Gintama © Sorachi Hideaki
.
Much Ado about Something
.
.
.
Kumpulan ficlet dari A hingga Z tentang keseharian 4 laki-laki di Shouka Sonjuku.
.
"The suspicious mind conjures its own demons."― Hanshiro Tsugomu
.
.
.
#7. G = Ghost Story
"Bagaimana kalau kita mendengarkan cerita hantu?"
Gintoki tidak ingat siapa di antara kedua teman sekamarnya yang memulai ide ini. Yang jelas jawaban terbaik yang bisa ia berikan adalah tidak.
Tidak.
Dan itu bukan karena dia takut atau apa.
Akan tetapi, sama seperti hukum yang berlaku di dunia ini: suara mayoritaslah yang akan berkuasa. Kedua anak itu setuju dan mengabaikan hak asasi manusianya.
Sudah ia katakan sebelumnya, bukan? Ketidaksetujuannya terhadap ide ini bukan karena ia takut pada cerita hantu, tetapi karena Gintoki berpandangan bahwa hantu itu seperti manusia, tidak suka bila ada yang membicarakan di belakangnya ("Gintoki, hantu itu tak ada," jawab rekan sekaligus archenemy -nya itu).
Dia menoleh pada Zura, mencari pembelaan sambil memasang wajah memelas yang jarang-jarang sudi ia keluarkan. ("Tak perlu takut, Gintoki. Bahkan dalam tidur, mataku tetap bisa mengawasimu!" –justru itu salah satu hal yang menambah ketidaknyamanannya.)
"Mulai saja, Zura," tanpa belas kasihan, Takasugi malah memerintahkan Zura untuk segera memulai idenya barusan.
Zura berdehem sekali setelah bergumam 'Zura janai, Katsura da'. Gintoki menutup telinga, berharap gelombang suara tak mampu menggetarkan gendang telinganya. Percuma saja.
"Sebelumnya, aku peringatkan bahwa cerita ini bukan fiksi atau rekaan, tapi legenda yang berdasarkan pada kisah nyata," Zura berdehem lagi sekali, "pada suatu hari..."
Tok...tok...tok...
"Shouyou, kau sudah tidur?"
Gintoki mengetuk pintu geser di depannya. Berkali-kali dia menoleh ke segala arah—tiga ratus enam puluh derajat. Kalau sampai Shouyou tidak membuka pintu ini, Gintoki memutuskan akan mendobraknya apapun yang terjadi. Masalah Shouyou marah atau apa bisa dia tangani besok, mungkin. Yang terpenting sekarang, dia tak ingin diselimuti rasa paranoid seperti ini hanya karena cerita hantu bodoh buatan Zura.
Itu cuma buatan Zura. Fiktif, fiktif, fiktif.
Selang beberapa detik setelah ia berbisik, pintu geser itu terbuka menampilkan sosok sang sensei yang sedang mengucek sebelah mata. Beruntung Gintoki tak perlu mendobrak pintunya.
"Boleh aku tidur di sini?"
Shouyou tertegun sebentar sebelum mengembangkan senyum khasnya.
"Tumben sekali. Ada apa?"
Gintoki segera masuk ke dalam ruangan yang baru saja diterangi dengan cahaya lampu minyak oleh pemiliknya.
"Tak bisa tidur."
Gintoki tahu bahwa kedua mata Shouyou mampu membaca isi hatinya, sumber kegelisahannya sekarang, sama seperti ketika ia membaca pergerakannya mengayunkan shinai saat latihan. Dan teruntuk alasan itulah, Gintoki hanya perlu menjawab sekenanya. Pada akhirnya, Shouyou pasti akan mengetahui segalanya.
"Kau takut?" Bingo.
Dia hanya bergumam 'mungkin' sambil memasukkan diri ke dalam futon kedua yang baru saja digelarnya.
"Kali ini apa? Yuki-onna? Tengu?"
"Iblis pemakan bangkai."
Shouyou tertawa.
"Tidak lucu, Shouyou."
"Seperti apa penampilannya?"
"Rambutnya putih semua. Tubuhnya kecil, tapi serangannya kuat. Mengincar mayat manusia di medan pertempuran," ragu-ragu Gintoki menjawab pertanyaan itu.
Shouyou tertawa lagi. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.
"Sudah kubilang, tidak lucu. Kenapa kau tertawa terus, sih?"
Shouyou menahan diri untuk tidak berkata 'bukankah itu dirimu?'. Melihat ketakutan pada wajah murid pertamanya ini adalah hiburan tersendiri baginya.
"Kurasa sehebat dan sejahat apapun iblis yang dikatakan oleh kedua temanmu ini, aku pasti bisa mengalahkannya. Kau percaya?"
Gintoki mengangguk sambil membenamkan wajah pada bantalnya. Shouyou itu monster, mana mungkin dia bisa kalah.
"Jadi selama aku ada, apa lagi yang perlu kau takutkan?"***
FIN
*Archenemy: musuh bebuyutan
*Shinai: semacam pedang kayu, tapi biasa digunakan untuk kendo
*Yuki-onna: wanita salju, makhluk mitos dari Jepang
*Tengu: makhluk penunggu gunung yang terlihat seperti manusia gagak, makhluk mitos dari Jepang
A/N:
Huwaa, ini apa? Percakapannya tiba-tiba jadi banyak hahaha (padahal chapter 1 sama sekali gak ada)
Saya asumsikan mereka bertiga itu tinggal di Shouka Sonjuku dan tidur sekamar. Trus, ya, yang diceritain Zura itu mitosnya Gintoki, tapi orangnya gak sadar dan malah takut xD
Aaah, makasih buat yang masih sudi baca cerita ini. Maaf ya update-nya lama (padahal masih sempet2nya nulis fanfik lain.) Idenya udah ada lama banget, cuma saya masih bingung nulisnya biar lebih kerasa. Jadinya malah gini lagi hahaha :')
Okedeh, sampai jumpa chapter selanjutnya, ya. Semoga enggak bosen baca fanfik saia :3
