Notes: Readers, terima kasih untuk sarannya! Maaf jika cerita saya masih bertele-tele hehehe…. #Maklumin yah! Soalnya saya masih sangat baru dalam hal menulis cerita. Selamat membaca!
Created by : Angelalfiction
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Action, Basketball-life, Romance.
Pair : NaruxHina, SasuxSaku, SaixIno.
.
.
.
.
Chapter 7 : Tournament!
Di pagi hari yang sangat cerah, walaupun agak sedikit ramai tapi tempat ini membuat semua yang menghadirinya ingin cepat-cepat menunjukkan keahlian mereka masing-masing. Bahkan beberapa tim yang akan bermain sudah sangat bersemangat untuk mengincar kemenangan di akibatkan hadiah yang sangat menggiurkan.
"What the- …" kiba hanya bisa membulatkan mata tanpa bisa meneruskan kata-katanya setelah membaca selembar kertas yang baru saja kapten mereka ambil di meja juri.
"Basket Jepang kali ini gila sekali yah? Apa mereka sangat ingin mengalahkan basket Amerika?"kata Kiba.
"Wooow…hadiah ini pasti akan membuat tim dari sekolah lain tidak mau kalah."kata Naruto yang sama terkejutnya dengan Kiba.
"Ini memang gila…tapi jika kita menang, kita akan mendapatkan…Training dari pelatih NBA Amerika." Kata Kooga.
"…menjadi sebuah tim yang akan mewakili Jepang."lanjut Shikamaru.
"…dan tentunya mendapatkan penghargaan serta nama baik…"lanjut Naruto sambil membayangkan dirinya yang menjadi terkenal.
"Semuanya, dengarkan baik-baik!"teriak Aiko yang membuat lamunan seluruh anak basket buyar seketika.
"Jangan tergiur dulu dengan hadiah yang mereka berikan. Tunjukanlah dulu prestasi kalian!"semua terpesona oleh kata-kata Aiko. Kooga hanya bisa tersenyum memandangi Aiko.
"Kita akan bermain setelah pertandingan pertama ini, persiapkan diri kalian!"Teriak Kooga dengan penuh semangat.
"HA'I, Senpai!"jawab semuanya ikut bersemangat. Dengan percaya diri mereka melangkahkan kaki mereka menuju lapangan tempat dimana mereka akan bertanding.
Di tempat lain…
TING…TONG…"Sakura-chan!"teriak Ino di depan pintu rumah Sakura.
"Hmm…Ino-chan berisik banget sih!"keluh Sakura karena Ino sudah membangunkannya sepagi ini. Dengan langkah gontai, Sakura berjalan menuju pintu depan dan membukanya.
"Ino-chan, ada apa?"Tanya Sakura malas.
"Ayo nonton pertandingannya Sai! E-eh, ma-maksudku Naruto! Iya, pertandingannya Naruto!"kata Ino yang salah tingkah. Sakura hanya bisa memandang Ino dengan aneh karena Ino salah tingkah dengan hal yang spele.
"Kenapa kau ingin menonton pertandingannya Naruto? Engh…jujur aku bingung. Kenapa kau bersemangat sekali menonton pertandingannya Naruto padahal kau membencinya?"Tanya Sakura.
"Iiiih…Sakura-chan! Lagi pula aku hanya ingin menonton pertandingannya bukan Sai ataupun Naruto!"teriak Ino dengan wajah merona.
"Baiklah Ino-chan…"Sakura hanya bisa mengalah dengan teman masa kecilnya yang sudah menemaninya saat pertama kali ia di rekrut menjadi Agent.
"Sakura-chan, jangan lama-lama yah! Aku tunggu di ruang tamu!"teriak Ino pada Sakura yang masuk ke dalam kamar mandi. Setelah 15 menit kemudian, akhirnya Sakura keluar juga dari kamar mandi.
"Oh iya Ino-chan, Sasori tidak ikut kita?"Tanya Sakura sambil memakai sepatunya di teras rumah.
"Tidak. Dia sudah di sana duluan bersama para polisi lainnya yang menyamar menjadi beberapa penonton untuk menjaga Sasuke."
"Ino-chan, aku sudah siap! Ayo!"kata Sakura yang berdiri dan berjalan menuju mobil Ino.
Setelah sampai…
"Wah, Sakura-chan…kita terlambat sedikit. Mereka sudah mulai bertanding! Lihat!" teriak Ino pada Sakura yang berjalan di belakangnya.
"Eh, Takashi berada di bangku cadangan? Kenapa? Bukannya dia jago?" Sakura hanya bisa bingung melihat Takashi yang dicadangkan.
"Iya 'yah…kok aneh sih?" komentar Ino.
Di bagian Takashi…
"Maaf teman-teman, aku belum siap melawan mereka…"gumam Takashi sambil melihat Kooga dan yang lainnya sedang bertanding.
Takashi's Flashback…
"Aku ingin seperti mereka…"gumamku sambil memperhatikan tim basket Ikida yang sedang latihan.
"Aku ingin menjadi pemain basket!"teriakku dalam hati sambil terus menonton cara mereka berlatih. Walaupun aku masih SD, tapi aku sudah memiliki cita-cita dari aku TK, yaitu menjadi pemain basket Internasional seperti ibuku.
"OI, kalian lama sekali!"tiba-tiba aku melihat dua orang masuk ke dalam ruangan itu. Yang satunya agak pendek dan yang satunya tinggi.
"Maaf senpai, kami terlambat!" jawab keduanya bersamaan.
"Kalian berdua menyusahkan sekali…ayo cepat ganti baju sekolah kalian. Sudah mau dimulai pertandingan antara kelas 1 dan kelas 2!"teriak salah satu dari mereka.
"Baik kapten!" teriak mereka bersamaan lagi sambil masuk ke dalam salah satu ruangan di bawah sana.
Tibalah saat yang paling seru menurutku, yaitu melihat dua orang tadi bertanding. Walaupun mereka berdua masih kelas 1, tapi mereka berdua adalah pemain inti di Ikida High School. Aku terkesan dengan mereka saat bertanding melawan tim yang Ibuku latih. Walaupun kalah, tapi hanya mereka berdua yang mencetak point. Tidak ada satupun dari senpai mereka yang bisa mencetak point. Dengan seru aku menonton mereka yang mulai bermain.
"Juugo!"teriak salah satu anak kelas 1 yang mengoper bola kepada orang yang dipanggilnya. setelah mendapatkan bola, dengan mulus bola itu di masukkan oleh orang yang bernama Juugo.
"Kerenn! Dia bisa bergelantungan di ring itu!"teriakku yang hanya bisa menonton dari kaca jendela lapangan basket itu.
"Itu namanya Slam Dunk"tiba-tiba aku mendengar seseorang berbicara di sebelahku.
"Eh, senpai nggak ikut bertanding di bawah?" tanyaku kepada salah satu dari orang yang ku kagumi.
"Nanti saja! Oh iya, panggil aku Suigetsu ya!"
"Ba-baik Suigetsu-senpai!"
"Engh…kamu disini lagi ngapain?"Tanya Suigetsu-senpai padaku.
"Aku sedang menonton kalian disini setiap hari!"
"Wah, kau tertarik dengan basket yah?"
"Tentu saja senpai!" jawabku semangat.
"Bagaimana jika kau ikut kami latihan dari pada kau diam saja disini?"
"E-eh, aku boleh ikut latihan? Aku 'kan masih SD senpai!"
"Memangnya kenapa?"
"Kalau nanti aku latihan di sini trus aku masuk SMP lain gimana?"
"Hahaha…kamu polos banget sih…kalau selalu disini menonton kami latihan setiap hari, mau tidak mau orang tuamu, nanti kamu pasti akan bersekolah di sini bukan?"kata Suigetsu.
"Benar juga…baiklah senpai aku ingin ikut latihan!"kataku semangat.
"Ayo masuk!"kata Suigetsu-senpai yang langsung di sambut oleh Juugo-senpai yang marah-marah.
Takashi's Flashback off…
"Sial…aku tidak bisa menghilangkan perasaan itu. Aku terlalu kagum pada mereka…"kata Takashi sambil melihat Juugo dan Suigetsu bertanding melawan timnya.
"TIME OUT!"teriak wasit.
"Kalian semua baik-baik saja?"Tanya Aiko pada anak-anak kelas 1 dan 2.
"Pelatih, tolong ganti Takashi. Aku sudah sangat lelah."kata salah satu anak kelas 2.
"Takashi-kun posisimu 3"kata sang pelatih yang langsung to the point.
"A-a-aku…"
"Takashi, kami mempercayaimu ttebayo!"kata Naruto.
"Ya, jangan pikirkan Juugo-senpai dan Suigetsu-senpai! anggap saja mereka musuhmu!"kata Takeda yang memberikan semangat pada kakaknya.
"HM!"jawab Takashi semangat walaupun dia masih ragu.
"Ingat, anak-anak! Kita tertinggal 6 point! Satu-satunya cara untuk menyamakan kedudukan adalah shoot-an 3 point Takashi. Kalian mengerti!"
"Mengerti, sensei!"
"Baiklah, kalian bisa bermain sekarang!"kata pelatih. Naruto dan yang lainnya langsung maju ke depan.
"Eh, Juugo lihatlah! Dia Takashi bukan? Hei, Takashi!"tiba-tiba Suigetsu langsung menghampiri Takashi.
Melihat gelagat Takashi, Suigetsu pun sadar.
"Takashi, sekarang kita adalah musuh! Bermainlah dengan sportif! Jika kau tidak bermain dengan sportif, sama saja kau meremehkan kami!" kata Suigetsu di depan Takashi, membuat Takashi mulai menyadari posisinya.
"Tapi, apa Suigetsu-senpai dan Juugo-senpai tidak kenapa-napa jika nanti timku yang menang?"Tanya Takashi yang membuat Juugo dan Suigetsu tertawa.
"HAHAHA…kau mau meremehkan kami?"Tanya Juugo.
"Bu-bukan begitu senpai!"jawab Takashi gagap.
"Tenang saja! Kami mengerti maksudmu. Kita akan tetap menjadi teman."kata Suigetsu membuat Takashi bersemangat.
"Baiklah, senpai!"kata Takashi bersemangat.
"Itu yang kami harapkan!" kata Juugo yang segera kembali ke posisinya bersama Suigetsu.
Pertandingan kemudian berlanjut dengan Tim Konoha yang segera Offense. Dengan Teknik Takashi ditambah dengan dirinya yang sangat bersemangat membuat skor mereka menjadi unggul.
"Waah, Juugo…sekarang dia sudah hebat bermain basket! Walaupun agak iri, tapi aku bangga padanya!"kata Suigetsu yang sedang membawa bola menuju ring tim Konoha.
"Jangan banyak bicara, Suigetsu! Lupakan dulu masa lalu yang sudah kita lewati bersamanya. Sekarang dia adalah musuh kita. Kita harus mengalahkannya." Kata Juugo.
"Passing!" teriak Juugo. Suigetsu dengan cepat langsung mengoper bola kepada Juugo. Dengan sekali lompatan Juugo langsung mengambilnya dan memasukkannya ke dalam ring.
Naruto yang menjadi center hanya bisa cengo melihat lompatan Juugo.
"Tinggi sekali…"komentar Naruto.
"Sudah kubil- …"
"Tapi tenang saja Takashi….Aku juga bisa."kata Naruto yang segera berlari ke ring tim Seikyuu. Semua mengikuti Naruto berlari dan mengambil posisi masing-masing.
"Naruto!" tiba-tiba Garra langsung mengoper Naruto dari tengah lapangan. Setelah Naruto mendapat bolanya dia langsung melihat Juugo di depannya.
"Kau tidak bisa melewatiku."kata Juugo kepada Naruto.
"Jangan mentang-mentang kau punya badan besar, aku tidak bisa melawanmu!"kata Naruto ambil berusaha melewati Juugo.
"Sombong sekali kau anak muda!"kata Juugo.
"Aku punya banyak cara untuk melepaskan diri dari orang sepertimu."kata Naruto yang langsung memantulkan bola ke selah-selah kaki Juugo dan langsung berlari melewati Juugo yang tampak kebingungan. Karena bolanya memantul tinggi, Naruto langsung mengambilnya dan memasukannya ke ring.
PRIIIT…
"Time's Up!" kata Wasit yang membuat lapangan indoor itu gaduh dengan suara para pendukung tim Konoha.
"Skor berakhir Seikyuu 68 – 69 Konoha! Beri hormat!"perintah wasit. Akhirnya kedua tim saling memberi hormat.
"Hebat, Takashi! Kau sudah melampaui kami!" teriak Suigetsu yang langsung menghampiri Takashi.
"Sui-senpai, Juugo-senpai…Maafkan aku…"kata Takashi yang takut jika kedua senpainya marah padanya.
"Tenang saja. Justru kami berterima kasih padamu karena kau menghargai kami dengan bermain serius."kata Juugo.
"Itu bisa kami jadikan pelajaran…"kata Suigetsu.
"Kapan-kapan Seikyuu dan Konoha latih tanding bersama yah!" teriak Suigetsu yang kembali ke tim mereka.
"Ternyata senpaimu orang yang baik. Kenapa kemarin kau bercerita seolah-olah mereka jahat?"Tanya Naruto bingung.
"Itu karena perasaan takut dan marah tiba-tiba menghampiriku. Hehehe… maafkan aku teman-teman!"kata Takashi tersenyum dengan sumringah tanpa memperdulikan teman-temannya yang sudah bête tingkat akut.
"Ayo anak-anak, kita kembali ke ruang ganti untuk beres-beres."perintah Kooga yang di ikuti oleh semuanya.
Di ruang ganti…
"Hahaha…aku senang kita menang!"kata Naruto.
"Kooga-senpai, apa kita nggak bisa merayakan bersama? Inikan kemenangan pertama!"kata Kiba.
"Hmm…boleh juga…bagaimana jika makan bersama?"saran Kooga.
"Boleh juga tuh…"kata Naruto.
"Setuju!"teriak Kiba
"Semuanya!"tiba-tiba Takeda berteriak.
"Ada apa Takeda?"Tanya Takashi.
"Maaf, aku tidak bisa ikut acara makan-makan bersama dengan kalian. Nii-san aku harus pulang ke rumah. Kau tahu kan?"kata Takeda.
"Oh, tugas sekolah ya? Terserah sih…" kata Takashi yang tidak peduli sama sekali.
"Aku duluan yah!"teriak Takeda yang segera pergi keluar.
Di rumah Takeda…
"Eh, mobil siapa itu yang terparkir di sana?"gumam Takeda yang memperhatikan sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya. Dengan curiga Takeda masuk ke dalam rumah. Setibanya di ruang tamu, Takeda tidak menemukan satu orangpun disana.
"Hmm…apa di ruang kerja?"gumam Takeda sambil berjalan menuju ruang kerja ayahnya. Setelah tiba di sana, Takeda langsung penasaran dengan tamu yang sedang berbicara dengan ayahnya.
"Kenapa mereka berbicara di ruang kerja ayah? Apa yang sedang mereka lakukan?"Tanya Takeda sambil berusaha mencuri dengar pembicaraan ayahnya dengan seseorang.
"Besok, di Konoha High School. Kau harus menembak anak yang bernama Sasuke tepat jam 9 -…."Mata Takeda seketika membulat mendengarkan pembicaraan ayahnya dengan orang asing itu.
"Ku bayar kau nanti jika misimu berhasil, Tomo-san…"
'Ti-tidak mungkin…jadi pekerjaan ayah selama ini….'teriak inner Takeda sambil berusaha kembali ke kamar secepatnya. Setibanya di kamar, dengan lesu Takeda menghempaskan tubuhnya ke kasur dengan sebuah kenyataan yang baru dia ketahui.
"Ayahku seorang pembunuh bayaran…."gumam Takeda sambil meneteskan air mata. Selama ini Ayah yang selalu dia anggap pahlawan karena menghidupkan dia dan Takashi dengan kasih sayang seorang diri tanpa istri di sampingnya, ternyata seorang penjahat di luar sana.
"Beginikah rasanya mempunyai Ayah yang bukan seorang pahlawan?"Tanya Takeda sedih. Dia sakit hati karena baru mengetahui pekerjaan ayahnya yang sangat dia benci.
"Aku adalah anak seorang penjahat."kata Takeda sambil menutup mata berusaha menenangkan dirinya.
