The Dark Girl

Chapter 6

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rating: T

Pairing: Sasusaku


Sedikit saran, sebaiknya kalian jangan terlalu terpaku pada genre, karena pada setiap chapter mungkin akan berbeda-beda genre nya.

Semoga kalian menyukai fic ini..


Pagi itu, beberapa polisi datang ke danau itu atas perintah gadis berambut coklat yang dikuncir empat. Tubuh gadis kecil yang dikorbankan itu ditemukan dengan kondisi sudah menjadi kerangka. Selain tubuh gadis kecil itu, ditemukan juga beberapa kerangka lainnya yang lebih besar. Akhirnya tubuh-tubuh itupun dimakamka secara benar di pemakaman umum.

Beberapa wajah teman-teman gadis bermata turquoise itu menjadi pucat, bahkan gadis bermata lavender yang merupakan teman dekatnya hampir pingsan. Gadis bernama Temari ini dapat melihat kerangka-kerangka itu dengan tenang, mungkin karena ia sudah terbiasa melihat hal seperti ini. Namun, tak hanya gadis itu yang terlihat tenang, seorang gadis dengan penampilan dan perawakan yang berbeda dari gadis-gadis lainnya juga melihat kerangka itu dengan ekspresi yang datar, seakan ia tak melihat apa-apa.

"Baiklah, arigato gozai masu , Temari-san." Bungkuk inspektur kepolisian.

"Iya, sama-sama." Ujar Temari.

"Loh, Temari, kok orang itu bisa tahu namamu?" tanya seorang pemuda berambut kuning.

"Aku sudah bilang padamu, kan, kalau dulu aku suka membantu kepolisian di kota ini." Jawab Temari dingin.

"Ta-tapi, Te-temari hebat, ya. Bi-bisa tahan melihat kerangka seperti itu." Puji Hinata dengan wajah yang masih pucat.

"Ah, tidak juga." Temari menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya tersipu, "Lagi pula bukankah ada satu orang lagi yang tahan melihat kerangka-kerangka itu."

Temari menunjuk orang yang ia maksud dengan bola matanya dan menghampirinya.

Ia menepuk pundak gadis berambut merah muda itu, gadis itu berbalik dan menatap Temari yang lebih tinggi darinya, "Terima kasih karena sudah menolongku." Ucap Temari seraya tersenyum manis.

Gadis itu sepintas terlihat terkejut lalu ia mengangguk dan berjalan meninggalkan mereka.

Tak banyak yang menyadari ekspresi gadis itu selain Temari yang berada di dekatnya dan Sasuke yang sedari tadi memperhatikan gadis itu, serta seorang pemuda berambut merah yang bersembunya di balik pohon.


Perjalanan hari itu kembali dilanjutkan walaupun terjadi sedikit kekacaun pada pagi harinya.

Murid-murid Konoha Private School masuk ke dalam bus masing-masing dan melanjutkan perjalanan mereka.

Mereka sampai di sebuah tempat dimana terdapat bangunan-bangunan kuno dan patung-patung berbentuk singa yang cukup besar. Di tempat ini, murid-murid di beri kebebasan untuk berjalan-jalan sendiri. Tanpa perintah dari guru mereka, mereka sudah berpencar menuju tempat yang berbeda-beda bersama dengan teman-temannya. Namun, ada seorang gadis bermata emerald yang berjalan sendirian menuju arah dimana tak ada seorangpun yang kesana, seseorang dengan mata onyx menangkap sosok itu.

"Teman-teman, kalian berjalan saja ketempat yang kalian suka. Aku mau melihat kesana dulu." Ujar pemuda itu sebelum berlari ke arah yang ia tunjuk.

"Hey!" panggil Naruto, tetapi Sasuke yang sudah berlari jauh darinya tak mendengar suaranya, "Ada apa, sih dengannya?".


Sasuke POV's

Aku berjalan mengikuti langkah gadis yang berada tak jauh di depanku.

Tempat yang terkesan kuno ini terlihat cocok dengan gadis berpenampilan gothic itu.

Aku berjalan di sebuah gang kecil dengan bangunan yang terbuat dari batu bata di sebelah kiri dan kananku.

Gadis di depanku berjalan dengan yakin seakan mengenal baik tempat ini. Setiap tikungan ia lewati tanpa ragu. Tempat ini bagaikan labirin, jika aku kehilangan dia, mungkin aku tak akan bisa kembali lagi.

Aku terus mengikutinya dari belakang. Akhirnya aku keluar dari gang kecil itu, tempat kuberdiri saat ini sepertinya adalah pusat dari kota tua ini. Tempat ini dikelilingi oleh gedung-gedung tua yang masih kokoh berdiri, terdapat patung besar di tengah-tengah bangunan ini. Patung itu berbentuk laki-laki bersayap dengan pedang di tangan kanan dan perisai di tangan kiri, seperti malaikat, di dekat patung itu juga terdapat patung singa bersayap yang terkesan angkuh dari gayanya. Selain itu, tempat ini begitu sepi, tak ada seorangpun disini selain kami berdua.

"Apa yang akan ia lakukan disini?" batinku.

Tiba-tiba pandanganku menjadi kabur akibat kabut yang datang entah dari mana. Saat kabut itu menghilang pemandangan dihadapanku berubah.

Tempat yang semula sepi itu berubah menjadi ramai, banyak orang berlalu lalang disana dengan memakai pakaian Inggris, seakan tempat ini kembali ke tahun 1950-an.. Banyak orang berjualan, banyak anak-anak kecil yang bermain, ada juga ibu-ibu yang berbelanja.

"Dimana ini?" pikirku.

Aku berlari dari keramaian itu, mencari ruang yang lebih bebas untuk melihat. Aku sampai disebuah tempat yang tak terlalu ramai, aku menarik nafas dalam-dalam agar aku dapat berpikir jernih.

"Kenapa tiba-tiba aku bisa berada di sini?" tanyaku pada diriku sendiri.

"Sasuke."

Aku mendengar seseorang memanggilku dengan lembut, suara yang tak asing lagi bagiku.

Aku melihat sumber suara itu dan menemukan 2 sosok pria dan wanita. Keduanya berambut raven dan bermata onyx seperti diriku, aku berlari kearah 2 sosok itu berada.

Aku tak peduli bagaimana mereka bisa berada disini sekarang, satu-satunya pikiranku saat ini adalah aku ingin menghampiri mereka. Semakin aku berlari, kedua sosok itu semakin menjauh, tapi aku tak menyerah, aku menambah kecepatan lariku. Nafasku mulai memburu, aku mulai kehabisan tenaga untuk berlari, tapi aku tetap memaksakan kakiku untuk bergerak. Aku merasa semakin dekat dengan kedua sosok itu.

Akhirnya sosok dihadapanku itu berhenti, akupun berhenti berlari. Dengan gontai aku berjalan mendekati mereka. Kami semakin dekat, aku mengulurkan tanganku, berusaha untuk menyentuh mereka.

"Kaa-san, Tou-san.." paggilku lirih.

Tanganku hampir menggapai mereka... hanya tinggal beberapa langkah lagi..

Greeeppp!

Aku merasa seseorang mencengkram tanganku,

"Sakura?".

Tiba-tiba pandanganku menjadi kabur, pemandangan dihadapanku kembali berubah.

Aku berbalik kearah dimana kaa-san dan tou-sanku tadi berada, tetapi mereka telah menghilang, dan yang ada dihadapanku sekarang adalah jurang.

Aku berada tepat dimulut jurang itu, jika saja Sakura tak menghentikanku, mungkin...

Aku bergidik ngeri, aku tak ingin melanjutkan pikiranku tadi.

"Ini dimana?" tanyaku akhirnya saat kami sudah menjauh dari mulut jurang itu.

"Daerah terlarang dari kota tua itu." Ucapnya datar seperti biasa.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku.

"ilusi." Jawabnya singkat, dan itu sama sekali tak menjelaskan apapun.

"Maksudmu?" tanyaku kembali meminta penjelasan.

"Yang kau lihat hanyalah ilusi." Ujarnya kembali seraya berjalan membelakangiku.

Aku berusaha menyamai langkahnya yang cukup cepat.

"Jadi, dari mana datangnya ilusi itu?" aku merasa bodoh bertanya kepadanya terus-menerus, tapi aku merasa ia memiliki semua jawaban dari semua hal ini.

"Kabut." Jawabnya, "Kabut itu membawa ilusi kepada orang-orang yang berhati lemah. Karena hatimu yang lemah itulah, kamu berilusi melihat dua orang yang kau sayangi itu.".

Akhirnya pertanyaankupun terjawab, "Apa kau tak terkena ilusi?" tanyaku tanpa berpikir.

Gadis itu berhenti melangkahkan kakinya sejenak, matanya menerawang gedung tua yang berjarak beberapa meter dari kami,

"Entahlah."

ia berkata lirih, hampir tak terdengar. Ia kembali berjalan dengan aku mengikutinya dari belakang.


Kami kembali memasuki kota tua itu, kami melewati jalan yang berliku-liku.

Tiba-tiba sosok yang pernah kulihat sebelumnya, kembali berada dihadapanku.

Ia berdiri dihadapan kami seraya bersandar pada tembok disebelahnya, ia melipat kedua tangannya didepan dadanya dan wajahnya memandang kami.

"Wah, wah, kau baik sekali nona, menolong temanmu seperti itu."

Orang berambut merah itu mendekati Sakura, tangannya menggenggam rambut Sakura yang panjang. Ia membungkukkan sedikit kepalanya dan mencium rambut merah muda itu, seakan memberi salam. Aku tersentak kaget melihat tindakkan pemuda itu. Namun, gadis itu tak bereaksi sedikitpun dan kembali berjalan. Pemuda itu tetap diam ditempatnya berdiri tanpa bergerak dari posisinya tadi.

Aku segera menyusul Sakura seraya memandang pemuda itu sekilas, dapat kulihat sekilas bahwa pemuda itu menyeringai.

Kami kembali berjalan menelusuri kota ini, aku ingin bertanya tentang pemuda yang kulihat tadi, tetapi aku mengurungkan niatku.


Kami berjalan hingga akhirnya kami bertemu dengan rombongan kami.

Naruto dan yang lainnya sepertinya sudah bersenang-senang, semua itu terlukis diwajah mereka.

Namun, yang sepertinya benar-benar menikmati perjalanan ini adalah Sai, ia pasti telah mengumpulkan banyak foto untuk ia lukis.

"Hey! Sasuke!" panggil pemuda bermbut kuning dengan semangat.

Aku menghampiri mereka.


Kami kembali ke hotel tempat kami menginap. Matahari hampir terbenam, aku memutuskan untuk berjalan-jalan menghirup udara sore ini.

Aku memasuki hutan kecil yang tak jauh dari hotel tempat kami menginap.

Di musim dingin seperti ini, keindahan hutan ini jadi tak terlihat.

Aku melihat jejak sepatu di atas salju putih ini, tanpa sadar aku mengikuti jejak sepatu itu hingga mendengar suara seseorang yang sedang berbicara.

Awalnya aku bermaksud untuk tidak mendengarkan pembicaraan mereka, tetapi saat aku melihat kedua orang itu, aku berubah pikiran.

Aku bersembunyi dibalik pohon yang tak jauh dari mereka. Kedua orang itu adalah pemuda berambut merah yang berada di kota tua tadi dan Sakura.

"Jadi, kau memang mendapatkannya dari dia, kan?" Tanya pemuda itu, tetapi Sakura tak menjawabnya.

"Hei, jawablah! Jangan kira aku percaya jika kau mengatakan bahwa kau tak mengenalku." Pemuda itu tetap terlihat tenang menghadapi Sakura yang seperti itu.

"Apa? Apa Sakura mengenalnya?" tanyaku dalam hati.

"Sampai kapan kau akan bersembunyi disana?" tiba-tiba saja suara Sakura yang lirih terdengar oleh telingaku.

Gadis itu dan pemuda bermbut merah melihat ke arah pohon dimana aku bersembunyi, dengan terpaksa aku keluar dari persembunyianku dan menghampiri mereka.

"Jadi kau ini benar-benar ingin tahu tentang gadis ini, ya?" tanya pemuda itu dengan nada melecehkan.

Aku tak menggubrisnya, "Siapa kau itu sebenarnya?".

"Oh, iya, aku belum perkenalkan diri padamu, ya. Namaku Sasori." Ia memperkenalkan dirinya, "Akulah yang seharusnya memiliki kekuatan itu, bukan nona Sakura ini.". Ia menyeringai.

Aku mengerutkan keningku tanda tak mengerti dengan apa yang ia bicarakan.

"Maksudmu?" tanyaku dingin.

"Mmm.." Pemuda bernama Sasori itu tampak berpikir sejenak, "Baiklah akan kuceritakan asal Sakura tak keberatan."

"Tidak." Jawab gadis itu singkat dan datar.


Flashback..

10 tahun yang lalu..

Hari yang cerah untuk berjalan-jalan. Banyak bunga sakura bermekaran. Bahkan di sepanjang jalan terdapat pohon sakura. Suhu udara yang hangat membuat suasana musim semi semakin terasa. Burung-burung kecil berterbangan seraya berkicau menyambut tibanya hari ini. Bunga sakura yang berwarna merah muda melambangkan keceriaan, seperti senyum yang terlukis pada anak-anak kecil yang berlarian. Taman yang luas ini dihiasi dengan berbagai tumbuhan hijau dan pohon Sakura.

Taman itu berbentuk lingkaran sebagai pusat taman dengan pohon Sakura yang mengitarinya. Pusat taman itu memiliki 4 cabang yang akan membawa kita ke bagian lain dari taman itu. Bangku-bangku berwarna putih mengitari air mancur yang berada di pusat taman itu. Tempat yang sangat tepat untuk menikmati pemandangan musim semi, seperti yang dilakukan oleh anak laki-laki berambut merah itu.

Nenek yang berdiri disebelah anak laki-laki itu mengandeng tangan kecil milik cucu kesayangannya itu. Mereka menghabiskan waktu dengan mengitari taman, hari sudah hampir gelap saat mereka kembali ke pusat taman itu berada.

Sang nenek menatap cucunya lembut, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada seorang gadis kecil yang sedang berdiri sendirian menatap pohon Sakura.

Seingat nenek itu, gadis itu sudah berada disana sejak ia dan cucunya baru tiba ke taman ini. Dan posisi gadi itu tak berubah, ia memandang pohon sakura itu dengan tatapan kosong.

"Hai." Sapanya pada gadis kecil itu, gadis itu hanya melihatnya sebentar dan kembali menata pohon Sakura itu.

Nenek itu terlihat terkejut lalu tersenyum lembut, "Namamu Sakura, ya?" tanyanya kembali.

Gadis itu tampak terkejut, "Dari mana kau tahu?".

"Bukankah di dunia ini terdapat sesuatu yang tak bisa kita ketahui dengan akal sehat."

Nenek itu membungkuk dan mengusap lembut kepala gadis kecil itu, "oh, iya, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Chiyo. Panggil saja Chiyo-obaachan. Dan ini cucuku, ia lebih tua darimu, namanya Sasori."

Sasori POV's

Aku memandang gadis itu, aku akui ia gadis yang manis. Rambut merah mudanya yang panjang melambai-lambai disapu angin. Nama Sakura sangat cocok dengan wajahnya yang manis, tapi tidak dengan penampilannya yang gelap.

Gadis kecil yang sepertinya berumur 6 tahun itu mengenakan bando berwarna hitam dengan pita berwarna putih, ia mengenakan gaun hitam panjang selutut dengan bagian tangan yang sedikit mengembang. Di bagian bawah gaun itu terdapat renda-renda berwarna putih. Ia mengenakan kaos kaki berenda berwarna putih dan sepatu berwarna hitam.

"Selera yang aneh." Pikirku.

Gadis itu tetap saja memandang pohon Sakura itu. Aku dan obaa-chan mencoba mencari tahu apa yang gadis itu lihat, tetapi tak ada yang aneh dengan pohon ini, sama seperti pohon yang lainnya.

Aku perhatikan obaa-chanku, mungkin ia menemui sesuatu. Raut wajah obaa-chan yang semula lembut sedikit berubah, ia seperti terkejut karena sesuatu. Aku mencoba melihatnya kembali, tapi aku tetap tak menemukan apapun.


Keesokan harinya, Obaa-chan mengajakku ke taman itu lagi.

Di sana kami bertemu kembali dengan gadis itu, penampilannya tak jauh berbeda dari kemarin, dan ia tetap saja memandang pohon Sakura itu.

"Obaa-chan, apa sih yang ia lihat itu?" tanyaku pada obaa-chan.

"Mmm..entahlah." Jawab obaa-chan seraya tersenyum, senyuman yang berbeda dari biasanya.

Selama berada di taman itu, obaa-chan selalu menemani gadis kecil bernama Sakura itu, sedangkan aku bermain bersama teman-temanku. Sesekali aku melirik Obaa-chan dan Sakura, dapat kulihat mereka membicarakan sesuatu meskipun yang terlihat lebih mendominasi pembicaraan adalah Obaa-chan.

Aku mengerutkan keningku, "Apa sih yang obaa-chan pikirkan?" gumanku.

"Sasori-nii! Ayo lempar bolanya!" teriak seorang anak laki-laki berambut merah seperti dirinya.

"Iya."


Selama beberapa hari ini, aku dan Obaa-chan selalu datang ke tempat ini.

Obaa-cha selalu bersama dengan gadis itu, entah apa yang mereka bicarakan.

Seminggu setelah pertemuan pertama kami dengan gadis berambut merah muda dan bermata emerald itu, obaa-chan meninggal.

Sehari sebelum kepergiannya, ia tetap ramah seperti biasanya, ia tertawa dan bermain bersamaku. Ia juga pergi ke taman dan kembali menemui gadis itu, tak ada yang berbeda darinya.

Hanya saja, saat malam tiba, seakan ia sudah mengetahui bahwa hidupnya tak lama lagi, ia masuk kekamarku dan merangkulku.

"Sasori, apa kau tahu bahwa di dunia ini terdapat orang-orang yang memiliki kekuatan yang diluar akal sehat manusia?" tanyanya mengawali ceritanya.

Aku menggeleng.

"Dan aku adalah salah satunya." Mata Obaa-chan menerewang.

"Aku memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu yang tak dapat dilihat oleh orang lain. Tak banyak orang yang memiliki kekuatan seperti ini."

"Kenapa Obaa-chan baru memberi tahuku sekarang?"

"Karena ini mungkin terakhir kalinya aku melihatmu.".

Aku tak mengerti dengan apa yang obaa-chan katakan.

"Obaa-chan. Apa kemampuan obaa-chan dapat di berikan pada orang lain?" tanyaku dengan ragu.

Obaa-chan terlihat terkejut, tetapi sedetik kemudian ia tersenyum lembut.

"Iya."

Tiba-tiba keesokan harinya obaa-chan tertabrak oleh sebuah truck dan tewas seketika.

Aku tak dapat lagi membendung air mataku, air mataku mengalir deras di kedua pipiku, samar-samar dapat kulihat gadis berambut merah muda yang selama seminggu ini terus bersama dengan obaa-chan berdiri di kerumunan orang-orang.

Namun, aku terlalu terkejut untuk mempedulikan dia. Keesokan harinya, aku kembali bertemu dengan gadis itu, ia tetap memandangan pohon Sakura itu. Tanpa basa-basi aku bertanya padanya, "Apa yang sebenarnya kau lihat itu?"

"Chiyo-obaachan yang tersenyum lembut bersama seorang anak laki-laki kecil yang mendorongnya saat truk itu lewat." Jawabnya dengan wajah datar.

"A..a..apa maksudmu? Apa nenekku dibunuh seseorang?"

"Entahlah, yang kutahu roh anak kecil itu mendorong Chiyo-obaachan. Namun, sepertinya Chiyo-obaachan sudah mengetahui hal ini akan terjadi dan menerimanya dengan lapang."

Gadis itu beranjak meninggalkan aku yang masih terbujur kaku mendengarkan penjelasannya.

"Apa gadis itu dapat melihat roh?" batinku heran.

Tiba-tiba kepalaku kembali mengingat kejadian malam itu

"Aku memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu yang tak dapat dilihat oleh orang lain. Tak banyak orang yang memiliki kekuatan seperti ini."

"..."

"Obaa-chan. Apa kemampuan obaa-chan dapat di berikan pada orang lain?"

"Iya."

Katak-kata itu terus terngiang di kepalaku.

End Sasori POV

End Flasback..


Aku terkejut mendengar cerita dari Sasori, tak kusangka hal seperti itu bisa terjadi.

"Bukankah sudah jelas. Bahwa seharusnya dia tak memiliki kekuatan itu." Ujar Sasori seraya menunjuk batang hidung Sakura.

Aku tak tahu harus berkata apa.

Namun, aku merasa ada sesuatu yang aneh, ada sesuatu yang janggal dari cerita pemuda itu, tapi apa? Aku mencoba mengingat cerita pemuda tadi, "Hei, tunggu... aku ingat sekarang.." batinku.

"Tunggu seben-"

"BAKA!" teriak seseorang menyela perkataanku.

Aku memandang sumber suara itu.

"TEMARI?" tanyaku semakin heran.

Pemuda itu cemberut.

"Dasa bodoh. Apa kau pikir nenekmu itu memberikan kekuatannya pada Sakura?" teriak gadis bermata turquoise yang baru tiba itu di depan wajah Sasori.

"Memang sudah jelas begitu, kan." Teriak Sasori tak mau kalah, tiba-tiba saja ketenangannya yang ia pertahankan sejak tadi menghilang.

"Itu tak mungkin, BAKA! Kekuatan seperti itu tak mungkin dapat di berikan pada orang lain." Bentak Temari.

"Tapi, obaa-chan sendiri yang mengatakan kalau itu bisa."

"Ha? Apa kau itu benar-benar bodoh? Aku rasa waktu itu, ia berkata begitu padamu agar kau menemui gadis itu. Karena kalau kau tak mendapat kekuatan itu, kau pasti berpikir kalau orang itu adalah gadis yang bersama-sama dengan nenekmu di taman. Maka jika kau datang padanya dan mendengar ucapanya bahwa nenekmu baik-baik saja, kau akan mempercayainya. Bukankah seharusnya kau yang paling menyadari hal itu." Jelas Temari panjang lebar.

Sasori tampak telah kehabisan kata-katanya.

"Te..Temari, kenapa kau bisa tahu hal itu? Apa kau kenal dengannya? Sejak kapan kau disini?" Aku melontarkan semua pertanyaan dibenakku.

"Hmm.. Bukankah aku sudah bilang, aku itu cenayang. Aku bisa melihat masa lalu seseorang hanya dengan menyentuh barang orang tersebut, dan aku pernah menyentuh barang Sakura karena secara kebetulan aku sekamar dengannya. Karenanya aku dapat mengetahui hal itu. Lalu-"

"Jadi, apa maksudmu, itu adalah kekuatan ia sendiri?" sela Sasori.

"Iya, dia telah memiliki kekuatan itu bahkan sebelum ia bertemu denganmu dan nenekmu." gumanku.

Sasori dan Temari menatapku heran, sedangkan gadis itu tak merubah raut wajahnya.

"Menurut ceritamu itu, bukankah saat pertama kali kau melihatnya, ia mengenakan pakaian hitam. Aku pernah mendengar dari bibinya kalau ia selalu mengenakan pakaian hitam sejak insiden yang terjadi pada orang tuanya, dan ia telah memiliki kemampuan seperti itu sejak sebelum insiden itu. Bukankah dengan itu jelas kalau saat kau bertemu dengannya ia sudah memiliki kemampuannya itu." Jelasku.

Aku melirik gadis bermata emerald itu, wajahnya tetap datar seperti biasa. Namun, dari sorot matanya aku merasa seakan ia menganggapku telah melakukan suatu kejahatan.

"Oh ayolah, aku hanya ingin lebih mengenalmu saja, apa itu salah?" batinku, walaupun aku tahu bahwa tatapannya itu mungkin hanya perasaanku saja.

Pemuda berambut merah itu menunduk, menyesali perbuatan bodohnya.

Temari menghela nafas, "Inilah akibatnya kalau kau bertindak tanpa berpikir dahulu." Ujarnya bijak.

Aku mangangguk setuju dengan ucapannya, tetapi pertanyaanku masih belum terjawab, "Apa kau mengenalnya, Temari?"

"Tentu saja, ia itu sepupuku." Jawabnya singkat.

Ha? Aku terkejut mendengarnya, tak kusangka bahwa ia adalah sepupu Temari.

Hari ini terlalu banyak kejadian aneh yang menimpahku.

Apa lagi yang akan terjadi besok?

-TBC-


Bagi yang bertanya cenayang itu apa..

Cenayang itu adalah orang yang biasanya dapat melihat masa depan, seperti meramal..

Biasanya mereka harus bertemu langsung dengan orang tersebut atau melalui benda orang tersebut..

Namun, ada juga cenayang yang dapat melihat masa lalu..

Cenayang biasanya disebut juga peramal..

(Maaf, kalau mungkin ada yang salah dari penjelasan ini.. ini semua cuma hal yang aku tahu ^^)


Baiklah, terima kasih untuk yang sudah baca fic ini..

Tolong di review lagi ya?

Maaf kalau masih ada banya kesalahan n update nya kelamaan..

gtw kenapa, akhir-akhir ini aku mulai kehabisan ide n males ngetik..

gomen..

Tapi setidaknya udh lbh panjang dari biasanya kan? walau g sepanjang yang chapter sebelumnya.. ^^

dari pada itu...

Semoga kalian suka cerita ini..

Tolong kasih saran juga, y?

Thx.. ^^


Untuk review yang g bisa aku bales lewat message:

Aku mengucapkan terima kasih banyak atas semua review kalian,

dan tetap baca n nge-review, y? ^^

thx..