I am Back for You

.

.

.

Summary : Setelah 17 tahun hidup di Cina, Kim Kibum kembali ke Korea Selatan demi

memenuhi janji semasa kecilnya.

Declaimer : Super Junior milik diri mereka sendiri, keluarga dan SMEnt.

Pairing : KiHae (Kibum Donghae) or KyuHae (Kyuhyun Donghae) ?

Other cast : HanChul (orang tua angkat Kibum), Leeteuk, YunJae, yang lain menyusul sesuai dengan kebutuhan cerita :D

Rating : T (teen) nyrempet M

Genderswitch : Donghae, Heechul, Leeteuk, Jaejoong, maybe more.

Don't like don't read, no flame, no copas, review please.

^^ Saranghaeyo Super Junior ^^

Seorang yeoja berbusana hitam yang tak lain adalah Donghae meletakkan dua buket bunga lili putih di depan makan kedua orang tuanya dan memberi salam penghormatan –salam sala Korea. Tak jauh di sampingnya berdiri seorang namja tampan dengan setelan jas hitam –pula- bernama Kibum. Ya, mereka berdua kini ada di makam orang tua Donghae, memperingati hari kematian keduanya.

"Annyeong, appa, eomma. Bagaimana kabar kalian di surga? Aku di sini baik-baik saja dan hidup dengan baik, appa dan eomma lihat kan putri kalian ini sekarang tumbuh menjadi seorang yeoja yang cantik?" Donghae tersenyum mendengar perkataannya sendiri, begitu pula dengan Kibum.

"Dan juga aku memiliki orang-orang yang menyayangiku dan melindungiku, jadi appa dan eomma tidak usah mengkhawatirkkanku ne?" Donghae mencoba berbicara pada orang tuanya, walaupun itu sia-sia karena orang tuanya tidak bisa membalasnya. Namu setidaknya dengan begitu ia dapat mengurangi sedikit rasa rindunya.

"Kali ini aku berkunjung dengan seseorang. Dia adalah dongsaeng yang telah menjagaku di panti asuhan. Kibummie, kemarilah." Panggil Donghae pada Kibum di akhir kalimatnya.

Kibum memberi salam penghormatan kepada orang tua Donghae sejenak lalu kembali berdiri. "Annyeonghaseo, ahjusshi, ahjumma, naneun Tan Kibum imnida."

"Kibum ini sangat jenius lho, bahkan dia sudah menjadi presdir di perusahaan appanya." Ujar Donghae.

"Noona.." Kibum sedikit tidak nyaman dirinya dibanggakan.

"Memang benar kan?" Donghae tersenyum kecil.

"Oh iya, Kyuhyun menitipkan salam untuk appa dan eomma. Dia meminta maaf karena tidak bisa ikut datang, dia harus ke Jepang untuk mengurus bisnis. Appa dan eomma pasti bisa mengerti."

Kibum merasakan sedikit perih di hatinya ketika Donghae menyebutkan nama rival cintanya tersebut.

"Kibummie, apa ada yang ingin kau sampaikan pada appa dan eomma ku?" tanya Donghae membuyarkan lamunan singkat Kibum.

"Ah ne. Ahjumma, gamsahamnida telah melahirkan Donghae noona ke dunia ini sehingga aku bisa mengenalnya. Gamsahamnida ahjusshi dan ahjumma sudah merawat dan menjaga Donghae noona. Sekarang aku yang akan menggantikan kalian untuk melindungi Hae noona. Aku berjanji tidak akan membiarkannya bersedih." Janji Kibum.

Donghae menatap Kibum dari samping. Setitik air mata haru mengalir dari pelupuk matanya mendengar janji yang terlontar dari bibir Kibum. Donghae merasa sangat bahagia, dengan begitu dia tahu bahwa Kibum pun –sangat- menyayanginya.

"Kibummie~"

Kibum menoleh ke arah Donghae seraya menyunggingkan killer smilenya. Digenggamnya tangan Donghae, sementara tangannya yang lain beralih menghapus jejak air mata di pipi Donghae.

"Uljima, noona. Aku baru saja berjanji kepada ahjusshi dan ahjumma tidak akan membuatmu sedih. Kau mau membuatkku mengingkari janji yang baru saja ku ucapkan?"

"A-ani."

"Kalau begitu jangan menagis dan tersenyumlah." Pinta Kibum.

Donghae menyunggingkan angelic smile nya yang disambut senyum tulus Kibum.

"Nah, begitukan jauh lebih cantik." Goda Kibum.

"Aish, kau ini." Donghae terkekeh.

"Masih ingin di sini?" tanya Kibum.

"Aniya." Donghae menggeleng. "Kajja kita pulang."

"Appa, eomma, kami pamit dulu ne? Lain waktu aku akan mengunjungi kalian lagi. Saranghaeyo appa, eomma."

"Kami pulang dulu ahjusshi, ahjumma."

Kibum dan Donghae pun memberikan penghormatan pada mendiang orang tua Donghae sebelum memninggalkan area pemakaman.

.

.

.

"Kibummie." Panggil Donghae pada Kibum yang sedang focus menyetir di sebelahnya.

"Ehm." Kibum hanya bergumam dan menoleh ke arah Donghae sejenak.

"Aku ingin pergi ke suatu tempat." Donghae mengutarakan keinginannya.

"Eoddie?" tanya Kibum tanpa mengalihkan pandangannya pada jalan raya.

"Tempat tinggalku dulu. Aku tidak pernah ke sana lagi semenjak pindah ke Sapphire Blue. Kau mau mengantarku?"

"Tentu saja, noona." Kibum memalingkan wajahnya dan menyunggingkan killer smile nya.

Donghae memberi petunjuk arah kepada Kibum tempat di mana ia tinggal dulu. Walaupun sudah sangat lama Donghae tidak ke sana, ia masih bisa mengingat dengan baik rumahnya bersama kedua orang tuanya sebelum peristiwa kebakaran itu.

Kini sampailah mobil sport yang dikemudikan Kibum di sebuah rumah bergaya modern yang sederhana minimalis dengan halaman depan yang tidak bisa dikatakan sempit. Donghae membuka pintu mobil dan beranjak keluar, kemudian disusul oleh Kibum. Donghae menyandarkan badannya pada mobil, sedangkan Kibum pun ikut bersandar sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Noona yakin ini tempatnya?" tanya Kibum sedikit ragu.

"Ne. Sudah banyak berubah ternyata." Donghae tersenyum, tetapi dalam senyum Donghae kali ini terpancar kesedihan.

"Gwaencahanayo, noona?" tanya Kibum khawatir.

"Ehm." Donghae hanya mengangguk sebagai jawaban.

Hening menyelimuti keduanya. Donghae menatap rumah di hadapannya dengan seksama. Kibum yang mengerti Donghae tengah mengenang masa lalunya pun hanya diam, tidak berniat mengganggu kegiatan Donghae.

Donghae mengedarkan penglihatannya di daerah sekitar rumah itu. Kedua manic dark brown nya menangkap sesosok bayangan wanita paruh baya yang tampak tak asing baginya. Tak butuh waktu lama berpikir, Donghae telah berhasil mengingat yeoja -yang sudah beruban- yang hendak memasuki rumahnya.

"Hwang ahjumma!" teriak Donghae, sementara orang yang merasa namanya dipanggil itu menghentikan langkahnya dan berbalik.

Donghae berlari kecil menghampiri ahjumma itu, Kibum mengikuti di belakangnya.

"Annyeonghaseo, ahjumma." Donghae membungkuk memberi hormat.

"Nuguya, agasshi?" ahjumma itu menyipitkan kedua matanya –mempertajam penglihatannya yang mulai rabun.

"Donghae, ahjumma, Lee Donghae." jawab Donghae tersenyum senang.

"Lee Donghae?" ahjumma itu mengulangi perkataan Donghae, memastikan jika indra pendengarannya masih berfungsi dengan baik mengingat ia sudah memasuki usia senja.

"Ne. Lee Donghae. Tetangga ahjumma yang tinggal di sebelah rumah ahjumma." Donghae memperjelas.

Ahjumma itu mencerna kata-kata yang Donghae ucapkan.

"Donghae kecil?" ahjumma itu bertanya –entah pada dirinya sendiri atau pada agasshi cantik di hadapannya.

Donghae mengangguk-anggukkan kepalanya antusias mengetahui ahjumma tetangganya dulu mulai mengingat dirinya.

"Ya Tuhan, Donghae-ya, kau sudah besar, kau juga cantik." Ahjumma tersebut memegang kedua tangan Donghae lalu meraba kedua pipi Donghae. "Mianhae ahjumma sudah agak pikun."

"Gwaenchana, yang terpenting sekarang ahjumma sudah mengingatku." Donghae tersenyum.

"Kau bertambah tinggi, bahkan kau kini lebih tinggi dariku."

"Tentu saja, ahjumma, tidak mungkin kan aku kecil terus."

"Kau juga sudah mempunyai kekasih, eoh?" tanya Hwang ahjumma saat menyadari kehadiran namja tampan di belakang Donghae.

"Ah, aniyo, dia ini sahabatku." Terang Donghae.

"Tan Kibum imnida. Bangapseumnida, ahjumma." Kibum memperkenalkan diri seraya menundukkan kepalanya memberi hormat.

"Omona~ sayang sekali, padahal kalian ini sangat serasi." Ujar Hwang ahjumma yang tampak kecewa karena persepsinya ternyata salah. Sementara Kibum dan Donghae hanya tersenyum kikuk menanggapi argument orang yang lebih tua dari mereka itu.

"Ayo masuk dulu. Mampirlah ke rumah ahjumma. Terakhir kau berkunjung ke rumah ahjumma kau masih kecil." Ajak Hwang ahjumma. Donghae menoleh ke arah Kibum, meminta pendapat. Kibum tersenyum lalu mengangguk tanda ia tidak keberatan.

Tak terasa atu jam telah berlalu. Hwang ahjumma dan Donghae larut dalam keasyikan mereka bernostalgia, sementara Kibum hanya berperan sebagai pendengar setia. Keuntungan yang Kibum dapatkan adalah dia bisa mengetahui masa kecil Donghae –sebelum bertemu dengannya- dan memahami Donghae lebih jauh.

"Ahjumma." Panggil Donghae.

"Ne."

"Aku ingin bertanya, boleh kah?" ungkap Donghae sedikit ragu.

"Tentu saja. Bertanyalah, Hae-ya. ahjumma akan menjawabnya jika bisa."

"Ehm.. si-siapa yang menghuni rumahku-ah ani, maksudku rumah di sebelah ahjumma?" tanya Donghae yang segera meralat pertanyaannya.

Hwang ahjumma tersenyum tipis melihat kegugupan Donghae. "Gwaencahana, Hae-ya, dulu itu memang rumahku bukan?"

Donghae mengangguk mengiyakan.

Hwang ahjumma menghela napas panjang sebelum memulai bercerita pada Donghae. "Mereka keluarga Lee. Pasangan muda bernama Lee Jinki dan Kim Kibum dengan putra semata wayangnya Lee Taemin. Lima tahun yang lalu tanah orang tuamu dibeli oleh pasangan muda itu, mereka pindah ke sini sekitar empat tahun yang lalu. Ah iya, aku lupa. Tunggu sebentar ne?" setelah ingat akan sesuatu, hwang ahjumma menghentikan ceritanya dan bangkit menuju kamarnya.

Tak lama kemudian Hwang ahjumma muncul sengan sebuah amplop coklat berukuran besar di tangannya. Kembali ia memdudukan dirinya di depan Donghae dan Kibum yang duduk bersampingan.

"Ini adalah uang hasil penjualan tanah orang tuamu." Hwang ahjumma menyodorkan amplop coklat tebal itu pada Donghae. Donghae hanya menatap amplop di atas meja itu –di hadapannya.

Donghae mengambalikan amplop itu pada Hwang ahjumma yang menatapnya heran. "Gunakan saja uang ini untuk membantu orang-orang di sini yang kurang beruntung, ahjumma. Aku sudah cukup, tidak kekurangan suatu apapun." Donghae tersenyum tulus. Kibum yang berada di samping Donghae memandangnya kagum. Betapa mulianya hati yeoja yang ia cintai itu, benar-benar bagai jelmaan malaikat.

"Kau yakin, Donghae-ya?"

"Ne, ahjumma." Donghae mengangguk mantap.

"Aigooo~ kau anak yang sangat baik, Donghae-ya. appa dan eomma mu pasti sangat bangga memiliki putri sebaik dan secantik dirimu." Puji Hwang ahjumma seraya mengelus pipi Donghae sayang. "Ahjumma berjanji akan merealisasikan keinginanmu yang mulia ini."

"Gamsahamnida, ahjumma."

"Cheonma. Apa kau ingin berkunjung ke rumah keluarga Lee?" tanya Hwang ahjumma setelah menjauhkan tangannya dari pipi Donghae.

"Bolehkah?" Donghae balik bertanya.

"Tentu saja, mereka orang yang ramah. Aku akan mengantarmu." Tawar Hwang ahjumma.

"Ne, aku mau." Donghae tersenyum senang.

.

.

.

'ting tong ting tong'

"Ne! Sebentar!" Terdengar teriakan dari dalam rumah.

'Ceklek'

Pintu pun terbuka, menampakkan yeoja muda dengan namja kecil berambut mangkok di gendongannya yang mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan Donghae.

"Annyeonghaseo." Sapa Donghae dengan senyum manis terpatri di bibirnya seraya menundukkan kepalanya.

"Annyeong." Yeoja itu pun balas tersenyum dan menundukkan kepalanya.

"Nyonya Lee, dia adalah Lee Donghae, putri dari pemilik tanah ini sebelumnya." Terang Hwang ahjumma.

"Ah, ne. Silahkan masuk dulu." Ucap sang tuan rumah mempersilakan Hwang ahjumma, Donghae dan Kibum masuk.

"Ne, gamsahamnida." Balas Hwang ahjumma.

Ketiga tamu tersebut mendudukkan diri mereka di sofa –di hadapan sang tuang rumah. Tak lama kemudian datanglah seorang namja dari dalam.

"Siapa yang datang, chagiya?" tanya namja itu, mengambil posisi duduk di samping istrinya.

"Agasshi ini adalah pemilik tanah ini dulu." Jawab sang istri.

"Perkenalkan, joneun Lee Donghae imnida. Dulu aku tinggal di sini. Dan ini Tan Kibum" Donghae memperkenalkan dirinya serta Kibum.

"Naneun Lee Jinki imnida, panggil saja Onew. Di sampingku ini adalah istriku, Kim Kibum, biasa disapa dengan nama Key. Dan ini putra kami, Lee Taemin." Sang kepala keluarga –Onew- memperkenalkan anggota keluarga kecilnya seraya mengelus sayang kepala Taemin –putra semata wayangnya- yang berada di pangkuan Key.

"Taeminnie, ayo beri salam pada ahjumma dan ahjusshi." Titah Key lembut pada putranya.

"Annyeonghaseo, ahjumma, ahjusshi. Lee Taemin imnida, tiga tahun." Taemin menundukkan kepalanya memberi salam pada orang dewasa di hadapannya.

"Bangapseumnida, Taemin-ah, kau anak yang manis." Donghae mengembangkan angelic smile nya pada namja kecil nan imut itu.

"Gamsa, ahjumma." Balas Taemin.

"Kalau boleh saya tahu, ada keperluan apa Donghae-sshi dan Kibum-sshi datang kemari?" tanya Onew.

"Begini, Tuan Lee, Donghae ini sudah lama tidak berkunjung kemari –tempat tinggalnya dulu- semenjak pindah ke Seoul, dan di samping itu dia juga ingin sekedar mengingat kenangan masa kecilnya di sini. Apa anda keberatan?" tutur Hwang ahjumma mewakili Donghae berbicara.

"Oh begitu, tentu saja kami tidak akan keberatan, ahjumma." Ujar Onew ramah.

"Jeongmal gamsahamnida Onew-sshi, Key-sshi." Pekik Donghae senang.

"Cheonmaneyo. Saya senang bisa membantu Donghae-sshi."

"Jadi Donghae-sshi ingin melihat-lihat mulai dari mana dulu?" tawar Key.

"Saya ingin melihat halaman belakang rumah saja." Jawab Donghae. Lagi pula rumah Donghae dulu sudah dilahap habis oleh si jago merah 22 tahun silam, jadi tidak ada yang perlu dikenang dari bangunan rumahnya bukan? Harapan Donghae hanyalah halaman belakang rumah, tempat di mana dirinya dan kedua orang tuanya sering menghabiskan waktu bersama dahulu.

"Baiklah kalau begitu, mari saya antar." Ucap Key.

Donghae dan Key yang menggandeng tangan mungil Taemin berjalan menuju halaman belakang rumah. Sementara Onew, Hwang ahjumma dan Kibum berbincang-bincang di ruang tamu. Sesampainya di halaman belakang, Key meninggalkan Donghae di sana sendiri, memberi waktu pada Donghae untuk mengenang serpihan-serpihan memori masa lalunya.

.

.

.

Donghae melangkahkan kakinya secara perlahan menuju sebuah bangku dari kayu dengan ukiran sederhana. Tangannya meraba sandaran bangku tersebut, berusaha meresapi kenangan yang terukir di bangku tersebut. Dari semua hilang dilahap ganasnya kobaran api, hanya bangku tersebutlah yang tersisa. Sebuah tempat duduk sederhana yang dibuat langsung oleh tangan ayah Donghae.

Donghae mendudukkan dirinya di bangku tersebut. Pandangannya menerawang lurus ke depan. Seolah-olah di depannya saat ini sedang ditayangkan sebuah film, film masa kecilnya. Dulu di depan bangku yang sedang diduduki Donghae sekarang terdapat sebuah taman mungil yang ditumbuhi berbagai macam bunga yang sangat indah. Eomma Donghae lah menanami dan menghias taman itu karena kecintaannya pada tanaman terutama bunga. Tak jarang Donghae pun juga membantu eommanya merawat taman itu, appanya pun juga ikut andil. Dulu, di pekarangan belakang rumah yang lumayan luas ini terdapat beberapa pohon sakura yang ditanam oleh appa Donghae sehingga tampak sejuk dan nyaman untuk tempat Donghae bermain. Apalagi saat musim semi tiba, saat bunga sakura bermekaran.

Kini pandangan Donghae semakin kabur. Ya, apalagi kalau bukan disebabkan oleh air mata yang mulai menggenang di kedua pelupuk matanya yang siap menuruni pipi porselennya. Donghae begitu merindukan moment berdua bersama appa dan eomma nya yang sudah tidak berada di sampingnya lagi saat ini. Appa dan eomma nya pergi dengan tiba-tiba saat dirinya masih sangat membutuhkan kasih sayang yang melimpah dari keduanya. Mereka berkorban demi menyelamatkan Donghae dari kobaran api yang melahap rumah mereka, beruntung Donghae bisa lolos dari bahaya itu sementara kedua orang tuanya terjebak di dalam kobaran api yang hebat. Donghae tak mampu membendung air matanya lagi. Kini cairan bening itu telah menganak-sungai dengan derasnya dari kedua mata indah Donghae.

Kibum tak tega melihat Donghae yang begitu rapuh seperti. Donghae yang menangis tersedu-sedu seraya meremas baju di depan dadanya yang terasa perih, hidung mancung Donghae yang merah dan badannya yang bergetar hebat karena menangis. Kibum pun ikut merasakan sakit. Ingin sekali dia memeluk Donghae, menenangkannya dan menjadi sandaran baginya.

"Biarkan dulu, Kibum-sshi. Donghae membutuhkan waktu sendiri untuk dirinya saat ini." cegah Hwang ahjumma saat Kibum hendak melangkahkan kakinya menghampiri Donghae.

"Ahjumma benar, Kibum-sshi." Imbuh Onew.

Kibum berpikir sejenak. Memang ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Hwang ahjumma. Dia pun menuruti perkataan Hwang ahjumma, mengurungkan niatnya untuk menghampiri Donghae.

"Eomma, kenapa ahjumma cantik menangis? Minnie ingin pelgi ke cana menghibul ahjumma." Ucap Taemin dalam gendongan Key dengan gaya cedalnya.

Key tersenyum mendengar ucapan aegyanya itu. "Ahjumma tidak apa-apa, chagiya. Ahjumma sedang ingin sendiri, Minnie menghibur ahjumma nya nanti saja, eoh? Mengerti?" jawab dan tanya Key.

"Mengelti, eomma."

"Anak pintar." Puji Onew seraya mengacak ringan rambut mangkok anaknya itu dan mengambil alih gendongan Taemin.

Kibum ikut tersenyum mendengar kalimat polos dari mulut Taemin. Dia terharu. Bahkan Taemin yang baru pertama kali bertemu dengan Donghae pun sudah menunjukkan kepeduliannya terhadap Donghae.

'Uljimarago, noona. Lihatlah, banyak orang yang menyayangimu.' Batin Kibum.

Donghae masih belum menuntaskan tangisannya. Sementara itu tak jauh darinya berdiri Hwang ahjumma, Onew yang menggendong Taemin, Key dan Kibum yang mengamati Donghae serta menunggunya selesai dengan acara nostalgianya. Mereka menatap iba pada Donghae.

.

.

.

"Gamsahamnida atas kebaikan anda, Onew-sshi, Key-sshi." Donghae menundukkan kepalanya sopan.

"Cheonma, Donghae-sshi. Jangan panggil kami seformal itu, usia kita kan tidak jauh berbeda. Malah Donghae-sshi lebih tua daripada kami." Tutur Onew bercanda.

"Ah, ne. Kalau begitu, Onew-ah, Key-ah, panggil aku noona dan eonnie ne?" pinta Donghae disertai kekehan ringan darinya.

"Arraseo Donghae noona/eonnie." Sahut Onew dan Key bersama yang mengundang tawa orang yang ada di sana –kecuali Kibum yang hanya tersenyum dan Taemin yang tidak mengerti (?)-

Saat ini kelima orang dewasa dan satu balita yang tangannya digandeng sang appa itu tengah berdiri di depan pintu rumah keluarga mungil tersebut.

"Appa, apa ahjumma cantik akan pulang cekalang?" tanya Taemin seraya menarik-narik tangan Onew.

"Ne, Minnie-ah." Onew membungkukkan badannya guna mensejajarkan tingginya dengan sang anak dab membelai surai lembutnya.

Taemin mengulurkan kedua tangannya pada Onew. Onew yang mengerti maksud Taemin yang minta digendong langsung menuruti keinginannya.

"Ahjumma, jangan pulang dulu. Minnie macih ingin bermain dengan ahjumma cantik." Rengek Taemin.

"Mianhae, Taeminnie, ahjumma akan kemari lagi kapan-kapan dan menemani Taemin bermain." Donghae tersenyum seraya mengelus rambut Taemin lembut.

"Yakssok?" Taemin mengulurkan jari kelingking mungilnya pada Donghae.

"Ne, yakssok." Ucap Donghae mantap dan menyambut janji kelingking yang Taemin tawarkan padanya, tak lupa angelic smile andalannya masih terkembang di bibir tipis pink nya.

"Minnie cayang ahjumma cantik."

"Ahjumma juga menyayangi Minnie imut." Donghae mencubit gemas kedua pipi chubby Taemin. "Taeminnie tidak boleh nakal, eoh?"

"Ne! Minnie tidak akan nakal." janji Taemin.

"Anak pintar."

"Poppo, ahjumma~" pinta Taemin polos sambil menunjuk pipi kanannya, semua orang terkekeh melihat tingkah manja yang Taemin tunjukan pada Donghae. Baru sekali bertemu dengan Donghae, Taemin sudah sangat akrab dengannya bahkan ia juga menyayangi Donghae.

"Aigooo~ anak eomma manja sekali, eoh?" Key terkekeh.

Cuuup~ Donghae mendaratkan ciumannya di kedua pipi Taemin.

"Gomawo, ahjumma."

"Cheonmaneyo, Taeminnie."

"Mampirlah ke sini jika ada waktu, Donghae noona." Ujar Onew.

"Taemin juga sangat menyukai eonnie. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk eonnie kapanpun untuk eonnie." Key menambahi.

Donghae begitu terharu dengan keramah-tamahan dan kehangatan pasangan muda ini. "Jeongmal gomawoyo. Kalian sangat baik padaku." Kedua mata Donghae berkaca-kaca, dipeluknya Key sebentar.

"Jaga dirimu dengan baik, Donghae-ah." Hwang ahjumma berpesan.

"Ne. ahjumma juga harus menjaga kesehatan." Donghae juga memberikan pelukan pada Hwang ahjumma.

"Arraseo. Ahjumma akan menunggu kedatanganmu." Donghae mengangguk mendengar perkataan Hwang ahjumma.

"Kibum-sshi, tolong jaga Donghae. Aku tidak bisa mengawasinya di Seoul, dia hanya sendiri di kota besar itu." Titip Hwang ahjumma yang sudah menyayangi Donghae seperti keluarganya sendiri.

"Tentu, ahjumma. Aku akan selalu melindungi Donghae noona." Janji Kibum.

"Gomawo. Aku lega mendengarnya." Ucap Hwang ahjummam tersenyum.

"Kami pulang dulu. Sampai jumpa." Pamit Donghae.

Kibum dan Donghae pun memasuki mobil sport Kibum yang terparkir di depan gerbang rumah Onew-Key. Donghae membuka kaca jendela. Tangannya melambai pada keempat orang yang mengantar kepergiannya yang dibalas hal serupa pula oleh mereka. Saat mobil Kibum mulai menjauh, Donghae melihat Taemin yang mulai menangis dari kaca spion.

"Tidak tega melihat anak semanis Taemin menangis." Gumam Donghae yang masih bisa tertangkap oleh gendang telinga Kibum.

"Taemin pun juga menyayangi noona. Donghae noona disayangi banyak orang." Ucap Kibum tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya, namun Donghae masih bisa melihatnya dari samping.

"Jeongmal? Wah, aku senang sekali mendengarnya." Ujar Donghae senang.

"Euhm, terutama aku. Aku, Tan Kibum, sangat sangat sangat menyayangi Lee Donghae." ungkap Kibum penuh arti.

"Gomawo." Balas Donghae tanpa memahami maksud Kibum sesungguhnya.

.

.

.

#night –KiHae's room#

"Noona, kajja makan dulu." Ucap Kibum yang menenteng plastic yang berisi menu makan malam mereka saat memasuki kamar yang mereka sewa.

"Noona? Neo eoddiseoyo?" panggil Kibum ulang saat tak mendapati sahutan dari teman satu kamarnya itu.

Kibum mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari sosok yeoja yang sangat ingin ia lindungi. Menelusuri setiap sudut ruangan dengan teliti, dan Gotcha! Kibum menemukannya. Donghae yang tengah duduk bersandar balkon yang dibatasi pintu geser dari kaca dengan memeluk kedua lututnya dan kepala yang menengadah ke langit. Walaupun Kibum hanya dapat melihat Donghae dari belakang tapi ia yakin begitulah posisi Donghae saat ini. Kibum memandang punggung Donghae prihatin. Ia yakin saat ini Donghae sedang dalam keadaan yang tidak baik. Diletakkannya bungkusan makan malam yang dibawanya di meja kemudian disambarnya selimut di tempat tidur Donghae sebelum dihampirinya sosok yeoja yang tengah termenung itu.

Donghae terlonjak kaget saat sesuatu tersampir di bahunya dan membuat punggung serta tubuhnya hangat. Namun kekagetannya tidak berlangsung lama karena dia tahu siapa yang meletakkan selimut di pundaknya. Tentu saja Kibum, hanya ada dia dan Kibum di kamar tersebut bukan? Kembali ia pada kegiatnnya semula, menerawang langit yang gelap nan mendung tanpa bintang. Kibum duduk di samping Donghae, ikut menyandarkan dirinya seperti Donghae.

"Kenapa noona ada di sini, eoh? Tidak ada bintang sama sekali. Lagi pula malam ini cuacanya sangat dingin. Kalau noona mengenakan pakaian tipis seperti itu nanti noona bisa jatuh sakit." Ucapan panjang yang terlontar dari mulut Kibum tidak mendapatkan respon sama sekali dari Donghae.

Walaupun Donghae mengabaikannya, Kibum tidak marah sama sekali. Tangan Donghae memegang gantungan nemo yang merupakan satu-satunya kenangan dari orang tuanya yang tersisa. Dia sangat paham kondisi Donghae saat ini. Jika tiba saatnya Donghae bicara, ia akan bicara. Kibum hanya perlu menunggu. Dia ikut memandang langit yang malam ini tampak begitu sunyi.

"Hiks."

Sontak Kibum menolehkan kepalanya ke samping –pada Donghae- saat mendengar isakan meluncur dari mulut Donghae. Betapa kagetnya ia saat mendapati wajah Donghae yang telah basah oleh air mata dan badannya yang bergetar hebat. Kembali Kibum melihat sosok rapuh Donghae lagi hari ini.

"Noona, gwaenchanayo?" tanya Kibum panic.

"Hiks bahkan aku hiks hampir lupa bagaimana hiks wajah mereka." Jawab Donghae sesegukan.

Kibum menarik pinggang Donghae, membawanya dalam dekapan hangat seorang Tan Kibum, melindungi tubuh lemas Donghae dari dinginnya angin malam. Menyalurkan rasa cinta dan sayangnya pada yeoja yang sudah ia tinggalkan selama 17 tahun itu. Berharap Donghae akan merasa tenang dan menghentikan tangisnya setelah dipeluk –seperti biasanya. Namun prediksi Kibum kali ini salah. Bahkan tangis Donghae semakin kencang dan terdengar semakin pilu juga.

"Uljima, noona. Aku di sini, akan selalu berada di sampingmu." Kibum mengeratkan pelukannya, dielusnya punggung Donghae yang ditutupi selimut tebal.

Sungguh hati Kibum sangat perih melihat Donghae yang tampak sangat rapuh dan sakit. Kibum jauh beruntung dari Donghae. Walaupun ia tidak tahu siapa orang tuanya, namun setidaknya dia memiliki Hangeng dan Heechul yang amat menyayanginya. Dia selalu diperlakukan selayaknya anak kandung. Dilimpahi kasih sayang, perhatian dan cinta dari kedua orang tua angkatnya itu. Tak pernah Kibum merasa kekurangan apapun. Semua kebutuhan dan keinginannya dipenuhi oleh Hangeng dan Heechul, baik materiil maupun non materiil. Ya, Hangeng dan Heechul adalah pengganti orang tua kandungnya. Kibum tidak pernah mempermasalahkan siapa Hangeng dan Heechul, yang terpenting ia tahu bahwa mereka sangat menyayangi dirinya.

"Aku sangat merindukan mereka, Kibummie. Appa! Eomma! Kenapa kalian pergi meninggalkan aku sendiri?" teriak Donghae –masih dengan tangis- yang agak teredam karena adanya bahu Kibum.

"Sssttt! Noona tidak sendiri. Aku sudah bilang kan? Ada aku di sini. Ada aku! Bagilah rasa sakitmu padaku, mari kita pikul bebanmu bersama, izinkan aku menjadi sandaranmu."

Donghae mencengkram erat jaket Kibum. Setelah beberapa saat tangis Donghae sedikit reda, tapi masih menyisakan isakan-isakan. Kibum melonggarkan sedikit pelukannya sehingga ia bisa melihat wajah malaikatnya itu. Kedua tangan Kibum menangkup wajah sembab Donghae, ditatapnya lekat manic kelam Donghae yang saat ini tampak sendu. Perlahan tapi pasti, Kibum mendekatkan wajahnya dengan wajah Donghae.

Cuuuup~

Bibir Kibum pun bertemu dengan bibir tipis kissable Donghae yang sukses membungkam isakan Donghae. Kali ini sebuah kecupanlah yang mampu menghentikan tangis Donghae, bukan sebuah pelukan. Kibum memejamkan matanya, bibir keduanya hanya sebatas menempel. Awalnya Donghae terbelalak kaget dengan aksi Kibum namun akhirnya Donghae pun ikut memejamkan kedua matanya, menerima kehangatan yang Kibum suguhkan.

Merasa tidak ada penolakan sama sekali dari Donghae, Kibum mulai menggerakkan bibirnya perlahan, menyapu lembutnya bibir Donghae, menyalurkan kerinduan selama 17 tahun tidak berjumpa dan menyampaikan betapa Kibum mencintai Donghae. Donghae pun membalas lumatan Kibum semampunya.

Selang beberapa detik kemudian, Kibum menarik dirinya untuk memberi ruang bagi Donghae bernapas meskipun sebelum Donghae memintanya. Kibum menengadahkan wajah Donghae yang menunduk, diusapnya jejak air mata yang masih membekas di pipi porselen Donghae.

"Don't ever cry again, I will always be here with you. Hold my words." janji Kibum.

Donghae menyelami obsidian Kibum, mencari kebohongan di sana. Namun Donghae tidak menemukannya, hanya ada kejujuran dan kesungguhan yang tersirat dari manic Kibum. Donghae tersenyum tipis dan mengangguk, dia begitu yakin dengan kata-kata yang terlontar dari bibir Kibum.

Kembali Kibum mengeliminasi jarak antara bibirnya dan Donghae, tanpa ragu Kibum langsung melumat bibir Donghae. Kibum memiringkan kepalanya agar mempermudah dirinya menyesap rasa manis yang tersimpan di bibir ranum yeoja yang sangat ia cintai sepenuh hati, serta ditekannya tengkuk Donghae guna memperdalam ciuman mereka. Sedangkan Donghae menyampirkan (?) kedua tangannya di bahu Kibum, mengikuti alur permainan Kibum, merasakan kehangatan yang Kibum tawarkan kepadanya yang sedang dilanda galau dan diliputi kesedihan.

Kibum 'melahap' habis bibir marun Donghae, mengemutnya (?) layaknya lollipop. Desahan-desahan tertahan tak jarang berhasil lolos dari bibirnya yang dibungkam Kibum, menambah semangat Kibum menginvasi bibirnya. Dijilatnya bibir atas dan bawah Donghae serta digigitnya halus untuk meminta akses masuk dari Donghae. Donghae yang mengerti pun tanpa diminta dua kali segera membuka mulutnya membiarkan lidah Kibum menjelajahi rongga mulutnya yang hangat, menjamah setiap inci benda yang ada di dalamnya.

Kibum mengangkat tubuh Donghae bridal style menuju ke dalam kamar tanpa melepas pagutan bibir mereka, ditutupnya pintu balkon dengan kasar menggunakan kakinya. Donghae yang langsung sigap melingkarkan tangannya di leher Kibum, selain memperkecil kemungkinan dirinya terjatuh juga untuk mempertahankan posisi bibir mereka. Dibaringkannya Donghae dengan lembut di ranjangnya. Kibum menyudahi aktivitasnya pada mulut Donghae dan hendak beranjak menjauh,namun sebelum melakukan itu kedua tangan Donghae memeluk erat leher Kibum, tidak mengizinkan Kibum menjauh darinya.

"Don't leave me, Kibummie." bisik Donghae

"I will, Donghae-ya." balas Kibum mesra.

Kibum memposisikan dirinya di atas Donghae, menahan berat tubuhnya agar tidak sepenuhnya jatuh di tubuh Donghae yang lebih kecil darinya. Kini ciuman itu kembali tercipta, bahkan lebih lebih lebih panas dan bergairah dari sebelumnya. Donghae mengeratkan dekapannya pada leher Kibum, seolah tidak ingin menciptakan celah sedikit pun di antara mereka. Keduanya saling melahap bibir manis yang tersaji di depan mereka, seakan-akan ingin memakannya.

"Eunghhhh…" lenguh Donghae yang membuat Kibum semakin tidak bisa memerangkap sifat liar yang selama ini tersimpan dalam dirinya. Hey! Sedingin dan secuek apapun Kibum, dia tetap seorang namja yang apabila dihadapkan dengan 'makanan lezat' pasti akan tergoda juga. Apalagi yang ada di hadapannya saat ini adalah yeoja yang sangat ia cintai. Dan Kibum bukanlah namja pabbo yang akan menyia-nyiakan kesempatan.

Entah setan apa yang telah merasuki Donghae, ia kehilangan akal sehatnya. Prinsip yang selama ini ia pegang teguh pun lenyap –tidak akan melepas keperawanannya kecuali pada suaminya. Bahkan Kyuhyun yang berstatus sebagai namjachingunya selama bertahun-tahun pun tidak pernah ia ijinkan menyentuh dirinya lebih jauh, Donghae pun tidak pernah seagresif seperti bersama Kibum saat ini. Tetapi seorang Tan Kibum yang tidak jelas statusnya bagi Donghae –bukan suami ataupun namjachingunya- telah sukses meruntuhkan pertahanan Donghae.

Jemari lentik Donghae sudah tersesat di dalam surai hitam Kibum, menjambak-jambak rambut Kibum, menandakan betapa terbuainya ia dengan sentuhan-sentuhan Kibum yang makin liar. Tak jarang pula jemari lentiknya turun membelai tengkuk Kibum, mengirimkan kenikmatan yang ia rasakan. Saat ini tangan Kibum berhasil menyusup ke dalam kaus biru tipis yang dikenakan Donghae. Dirabanya perut rata Donghae, tubuh Kibum bagai tersengat aliran listrik saat kulitnya menyentuh kulit mulus Donghae. Tangan Kibum terus merambat naik sampai ditemukannya dua buah gundukan di dada Donghae. Diremasnya dua payudara Donghae dengan lembut sehingga membuat Donghae menggeliat di bawah tubuh Kibum yang memerangkapnya.

'Creeek'

Kibum merobek kaos Donghae sehingga menampakan bra putih yang masih menutupi payudara Donghae yang terbilang montok. Kibum tidak ingin terburu-buru, dia ingin menikmatinya secara bertahap (?). Kibum menurunkan bibirnya di leher jenjang Donghae yang putih mulus. Mengecup, menjilat, menggigit dan tak segan memberi banyak kissmark di sana. Tak hanya leher Donghae saja, perpotongan leher dan bahu Donghae pun tak luput dari perhatian Kibum begitu juga dengan dadanya yang akan menyisakan bekas merah keunguan *benar nggak?* esok hari.

Donghae pun tak tinggal diam. Dilepasnya jaket yang Kibum kenakan dan membuka kancing kemeja Kibum, kemudian membuangnya sembarang. Donghae membelai dada bidang Kibum seduktif mungkin, memancing nafsu Kibum semakin membuncah. Kibum tak tahan lagi, segera dilepasnya pengait bra Donghae dan membuangnya menyusul kaos Donghae yang entah ke mana, tak ketinggalan hot pants dan underware Donghae yang Kibum lepas dalam sekali hentakan. Tidak terima jika dirinya kalah dari Kibum, tangan Donghae berpindah di ikat pinggang dan celana Kibum berusaha untuk membukanya. Dengan sedikit –atau banyak malah- bantuan Kibum, akhirnya terbukalah celana Kibum sehingga mereka berdua kini sama-sama full-naked.

Napas keduanya memburu tak beraturan menandakan gejolak dalam diri mereka yang sudah tak tertahankan. Kibum masih asyik meraup payudara Donghae bergantian yang diiringi desahan-desahan erotis Donghae yang menggema di kamar penginapan mereka. Donghae menekan kepala Kibum di dadanya agar Kibum memperdalam lumatan-lumatannya. Beberapa saat kemudian Kibum mengangkat kepalanya, ditatapnya wajah Donghae yang terlihat –sedikit- kecewa karena Kibum yang mendadak menghentikan kenikmatan Donghae.

"Bolehkah aku melakukannya, Donghae-ya?" bisik Kibum seduktif di telinga Donghae yang diakhiri dengan menjilat telinganya sehingga membuat Donghae geli.

"Kau takut menyentuhku lebih lanjut, hm?" tanya Donghae terdengar meremehkan Kibum.

Demi apapun, Donghae benar-benar telah kehilangan akal sehatnya. Dia malah balik menantang Kibum, membangkitkan setan yang tersembunyi dalam diri pemuda itu bangkit.

"Aku terima tantanganmu." Ucap Kibum dengan seringai –evil smirk- tercetak jelas di bibir kissable nya.

Kembali diraupnya bibir kenyal Donghae yang agak bengkak dengan penuh napsu. Tangan Kibum menelusuri tubuh Donghae mulai dari pipi tirusnya , leher jenjangnya, payudara montoknya, pinggang rampingnya dan berakhir di pangkal paha Donghae. Dirabanya vagina Donghae yang sudah tampak basah itu, membuahkan lenguhan dan desahan dari Donghae yang terdengan sangat merdu di telinga Kibum. Tak hanya bagian tubuh atas Donghae yang Kibum beri 'kenang-kenangan' namun Kibum juga meninggalkan tanda kepemilikannya di paha Donghae yang mulus tanpa goresan.

Puas dengan paha Donghae, kini pusat perhatian Kibum tertuju pada vagina Donghae yang sangat menggodanya. Dapat dirasakannya sesuatu di bawah sana menegang dan berkedut, tidak tahan ingin mengeluarkan sesuatu. Tapi Kibum tidak ingin terburu-buru, ia ingin menikmati kenikmatan yang tersaji di hadapannya dengan santai dan 'total'. Apalagi yang menjadi 'santapan'nya adalah tubuh Donghae yang molek dan –sangat- seksi. Bibir Kibum mengecup selangkangan Donghae kemudian beralih pada pangkal paha Donghae, dihisapnya kuat vagina Donghae hingga cairan kewanitaannya bersih namun tetap saja terus keluar karena ulah Kibum ditambah tubuh sensitive Donghae yang sangat mudah terangsang.

Tubuh Donghae melengkung membentuk busur akibat aksi Kibum. "Eungghhh… enough… anhhh…" rancau Donghae susah payah, diremasnya seprei putih yang menutupi kasur empuknya hingga kusut dan tak beraturan. "Ja.. ngan mem-anhh-permainkan-eunghh-ku, Bum-ahhh.."

"Ingin segera ke pesta intinya, eoh?" tanya Kibum tak meninggalkan seringaiannya.

Donghae tidak menjawab pertanyaan Kibum yang tidak perlu ia jawab itu. Dia sibuk menstabilkan napasnya yang terengah-engah. Tentu Kibum sudah tahu jawabannya bukan?

"As your wish, chagiya." Ujar Kibum dengan suara beratnya yang seksi.

Dilebarkannya kedua kaki Donghae agar mempermudah dirinya melakukan langkah selanjutnya. Kibum tak bisa menahan dirinya untuk tidak meraup payudara Donghae –lagi- yang tampak berkali-kali lebih menggoda saat ini, di mana dada Donghae bergerak naik turun dengan cepat dengan napas yang terengah-engah. Dilahapnya payudara kanan Donghae sementara tangan kanannya memberi servis pada yang sebelah kiri dengan cara meremas-remasnya dan seterusnya ia lakukan bergantian. Hal yang ia lakukan ini juga bertujuan untuk mengalihkan perhatian Donghae dari rasa sakit yang akan segera ia terima.

"AAARGT…!" teriak Donghae kencang saat junior Kibum membobol masuk 'mahkota' nya yang sama sekali belum pernah dimasuki sebelumnya, air matanya pun mengalir. Tubuhnya terdorong ke atas, tangannya mencengkram erat apa saja yang bisa ia gapai –seprai, bantal. Donghae menggigit bibir bawahnya menahan rasa perih dan panas yang menggoyak pangkal pahanya, tubuhnya seakan terbelah menjadi dua. Ternyata kenikmatan yang Kibum berikan tidak mampu mengurangi sakit yang Donghae terima.

Kibum menautkan jemarinya dengan milik Donghae serta beralih memagut bibir manis Donghae yang telah bengkak guna membantu meredam sakit yang menyerang Donghae dan menenangkan Donghae. Beberapa saat kemudian Donghae mulai tenang dan bisa beradaptasi dengan junior Kibum yang telah merobek kritorisnya. Donghae menggeliatkan tubuh bagian bawahnya, tanda memperbolehkan Kibum bergerak. dan Kibum pun melakukan apa yang Donghae inginkan.

"Euungghhh.. eemmhh…" erang Donghae nikmat saat Kibum berhasil menyentuh sweetspot nya.

"Call my name, Donghae-ya." titah Kibum.

"Kibum-aaahhnnnn.."

Kibum semakin mempercepat gerakan pinggulnya.

"A-aku mau ke-luarrhhh.." rancau Donghae. Belum sampai lima detik, vagina Donghae kembali mengeluarkan cairan kewanitaannya entah yang keberapa kali.

"I'm coming, Hae-ya."

"Aaannhhh.." Kibum pun memuntahkan spermanya di dalam liang hangat Donghae.

Kibum yang masih menindih Donghae memandangi Donghae yang terengah-engah mengatur napasnya pasca 'acara inti'. Diulapnya peluh yang mengalir di wajah Donghae dan menautkan helai rambut Donghae yang menutupi paras cantiknya. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman, hatinya begitu bahagia mengingat apa yang baru saja ia lakukan dengan malaikatnya. Mata Donghae yang terpejam dan mulutnya yang sedikit terbuka dengan bibir pink yang bengkak –akibat ulah Kibum- sungguh pemandangan yang indah di mata Kibum. Pemandangan yang sangat menggoda, membuat Kibum ingin kembali 'melahap' Donghae.

Tanpa sengaja manic obsidian Kibum menangkap bercak merah –darah- pada seprai putih –yang membungkus kasur- tepat pada bagian pangkal paha Donghae. Kibum terbelalak kaget, ia menyadari sesuatu yang tidak ia duga.

"Noona, ka-kau masih virgin?" tanya Kibum heran.

Donghae membuka kelopak matanya, menampilkan mata sayunya. Dianggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Kibum.

"Jeongmal? Dan kau menyerahkannya padaku?" tanya Kibum –lagi- untuk meyakinkan dirinya sendiri. Kibum mengira Kyuhyun telah melakukan 'itu' pada Donghae, ternyata ia salah. Garis bawahi, SALAH.

Donghae kembali mengangguk.

"Gomawo. Saranghanda." Kibum mengecup kening Donghae penuh cinta, dirinya begitu bahagia dan terharu.

"Tidurlah." Kibum menarik selimut menyelimuti tubuh polos mereka berdua.

Tangan kanannya ia gunakan sebagai bantalan Donghae mengingat tempat tidur yang mereka tempati merupakan single bed, jadi sangat sempit untuk berdua dan terbatas. Didekapnya Donghae erat, menghangatkan Donghae dari dinginnya malam yang tengah diguyur hujan deras sejak tadi.

'Jeongmal saranghae, Donghae-ya. Aku tidak akan melepasmu.'

.

.

.

T~B~C

.

.

.

Ocehan Eun Byeol :

Huwaaaaah~

Ini ff terpanjang yang pernah kubuat *readers:nggak ada yang tanya*

Kepanjangan kah? Membosankan kah?

Silahkan ditanggung sendiri, Eun Byeol nggak mau tanggung jawab.

Hehehe~ *nyengir gaje* #dibakar readers.

Special thanks to :

| Xabilapersie26 |dwoonho | Guest (?) | Boom | cloudyeye | cloud3024 | isfa. id | Kika | DS | ika. zordick | dewi | Lullu48129 |

Gomawo yang sudah mampir dan bersedia me-review..

Jika ada protes, keluh-kesah ataupun kritik silahkan katakan pada Eun Byeol yaaa~

Last word...

Mind to REVIEW?