"Makan itu, Kuroo."
Aku menatap heran pada kotak bekal yang Kenma letakkan di pangkuanku. Ini tidak mungkin punya Kenma. Bentuknya seperti kucing dan warnanya merah muda. Aku tidak rela menyentuh warna tidak ganteng ini.
Sebal melihatku yang cuma saling tatap dengan kotak bekal, Tooru meringsak maju dan duduk di ranjang yang kutempati. Kotak bekal itu diambilnya dan dibuka. Lalu, kini, aku saling tatap dengan sendok berisi nasi dan lauk satu suapan.
"Makan!" Tooru memberi ultimatum. Aku ingin menertawakan muka serius sok galaknya, tapi kutahan. Hajime dan Kenma sudah mulai melayangkan tatapan tak menyenangkan, sih.
Ini kok aku merasa sedang melihat tiga ibu-ibu mode bawel, ya?
Setelah isi kotak bekal itu berpindah seutuhnya ke lambungku, aku dapat kesempatan untuk bertanya, "ini kotak bekal siapa btw?"
"Hitoka," Jawaban datang dari Kenma. Sudut bibirnya terangkat. Meski sedikit, tapi cukup untuk membuatku sebal seketika. "tadi ke sini nengokin bawa itu, tapi kau masih tidur. Dia langsung kabur begitu kita datang."
Sebagai finishing-touch, Kenma menambahkan, "Cie."
Aku menggeram kesal.
"Dia kelihatan naksir berat denganmu, Tetsu. Pakai pelet apa kamu? Katanya maho?" Tooru ikut mengompori.
"Tolong berkaca dulu, beb. Tadi yang nyuapin aku siapa ya?" Aku menyeringai setan. "Itu maho banget, tahu."
Tooru memelototiku. Kemudian tak lama kemudian, tiada angin tiada hujan, matanya banjir air mata. Aku semakin tidak nyaman saat MANTAN Ketua OSIS itu memelukku erat.
"Aku tidak mengerti," ujar Tooru di tengah isakan.
Aku lebih tidak mengerti, woi!
Aku menatap Hajime, minta bantuan. Biasanya anak itu bisa jadi penerjemah apapun yang dikatakan oleh makhluk ini.
"Tooru berbicara tentang malam itu." Hajime memulai.
"Malam itu?"
Kenma menghela napas. "Pisau, Kuroo."
Pisau?
Oh. Malam itu.
"Hari ini juga." Hajime memicingkan matanya. "Dilihat dari respon Kenma, ini bukan yang pertama."
Aku meneguk ludah. Tiba-tiba saja aku merasa tempat ini bukan lagi UKS. Namun, sebuah ruang pengap tempat introgasi.
"Kau selalu terlihat baik-baik saja. Tahu-tahu kami melihatmu... yah." Hajime mengangkat bahunya.
"Melihatmu dalam keadaan seperti itu sedangkan kami tak tahu apa-apa sangat menyakitkan." Tooru menatapku. "Beri tahu kami, Tetsu. Kami ingin membantumu. Apapun."
"Aku terhura mendengarnya, tapi uh bisa kau mundur dan duduk normal seperti tadi?" Aku tersenyum canggung. "Yang ini beneran terasa maho, lho."
Aku tidak bermaksud untuk membuat Tooru malu berat dan tampak ingin mengubur dirinya hidup-hidup begitu, tapi senyaman apapun aku di dekat maniak alien itu tak akan mengubah fakta bahwa aku tidak mau ada di posisi kami tadi.
Aku tidak terbiasa dipeluk. Apalagi dipeluk sambil mendapat kata-kata bikin baper dan tambahan tatapan penuh cinta begitu. No.
Aku tahu aku ganteng, Tooru. Tapi aku tidak mau jadi seme-mu.
"Jadi?" Hajime melipat tangannya di depan dada. Menuntut jawaban.
Sewaktu sekolah dasar, aku dipaksa menelan teori kalau teman itu sampah. Mengekploitasi segala hal yang kau punya untuk keuntungan pribadi maupun kelompok. Cuma cunguk-cunguk tak tahu diuntung yang beranggapan mereka berhak melakukan apa saja agar kau mengikuti keinginannya. Ataupun domba-domba tak berguna yang hanya memberi omong kosong bahwa mereka ada untukmu tepat saat mereka menumbalkanmu ke sarang singa.
Menjadi anti-sosial selama tiga tahun di SMP menyadarkanku. Teman itu bukan mereka yang mendeklarasikan kalian berteman di depan orang-orang. Teman akan membuatmu yakin mereka temanmu bahkan tanpa perlu dunia tahu.
Anggukan dari Kenma membuatku yakin kalau Tooru dan Hajime, dua temanku ini, berhak mengetahuinya.
Chic White Proudly Present
[Mayroon Kaming]
Kucing Garong Bicara Teman
[ bag 1 ]
"Bro, jangan tinggalkan aku sendiri!"
Aku lanjut melangkah santai, sesekali bersiul pelan. Selangkah masuk kelas, pergerakanku tertahan. Ranselku dipegang oleh seonggok burung hantu jejadian yang sedari tadi merengek minta dinotis.
"Bro...!"
Tooru sudah tertawa terbahak-bahak di dalam. Sisa penghuni kelas yang lain mendengus geli.
"Koutarou, plis, kelas kita sebelahan. Kau bisa mendatangiku nanti sebelum ujian kedua."
"Tapi bro—! Kepada siapa aku harus menyontek jika mentok nanti?! Sekolah ini jahat! Tidak adil!"
Aku berbalik, menoyor jidat si Bro-ku ini dengan kesal. Seminggu penuh setelah pembagian kartu peserta UAS, dia full masuk mode emo karena ternyata kami beda ruangan ujian. Di sekolah ini, ketika ujian, satu ruangan diisi dengan dua tingkat kelas berbeda. Itulah mengapa suatu kelas bisa terbagi mengisi dua ruang ujian.
"Aku sudah membantumu belajar dan hasilmu jauh lebih memuaskan daripada waktu kelas dua. Sekarang kembali ke ruanganmu dan berdoa! Sepuluh menit lagi ujian dimulai!"
Aku mendorong Koutarou kembali ke ruangannya, menyempatkan diri untuk meminta bantuan Hajime menahannya agar tidak kembali mengejarku. Aku pun bisa duduk di tempat seharusnya dengan selamat sentosa.
"Susah emang, punya sohib bayi bongsor seperti itu," keluhku.
Aku dikejutkan oleh suara kikikan di sebelahku. Untungnya bukan Mbak Kunti. Itu cuma Hitoka Yachi.
Eh? Siapa?!
"Hitoka?"
"Hai, Kak!" Anak itu tersenyum lebar, melambaikan tangannya sekilas.
Setelah beberapa kali bertemu di forum musyawarah MPK dan seringnya berpapasan di perpustakaan tanpa lupa saling menyapa, dia tidak segugup dulu jika bertemu denganku sekarang.
"Hei." Aku menyeringai. "Bukankah kau sangat beruntung, bisa sebangku dengan kakak ganteng ini?"
Senyumnya menghilang digantikan kerucutan lucu. "Masih gantengan Kei."
Aku mengorek telingaku. "Apa katamu tadi?" tanyaku tidak yakin.
"Masih gantengan Kei!" Hitoka mengulang tegas.
Aku merasa dikhianati oleh minion yang satu ini.
"Nenek-nenek telat menopause saja tahu kalau aku ini lebih ganteng!" protesku. Ayolah! Aku dan tiang asin OSIS itu? Gantengan juga aku!
"Bfft. Kalau begitu kau ini masuk kategori ganteng selera nenek-nenek, Kak." Suara terdengar tak jauh di belakang kami. Aku menolak tegas untuk menoleh dan memastikan ketakutanku.
Asdfghjkl. Selama ujian, selain Hitoka, aku juga sekelas dengan anak baik kalem idaman semua senpai yang kalau sudah buka mulut seperti minta dihajar itu?
Tak apa lah, suasana baru.
"HAHAHAHA!"
Tawa ngakak Tooru di sisi lain ruangan membuatku menghela napas panjang.
Sabar, Tetsu. Ini ujian.
-mk-
Minggu ujian ternyata tidak seburuk yang kubayangkan. Koutarou hanya sesekali menginvasi ruang ujianku di jeda antar-pelajaran. Aku sedikit merasa rindu dengan berisiknya dia, tapi selebihnya aku bersyukur karena ini tanda nilainya tidak akan ada masalah.
Aku mengalami sedikit gangguan di hari terakhir. Soal ujian bahasa inggris dapat kuatasi kisaran 30 menit saja. Setelah itu kuputuskan mencuri waktu yang tersisa untuk tidur. Mungkin kualat karena seenaknya, di tidur singkat itu aku bermimpi buruk. Mimpi berisi ingatan tak mengenakkan semasa sekolah dasar.
Aku hanya bisa diam mengepalkan tanganku melihat aku versi kecil sedang dibawa ke kamar mandi dan dipukuli ramai-ramai.
"Tidak tahu malu! Dasar miskin!"
"Sok jagoan!"
"Caper!"
"Jangan sok pinter kamu, dekil!"
Lalu ulah itu ditutup dengan aku yang disiram air oleh cunguk-cunguk kecil itu. Sebelum akhirnya aku pun dibangunkan oleh Hitoka.
Detak jantungku meningkat jumlahnya. Keringat dingin menuruni pelipisku. Deru napasku juga mulai tidak beraturan. Kalau saja Hitoka tidak di sana dan berbisik pelan menenangkanku, mungkin aku akan terkena serangan panik lagi hari itu.
Sayang sekali, hal itu tetap mampu membuatku mood-ku jatuh. Rasa semangat terhempas, optimisme lenyap. Energiku seolah terkikis sebagian, sampai-sampai cuma kata lelah yang tertanam di benakku.
Lelah akan apa? Aku sendiri tidak mengerti.
Kenma sering mengingatkanku kalau aku sudah kambuh begini, itu normal. Seperti kata dokter. Penderita depresi mayor itu mudah down dengan pemicu tertentu, tapi tidak kalah sering down tanpa alasan yang jelas.
Bukan berarti penjelasan itu membuatnya mudah untuk dijalani, kan?
Aku masih bisa bersyukur karena ujian selanjutnya adalah Matematika. Memfokuskan pikiranku untuk memutar cara menyelesaikan soal penuh angka itu cukup ampuh membuatku tidak semakin down dengan pikiran-pikiran konyol yang usil datang ke kepala tak tahu waktu.
Tiga puluh menit kemudian, aku meletakkan pensilku di atas meja. Aku tidak nyaman. Rasanya ingin pulang. Pulang ke mana, aku pun tidak tahu.
Aku ingin menghilang.
Kalian tahu bagaimana rasanya ketika menahan diri untuk tidak menangis? Dan rasanya sulit sekali? Mungkin begitu yang kurasakan. Aku tidak tahu harus mendeskripsikannya bagaimana karena aku sendiri tidak mengerti apa yang kurasakan dan kenapa.
Laki-laki ganteng sepertiku tidak boleh menangis. Nanti kalau yang keluar mutiara, dituduh pangeran duyung kan tidak lucu.
Aku terhenyak saat tanganku digenggam erat. Oleh siapa? Tentu saja Hitoka.
"Tidak apa-apa, Kak." Setelah mengatakannya dengan suara pelan, Hitoka melepaskan genggamannya dan fokus kembali menghajar soal ujian.
Itu tidak berhasil membuatku merasa baik. Akan tetapi, entah bagaimana itu membuatku merasa kalau tidak selalu baik-baik saja itu tidak apa-apa.
Kenma benar. Anak ini mengerti.
Pertanyaannya, kok bisa?
Setelah bel tanda selesai ujian dibunyikan, sebagian besar laki-laki di kelas kami termasuk Tooru-Hajime-Koutarou langsung ke gedung olahraga terdekat untuk bermain futsal; perayaan bebas ujian, katanya. Mereka juga mengajakku, tapi aku ada jadwal terapi hari ini. Alhasil, kini aku berjalan menuju gerbang bersamaan dengan Hitoka dan Kei.
"Tetsurou!" Seorang wanita berpakaian formal berdiri di dekat mobil di seberang gerbang. Wanita itu melambaikan tangannya.
"Cie diapelin tante girang." Kei menyeletuk minta dihajar.
Aku menyeringai setan, "Kulaporin ke Kenma, lho."
Hitoka mencubit lengan sepupunya, lalu bertanya padaku. "Itu siapa, Kak?"
"Bundanya Kenma." Aku melihat wajah Kei memucat sekilas.
"Aku duluan ya!" Aku pamit dan menyebrang menghampiri Bunda.
"Kenma mana, Bunda?" tanyaku saat sampai di hadapannya.
"Sudah di dalam dia." Bunda tersenyum. Tatapan matanya dialihkan. "Siapa ini? Pacarmu?"
Mendengarnya, aku langsung menolehkan kepalaku. Ternyata Hitoka ikut menyebrang. Sepupunya masih di seberang sana dan memasang seringai menyebalkan khasnya.
"Lho? Hitoka?"
Anak itu membungkuk gugup pada Bunda. Lalu, tangannya melingkar di pinggangku. Belum selesai kepalaku mengambil kesimpulan kalau Hitoka memelukku, dia sudah menarik mundur badannya. Wajahnya semerah tomat, sekarang.
"K-kata Kei pelukan itu salah satu bentuk lain dari obat. T-tadi kan Kakak—uh—stay strong ya, Kak! D-dadah!"
Aku hanya diam saat dia kembali menyebrang dan menarik sepupunya yang sedang tertawa untuk segera pulang.
Aku tersadar sedang menatap kosong ke arah gerbang ketika Bunda menyikutku cukup keras.
"Pacarmu imut juga, Tetsurou." Bunda bilang. Wajahnya menyilaukan sekali.
Aku mengibaskan tanganku. "Temen doang itu mah, Bun. Adik kelas dari MPK."
"Eleh kalau pacar juga gapapa. Keliatannya dia naksir kamu."
"Temen doang, Bun."
"Iya deh, iya. Yuk, naik!"
"Temen, ya?" sambut Kenma di dalam mobil.
Kalau keadaanku sedang baik, mungkin saat itu aku akan senang hati menjitaki Kenma.
-mk-
Hal yang paling ditunggu setelah minggu ujian dan remedial terlewati adalah PORAK alias Pekan Olahraga Antar Kelas. Tiap kelas mendaftarkan perwakilan masing-masing untuk memperebutkan gelar juara, tentunya secara sportif. Pertandingan diselenggarakan secara serentak sehingga untuk siswa yang mengikuti lebih dari satu jenis pertandingan harus pintar-pintar mengatur waktu.
Pertandingan yang kuikuti hanya bola voli dan tenis meja. Tim kelasku mendapat giliran main kedua di pertandingan voli. Untuk itu aku menetap di dekat lapangan untuk persiapan.
Pertandingan pertama berhasil dimenangkan oleh tim tanpa kesulitan berarti. Pertandingan selanjutnya masih jarak 8 pertandingan lain sehingga aku pamit pada teman setim untuk pindah ke tempat di mana pertandingan tenis meja diadakan.
Di dalam ruang kelas cukup luas itu ada dua orang yang sedang bermain tenis meja. Papan tulis sudah siap menjadi media pengganti papan skor. Beberapa orang tampak mengobrol. Tapi tak ada satu pun panitia di sana.
"Panitia mana?" tanyaku.
"Cari peserta yang belum datang. Kirain lu yang jadi panitia, Tetsurou?" jawab seorang peserta yang ada. Dia teman sekelasku tahun lalu.
"Nggak sudi. Sudah kenyang jadi kacung dua tahun." Aku hanya mendengus saat dia tertawa. "Jangan ke mana-mana, ya. Kucari dulu panitianya."
Orang pertama yang kusasar adalah Kenma. Darinya aku tahu, kalau PJ Tenis Meja adalah Hitoka. Mempermudah pencarianku kalau begini.
Aku bertemu Hitoka di depan sebuah kelas. Bukan bertemu sih, lebih tepatnya bertabrakan.
"M-maaf, Kak! Sudah menunggu ya? Tadi aku mencari sisa peserta yang belum ada. Empat di antaranya mengundurkan diri. Sekarang siap untuk dimulai!" Napas anak itu terengah-engah.
"Kenapa tidak dipanggil lewat pengeras suara?" Aku bertanya heran.
"I-itu anu kata seksi acara nanti mengganggu pertandingan di lapangan."
Rasanya sesuatu dalam diriku mau meledak.
"Terus kamu lari-lari sendiri nyari peserta? Sampai telat sejam begini? Gak tegas langsung DO aja gitu?"
Hitoka menggigit bibir bawahnya, tapi langkahnya tidak berhenti.
"Humas mana?"
"Nyari peserta pertandingan lain."
"Partnermu? PJ Tenis Meja bukan kamu sendiri, kan?"
"Sakit."
"Wasitnya?"
Anak itu tampak ingin menangis. "Aku tidak tahu orangnya yang mana, Kak."
"Begini, Hitoka. Bukannya aku gila jabatan, tapi kau harus sadar kalau kau ini MPK. Membantu boleh, tapi jangan mau diperbudak. Tugas utamamu itu mengawasi kinerja mereka."
Pengurus OSIS merasa lebih berkuasa atau barangkali mereka terlalu sibuk untuk sadar sekitar. Masalah klasik. Tidak tahu diri.
"Sudah terkumpul semua, kan?" tanyaku saat kami sampai di ruangan. Hitoka mengangguk. "Biar kubantu jadi wasit. Saat aku bertanding bisa gantian dengan peserta lain. Fokus dulu untuk sekarang, oke?"
Anggukan lemah adalah yang kudapat dari anak itu.
Tak butuh waktu lama hingga pertandingan selesai. Peserta sudah bubar. Aku membantu Hitoka beres-beres.
"Kakak kalau mau keluar, tidak apa-apa keluar saja." Hitoka bergumam.
"Ngusir nih ceritanya?" jawabku usil.
"B-bukan gitu Kak! Kakak kan masih ada pertandingan?"
Aku memberikan net yang sudah kugulung rapi ke tangan Hitoka. Dua bet dan tiga pack bola tenis meja kubawa dari sana. Mejanya biar panitia bagian logistik yang membereskan.
"Ayo ke sekre!"
Aku tersenyum puas saat Hitoka mengekoriku tanpa banyak bicara.
Aku cukup beruntung karena saat aku sampai di sekretariat, Kenma dan Chikara ada di sana.
"Chikara, Kenma, bisa minta waktu kalian sebentar setelah acara selesai?"
Keduanya menegang di tempat masing-masing. Aku tersenyum tipis, mengibaskan tanganku. "Jangan tegang gitu. Cuma ngobrol, kok."
Para minion tampak kebingungan ketika dua orang yang kumaksud mengangguk lamat-lamat. Mantan minion kami pasti mengerti. Cuma ngobrol-ku tidak pernah benar-benar cuma ngobrol.
Aku benci melakukan ini pada mereka, tapi ini masih bagian dari tugasku.
Bersambung
[A/N]
Fanfic ini telah membuat saya haus KurooYachi. Huhuhu.
Balesan ripiu~
Sukiraki Tatsuya : Bukan mumpung libur sih. Justru mumpung seninnya hari terakhir ujian dan si saya pede yang itu pasti dapet A. Makanya update wakaka
Semoga selalu suka ya apapun yang terjadi di cerita ini. Thanks juga untuk supportnya~
hiruma ya-ha : jangan dah wokwokwok
berrybel : Makasih masukannya~ Udah kok mereka dah baikan. Hahaha boleh dicoba. Hati-hati dengan manusia sejenis Bang Boku. Chic ampe dijitak waktu itu :( Pake dikatai maniak angka pula huhu.
Begitulah. Isi ff ini sebagian besar curhat. Makanya gak susah update. Gak ada istilah kurang ide sih wakakaka
Jangan dengerin bisikan setan itu. Sekali kamu dengerin, susah buat pura-pura tuli lagi. Uyeeee kita lihat saja nanti wkwkwk
MiracleUsagi : Now that u shriek like that OMAILORD SAYA GAK NGEH DAH BUAT FANSERVICE KUROTSUKKI BEGITU
Iya dia trauma liat temen dia yang kalau dah ngakak tuh kaya paling bahagia sedunia. Usilnya gausah ditanya juga. Tahu-tahu hampir bundir gitu mainin piso :(
Jelas sekali wkwk. Dia gantengnya ilang lagi chap ini :( Itulah. Susah emang punya temen bayi bongsor gitu—source by Kuroo.
Udah diganti yak. Thanks buat responnya labyaa.
Berkenan tinggalkan jejak? :)
