor telepon dan langsung menyambungkannya pada sosok yang sudah menghilang beberapa hari ini. Yaa, jangan heran. Semenjak menikah dengan Hermione, Draco memiliki beberapa barang Muggle yang bertujuan untuk memudahkan komunikasi antara mereka.

"Hallo," sapa suara dari seberang sana.

Hermione gugup "Hey," sapa Hermione.

"Hey," Draco membalasnya.

Nada suaranya sangat lembut, tapi tetap datar. Tak ada lagi suara tinggi dan bentakan dari suaranya seperti terakhir kali ia mendengar Draco di kantornya. "Apa kabarmu?"

"Baik, kau?"

"Buruk," Hermione menjawab lesu.

"Ada apa?" tanya Draco yang terdengar panik.

Hermione tersenyum saat mendengarnya. Setidaknya ia masih mengkhawatirkannya "Aku hanya lapar."

"Aku kira kau sakit. Makanlah. Apa perlu aku menyuruh Drew membawakan makanan padamu?"

Drew? Tangan kanan Draco yang lain. Hermione baru sadar Draco mempunyai dua tangan kanan, Gerrad dan Drew serta satu asisten dan satu sekretaris.

"Tidak perlu, lagipula di sini sudah malam," jawab Hermione dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

"Jam berapa disana?"

Hermione melirik ke jam dinding di sampingnya "Jam 10 malam," balas Hermione "kau sekarang dimana?"

"Aku di Jepang dan disini masih siang."

Jeda lama sekali. Keduanya diam. Hermione sudah kehilangan kata-kata, tapi ia belum rela menutup teleponnya. "Hermione?" Draco mengeluarkan nada bingung dari seberang sana.

"Aku merindukanmu," ucap Hermione begitu saja.

"Apa yang kau katakan?"

"Aku merindukanmu."

Tak ada respon dari Draco "Aku harus menutup telepon ini, nanti aku hubungi."

Dan sambungan itu terputus. Shit! Hermione merutuki mulutnya yang tak terkendali tadi. Pasti Draco sekarang melihat dirinya mengerikan pikir Hermione yang terduduk lemas di ranjangnya. Hubungan mereka tidaklah semanis yang orang-orang lihat dan pikirkan. Pernikahan mereka hanyalah sebuah kontrak. Dan kehamilannya sekarang juga benar-benar di luar rencana sementara hubungan mereka sekarang hanyalah sebatas hubungan fisik belaka. Kata-kata 'aku merindukanmu' pasti terdengar horor di telinga Draco. Sekali lagi Hermione bergidik ngeri membayangkan raut wajah Draco sekarang.

Sudah hampir satu jam sejak Draco memutuskan sambungan telepon mereka dan berjanji akan menelpon kembali tetapi layar ponselnya tak kunjung menyala. Dan tak ada tanda-tanda Draco akan kembali menghubunginya. Matanya semakin berat. Hermionepun tertidur meringkuk di ranjang mereka.

ooo

Suara gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi. Lampu yang sedari tadi sudah dimatikannyapun kini kembali bersinar. Hermione meraih jam yang berada di nakas ranjanganya. Dia berusaha membuka lebar matanya. Masih pukul satu malam.

"Hai," sapa Draco yang keluar dari kamar mandi mereka.

Wajahnhya masih terlihat lembab sisa-sisa mencuci mukanya. Dia sudah memakai celana piyamanya. Hermione mengerutkan dahinya dan berpikir kalau sekarang dia masih bermimpi. Draco berjalan mendekatinya dan duduk tepat di pinggir tempat tidurnya.

"Hai," sapa Draco sekali lagi.

"Draco?" ujar Hermione tak percaya.

Draco hanya tersenyum "Kau bangun?" tanyanya masih tersenyum sambil menatap Hermione "tidurlah kembali," tambahnya.

Hermione menatapnya tak percaya "Kau benar Draco Malfoy?"

Draco terkekeh kemudian kembali serius "Aku Anthonny Goldstein yang tadi menculik Draco Malfoy karena telah berhasil menikahi Hermione Granger lalu memasukkan helai rambutnya ke dalam ramuan polyjus."

"Benarkah?" Hermione bertanya dengan tak percaya.

Sontak hal itu membuat Draco menjadi tertawa "Apakah benar riset yang mengatakan bahwa saat hamil wanita mengalami sedikit penurunan kecerdasan?" dia masih tertawa geli "aku Draco Malfoy, Hermione."

"Tidak usah mengolokku," dengusnya "kau pulang?"

Draco mengangguk pelan "Kenapa?" tanya Hermione.

"Karena kau merindukanku," balas Draco cepat tetap dengan kedataran di suaranya.

"Apa kau meridukanku?" tanya Hermione pelan dan sedikit ragu.

Kembali Draco tersenyum dan mengangguk "Tentu," ujarnya pelan "aku juga merindukanmu," tambahnya dan lebih mendekat pada Hermione kemudian menariknya ke dalam pelukannya.

"Maafkan aku karena berbicara kasar saat terakhir kali kita bertemu," ucap Draco pelan.

"Aku juga," jawab Hermione lirih.

Air mata Hermione tumpah di pundak Draco "Hey, kau kenapa?" tanya Draco sambil tetap mengelus rambut ikal istrinya itu.

"Aku hanya ingin menangis, bawaan hormon sepertinya," jawab Hermione sesenggukan dan masih bergelung di pelukan suaminya.

Dia memeluk Draco dengan erat. Meresapi setiap jengkal harum tubunhya yang sudah sangat ia rindukan. Draco melepaskan pelukannya dan menangkup pipi istrinya kemudian menyeka air mata yang meleleh itu dengan ibu jarinya. Dia mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya tepat di bibir Hermione. Mereka semakin memperdalam ciumannya sampai terdengar bunyi asing dari diri istrinya.

"Kau lapar?" tanya Draco yang terkekeh saat mendengar.

Hermione mengangguk dengan wajah yang memerah "Kau perusak suasana," kekeh Draco lalu bangkit dari ranjang dan turun ke dapur.

Tak berapa lama kemudian dia sudah naik dengan nampan yang berisi biskuit dan susu. Dengan lahap Hermione menghabiskannya. Selera makannya kembali muncul sekarang. Setelah menghabiskan cemilan serta susunya itu. Mereka bergelung di ranjang. Dengan nyaman Hermione menaruh kepalanya di dada Draco yang bidang sementara Draco memeluknya sambil memainkan rambut cokelat ikalnya.

"Kita seperti pasangan kekasih," ucap Hermione di tengah keheningan mereka.

Draco mengerutkan dahinya "Kita pasangan suami istri tepatnya," balas Draco.

"Tapi itu hanya kontrak belaka. Sampai saat anak ini lahir, kita akan berpisah. Kau akan kembali ke kehidupanmu dan aku akan kembali ke kehidupanku. Mungkin kita akan sering bertemu untuk membicarakan anak ini, tapi pasti saat itu suasananya sudah sangat berubah."

"Bila aku mengatakan aku tak mau berpisah darimu walaupun sampai anak ini lahir? Jika aku menginginkan kita bersama-sama membesarkan anak ini, kau mau?" Draco mengatakannya dengan lancar.

Hermione sontak bangkit dan langsung menatap Draco yang juga ikut bangun "Apa ini semacam lelucon tengah malam?"

"Kau berpikir ini lelucon?" tanya Draco pelan

Dia langsung menggeleng "Tidurlah sekarang, sudah sangat larut," ujar Draco lagi.

"Lalu kontrak kita?"

"Kita bakar saja," kekeh Draco.

Hermione tersenyum dan kembali menaruh kepalanya di dada Draco "Jadi apa nama hubungan kita sekarang?" tanya Hermione yang masih tak dapat menutupi senyumannya.

"Mungkin kita berpacaran," kata Draco enteng "tapi kita sudah menikah," kini suaranya berubah menjadi sedikit bingung "tak usah dipikirkan sajalah. Hubungan kita hanya kita yang tahu apa definisinya," kekehnya kemudian mengecup puncak kepala Hermione dan merekapun terlelap.

ooo

The need inside you

I see it showing

Whoa, the seed inside you, baby, do you feel it growing?

Are you happy you know it?

(You're Having My Baby – Paul Anka)

Hari-hari mereka tetap dihiasi dengan adu pendapat dan pertengkaran kecil, tapi semuanya bisa teratasi dengan satu senyuman atau permintaan maaf sederhana. Setiap pagi mereka akan sarapan bersama, Draco akan mengantarnya ke kantor walaupun Hermione merasa semua itu berlebihan, Gerrad akan mengantarkan semua cemilan dan makan siang untuknya, dan mereka akan meluangkan waktu di malam hari untuk menceritakan hari mereka dan berakhir dengan ranjang.

"Kau yakin akan ke dokter tanpaku?" tanya Draco sambil mencukur rambut-rambut halus yang mulai tumbuh di wajahnya.

Hermione mengangguk "Kita sudah menukar dokter jadi kau tak perlu cemburu kan?" kekeh Hermione yang duduk tepat berhadapan dengannya di batu wastafel kamar mandi mereka.

Sesekali Hermione mencolek krim putih yang menempel di wajah Draco lalu mengolesnya di hidung Draco sambil terkekeh. "Bukan masalah itu," ucap Draco "aku hanya ingin memastikan keselamatanmu, kau butuh ditemani Gerrad?"

"Kaulah suamiku bukan Gerrad," ucapnya yang lalu loncat dari tempat duduknya.

"Hermione! Jangan loncat-loncat sembarangan," Draco melotot pada Hermione yang terkekeh lalu mengecup cepat dagunya yang sudah dibersihkannya.

"Baiklah Mr. Malfoy," lalu berjalan keluar dari kamar mandi.

Setelah mengganti jubah handuknya dengan dress hijau tosca selutut dan menata rambutnya di depan cermin Hermione turun untuk membuat sarapan untuk mereka berdua. Pancake dan sirup mapple serta bacon sudah tersaji di pantri mereka. Draco ikut bergabung dengannya. Dia sudah terlihat semakin tampan dengan setelan kemeja, celana bahan, dan mantel yang ia bawa turun.

"Kau mau menjemputku?" tanya Hermione sambil meyendokkan pancake ke mulutya.

"Pukul empat?" Draco berbalik tanya.

Hermione hanya mengangguk "Baiklah," Draco berdiri dari tempat duduknya "aku pergi duluan, Gerrad akan mengantarmu ke kantor dan ke dokter siang nanti."

Dia berdiri dan mengecup bibir istriya "Sampai ketemu sore nanti," ujarnya tersenyum dan mengelus cepat perut Hermione yang membuncit "semoga kau laki-laki," Draco langsung berjalan ke perapian mereka.

"Semoga perempuan," ujar Hermione setengah berteriak agar Draco dapat mendengarnya.

"Laki-laki," Draco berteriak.

"Perempuan."

Dan Draco sudah menghilang bersama api hijau yang berderak di perapiannya.

Sore itu tiada yang dapat menandingi kebahagiaan Hermione sepertinya. Wajahnya tak henti-henti mengembangkan senyum sejak ia kembali dari dokter kandungannya. Sesampainya di kantor ia hanya kembali memeriksa jadwal untuk pemotretan perdana pakaian hamilnya. Setelah mengirim pesan pada Draco untuk menemuinya di restoran yang berada tepat di seberang kantor agensinya Hermione langsung pergi meninggalkan kantornya.

Tepat pukul empat Draco sampai di restoran itu. Setelah menitipkan mantelnya dia melihat lambaian tangan Hermione yang memilih tempat tepat di jendela besar restoran ini. Draco mendaratkan kecupannya di puncak kepala Hermione kemudian duduk tepat di hadapannya. "Kau mau pesan?" tanya Hermione yang tak mampu menutupi wajah bahagianya.

"Minum saja," balas Draco yang sedari tadi memerhatikan manik wajah istrinya yang berseri-seri.

Tak lama kemudian seorang pelayan datang membawa pesanan Draco, sementara Hermione sudah sedari tadi asik menyantap burger, kentang goreng, dan milkshake pesanannya. Kali ini ia melanggar anjuran dokter untuk menghindari makanan cepat saji, karena akan berdampak tidak baik untuk kandungannya.

"Apakah kita akan mendapat bayi perempuan?" tanya Draco.

Hermione menggeleng dengan tersenyum "Laki-laki?" tanya Draco lagi dengan antusias kali ini.

Hermione kembali menggeleng "Menurutmu warna apa yang cocok untuk ruangan bayi kita nanti? Biru muda atau merah muda? Atau sebaiknya warna netral saja, seperti lilac atau turqoise atau kuning atau hijau?" Hermione berbalik tanya.

"Itu terserah padamu," jawab Draco.

"Atau campuran antara crimson dengan emerald?" tanya Hermione lagi.

"Demi Merlin! Hermione itu terserah padamu, tapi crimson dan emerald itu terlalu menyeramkan untuk menjadi kamar bayi kita," jawab Draco "jadi apa jenis kelaminnya?" tanya Draco penasaran.

" Kita akan punya dua sekaligus," jawab Hermione.

"Dua?" Draco mengerutkan keningnya.

Hermione mengangguk dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya "Maksudmu kembar?"

Kembali Hermione mengagguk "Laki-laki dan perempuan," jawab Hermione.

Kini Draco membeku. Hermione langsung terlihat panik. Apa kali ini ia salah berbicara lagi? Apa mungkin Draco tak menginginkan bayi mereka kembar atau jangan-jangan karena jenis kelaminnya laki-laki dan perempuan.

"Draco? Kau tidak suka?"

"Aku sangat suka cenderung mendekati bahagia," ujarnya datar sambil memandang Hermione "setidaknya keinginanmu dan keinginanku akan terkabul. Ini keajaiban," ujarnya senang.

"Syukurlah, aku kira kau akan stress memikirkan kita akan memiliki bayi kembar," ujar Hermione menghela napas.

Draco tersenyum "Berhentilah terlalu sering bersepekulasi, Hermione. Apapun jenis kelamin bayi kita kelak aku tak akan mempemasalahkannya, asalkan sehat itu sudah cukup," jawab Draco.

Hermione kembali tersenyum. Draco mendekatkan wajah padanya dan menciumnya dari seberang mejanya. "Draco," ucap Hermione di bibir suaminya.

"Apa?"

"Kita diperhatikan orang-orang."

Draco langsung melepaskan dirinya "Kau selalu membuatku lepas kendali," kekeh Draco.

Hermione tertawa "Sekarang kau harus pikirkan nama yang baik untuk bayi kita."

"Bagaimana kalau Orion dan Aprodhite?" usul Draco.

Hermione langsung mendengus "Aku tak mau mempunyai anak dengan nama-nama aneh seperti itu. Jangan mengusulkan nama dari konstelasi lagi."

"Baiklah."

Mereka menikmati sore dengan mendebatkan nama bagi bayi kembar mereka nanti. "Lucas dan Janine? Kita bisa memanggilnya Luke dan Jane" Hermione memberikan usulan.

"Lucas? Nama dari alkitab?" tanya Draco yang terlihat sedikit mengernyitkan dahinya.

"Benar," Hermione mengangguk.

"Terlalu suci," Draco mendengus.

Kali Hermione melotot "Terlalu suci? Memangnya bayi kita nista sampai nama itu terlalu suci."

Draco tertawa menanggapinya "Bukan itu maksudku, pakai nama yang umum saja. Seperti permintaanmu tanpa nama konstelasi dan sesuai permintaanku tanpa nama-nama suci di alkitab."

Hermione merengut "Baiklah."

Nama-nama bayi mulai bermunculan di otak mereka. Draco mengusulkan Alexander dan Allison, Damien dan Dakota, Christian dan Sara. Sementara Hermione mengusulkan Alistair dan Alexandria, Matthew dan Mackenzie, Ferdinand dan Frederica. Dan dari semua nama itu tak ada satupun nama yang mereka sukai bersama.

"Nanti sajalah," ujar Draco yang terlihat sudah putus asa memikirkan nama dari bayi mereka kelak.

"Baiklah, aku juga sudah lelah. Aku ingin segera pulang dan berendam," jawab Hermione.

Setelah membantu Hermione memakain mantelnya. "Pakai sunglas-mu, terlalu banyak media di luar," ucap Draco sesaat sebelum keluar dari restoran itu.

"Kau juga," jawab Hermione tersenyum "kapan kita bisa hidup tenang tanpa kejaran para media?" Hermione menghela napas.

Draco terekekeh "Bila tiba-tiba aku jatuh bangkrut dan kau bukan lagi model papan atas."

"Jaga ucapanmu, Mr. Malfoy," Hermione menyikut suaminya.

Mereka berdua keluar dari restoran itu. Para awak media yang sedari tadi sudah memburu mereka kini langsung yang tahu hal ini akan terjadi langsung menunduk saat serbuan kamera mengikuti mereka. Dengan sigap Draco menarik dan menggandeng tangan istrinya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"Mrs. Malfoy apa kabarmu?"

"Bagaiamana rasanya akan segera menjadi ibu?"

"Mr. Malfoy apakah kau bahagia dengan kehamilan istrimu?"

"Berapa usia kandunganmu?"

Semua pertanyaan itu menyerbu mereka secara bertubi-tubi. Draco semakin mengeratkan pegangannnya pada Hermione dan langsung masuk ke dalam mobil mereka tanpa harus mengutarakan sepatah katapun.

"Mereka gila," ucap Draco saat sudah duduk nyaman di kemudinya.

Hermione hanya tersenyum "Sangat gila."

Draco memacu mobilnya dan pergi meninggalkan para awak media yang masih sibuk mengabadikan gambar mereka.

ooo

Sebagai satu-satunya menantu di keluarga Malfoy otomatis Hermione menjadi sibuk mengurusi semua acara yang diadakan atas nama keluarga Malfoy atau perusahaan mereka. Tak terkecuali ulanga tahun dari Victoria Malfoy yang ke 53 tahun. Sudah lebih dari seminggu belakangan dia disibukkan dengan acara itu. Dia mengatur mulai dari tema acara itu, tamu yang diundang, makanan, pengisi acara, dan segala macam pernak-perniknya. Draco merasa terganggu dengan hal itu. Ia merasa Hermione terlalu sibuk dengan urusan itu sehingga lupa bila ia sedang hamil. Kehamilannya kini telah mencapai usia 23 minggu, tapi Hermione tak mempermasalahkannya. Ia senang melakukannya karena ia sudah tidak memiliki kontrak dengan klien manapun. Otomatis ia menganggur di rumah dan itu sangat membunuh baginya.

Pesta itu diadakan di kediaman Victoria. Ruang tengah rumahnya sudah di sihir menjadi lebih besar. Lampu-lampu kristal menggantung cantik di langit-langit rumah ini. Nuansa ungu tua dan silver yang mendominasi seluruh ruangan ini. Bunga-bunga cantik seperti lilac, lili, fresia, dan mawar sudah cantik mendekor setiap sudut ruangan. Setelah pemeriksaan terakhir untuk makanan, dekorasi, serta pengisi acara Hermionne kembali ke kediamannnya.

Draco masih di kantornya. Jumat sore merupakan hari yang panjang baginya. Dia tak mau mengorbankan Sabtu-nya untuk kembali memeriksa berkas-berkas yang harus ditandatanganinya. Jadilah, ia memperpanjang waktunya di kantor. Dia akan bertemu di kediaman Victoria nanti malam saat acara itu dimulai. Lagipula belakangan ini ia memiliki agenda tersendiri setiap akhir pekan bersama Hermione. Piknik di taman.

Hermione sudah mandi dan tengah mematut dirinya di cermin. Ia sengaja memesan gaun untuk malam ini. Bukan karena ingin tampil glamor atau semacamnya, tapi karena hampir semua gaunnya tak ada yang muat lagi di tubuhnya yang semakin membesar. Malam ini ia menggunakan gaun bewarna hitam berbahan chiffon dengan belt emas. Rambutnya ditata messy bun, karena menurutnya wajahnya terlalu penuh apabila rambutnya harus di gerai. Gerrad sudah menunggunya di luar. Dia sedikit kesal karena tidak dapat ber-Apparate dengan bebas lagi. Menggunakan mobil untuk kemana-mana dirasanya kurang praktis terutama karena dia adalah seorang penyihir.

"Mrs. Malfoy," sapa Gerrad yang sudah siap membuka pintu mobil untuk Hermione.

Dia tersenyum "Gerrad," lalu masuk ke dalam mobil itu.

Kediaman Victoria sudah dipenuhi para tamu. Para tamu sudah sibuk bercengkrama. Gaun warna-warni sudah bertebaran di ruangan itu. Para pria berstelan rapih dengan jas atau tuxedonya juga menghiasi ruangan ini. Pelayan-pelayan sudah sibuk mondar-mandir berkeliling membawakan minuman. Hermione mendapati Victoria tengah berdiri di dekat tangga, dia langsung datang untuk menghampirinya.

"Hermione," sapa Victoria dengan raut yang sangat bahagia di wajahnya.

"Victoria," Hermione balas menyapa.

Victoria memeluknya "Terima kasih atas semua bantuanmu," ucapnya "bagaiamana bila kau saja yang memegang Malfoy Organizer? Pasti akan semakin sukses."

Hermione tersenyum saat mendengarnya "Aku akan membicarakannya dengan Draco terlebih dahulu."

"Bagaimana kandunganmu?"

"Baik, dia sangat aktif berenang dalam perutku," kekeh Hermione.

"Merlin! Aku tak sabar untuk melihat mereka," Victoria berkata takjub tapi tetap anggun.

Hermione kembali tersenyum saat mendengarnya. Ia sangat senang karena ia yakin anaknya akan tumbuh dengan limpahan kasih sayang dari semua orang. "Mrs. Malfoy."

"Yaa," sontak Victoria dan Hermione menyahut.

Gerrad langsung canggung saat mendengarnya "Maksud saya, Mrs. Hermione Malfoy."

"Ada apa Gerrad?"

"Teman-teman Anda sudah datang," jawabnya.

Dia tersenyum "Aku pamit menemui teman-temanku dulu," izinnya pada Victoria.

Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu mengangguk "Baiklah, jangan terlalu letih, dear."

Hermione tersenyum dan meninggalkan Victoria. Langsung saja semua sahabatnya menghampirinya. Semua sangat antusias dengan kehamilan Hermione, terutama Ginny. Dia sangat iri melihat kebahagiaan Hermione sekarang. Mereka berbincang. Ron dan Daphne menceritakan segala perkembangan dan pertumbuhan Nate. Ginny dan Theo menceritakan tender-tender baru perusahaan mereka, sementara Luna dan Blaise menjadi pendengar yang baik. Harry dan Pansy tampak sedang asik berbincang dengan salah satu kolega Harry di Kementerian.

"Hallo," sapa Draco yang langsung melingkarkan tangannya di perut Hermione dan mencium pipipnya dari belakang.

"Hai," balas Hermione yang mendaratkan kecupan di bibir suaminya.

"Tetap mesra dimanapun berada," sindir Blaise yang juga langsung melingkarkan tangannya di bahu Luna.

Mereka semua terkekeh. Alunan musik melantun indah. Satu per satu dari mereka mulai turun ke lantai dansa dan hanyut dalam irama musik yang terdengar. Draco mengulurkan tangannya yang langsung diterima dengan senang hati oleh Hermione.

"Apa kabar si kembar hari ini?" tanya Draco disela dansa mereka.

"Mereka hiperaktif sekali," ujar Hermione yang menyandarkan kepalanya di bahu Draco.

Draco mengerutkan keningnya "Kau pasti terlalu lelah dan kurang makan."

"Aku sudah terlalu banyak makan," dengus Hermione.

Suaminya hanya tertawa saat mendengar dengusan dari Hermione. Bukan kali ini saja ia mengeluhkan tentang berat tubuhnya yang kian meningkat. Semakin hari ia semakin takut untuk melihat ke cermin. Padahal dokter kandungannya sudah mengatakan bahwa ini adalah hal yang normal bagi ibu hamil, apalagi dia tengah menghandung anak kembar. Justru bila tak ada kenaikan berat badan, hal itu yang wajib dipertanyakan.

"Bagaimana jika Alexander dan Alexandria?" tanya Draco lagi disela dansa mereka sambil melihat ke perut buncit Hermione sambil mengelusnya lembut.

Hermione menengadah untuk melihat Draco "Untuk anak kita?"

Draco mengangguk "Setuju, terdengar elegan," kekeh Hermione "campuran dari usulan dirimu dan aku," tambahnya.

Mereka melanjutkan berdansa. Setelah beberapa lagu dan Hermione merasa kakinya sudah tidak sanggup lagi berdiri merekapun menyudahi dansa mereka. Draco pamit untuk menemui kolega bisnisnya sementara Hermione mengistirahatkan diri di ruang kerja Victoria.

"Mrs. Malfoy," kali ini Drew yang melongok masuk ke ruangan itu.

"Ada apa?" tanya Hermione yang bangkit dari sandarannya di sofa ruangan itu.

"Francessa ingin menemuimu," jawab salah stau asisten Draco.

Hermione mengangguk dan kembali ke ruangan itu bersama Drew. Sementara itu Draco sudah kembali berkumpul bersama sahabatnya. Dia baru saja diberitahukan bahwa Hermione tengah menemui salah satu kliennya. Draco, Blaise, dan Theo sudah asik di meja bar sambil menenggak minuman mereka sambil bersenda gurau sedangkan Ginny dan Luna tengah hilang entah kemana.

"Anak kembar, huh?" Theo terkekeh saat mengutarakannya.

"Kembar," Draco mengangguk.

Blaise dan Theo sontak tertawa "Kau dapat bayangkan, Blaise, ada dua cetak biru dari Draco dan Hermione?" kekeh Theo lagi.

"Aku tak dapat membayangkannya, Theodore. Satu saja pasti sudah menggemparkan dunia sihir kini mereka akan memebuatnya menjadi dua," mereka kembali tertawa.

Mau tak mau Draco ikut tertawa dengan lelucon yang dibuat sahabatnya itu. Dia saja belum membayangkan bagaimana rupa dan tingkah laku dari anak kembarnya nanti.

"Hey."

Mereka langsung mengalihkan perhatian pada sosok yang menyapa mereka. Raut terkejut muncul di wajah mereka. "Charlotte," Theo dan Blaise mengucapkan secara bersamaan.

"Hai," sapanya lagi.

Draco masih terpaku menatap sosok wanita di hadapannya. Dia tak menyangka akan menemui wanita ini disini dan pada saat seperti ini. "Draco," sapanya.

"Charlotte," sapanya terdengar canggung.

Blaise langsung memeluk wanita itu begitu juga dengan Theo sementar Draco masih mematung di tempatnya "Kau kemana saja, beautiful lady," ujar Theo saat melepaskan pelukannya.

"Kau masih melakukan misi kemanusiaanmu?" kini Blaise ikut bertanya.

"Aku masih seperti yang dulu. Berkeliling dunia untuk misi kemanusiaan," balasnya sangat anggun.

"Kau datang juga setelah menghilang seperti ditelan bumi," kekeh Theo.

"Aku menggantikan Ayahku," jawabnya tersenyum.

Senyum yang sudah lama sekali tak lihat Draco. Senyum yang membuat Draco pertama kali mersakan jatuh cinta. Senyum yang menghilang begitu saja bertahun-tahun dan kini datang kembali disaat semuanya sudah tak seperti dahulu lagi.

"Ayahmu," kekeh Blaise "pria tersibuk sedunia, Arman Al-Rasyid."

Mereka terkekeh sementara Draco masih membeku sama sekali tak tahu apa yang harus ia katakan "Jadi, kau sudah menikah Draco?" tanyanya pada Draco yang langsung membuyarkan pikirannya.

"Seperti yang kau dengar," jawab Draco tenang seperti biasanya.

Theo dan Blaise bangun dari duduknya "Kalian mau kemana?"

"Mencari wanita kami tentunya," kekeh Blaise.

"Katakan pada Hermione untuk menungguku di ruang kerja Victoria bila kalian bertemu dengannya, aku akan segera menemuinya."

"Siap," balas Theo.

Draco kembali ke pembicaraannya dengan Charlotte. Cinta pertamanya saat mereka mengikuti Summer Camp di Maldives dulu. Semua teman-temanya selalu berekspektasi bahwa kelak mereka akan berakhir sebagai pasangan kekasih, tapi tidak pada kenyataannya. Draco selalu mengira Charlotte hanya menganggapnya teman dan begitu pula sebaliknya.

"Apa kabarmu?" tanya Draco memulai percakapan.

"Baik,"jawabnya.

Obrolan mereka mengalir dengan lancar. Wanita ini menceritakan semua kegiatan kemanusiaannya, panti asuhan yang ia dirikan dan segala macam kegiatan amalnya.

"Jadi, Hermione Granger huh?" tanya Charlotte setelah menyesap wine-nya "The Brightest Witch in Our Ages."

Draco hanya tersenyum "Kukira kau masih bersama Astoria," ujar Charlotte.

"Aku sudah lama putus dengannya," kekehnya "apa kabar Carlos?" tambah Draco lagi

"Sama sepertimu aku sudah lama berpisah dengannya."

Hening menyelimuti mereka. Hanya alunan musik derap langkah tamu yang mulai meninggalkan tempat karena hari semakin larut sajalah yang menemani mereka.

"Aku kira kau akan datang padaku," ucap Charlotte memecah keheningan.

Draco mengerutkan kening "Apa maksudmu?"

Semburat merah menghiasi wanita berparas timur tengah itu "Setelah berpisah dengan Astoria," ucapannya terhenti sesaat "aku kira kau akan mecariku dan kita mungkin.."

"Draco," Hermione memanggilnya.

Draco langsung bangkit dari kursi tinggi bar yang ia duduki. Dia tersenyum melihat Hermione dan tetiba canggung menyadari bahwa Charlotte masih berada di tengah-tengah mereka. Dia tak dapat membayangkan reaksi Hermione bila mengetahui wanita dihadapannya adalah Charlotte. Satu-satunya wanita yang membuatnya cemburu setengah mati pada Draco."Bisa kita pulang sekarang, aku sangat lelah," ujar Hermione yang berjalan menghampirinya sambil memegang pinggangnya yang terasa akan patah.

Langkah Hermione terhenti saat melihat sosok yang berbalik untuk melihatnya. Senyum langsung mengembang di wajahnya "Andriana," ujarnya terkejut.

"Hallo, Hermione."

ooo

to be continued


A/N : Hey, I'm update. Thanks for all of your review. Hanya ingin menjelaskan sesuatu, sekali lagi saya mau menjelakan bahwa saya tak bermaksud untuk melecehkan agama manapun. Saya menulis fict ini dengan rate yang jelas dan ada peringatan di setiap chap yang mengandung unsur dewasa dan unsur itu hanya ada di beberapa chap, karena tujuannya hanya untuk pemanis sebuah cerita. Bila ada anak di bawah umur yang ikut membaca semua itu berada di luar tanggung jawab saya. Sekali lagi saya benar-benar tak ada bermaksud menodai agama manapun, maybe I'm not in the same religion with you, but I feel blessed having another friends in my life. Peace. Haha maaf saya jadi bicara ngga karuan. Saya hanya ingin menjelaskan apa yang ada di perasaan saya. For once more, thanks for all review. Keep rock! Keep awesome guys :)

Pojokan Review:

- Maria Skodowska-Gurie : hah liat nanti aja deh masalah romance-nya haha. Mood saya suka swing kalau lagi nulis. Iyep S2. Lebih tepatnya warna rambut saya chestnut, cokelat gitu tapi terang. Bayangan Eva Green aja haha, kata teman saya mata saya mirip dia (saya geli loh nulisnya haha). Fifty Shades? Terima kasih untuk penemuan 4shared dan tablet. Saya download haha. Terima kasih sudah review. Can I call you just Maria?

- yiyituwi : eehm itu memang hanya dari gesture tubuh saja maksud sayam tapi sepertinya tidak tersampaikan. Maaf yaa :) btw, terima kasih sudah review.

- coretan merah : hai juga. terima kasih sudah review :)

- lumostalus :saya berusaha untuk update seminggu sekali, tapi biasanya selalu banyak penghalang hehe :) Btw, terima kasih sudah review