MAAF, AKU MENCINTAIMU SAHABAT

BY

Nezusha No Kurosa

Disclaimer: Masashi Kishimoto (aku Cuman minjem)

Warning : aneh/ gaje/ typo/ gak nyambung/ OOC/ dsb.

Dont like dont read

.

.

CHAPTER 7

"Kau senang?"

Sakura menoleh kearah Gaara yang duduk di sebelahnya. Lalu tersenyum. "Hm! Aku sangat senang hingga membuatku ingin menangis."

"Syukurlah..." Gaara menghela napas lega. "Aku kira kau masih memikirkan yang tadi."

Sakura menggeleng. "Tenang saja. Aku sudah melupakannya."

"Secepat itukah?"

"Kurasa begitu." Sakura diam sesaat. Menatap langit malam dengan tatapan yang sulit diartikan bagi Gaara. "Mungkin yang kurasakan hanyalah rasa sesaat." Kemudian dia terkikik pelan. "Aku bodoh. Bertindak ceroboh begitu."

Gaara terdiam. Menatap Sakura dengan intens.

"Ada apa?"

"Jadi aku masih memiliki kesempatan?"

Sakura terdiam. Pertanyaan Gaara membuatnya kehabisan kata-kata. Dan ketika wajah pemuda itu dimiringkan dan mendekat padanya dengan mata terpejam, Sakura hanya bisa mematung. Ikut memejamkan matanya erat. Takut untuk melihat kejadian berikutnya.

Dan kedua bibir itu pun bertemu.

Saling membagi kehangatan satu sama lain. Mencoba menyalurkan rasa yang selama ini mengusik relung jiwa yang terasa sakit. Membagi penderitaan. Membagi kebahagiaan. Dan ketika Sakura membuka mulutnya lidah Gaara menyeruak masuk.

Sakura membalas. Melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Gaara.

Gaara mengangkat tangannya. Menangkup tengkuk gadis dihadapannya untuk memperdalam ciuman lama dan panjang mereka.

Dan Gaara merasakan sesuatu di sana. Ciuman mereka adalah kebahagiaan baginya. Apalagi Sakura juga membalasnya. Tapi, kebahagiaan yang dirasakannya juga bersanding dengan rasa sakit dan sesak yang entah kapan hadir.

Sakura juga merasakan demikian. Dia juga bahagia karena Gaara akan selalu disisinya. Dia sangat bahagia. Tapi, di hatinya juga ada rasa sakit.

Air matanya pun turun. Membasahi pipi ranumnya yang memerah. Dan tangisan itu berlangsung tanpa hisakan selama ciuman itu terjadi.

Gaara melepakan pagutannya. Dan menyadari air mata telah menghiasi wajah gadis yang berada dihadapannya.

Tangannya yang tadi berada ditengkuk gadis itu pun lunglai kebawah. Diiringi dengan kepalanya yang tertunduk dipundak Sakura.

Sama dalamnya dengan tundukan Sakura.

Sakura menunduk dengan mata basah. Tangannya mencengkram erat pakaian pemuda dihadapannya.

"Maafkan aku." Bisiknya pelan. "Aku tak bisa mencintai Gaara senpai. Jika pun aku mencintaimu..." Sakura menggigit bibir bawahnya. "... Rasa cinta yang kita rasakan berbeda... Maafkan aku, senpai."

Gaara merasakan tubuhnya menegang. Kini dia sadar. Bahwa memiliki cinta Sakura adalah mustahil baginya. Selama ini, dia telah keliru dengan perasaan Sakura. Sakura tak akan pernah bisa melihatnya.

Gaara tersenyum. Dia mengerti sekarang. Jika terus dibiarkan, maka dia benar-benar akan mencintai Sakura. Dan akan sangat sulit untuk melupakan gadis itu. lebih baik melupakannya sekarang dari pada saat tanaman dihatinya telah berbunga indah.

"Apa-apaan wajah murung mu itu." Kata Gaara sambil tersenyum. Bukan senyum yang dipaksakan. Namun senyum yang benar-benar tulus.

Sakura mendongkak. "Habisnya... Aku sudah buat senpai sedih."

Gaara tertawa. "Bodoh! Mana mungkin kan?" Dia menatap Sakura dalam. "Aku mengerti bagaimana perasaanmu Sakura-chan. Walaupun aku ditolak tapi aku masih bisa jadi temanmu. Benar?"

Sakura mengangguk.

"Kalau begitu, kau tak sepenuhnya menolak keberadaanku. Bukankah begitu?"

"Senpai... Tak marah?"

Gaara tersenyum lagi. "Tentu saja tidak."

Perlahan Sakura menarik sudut bibirnya dan ikut tersenyum. "Arigatou."

.

.

.

.

"Niichan... Mana tousan?" Tanya Sakura

"Bekerja." Jawab Sasori santai. Menyantap makan malamnya dengan sangat lahap.

Sakura yang tertarik untuk mencicipi makanan buatan Sasori ikut mendudukan dirinya. Dia nyengir dengan lebar. Meniru cengingiran Naruto. "Hehe... sepertinya enak. Aku juga mau makan." Dia mengambil nasi goreng buatan Sasori secukupnya. "Itadakimasu!"

Selama beberapa saat, acara makan malam di kediaman Sakura berlangsung dalam keheningan. Sakura yang mulai bosan angkat bicara.

"Niichan..."

"Ya?"

"Apakah... Apakah tousan tak bisa meluangkan waktunya untuk kita?" Tanya Sakura. Dia tak berani menatap mata kakaknya.

Sasori hanya terdiam. Menatap Sakura sesaat lalu mengangkat bahu.

Sakura meremas sendok makannya. Lalu Sakura memperlihatkan cengingiran lebarnya. "Hahaha... Aku ini memang cerewet ya. Padahal kita sudah sering kali membahasnya. Hehehe..."

"Sakura, kau -"

"Ma... Ma... Aku sudah selesai. Terima kasih atas makanannya."

"Sakura!"

Tanpa menghiraukan panggilan Sasori, Sakura melangkahkan kakinya menjauhi Sasori yang kini tengah menatap punggungnya nanar.

Sasori menahan napas, menggigit bibirnya lalu menekuk wajahnya dalam.

"Maafkan aku Sakura..."

.

.

.

.

"Wuuuaaaahhhh! Yakiniku!" Pekik seorang gadis disebuah pesta. Dia segera membekap mulutnya ketika menyadari berpuluh pasang mata mendelik kearahnya. Gadis itu tersenyum canggung.

"Sakura... Kau berlebihan." Bisik gadis lainnya. Menatap sebal temannya yang tengah melihat berpiring – piring daging panggang di atas meja beralasan putih dengan mata berbinar.

Gadis dengan manik hijau zambrud indah berambut aneh yang bernama Sakura itu hanya menampilkan cengengesannya. Meniru cengengesan bodoh seseorang yang bernama Naruto yang tengah -

"GAARA! INI PESTA ULANG TAHUN ATAU PESTA PERNIKAHAAAAN?!"

- Uh, berisik plus memekik tujuh oktaf disisi ruangan bersama pemuda bersurai merah yang disebutnya Gaara. Pemuda bernama Gaara itu hanya tersenyum maklum melihat tingkah bodoh teman akrabnya.

"Lihat! Naruto lebih heboh." Sakura menunjuk Naruto dengan telunjuk rampingnya.

"Dia `kan manusia paling bodoh di seluruh jagat raya ini." Jawab Ino sakartis.

"Benar juga ya..." Sakura mengalihkan tatapannya dari yakiniku ke Naruto, menunggu reaksi si bocah rubah atas percakapannya dengan Ino yang berjarak lumayan jauh dengannya. "Dan juga..."

"AKU DENGAR ITU SAKURA – CHAN! INO – CHAN!" Naruto berteriak, sehingga menarik perhatian semua orang.

"Jeh!" Ino terkesiap. Mengerjapkan matanya berulang kali.

Sedangkan Sakura menatap Naruto yang berjarak jauh darinya dengan pandangan bosan. "Insting liarnya sangat tajam." Ucap Sakura.

Ino menganga. "Dia seperti binatang liar." Sambung Ino.

"WOI! AKU MENDENGARNYA TAU!" Teriak Naruto memekakkan telinga. Sakura dan Ino menatap Naruto sengit.

"JANGAN TERIAK, BODOH!" Sakura balas berteriak.

"Ka – kau juga teriak, Sakura..." kata Ino. Mencoba menyadarkan Sakura agar tak berteriak lagi. Sebelum gadis merah muda bertenaga gorila ini mengeluarkan suara emasnya yang bisa menghancurkan seluruh kaca di penjuru ruangan ini.

"A – ah... gomen. Hehehe..." Dia tersenyum canggung. Hanya sekilas karena setelah itu dia beralih ke yakiniku 'miliknya' lalu menyantapnya. Dengan sopan tentu saja. Dia tak ingin mempermalukan Gaara karena punya teman sepertinya.

"Huh! Dasar, kau ini! Sudahlah! Aku mau menyapa teman yang lain dulu." Ino melangkah menjauhi Sakura yang sedang menikmati makanannya.

Sakura merasa ini hari terbaiknya. Menghadiri persta ulang tahun temannya, dihidangkan dengan ratusan yakiniku yang sangat enak dan dikelilingi oleh orang - orang yang disayanginya.

"Hm." Gumam sakura tak jelas.

Ayolah, ini hari yang terbaik bukan?

Namun...

"Sakura - san?"

KHUK!

Sakura tersedak. Memegang lehernya yang sesak.

UHUK UHUK UHUK!

"A – a – airr..." Dia mengulurkan tangannya namun tak sampai.

UHUK!

Dia terbatuk lagi.

"Ini." Terdengar suara baritone seseorang dan segelas air yang telah berada di hadapannya.

"Arigatou..." Gadis merah muda yang wajahnya telah memerah karena tersedak itu menerima pemberian air dari –

– Entahlah, dia tak tau. Yang penting, daging yang menyangkut dikerongkongannya ini harus berhasil menuju lambungnya. Kalau tidak, dia bisa mati. Mati tersedak? Konyol banget!

"Hahh..." Sakura bernapas lega. Akhirnya... Sudah berhasil. Dia tak lagi terkena ancaman mati konyol karena tersedak.

"Bodoh! Makan itu harus hati – hati!" Tegur seseorang. Dan rasanya suara itu familiar.

Sakura mendelik. "sorry ya... Yang membua - hi – hinata –san? Sasuke?" Namun ucapan sakura terhenti. Matanya melebar. Terkejut dengan dua penampakan - orang di depannya.

Jadi, yang memberikannya air dan yang mengatainya bodoh itu Sasuke? Oke, bisa dimaklumi karena mereka memang telah lama bersahabat meskipun sekarang tidak lagi.

Sakura memperbaiki raut wajah terkejutnya. Tersenyum. Walau terkesan dipaksakan. Dia berdehem.

"Ada apa lagi, ya? Apa kita masih punya urusan?" Ucap sakura yang terkesan tajam. Piring yakinikunya sudah diletakkannnya tadi, sebelum dia tersenyum.

Hinata mengabaikan pertanyaan Sakura. Dia menatap Sakura dengan wajah polosnya. "Sakura – san... Tadi kau memanggil Sasuke – kun dengan panggilan Sasuke. Biasanya kan -"

"- Ah! Tentu saja." Sakura memotong perkataan hinata cepat. Dia menoleh kearah Sasuke. Membungkukkan badannya sedikit. "Maaf atas kelancanganku Sasuke – san." Katanya dengan penekanan di suffix san. Dia menoleh kembali ke Hinata. "Bagaimana? Hinata – san?"

Hinata mengangguk.

"Boleh kami duduk di sini?" Tanya Hinata.

Sakura menggeser duduknya. Membiarkan Hinata duduk disebelahnya yang diikuti oleh Sasuke di sebelah Hinata.

Hinata tersenyum puas. Sakura membuang muka. Sasuke mendengus.

Suasana menjadi canggung di ruangan ini.

Oke, mungkin presepsinya berubah.

INI HARI TEBURUK SEPANJANG MASA!

Sakura merasakan hawa – hawa aneh yang mengitari mereka bertiga. Dia mengertakkan giginya. Diiringi dengan umpatan innernya yang semakin membuat kepalanya pusing.

Lihat perempuan jalang itu! Dia merebut Sasuke – kun kita Sakura!

Diam!

Sakura menunduk. Memegang kepalanya yang berdenyut.

Oh! Dia juga memegang tangan Sasuke – kun!

Dia memang kekasih Sasuke! Inner bodoh!

Apa kau akan membiarkannya begitu saja Sakura?

Deg!

Kau akan kehilangan Sasuke – kun selamanya!

Deg! Deg! Deg!

Rebut dia!

"DIAAAAM! – Ah!" Sakura yang tadi membentak entah ke siapa tersadar dari percakapan bodohnya dengan dirinya sendiri. Dia bangkit dari duduknya. Membelakangi Hinata dan Sasuke yang menatapnya heran.

"Sakura – san?" / "Sakura?" Panggil Hinata dan Sasuke bersamaan.

Sakura menarik napas. "Aku pergi dulu. Permisi." Lalu melangkah menjauhi Sasuke dan Hinata yang semakin bingung.

"Dia kenapa, Sasuke – kun?" tanya Hinata.

"Aku... Tak tau." Jawab Sasuke tak peduli. Padahal hatinya sudah risau tak karuan karena tingkah aneh Sakura tadi. Apalagi ketika melihat kejadian selanjutnya.

"Wah! Mereka berpelukan!" Hinata menyeringai tanpa sepengetahuan Sasuke.

"Mereka... serasi, ya, Sasuke-kun?"

.

.

.

.

BOKU NO NOTO

Gomen... baru hadir sekarang... alasannya macam – macam, jadi susahlah...

Aduh, aku gak tau apa yang mau ku omongin disini, tapi, bagi yang masih menanti fanficku, dan masih mau melihat penderitaan sakuranya, baca aja. Dan terima kasih.