:: The Omega ::
.
.
.
.
Baekhyun itu... Pemarah.
Dia Baekhyun, dia tengah hamil muda dan sangat sensitif pada apapun. Dia selalu marah dengan kesalahan kecil bahkan itu tak bisa dikatakan kesalahan.
"Chanyeol jangan duduk di sana!" Lihat wajahnya, dia mempelototiku hanya karena aku duduk dengan Jongdae. "Kau tak menyukaiku hari ini? Baiklah!" Dia menarik Haechan agar duduk dekat dengannya lalu memeluk lehernya.
"Hei kau akan membunuhku!" Jerit Haechan.
Haechan tak bisa bernafas, aku mencuri kekehan sebelum Baekhyun akhirnya terus mempelototi berusaha keras membuatku takut. Aku beranjak, menghampirinya dan menarik kursi Yixing yang belum hadir di kantin. Memandangnya lama agar dia menghentikan wajah menggelikan itu. "Aku menyukaimu hari ini, disetiap harinya aku selalu menyukaimu." Aku merayunya dan berhasil memancing rona manis di pipinya.
Seruan teman-temanku semakin memperjelas rona merah itu.
"Hentikan, hentikan, kalian membuatku ingin muntah." Jaemin menyembunyikan wajahnya dilipatan lengannya.
"Katakan kau juga menyukaiku~" Haechan bertingkah imut, suara dan tingkah bak anak kecil itu sangat imut walau dia tercekik oleh kekasihku.
"Ackh!"
Aku mengerjap melihat Baekhyun mencekik Haechan sebelum melepaskannya, dia mendorong Haechan hingga tersungkur jauh dari meja kami. Haechan menjerit berlebihan untuk kulit yang bergesekan sedikit dengan lantai itu. "Ada apa denganmu Baek?" Protesnya.
Sebelum menoleh untuk memperlihatkan wajah protesnya Haechan terlebih dahulu mendongak untuk seseorang di depannya. "Hei kau baik-baik saja?" Tanyanya.
Kami semua menaruh perhatian kami pada Haechan yang terlihat tak mau bangun karena seseorang di depannya, menunggu orang itu membantunya mungkin? Haechan itu kadang-kadang terlalu repot menurutku.
"Hei Mark, bantu dia." Kataku.
Ya namanya Mark, temanku. Mark baru saja dipindahkan ke sekolahku untuk alasan yang tak kutanyakan karena sepertinya dia tak ingin memberitahunya. Kami juga pernah bertetangga sebelum keluarganya memutuskan tinggal di luar negeri.
Mark mengulurkan tangannya untuk membantu Haechan, Haechan tersenyum agak aneh menurutku sebelum bertanya cukup konyol. "Hei Mark, namamu keren. Dari luar negeri?"
Aku tersenyum geli, membiarkan Haechan membuat Mark pusing dengan celotehannya. Baekhyun di sampingku benar-benar gawat, aku menurunkan tanganku untuk mengusap perutnya secara perlahan selagi semua fokus teman-temanku pada Haechan dan Mark.
"Apa yang membuatmu marah sayang, hm?" Tanyaku pelan tepat di depan telinganya.
Aku menyusupkan wajahku pada perpotongan lehernya, menyesap bau manis yang selalu menguar membuatku tak terkendali. Aku menarik pinggangnya semakin dekat denganku bahkan aku hampir membuatnya duduk di atas pahaku. "Katakan, aku tak akan melakukan apapun lagi yang membuatmu marah."
Tanganku terus mengusap kulit lembutnya, membuatnya bergerak tidak nyaman karena tanganku. Pipinya yang manis mulai memerah, rona yang semakin membuatku tak terkendali dengan bibir yang dia gigit secara tidak sadar.
"Chanyeol..." Dia menyentuh tanganku di balik seragamnya, menuntun tanganku untuk melakukan lebih selain mengusap.
Aku melakukannya, menyentuh sesuatu yang Baekhyun ingin aku menyentuhnya. Puting mungilnya ku sentuh dan dengan cepat benda imut itu mengeras hanya karena sentuhanku. Aku mencubitnya karena gemas dan secara tak sadar Baekhyun menjerit.
"Hei hei dua orang ini berbuat yang tidak-tidak!"
Jaemin memergoki kami, selain karena jeritan Baekhyun dia memang ada di sampingku. Aku terkekeh lalu membenarkan posisi dudukku setelah mengeluarkan tanganku.
"Di mana Mark?" Tanyaku setelah menyadari Mark dan Haechan tak ada di sini.
"Sudah kubilang kan dia berbuat yang tidak-tidak sampai tidak tahu apa yang terjadi." Celetuk Jaemin.
"Teman, aku pergi." Jaemin beranjak dari kursinya dengan membawa kaleng sodanya.
"K-kau mau kemana?" Tanya Baekhyun.
"Perpustakaan." Jawabnya.
"Sejak kapan Na Jaemin pergi ke tempat seperti itu?" Tanya Jongdae tanpa menoleh pada orang yang dimaksud, dia sedang fokus pada buku catatan Yixing untuk mencocokan dengan buku catatannya.
"Sejak berteman akrab dengan Renjun dan mantan kekasihnya."
Yixing baru saja tiba, dia merangkul Jaemin lalu menyapukan pandangannya pada kami. "Mana Tao?" Tanyanya menyadari jumlah kami. " Dan Haechan?"
"Tuan Zhang, berhenti bertemu diam-diam dengan Tuan Kim dan datanglah tepat waktu agar tahu apa yang terjadi." Jaemin membalasnya.
Kami berseru menangkap keterkejutan Yixing dan rona samar di pipinya.
"Aku t-tidak bertemu di-diam-diam!" Yixing menyangkalnya.
Aku tahu Yixing dan Kim Junmyeon memang terlihat sangat dekat akhir-akhir ini, mereka akan datang berlatih bersama dan mereka sama-sama terlambat untuk alasan yang tidak jelas. Yixing terliat marah, dia menghampiri Jongdae lalu mengambil buku catatannya.
"Kau sudah selesai? Aku akan mengambil ini dan akan pergi mencari Tao dan Haechan." Yixing pergi sebelum Jongdae mengeluarkan suaranya.
"Nana kau tahu betul Yixing itu sangat sensitif." Baekhyun berujar menyalahkan Jaemin.
"Ya, aku bahkan hampir menyelesaikannya!" Protes Jongdae.
Jaemin memutar matanya. "Dah!" Jaemin pergi tak ingin membuat dirinya semakin terpojok.
"Chanyeol!"
Aku menoleh setelah mendengar panggilan seseorang.
"Ya Ten?" Sahutku ketika mengetahui itu adalah Ten.
Ten menghampiriku, mendekatkan bibirnya padaku lalu berbisik dan aku tersenyum mendengarnya.
"Kupikir Yixing butuh bantuan untuk mencari Tao dan Haechan," Baekhyun berdiri, aku memperhatikannya dan Ten berhenti berbisik karena aku menoleh pada Baekhyun. "Dah!" Baekhyun menghentakan kakinya sebelum benar-benar pergi.
.
.
.
"Hei mau kemana?"
Baekhyum menghalangi jalanku, membentangkan tangannya tepat di depan pintu kelasku, menghalangi bukan hanya aku tapi juga teman-teman sekelasku yang lain. "Latihan," Jawabku. "Pulang dan istirahatlah sayang, hari ini aku tak bisa mengantarmu." Aku menggantungkan tasku di bahu.
"Oh jadi begitu? Aku masih anggota tim dan kau seenaknya melupakanku?" Dia bersedekap dada dan menatapku seolah aku telah melakukan kesalahan fatal.
"Dengar sayang, kau tahu bukan-"
"Baik, bersenang-senanglah kapten, aku hanya pemain cadangan bukan?"
Untuk sesaat aku merasa benar-benar buruk pada Baekhyun, mata imut itu berkilauan karena air mata dan dia menatapku sangat terluka.
"Kau tak pernah menganggapku, aku membencimu!"
Dia berlari pergi meninggalkanku dan seketika aku merasa pening. Dia seperti itu mungkin karena dia sedang hamil, ini sangat merepotkan dari Baekhyun yang biasanya jujur saja.
Alasanku menempatkan Baekhyun diposisi itu bukan karena aku tak menganggapnya, di sana masih ada Yuta dan aku tak bisa menggantikannya karena sejak awal sebelum tim terbentuk pelatih memang sudah merencanakan bahwa Baekhyun akan menjadi pemain cadangan.
Saat berada di lapangan Baekhyun berubah menjadi egois, walau sudah diperingatkan dia tetap secara tidak sadar mengulangnya, dia menguasai bola sendirian.
Aku bergegas untuk menyusul langkah tak tentu arahnya, tentu aku tak bisa membiarkan Baekhyun berkeliaran dengan air mata dan berakhir berbicara yang tidak-tidak. Aku kehilangan jejaknya karena dihadang wajah polos Chenle dan anak kelas dua; Jisung.
"Uh... Bukannya lapangan sepak bola ada di sana?" Tanyanya sembari menunjuk ke arah kanan.
"Baekhyun menangis tadi," Dia memberitahu sebelum aku menjawab karena Chenle sangat tahu aku selalu mencari Baekhyun. "Dia bilang itu karena salahmu."
Aku tak bisa membiarkannya berkeliaran sebelum dia tahu apa maksudku melakukan itu. Seharusnya dia sudah tahu dan mengerti apa maksudku melakukan ini namun Baekhyun akhir-akhir ini selalu menggunakan emosinya daripada otaknya. "Dia mengatakan kemana dia akan pergi?" Tanyaku.
Chenle menatap Jisung bertanya sedangkan anak itu sama bertanya-tanya seperti dirinya. Aku mendesah jengkel lalu menepuk kepala Chenle dan melanjutkan langkah terburuku tanpa menunggu jawaban mereka.
"Lapangan basket mungkin? Semua orang ada di sana!" Teriak Chenle pada akhirnya.
.
.
.
Aku hari ini rela tak latihan demi untuk membujuk Baekhyun di lapang basket, padahal latihan hari ini penting mengingat satu minggu lagi tim kami akan diseleksi untuk tim nasional.
Aku menghela nafas ketika melihatnya bergelayut manja pada Sehun, aku tak melihat Jaemin bersamanya. Aku menghampirinya, menariknya agar menjauh dari Sehun, dia tersentak sebelum menyadari akulah yang menariknya.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Dia meronta dan aku melepaskan lengannya karena aku tak mau menyakitinya.
Dia ketakutan namun tetap berusaha berani padaku. "Kau harus pulang." Kataku.
Dia berbalik dan hendak pergi dari hadapanku namun aku lebih cepat menangkap tangannya. "Tidak!" Dia menolak dan kembali meronta.
"Aku bilang tidak! Chanyeol lepaskan Aku! Aku tak mau pulang bersamamu aku membencimu!" Dia berteriak memamcing perhatian orang-orang.
Aku tak mengiyakannya, tetap mencengkram tangannya dengan hati-hati dan kembali menariknya keluar dari lapangan indoor ini. "Chanyeol kau egois! Chanyeol kau bajingan, aku membencimu bajingan, lepaskan aku!" Dia benar-benar ingin aku mendapat cap buruk, aku menariknya hingga wajah kami sangat dekat, menatapnya dengan tegas dan aku bisa merasakan dia sangat ketakutan.
Dia mundur setelah aku melepaskannya, berharap dia mengerti namun dia tak mengerti juga. Dia berlari pada Sehun seolah meminta pertolongan, aku sangat geram, ada apa dengannya?
"Byun Baekhyun!" Panggilku.
Semua orang tersentak, aku tidak sengaja membentaknya dengan suara keras menggema. Aku mengabaikan tatapan semua orang, aku fokus menatap Baekhyun dan kilauan air matanya. Dia akan menangis namun dia tetap menghampiriku.
"Ayo pulang." kataku dengan intonasi normal.
Dia mengikutiku namun tak berapa lama Sehun bertanya dan membuat kami berhenti. "Chanyeol ada apa denganmu?"
"Seperti yang kau lihat, aku menyuruhnya pulang." Jawabku tak ingin basa-basi.
"Kau tak bisa memaksanya jika dia tak ingin." Kris menambahi.
Aku melirik Baekhyun dan sekarang dia menunduk. "Benar begitu Baekhyun?" Tanyaku. "Kau tak ingin pulang?"
Dia mendongak, menatapku dengan air mata menuruni pipinya. Aku tak bisa melihatnya menangis namun kali ini aku harus bersikap tegas padanya, dia tak bisa bersikap seperti ini jika yang dia tahu hanya atas dasar emosinya.
"A-aku a-akan pulang," Jawabnya. "Ta-tapi tidak sekarang"
"Lihat? Sebenarnya dia tak ingin pulang, kau tidak bisa memaksanya hanya karena kau Alphanya, dia punya hak." Sehun menghampiri kami, bermaksud membawa Baekhyun kembali namun Baekhyun ketakutan dan pergi ke belakang punggungku karena aku mengeluarkan peringatan berbahaya yang hanya bisa dirasakan oleh Omega dan mate-ku
"Apa menurutmu aku akan membiarkannya yang tengah mengandung anakku pergi sendirian tanpa diriku? Alpha yang bertanggung jawab penuh atas mate-nya?" Semua orang tersentak dan aku sudah tidak peduli tentang perjanjian yang kami buat.
'Jangan katakan pada siapapun bahwa aku sedang mengandung sebelum perutku membesar!'
'Dan kau akan dapat service-ku setiap kau ingin.'
.
.
To be continued...
.
.
Halu teman2~ saya nih bela2in nulis seadanya lewat hengpong hanya untuk kelean, pc saya rusyak hueee TT
Btw, mungkin ada yang bertanya2 kok saya tau jumlah siders ff ini? begini gays, saya liat kalian para siders difollowers dan favourites ff ini, tekun banget dah saya liatin nama2 akun kalian dikolom review sama difollowers/favourites :') yang saya itung ya kalian yang berakun aja eh tapi kalian yang guest sama yang gak foll/favo juga ngereview (walau saya tau gak semua), terus kalian yang foll/favo juga gak semua ngereview :')
saya senang dan dapat semangat dari review2 kalian untuk menulis jadi jika kalian para readers gak menyempatkan review ya saya males lanjutin karena merasa gak dihargai -_-
So, saya bukannya haus review saya cuma mau dihargai untuk karya saya yang gak seberapa ini tapi bisa sedikit menghibur kalian :)
Btw, untuk typo yang ada mohon dimaklumi, saya copas dari hengpong soalnya :'v
