My Wishes
Ooc, Gs, Typo, tidak sesuai EYD dll.
Main Cast : Luhan, Sehun, JongIn and Kyungsoo
Rated : T
Chapter : 7/21?
Luhan dan Sehun sudah berada di kedai ice cream, Luhan dengan semangatnya menyantap ice cream pesanannya sendiri. Untung saja kedai ice cream saat itu sedang sepi jadi orang – orang tidak akan menganggap aneh Luhan yang sekarang tengah belepotan dengan ice cream yang dia makan.
"Sehun… aku sudah selesai makannya." Ucap Luhan sambil mendongak menatap Sehun yang sedari tadi melamun.
"Ne?" Tanya Sehun yang baru saja sadar dari lamunanya.
"Aku sudah selesai, kita pulang." Ucap Luhan.
"Kanjja kita pulang, sepertinya hari sudah mulai gelap. Aku takut hujan mendera sebelum kita sampai dirumah." Jelas Sehun. Luhanpun mengangguk dan segera bangkit dari kuris. Sehun meninggalkan beberapa lembar uang diatas meja dan segera mengikuti Luhan yang sudah berjalan keluar.
"Kanjja naik." Ucap Sehun sambil menyodorkan sebuah helm pada Luhan. Dengan segera Luhan naik dan memakai helmnya. Jarak dari kedai ice cream kerumah Luhan memang cukup jauh kira – kira menghabiskan setengah jam perjalanan.
Petir menggelegar membuat Luhan sontak mengeratkan pelukannya pada Sehun dan membenamkan wajahnya di punggung Sehun. Tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya membuat Sehun dan Luhan mau tidak mau harus berteduh, mereka memutuskan untuk berteduh di halte yang tak jauh dari sana.
"Ahhh… bajuku basah, Sehun… aku dingin." Ucap Luhan sambil menggosok – gosok kedua tangannya.
"Mianhae, seharusnya tadi kita menggunakan mobil saja." Ucap Sehun.
"Hssss… dingin sekali." Gumam Luhan sambil kembali menggosok – gosokan tangannya. Tiba – tiba sebuah kehangatan menjalar pada tubuh Luhan saat dengan lembutnya Sehun menempelkan tangan besarnya pada Luhan. Dia menggoskan tangan Luhan dengan tangannya agar rasa dinginnya berkurang.
"Gomawo." Luhan mencium pipi Sehun yang ada dihadapannya. Membuat Sehun memamerkan senyuman manisnya.
"Ne. Pakailah ini." Ucap Sehun sambil memberikan jaket kulitnya pada Luhan.
"Tapi kau…"
"Tidak apa – apa, aku inikan pria aku masih bisa bertahan." Ucap Sehun sambil memakaikan jaketnya pada Luhan. Hangat Ucap Luhan dalam hatinya.
"Jeongmal gomawo." Ucap Luhan sambil tersipu.
"Ne. Sebaiknya kita duduk saja." Ucap Sehun sambil menarik Luhan agar duduk di kursi panjang yang ada disana. Sehun merangkul pundah Luhan dan menarik tubuh mungil itu semakin mendekat kearahnya. Sedangkan Luhan melingkarkan tangannya pada pinggang Sehun dan menyandarkan kepalanya di dada Sehun. Mereka terus begitu dalam diam sambil melihat derasnya hujan, beberapa orang berlarian kecil mencoba menghindari mereka dari basah karena air hujan.
"Sepertinya hujannya tidak akan berhenti dengan cepat." Gumam Luhan. Sehun mengngguk menyetujui.
"Aku semakin dingin disini, dan aku juga tidak mau membiarkanmu sakit." Lanjut Luhan.
Sehun hanya tersenyum kearahnya dan mencium kepala Luhan.
"Aku baik – baik saja chagi…" Ucap Sehun mencoba menenangkan Luhan.
"Bisakah kita pulang sekarang?" tanya Luhan.
"Hujannya masih sangat deras, kita tidak mungkin pulang kerumahmu saat ini… tapi… bagaimana kalau kita mampir saja keapartemenku, jaraknya hanya beberapa meter dari sini. otteo?" tanya Sehun.
"kenapa tidak bilang dari tadi? Kanjja, aku sudah menggigil karena diam disini." Ucap Luhan menarik Sehun agar berdiri.
"Tapi nanti kau bsai basah kuyup Lu.."
"Gwenchana, nanti saat diapartemenmu aku akan langsung mandi air panas." Sehunpun menyerah, mereka akhirnya kembali menaiki motor Sehun dan menerobos derasnya hujan. Luhan mengeratkan pelukannya pada Sehun karena air hujan kini sudah menembus jaket yang dia gunakan membuat dirinya menggigil hebat.
10 menit kemudian mereka sampai di apartemen Sehun dengan keadaan basah kuyup. Sehun segera membawa Luhan masuh dan melepaskan jaket yang dia gunakan. Sehun segera membawa handuk untuk Luhan dan mengeringkan tubh wanita itu.
"Sebaiknya kau mandi duluan Chagi, disana ada bathub jika kau ingin berendam pakai saja." Ucap Sehun. Luhan mengangguk tanpa menjawab, karena bibirnya sudah berubah menjadi warna ungu dan giginya saling bergemeletukan karena kedinginan. Sehun membimbing Luhan memasuki kamar mandinya dan meninggalkannya sendiri. Sehun sementara Luhan mandi, Sehun mengeringkan badan dan mengganti bajunya yang basah kuyup.
"Sehunniieee…" Panggil Luhan membuat Sehun langsung keluar dari kamarnya dan menatap Luhan yang menyembul dari balik pintu kamar mandi.
"Wae?" Tanya Sehun.
"Apa kau bisa meminjam bajumu? Bajuku basah dan aku tidak mungkin memakainya lagi." Ucap Luhan.
Sehun melupakan satu hal, dia tidak memiliki baju ganti untuk Luhan diapartemennya.
"Tapi aku tidak memiliki baju wanita. Otteo?"
"Tidak apa – apa, aku bisa memakai bajumu." Sehunpun mengangguk dan segera berlari kekamarnya, membuka lemari pakaiannya dan tanpa berpikir panjang lagi Sehun membawa sebuah kemeja untuk Luhan. Dia mengetuk pintu kamar mandinya. Luhanpun membukanya sedikit agar bisa mengeluarkan kepalanya saja. GLUK. Tak sengaja Sehun menatap bagian atas dada Luhan membuat jantungnya berderup kencang.
"Ini… untukmu… maaf… hanya… ada itu.." Jawab Sehun salah tingkah.
"Gwenchana, Gomawo Sehun." Ucap Luhan serasa mengambil kemeja itu dan menatup kembali pintunya.
Pintu kamar mandi terbuka dan Luhan keluar dengan menggunakan kemeja yang Sehun berikan.
"Sehun… apa aku terlihat aneh?" Tanya Luhan.
"Aku terlihat aneh ya?" tanya Luhan karena Sehun yang tak kunjung menjawab.
"Ani." Jawab Sehun dengan cepat membuat Luhan mendongak. Luhan bingung kenapa wajah Sehun menjadi merah padah seperti itu, apakah dia sakit.
"Sehun… wajahmu memerah. Omo…. Kau pasti sakit karena tadi kehujanan." Ucap Luhan sambil mendekat.
"Aniyo.. aku baik – baik saja. sepertinya aku juga harus mandi." Ucap Sehun berkelit agar Luhan tidak semakin mendekat pada dirinya.
"Baiklah. Kalau begitu cepat sana mandi." Sehun mengangguk dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Sementara itu Luhan mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Luhan! Anggaplah ini rumahmu sendiri, lakukanlah apa yang kau mau." Teriak Sehun dari dalam kamar mandi.
"NE!" Jawab Luhan. Sang wanitapun menebar pandangannya ke apartemen Sehun, ini pertama kalinya Sehun membawa dia masuk kedalam apartemennya. Luhan melangkahkan kakinya memasuki semasuki sebuah ruangan. Ternyata ini kamar Sehun, terlihat dari sebuah kasur king side dan tertata sangat rapi.
Luhan menebar pandangannya ke seluruh kamar Sehun, tak sengaja dia menemukan sebuah foto yang cukup besar terpasang didinding kamar Sehun. Itu foto disinya saat mereka berada di jeju. foto itu diambil dari samping kanan, terlihat Luhan sedang menutup matanya dan menghirup aroma dari sekuntum mawar yang baru saja dia petik. Foto itu hanya terpokus pada Luhan seakan – akan dunianya kabur dan hanya berpusat pada wanita itu saja. Pipi Luhan menjadi semu malu, dia tidak pernah berpikir kalau Luhan akan memajang fotonya. Dia menatap ke meja yang ada disana dia menemukan sebuah sisir, dengan senang hati Luhan mengambilnya karena tujuan utama dia adalah mencari sisir. Tanpa sengaja sudut matanya menangkap sebuah foto keluarga yang tergeletak begitu saja diatas tumpukan buku. Luhan yang penasaran mengambil foto itu dan melihatnya. Disana ada Sehun kecil yang sedang digendong oleh seorang wanita dan disampingnya ada seorang pria, mereka terlihat begitu bahagia sambil menatap Sehun yang hanya memasang wajah datarnya.
Ternyata dia memang selalu memasang wajah datar sejak masih bayi. Luhan terkekeh dalam hatinya.
Luhan menatap kedua orang tua Sehun, sepertinya dia pernah bertemu dengan mereka, tapi dimana… Luhan mencoba mengingatnya tapi dia sama sekali tidak bisa mengingat apapun. Satu pertanyaan tiba – tiba muncul dalam benakknya. Kenapa Sehun tidak tinggal bersama kedua orang taunya dan kenapa juga Sehun selalu mengalihkan pembicaraan saat Luhan mulai akan membicarakan soal keluarganya? Luhan hanya mengangkat bahunya dan kembali meletakan foto itu kembali kesemula. Dia memandang menyisir rambutnya sambil menatap kearah cermin besar yang tertempel pada lemari pakaian Sehun. Setelah dia menyisir rambutnya Luhan berjalan – jalan disekitar kamar Sehun, dengan iseng, Luhan membuak satu – persatu lemari dan laci yang ada disana.
Luhan berjalan ke dapur kecil yang berada disebelah ruang tv. Jujur saja apartemen ini cukup luas dan sangat tertata rapi. Luhan salut pada kekasih itu karena sebagai pria dia bisa membereskan apartemennya serapi ini.
Luhan berniat membuat susu coklat panas, diapun mencari – cari bahan yang dia butuhkan. Luhan membuka lemari yang ada diatas kepalanya dan mejinjitkan kakinya mencoba melihat apa saja yang ada di sana.
Dia menemukan apa yang dia cari, sekotak susu rasa coklat!. Luhan kembali menjinjitkan kakinya dan menggapai – gapai kotak itu. Entah memang Luhan yang pendek atau memang lemarinya yang terlalu tinggi, Luhan sama sekali tidak bisa menggapainya.
"Ah… akhirnya." Sehun menatap Luhan yang masih setia memunggunginya, ternyata wanita itu sudah mendapatkan apa yang dia mau.
"Sekarang tinggal mencari gelasnya." Gumam Luhan.
"LUHAN!" Seru Sehun. Luhan yang merasa dipanggil langsung mendongak kearah Sehun.
"Sehun… kau sudah selesai?" tanya Luhan. Sang pria mengangguk kecil dan mendekai Luhan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Sehun.
"Aku? Aku akan membuat susu coklat. Sepertinya enak." Ucap Luhan sambil kembali mencondongkan tubuhnya.
"Tunggu! Biar aku yang membawakanya." Ucap Sehun lagi. Dengan cepat Sehun mengambil gelasnya dan memberikannya pada Luhan.
"Gomawo Sehun." Ucap Luhan. Dia langsung membuatkan susu coklat untuk mereka berdua. Sehun menggeleng pelan dan pergi meninggalkan Luhan didapur. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya.
"Sehun" Panggil Luhan lagi. Sehun mengerjap dan mengalihkan pandangannya.
"ya?" jawab Sehun dengan terbata – bata.
"Ini aku sudah buatkan satu untukmu." Ucap Luhan sambil menyodorokan segelas susu coklat untuk Sehun. akhirnya mereka bedua menghabiskan waktu mereka berdua, duduk di sofa sambil bercerita, membagi kisah hidup mereka bedua. Sampai akhirnya rasa kantuk mulai merayapi mereka bedua, Sehun membawa Luhan pada sebuah kamar tamu yang ada disudut kiri ruangan, dan mengucapkan selamat malam sebelum dia meninggalkan wanita itu dan pergi untuk tidur.
Kediaman Keluarga Luhan
"Ah… untung saja Luhan baik – baik saja." Ucap Baekhyun sambil menutup telphonenya.
"Wae? Wae? Wae?" Tanya Chanyeol dan Jongdae XiuMin.
"Ah… baiklah kalau begitu." Ucap Chanyeol.
"Untung saja kita belum melaporkannya pada Tuan dan Nyonya besar." Ucap Minseok.
"Ne. kalau tidak mereka pasti sudah panik dan langsung pulang ke korea." Ucap Jongdae. Baekhyun dan Jongdaeyeolpun mengangguk.
"Baiklah aku akan kembali ke dapur." Ucap baekhyun yang diikuti oleh Chanyeol dibelakangnya.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Jongdae.
"sepertinya begitu. Wae?" tanya Minseok.
"Kemari, aku ingin menunjukan sesuatu untukmu." Ucap Jongdae sambil menarik tangan Minseok menuju taman belakang. Saat Jongdae membua pintu angin pagi yang begitu segar langsung menerpa mereka berdua. Jongdae tersenyum dan terus menarik Minseok pada sebuah kursi panjang yang ada disana.
"Tunggu disini, aku tidak akan lama." Ucap Jongdae dan tanpa menunggu jawaban dari Minseok dia masuk kedalam. Minseok mengendus pelan dan memjamkan matanya, menikmati udara pagi yang sejuk ini. Dia baru sadar kalau udara kota Seoul disaat pagi itu sangatlah segar. Tak lama kemudian suara langkah berat mendekati dirinya, Minseok membuka mata dan menatap Jongdae yang mendekat kearahnya sambil membawa sebuah gitar. Minseok memandang dengan heran.
"kemarin aku baru belajar gitar, kau mau mendengarkannya?" tanya Jongdae. Mata Minseok berbinar – binar. Dia menganguk dengan semangat.
"Tapi belum terlalu bagus, tentu saja. Aku baru belajar." Ucap Jongdae.
"Gwenchana. Aku ingin mendengarnya… kanjja." Ucap Minseok masih dengan wajah yang berbinar – binar.
Jongdae tersenyum, kemudian dia mulai memetik senar gitarnya.
Oh, her eyes, her eyes make the stars look like they're not shinin'
Her hair, her hair falls perfectly without her tryin'
She's so beautiful
And I tell her everyday
Yeah, I know, I know when I compliment her, she won't believe me
And it's so, it's so sad to think that she don't see what I see
But every time she asks me do I look okay?
I say
Jongdae terus memetik senar gitarnya sambil melantunkan lagu dengan suaranya yang sangat indak itu membuat Minseok semakin terpesona.
When I see your face
There's not a thing that I would change
'Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for awhile
'Cause girl, you're amazing
Just the way you are
Jongdae menatap Minseok dengan tatapan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus dari lubuk hatinya membuat Minseok sedikit tersipu.
Her lips, her lips, I could kiss them all day if she'd let me
Her laugh her laugh, she hates but I think it's so sexy
She's so beautiful
And I tell her everyday
Oh, you know, you know, you know I'd never ask you to change
If perfect's what you're searching for, then just stay the same
So don't even bother asking if you look okay
You know I'll say
Jongdae menapat bibir merah Minseok, ingin rasanya dia mencoba bagaimana rasa bibir merah nan menggiuarkan itu, Jongdae jadi teringat saat Minseok tertawa karena dirinya membuat Jongdae semakin terpesona akan kecantikan wanita satu itu.
When I see your face
There's not a thing that I would change
'Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for awhile
'Cause girl, you're amazing
Just the way you are
The way you are
The way you are
Girl, you're amazing
Just the way you are
When I see your face
There's not a thing that I would change
'Cause you're amazing
Just the way you are
Jongdae tersenyum saat Xiumin menatap matanya dan menikmati lagu yang tengah dia bawakan.
And when you smile
The whole world stops and stares for awhile
'Cause girl, you're amazing
Just the way you are, yeah.
(Bruno Mars – Just The Way You Are)
Xiumin membuka matany dan menatap Jongdae yang tersenyum lebar. Tapi tiba – tiba saja Jongdae mencium pipi bulat Xiumin membuat wanita itu mengerjapkan matanya berkali – kali terlihat sangat lucu.
"YA!" Pekik Minseok saat sadar. "Awas kau Kim Jongdae." Tapi terlambat pria itu sudah berlari menjauhi Minseon sambil tertawa.
Tanpa Minseok dan Jongdae tau kalau ada beberapa maid yang mengintip mereka saat sedang berada ditaman belakang tadi, termasuk Baekhyun dan Chanyeol.
"haha… mereka lucu sekali." Kekeh Baekhyun sambil menutup mulutnya. Chanyeol yang ada disampingnyapun ikut tertawa. Dan saat para maid membubarkan diri, Chanyeol memeluk Baekhyun dari belakang dan menyelundupkan kepalanya di ceruk leher Baekhyun.
"jadi kapan kau akan bernyanyi seperti itu untukku?" tanya Chanyeol. Baekhyun melepaskan pelukan Chanyeol dan menatap pria itu.
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu yeol." Ucap baekhyun sambil menaikan sebelah alisnya.
"Heyy… suaramu itu lebih indah dari pada suaraku dan lebih indah dari suara apapun yang aku dengar, jadi kau yang seharusnya bernyanyi untukku." Tungkas Chanyeol.
"hahaa… kau ini…" Ucap Baekhyun sambil mencubit hidung mancung Chanyeol dan meninggalkan pria itu menuju dapur. Sedangkan Chanyeol yang tidak punya kerjaan hanya duduk – duduk dipentry. Beberapa maid membantu Baekhyun membuat makanan untuk nanti siang. Chanyeol tersenyum saat menatap Baekhyun yang sesekali mengerucutkan bibirnya entah karena apa, tapi hal itu membuat kadar kelucuannya meningkat. Chanyeol masih sangat asik menatap Baekhyun yang terlihat sangat sibuk sampai akhirnya dia mempunyai ide.
"Baekkie-ah." Panggil Chanyeol. Baekhyun yang merasa dipanggil langsung menengok kearah Chanyeol.
"Wae?" tanya Baekhyun.
"Bisa buatkan aku kopi?" baekhyun mengangguk dan memberikan spatula yang sedang dia pegang pada maid yang lain. Baekhyun segera membuatkan Chanyeol secangkit cappucino hangat.
"Ini silahkan." Ucap Baekhyun sambil melempar senyuman manisnya. Chanyeol menerima sambil membalas senyumannya. Baekhyun kembali mengambil alih masakannya dan mengambil kembali spatulanya. Tapi tidak lama kemudian Chanyeol kembali memanggilnya.
"Baekkie-ah.." Panggil Chanyeol.
"Wae?" tanya Baekhyun.
"Ini kurang gula, bisa kau aku minta tambahkan gula?" tanya Chanyeol.
"Jinjja? Mainhae, sini biar aku tambahkan gula." Ucap Baekhyun kembali memberikan spatula pada yang lain dan mengambil cangkir yang ada dihadapan Chanyeol dan segera menambahkan gula setelah itu memberikannya kembali pada Chanyeol.
"Ini, coba dulu apakah masih kurang?" tanya Baekhun. Chanyeolpun menyeruput kopinya.
"Sempurna seperti dirimu." Ucap Chanyeol sambil tersenyum. Baekhyun tersenyum dan menundukan kepalanya karena malu. Chanyeol terkekeh tanpa suara sambil kembali menyeruput kopinya. Baekhyun kembali mengerjakan tugasnya memasak, Baekhyun tengah menambahkan bumbu pada masakannya saat Chanyeol kembali memanggilnya.
"Baekkie-ah." Panggil Chanyeol. Baekhyun mulai merasa kesal karena Chanyeol yang terus memanggilnya.
"Wae yeol?" Tany Baekhyun tanpa memandang kearahnya.
"Masak apa kau hari ini?" tanya Chanyeol. Baekhyun menghembuskan nafas berat.
"Kau tidak lihat? aku sedang memasak bulgogi." Jawab Baekhyun.
"Oh…" jawab Chanyeol sambil mengangguk. Baekhyun menggeleng dan kembali berkonsentrasi pada masakannya yang sebentar lagi akan matang. Sekarang bulgogi masakannya sudah selesai. Wanita itu menaruhnya di piring.
"Baekkie-ah!" Seru Chanyeol cukup keras membuat Baekhyun hampir saja menjauhkan piringnya. Baekhyun menggeleng pelan dan melanjutkan pekerjaanya tanpa menjawab panggilan Chanyeo.
"Baekkie-ah." Panggil Chanyeol lagi. Baekhyun yang sudah kesal, menaruh piringnya dengan cukup keras. Maid yang ada disana tau kalau Baekhyun sedang marah, mereka tidak mau menjadi amukan kemarahan Baekhyun, karena mereka tau kalau Baekhyun sangat mengerikan ketikan dia marah, dan untunglah pekerjaan mereka sudah selesai jadi mereka meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol di dapur.
"Wae?!" Tanya Baekhyun dengan raut wajah kesal sambil menyilangkan tangannya didada dan menghadap Chanyeo.
"Kenapa kau marah begitu?" tanya Chanyeol.
"Karena sedari tadi kau mengganggu pekerjaanku." Jawab Baekhyuk ketus.
"Ahhh…" Hanya itulah respon yang diberikan Chanyeol. Baekhyun mengendus kesal dan membalikan badannya lagi memunggungi Chanyeol.
"Baekkie-ah." Panggil Chanyeol dengan lembut. Baekhyun menghembuskan nafas panjang dan membalikan badannya.
"Wa…" Pekataan Baekhyun tercekat ketika dia menemukan Chanyeol sudah ada dihadapannya dan jarak mereka hanya beberapa centi saja.
"Kau tau kenapa aku melakukannya?" Tanya Chanyeol. Baekhyun menggeleng pelan sambil menatap Chanyeol.
"Karena aku ingin terus dan selalu menatap matamu." Jawab Chanyeo. Baekhyunpun merona.
"Dan kau tau kenapa aku ingin selalu menatapmu?" Tanya Chanyeo. Baekhyun mengangkat bahunya dan kembali menurunkannya lagi. Chanyeol tersenyum dan menggenggam tangan Baekhyun.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Chanyeol menatap Baekhyun, kemudian dia mengecup punggun tangan Baekhyun dan membawa tangan itu menyentuh dadanya. Baekhyun bisa merasakan kalau jantung Chanyeol berderup dengan kencang.
"Sekarang kau mengerti apa maksudnya?" Tanya Chanyeo. Tapi Baekhyun tidak menjawab, dia hanya menatap Chanyeol dalam – dalam.
"Artinya aku sangat – sangat mencintaimu. Jeongmal saranghae Byun Baekhyun." Bisik Chanyeol.
Dan semua kemarahan dan kekesalah Baekhyun pun sirna karena sebuah alasan yang tak terduga dari seorang Park Chanyeol. Baekhyun menggalungka tangannya dileher Chanyeol dan memeluk kekasihnya itu dengan erat.
.
.
.
~To Be Continued~
