Namjoon terus memandangi jihoon yang bermain dengan boneka barunya. Ia tersenyum. Bukan karena lucunya boneka. Melainkan wajah jihoon. Sebenarnya ia tersenyum miris. Karena jihoon begitu mirip dengan yoongi. Hanya saja jihoon dalam bentuk perempuan. Wajah imut, manis, dan kulit pucatnya.
"Samcheon?"
"Eoh? Kenapa? Jihoon haus?"
"Tidak." Jihoon menggeleng dan kembali menatap boneka dipangkuannya. "Apa jihoon punya appa?"
Namjoon menautkan alisnya. Jihoon berkata sangat pelan seperti ragu dengan pertanyaannya sendiri.
"Tentu saja sayang." Namjoon mengusap rambut jihoon dengan sayang.
"Apa mereka pernah menikah? Seperti imo dan samcheon nanti?"
"Itu juga iya." Sepertinya namjoon sudah mulai berkeringat dingin. Bahkan pertanyaan jihoon lebih menyeramkan daripada ayahnya yang berteriak marah jika dia melewati batas deadline.
Jihoon tampak berbinar.
"Samcheon ada fotonya tidak?"
Namjoon menatap jihoon seakan-akan bertanya kenapa-harus-samcheon?.
"Kalau jihoon tanya kepada eomma, jihoon takut eomma marah dan sedih."
"Maaf sayang. Samcheon tidak punya. Soalnya samcheon mengenal jin imo dan eommanya jihoon baru tiga tahun yang lalu. Sebenarnya, samcheon juga tidak pernah melihat appanya jihoon. Samcheon berfikir, mungkin orangtua jihoon berpisah."
"Kenapa mereka berpisah?"
"Samcheon tidak berani menanyakannya. Bagaimana kalau eommanya jihoon sedih?"
"Oh begitu. Pasti mereka mempunyai alasannya kan samcheon?"
"Eoh?"
Mungkin kejeniusan namjoon sudah kalah telak dengan pertanyaan-pertanyaan jihoon. Belum lagi raut wajah jihoon yang tersenyum mengerti dengan kebingungan namjoon.
"Jihoon pernah bermimpi kalau eomma meninggalkan jihoon. Lalu sebelum pergi, eomma bilang ada sebuah alasan yang membuat mereka tidak bisa bersama. Tapi jihoon tidak berani bertanya dengan eomma. Tapi, jihoon bisa tidak ya bertemu dengan appa?"
"Tentu saja bisa sayang." Seokjin duduk di hadapan jihoon dan namjoon yang menatapnya dengan bingung. "Jihoon mau tidak bertemu dengan appa?"
"Benarkah imo?"
Seokjin mengangguk dan tersenyum yakin. "Tapi imo mau bertanya satu hal. Apa jihoon tidak marah kan dengan appanya jihoon?"
"Tidak imo."
.
Setelah menempuh perjalanan dan mendatangi beberapa rumah sakit, mereka akhirnya bisa menemukan rumah sakit tempat yoongi dirawat. Baru saja saat sampai di ujung koridor, mereka menemukan wanita tadi dna ia sedang duduk dengan cemas di kursi luar tunggu.
"Kalian?"
"Maaf nyonya. Kami baru datang sekarang."
"Tidak apa-apa."
"Halmeoni..." Jihoon yang berada di gendongan namjoon memanggil dengan sangat pelan. Mungkin dia malu dan menyembunyikan wajahnya dileher namjoon.
"Jangan malu sayang."
"Aigoo. Jihoonie berat sekali." Jihoon masih malu dan namjoon menurunkannya. Namjoon melihat wanita itu mengulurkan tangannya dan dengan yakin, jihoon memegang tangan itu dan mereka pun masuk ke dalam ruangan itu bersama-sama.
Pemandangan yang mereka lihat sungguh menyedihkan. Berbagai macam alat bantu kehidupan terpasang ditubuh yoongi. Kulitnya yang pucat semakin pucat dan tubuhnya semakin kurus.
"Eoh? Yoongi oppa? Imo! Itu yoongi oppa kan? Tapi tadi kata imo kita mau bertemu dengan appanya jihoon."
Seokjin mengusap rambut jihoon.
"Itu appanya jihoon."
"Bagaimana bisa imo?"
Seokjin tersenyum dan mendudukkan jihoon dipinggir ranjang yoongi.
"Lihat! Jihoon manis, imut dan berkulit pucat seperti appa."
Jihoon tampak berfikir sejenak dan melihat tangannya kemudian membandingkannya dengan tangan yoongi. Lalu, tangannya bergerak mengusap punggung tangan yoongi yang tidak diinfus.
"Appa...kapan appa bangun? Apa tidak mau bermain dengan jihoon ya? Padahal jihoon mau bermain dengan appa seperti teman-teman jihoon yang lain. Tadi kata samcheon dan imo, appa suka tidur ya? Tapi appa tidak bosan tidur terus? Appa harus bangun ya? Nanti kita bermain bersama-sama. Dengan eomma juga. Jihoon sayang appa." Jihoon mengangkat tangan yoongi dan menciumnya. Jihoon terkejut karena tangan yoongi yang bergerak menggenggam tangannya dengan lemah. Matanya terbuka dan bibirnya yang terpasang masker oksigen melengkungkan senyuman.
"Imo! Samcheon! Appa sudah bangun! Appa mau bermain dengan jihoon kan?"
Senyuman yoongi yang lemah semakin lebar. Ia mengangguk lemah. Namjoon menekan tombol untuk memanggil dokter. Seokjin menurunkan jihoon saat dokter sudah datang. Dokter segera memeriksa yoongi dan keluar menemui mereka setelah selesai.
"Ini keajaiban. Pasien hanya perlu beristirahat untuk memulihkan tubuhnya yang cidera dan...ah! Berat sekali mengatakannya. Pasien harus menjalani operasi pendonoran sumsum tulang belakang."
"Lagi Dok?" Tanya wanita itu yang terlihat shock. Seokjin dan namjoon saling bertatapan.
"Operasi harus tetap dijalankan nyonya. Jika tidak dijalankan, pasien mungkin tidak bisa akan bertahan lebih lama lagi. Dan jika dijalankan, kemungkinan berhasil hanya tigapuluh persen."
"Dokter, sebenarnya yoongi sakit apa?" Namjoon yang sedari tadi penasaran mulai bertanya.
"Leukimia." Jawab wanita itu.
"L-leukimia?" Seokjin menutup mulutnya dan namjoon terduduk di kursi.
"Saya permisi dulu. Silahkan keruangan saya jika ingin bertanya sesuatu." Dokter itu berkata dengan ramah sebelum berlalu.
"Yoongi sakit leukimia saat berusia tiga tahun dan ibunya yang mendonorkan sumsum tulang belakang untuknya. Karena itulah ibunya lumpuh dan meninggal karena kepalanya terbentur meja sebelum jatuh ke lantai. Saat itu usia yoongi baru lima belas tahun. Appanya begitu membenci dirinya sejak pendonoran itu dan dia semakin murka setelah eommanya meninggal. Yoongi sering dipukul jika tidak mengikuti perintah appanya. Seluruh hidupnya diatur. Hingga suatu hari dia kabur dan kami baru bertemu saat yoongi ke jepang untuk mengatur perjodohannya. Dia benar-benar marah besar. Saat itu pun saya juga marah kepadanya. Bahkan ayahnya sempat koma."
Seokjin mengeratkan pelukannya untuk jihoon setelah mendengar cerita singkat yang begitu menusuk hatinya dan juga namjoon.
"Saya begitu menyesali perbuatan saya yang tidak bisa membelanya waktu itu. Saya mengirimkan pesan agar tetap menghubungi saya apapun yang terjadi kepadanya. Hingga seminggu yang lalu yoongi menghubungi saya dan yoongi terdengar sangat kesakitan. Tapi sayangnya, dia mengalami kecelakaan sebelum kami bertemu."
"Imo, appa akan baik-baik saja kan? Appa akan bermain dengan jihoon kan?"
Seokjin tidak bisa menjawab dan hanya bisa memeluk jihoon dengan sangat erat.
.
"Tidak imo. Jihoon tidak mau pulang. Jihoon mau bersama appa."
Jihoon menggenggam tangan yoongi yang tersenyum melihat tingkah manja jihoon dan membelakangi seokjin yang berusaha menahan emosinya. Bagaimana pun juga yoongi butuh istirahat dan begitu juga jihoon. Dia bisa saja sakit kalau terjaga sepanjang malam.
"Appa harus beristirahat sayang."
"Tidak mau!"
"Sudahlah. Tidak apa-apa. Bukankah besok hari minggu? Sofa disini cukup nyaman untuk jihoon tidur."
Seokjin hanya bisa mengalah apalagi ibu tirinya yoongi berkata dengan begitu lembut.
"Namjoonie, aku akan pulang untuk mengambil baju jihoon dan mungkin aku akan membawa jimin kesini."
"Ini kuncinya. Berhati-hatilah."
Seokjin tersenyum sebelum berlalu.
"Samcheon, appa sakit parah ya?"
"Tidak kok. Oh ya, jihoon belum makan malam kan?"
"Belum."
"Nyonya, anda pasti masih belum makan."
"Tidak. Kalian duluan saja."
"Halmeoni ayo! Jihoon belum pernah makan bersama halmeoni."
"Baiklah sayang."
Jihoon membisikkan sesuatu kepada namjoon dan namjoon menyetujuinya. Jihoon ingin mengecup kedua pipi yoongi yang beristirahat.
"Besok appa bangun lagi ya?"
.
Gelap.
Hal yang menyambut seokjin saat ia sampai di rumahnya. Tidak ada tanda-tanda kalau adiknya itu pulang ke rumah. Namun dirinya hanya terfokus untuk mengambil baju untuk jihoon serta selimut kesayangannya.
"Dimana anak itu?"
.
"OPPA!" Jimin terbangun dari tidurnya. Ia sangat terkejut karena mendapati dirinya tidur di sofa ruangannya belum lagi langit yang tadinya terang berganti dengan gelap. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Ia memeluk lututnya dan menunduk kemudian menangis.
"Kau masih disini?" Seokjin baru saja memasuki ruangan jimin dan cukup terkejut melihat adiknya. Rasa kesalnya menghilang begitu saja dan ia langsung memeluk jimin. "Kau kenapa?"
"Aku bermimpi buruk eonni. Yoongi oppa pergi. Dia meninggalkanku."
"Tenanglah. Aku dan namjoon baru saja menjenguk yoongi."
Jimin melepas pelukan dan menatap kakaknya.
"Setelah eonni meninggalkanmu tadi, kami pergi ke rumah sakit."
"Bersama jihoon juga?"
"Jihoon begitu bahagia setelah mengetahui yoongi adalah appanya. Aku yakin kalau jihoon masih bercerita banyak hal kepada yoongi."
"Bagaimana bisa?"
"Eonni akan menjelaskannya nanti. Sekarang, ayo kita pergi!"
Seokjin kembali terduduk karena jimin menahan tangannya.
"Apa eonni mengetahui alasannya? Alasan kenapa yoongi oppa..."
.
Mobil yang dikendarai seokjin sudah sampai dibasement. Ponsel seokjin berbunyi karena mendapat pesan dari namjoon setelah mereka berdua turun.
"Ah iya! Jiminnie, bisa kau ambil boneka jihoon? Namjoon menyampaikan pesan dari jihoon untuk membawa bonekanya."
Jimin yang baru membuka pintu melihat ke kursi bagian belakang. Darahnya mendesir saat melihat boneka itu. Dengan berat hati ia mengambilnya dan mencoba tersenyum kepada seokjin.
"Aku benar-benar tidak bisa memisahkan mereka." Jimin berkata sambil tersenyum menatap boneka itu dan membuat seokjin menautkan alisnya.
"Maksudmu?"
"Yoongi oppa juga menyukai kumamon sejak aku memberikannya sebagai hadiah ulang tahun."
"Ah iya!" Seokjin teringat dengan yoongi yang mempunyai banyak koleksi benda berbentuk kumamon.
"Eonni, bagaimana bisa aku menemuinya sekarang?"
Seokjin tersenyum lembut dan mengecup dahi jimin.
"Kalian terpisah cukup lama. Belum lagi berbagai cobaan berat dalam hubungan kalian. Tapi bagaimanapun itu, kalian tetap saja bertemu dan eonni yakin, dengan hadirnya jihoon dalam kehidupan kalian, kalian akan bisa bersama-sama lagi. Cinta kalian begitu kuat."
"Eonni..."
"Jimin adikku itu pemberani. Bukan penakut seperti ini."
.
Jimin langsung membalikkan tubuhnya saat baru saja memasuki ruang perawatan yoongi. Tenaganya lenyap seketika melihat keadaan yoongi. Seokjin mengenggam tangan Jimin untuk menguatkannya. Masih dengan memegang boneka kumamon, Jimin menguatkan dirinya untuk menghampiri yoongi.
"Oppa, lihat boneka ini. Jihoon sendiri yang memilihnya. Aku iri oppa. Jihoon terlalu mirip dengamu bahkan selera kalian juga."
"Uhuk...Uhuk..."
"Oppa? Kau kenapa?"
"Air..." Ujarnya dengan suara yang serak. Masker oksigennya sudah dilepas. Jimin segera mengambil air dan membantu yoongi untuk duduk lalu membimbingnya minum. Suasana kembali canggung setelah jimin meletakkan gelas itu diatas nakas.
"Itu milikmu?"
"Eoh? B-bukan. Ini milik jihoon. Dia akan menginap disini."
"Begitu...bagaimana denganmu?"
Jimin tercenung sejenak.
Seokjin mulai merasa tidak nyaman. "Jiminnie, eonni akan menyusul mereka di kantin. Kau bisa menyusul nanti."
"Iya eonni."
Mereka berdua sama-sama melihat pintu yang ditutup oleh seokjin. Jimin menunduk dan meremas boneka yang dipegangnya.
"Maaf..." Bahunya bergetar dan airmata sudah mengalir dipipinya. "Orang sepertiku tidak pantas untukmu oppa! Tidak pantas! Bahkan aku jauh lebih buruk dari dirimu! Kau yang menderita karena aku, sial, dan..." Jimin terduduk dilantai dan meremas boneka itu semakin kuat. "Argh! Bahkan aku benar-benar tidak pantas untuk melihat bayanganmu sekalipun."
Yoongi tidak bisa berbuat apa-apa melihat jimin terisak dan terduduk di lantai. Tubuhnya benar-benar lemah.
"Aku lah yang tidak pantas untukmu! Aku hanya laki-laki lemah. Bahkan aku tidak bisa menghapus airmatamu sekarang. Ah! Sudahlah! Lupakan semua masa lalu kita. Tidak ada satupun yang bisa merubahnya. Yang bisa kita lakukan adalah membuat masa depan menjadi lebih baik. Masa depan jihoon."
Jimin berdiri dan langsung memeluk yoongi.
"Apa kita bisa bersama oppa? Sebelum kau menjawab, aku mohon jangan pupuskan harapanku lagi untuk ketiga kalinya. Aku mohon." Jimin berkata dengan tetap pada posisinya.
"Kalau operasiku tidak berhasil, aku mungkin akan mengecewakanmu lagi."
Jimin terisak pelan didada yoongi.
"Aku tau ini sangat egois. Bertahanlah setidaknya demi jihoon. Dia sangat menginginkanmu. Jika kau akan mengecewakanku lagi, setidaknya jangan kecewakan dia. Aku mohon."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ampun readers! Author nggak sengaja bikin readers pada baper. *ditimpukinreaders
Tapi intinya kemarin itu cuma mimpinya jiminnie doank. Author nggak mungkin bikin yoongi-ku seperti itu. Maafin author ya readers yang baik hati?
Jangan bosan nunggu untuk chapter selanjutnya ya? Reviewnya juga.
Bye~~~~~~~~~~~~~~~~~
