So forget your past and we can dream tomorrow

Save our hearts for caring and loving too

It's hard, I know

But one thing for sure ...

Don't go... and break this fragile heart ...

[Hinata Hyuuga]

Aku menutup ponselku setelah membalas pesan dari Neji untuk membelikan bahan makanan untuk sup ayam malam ini. Dia bilang ingin memasakkan sesuatu untukku setelah mendapat gaji pertamanya bekerja selama tinggal denganku. Tapi karena dia tidak tahu apa saja bahannya, makanya dia titip padaku sepulangku dari bekerja. Aku memasukkan ponselku ke dalam tas yang aku jinjing di lenganku. Aku merapatkan syalku dan juga mantel musim dinginku. Aku lupa membawa penutup kepala, jadi butiran salju yang lembut banyak menempel di rambutku. Aku harus segera keramas setelah sampai di rumah.

Aku berjalan melewati taman bermain yang kosong dan langkahku melambat begitu telingaku tiba-tiba mendengar deru mesin di belakangku. Aku mengerutkan dahi seraya menoleh ke belakang.

Sebuah mobil hitam melaju dengan pelan ke arahku dan lampunya menyorot dengan terang tepat ke mataku. Aku menyipitkan mataku karena cahaya lampu mobil itu membuatku silau.

Mobil itu tiba-tiba berhenti tepat di sampingku. Aku melihatnya dengan pandangan penuh tanya. Ada semacam perasaan cemas kalau-kalau yang muncul dari dalam nanti adalah laki-laki hidung belang yang berbahaya.

Saat pintu mobil itu terbuka dan seorang laki-laki keluar dari tempat itu, perasaan cemasku tiba-tiba berubah jadi kecemasan lain begitu laki-laki itu berdiri di depanku. Uzumaki Naruto.

Aku mengabaikannya dan langsung berbalik badan untuk segera pergi dari tempat itu. Tapi laki-laki itu lebih cepat. Dia meraih lenganku dan menariknya sampai tubuhku langsung berbalik dan berhadap-hadapan langsung dengannya.

"Paling tidak, dengarkan aku sekarang, " kata laki-laki itu.

Aku mengerutkan dahi menatapnya.

"Apa?"

"Kenapa kau bersikap seolah semua sudah berakhir? Kau bersikap tidak mengenalku dan selalu menghindari tatapan mataku? Bahkan kau tidak mau menerima pemberianku? Kenapa kau tidak bersikap biasa saja sehingga aku tidak perlu memikirkanmu tiap saat?" laki-laki itu berkata dengan nada tegas dan tatapan mata tajam ke arahku.

Aku mengerjapkan mata menatapnya.

"Apa?" dan hanya kata itu yang terucap dari bibirku.

"Aku tidak tahu hatimu itu terbuat dari apa. Dengan sikapmu yang seperti itu kau membuat kehidupan normalku kacau. Karena kau membuatku merasa seolah aku yang paling bersalah. Tapi saat aku berkali-kali minta maaf padamu, aku bahkan tidak bisa menghilangkan rasa bersalah ini padamu. Kenapa? Kenapa seperti itu? Bisakah kau bersikap biasa saja?" Naruto menatapku tajam.

Aku tidak segera menjawab dan menarik napas dalam-dalam.

"Apa kau mau tahu alasannya? Alasan yang sebenarnya?" tanyaku kemudian, dengan sikap setenang mungkin. Benar. Aku sedang berusaha bersikap setenang mungkin sekarang. Walaupun jauh di lubuk hatiku aku merasa rapuh sekali sekarang.

"Katakan," ujar laki-laki itu pendek.

Aku kembali terdiam dan hanya menatap mata laki-laki itu dalam-dalam. Untuk beberapa saat kami hanya saling pandang tanpa mengucapkan apapun.

"Karena aku sangat menyukaimu, Naruto-san. Aku menyukaimu dari awal aku bertemu denganmu walaupun saat itu kau tidak tahu siapa aku. Hanya seorang gadis rendah yang bekerja di bar," kataku kemudian.

Naruto mengerjap menatapku. Aku tahu dia terkejut mendengar jawabanku, tapi dia berusaha bersikap sebiasa mungkin dengan wajah datarnya.

"Kau tahu kenapa aku selalu menghindarimu? Kau ingin tahu jawabannya? Aku hanyalah seorang gadis miskin yang tidak punya hak untuk mencintai laki-laki sepertimu. Sejauh apapun aku berusaha untuk melupakanku, kebaikanmu padaku selalu membuatku tidak bisa melupakanmu. Aku terus berusaha untuk menjauh darimu agar perasaanku segera hilang. Karena aku tahu, untuk gadis sepertiku.. mencintai seorang laki-laki sepertimu adalah suatu hal yang sangat tidak mungkin. Itulah kenapa aku selalu menghindarimu. Aku tidak mungkin mengemis belas kasihanmu 'kan? Untuk itulah, aku lebih baik menjauh darimu perlahan-lahan. Daripada aku sendiri yang terluka oleh perasaanku.." ujarku panjang lebar. Aku merasa airmata sudah mulai menggenang di mataku, tapi aku segera mengabaikannya. Aku menampik lenganku yang sejak tadi digenggam Naruto dan segera berbalik darinya.

Tapi laki-laki itu kembali menarik tanganku lagi lebih keras dan itu membuatku terpekik kaget. Tubuhku ditarik ke belakang sampai menghadapnya. Aku menatap Naruto dengan marah, tapi laki-laki itu sepertinya tidak peduli.

"Ap—umph!"

Tubuhku membeku saat aku merasa bibir laki-laki itu mengunci bibirku dengan erat. Aku mencoba berkutat melepaskan diri dari laki-laki itu, tapi laki-laki itu memegang kepalaku dengan begitu erat sampai aku tidak bisa bergerak. Aku memukul bahu laki-laki itu tapi Naruto terus mempererat ciumannya di bibirku.

Aku sudah habis kesabaran. Akhirnya aku mendorong tubuh laki-laki itu dengan keras ke belakang. Napasku menderu dengan dadaku yang berdegup kencang sekali sekarang.

"Sekarang.. Apa kau juga masih menyukaiku?" ujar laki-laki itu.

Aku tidak bisa menahan airmataku lagi. Kedua mataku mengeluarkan airmata yang sejak tadi aku tahan dengan susah payah.

"Apa hanya itu yang kau tahu tentang perasaan cinta seseorang? Apa kau menganggapku serendah itu? Jangan pernah menemuiku lagi setelah ini. Anggap kita tidak pernah bertemu," ujarku seraya berjalan meninggalkan tempat itu dengan perasaan terluka.

Aku berjalan menuju apartemenku dengan mengusap airmataku berkali-kali. Tapi sesering aku mengusapnya, airmata itu terus menerus keluar dan aku tidak bisa berhenti menangis. Dadaku rasanya sakit sekali mengingat kejadian baru saja. Apa aku memang serendah itu di matanya? Di mata seorang laki-laki yang selama ini sangat aku sukai?

Aku terus menerus menghapus airmataku. Neji tidak boleh melihatku menangis. Atau dia akan sangat cemas dan mencari orang yang membuatku menangis nanti.

Aku berjalan tanpa memperhatikan jalan di depanku dan fokus untuk menghentikan tangisanku saat aku mendengar seseorang berteriak di belakangku.

"Hinata!"

Aku baru saja akan menoleh ke asal suara sebelum aku merasakan tubuhku ditabrak oleh sesuatu dengan keras dan terlempar di atas tanah yang keras sampai aku mendengar tulang punggungku berderak. Aku tidak ingat apa-apa lagi setelah itu. Semuanya terasa kabur. Aku hanya melihat seseorang berlari ke arahku dan berteriak-teriak dengan cemas sebelum semuanya menjadi gelap.

.

.

.

.

.

.

[Sakura Haruno]

Aku melihat tanpa minat ke arah laki-laki yang sekarang berdiri di depan altar ayahku dan sedang balas menatapku dengan tatapan menantang itu.

"Pergilah. Aku sedang buru-buru," ujarku lelah.

"Apa kau tidak mau minta maaf karena sudah menginjakku kemarin malam dan membuat kakiku semakin membengkak?" kata laki-laki itu dengan nada protes.

"Kalau kakimu bengkak, istirahat saja di rumah. Kenapa malah ada di sini dan mengganggu orang?" balasku dengan nada tak kalah kesal.

"Ap-apa?" laki-laki itu terbelalak menatapku kaget.

Aku mengabaikan laki-laki itu dan meletakkan karangan bunga di depan makam ayahku. Lalu berdoa sebentar di depan makamnya.

"Kenapa kau masih di sini?" tanyaku setelah berdoa. Aku megeluarkan kartu RFID-ku dan altar itu kembali masuk ke dalam gudang.

"Kenapa kau selalu bicara ketus padaku? Padahal kita berdua mempunyai nasib yang sama," ujar Sasuke seraya menatapku.

Aku tidak menjawab untuk beberapa saat.

"Apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya?" tanyaku padanya. Tapi laki-laki itu tidak segera menjawab dan malah menatapku untuk beberapa saat. Ditatap dengan tatapan seperti itu membuatku sedikit salah tingkah.

"Apa?" tanyaku bingung.

"Kenapa aku menatapmu terus sejak tadi? Yang benar saja!" Sasuke mendorong tubuhku ke samping dengan kasar agar dia bisa lewat, dan membuatku sedikit terhuyung. Aku berdecak kesal. Laki-laki ini!

"Hei!" seruku kesal.

"Kenapa? Apa salahku? Aku.. Akk!" laki-laki itu meringis kesakitan saat kakinya tersandung anak tangga di depannya dan membuatnya hampir terjatuh ke samping. Aku menahan diri untuk tidak tertawa.

Bodoh! batinku puas.

"Kenapa kau diam saja saat melihat ada orang kesakitan seperti ini? Apa kau tidak punya rasa peduli antar sesama manusia?" ujar Sasuke dengan nada protes seraya mengusap-usap kakinya.

"Aku peduli padamu bahkan sebelum kau menyadarinya," ujarku pelan.

"Apa?" laki-laki itu menatapku bingung. Aku menggeleng cepat-cepat.

"Tidak apa-apa. Kau bisa bangun sendiri 'kan? Aku harus segera pergi," ujarku kemudian.

Tiba-tiba ponselku bordering dengan keras di saku jaketku. Aku mengeluarkannya dan melihat nama yang tertera di layar monitor. Naruto?

"Halo.."

"Sakura-chan, bisa kau segera ke sini? Aku sangat butuh bantuanmu. Aku ada di rumah sakit sekarang," sahut Naruto di seberang. Suaranya terdengar panik sekali. Aku mengerutkan dahi.

" Ada apa?" tanyaku ikut panik.

"Hinata. Dia ada di rumah sakit sekarang. Kecelakaan," jawab Naruto.

"Apa? Hinata kecelakaan?"

Aku benar-benar terkejut mendengar itu sampai aku tidak begitu mempedulikan kalau reaksi Sasuke jauh lebih terkejut dibandingkan denganku.

.

.

.

Naruto hanya berdiri di depan pintu kamar ruang gawat darurat dengan kedua tangan bersilangan di depan dadanya. Dia berdiri menatap pintu itu cukup lama sambil sesekali menghela napas panjang. Dalam hatinya ingin sekali dia membuka pintu itu untuk mengetahui keadaan gadis itu.

Naruto akhirnya memutuskan untuk duduk di atas kursi memanjang yang ada di depan pintu itu. Dia memutuskan untuk tidak masuk dulu dan memberikan kesempatan pada kakak sepupu Hinata yang sejak tadi menghubunginya berada di dalam. Ingatan Naruto kembali pada beberapa jam yang lalu, saat dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tubuh Hinata dihantam sepeda motor dengan keras sekali sampai tubuhnya terlempar ke tanah. Saat itu yang ada dalam pikirannya adalah rasa bersalahnya pada gadis itu sampai gadis itu tertabrak sepeda motor dengan begitu kerasnya. Dia yang membuat gadis itu terluka. Perasaan maupun fisiknya. Dan baru kali ini dia merasa benar-benar menjadi seorang laki-laki jahat di depan seorang gadis. Selama ini dia selalu menjaga perasaan ibunya maupun Sakura agar mereka tidak menangis. Dia melindungi mereka dengan mempertaruhkan semuanya agar mereka tidak mengeluarkan airmata. Tapi yang dilakukannya sekarang pada gadis yang bahkan tidak dia kenal dengan baik itu, dia seperti telah berubah menjadi laki-laki yang paling jahat.

"Karena aku menyukaimu, Naruto-san. Aku menyukaimu sejak awal kita bertemu.."

Kata-kata gadis itu masih terngiang jelas di dalam kepalanya dan juga bagaimana ekspresi wajahnya saat mengatakan itu.

"Kau adalah laki-laki yang tidak pernah mungkin aku miliki. Makanya aku menjauh darimu. Agar perasaanku padamu tidak terus melekat. Agar aku tidak terluka oleh perasaanku sendiri.."

Laki-laki itu menghela napas panjang seraya memejamkan matanya dan mengusap wajahnya lelah.

Gadis itu.. Gadis pertama yang membuatnya seperti ini. Dia bilang karena dia tidak berhenti memikirkanku dan terus menerus berusaha untuk melupakanku. Tapi pada akhirnya.. Justru aku yang tidak bisa berhenti memikirkannya, batin Naruto.

Pintu ruangan di belakangnya terbuka. Seorang laki-laki keluar dengan raut wajah sayu. Tapi saat dia menatap ke arah Naruto, matanya seolah berkilat dan dia melemparkan pandangan tajam yang tidak ramah ke arahnya. Laki-laki itu adalah Neji Hyuuga, kakak sepupu Hinata, begitu yang dia bilang tadi. Naruto berdiri dari tempatnya.

"Apa yang terjadi sebenarnya dengannya?" tanya Neji.

"Dia.. tertabrak sepeda motor di tengah jalan," jawab Naruto sekenanya.

"Aku tahu. Apa dia mengenalmu? Apa kalian sedang bersama-sama saat itu? Dan bagaimana dia bisa tertabrak sepeda motor sekeras itu?" tanya Neji penuh selidik ke arah Naruto.

"Apa kau seorang polisi? Kau bertanya seolah-olah akulah pelakunya. Aku.. Lebih baik kau tanya sendiri pada adikmu kalau dia sudah siuman nanti," kata Naruto akhirnya.

Neji masih belum melepaskan tatapan penuh selidiknya kepada Naruto.

"Apa kau laki-laki yang membuatnya menangis hampir tiap malam itu?" tanyanya kemudian.

Naruto mengerutkan dahi menatapnya.

"Apa?" tanyanya bingung. Neji angkat bahu.

"Entahlah. Hinata selalu berusaha menutupinya dariku. Tapi aku tahu ada yang mengganjal hatinya akhir-akhir ini. Kalau memang kaulah orangnya, aku tidak segan-segan memukulmu nanti," katanya kemudian dengan nada dingin yang tidak dibuat-buat.

"Kau boleh memukulku kapan saja kalau itu membuat rasa bersalahku pada gadis itu terbalaskan," kata Naruto kemudian. Neji balas menatapnya penuh selidik.

"Kau.. Siapa kau sebenarnya?" Neji mengernyitkan dahi menatapnya penuh ingin tahu.

Naruto tidak segera menjawab dan hanya menatap Neji dengan wajah datar.

"Laki-laki yang sangat dicintai Hinata," jawabnbya kemudian.

Neji tersenyum sinis.

"Dan kalau laki-laki itu adalah laki-laki yang sama yang membuatnya terluka, aku tidak akan segan-segan membuatnya lebih terluka lagi," katanya kemudian.

"Aku tidak keberatan," Naruto menjawab dengan waut wajah datar dan itu membuat Neji semakin geram saat melihatnya.

.

.

.

.

.

[Sakura Haruno]

Aku sampai di rumah sakit dengan langkah tergesa-gesa. Karena suara Naruto terdengar panik sekali dari tadi, aku sampai harus membuat sopir taksi yang aku tumpangi untuk segera sampai di sini. Karena Naruto bilang dia tidak tahu harus menelepon siapa lagi selain aku (karena aku satu-satunya gadis yang dia tahu dan kenal dengan Hinata mungkin).

Aku segera berjalan melewati koridor-koridor rumah sakit dan hampir bertabrakan dengan perawat yang mendorong troli berisi obat untuk sampai ke kamar khusus yang dipesan Naruto.

Aku mencari-cari kamar pasien yang pada papan namanya bertuliskan Hinata Hyuuga. Dan ternyata tidak terlalu sulit menemukannya, karena kamarnya dekat dengan koridor utama.

Saat aku membuka pintu kamar itu dengan hati-hati, aku mendengar suara tangisan seseorang dan suara seorang laki-laki yang berbisik-bisik.

Aku memasuki kamar itu dengan hati-hati. Aku melihat Naruto sedang berdiri di sudut ruangan dengan kedua tangan bersilangan dengan erat di depan dadanya sambil menatap ke tengah ruangan. Tepatnya di atas ranjang rumah sakit di mana seorang gadis sedang berbaring sambil menangis tersedu di sana. Aku mengernyitkan dahi melihat Hinata yang sedang menangis sesunggukan dengan seorang laki-laki yang tidak aku kenal sedang membisikkan sesuatu di telinganya, seperti sedang menenangkannya.

"Naruto, apa yang terjadi?" tanyaku pelan kepada Naruto. Aku melihat salah seorang perawat yang sedari tadi memeriksa alat kesehatan di samping ranjang tempat Hinata berbaring tampak sedikit panik.

"Aku juga tidak tahu. Dokter yang menanganinya tadi langsung keluar untuk memanggil seseorang," jawab Naruto. Aku mengerutkan dahi menatapnya.

"Memangnya apa yang terjadi?" tanyaku lagi, masih dengan suara sepelan mungkin.

Naruto angkat bahu.

"Aku tidak tahu. Dia langsung menangis histeris begitu tersadar tadi," jawabnya.

Pintu kamar kembali dibuka. Seorang dokter laki-laki berumur sekitar 40 tahunan masuk diikuti oleh seorang gadis berambut merah panjang yang juga mengenakan seragam dokter yang sama. Aku membelalakkan mata menatapnya. Karin-neesan? Sejak kapan dia juga bekerja di rumah sakit pusat ini? Dan kenapa harus ada seorang psikiater yang datang ke sini?

"Apa yang terjadi dengannya? Apa dia jatuh dengan kepala terbentur?" tanya Karin, kepada laki-laki yang duduk di samping Hinata. Laki-laki itu mengerling pada Naruto dan itu semakin membuatku bingung.

"Ah.. Aku tidak begitu tahu persis. Tapi sepertinya iya. Karena kepalanya terluka," jawab Naruto ragu-ragu. Aku bertanya-tanya sendiri dalam hati. Kenapa Naruto tahu? Apa dia sedang bersama dengan Hinata saat kejadian?

"Aku harus bicara dengannya dulu untuk beberapa saat. Bisa beri kami kesempatan? Mungkin kerabatnya bisa menemaninya," Karin menatap kami semua yang ada di dalam ruangan itu. Aku dan Naruto mengangguk. Dokter dan perawat yang ada di situ lebih dulu berjalan keluar. Naruto menyusul di belakangnya.

Karin mengambil tempat duduk di samping Hinata saat aku berjalan keluar.

"Sepertinya dia mengalami amnesia jangka pendek," Karin berbisik di telingaku saat aku berjalan di sampingnya.

"Benarkah?" tanyaku.

"Nanti aku akan memberitahumu," ujar Karin kemudian.

Aku mengangguk dan berjalan menuju ke pintu kamar. Saat aku memegang kenop untuk membuka pintu itu, telingaku mendengar Hinata bicara dengan suara bergetar dan terdengar ketakutan di belakangku.

"Di mana laki-laki itu? Aku melihatnya, nii-san. Saat Sasuke Uchiha membunuh otousan. Aku melihatnya, nii-san!" suara Hinata terdengar histeris di belakang sana dan aku mendengar Karin berusaha menenangkannya.

Dan kini aku yang berdiri terpaku di tempatku dengan tangan masih memegang kenop pintu dengan sikap tegang. Aku sampai tidak bisa bergerak dari tempatku sekarang saking kagetnya mendengar kata-kata Hinata baru saja.

"Itu sudah kejadian bertahun-tahun yang lalu, Hinata. Apa yang kau bicarakan?" terdengar suara laki-laki yang terdengar panik.

"Aku baru saja melihatnya. Aku melihatnya sendiri! Dia yang membunuh otousan!" aku masih mendengar suara Hinata berseru dengan nada histeris.

Aku segera tersadar kalau aku tidak boleh berlama-lama di sini. Dan dengan tangan yang masih gemetar karena shock, aku membuka kenop pintu itu dan berjalan keluar ruangan. Naruto sedang berbicara dengan seseorang di telepon saat melihatku keluar dari ruangan itu. Dia langsung menghampiriku dengan telepon masih aktif di tangannya.

"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanyanya.

Aku hanya menggeleng sambil angkat bahu lemas. Aku sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi. Tapi sepertinya aku sudah mulai menemukan sedikit jawaban atas sikap Hinata dan Sasuke yang saling bermusuhan satu sama lain selama ini. Walaupun itu belum menjawab semuanya. Dan kenapa Hinata harus dipaksa bekerja di bar milik laki-laki itu.

Aku menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Dan sejak kapan aku mulai peduli dengan masalah kedua orang itu? Sejak aku mengenal Hinata? Atau sejak aku bertemu dengan laki-laki itu di tempat pemakaman? Entahlah. Yang pasti sejak saat itu, pikiranku jadi dipenuhi dengan wajah seorang laki-laki itu.

Saat aku berdiri di depan kamar VIP itu dengan Naruto yang masih sibuk berbicara di telepon, sudut mataku seperti menangkap sosok yang aku kenal di ujung koridor. Aku melihat ke arahnya. Sasuke sudah berdiri di sana dan saat dia melihatku menyadari kedatangannya, dia segera berbalik badan dan berlalu dari tempat itu.

"Naruto, aku akan pergi sebentar."

"Mau ke mana? Aku sudah menghubungi Sasori untuk segera membawamu pulang," ujar Naruto.

"Hanya sebentar," sahutku seraya mengejar langkah laki-laki tadi.

.

.

.

"Tunggu! Kau mau pergi ke mana?" aku susah payah mengikuti langkah panjang laki-laki itu dengan terburu.

Sasuke melempar pandang dingin ke arahku.

"Ini bukan urusanmu," katanya.

"Aku tahu. Tapi dia Hinata. Kau ingin tahu keadaannya 'kan?" tanyaku.

"Apa? Aku bilang itu bukan urusanmu."

"Tapi kau tidak bisa terus menghindari kenyataan, Sasuke-san," ujarku dengan tegas.

"Kenapa? Apa yang kau tahu tentangku? Kau bahkan sama sekali tidak tahu siapa aku sebenarnya," ujar Sasuke seraya menatapku tajam. Aku menghela napas panjang.

"Aku memang tidak tahu kau siapa dan bagaimana masa lalumu. Aku bukan siapa-siapamu. Tapi aku tahu satu hal," ujarku kemudian.

Sasuke berhenti melangkah dan sekarang berbalik untuk menghadapku.

"Apa yang kau tahu tentangku?" katanya dengan sikap menantang.

Aku tidak segera menjawab dan kembali menarik napas dalam-daalam sebelum menghelanya perlahan.

"Kau tidak bisa terus mengatakan padaku kalau itu bukan urusanku. Ini hanya analisisku sementara. Kemungkinan Hinata mengalami kejutan psikologis yang membuat sebagian ingatannya hilang. Yang dia ingat sekarang adalah peristiwa yang selama ini berusaha dia tutupi yang sekarang justru muncul lagi. Ingatan yang selama ini dia tekan dalam-dalam ke alam tak sadarnya. Ingatan tentang kematian kedua orangtuanya, dan.. tentangmu," ujarku dengan suara berat.

Sasuke menatapku dengan pandangan kaget. Aku tidak tahu apa yang baru saja berkilat di bola matanya tadi. Tapi wajahnya sekarang menunjukkan kalau dia sedang menahan murka. Dia mendorong tubuhku ke samping agar bisa melewatiku.

"Apa kau tidak bisa menghargai saat seseorang bicara?" seruku seraya kembali mengikuti langkah laki-laki itu dengan susah payah.

Tapi laki-laki itu menampiknya dengan keras dan membuatku sedikit terhuyung.

Sasuke berhenti melangkah. Dia menoleh ke arahku, dan aku masih bisa melihat matanya yang dipenuhi dengan amarah itu sedang menatapku. Aku berdiri terpaku melihatnya semurka itu. Dengan langkah terburu laki-laki itu menghampiriku, menarik tubuhku dengan keras dan menghempaskannya ke dinding di sampingku sampai punggungku rasanya sakit sekali terantuk tembok marmer.

"Aku sudah bilang untuk tidak mencampuri urusanku. Lalu apa? Kalau memang aku yang membuat kedua orangtuanya mati, lalu kau mau apa?" kata Sasuke tajam. Dia menatapku beberapa saat. Dan saat mata kami bertemu dalam jarak pandang yang cukup dekat seperti itu, aku baru menyadari sesuatu yang selama ini aku rasakan. Kenyataan bahwa laki-laki ini adalah laki-laki yang akhir-akhir ini sering ada di pikiranku.

"Aku tidak peduli," sahutku.

"Kau mau mati? Aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku. Kalau kau tidak tahu urusan kami, jangan pernah ikut campur," kata laki-laki itu.

Aku terdiam, mencoba menelan ludahku dengan susah payah melewati tenggorokanku yang mulai tercekat.

"Aku hanya ingin membantumu. Menolong Hinata. Kalian berdua," jawabku.

"Apa kau seorang pahlawan? Aku tidak pernah bilang ingin minta bantuan darimu 'kan?" kata Sasuke.

Aku kembali terdiam tidak menjawab dan hanya menatap mata laki-laki itu dalam-dalam. Karena aku peduli padamu.. Kata-kata itu yang sangat ingin aku ucapkan saat ini. Tapi aku tidak bisa mengatakannya dan hanya diam saja.

"Aku hanya mengikuti naluriku sebagai seorang calon psikiater," jawabku kemudian.

"Jangan campuri urusanku lagi," kata Sasuke kemudian seraya berlalu dari hadapanku.

Aku mencoba menarik napas dalam-dalam dan menghelanya perlahan, ingin menghilangkan perasaan perih yang saat ini bercokol di dadaku. Tapi aku mencoba untuk tidak menggubris perasaan itu, walaupun sekarang rasanya tenggorokanku sakit sekali, susah payah menahan airmataku untuk tidak keluar. Aku tidak tahu kenapa aku merasa sesakit ini saat mendengarnya mengatakan dengan marah untuk tidak mencampuri urusannya lagi. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai begitu peduli pada laki-laki itu dan merasa begitu ingin membantunya keluar dari lingkaran hitam yang mengelilinginya. Tapi sekuat apapun aku berusaha mendekat ke arahnya, justru laki-laki itu yang akan mendorongku untuk menjauh.

Aku menoleh ke arah Sasuke yang berjalan menjauh dariku. Pada akhirnya aku akan selalu melihatnya berjalan menjauhiku dan membelakangiku seperti ini kan? Walaupun aku terus berusaha untuk menyamai langkahnya, pada akhirnya dia akan terus berjalan menjauhiku. Aku kembali menarik napas dalam-dalam dan mencoba mengalihkan pandanganku agar airmata yang sudah mulai menggenang di mataku tidak jatuh.

.

.

.

.

[Uzumaki Naruto]

Aku berdiri di samping ranjang Hinata yang keadaannya sudah lebih baik dari pertama kali dia sadar kemarin. Kali ini gadis itu hanya berbaring tanpa kata di ranjang rumah sakit itu, dengan Neji duduk di samping ranjangnya, mengusap tangannya dan memberikan kata-kata yang menenangkan untuknya. Dia sudah lebih rileks dari kemarin setelah diberi pengertian oleh dokter, jadi sudah tidak begitu histeris seperti kemarin.

Kata Karin, psikiater yang menangani perawatan Hinata sekaligus sepupu jauh ibuku itu, dia mengalami kejutan psikologis sampai membuatnya kehilangan sebagian ingatannya. Tapi kata gadis itu, ini hanya akan berlangsung sementara. Suatu saat kalau otaknya sudah kembali rileks, dia akan mengingat kembali perlahan-lahan.

Hinata berpaling ke arahku yang masih berdiri sambil terdiam di samping ranjang. Tatapannya padaku menyiratkan kalau dia bingung dengan kehadiranku di sini.

"Anda.. Siapa?" tanyanya pelan.

Neji menoleh ke arahku dan menatapku tajam, seolah dia sedang mengancamku kalau aku akan berbuat sesuatu yang akan membuat adiknya menangis lagi.

"Naruto Uzumaki," jawabku pelan.

Hinata mengerutkan dahi menatapku.

"Apa aku juga mengenal Anda?" tanyanya lagi.

Aku mengangguk. Menghela napas sesaat sebelum akhirnya bicara.

"Tentu saja. Ku tidak mengingatku?" tanyaku.

Hinata kelihatan diam untuk beberapa saat. Dia kelihatan berpikir sebelum akhirnya menggeleng.

"Aku tidak ingat wajah Anda. Tapi.. aku seperti pernah mendengar nama Naruto di suatu tempat," katanya kemudian.

"Tentu saja."

Hinata masih menatapku penuh tanya.

"Jadi.. Siapa Anda?" tanyanya ingin tahu.

Aku tidak segera menjawab dan hanya menghela napas panjang sambil balas menatap gadis itu. Baru beberapa saat kemudian, setelah pikiranku berdebat panjang dengan perasaanku, akhirnya aku menjawab pertanyaan gadis itu.

"Bagaimana kalau aku bilang.. Kekasihmu?" jawabku sesaat kemudian.

Hinata terbelalak mendengar ucapanku. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya saking kagetnya. Begitu juga Neji. Dia bahkan langsung berdiri dari tempatnya duduk sekarang. Tapi aku tidak peduli.

"Jangan bicara macam-macam padanya," kata Neji.

"Benarkah?" Hinata menatapku masih dengan kebingungan dan kekagetan luar biasa. Aku kembali mengangguk.

"Benar. Aku.. Kekasihmu. Kekasih yang selalu membuatmu menangis dan tidak pernah mengerti perasaanmu. Kekasih yang tidak pernah mengatakan kalau aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu selama ini. Kekasih yang pernah membuatmu sakit hati. Kekasih yang tidak pernah menyadari kalau ada seorang gadis yang begitu mencintainya. Kekasih yang lebih mementingkan akal rasionya dibanding perasaannya sendiri. Sekarang aku akan mengatakan padamu semuanya. Maafkan aku," ujarku panjang lebar. Aku mengabaikan tatapan Neji yang mungkin sekarang sedang menatapku kaget. Tapi saat ini mataku hanya menatap lurus ke mata Hinata yang juga membalas memandangku dengan tatapan bingung sekaligus kaget. Dan saat aku mengatakan hal itu, aku sedang tidak main-main. Gadis ini telah menyadarkanku, bahwa saat kita mencintai seseorang dengan tulus, kita bahkan tidak bisa membohongi perasaan kita sendiri.

"Aku.. memilih laki-laki seperti itu untuk menjadi pacarku?" tanyanya ragu-ragu. Dia menoleh ke arah Neji untuk meminta penjelasan.

Tapi Neji hanya diam saja, menungguku menjawab pertanyaannya sendiri.

"Benar. Kau yang memilihku. Kau sendiri yang mengatakan perasaanmu padaku. Kau bilang kau tidak bisa melupakanku walaupun kau ingin. Kau bilang aku hanya benalu dalam hidupmu karena membuatmu terus menerus memikirkanku. Tapi kenyatannya, aku hanya tidak menyadari perasaanku," terusku.

Hinata berkali-kali menoleh ke arahku dan kakak sepupunya dengan tatapan bingung.

"Benarkah? Anda..? Bagaimana mungkin?" Hinata kembali menatapku dengan tatapan tak percaya.

Aku kembali menarik napas dalam-dalam dan menghelanya perlahan.

"Kau mungkin tidak mengingatnya untuk saat ini. Tapi suatu saat kau akan mengingat semuanya. Aku hanya berharap, kau lupa tentang siapa diriku yang selalu membuatmu menangis dan tetap mengingatku sebagai seseorang yang akan melindungimu setelah ini," kataku kemudian.

Hinata tidak segera menjawab. Dia kembali menoleh ke arah Neji , meminta kepastian.

"Aku harap dia mengatakannya dengan tulus. Kalau dia kembali membuatmu menangis lagi.. Aku yang akan memukulnya," ujarnya, seraya melihatku dengan tatapan tajam.

"Beri aku waktu untuk itu. Kalau aku membuatnya terluka dan menangis lagi, kau bisa memukulku sepuasmu," kataku kemudian. Aku kini melihat Neji dengan wajah datar.

Teleponku berdering keras sekali.

"Aku harus bertemu dengan klien. Tapi aku akan datang lagi setelah ini," ujarku seraya keluar dari ruangan itu sambil mengangkat telepon yang sudah berdering semakin keras itu.

.

.

.

.

.

[Sakura Haruno]

Aku memasuki kamar tempat Hinata dirawat dengan perlahan dan hati-hati. Kata Karin, walaupun Hinata sudah lebih tenang dan rileks, dia masih sering merasa ketakutan dengan suara-suara yang mengejutkannya. Jadi aku masuk dengan perlahan.

Saat aku sudah ada di ruangan itu, aku melihat Naruto sedang duduk di samping tempat tidurnya seraya mengupaskan kulit apel dengan sikap kaku. Aku tersenyum sinis. Dia bahkan tidak pernah melakukan hal semacam itu untukku. Dan aku lihat Hinata hanya duduk bersandar di tempat tidur sambil menatap Naruto dengan tatapan aneh. Mungkin dia masih mencoba mengumpulkan ingatannya perlahan-lahan walaupun itu sulit sekali. Aku tidak melihat kakak sepupunya di ruangan ini.

Mereka menoleh ke arahku saat aku menutup pintu di belakangku.

Aku tersenyum ke arah mereka.

"Apa aku mengganggu?" tanyaku.

Hinata menatapku dengan tatapan penuh tanya. Ah, aku ingat dia belum melihatku sama sekali sejak sadar dari pingsannya.

"Aku sepupu Naruto. Sakura Haruno. Kita sudah saling mengenal satu sama lain sebelum ini. Bagaimana keadaanmu, Hinata-san?" kataku dengan melemparkan senyum ke arahnya. Hinata kelihatan masih sulit untuk menerima semua keadaan yang begitu membingungkannya ini, tapi tampaknya dia berusaha keras untuk kelihatan biasa saja.

"Semua.. baik-baik saja.. Sakura-san," jawabnya kemudian.

"Aku harap juga begitu," kataku. Aku menatap Naruto yang sudah selesai mengupas apelnya. Buah apel yang seharusnya berbentuk bulat itu kini tampak seperti bangun segitiga yang tidak rapi. Aku membuang napas geli. Hah~! Yang benar saja..

"Naruto, aku.. Bisa kita bicara sebentar?" tanyaku kemudian.

Naruto menoleh ke arahku dan mengangguk seraya membersihkan tangannya dengan kain.

"Kami keluar sebentar. Tidak apa-apa 'kan?" aku bertanya pada Hinata.

"Tentu saja," jawab Hinata seraya mengangguk.

Aku lalu berjalan keluar mendahului Naruto dan langsung duduk di kursi panjang yang ada di depan kamar tempat Hinata dirawat. Naruto keluar kamar beberapa saat kemudian sambil menutup pintu dan ikut duduk di sampingku.

"Mengupaskan apel, eh? Wah, kau bahkan tidak pernah melakukannya untukku," kataku.

Naruto tidak bereaksi dan hanya membenarkan letak duduknya.

"Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya tanpa basa basi.

Aku menghela napas.

"Bibi mencarimu," kataku kemudian. Naruto tidak kelihatan terkejut.

"Benarkah?" ujarnya datar.

"Dia tidak bisa menghubungimu. Dia bertanya tentang kencanmu dengan gadis pemilik saham dari keluarga sekretaris yang itu. Kau belum memberitahunya tentang itu 'kan? Dia memintaku untuk menghubungimu dan kau disuruh pulang," jawabku panjang lebar.

Naruto mendesah lelah.

"Urusan itu lagi. Apa kau tidak bisa bilang kalau aku sedang pergi keluar kota atau bagaimana?" katanya kemudian.

Aku menatapnya tajam.

"Naruto, kau tahu bagaimana karakter ibumu. Dia bisa menyuruh banyak orang untuk mengawasi anak laki-laki semata wayangnya, ke manapun kau pergi," kataku kemudian.

"Ck~! Sakura-chan, apa kau bisa menolongku?" tanya Naruto kemudian.

Aku mengerutkan dahi menatapnya.

"Tentang?"

"Jangan sampai kaasan tahu tentang hal ini. Kalau aku berada di sini untuk menjaga gadis ini," katanya kemudian. Untuk beberapa saat aku tidak menjawab dan hanya menatap Naruto.

"Apa kau.. jatuh cinta pada gadis ini?" tanyaku kemudian.

Naruto tampak berusaha bersikap sewajarnya saat aku bertanya seperti itu. Tapi dia malah kelihatan seperti orang yang sedang menahan diri untuk tidak tertawa.

"Apa aku kelihatan seperti itu?" dia balik bertanya dengan wajah datar.

"Iya. Benar 'kan? Kau menyukai gadis itu?" tanyaku lagi, dengan nada sedikit mendesak.

"Bagaimana kalau aku bilang kalau aku menyukaimu?" Naruto berkata dengan nada menggoda. Aku hanya membuang napas pelan ke arahnya.

"Lalu.. Tentang.. Hinata mengatakan sesuatu tentang masa lalunya 'kan? Tentang laki-laki yang bernama.. Sasuke Uchiha?" tanyaku ragu-ragu.

Sekarang Naruto yang ganti menatapku dengan tatapan tajam seolah sedang menganalisis isi kepalaku.

"Aku tidak begitu mengerti. Tapi... Apa yang terjadi dengannya dan laki-laki yang bernama Sasuke Uchiha itu?" tanyaku kemudian.

Naruto menarik napas panjang sebelum menghelanya perlahan.

"Hinata bilang pada psikiater yang menanganinya kalau laki-laki itu yang telah membunuh ayahnya di depan matanya. Beberapa tahun yang lalu," jawabnya kemudian.

Aku terdiam. Dan di dalam kepalaku saat ini berkelebat wajah laki-laki yang tidak pernah tersenyum dan hanya wajah dingin yang menatap ke arahku. Ingatanku dipenuhi dengan kata-katanya yang menyuruhku untuk pergi dari kehidupannya. Padahal saat dia mengatakan itu, aku bisa melihat dalam bola matanya kalau dalam hatinya dia sedang sangat terluka.

"Dan bagaimana kau bisa mengenal laki-laki pemilik bar tempat Hinata bekerja itu?" tanya Naruto. Aku masih tidak menjawab.

"Aku.. tidak tahu," jawabku kemudian. Entah kenapa perasaanku sekarang semakin tidak karuan memikirkan kehidupan keras yang dialami oleh dua orang itu. Setidaknya, Hinata masih punya kakak sepupu yang masih menjaganya setiap saat sekarang. Tapi laki-laki itu.. Entah apa yang terjadi dengannya di masa lalu. Kalau memang dia yang menyebabkan ayah Hinata meninggal, apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya bisa melihat semua kenyataan itu dari jauh. Karena aku tidak bisa mendekatinya dan harus tetap menjauh darinya.

"Jangan bergaul dengan seseorang yang tidak baik sepertinya," kata Naruto.

Aku terdiam dan tidak menanggapi perkataannya. Dia tidak seburuk penampilannya. Bahkan paman di tempat pemakaman itu bilang kalau laki-laki itu adalah laki-laki yang baik.

"Kau harus melihatnya tersenyum padamu dan kau akan tahu kalau dia adalah laki-laki yang baik.." aku masih teringat kata-kata paman itu beberapa waktu yang lalu.

"Oh iya.. Bagaimana persiapanmu untuk bulan depan?" tanya Naruto kemudian. Aku menatapnya bingung.

"Persiapan untuk apa?" tanyaku.

"Apa kau lupa? Pertunanganmu, tentu saja," jawab Naruto kemudian.

Hatiku mencelos mendengar jawaban itu. Benar juga. Aku bahkan sama sekali lupa tentang itu.

Aku meremas rambutku dengan frustasi.

"Apa aku lari dari rumah saja, ya?" tanyaku kemudian.

"Apa? Kau ini bicara apa?" Naruto menatapku kaget.

Aku menatapnya dengan tatapan lelah.

"Aku belum siap untuk semua ini. Tunangan, pernikahan.. Yang benar saja!" jawabku.

"Tapi kau akan menikah dengan Sasori. Bukankah kau bilang dia orang yang baik dan calon suami yang bisa diandalkan?" kata Naruto.

"Memang. Tapi untuk calon istrinya kelak. Bukan aku. Naruto, apa kau tahu kalau aku menyukainya hanya sebatas kakak? Sama sepertimu?" kataku seraya menatap Naruto dengan wajah putus asa.

"Kau tidak pernah mengatakan itu padaku," katanya.

"Tapi kau seharusnya tahu itu. Aku benar-benar belum siap untuk ini," kataku dengan hati berat.

"Apa kau.. punya laki-laki lain yang kau sukai?" tanya Naruto tiba-tiba.

Aku tidak segera menjawab dan terdiam untuk beberapa saat. Memikirkan jawaban bijak agar Naruto tidak menyadari apa yang aku rasakan sekarang.

"Aku hanya tidak mau mengecewakannya nanti. Dia bisa memilih gadis lain yang lebih baik dariku. Maksudku.. Aku hanya tidak ingin membuatnya kecewa kelak, itu saja," walaupun aku tidak sepenuhnya berkata bohong. Aku rasa Sasoriterlalu sempurna untukku.

"Apa kau punya seorang laki-laki lain yang kau sukai?" Naruto mengulangi pertanyaannya.

Aku kembali terdiam untuk beberapa saat.

"Iya." ujarku kemudian dengan nada tegas.

Naruto tidak menanggapi perkataanku. Dia malah menyandarkan tubuhnya pada tembok di belakangnya dan menghela napas keras-keras.

"Sekali kaasan memutuskan sesuatu, kita tidak bisa menolaknya. Seperti itu dari dulu 'kan?" katanya.

Aku tidak berkata apa-apa dan hanya mengangguk menyetujuinya.

"Lalu apa laki-laki itu tahu kalau kau sudah bertunangan?" tanya Naruto.

Hatiku kembali mencelos saat mendengar pertanyaan itu. Mau tidak mau aku harus kembali teringat pada laki-laki yang entah berada di mana sekarang itu.

"Dia bahkan tidak tahu siapa aku. Baginya mungkin aku hanyalah seorang gadis pengganggu," jawabku kemudian. Naruto kini menatapku lagi. Dan aku baru menyadari kalau aku bicara terlalu banyak.

"Siapa laki-laki itu?" tanya Naruto.

Aku tidak segera menjawab. Apa sekarang aku harus bilang padanya kalau aku menyukai laki-laki yang sangat dibenci gadis yang dia sukai?

Jadi aku diam saja dan hanya memperhatikan lantai koridor dengan tatapan setengah melamun.

"Apa aku mengenalnya?" tanya Naruto lagi.

Aku menggeleng pelan.

"Aku juga tidak mengenalnya," jawabku kemudian. Aku memang tidak mengenal siapa laki-laki itu sebenarnya. Bagaimana kehidupan keluarganya. Bagaimana kehidupannya sekarang. Di mana dia tinggal. Apa saja kesukaannya. Bagaimana gaya hidupnya sehari-hari. Aku sama sekali tidak tahu tentang itu.

"Bagaimana mungkin kau menyukai laki-laki seperti itu?" kata Naruto. Aku balas menatapnya.

"Sejauh apa kau mengenal Hinata Hyuuga, Naruto?" tanyaku kemudian.

Naruto kini yang terdiam tidak bisa menjawab pertanyaanku.

Aku menarik napas panjang dan menghelanya sebelum akhirnya berdiri dari tempatku.

"Aku harus pergi. Sasori-kun memintaku menemaninya membawa kucingnya untuk berobat setelah ini," kataku kemudian.

Naruto tidak segera bereaksi saat aku berdiri di sampingnya. Tapi kemudian dia menganggukkan kepalanya.

"Aku tidak akan bilang pada bibi tentang ini," kataku lagi sebelum akhirnya benar-benar beranjak dari tempat itu dan meninggalkan Naruto di sana sendirian.

.

.

.

.

"Aku akan menjemputmu sepuluh menit lagi.." Sasori berkata saat tanganku sudah memegang pintu mobil dan akan membukanya.

"Ah.. Baiklah," sahutku kemudian.

"Ingat.. Jangan pulang lebih dulu sebelum aku menjemputmu," kata Sasori lagi.

Aku tersenyum samar seraya mengangguk.

"Mm. Jangan khawatir," kataku kemudian.

Aku lalu segera membuka pintu mobil dan melangkahkan kakiku keluar mobil. Aku menutup pintu seraya melambaikan tanganku pada Sasori sebelum akhirnya berbalik dan berdiri di depan bangunan yang sangat familiar denganku. Suara mobil di belakangku terdengar menderu sebelum akhirnya melaju pergi.

Aku menarik napas panjang dan menghelanya lalu mulai melangkahkan kaki masuk ke tempat itu.

Pintunya setengah terbuka saat aku melangkahkan kakiku masuk ke tempat itu. Paman Kakashiyang sedang bertugas di meja kerjanya langsung menyambutku begitu aku masuk ke dalam.

"Ah~! Sakura-chan. Lama tidak melihatmu ke sini," katanya kemudian.

Aku melemparkan senyum lebar dan membungkukkan badan kepada laki-laki paruh baya itu dengan sikap hormat.

"Paman, aku membawa oleh-oleh untukmu," kataku seraya memberikan bungkusan yang sejak tadi aku bawa di tanganku.

Paman itu kelihatan terkejut saat aku memberikan bungkusan itu dan meletakkannya di atas meja kerjanya.

"Oh? Untukku?" tanyanya dengan nada terkejut.

"Tentu saja. Itu adalah soju dari Korea. Oleh-oleh dari kolega Bibiku. Karena tidak ada yang menyentuhnya di rumah, aku memberikannya untukmu," kataku.

"Wah.. Terimakasih banyak," kata paman Kakashi seraya membuka bungkusan itu dengan wajah antusias.

Aku memandang berkeliling tempat itu.

"Apa tidak ada yang ke sini?" tanyaku kemudian.

"Mereka sudah pulang baru saja," jawab laki-laki itu.

"Bolehkah aku duduk di sini sebentar? Aku menunggu seseorang sebelum menyapa ayahku," kataku.

"Tentu saja. Siapa yang akan melarangmu? Duduklah di sini," paman itu menggeser tubuhnya agar aku bisa duduk di sampingnya.

Aku duduk di tempat yang kosong dan paman Kakashi tampak masih kegirangan dengan soju yang aku berikan.

"Paman, kau bisa langsung meminumnya kalau kau memang penasaran," kataku kemudian.

Laki-laki itu menoleh ke arahku.

"Apa kau tidak minum?" tanyanya kemudian.

Aku menggeleng. Laki-laki paruh baya itu lalu menghela napas panjang.

"Aku punya anak laki-laki seumuranmu, dan dia kerjanya hanya minum saja. Benar-benar boros dan menghabiskan uang," kata paman Kakashi.

Aku melihatnya membuka tutup botol soju yang dengan alat yang ada di laci meja kerjanya.

"Itu soju beras," kataku kemudian begitu paman itu tampak mencium aroma soju dari botol dengan sukacita.

"Aku tahu. Soju mahal biasanya baunya wangi sekali," katanya seraya meneguk minuman itu langsung dari botolnya dan mendesah nikmat.

"Benar-benar enak," katanya senang.

Aku hanya tersenyum mendengarnya kembali meneguk soju itu.

"Mungkin setelah ini aku akan jarang datang ke sini," kataku beberapa saat kemudian.

Paman Kakashi berhenti minum soju dan meletakkan botolnya di atas meja seraya menatapku penuh tanya.

"Kenapa begitu?" tanyanya.

"Ah, begini.. Bulan depan aku akan meresmikan pertunanganku. Jadi.. Untuk selanjutnya, mungkin aku akan disibukkan dengan persiapan pernikahan dan lain sebagainya. Jadi.. Aku mungkin akan jarang ke sini," jelasku kemudian.

Aku membuang napas pelan. Sungguh. Membahas hal seperti itu dengan orang lain benar-benar seperti sebuah tekanan untukku.

"Jadi.. Kau tidak akan ke sini?" ujar paman itu.

"Aku akan datang ke sini. Tapi tidak sesering ini," jawabku kemudian.

Paman Kakashi tidak mengatakan apa-apa dan hanya menatapku untuk beberapa saat.

"Kau tidak tampak senang dengan itu. Maksudku, aku tidak bermaksud untuk ikut campur. Tapi biasanya, orang yang akan menikah selalu berwajah ceria. Bukankah begitu?" katanya kemudian.

"Benar. Kalau kau menikah dengan orang yang kau sukai," jawabku pelan.

"Kalau kau merasa tertekan, kenapa tidak mencoba jujur pada perasaanmu sendiri?" katanya kemudian.

Aku menatapnya kaget.

"Apa?"

"Jujur kepada orang yang kau sukai. Menyatakan perasaanmu padanya. Setidaknya, kau akan jauh lega dari sekarang," jawab Paman Kakashi.

Lalu aku tersenyum dengan terpaksa.

"Percuma.. Kalaupun aku mengatakan pada orang yang aku sukai, itu hanya akan membuatku kelihatan bodoh. Karena dia tidak menyukaiku. Mungkin.. Lebih tepatnya, membenciku. Jadi.. Tidak ada alasan untuk menolak pertunangan ini 'kan? Karena laki-laki yang aku sukai, tidak menyukaiku," kataku kemudian. Aku mencoba untuk tersenyum, tapi sebenarnya ada yang mengganjal berat sekali di dadaku.

"Hmm..." paman Kakashi hanya mengangguk-angguk seraya mengusap dagunya.

"Toiletnya bau sekali..."

Sebuah suara tiba-tiba terdengar di belakangku. Aku langsung mematung di tempat tanpa menoleh ke belakang. Sepertinya aku mengenal suara ini.

"Oh.. petugas kebersihannya tidak datang hari ini, Sasuke-san" kata paman itu.

Aku tidak menoleh sedikitpun ke belakang maupun ke samping tapi langsung berdiri dari tempat dudukku dengan perlahan.

"Aku.. pergi dulu," kataku kemudian.

"Kau tidak berdoa untuk ayahmu?" tanya paman itu.

"Besok.. Aku akan ke sini lagi," kataku lagi seraya berpamitan pada laki-laki paruh baya itu dan berjalan menuju pintu keluar.

"Oh.. Terimakasih sojunya, Sakura-chan!" teriak paman itu. Tapi aku hanya melambaikan tangan kepadanya tanpa menoleh dan keluar dari tempat itu.

Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya keras-keras.

Apa yang aku lakukan tadi? Hah~! Aku tidak boleh bertemu dengan laki-laki itu lagi. Seharusnya aku tidak bersikap gegabah seperti tadi. Bodoh seperti biasa.. Ah! Entahlah!

Aku melangkahkan kakiku pergi dari tempat seraya mengirimkan pesan pada Sasori untuk menjemputku di kedai kopi saja. Aku akan menunggunya di sana.

.

.

.

.

[Sasuke Uchiha]

Aku mengernyitkan dahi begitu melihat seorang gadis pergi dari tempat itu dengan terburu. Gadis itu tidak menoleh ke belakang saat paman Kakashi memanggilnya dan hanya melambaikan tangannya lalu keluar dari tempat itu.

Meskipun aku tahu siapa gadis itu, tapi aku pura-pura untuk tidak mau tahu.

"Apa kau mendengar pembicaraan kami tadi, Sasuke-san?" tanya paman itu.

"Tidak," jawabku singkat. Aku membenarkan letak jaketku. Ada sebuah botol minuman yang tutupnya sudah terbuka di atas meja kerja paman itu. Walaupun ada tulisan hangul di botolnya, tapi aku bisa membacanya. Soju beras yang mahal. Pasti dari gadis itu.

"Sasuke-san, duduklah di sini. Anak itu tadi memberikanku oleh-oleh ini. Katanya dari Korea. Apa kau mau menemaniku minum? Ada dua botol dan tidak mungkin aku habiskan sendiri," paman Kakashi mengeluarkan lagi satu botol dari bungkusan yang ada di atas meja.

Aku angkat bahu tapi akhirnya duduk di samping paman itu.

Paman Kakashi mengambil sebuah gelas plastik yang tersedia di dekat mejanya, bersebelahan dengan tempat minum yang telah disediakan di sana.

Dia lalu menuangkan soju itu ke gelas itu dan memberikannya padaku.

"Omong-omong.. Ke mana pacarmu yang waktu itu?" tanya paman Kakashi seraya menuangkan soju untuk dirinya sendiri.

"Apa?" aku menatapnya kaget.

"Bukankah gadis yang waktu itu.. Yang datang bersamamu itu.. pacarmu? Yang dari negri asing itu," kata paman itu.

Aku tersenyum sinis seraya menyesap soju di gelas yang aku bawa. Tenggorokanku jadi hangat begitu soju itu aku minum.

"Bukan. Itu bukan pacarku. Dia adalah anak kolega ayahku," kataku kemudian.

"Benarkah? Aku pikir dia pacarmu. Dia menempel terus padamu. Sepertinya kau juga nyaman-nyaman saja dengannya. Semua orang pasti berpikir kalau kalian berdua adalah sepasang kekasih," kata paman Kakashi.

"Aku belum memikirkan ke arah itu," kataku.

"Oh, kenapa?" tanya paman itu, menatapku dengan tatapan kaget.

Aku tidak segera menjawab dan hanya menghela panjang.

"Entahlah. Belum ada gadis yang menarik perhatianku," jawabku kemudian.

"Bukankah banyak gadis cantik di sekelilingmu?" tanya paman itu lagi.

"Memang. Tapi.. Entahlah.. Mereka hanya membuatku semakin frustasi," kataku.

Paman Kakashi tidak menanggapi perkataanku dan kembali menyesap sojunya lalu mendesah nikmat. Sepertinya dia menikmati sekali acara minum soju ala kadarnya seperti ini.

"Hanya ada dua anak muda yang sering datang ke sini dan menemaniku mengobrol. Tapi mungkin sepertinya, setelah ini hanya kau yang akan menemaniku di sini, Sasuke-san," kata paman itu kemudian.

Aku menatapnya bingung.

"Oh? Kenapa begitu?" tanyaku heran.

"Sakura-chan mungkin tidak akan sering datang ke sini lagi setelah pertunangannya. Kau tahu Sakura 'kan? Gadis yang tadi itu," ucap paman itu.

Aku terdiam sebentar.

"Iya. Aku tahu dia," sahutku singkat.

Paman itu kelihatan mendesah panjang.

"Aku hanya kasihan padanya. Dia akan bertunangan dengan laki-laki yang tidak disukai," kata paman Kakashi prihatin.

Aku angkat bahu.

"Sepertinya kebiasaan jodoh menjodohkan itu sudah mendarah daging," aku menanggapi tanpa minat.

"Benar juga. Aku dulu juga dijodohkan orangtuaku. Tapi aku sudah mencintai istriku sejak pertama kami bertemu. Begitu juga istriku. Tapi aku tidak membayangkan kalau harus menikahi orang yang tidak aku sukai, sedangkan di lain sisi.. ada gadis lain yang saaaangat aku sukai," kata paman itu.

Aku terdiam sebentar untuk memikirkan jawabannya.

"Ya.. Pergi saja dengan orang yang kau cintai," kataku kemudian.

"Tapi bagaimana kalau orang yang aku cintai ternyata tidak mencintaiku? Aku harus pergi ke mana?" kata paman itu.

Aku mengernyitkan dahi menatap paman dan menatapnya dengan tatapan heran.

"Paman, apa kau sudah mabuk? Kenapa kau bertanya sepertiku? Bukankah kau sudah hidup bahagia dengan istrimu?" tanyaku kemudian.

Paman itu terdiam sebentar sebelum akhirnya menggeleng.

"Tidak. Aku hanya menirukan kata-kata Sakura tadi," jawabnya kemudian.

Aku mengangguk mengerti.

"Ahh~ Jadi selain dijodohkan.. Gadis itu juga mencintai orang lain, tapi laki-laki itu tidak menyukainya?" kataku menarik kesimpulan.

Paman Kakashi terdiam sebentar sambil menatapku penuh makna.

"Terkadang.. Menunjukkan sedikit perasaan simpati pada seseorang itu tidak terlalu buruk. Apa kau pernah mencintai seseorang dan perasaanmu diabaikan oleh orang yang kau sukai?" kata paman itu. Aku tidak segera menjawab. Aku tidak tahu kenapa paman Kakashi tiba-tiba berbicara dengan nada seserius ini padaku.

"Aku mengabaikan perasaanku sendiri agar aku tidak merasa terluka lagi," jawabku kemudian.

"Bagaimana kalau aku mengatakan.. Kalau laki-laki yang sangat dicintai gadis itu adalah.. kau?" tanya paman itu kemudian.

Aku sekarang menatapnya kaget.

"Apa? Mana mungkin?" kataku tak percaya.

Paman itu angkat bahu.

"Awalnya juga aku tidak menyadarinya. Tapi melihat sikapnya padamu ini tadi.. Aku rasa laki-laki yang dia bicarakan beberapa saat sebelumnya itu adalah kau," kata paman itu.

"Aku?" aku masih tidak percaya dengan perkataan paman tadi.

"Bukalah sedikit hatimu untuk orang lain. Kau akan menyadari kalau benar-benar ada orang yang menyayangimu di dunia ini," kata paman Kakashi.

Aku hanya terdiam dan tidak segera menjawab kata-katanya untuk beberapa saat lamanya.

.

.

TBC

A/N: Oke. This is weird, I know.

Semakin ke sini kenapa ceritanya semakin aneh, ya? Aku juga gak sabar mau cepet-cepet namatin. Tapi ternyata jadinya begini. Kenapa malah jadi semakin panjaaaang?

Baiklah, baiklah. Cukup sampai di sini update'annya.

Ketemu lagi entah kapan.

Besok saya udh harus back to my real life lagi.

See ya..

Makasih buat review dan dukungannya atas fic ini. Makasih udah mau baca juga..