Mereka semua berkumpul. Semua anggota Akatsuki semuanya hadir dalam pertemuan kali ini. Berbagai macam ekspresi tersaji disetiap raut wajah anggotanya. Serius, penasaran,tak sabar, ambisius, senang, bersemangat, dan datar.

Dalam sebuah ruangan meeting di Amegakure House, terdapat sebuah meja budar yang dikelilingi 12 kursi. Kalau dilihat ruangan itu bergaya khas ruang meeting sebuah kantor/ perusahaan. Para anggota akatsuki duduk rapih disetiap kursi yang dipimpin oleh sang Kitsune dikepala meja.

Namikaze Naruto nampak menampilkan segala kharismanya, dengan mimik yang serius, ia menatap satu persatu wajah anggotanya. Sang Kitsune nampak sangat puas melihat tekad dimata masing-masing personil Akatsukinya. Ia menyeringai bangga, kemudian berdehem pelan.

"Seperti yang kalian ketahui, organisasi yang akan kita hancurkan adalah Hebi," katanya mengawali. "Mulai hari ini kita akan mengasah kembali kemampuan masing-masing kalian. Aku ingin melihat sejauh mana kalian berkembang," lanjutnya menuai anggukan dari semua orang yang mendengarnya.

"Hebi bukanlah organisasi yang mudah kita kalahkan, mereka adalah organisasi terbesar dan berbahaya nomer 1 dijepang, anggotanya mungkin lebih dari 100 orang. Untuk itu, kita harus mempunyai strategi khusus untuk menghadapinya. Aku akan membuat sistem partner dalam misi kali ini. Origami, tolong beritahu kepada mereka!" kata Naruto panjang lebar kemudian memberikan perintah kepada Konan.

Wanita satu-satunya dalam Akatsuki itu membuka tabletnya sebelum menjelaskan. " Shukaku dan Mr. Puppy dipasangkan dengan code name Team A."

Gaara dan Kiba mengangguk, mereka memang sering bersama sehingga tampak senang-senang saja menerimanya.

"Pain dan Mr. Kugutsu sebagai Team B. Rikudo dan Mr. Insect sebagai Team C. Dan untuk Team D Kurama dengan Amaterasu," kata konan mengakhiri penjelasannya.

Kyuubi dan Itachi nampak tidak setuju. Mereka saling melemparkan tatapan –Aku –tidak–mau–berpartner–dengannya.

Sementara itu, Sasuke nampak menyeringai senang saat tahu dirinya pasti berpasangan dengan Naruto. 'Jodoh memang tak kemana!' pikirnya mulai kepedean.

"Maaf,Kitsune-sama.. Aku keberatan jika berpartner dengan Kurama." Itachi yang masih trauma jika berpasangan dengan Kyuubi menyuarakan protesnya kepada Naruto. 'Ooh.. Ayolah.. Aku masih ingat bagaimana rubah itu hampir membuatku mati karena setumpuk apel saat misi,' batinnya mendumel saat mengingat misinya kemarin dengan Kyuubi.

"Aku yang seharusnya berkata itu Keriput! Aku tidak mau denganmu!" sungut Kyuubi tak terima. Kyuubi juga masih ingat bagaimana Itachi meninggalkannya saat misi, tidak merasa bahwa dirinyalah yang memang menyebalkan dan biang keroknya.

Naruto memutar matanya bosan. Sedangkan Sasuke mulai cemberut, ia yakin Itachi dan Kyuubi menginginkan sang Kitsune sebagai pasangannya. Enak saja!

"Aku tidak menerima penolakan!" kata Naruto datar namun terdengar mutlak dan tidak ingin dibantah bagi Itachi dan Kyuubi. Kedua pemuda itu nampak tidak suka dengan keputusan sang Kitsune, namun apa boleh buat? Bisa apa mereka melawan Kitsune? Lain halnya dengan Itachi dan Kyuubi, Sasuke diam-diam bersorak dalam hati.

Ayey!

"Dan untukmu Taka! Aku ingin melihat dulu kemampuanmu. Setelah itu, kau akan tahu siapa yang akan jadi partnermu," jelas Naruto mengakhiri .

Eh?

Semua orang nampak mengkerutkan dahi– bingung. Bukankah sudah pasti pasangan Sasuke adalah Naruto? Lalu dengan siapa? Sasuke sudah jelas sekali akan menyuarakan protesnya ketika Konan berdehem dan tersenyum manis.

"Kitsune-sama akan berpartner denganku.." Ucapnya begitu terdengar merdu dan bahagia, namun bagaikan nyanyian neraka untuk Sasuke sendiri. Pemuda bungsu Uchiha itu amat keberatan dengan keputusan Kitsune, lantas ia mulai memberikan protes.

"Apa maksudmu dengan 'kau akan tahu siapa yang akan menjadi partnermu' itu Kitsune?" tanyanya dengan suara ketus. Sama sekali tidak memperlihatkan suatu kesopanan kepada sang pemimpin yang disegani setiap anggotanya itu.

Naruto sedikit mendengus dengan sikap arogan sang Uchiha muda. "Origami jelas harus dipasangakan denganku karena dialah satu-satunya anggota perempuan diakatsuki dan kau juga akan tahu alasan lain kenapa dia dipasangkan denganku, selain itu dia cukup mengikuti dibelakang dan aku yang melindunginya," tukasnya bijaksana disertai pekikan tertahan dari Konan yang tampak teramat bahagia karena merasa menjadi seorang puteri yang harus dilindungi oleh ksatrianya. Dan catat! Naruto adalah kesatrianya. Kemudian Naruto melanjutkan perkataannya. "Dan kita akan kedatangan 3 anggota baru Akatsuki," kata Naruto santai dengan seringai yang terilhat mencurigakan.

Siiiinggg~~

"EEEEEEHHH?" Kaget Kiba dan Konan dengan kerasnya. Sementara, anggota Akatsuki lain nampak menoleh cepat kearah Naruto dengan wajah yang terlihat kaget juga.

'Tiga anggota baru? Siapa mereka? Kenapa Kitsune terlihat senang?'

'Damn! Si Dobe benar-benar membuatku kesal!'

.

.


DISCLAIMER: Masashi Kishimoto

Pair : NaruSasu Slight NaruIta,ItaKyuu,dll

Gendre : Romance,Drama,hurt, Acttion (masih diragukan)

Rate : M

BOYXBOY,Yaoi,lime,gaje,dll

Dont like dont Read!


.

.

Suasana teramat begitu tegang. Ruangan yang didominasi dengan peralatan antik yang tebuat dari kayu jati itu dihuni oleh 5 pria petinggi Hebi. Sang pemimpin alias Orochimaru menampakan wajah murka, kulit pucat diwajahnya terhias dengan rona merah refleksi dari amarah yang begitu besar.

BRAAKK!

Pria pencinta ular itu menggebrak meja dengan kerasnya, meluapkan sebagian emosinya. "Brengsek! Shh.. Kenapa kerja kalian tidak becus HAH?! Uchiha Fugaku masih hidup!" Bentaknya kepada empat orang dihadapannya. Kabuto nampak takut, sedangkan Zabuza dan Haku nampak tegang.

Satu-satunya orang yang berwajah datar diantara mereka berujar dingin, "Kau tenang saja Orochimaru. 3 tembakan cukup membuat orang tua itu koma, serahkan padaku sisanya. Akan kupastikan orang itu mati."

Hening untuk beberapa saat.

"Jangan mengecewakanku lagi,Sai," timpal Orochimaru yang nampak lebih tenang. Ia kembali duduk dikursinya, kemudian menatap Zabuza tajam.

"Lalu, bisa kau jelaskan kenapa sampai saat ini Namikaze itu tetap hidup, Zabuza?" tanya Orochimaru lebih terdengar seperti mengejek dan meremehkan.

Zabuza memutar matanya bosan, pembunuh berdarah dingin itu tidak terpancing sama sekali dengan perkataan Orochimaru.

"Anak buahmu bahkan tak becus sedikitpun untuk membobol keamanan dikediamana Namikaze dan Rasengan Corp, kau tahu? Namikaze tidak semudah itu kau temukan," kata Zabuza sarkas, membanting Orochimaru dengan lugasnya.

Orochimaru nampak berpikir, ia menyisir rambut panjangnya dengan jari-jarinya yang panjang terlihat sedikit frustasi. 'Sial! Kenapa sesusah ini?'

"Kabuto?"

"Maaf, Tuan. Memang benar Karin dan Kimimaru tidak berhasil membobol keaman dan melacak Namikaze. Mereka bahkan hampir ketahuan saat mencoba membobolnya," jelas Kabuto serius. Dari suaranya menyiratkan suatu keheranan yang dalam. Aneh memang, mengingat Karin dan Kimimaru adalah anggota terhadal yang dipunyai Hebi dalam hal membobol keamanan tanpa ketahuan. Kemapuan mereka tak bisa lagi diremehkan, membobol data kepolisian pun mereka lakukan dengan mudahnya.

"Sepertinya ada yang aneh.." Lirih Kabuto pelan namun masih cukup keras untuk didengar semua pasang telinga kelima orang tersebut.

Sai mengangguk setuju. "Ya. Dan sepertinya aku tahu siapa dalang dibalik ini semua adalah–..." katanya menggantung menuai pemikiran yang sama disetiap kepala masing-masing Hebi itu.

"Akatsuki.." Desis Orochimaru tajam, dengan aura yang begitu menegang.

Ruangan mendadak senyap, suasana yang berat terjadi untuk beberapa saat.

Sai mengangguk membenarkan. "Hanya merekalah yang bisa melakukan ini semua."

Lalu?

"Khekhekhe..."

Tiba-tiba kekehan iblis itu terdengar dimulut Orochimaru yang bergetar. "Well.. Mungkin inilah saatnya membuktikan siapa yang paling berkuasa. Akatsuki sialan itu takkan ku biarkan mengacau lebih jauh lagi," ucap sang pimpinan Hebi menunuai lirikan tertarik dari beberapa pasang mata.

'Akatsuki! Kau akan kubuat menyesal karena telah ikut campur urusanku!'

Dan semuanya terlihat menyeringai saat melihat pria ular itu mengeluarkan sebuah foto seorang pemuda bersurai raven yang tengah menyeringai. Kecuali–

'D-dia?'

–Sai yang nampak terkejut melihat siapa yang terdapat pada foto itu.

.

.

.

Sasuke duduk diujung sofa tempat istirahat dan berkumpulnya para anggota Akatsuki. Tampaknya sang bungsu Uchiha ini tengah dalam mood yang sangat buruk, sehingga dia hanya bisa diam dan memandangi semua teman-temannya dengan padangan tak minatnya. Ah– Naruto kurang ajar! Rutuk Sasuke sepanjang waktu.

" Hay Outoutoku~.." Sapa Itachi dengan ramahnya kepada sang adik, kemudian ia mendudukan dirinya persis disebelah Sasuke seraya memberikan senyuman terbaiknya kepada adiknya tersayang.

Sasuke hanya menanggapinya dengan dengusan terganggu. Itachi menghela nafas berat karenanya. 'Kapan Sasuke akan bersikap baik kepadaku?' batinnya sendu– galau sendiri.

"Kau tak berlatih?" Itachi terus melancarkan pendekatan terhadap adiknya, berharap ia bisa memperbaiki hubungan yang buruk dengan Sasuke. Namun hanya kenihilan yang didapat Uke sang Kitsune itu, sang adik masih bertahan dengan ketidakpeduliannya. Ah– ngomong-ngomong.. Itachi mulai ragu dengan statusnya dengan Naruto sekarang.

Sasuke melirik kakaknya dengan pandangan bosan– datar, sedatar jalan tol Shibuya. Pun Itachi tersenyum kembali. "Aku mengerti," katanya. "Akupun merasakan hal yang sama, outouto."

"Apa maksudmu?" Akhirnya Sasuke membuka suara.

Itachi tampak lega saat adiknya memberi respon. "Aku juga ingin selalu bersama dengan Naruto," ia berkata pelan. "Kau pun begitu'kan? Bukankah kita menyukai pria yang sama,Outoto?" tanya Itachi menyeringai, terlihat begitu menyebalkan dimata Sasuke.

Sang adik memalingkan wajahnya kemudian medengus keras melalui hidung bangirnya. "Jangan sok tahu!" Ketusnya tidak suka dengan perkataan Itachi– walaupun apa yang dikatakan kakaknya adalah sebuah kebenaran. "Kau tak pernah tahu apa-apa tentangku!" katanya keras dengan sedikit emosi.

Sejenak Itachi tertegun sebelum wajahnya berubah menyendu walaupun dengan wajah ala Uchihanya yang datar, akan tapi Sasuke menyadari perubahan ekspresi itu. Sebagaimanapun intensitas perubahannya yang sangat minim dan cepat kembali. "Kau salah, Sasuke–" Itachi menerawang kearah depan setelah mengalihkan perhatiannya dari sang adik. "Kau adalah adik kecilku. Dan tetap akan menjadi adik kecilku selamanya," Dan aku akan tetap selalu memahami apa yang kau rasakan, tambahnya dalam hati.

"Jangan pernah berkata hal yang menjijikan, Itachi!"

"Dan aku juga tahu apa yang sebenarnya kau inginkan," Itachi mengabaikan perkataan Sasuke sebelumnya. Bibir pucatnya kembali menyeringai, "berniat merebut Kitsune dariku, hmm?" Ia bertanya menantang, wajah datarnya menghilang berganti dengan tatapan yang meremehkan. Pria berambut ekor kuda itu berubah, bertingkah menjadi seorang yang sangat menyebalkan bagi Sasuke.

Pun Sasuke terpancing. Entah kenapa Sasuke merasa Itachi seperti sedang mengajaknya kedalam sebuah pertarungan. Dan tatapan meremehkan Itachi seolah menjadi api dihati Sasuke yang semakin emosi– merasa ia dianggap pencudang oleh kakaknya sendiri. Damn! Dia berjanji akan merebut Naruto dari baka-anikinya. Naruto, will be MINE! Dan dialah pemenangnya, patennya.

Kedua pasang onyx setajam gagak itu saling bertautan. "Jangan sombong, Itachi," desis sang Uchiha bungsu menggeram. Wajah kesalnya kontras dengan si Sulung yang bertahan dengan wajah datar. "Kau akan menyesal dengan perbuatanmu," lanjut Sasuke ketika Itachi malah mengedikkan bahu seolah tak peduli. Benar-benar bertingkah menyebalkan.

"Kita lihat. Apakah dia akan berpaling darimu?" ucapnya dengan nada menggoda, rahang Sasuke mengeras. "Kau lupa? Siapa yang sebenarnya kekasih dari Naruto?" beonya lagi puas ketika melihat sang adik menahan amarahnya yang siap meledak. 'Ah.. Aku merindukan wajah itu,' batinnya senang ketika melihat wajah marah Sasuke yang siap membunuh. 'Dia tetap terlihat manis seperti dulu!' lanjutnya sinting menilai wajah ngamuk voldemort ala Sasuke terlihat manis. Sang kakak menikmati momen kemarahan sang adik yang mungkin sudah beberapa tahun tak pernah ia lihat kembali. Setidaknya Sasuke tidak besikap tak acuh kepadanya. Itachi senang, walaupun ia harus memancing Sasuke marah terlebih dahulu.

'Itachi sialan! Baka!'

"Brengsek kau Ita...–!"

Plok Plok Plok!

Perkataan Sasuke terpotong.

Suara tepukan tangan mengalihkan setiap fokus para anggota akatsuki– termasuk Uchiha bersaudara yang tengah bersitegang, dan Narutolah pelakunya.

"Sudah cukup bersantainya," katanya. "Sekarang pergilah ke tempat latihan!" Perintahnya. Beberapa orang seperti Yahiko, Nagato, Gaara, Konan, Sasori dan Shino langsung bergegas menurut perintah sang pimpinan tanpa bersuara. Lain halnya Kyuubi dan Kiba yang berteriak penuh semangat kepada sang pimpinan. Naruto tertawa gemas sambil mengacak kepala oranye dan cokelat itu secara bergiliran.

Ah.. Kyuubi dan Kiba terlihat sangat menggemaskan.

Apalagi saat mereka bertingkah manja seperti itu. Naruto menyukainya, sangat- sangat menyukainya. "Bagus! Kalian berdua buktikankah kemampuan hebat kalian!" Semangat sang Kitsune kepada dua pemuda manis yang kini tengah bersemu karena mendapatkan senyuman maut Naruto yang terlihat awesome.

"HA'I!" Kompak Kyuubi dan Kiba berseru. Naruto terkekeh geli ketika mendapati sikap hormat pemuda yang berusia 19 tahun itu. Kyuubi dan Kibapun berlalu atau lebih tepatnya errr.. berlari dengan semangat layaknya anak SD yang sedang bermain kejar-kejaran– tidak mau kalah satu sama lain.

'Ah... Mereka berdua memang lucu!' Batin Naruto gemas tersenyum hangat.

Blush!

Kedua Uchiha yang bersitegang itu tampak terpesona dengan senyuman hangat Naruto. Sasuke bahkan melupakan kekesalannya terhadap Itachi.

Wah.. Sehebat itukah senyuman Naruto?

Atau karena para Uchiha itu terlalu mengaggumi sosok Naruto?

"Ehem!" Naruto berdehem dengan satu alis terangkat, memandang kedua Uchiha bersaudara dengan tatapan heran. "Kenapa kalian masih berdiri disana?" tanyanya ketika melihat Itachi dan Sasuke yang masih berdiri disebrangnya hanya menatapnya dengan tatapan tak dimengerti Naruto.

"Hn," guman keduanya kompak. Naruto sweatdrop.

Itachi melirik Sasuke, kemudian menyeringai setan. Ah.. Dia punya ide untuk mengusili adiknya lagi. Pemuda dengan tanda lahir pada wajahnya itu menghampiri sang Kitsune, tersenyum dengan senyuman yang ia buat setampan mungkin. Sasuke mulai curiga dengan tindak-tanduk kakaknya yang mencurigakan. Apalagi saat tubuh tinggi tegap Itachi merangkul Naruto dengan mesra. Sementara, Naruto semakin menaikan intensitas kenaikan sebelah alisnya, tanda ia semakin heran dengan tingkah anak buahnya tersebut.

"Amaterasu?" panggil Naruto ketika Itachi melayangkan tatapan seduktif kearahnya. Hey.. Ada apa dengan pemuda itu?

"Hari ini kau terlihat tampan," ujar Itachi membuat Naruto terpaku– aneh.

"Kau baik-baik saja Itachi?" Bisik Naruto pelan saat Itachi malah mendekapnya– mesra.

"Jangan banyak komentar Naru," balas Itachi tepat ditelinga sang Kitsune sehingga terlihat Itachi sedang mencium Naruto dimata Sasuke yang menatap tajam mereka.

"Jangan main-main, Tachi. Seharusnya Kau la–"

BLAAM!

–tihan," lanjut Naruto yang terpotong dengan suara debaman pintu yang keras sekali. Tentu saja, anak sulung Namikaze itu kaget. "Astaga!" Lonjaknya.

Itachi terkekeh kemudian melepaskan rangkulannya kepada Naruto. "Bukankah adikku terlihat manis saat sedang marah?" tanyanya kepada Naruto yang masih terheran-heran.

3 detik Naruto berpikir, kemudian ia mendapatkan kesimpulannya sendiri. Ia mendengus cukup keras. "Kau bukan kakak yang manis," katanya. Lalu Naruto menyeringai, "tapi kau benar. Sasu-chan memang manis saat marah seperti itu," lanjutnya – sama sintingnya dengan Itachi menilai wajah menyeramkan Sasuke manis.

"Ah.. Kau benar-benar berselingkuh," Itachi berkata sok tersakiti namun tidak dengan wajahnya yang terlihat datar, membuat Naruto meringgis melihatnya. Karena Itachi terlihat aneh.

"Salahkan adikmu yang terlalu menggoda untuk dia Lbaikan," timpal Naruto tidak peduli.

"Jahat sekali~," sekali lagi sang Uchiha sulung bertingkah OOC. Naruto sendiri memutar matanya bosan. "Tapi, tak masalah untukku," lanjut Itachi seraya mengedikan bahunya, "hanya saja kau harus merelakan adik manismu menjadi mangsaku selanjutnya." Itachi menyeringai.

Naruto tersenyum. "Dari awal aku sudah tahu, kau saja yang terlalu bodoh untuk menyadari perasaanmu sendiri," ujarnya menghina si jenius Uchiha 'BODOH' seraya berjalan menuju pintu diekori Itachi dibelakang yang kesal. "Berterimakasihlah kepada adikmu. Karena berkatnya akhirnya otak bodohmu bisa membedakan mana rasa kagum dan mana rasa cinta, khekhe..," kekeh Naruto ketika ia menengok kebelakang ia bisa melihat wajah datar Itachi berubah kesal.

"Kau benar-benar menyebalkan Naruto!"

Hah... Naruto memang pandai membuat Itachi mengeluarkan ekspresi.

.

.

AAAAAA

.

.

Sebagai tiga anggota baru sebuah organisasi besar yang bernama Akatsuki –orang-orang khusus yang dipilih langsung oleh Naruto – takkan menyia-nyiakan kesempatan besar nan langka ini. Rasanya luar biasa. Seperti kita berdiri gagah diatas menara paling tinggi tanpa satu pengamanpun. Berbahaya, menantang, namun terselip seribu kebanggaan didalamnya. Tidak semua orang bisa berdiri gagah diatas puncak, begitu pula tidak semua orang bisa masuk kedalam Akatsuki. Hanya orang-orang terpilih dan spesial-lah yang bisa memasukinya. Well, mereka harus berbangga hati dong termasuk dalam kategori tersebut?

Pemuda berperawakan jangkung dengan rambut panjang cokelat bergaya ikat ekor kudanya memainkan sebuah posel dengan wajah mumet. Eh mumet? Sejujurnya dia sudah teramat bosen disuruh menunggu berjam-jam tanpa melakukan sesuatu, atau berbicara sesuatu. Hanya duduk diantara dua orang yang sibuk dengan dunianya sendiri. Ia sungguh merasa tak nyaman.

Damn!

Bagaimanapun pemuda tampan berkulit putih dengan mata emas kecoklatan itu tidak suka keheningan. Ia adalah salah satu kategori manusia yang tidak setuju dengan pribahasa "Diam itu emas" – menurutnya malah –Diam itu memuakkan!

"Ehm!" mencoba mencairkan suasana yang kaku, pemuda beranting sebelah itu mendehem. "Ngomong-ngomong Kitsune-sama menemui kalian juga?" tanyanya basa basi memulai topik pembicaraan dengan membahas pimpinan yang begitu ia idolakan itu.

Pemuda sebelah kirinya menguap malas, "Hmm," gumamnya sebagai balasan. Meskipun hanya berupa gumaman, setidaknya ia menjawab lebih baik daripada pemuda lainnya yang duduk diujung kanan sana yang asik dengan dunianya sendiri. Memuakkan!

'Ini sungguh-sungguh membosankan! Setengah jam lagi Kitsune-sama tak muncul, dipastikan saat itu juga aku sudah mati kebosanan!' batinnya lebay– hiperbola.

Hening kembali..

5 menit

10 menit

15 menit–

"Aaaaargh! Aku bosan!" teriaknya tiba-tiba teramat mengaggetkan dua makhluk lainnya. "Apa?!" pemuda itu menengok kesamping kanan-kirinya bergiliran dan bertanya ketus kepada orang-orang yang sebentar lagi mungkin akan menjadi rekannya– atas lirikan aneh yang didapatkannya. Pemuda itu jelas faktanya terlihat memang sangat aneh. Yeah.. Tiba-tiba berteriak begitu dan berkata ketus– seakan ngambek, terlihat aneh bukan?

Dua pemuda lainnya memutarkan mata– annoyed.

Kenapa dengan orang ini?

"Absurd."

"Merepotkan."

Twitch!

Medengar komentar yang lumayan 'pedas' dari calon rekan barunya, si pemuda biang 'kericuhan' merasakan kedutan pada dahinya. Ia menggeram kesal. "Cih.. Kalian berdua memang menyebalkan!" gusarnya sementara kedua pemuda yang berada disisi kiri-kanannya memandang dirinya datar. "Setidaknya sebagai calon 'rekan kerja' kalian berdua harus memperkenalkan diri dulu!" Lanjutnya mengeluarkan unek-uneknya dan sedikit meningkatkan nada suaranya saat reaksi yang diberikan dua pemuda disampingnya hanya memadang dirinya datar. "Begitu saja kok repot!" gerutunya meniru jargon seseorang.

Suasana kembali hening...

Untung saja, suara dering ponsel menyelamatkan suasana absurd itu.

1 e-mail diterima oleh masing-masing personil baru Akatsuki itu.

Dan?

"Akhirnya, Kitsune-sama menyelamatkanku juga!" Komentar pemuda berambut ekor kuda cokelat itu ketika ia membaca isi pesan yang ternyata dari Naruto itu menyuruhnya untuk pergi keruang latihan. "Khukhu... Aku benar-benar sudah tidak sabar melihat wajah kaget para personil Akatsuki saat melihatku," lanjutnya berdiri kemudian memakai jaket kulit hitamnya. "Dan terpenting aku sudah tidak sabar akan bekerja sama dengan seorang superior macam Namikaze Naruto," tukasnya.

Kedua pemuda lainnya ikut berdiri. Diam-diam mereka menyetujui apa yang barusan pemuda itu katakan. Ya mereka benar-benar tak sabar.

.

.

AAAAA

.

.

Kushina dan Shion tak menyangka akan bertemu kembali dengan Sai, apalagi dirumah sakit seperti ini. Saat mereka akan menjenguk Uchiha Fugaku kedua wanita itu tak sengaja melihat Sai sedang berdiri didepan pintu ruang rawat Fugaku. Namun dengan keadaan yang mencurigakan. Ya, Sai entah kenapa dimata Shion seperti seorang maling yang mengedap-ngendap akan memasuki rumah jarahannya.

Sai salah tingkah.

Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan anak buahnya sehingga kedua wanita cantik yang sedang memandangnya curiga itu bisa memergokinya seperti ini. Seharusnya mereka memberikan sebuah pesan kepadanya bahwa ada seseorang yang menuju kesana. Untung saja, ia belum sempat membunuh Fugaku sehingga ia bisa berkilah.

"Ah.. Sebenarnya aku ingin menjenguk paman Fugaku, tapi aku takut Itachi ada didalam sehingga aku harus mengendap karena takut ketahuan," katanya seraya menggaruk kepala ebonynya yang tidak gatal.

"Kenapa Sai-nii takut ketahuan?" tanya Shion tidak mengerti.

Sai tertawa renyah dan salah tingkah. "Sebenarnya aku ingin memberinya kejutan," jelasnya menuai anggukan Shion dan Kushina. "Aku merasa gugup ketika harus bertemu kembali dengannya. Aku merasa tak enak karena selama ini aku tak pernah memberinya secuil kabar, heheh..." Lanjutnya membuat Shion dan Kushina ikut tertawa kecil melihat tingkah malu-malu Sai.

Akting yang sempurna.

"Dasar anak muda!" Komentar Kushina geleng-geleng. Shion nampak berbinar melihat tingkah Sai yang tak biasa itu– tak curiga. "Memangnya kau tak tahu? Itachi sedang tidak berada disini," jelasnya kemudian.

'Aku tahu,' batinnya Sai. Namun, ia lega karena dua wanita itu tidak mencurigainya sama sekali. "Wah... Sayang sekali," ucap Sai terlihat meyakinkan, "padahal aku ingin sekali bertemu dengan Itachi. Setidaknya, kedatangan kawan lama bisa membuatnya sedikit terhibur," sambungnya benar-benar berakting layaknya aktor profesional. Apalagi senyum palsunya selalu bertengger diwajah tampannya.

Wajah Kushina berubah sendu. "Benar. Pastinya Itachi butuh dukungan dari sahabatnya. Kejadian ini benar-benar tak terduga dan terlalu cepat," lirih Kushina. Beberapa saat kemudian Wanita paruh baya itu nampak mengkerutkan dahinya. "Eh? Ngomong-ngomong kenapa kau bisa tahu bahwa Fugaku ada dirumah sakit? Bukannya peristiwa ini masih dirahasiakan dari umum?"

Matilah.. Sai gelagapan.

"A-ah... ," Sai nampak berpikir keras untuk mengeluarkan alasannya. 'Ah.. Sial!' rutuknya dalam hati.

"Ya?"

"Aku diberi tahu Naruto-senpai," akhirnya Sai memilih alasan yang paling masuk akal dan sangat beresiko sekaligus.

Kushina dan Shion mengangguk mengerti. "Sai-nii sudah bertemu dengan Kak Naru?" kali ini Shion yang bertanya. Sai mengangguk sebagai jawaban.

Lalu percakapan itu berakhir saat Kushina mengajak Sai untuk masuk kedalam ruang rawat ICU Fugaku. Sai tidak bisa menolak. Dalam percakapannya, mereka bertiga sepakat untuk mengadakan makan malam dikediaman Namikaze. Tentu saja Sai sangat antusias, apalagi Kushina mengatakan bahwa malam ini Naruto akan pulang.

Ini akan menjadi kesempatan untuk Sai memperbaiki hubungannya dengan Naruto.

Juga..

Kesempatan Shion untuk lebih dekat dengan Sai-niisannya.

'Aaah... Senangnya.. Aku harus berdandan yang cantik! Kyaa..!'

.

.

AAAAA

.

.

Ekspresi Kiba tak tergambarkan. Antara kaget, tak percaya dan kesal. Intinya, raut wajahnya sama persis layaknya seorang yang sedang menahan mules. Bedanya, Kiba hanya menambahkan sedikit sentuhan dengan mulutnya yang menganga lebar.

Sasuke dan Gaara tak kalah kagetnya, akan tetapi dua pemuda tampan itu lebih bisa mengendalikkan dirinya, sehingga yang terlihat hanyalah wajah datarnya saja. Akan tetapi kalau diperhatikan lebih dekat lagi, tentu saja sangat dekat– maka kedua bola mata mereka sedikit membola.

Namun, berbeda dengan yang lainnya. Kyuubi terlihat sangat senang dan antusias.

Kenapa?

Karena salah satu tiga dari anggota baru Akatsuki yang dikenalkan Naruto tak lain adalah sahabatnya sendiri.

"Silahkan kenalkan diri kalian kepada anggota Akatsuki lainnya!" Perintah Naruto yang diamini ketiga pemuda yang menjadi objek perhatian semua orang.

Pemuda dengan rambut hitam sebahunya yang pertama maju. "Perkenalkan namaku Utakata. Mantan anggota Intel FBI. Code name diakatsuki Saiken. Yoroshiku!"

Semuanya terperangah– kecuali Naruto yang terlihat menyeringai bangga karena berhasil menggaet mantan Intel FBI itu.

Utakatapun demikian, ia sepenuhnya menyeringai. Tepatnya, setelah ia melihat seorang pemuda tampan dengan surai ravennya. 'Pemuda yang cantik!' batinnya menilai wajah Sasuke dengan skor paling sempurna.

Sasuke yang sadar dirinya tengah dipandangi seperti itu olah Utakata hanya membalasnya datar. Ia kembali mengalihkannya kepada pemuda lainnya yang lebih menyita perhatiannya sejak awal kedatangannya. Matanya tak berhenti untuk melayangkan bertubi pertanyaan untuk orang itu.

Ya, sungguh Sasuke harus segera menerima penjelasan atas berdirinya sosok yang tak lain adalah–

"Perkenalkan, namaku Nara Shikamaru. Code name Kagamane. Yoroshiku!"

–Sosok pemalas yang telah menjadi sahabatnya sejak SMA itu berada disini.

'Rusa pemalas itu!' desisnya dalam hati merasa dicurangi karena selama ini Shikamaru tak pernah bercerita apa-apa tentang hubungannya dengan Naruto ataupun Akatsuki.

Pemuda yang ketiga, pemuda yang sedari tadi paling tak sabar dengan perkenalannya nampak cengar cengir sendiri. Apalagi dilihatnya Kyuubi– sahabat kecilnya– nampak senang dengan kedatangannya. Hal itu, membuat jantungnya sedikit berdesir ketika ia kembali melihat senyumana teramat manis dari wajah tampan Kyuubi. Ah.. Ia begitu merindukan makhluk manis itu. 'Sepertinya sudah 5 tahun kita tidak bertemu Kyuu,' benaknya. Kemudian pemuda dengan mata keemasan itu mulai memperkenalkan diri. "Perkenalkan namaku Shuu no Ichibi. Code name Mr. Tanuki, mohon bantuannya!"

Memang dibanding yang lainnya Shuu adalah anggota baru yang paling ramah dan paling sopan. Hal tersebut membuat Shuu mendapatkan senyuman hangat lebih banyak dibandingkan Shikamaru dan Utakata yang memperkenalkan dirinya dengan raut malas (Shikamaru) dan angkuh (Utakata).

Dan setelah perkenalan terakhir, suara tepuk tangan yang diawali Naruto bergema diruang latihan Akatsuki itu.

"Selamat bergabung!" Suara baritone serak Naruto membuat ketiga anggota baru itu membusung bangga. Kemudian, mereka saling berjabat tangan. Saling mempekenalkan diri masing-masing. Dan saat giliran Shuu dan Kyuubi mereka hanya saling pandang dalam diam.

1 detik

2 detik

3 detik

Senyum.. Senyum..

Dan?

"KYUU/SHUU!" Kedua pemuda itu hendak berpelukan rindu jikalau Uchiha Itachi tidak menarik ujung kaus atas Kyuubi dengan sepenuh hati. "Apa yang kau lakukan keriput?!" sungut Kyuubi merasa acara reuni dengan teman lamanya terganggu. Itachi malah melotot kearahnya.

"Seharusnya aku yang bertanya rubah. Apa yang hendak kamu lakukan dengan Rakun itu?!" Itachi ikut sewot tanpa alasan yang jelas. Kyuubi semakin emosi sehingga melupakan Shuu yang masih setia merentangkan tangannya untuk memeluk dirinya– terabaikan.

"Singkirkan tanganmu dari baju berhargaku! Dasar brengsek!"

"Tidak!"

Shuu melongo.

Kyuubi semakin geram. Pemuda dengan surai oranye itu berbalik dengan kaus yang masih dicengkram Itachi. "APA-APAAN KAU HAH?! APA URUSANMU SEHINGGA KAU MELARANGKU MELAKUKAN SESUATU? TERSERAH AKU DONG!" Kyuubi meledak.

Itachi ikut emosi. "SEMUA YANG KAU LAKUKAN JADI URUSANKU!" Teriaknya edan, mengklaim Kyuubi dengan ke-OOC-annya.

Hening..

Hening...

Dan – "HAHAHAHAHAHAH!" Suara tawa yang terdengar puas dan ringan mengalihkan semua perhatian orang dari dua pemuda yang sedang bersitegang. "Ka-u... Hahahah... Lucu sekali Amaterasu! Hahaha...!" Naruto terpingkal hebat melihat pertengkaran ItaKyuu.

Wajah Itachi berubah merah– malu. Saat dirinya menyadari apa kesalahan yang telah dia lakukan. Dengan gaya yang kaku Itachi melepaskan ujung kaus Kyuubi yang sedang dicengkramnya. Kyuubi misuh-misuh sendiri.

Dan semuanya berusaha untuk tidak terbahak-bahak saat melihat sang Uchiha sulung kehilangan wibawanya.

"Dasar perusak suasana!" celetuk Shuu pelan yang dongkol karena terabaikan oleh Kyuubi.

Selanjutnya, merekapun bergegas mengikuti Naruto untuk segera berlatih,

Keculali..

Itachi yang masih berdiri kaku.

Dan Kiba yang masih melongo..

Hening..

Hening..

PLAK PLAK! Fokus Itachi teralihkan ketika mendengar suara tamparan yang cukup keras. Kiba adalah objeknya, pemuda manis itu memukul pipinya sendiri. Itachi menatapnya bingung– ia tahu Inuzuka memang sedikit aneh, tapi ia tidak tahu kalau keanehan Kiba sampai nekad menyakiti dirinya sendiri.

Lalu?

"AAAAARGH! KATAKAN SEMUANYA HANYA MIMPI!" Teriak Kiba frustasi menjabak rabutnya sendiri yang ternyata baru sembuh dari keterkejutannya melihat Shikamaru menjadi anggota baru akatsuki. "HANCUR SUDAH KETENANGAN HIDUPKU hiks..! KAMI-SAMAAA~~ hiks," Kiba mendramatisir dan Itachi geleng-geleng kepala melihatnya.

...

Sekarang Sasuke tahu alasan kenapa Naruto memilih Konan sebagai partnernya. Sejujurnya, mungkin Sasuke telah beberapakali meneguk ludahnya sendiri dengan susah payah saat melihat bagaimana seorang Konan mengalahkan ketangguhan Yahiko dan Nagato secara bersamaan. Dihadapan Konan, dua lelaki hebat itu tidak ada apa-apanya. Kecepatan, keseimbangan dan ketepatan memukul pada titik lemah lawan adalah keahlian Konan yang luar biasa. Dan inilah KENPO. Senjata yang digunakan Konan juga terbilang unik dan terlihat sepele akan tetapi sangat mematikan. Hanya sebuah kartu dan beberapa origami yang diselipi beberapa jarum dengan formulasi racun didalamnya. Dan oh– apa itu yang terselip dicelana Konan? Jangan bilang Sniper!

"Kenapa? Masih ingin menantang wanita iblis itu ahn?"

Sasuke memalingkan wajahnya dari pria yang telah merenggut seluruh hatinya tersebut. Naruto mendengus geli melihat respon Sasuke. "Kau janganlah terburu-buru, Teme," ucap Naruto tatkala Sasuke hanya diam. "Aku tahu kau bukanlah orang yang lemah. Akan tetapi kau belum mempunyai pengalaman yang banyak," lanjutnya kemudian mengacak rambut pemuda yang 4 tahun lebih muda darinya tersebut.

Ingin sekali Sasuke menepisnya. Tapi, perasaan hangat saat menatap langsung sepasang safir tajam didepannya membuatnya tak berkutik. Lagi-lagi Naruto membuatnya seperti ini. "Hn," akhirnya ia hanya menggumam.

Senyum Naruto semakin melebar menjadi sebuah cengiran khas Namikaze yang jarang ia perlihatkan membuat Sasuke tertegun melihatnya karena Naruto terlalu mempesona. "Baguslah jika kau mengerti. Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu yang buruk kepadamu, Sasuke."

Dan ucapan terakhir Naruto membuat sang Uchiha bungsu tak sanggup menahan dirinya untuk mengklaim bibir sang Namikaze dengan bibirnya.

Kiss!

Hanya lumatan kecil dan sekejap –namun hal tersebut lumayan membuat Naruto kaget. Sasuke menyeringai kemudian berbisik ditelinga sang Kitsune dengan mesra, "kau mengkhawatirkanku? Itu manis sekali~" katanya OOC kemudian meninggalkan Naruto yang masih tak percaya dengan apa yang telah diperbuat Sasuke didepan umum. Didepan semua orang– terhadapnya.

'Dasar uke nakal!' dengusnya geli– dalam hati.

Mata Naruto menjelajah seluruh ruangan dan semuanya tengah terfokus terhadapnya. Sasuke memang nekad, pemuda itu bahkan membuat semua anggota akatsuki mangap-mangap. Jelek sekali wajah mereka– pikir Naruto kejam.

"Kenapa kalian berhenti?"

Serentak, semuanya kembali kepada kesibukan masing-masing. Naruto menggeleng kecil melihatnya. "Origami, kau boleh beristirahat!" perintahnya kepada Konan yang tengah membantu Yahiko dan Nagato untuk bangun. "Kau hebat seperti biasa," pujinya bangga membuat Konan tersipu. "Dan kalian berdua–" tunjuknya kepada Yahiko dan Nagato. "Kemampuan bela diri tanpa senjata kalian masih tetap lemah, tingkatkan lagi kekuatan kalian. Karena yang orang lemah hanya akan menyusahkan rekannya sendiri," sambungnya mengomentari kedua pasangan YahiNaga dengan ucapan datar. "Tapi, aku tahu kemampuan menembak kalian lebih baik. Selanjutnya, Shukaku dan Mr. Insect maju!" Komandonya bergantian setelah mengomentari kemapuan anggotannya.

Gaara versus Shinopun dimulai!

Sasuke cengar-cengir sendiri. Ia lupa bahwa dirinya merupakan keturunan asli Uchiha yang tak harus memperlihatkan emosi dan ekspresinya didepan umum. Akan tetapi, sungguh ia tak sanggup untuk menahan kesenangannya. Biarlah orang-orang melihatnya penting ia bisa memperlihatkan perlawanan kepada kakaknya yang menyebalkan itu.

Dan terima kasih banyak dengan sikap nekadnya.

"Apakah itu sering terjadi?" Sasuke dikagetkan dengan suara baritone halus Utakata yang entah sejak kapan sudah berada disisinya. Wajah Sasuke kembali flat.

"Hn."

"Sayang sekali~," desah Utakata. "Kitsune-sama bukanlah lawan yang baik untukku," lanjutnya tidak dimengerti oleh Sasuke. Utakata hanya tersenyum maklum mendapati sikap Sasuke yang terlihat tidak peduli– Yah dia tahu bagaimana semua perangai para Uchiha. "Padahal aku benar-benar tertarik padamu," ucapnya yang berhasil mengalihkan perhatian dari pertarungan Gaara dan Shino yang masih berlangsung seimbang.

"Kau terlalu percaya diri untuk menjadi seseorang yang pantas berada 'dibawahku'," komentarnya menuai tawa Utakata.

"Kau lucu sekali, Taka! Untuk seorang Uchiha, selera humormu cukup tinggi!"

Sasuke mengkerutkan sedikit alisnya tidak suka dengan komentar Utakata. Hey! Dia sedang tidak melucu. Dan apa itu tawa yang diperlihatkannya? Diarasa tidak ada yang lucu tuh.

Well..

"Aku memang tak berniat untuk berada 'dibawahmu'," bisik Utakata yang tiba-tiba berada disamping Sasuke.

'Dia cepat sekali,' batin Sasuke– kaget. Namun, ia berhasil mempetahankan wajah datarnya.

"Karena... Akulah yang pantas berada 'diatas'mu," lanjut Utakata menyeringai.

"..."

PIK!

Sesuatu yang bernama urat kekesalan Sang Uchiha bungsu terputus. Lontaran Utakata seperti penghinaan baginya. Ia mendeathglare pemuda yang masih setia menyeringai kearahnya. Uke? Ia sangat sensitif dengan kata-kata itu.

Yeah... Dia memang uke– sekarang. Walaupun sangat berat hati untuk menerimanya, tetapi ia uke dari seorang Namikaze Naruto, pikir Sasuke percaya diri. Dan dirinya tak pernah suka jika ia harus dijadikan uke laki-laki selain Naruto, meskipun ia hanya dalam bayangan belaka.

Tidak, terimakasih banyak.

"Tarik kembali ucapanmu," desis Sasuke berbahaya. Matanya menyorot marahkearah Utakata yang lumayan terkejut atas reaksi Sasuke.

Utakata mengangkat kedua tangannya menyerah seraya tertawa nervous. "Ayolah... Aku hanya bercanda. Sudah kubilang bukan? Kitsune-sama bukan lawan yang baik untukku," ucapnya sedikit kikuk karena wajah Sasuke tak kunjung melunak. "Tapi, kurasa Kitsune-sama adalah seorang yang sangan jantan. Dia pasti sangat menghargai persaingan yang sportif," lanjutnya mengedipkan sebelah matanya– genit dan melesat kabur begitu saja ketika sang Uchiha muda siap melayangkan bogem mentahnya.

'Sialan!' geram Sasuke dalam hati.

...

Mungkin hanya Itachi yang tidak fokus dengan pertarungan Gaara dan Shino didepan sana. Entah kenapa, semenjak kedatangan tiga anggota baru akatsuki hidupnya tidak setenang dulu. Ya, tepatnya sejak keberadaan Shuu– kalau yang sisanya tidak masalah baginya.

Kedengarannya mungkin konyol.

Tapi..

Berkat pemuda tampan berambut cokelat yang terus menempel kepada Kyuubi membuatnya menyadari sesuatu. Sesuatu yang selama ini ia tolak dalam hatinya karena ia terlalu fokus kepada kehadiran Naruto disisinya. Kini ia sadar, bahwa ketidak sukaan dan amarahnya saat melihat Kyuubi dekat dengan pria lain adalah bukti bahwa perkataan Naruto 'Dia memang bodoh ' itu sedikit benar (Itachi tidak sanggup untuk mengakuinya).

Bahwa sebenarnya yang dia sukai itu bukan Naruto.

Melainkan.. Namikaze Kyuubi.

Onyxnya kemudian beralih kepada adiknya yang berada tepat diseberangnya. Itachi tersenyum samar, saat ia mengingat perbuatan nekad Sasuke yang mencium Naruto tadi. Ia sama sekali tidak cemburu. Hal tersebut membuktikan bahwa persaannya terhadap Naruto selama ini mungkin hanyalah sebuah kekaguman belaka.

Ya.. Mungkin..

Atau..

Rasa cintanya telah berpaling?

.

.

TBC..

Ah.. Gomen reader-san..

Setelah sekian lama Kira baru muncul sekarang. Kira benar-benar sibuk di duta (dunia nyata) XD

Yah.. Kalian bisa ngebayangin.. Kira ketinggalan kuliah gara-gara Typus..

Ugh.. Itu menyakitkan, apalagi Typus setelah sebulan kebelakangnya kena DBD.. aiih.. Kenapa dengan imunku? X(

Kira jadi susah berpikir untuk ngelanjutin FIC2 Kira, untuk berfikir kuliah saja Kira keteteran.

Mohon maaf dan maklumnya ya, kalau reader-san kecewa dengan tulisan Kira yang sekarang. Bener-bener deh, tadinya Kira udah mau nghapus semua fic Kira. Intinya, Kira mau mundur jadi Author. Dan fokus ke duta..

Tapi..

Kira liat Review sekalian dari reader-san! Dan gara-gara liat reviewnya Kira gak jadi deh ngehapus semua Fic Kira.

Tapi..

Jujur aja nih, Kira masih galau. Maaf ya, tapi Kira pesimis untuk ngelanjutin semua Fic Kira. Kira ngerti kok, menunggu itu menyebalkan, maka dari itu dari pada Kira membuat reader kecewa karena fic kira ga mncul2, apa mending Kira mundur jadi Author saja? Hehe..

Oia, Arigato buat yang udah setia ngeriview dan menunggu kelanjutan Fic Kira..

Kira mohon bantuannya... ^^,

Jaa ne!