Naka and The Vociferous-tronic Cyber

Presents

#

A to Z

[chapter 7—Beginning of the Prolog]

Disclaimer: Semuanya milik SAYA! Muahhahahaaa…! /dilempar ke jurang

Warning: OOC abiss (kayaknya)! Mending, suer, jangan baca! Klik ikon close di pojok kanan atas monitor, pulang ke rumah, mintalah pengampunan pada Tuhan, dan jangan pernah buka fic gaje ini lagi! Ini adalah saran paling mujarab agar Anda-Anda terhindar dari penyakit kejiwaan akut~ /authormenggila/tolongabaikan/danselamatmembaca!

A/N: Muahahaaa, apdet telat! /plak/ Hiksu, maafkan saya. Sebenernya ini cerita uda kelar lama banget. Tapi waktu mau publish, eeh, jaringannya tiba-tiba error. Ck, kuso! XDD Nah. buat Sezru d'Luffer yang bilang kalo NarutoxSeiren jadi kayak YAOI, entah kenapa saya setuju banget /dilempar ke kandang kudanil/ Khekeke, virus YAOI memang semakin merajalela menggerogoti saya! Muahahahhaa~ Nah, tanpa banyak bacot, saya persilakan untuk membaca chapter gaje selanjutnya. Enjoy! /flop! (ceritanya ngilang XD)

#

#

Saikyoudai Daigaku. Bangunan besar yang tampak kokoh dan megah itu terlihat penuh oleh orang-orang yang sibuk mondar-mandir mengurusi urusannya masing-masing. Angin musim gugur yang sejuk dan nyaman di hari menjelang sore itu membuat mereka merasa agak malas untuk bekerja keras, termasuk mengerjakan tugas-tugas kuliah tambahan yang sudah pasti telah memenuhi jadwal harian mereka.

Tak terkecuali sesosok makhluk bertampang dan bermental (?) setan (?) yang juga tengah disibukkan dengan sebuah bola amefuto di tangan, dengan orang-orang di depannya yang telah membentuk formasi. Atmosfer lapangan hijau tersebut terasa panas karena semangat. Beberapa orang tampak menyempatkan diri untuk menonton latihan itu setiap sore di bench penonton, sekadar untuk bersantai dan melepas lelah dari tugas kuliah yang bejibun atau untuk mempelajari amefuto secara otodidak.

"YA-!HA-!" seru Hiruma Youichi seiring dengan dilemparkannya bola lonjong di tangan kanannya. Dengan mudah, Honjou Taka menangkap lemparan Youichi barusan dan berlari menerobos lawan-lawannya dari Takekura Construction Babels—yang terbilang, err, tidak terbilang sebenarnya, tapi memang bertubuh besar—dengan kawalan Takeru Yamato dan Kongou Agon.

Ya, memang sore ini Saikyoudai Daigaku mengadakan latihan bersama dengan klub amefuto di tempat Musashi bekerja. Hitung-hitung sekalian bernostalgia.

Youichi sesekali melirik Anezaki Mamori di bench yang tengah menggerak-gerakkan tangannya membentuk sandi-sandi yang—jelas—hanya diketahui oleh mereka berdua.

PRIITT

Beberapa detik kemudian peluit panjang dibunyikan oleh pelatih, bersamaan dengan tibanya waktu istirahat.

Para pemain segera keluar dari lapangan dan mengambil handuk serta jatah air mereka. Youichi menyambar handuk dan botol minum dari tangan Mamori dan segera membanting tubuhnya ke bench. Peluh berjatuhan di dahinya sementara mulutnya sibuk menenggak habis isi botol di tangannya. Sebuah handuk putih bersih dikalungkan di lehernya.

"Permainan bagus, Hiruma! Kau masih sama seperti dulu," ujar Musashi yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelahnya.

"Kekekee, apa maksud perkataanmu itu, orangtua sialan? Kau mengejekku ya." jawab Youichi acuh tak acuh. Musashi hanya tersenyum simpul dan menimpali, "Yah, iya, iya, aku akui juga kau sudah banyak berkembang," ucapnya menyerah.

"Itu lebih baik," timpal Youichi menyombong.

"Sayang sekali Kurita tidak disini, ya" kata Musashi pelan.

"Dia bilang hari ini ia harus membantu orangtuanya."

"Yah, aku tahu itu. Hanya saja, kadang aku merasa rindu saat-saat kita berkumpul bertiga lagi—seperti dulu,"

"Bicaramu norak," seloroh Youichi asal bunyi sembari meletuskan balon permen karet di mulutnya.

Musashi tertawa ringan, "Tapi aku senang karena kini ia jadi bisa belajar untuk mengatur timnya. Beruntung masih ada Sena dan yang lain bersamanya. Kuharap ia jadi senpai yang baik,"

"Tanpa sifat cerobohnya? Mustahil," sindir Youichi cuek.

"Hei, hei, jangan bilang kau mengkhawatirkannya" kata Musashi usil.

"Tch." Youichi hanya menyepat pelan.

Musashi mengalihkan pandangannya ke sekeliling lapangan, dan mengunci pandangannya pada sosok Mamori yang tengah berbicara dengan seorang lelaki asing yang belum pernah dilihatnya. Seorang lelaki dengan kaki jenjang dan rambut merahnya—bukan warna merah terang yang mencolok seperti milik Akaba. Di tangan lelaki itu terggenggam sebuah tas hitam yang nyaris tampak tak berisi. Sebuah headphone hitam kelam dengan bercak putih tergantung di lehernya. Musashi mengernyitkan kening dan menyipitkan matanya, mencoba untuk melihat lebih jelas siapa lelaki itu.

"Hei, kau kenal dia, Hiruma?" tanyanya akhirnya pada Youichi. Youichi menoleh dan mengikuti arah mata Musashi. Dan seketika itu juga ia menyumpah, "Cih, apa yang dilakukan bocah bodoh itu disini," sembari menenteng helmnya, Youichi menghampiri Mamori dan lelaki itu.

"Ah, Hiruma. Baru saja aku akan memanggilmu. Dia bilang ingin bertemu denganmu," terang Mamori dengan suara lembutnya seraya menunjuk lelaki asing yang baru datang tersebut. Lelaki di depannya itu memasang wajah polos tanpa dosa dan membungkukkan badan ketika Youichi sudah berada tepat di depannya.

"Mau apa kau, bocah sial?" tanya Youichi langsung dengan kasar, tanpa basa-asam.

"Hiruma! Jangan langsung berkata kasar begitu pada orang yang datang menemuimu! Dari jauh, pula," protes Mamori sembari berkacak pinggang—pemandangan yang mudah sekali kau temui ketika kau berada diantara malaikat dan setan tersebut.

"Gah, memang apa yang dia katakan padamu, manager sialan?" tanya Youichi dengan nada sinis.

"Eh? Dia bilang dia ini murid dari Hanazono Kotogakko, prefektur Kansai. Jauh, bukan? Dan katanya…" Mamori melirihkan suaranya dan mencondongkan badannya ke Youichi, "dia ini penderita xenophobia. Dia pasti sudah bekerja sangat keras hingga bisa tiba disini sendirian." Mamori mengakhiri penjelasannya dengan tatapan iba yang langsung dilayangkan pada lelaki berambut merah itu.

"Ha?" seorang penimbrung baru—Toganou Shouzou.

"Haa?" penimbrung lainnya—Kuroki Kouji.

"Haaa? Hanazono Kotogakko? Kurasa aku tidak pernah mendengarnya?" penimbrung-bukan-yang-terakhir, yang barambut pirang pucat cepak. Lelaki asing tadi memperhatikan orang yang barusan bicara. Sebuah sayatan berbentuk huruf X tertera jelas di pipi kanannya. Ia memutuskan lelaki itu pasti dulunya seorang berandal yang suka bertengkar. Jelas, itu adalah salah satu personil HaHa Brothers lainnya—Juumonji Kazuki, yang dibilang paling waras diantara personil yang lain.

Lelaki itu baru saja akan menjawab perkataan sang berandal, tetapi ia kalah cepat dengan Youichi.

"Kekekeke, kalian percaya begitu saja pada orang berwajah penipu ini? Kekeke," Youichi kumat, ia mulai mengeluarkan nada laknatnya sembari menunjuk-nunjuk lelaki asing di depannya.

"EEH? Me, memang ada apa sebenarnya?" tanya Mamori bingung.

"Tch. Tanyakan saja padanya sendiri!"

Tiba-tiba lelaki asing itu membungkukkan badannya lagi dan berucap tegas, "Gomenasai, Oneesama," katanya tulus, ia menolehkan wajahnya pada si berandal, "Sebenarnya aku juga tidak tahu dimana itu Hanazono Kotogakko. Kupikir itu malah nama Yoochien,"

JRENGG, JREENG

"Melodi yang kau mainkan telalu berbelit-belit, bocah. Senar yang kau pasang membuat kami bingung. Siapa sebenarnya kau, bocah yang berambut sama denganku?" cetus Akaba yang ternyata sedari tadi ikut mendengarkan.

"Nee, sebenarnya namaku Seiren Kiseki. Dan (sayangnya) aku adalah sepupu setan ini," aku Seiren setelah sebelumnya sempat sweatdrop karena kelakuan (sok) puitis Akaba.

Orrz, Seiren—ya tentu saja. Memang siapa lagi tokoh disini yang berambut merah selain Akaba kalau bukan OC saya? *ditendang karena tiba-tiba nimbrung – seseorang diluar sana: ganggu pemandangan, lu!*

Hebatnya, Mamori, Akaba, sepaket HaHa (?), Musashi, dan Yamato, Ikkyu, Taka, serta Agon—yang entah kapan bergabung—dengan OOCnya melongo kaget dan seketika itu juga sweatdrop. Beruntung tidak ada korban jiwa (?).

"Nee?" Seiren mengangkat sebelah alisnya.

#vociferoustronic#

Gigi yang berupa taring semua? Tidak. –Juumonji

Jiwa psikopat? Tidak. –Toganou

Penggemar kami? Rasanya tidak, tapi kuharap iya. –Kuroki

Penampilan luar yang slengean? Tidak. –Mamori

Telinga panjang dan runcing? Tidak. –Akaba

Memang dia tinggi seperti Hiruma, jarinya juga lentik, tapi musik? Dewa pasti sedang murka kalau Hiruma sampai dibuat suka musik. –Ikkyu

Tawa dan sifat aneh khas Hiruma? Tidak, ia terlihat jauh lebih tenang walaupun dari wajahnya terlihat kalau ia agak ceplas-ceplos. –Musashi

Wajah setan ala Hiruma? Tidak secara absolut, ia malah tampak… cantik? –Yamato

Senjata berbahaya yang dapat muncul sewaktu-waktu? Rasanya tidak, dia kalem saja… –Taka

Sampah? Ya. –Agon

Masing-masing orang membandingkan Youichi dengan Seiren dan secara terang-terangan meliriki mereka bergantian sembari memijiti dagu.

"Tak kusangka…" ujar mereka semua berbarengan—kecuali Agon yang langsung pergi begitu saja saat pelatih memanggilnya, kurasa itu hanya alasan agar ia segera pergi dari kerumunan sampah itu. (okay, lupakan saja dread jelek itu! /buaak)

"Kekeke, lalu apa urusanmu tiba-tiba kesini?" tanya Youichi ulang.

"Oh ya, aku hampir lupa ingin memberitahu alasanku. Sebenarnya ada tugas dari guru olahragaku untuk meliput satu jenis olahraga. Dan, disinilah aku sekarang—akan meliput Amefuto Saikyoudai Daigaku yang sangat terkenal. Karena itu, mohon bantuannya," terang Seiren seraya membungkukkan badannya sopan.

"Ah, begitu rupanya. Kalau begitu aku akan dengan senang hati membantumu," kata Mamori menawarkan diri sembari tersenyum manis. Seiren sejenak terpana oleh senyum sang manager tersebut, karena bagaimanapun dia mengakui senyumnya sangat manis dan lembut.

Seiren balas tersenyum dan mengucapkan terimakasih, "Terimakasih banyak, Mamori-neesan. Kuharap aku tidak merepotkanmu,"

"Tentu saja tidak," jawab Mamori masih dengan senyumnya. Diam-diam Seiren melirik lewat ujung matanya pada Youichi yang sudah memalingkan wajahnya dan menyepat pelan. Ia tersenyum tipis melihatnya.

"Cih, ayo mulai lagi latihannya, bocah-bocah sialan!" seru Youichi, yang langsung disusul dengan derap langkah terburu para pemain lainnya.

Seiren mengikuti langkah Mamori ke bench dan duduk disana dengan sebuah buku catatan dan pensil di tangannya—yang entah darimana munculnya. Mamori melirik Seiren serta peralatan-tulisnya-yang-entah-darimana-munculnya tersebut, dan sempat sweatdropped karena ternyata kedua sepupu tersebut masih memiliki satu judul sifat yang sama; suka mengeluarkan sesuatu yang tidak diketahui antah-berantahnya (halah)

Pertandingan latihan kembali dilanjutkan. Seiren memperhatikan dengan seksama penjelasan Mamori tentang Amefuto dan peraturan-peraturannya. Mata senjanya tak lepas dari pemandangan di lapangan sementara telinganya ia setel penuh.

"Ngomong-ngomong, Seiren-kun…" kata Mamori tiba-tiba.

"Ya?' jawab Seiren tenang.

"Kau juga menyukai American football ya?" akhirnya pertanyaan itu, batin Seiren.

"Hm, bagaimana ya. Kalau boleh jujur, aku lebih menyukai baseball," jelas Seiren, berusaha menjaga nadanya agar senior di sampingnya tidak tersinggung.

"Begitukah? Lalu kenapa tidak menulis tentang baseball saja? Bukankah akan lebih mudah mengerjakannya?"

"Yah, ini rahasia kita saja," kata Seiren sok misterius, "Sebenarnya guru olahragaku itu seorang tua yang sangat teliti. Ia tidak akan terima dua hal yang sama,"

"Dua hal yang sama?" Mamori mengerutkan keningnya.

"Begini, ini sebenarnya bukan tugas—tapi lebih condong ke hukuman. Aku melawan guru itu karena suatu hal, dan inilah akibatnya. Berhubung ini bukan yang pertama kalinya aku dihukum, jadi artikel baseball sudah kupakai pada hukuman sebelumnya. Ia pasti takkan terima kalau aku mengulangi artikel yang sama," kata Seiren jujur.

Mamori langsung sweatdropped untuk yang keberapa-berapa-berapa-kalinya mendengarkan penjelasan polos Seiren. Tapi setidaknya ia lega, Seiren tidak seperti Youichi yang takkan terima dihukum dan akhiran malah balik mengancam.

"Begitulah, makanya aku kesini. Lagipula aku juga penasaran seperti apa sebenarnya tempat You sekolah," lanjut Seiren. Mamori hanya manggut-manggut mendengar alasan Seiren.

Seiren kembali memfokuskan pandangannya ke lapangan. Diam-diam Mamori memperhatikan wajah Seiren—tepatnya matanya. Sedari tadi ia merasa janggal dengan warna mata lelaki di sampingnya ini. Kalau warna rambut, ia masih bisa berpikir logis kalau itu adalah warna cat. Tapi kalau warna mata? Bisa saja memakai kontak lens, tapi warna pada mata Seiren tidak tampak seperti palsu. Warnanya secara nyata dan tegas memperlihatkan warna senja dengan kombinasi warna indahnya.

"Kenapa? Apa ada yang aneh, Mamori-neesan?" tiba-tiba Seiren memalingkan wajahnya ke Mamori dan langsung menangkap basah seniornya yang diam-diam sedang menelitinya. Mamori jelas langsung salah tingkah dan akhirnya malah keceplosan bertanya, "Ano, apa warna rambut dan matamu asli? Ups…" spontan gadis itu langsung menutup mulutnya dan menambahkan, "A, ano, maaf, aku hanya penasaran. Tapi kalau tidak dijawab tidak apa-apa, kok. Kumohon jangan marah,"

"Memang kenapa harus marah? Mamori-neesan kan, hanya bertanya," jawab Seiren, "Sebenarnya warna rambut dan mataku ini seratus persen asli,"

"HEE?" tanpa sengaja Mamori berteriak saking herannya.

"Kumohon jangan tanya aku," potong Seiren dengan senyum terpaksanya sebelum Mamori meluncurkan sekuel teriakannya.

"Ma, maaf, aku hanya kaget. Tapi jujur, warna mata Seiren-kun unik dan indah, kok," kata Mamori cepat, takut kalau-kalau Seiren marah.

"Terimakasih. Tapi kalau melihat Mamori-neesan, kurasa Neesan lebih menyukai warna yang segar, ya? Emm, mungkin seperti hijau?" tanya Seiren usil—mencoba menjaga nada suaranya agar tampak tak berdosa. Dan seperti dugaan Seiren, wajah Mamori langsung memerah.

"A, apa maksudnya?" Mamori mencoba mengelak. Sebenarnya, dengan teganya Seiren baru akan menertawakan seniornya tersebut. Tapi handphonenya tiba-tiba berbunyi.

Seiren segera mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat nama yang tertera di layar, seakan ia sudah mengetahui siapa yang akan menelepon.

"OI, KAU DIMANA SIH? AKU SUDAH DI TAMAN, NIH!" sembur seseorang di seberang telepon dengan lantang. Terpaksa Seiren menjauhkan handphone dari telinganya dulu.

"Ah, maaf, sekarang aku sedang mencari data untuk hukuman dari Yamato-sensei—aku baru ingat tadi pagi kalau aku belum menyelesaikan hukumanku. Kalau begitu aku akan segera ke sana. Ngomong-ngomong, memang dia sudah datang?" tanya Seiren datar.

"Y, ya belum sih. Tapi aku sendirian disini tahu! Mana tegang, lagi!" kata Naruto—sang penelepon—panik.

"Kenapa tegang? Kau kan hanya minta diajari olehnya, bukannya berken…"

"JANGAN SEBUT KATA ITU! Arrgkh, dari tadi aku tegang karena membayangkan itu, tahu!"

"Kalau begitu ya, jangan dibayangkan…" (- -||||)

"Ta, tapi, aarrggh, sudahlah! CEPAT KESINI!"

Klik.

Telepon diputus secara sepihak.

"Ada apa?' tanya Mamori yang sejak tadi tanpa sengaja mendengarkan teriakan orang di seberang telepon. Ya pantas saja terdengar, teriaknya heboh begitu. Dia ngomong pake to'a kali, ya? batin Seiren sembari mengelus-ngelus telinganya.

"Ah, ano… Maaf, sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku ada janji dengan teman,"

"Janji?" tiba-tiba Youichi sudah ada di depannya. Rupanya hampir satu jam berlalu sejak Seiren datang. Seiren bisa melihat sepupunya yang basah oleh keringat. Ia membatin, bagaimana bisa para fans-nya berteriak kalau You lebih keren saat berkeringat? Bukannya malah bau?

"Ya. Janji dengan teman sekelas, aniki. Aniki tidak perlu khawatir begitu…" jawab Seiren sedikit jengkel. Sejak adanya misi Kagita dan masalah Pentagon itu, Youichi jadi terkesan memata-matainya seakan Seiren akan melakukan rencana di luar pantauannya. Dan jika itu terjadi, Youichi yakin, ia juga yang akan direpotkan.

"Kekekeke, terserah saja apa yang kau lakukan dengannya, selama itu bisa menguntungkanku," Youichi menyeringai. Nya-disini jelas dimaksudkan pada kedua misi tersebut.

"Hn, anggap saja dugaanmu benar," jawab Seiren santai sembari membereskan barang-barangnya, "Nah, Mamori-neesan. Aku permisi dulu, terimakasih banyak atas bantuannya," Seiren membungkuk dan berlalu pergi setelah Mamori menjawab dengan, "Tak perlu sungkan,"nya.

Dalam hati Seiren mengutuki kejeniusan sepupunya yang menduga bahwa ia akan menyelidiki sesuatu—dan itu memang benar.

Kagita, nama yang merepotkan…

#vociferoustronic#

Jari-jari lentik Youichi menari di atas keyboard Sony Vaionya dengan lincah. Matanya yang tajam tak lepas dari layar sedetikpun, memandangi kata demi kata yang tertera pada artikel di layarnya sembari meniupkan balon dari dalam mulutnya. Keningnya berkerut kesal ketika sesuatu yang dicarinya tak juga ditemukan. Tetapi beberapa detik kemudian, rasa kesalnya digantikan dengan sebuah seringaian puas. Dengan segera ia meng-klik link yang telah ia cari-cari.

Sebuah Berita Besar! Pembobolan Pentagon!

Tepat pada tanggal xxxx/xx/xx, pusat pertahanan Amerika, Pentagon, diketahui telah dibobol oleh sekelompok orang yang dapat menutupi jejak akibat ulah mereka dengan sangat rapi. Sudah jelas para polisi dan perangkat kemiliteran Amerika digerakkan untuk menangkap tersangka. Segala teknisi segera digunakan untuk melacak siapa yang telah lancang mengintip data Pentagon dan mencurinya. Tapi sayangnya, 'pencuri' tersebut berhasil kabur tanpa meninggalkan sebongkah jejakpun—kecuali seorang staf Pentagon, Zay Harthworse, yang sekarang tengah ditahan dengan tuduhan sebagai salah satu komplotan 'pencuri' tersebut. Sedangkan tersangka lainnya masih dalam perburuan.

"Tch." Youichi menyumpah pelan dengan artikel menjengkelkan yang—baginya—tak bermutu itu. Dan ia kembali mengarahkan kursornya ke bawah. Sebuah berita lama lain yang dapat membuatnya menyeringai, muncul dengan murah hatinya.

Zay Harthworse, Tersangka Tak Disangka yang Setia.

Malam ini, pukul xx:xx, Zay Harthworse ditemukan dalam keadaan berlumuran darah dan tanpa nyawa di dalam selnya—tepat malam sebelum hari dimana ia akan dipaksa berkata jujur. Dengan begitupun polisi menyimpulkan bahwa Zay Harthworse telah berteman lama dan menjalin kerja sama dengan para 'pencuri' itu untuk sebuah rencana yang amat teratur tentang pembobolan Pentagon. Dan dengan kematian Zay tersebut, pemerintah harus bekerja lebih keras mengingat tak ada suatu tanda-tanda siapa sebenarnya 'pencuri' itu dan apa yang mereka curi. "Ini pasti akan sangat sulit, tak kusangka pencuri itu benar-benar professional. Tapi kuharap kami dapat menyelesaikan ini sesegera mungkin, kurasa." ujar Kepala Polisi Amerika, Marco, yang secara khusus bersedia kami wawancarai. Tetapi, tak ada sepatah katapun lagi yang keluar dari mulut para polisi maupun orang pemerintah manapun setelah itu—dan hal ini menegaskan bahwa ini adalah sebuah kasus tertutup.

Setiap orang mengarang-ngarang sendiri tentang akhir kasus ini, sehingga tersebar banyak sekali versi cerita yang belum sepenuhnya benar. Kami menemukan sebuah pendapat dari salah satu blog seorang mahasiswa dari Los Angeles. Di blog tersebut, sang mahasiswa menulis pendapatnya tentang pembobolan itu. Ia membeberkan seluruh analisanya; 'Kematian Zay Hawthorne memang membuat banyak versi cerita bertebaran. Tapi menurut saya, hanya ada dua kemungkinan—yaitu bahwa Zay benar-benar komplotan dari sang pencuri atau dia hanya depresi karena ditodong oleh tuduhan yang jelas bukan sembarang tuduhan. Dan saya rasa, kemungkinan yang pertamalah yang terjadi—dasar alasan saya adalah ketika para staf Pentagon lain berkata bahwa walaupun nama Zay sangat terkenal di kalangan politisi, ia belum pernah sekalipun terlibat oleh seorang politisi manapun. Memang ini bukanlah alasan yang cukup kuat, tapi menurut saya Zay hanyalah sedang berusaha untuk tidak lebih memperluas lingkup komunikasinya demi menyembunyikan identitasnya. Bagaimanapun, para 'pencuri' itu membutuhkan seorang orang dalam yang bisa mereka manfaatkan, dan dalam misi sebesar dan sesulit ini, jelas akan lebih mudah bila tidak sekedar memanfaatkan, tapi juga mengenal dan bersahabat. Bisa saja Zay adalah teman baik salah satu 'pencuri' tersebut yang sengaja menyamar masuk ke Pentagon. Ditambah lagi karakter latar belakang kehidupan Zay yang nyata dan kuat, yang dapat lolos dari penyaringan manapun.

Saya hanya bisa berkata bahwa saya sangat menyesali kelalaian Pentagon tersebut'

Untuk yang terakhir, Youichi menyumpahi artikel yang baru dibacanya—karena setelah artikel itu, tak ada lagi artikel lain yang bersangkutan dengan hal yang dicarinya. Bahkan semua situs pun tidak mempublikasikan berita tersebut secara lengkap dan terperinci—oh, toh tak sampai sepuluh situs yang memuat kasus tertutup itu.

Youichi menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas, kemudian bangkit dari tempatnya duduk. Ruangan club sudah sepi, kini hanya ada dia dan Mamori yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya.

"Heh, manager sialan! Kerjakan tugasmu dengan baik dan jangan pulang sebelum selesai. Aku ada urusan," pamit Youichi.

"Eh, masa aku sendiri di sini?" protes Mamori sedikit bergidik.

"Jangan manja, dasar cream puff maniak penakut! Urusanku ini penting!" sahut Youichi dengan nada mengejek.

"A, aku tidak takut!" kilah Mamori dengan gugup.

"Kekeke, kalau begitu kerjakan tugasmu dengan baik!" Youichi menyeringai usil sembari melangkahkan kaki keluar ruangan.

Kegelapan malam yang mulai mengambang segera saja menelannya. Udara dingin malam itu berhembus begitu lembut dan cukup kejam, hingga rasanya mereka seperti sedang mengulitimu secara diam-diam. Youichi mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan langsung menelepon seseorang—hebatnya, ia tak tampak mencari nomor di phone list maupun mengetikkan nomor sebelumnya, mungkinkah telekinetis termasuk kemampuan setan? /duaak

"Heh, kacamata sialan, temui aku di tempat biasanya. Lima belas menit lagi aku sampai, dan lima belas menit juga kau harus sudah berada disana kalau tidak mau orang-orang menggosipkan tentangmu," ancam Youichi serius, dengan seringaian liciknya.

KLIK.

Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya—yang bahkan belum dipastikan masih hidup atau tidak /plak—Youichi memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

Tapi sebenarnya, tak perlu ditanya juga. Memangnya siapa yang nyawanya tidak langsung kembali ke tubuhnya—walaupun secara paksa sekalipun—saat mendengar ancaman seorang Youichi Hiruma yang jelas nyata, berbahaya, dan patut diacungin jempol /praang

Tepat lima belas menit kemudian, Youichi sampai di tempat yang dijanjikannya pada seseorang di telepon tadi. Biar kujelaskan tentang 'tempat' itu.

'Tempat' itu berupa sebuah jalan setapak gelap yang jarang dilewati orang di belakang sebuah Yoochien. Sementara dari jalan setapak tersebut, dapat terlihat langsung sebuah bukit tinggi yang cukup subur berwarna hitam kelam dengan latar belakang langit biru tua bila dilihat saat itu. Terdapat sebuah lampu jalan—tidak, tapi satu-satunya lampu di jalan setapak itu yang menampakkan cahaya tua yang remang-remang.

Youichi menyeringai puas ketika menemukan seseorang yang ditunggunya telah datang sesuai jan—baiklah, baiklah—sesuai ancamannya. Orang itu tengah berdiri tepat di depan lampu, sehingga bayangannya tampak panjang, walaupun hanya berupa siluet hitam tipis yang tertelan kegelapan malam.

"Kekeke, padahal aku berharap kau terlambat datang," ujar Youichi dengan nada sarkastis. Orang tersebut membalikkan badannya ke arah Youichi, sehingga dengan bantuan cahaya remang itu, tampak seorang lelaki berambut panjang hitam kelam dengan sebuah kacamata bertengger di hidungnya. Pakaiannya—yang entah bagaimana—berupa setelan jas hitam yang tertata rapi, lengkap dengan dasi merahnya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, sementara wajahnya menunjukkan wajah lelah.

"Huh, kau benar-benar merepotkan," keluhnya sebal.

#saishuu#

A/N: Wuhuu, kayaknya nih chapter panjangan ya, nyuu? Kufufu… Baguslah. Sebenernya ada beberapa hal aneh di chapter ini. Salah satunya adalah urutan pengucapan oleh "HaHa Bros" –yea, harusnya Kazu(ki Juumonji) yang bilang "Ha" pertama, tapi disini malah yang terakhir. Sebenernya sih, alesannya simple (halah). Karena…

?: Alaah, ngomong aja kesengsem berat ama tuh chara. Gitu aja ribet ngomongnya!

Naka: Eh? Seippon! I, iya, ketauan yah? Hehe, yah memang itulah saya. Cuma liat fotonya aja aku udah… akhh… *nosebleed* *nyumbet hidung pake tisu* Kyahhaahaa, hof huu Hihahaki-hensei, Hmuhata-hensei! X3 (baca: Love youu Inagaki-sensei, Murata-sensei!)

Seiren: *sweatdrop – then, this is his face; _ _llll* Baiklah, daripada yang ngomong si kuso author gaje itu, mending saya wakilin deh. Takutnya readers-sama pada kapok ngebaca nih fanfic (yang tak kalah gajenya /taboked) Nee, review, onegai yo! Kecepatan apdet tergantung review minna-sama, karena itu ayoo reviiuuu~! Anonymous diperbolehkan, but NO FLAME! *nawar* Arigachuu~

Naka: *crroott – nosebleed again*

Seiren: Aarggkh! Darahmu muncrat ke aku neeh! Dodol banget, sini kubantuin! *nyumpel hidung author pake sikat gigi (harap jangan ditiru, dimanapun ibu anda (?) berada)*

Naka: Uaarrggh, He, Heihhoonn! Haiya kahak biha nahaas nneee! Haakiitt hulaa! (baca: Se, Seippoonn! Saya kagak bisa napaas nneee! Saakiitt pulaa!)

-a happyending story, right?-