Yo readers-san! Sorry update-nya tidak sesuai dengan yang readers inginkan... biasa... pulsa modem abis... hehe... Dan entah kenapa di fic yang ini ada selingan jam Chronos lagi... payah... =.="
Last chapter…
"Sekarang giliran siapa, nih?" tanya Himeka.
"Tentu saja aku!" jawab Jin. "Yosh! Ayo kita lanjutkan rencanaku yang tertunda!"
"Yaaaa!"
Kamichama Karin & Kamichama Karin Chu © Koge Donbo
Yuujin's Plans to Get Together © Riez Natsumi Khafiza
Character: Hanazono Karin, Kujyou Kazune, Kujyou Himeka, Nishikiori Michiru, Kuga Jin, Kujyou Kazusa, Yi Miyon, Sakurai Yuuki, Karasuma Rika, Tsutsumu Shingen
Warning: OOT, Abal, GaJe, Humor garing, Romance tingkat rendah.
Chapter seven: Jin's Plan
**Yuujin's Plans to Get Together**
Malam hari di Mansion Kujyou, tepatnya di kamar Kazune…
"Nee, Kujyou," sapa Jin sambil menepuk pundak sahabatnya.
"…"
"KUJYOU!" seru Jin di telinga Kazune.
"Na-nani ?! Serangga?!" tanya Kazune repot sendiri.
"Bukan! Aku… hanya ingin bertanya sesuatu kepadamu," jawab Jin.
"Ada apa? Cepatlah, kau menghabiskan waktuku untuk menatap bulan!" keluh Kazune.
"Bulan? Untuk apa kau menatap bulan?" tanya Jin.
"…"
"Yah… baiklah, terserah kau saja," kata Jin. "Aku ingin menanyakan padamu sesuatu,"
"CEPATLAH!" bentak Kazune.
"Oi, oi! Woles dong!" balas Jin.
"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan kepadaku?" tanya Kazune.
"Apa kau…" kata Jin menggantung. "… Menyukai Karin?"
"…"
"Kujyou?" tanya Jin hati-hati takut menyakiti hati sahabatnya.
"Aku…" Kazune mulai bicara. "Aku memang menyukai Karin… bukan, mencintainya. Dulu aku menyukainya, tapi saat aku melihat sikap dan sifatnya yang sebenarnya, aku merasa mulai mencintainya, sampai sekarang…"
Ternyata dugaan Jin benar. Sahabatnya memang menaruh perasaan kepada seorang gadis berambut brunette bermata emerald.
"Lalu… apa kau sudah…" kata Jin menggantung.
"Belum," jawab Kazune.
"Doushite?" tanya Jin.
"…" Kazune diam dulu. "Entahlah, ada rasa ketakutan dalam diriku saat aku ingin menyatakannya,"
"Kau takut dia akan menolaknya, kan?" tanya Jin.
"…"
"Kau harus cepat, kalau tidak,…" kata Jin menggantung (Lagi). "Orang lain akan merebutnya, kau mau itu terjadi?"
"…"
"Pikirkan baik-baik, Kujyou…" kata Jin sambil meninggalkan Kazune yang masih membisu.
"Ohayou ~!" sapa Karin ceria.
"Ohayou, Karin-chan," balas Himeka.
"Ohayou, Hanazono-san!" balas Micchi.
"Ohayou, Megami!" balas Jin.
"Ohayou," balas Kazune.
Karin mengambil kursi dihadapan Kazune. Kazune melihat kepada Jin sebentar, Jin mengangguk dan menatap Kazune dengan tatapan ingatlah-kata-kata-ku-tadi-malam. Lalu Kazune kembali menatap ke depan, lebih tepatnya ke Karin.
"Kau harus cepat, kalau tidak, orang lain akan merebutnya"
Deg! Firasat buruk langsung muncul dalam diri Kazune. Entah ada apa, tapi dia merasakan firasat buruk, yang akibatnya akan sangat fatal jika dia tidak bertindak sesuatu.
"Ne-kun…? Kazune-kun?" tanya Karin sambil menggoyangkan tangannya.
"A-apa?" tanya Kazune.
"Tidak biasanya kau melamun," kata Karin.
"…" Kazune tidak membalas. Dia malah sibuk memain-mainkan sendoknya.
"Tumben, biasanya kalau Croquette kau akan langsung makan," kata Micchi.
"Aku… sedang tidak nafsu makan," jawab Kazune.
Kazune pun meninggalkan meja makan dan pergi menuju ruang depan untuk memakai sepatunya.
Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku, sudahlah… aku tidak usah mengacuhkannya, pikir Kazune.
"Nee, Kori Oji-kun! Ayo pergi!" seru Jin.
"Iya!" balas Kazune.
"Karasuma Heiwa desu, hajimashite," ucap seorang laki-laki remaja 15 tahunan.
Rambutnya berwarna indigo, dan matanya coklat, mirip Himeka, hanya saja versi laki-lakinya. Cool-nya bisa dibilang sebanding dengan Kazune, hanya saja dia ramah. Mata cewek-cewek IX-A langsung berubah jadi bentuk hati, minus Karin, Rika, Himeka, dan Miyon.
"Baik, Karasuma-san. Kau bisa duduk di sebelah Hanazono-san," kata Yokitsu-sensei sambil menunjukan tempat Karin.
"Kimi wa Hanazono-san?" tanya Heiwa.
"Hai. Watashi wa Hanazono Karin desu !" jawab Karin.
"Yoroshiku ne," balas Heiwa sambil tersenyum.
Karin sempat terbuai dengan senyuman Heiwa yang cool. Tapi dia segera tersadar dan melihat ke papan tulis kembali.
"Hanazono-san, boleh aku duduk sini?" tanya Heiwa.
"Ah, Heiwa-kun! Boleh, silakan saja," jawab Karin ramah.
"Hanazono-san, apa kau berpacaran dengan Kujyou?" tanya Heiwa.
"Ti… tidak kok! Kami hanya bersahabat!" tukas Karin. "Oya, apa kau tahu artis Kuga Jin? Dia bersekolah di sini, lho!"
"Oya? Apa kau mengenalnya?" tanya Heiwa antusias.
"Akan aku perkenalkan dia nanti, dia di kelas kita kok!" jawab Karin.
Pembicaraan mereka pun berlanjut. Jin, Yuuki, Micchi, dan Kazune yang kebetulan lewat melihat mereka berdua sedang asyik mengobrol.
"Kazune-kun, sedang apa mereka di sana?" tanya Yuuki.
"Tentu saja sedang mengobrol," jawab Kazune santai.
"Sepertinya pembicaraannya seru sekali," kata Micchi.
Di sela-sela obrolan 4 pemuda itu, mereka melihat Heiwa memberikan gantungan tas berbentuk kucing dan di dadanya ada pita pink kepada Karin. Dia mengatakan sesuatu sambil menggoyang-goyangkan sebuah gantungan tas lainnya yang sama dengan Karin, hanya saja pitanya berwarna biru. Karin terlihat senang dan tertawa setelah Heiwa mengatakan sesuatu. Sungguh seperti 2 remaja yang sedang berkencan. Keempat pemuda yang dari tadi mengawasi mereka sontak kaget. Tapi yang lebih kaget tentulah si pembenci serangga, Kazune. Dia hanya bisa melihat Karin dan Heiwa dari jauh dengan tatapan kosong. Di dalam hatinya, seperti sudah tidak ada harapan lagi dia bisa mendapatkan Karin. Jin yang melihat sahabatnya tengah melihat Karin dan Heiwa dengan tatapan kosong, membisikkan sesuatu di telinga Kazune.
"Sudah kubilang ini akan terjadi, bukan?" bisik Jin. "Cepatlah bertindak atau kau akan kehilangan segalanya,"
Deg! Lagi-lagi Kazune merasakan firasat buruk saat melihat Heiwa. Tapi Kazune tidak mengacuhkannya lagi. Dia segera berjalan menuju kelas meninggalkan teman-temannya. Teman-temannya yang tersadar dan telah ditinggal jauh oleh Kazune lalu berlari menyusul Kazune. Karin melihat siluet kawan-kawan laki-lakinya yang berlari. Dia sudah menduga pasti Kazune melihatnya sedang mengobrol dengan Heiwa.
"Kazune-kun…" gumam Karin pelan, sangat pelan. "Kuharap kau tidak salah sangka,"
Besoknya saat jam istirahat…
"Ruang guru… ruang guru…" gumam Kazune yang sedang menyusuri lorong sekolah sambil membawa setumpuk laporan kelas IX-A.
Saat menemukan ruang yang dicari, Kazune segera meletakkan setumpuk laporan itu di salah satu meja sensei-nya. Setelah itu, dia memutuskan menghabiskan waktu istirahatnya dengan berlatih memanah. Dia pun berjalan menuju lokernya untuk mengambil perlengkapan untuk memanahnya, dan baru saja ia menginjakkan langkah pertamanya di ruang loker laki-laki, dia mendengar sesuatu rekaman yang sangat mengejutkan.
"Kau harus membunuh gadis brunette bermata emerald itu!"
Kazune mencoba mencerna siapa orang yang dimaksud. Gadis brunette bermata emerald… hanya satu diantara sekian gadis di sekolah ini yang ciri-cirinya seperti itu… sepertinya gadis yang dimaksud itu adalah…
Karin? pikir Kazune. Dia pun melongok sedikit melihat siapa yang sedang mendengar rekaman itu. Dan yang pertama terlihat adalah… si anak baru, Heiwa. Kazune pun melangkah mundur, dan berlari pelan agar tidak ketahuan oleh Heiwa.
Di kelas, pikiran Kazune hanya tertuju pada rekaman yang tadi didengarnya.
"Kau harus membunuh gadis brunette bermata emerald itu!"
Kata-kata itu selalu terbayang di pikiran Kazune. Sesekali ia melirik ke arah Karin, memastikan bahwa si calon korban tidak apa-apa. Dia hanya memikirkan cara untuk menyelamatkan Karin saat ini.
"Cepatlah bertindak atau kau akan kehilangan segalanya,"
"Hanazono-san, bisa aku bicara denganmu sebentar di taman?" tanya Heiwa.
"Tentu, Heiwa-kun!" jawab Karin.
Di bawah pohon di taman…
"Apa yang ingin kau bicarakan padaku, Heiwa-kun?" tanya Karin.
"…"
"Nee, He-"
Greb! Heiwa langsung mengunci Karin sebelum Karin melanjutkan kata-katanya. Tangan Heiwa menahan tangan Karin di pohon.
"Kyaaa!" seru Karin. "Apa yang kau lakukan, Heiwa-kun?!"
Bukannya menjawab, Heiwa malah menyeringai. Dia pun perlahan mengambil sesuatu di sakunya. Lalu mengeluarkan sebuah pisau saku yang tajam dan meletakannya di dekat leher Karin.
"Kau ingin tahu?" tanya Heiwa masih dengan seringainya yang menyeramkan. "Alasanku pindah ke sekolah ini adalah untuk membunuhmu, Hanazono Karin,"
"Apa maksudmu? Memangnya apa salahku?" tanya Karin.
"Kau sudah membunuh kakakku, Karasuma Kirihiko! Dan aku akan membalaskan dendamnya, dengan membunuhmu!" jawab Heiwa.
"Dia kan jahat! Dia akan menghancurkan dunia jika tidak kami lenyapkan!" balas Karin.
"DIAM!" seru Heiwa. "Kau tidak tau sikapnya yang sebenarnya! Dia… dia adalah kakak yang baik dan penyayang… dia selalu membawakan mainan buatannya saat pulang kepadaku waktu kecil, dia adalah kakak terbaik untukku,"
Tentu saja Karin sangat kaget mendengar perkataan Heiwa. Karasuma Kirihiko, professor yang bersahabat dengan Kujyou Kazuto, professor yang selalu ingin menguasai dunia, bisa sedekat dan sebaik itu di keluarganya?
"Tapi setelah kau membunuhnya…" lanjut Heiwa. Matanya mengeluarkan tetes-tetes air mata yang memancarkan kesedihan. "Tidak ada lagi yang mengajakku pergi meneliti, membuat percobaan di laboratorium, dan mengajariku tentang penelitian-penelitian lagi!"
Karin terdiam.
"Kau tahu gantungan tas yang aku berikan padamu tadi?" tanya Heiwa. "Itu salah satu percobaan yang aku buat sendiri, sehari setelah aku mendengar kematian kakakku!"
Lalu Heiwa mundur beberapa langkah. Dia merogoh sakunya, memasukkan pisaunya, dan mengeluarkan sebuah remote kecil, lalu menekan tombol berwarna merah. Zzt! Sebuah kaca pelindung transparan muncul di sekeliling Karin dan mengurungnya. Heiwa pun mengambil dan memakai sebuah earphone dengan kacamata khusus dari tasnya
"Heiwa-kun! Apa-apaan ini?! Lepaskan aku!" seru Karin sambil memukul-mukul kaca pelindung yang mengurungnya itu.
"Kurungan itu adalah fungsi dari gantungan tasmu itu. Kurungan itu akan meredam suaramu dan orang di dalamnya tidak akan terlihat oleh orang di luar. Hanya aku yang bisa mendengar dan melihatmu dengan earphone ini," jelas Heiwa.
"Heiwa-kun! Tolonglah, lepaskan aku! Dendam masa lalu tidak akan mengubah apapun! Dendam masa lalu hanya akan menghasilkan dendam yang baru, bukanlah kedamaian!" seru Karin sambil memukul lebih keras kaca pelindung itu.
"Itu kan menurutmu," kata Heiwa santai.
Heiwa pun duduk di sebelah kaca pelindung Karin. lalu mengeluarkan sebuah buku dan membacanya. Jadi yang terlihat oleh orang lain hanyalah Heiwa yang sedang santai membaca buku. Tak lama kemudian, Kazune muncul dengan napas yang terengah-engah.
"Yo, Kujyou!" sapa Heiwa.
"Dimana Karin?" tanya Kazune to the point.
"Hanazono-san? Bukankah dia selalu pulang denganmu dan Himeka-san?" tanya Heiwa santai.
"Tidak, dia tidak bersama kami," jawab Kazune.
"Lalu kenapa kau bertanya padaku?" tanya Heiwa.
"Karena…"Kazune mengepalkan tangannya. "Aku mendengar rekamanmu tadi, rekaman itu mengatakan bahwa kau disuruh membunuh Karin,"
"Rekaman?" balas Heiwa sambil meneruskan membaca bukunya.
"Jangan pura-pura tidak tahu! Kau pasti merencanakan sesuatu dengan seseorang untuk membunuh Karin!" seru Kazune.
Karin menutup mulutnya. Ternyata Kazune sudah mengetahui rencana Heiwa, Kazune juga datang untuk menyelamatkannya. Kurungan yang dibuat Heiwa ternyata memungkinkan orang di dalamnya melihat dan mendengar sesuatu di luar.
"Kazune-kun! Aku di dalam sini! Aku dikurung oleh Heiwa-kun!" seru Karin.
"Percuma saja," bisik Heiwa.
"Kazune-kun!" seru Karin.
Setelah beberapa kali berteriak, Karin pun kelelahan sendiri dan menunggu obrolan Kazune dan Heiwa selesai.
"Taskete yo, Kazune-kun…" lirih Karin.
Beberapa saat kemudian, Kazune pun terlihat hendak meninggalkan Heiwa. Saat menyadari itu, Karin berteriak minta tolong lagi.
"Kazune-kun baka!" seru Karin. "Taskete, Kazune-kun!"
"Percuma, dia tak akan bisa mendengarnya," kata Heiwa santai.
Kazune semakin jauh dari pandangan. Karin pun sempat putus asa, tapi dia tidak mau menyia-nyiakan waktu sebelum Kazune pergi lebih jauh. Dia menarik napas dalam-dalam, dan…
"KAZUNE-KUN NO BAKA!" teriak Karin sambil mengeluarkan air matanya. Amarahnya sudah tak dapat dibendung lagi.
Karena terlalu keras, suara Karin dari earphone Heiwa terdengar oleh Kazune. Kazune pun berbalik dan melihat Heiwa sedang memukul sesuatu, tapi tidak terlihat. Kazune juga melihat sebuah remote di sebelah Heiwa. Greb! Yak! Kazune berhasil mengambil remote itu sebelum Heiwa. Ia pun memencet tombol hijau. Kurungan Karin pun terbuka. Karin langsung berlari menuju Kazune dan memeluknya. Kazune pun membalas pelukan Karin. Heiwa tidak mau menyia-nyiakan waktunya. Dia mengambil pisaunya, dan bersiap menyerang Karin. Kazune langsung membuka tangannya dan berdiri di depan Karin.
"Jangan takut," kata Kazune. "Watashi ga anata o mamoru,"
"Kenapa kau begitu melindunginya? Padahal dia bukan siapa-siapa untukmu, bukan?" tanya Heiwa.
"Kau benar," jawab Kazune. "Dulu dia memang bukan siapa-siapaku,"
Karin sedikit kecewa.
"Tapi itu kan dulu," lanjut Kazune. "Sekarang dia sudah menjadi orang yang paling penting untukku,"
"Maksudmu?" tanya Heiwa.
"Karena dia adalah…" Kazune menghentikan perkataannya sebentar. "Orang yang aku cintai!"
Karin terkejut. Ternyata Kazune membalas perasaannya.
"Baiklah, kalau dia adalah orang yang kau cintai dan sayangi, lindungilah dia!" kata Heiwa.
Heiwa pun meninggalkan Kazune dan Karin yang kebingungan. Baru saja tadi Heiwa hampir menyerang mereka, tapi sekarang malah meninggalkan mereka begitu saja. Keheningan menyelimuti Kazune dan Karin. Karena tidak nyaman dengan suasananya, Karin membuka percakapan.
"Ano, Kazune-kun…" kata Karin. "Apa perkataanmu tadi itu benar?"
Kazune terkejut ditanya seperti itu. Wajahnya sudah sangat merah membayangkan kejadian tadi.
"Tentu saja, kau pikir aku bercanda?" tanya Kazune.
"Tidak, aku senang karena perasaanku ternyata sama denganmu!" jawab Karin sambil tersenyum.
"Aishiteru, Karin," kata Kazune.
"Aishiteru mo, Kazune-kun," kata Karin.
Mereka pun mendekatkan wajah mereka. Kazune memegang dagu Karin dan mencium bibirnya. Lalu mereka mulai menjauhkan wajah mereka dan tersenyum satu sama lain. Kemudian, mereka segera pulang ke Mansion Kujyou.
Di kamar Himeka, sebelum Karin dan Kazune sampai di Mansion Kujyou…
"Rencanamu bagus, Kuga-kun! Dan biar kutebak, Heiwa itu adalah Professor Kujyou dari masa lalu, bukan?" tanya Rika.
"Siapa dulu dong!" kata Jin sambil menepuk dadanya. "Iya benar, aku juga mendapat video dari Professor Kujyou tadi,"
"Video? Professor merekam kejadiannya?" tanya Micchi.
"Ya, dia bilang, kita kan tidak melihat kejadiannya, jadi dari awal dia sudah menaruh handycam di atas pohon untuk merekam kejadian mereka untuk diperlihatkan pada kita," jawab Jin sambil memperlihatkan sebuah handycam.
"Sekarang berarti giliran Rika-chan dan Shingen-kun…!" seru Miyon.
"Ano… kami sudah tidak punya rencana lagi…" kata Shingen sambil nyengir dan menggaruk kepalanya.
"Author…! Kenapa mereka nggak ngeluarin rencana?!" tanya Jin sambil menarik author.
"Aku juga udah kehabisan rencana tau! Kalau mau, kamu bikin rencana sendiri!" balas Author.
"Oke, rencana mereka dariku!" seru Jin.
"Enak aja! Fic siapa ini? Kalau mau, bikin fic sendiri!" tukas Author.
"Ah, sudahlah! Kau malah memanaskan suasana!" kata Jin sambil menendang author.
Tung! Yang jadi malah kaki Jin yang bengkak karena membentur sesuatu yang sekeras panci.
"Aku udah kebal sama tendanganmu! Karena aku sudah memakai pelindung!" kata Author sambil bergaya ala superman.
"Kalau begitu…" Jin menggoyangkan jarinya ke depan. "KazuRin… tendang dia!"
"Okeeee…!"
"A-apa…?! Pelindungnya nggak akan ta-"
Tuiiiiiinnnnggg…! Author berhasil ditendang oleh para KazuRin. Seperti kata pepatah: "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh" (Emang ada hubungannya?).
"Abaikan author baka itu," kata Rika. "Berarti semuanya sudah, ya?"
"Betul juga," tambah Kazusa. "Tapi ini masih belum sempurna, mereka belum menyatakan cintanya di depan kita semua!"
"Aku setuju!" seru Himeka. "Bagaimana kalau chapter selanjutnya rencana dari semuanya!"
"Maksudmu, tim KazuRin?" tanya Rika.
Himeka mengangguk dua kali.
"Berarti kita harus menyusun rencana agar mereka menyatakan cintanya di depan kita semua!" Shingen menyimpulkan.
"Ya, begitulah," balas Yuuki.
"KazuRin… Semangaaaatt!" seru Himeka.
"Yaaaaa...!"
**Tsuzuku**
Flashback (Setelah Karin dan Kazune di perjalanan pulang)…
"Ah, arigatou gozaimasu Professor Kujyou, karena sudah membantu kami, akting anda bagus sekali tadi!" puji Jin sambil membungkukkan badannya.
"Daijobu, lagipula ini juga untuk masa depan anakku, bukan?" tanya Heiwa, alias Professor Kujyou.
"Darimana anda tahu?" tanya Jin.
"Memangnya kau pikir aku professor yang ketinggalan jaman? Aku sering baca manga Kamichama Karin dan FanFiction tahu!" jawab Professor Kujyou.
Jin melongo di tempat. Ternyata Professor Kujyou, sang pembuat cincin Kamika, sering baca manga dan Fanfic juga. O.o
"Oya, ini rekaman video yang tadi aku rekam saat mereka menyatakan cintanya, untuk kalian. Dan sampaikan salamku untuk Kazune saat kalian sudah berhasil ya!" seru Professor Kujyou sambil melemparkan sebuah handycam kepada Jin. "Sayonara!"
"Hai, Professor!" jawab Jin.
Flashback end…
Kayaknya chapter ini chapter yang paling berantakan alurnya... Bagaimana menurut kalian?
