Thanks for reviews:
Hun94Kai88: Wah! Makasih! Aku jadi semakin semangat nih, hehe. HunKai belum tentu bersatu, karena Sehun belum muncul (?)
Chanta614: Barbie? Iya sih, haha. Tapi si Baek kalo deket Kai, yang jadi seme malah si Baek. Soalnya dari jaman WOLF Kai udah sering nyenderin kepalanya ke bahu Baek, hehe (Pas Kai senderan gitu Baek biasanya senyum-senyum seneng, mengusak rambut Kai, terus cium puncak kepalanya Kai, Baek benar-benar seme)
Xinger XXI: Wow, kamu mesum juga rupanya, hehe. Overdosis spermanya Sehun (?). Iya, ch 5 khusus momment BaekKai, soalnya chapt depannya udah jarang ada Baekhyunnya. Lelaki dingin itu semacam makhluk tapi bukan setan.
Ariska: Oke, ini udah lanjut
Ucinaze: Ch ini bakal lebih panjang, hehe
Wijayanti628: Tidak bisa serem karena hantunya sendiri cinta sama target serem-seremannya, hehe. Jadi ini semacam serem yang failed gitu.. :v
VampireDPS: Iya, aku suka tangannya Baek, kukunya paling enggak rata-rata panjangnya 2cm, bisa panjang-panjang kayak gigi seri gitu.
Vianna Cho: Kris muncul di ch-ch yang akan datang! (masih lamaaa sekali, hehe) so, Saksikan! Ini adalah FF panjang! Hehe
MooN48: Thanks for your support!
Cute: mantap!
Lee Donghyuk: Sama-sama. FF lain? Mian, aku malah bikin ff baru T_T
KaiNieris: Yup! I think so. Baekhyun cocok dengan rambut ungu. Haha, kamu ternyata melihat itu! Padahal aku dah berusaha menutupinya, ternyata ketahuan, Hehe. Aku memang punya kendala waktu disitu. Aku gak bisa mengambil langkah besar untuk tiba-tiba Kai memakan bunga mawar. Ternyata alurnya malah menjadi panjang, dan harusnya Beval memberi tahu nama koreanya (Baekhyun) saat Kai siuman dirumah sakit. Tapi itu tidak akan menjadi apa-apa (percuma) karena meski Kai tahu nama Koreanya, Kai tidak bisa memanggilnya karena bibirnya masih diperban.. so.. agak lambat pengungkapannya (nunggu perbannya Kai dibuka dulu), hehe. Thanks sudah menjadi readers yang dapat menganalisis FF ku, kau hebat!
Chu: Aku usahakan
Enhris. 727: Ya! Waktu update ch itu, dan aku baca review kamu, aku langsung ketawa terbahak-bahak sekitar 15 detik (sambil guling-guling dan nabok temen gue. Pokoknya gila aku waktu itu). Pabbonya aku.. gak sengaja ketulis nama Baekhyun di ch itu :v. Aku dah merasa (yah.. gak surprise lagi deh.. yang baca pasti dah tau kalo Beval itu Baekhyun) tapi ternyata cuma beberapa orang yang jeli. Thanks udah koreksi FF ini, mohon bantuannya :D
Ismi. ryeosomnia: Ortu Kai muncul di CH selanjutnnya bersama Chanyeol. HunKai momment tanpa pemaksaan? Kai ridho? HunKai? Ah kenapa kamu ingin HunKai? Sehun kan belum muncul.. hehe :D
Milkylove0000170000: Ciyee.. yang ngira Beval itu Chanyeol. Apa yang membuat kamu beranggapan kalo Beval itu Chanyeol? (penasaran) Oke! Thanks!
Elshii: momment HunKai? CH ini ada NC lagi, tapi gak ada Sehun..
Yuvikimm97: Kamu juga beranggapan kalo Beval itu Chanyeol. Hem.. aku jadi penasaran kenapa kamu merasa kalo Beval itu Chanyeol. Apa karena dia kuat gendong Kai? (tentusaja kuat ya? Orang Kai masih 15 tahun gitu, hehe)
Sapaya: wah kau benar-benar hebat menduga, hem..
HunKai94: Thanks! Sip, Aku akan update setiap sore hari saja, hehe
BaekhyunFuture: nun? Siapa nun? Mohon gunakan nama akun saya untuk memanggil saya.
Alv: okeeeeee
Tokisaki: ikhlas Baekkai, gue juga
Mizukami Sakura-chan: Hehe, disini lelaki topi fedora itu udah gak begitu sadis kok
Ohkim9488: Kai akan hidup sampai.. hm.. kayaknya Kai bakal mati di beberapa chapter kedepan..
Oke, thanks buat yang udah review! So let's read!
New FanFiction
©BocahLanang
Bagi yang ingin berteman dengan BocahLanang, silakan add FB:
BocahLanang HunKai (The Real BocahLanang)
Thanks sudah mau berteman dengan BocahLanang! Yey!
Di akun itu biasanya BocahLanang posting summary ato draft FF baru
..
.
HunKai Fanfiction
Warn!:
boyslove│mystic│horror│reallife│rateM│ghost│supranatural
MainPair:
Sehun (seme) X Kai (uke)
OtherPair:
Baekhyun (seme) X Kai (uke)
Chanyeol (seme) X Kai (uke)
Other Cast:
Baekhyun
Kris
Luhan
Chanyeol
Based on Real Life..
Eat-this-Rose
FlashPlot:
Viana de Castelo-Portugal
...
Ibu dan ayahnya mengabari
bahwa keduanya masih harus mengulur waktu
karena kesibukan yang masih mendesak.
Pemuda Kim setia menunggu disana,
...
6_ Fedora Man..
09.44 am..
Deru mobil putih milik Baekhyun mulai sayup-sayup menghilang.
Meninggalkan jejak rantai ban di putihnya salju yang masih tipis di pekarangan.
Tangan kanan kurus pemuda Kim itu melambai hingga mobil itu hilang dalam pandangannya.
Kini anak itu akan memulai harinya sendiri.
.
.
.
Salju kali ini masih tipis, masih awal Desember.
Jadi anak Kim itu hanya bermain-main dipinggir latar, menuliskan beberapa huruf hingga jari telunjuknya itu kebas kedinginan lalu diganti bergilir pada kesembilan jari tangan lain yang dimilikinnya.
"Sepi kalau tidak ada Baekhyun hyung.." Kai bergumam lesu.
Anak Kim ini akhirnya memanggil nama Korea Beval, karena memang keinginan lelaki matang yang tampan itu. Agar terdengar spesial.
Selama ini orang yang memanggil nama Koreanya hanya kakeknya, jadi Kai adalah orang kedua yang spesial bagi Beval. Dan Beval merasa suara Kai sangat cocok saat memanggilnya dengan nama Baekhyun.
"Padahal aku lebih suka memanggilnya dengan nama Adken hyung~" akhirnya jari kelingking Kai menuliskan huruf berjajar nama Eropa lelaki berambut ungu itu pada putihnya salju tipis di depannya.
Pluk!
Sekuntum bunga mawar merah jatuh bebas dari atas dan mendarat tepat didepan Kai, langsung tercerai berai mahkotanya.
"Mawar?" suara Kai kembali sanksi. Sepertinya ia sering menemukan mawar jatuh disekelilingnya.
Tak berselang lama, aroma mawar merah pekat itu samar-samar tercium. Tubuh Kai bergidik takut.
Makin bertambah rasa takutnya ketika ia melihat bayangan gelap berbentuk kepala seseorang seolah menindih bayangannya. Lebih tinggi. Membuat Kai takut untuk sekedar mendongak untuk melihat, siapa sebenarnya orang yang berdiri tinggi dibelakangnya.
"Pungut mawarku.. sayang"
"A!" Kai terhenyak kembali. Suara lelaki yang sama.
Seolah mengerti, pemuda Kim itu enggan mengambil merahnya mahkota mawar merah segar yang kontras dengan putihnya salju.
"Jangan sembunyikan tanganmu. Ambil satu, agar kau bisa melihatku.." suara itu masih sama namun terdengar memerintah.
"A-aku.." tak ada pilihan lain, pemuda Kim itu akhirnya meraih satu helai mahkota mawar merah yang tercerai berai didepannya.
"Berkediplah sekali, aku didepanmu.."
Degup jantung Kai semakin cepat. Jadi.. sedari tadi lelaki itu berada didepannya? Bayangan tinggi itu.. apakah bayangan hantu memang memiliki arah yang berlawanan dengan bayangan manusia hidup?
Sreeet..
"Aku suamimu.. jangan anggap aku makhluk rendahan semacam hantu, sayang" Kai bahkan bisa merasakan sapuan lembut di pipinya.
Dingin.
Lelaki itu dingin, seperti apa yang dikatakan suara itu, jika Kai sekali saja mengedipkan mata, maka Kai akan dapat melihat kembali sosok tinggi putih lelaki berpakaian serba hitam dengan topi fedora hitamnya.
Maka, kedua mata Kai enggan berkedip sedetikpun.
Hingga kedua kelopak mata sayu itu bergetar, menahan agar tidak tertutup.
Kai jelas merasakan makhluk dingin itu masih mengamatinya.
Tapi udara awal Desember ini dingin dan kering, angin membawa salju kecil-kecil yang dapat menghilangkan kelembaban kedua binner indahnya.
Membuat matanya perih dan memerah.
"Aku tahu kau merindukanku"
"Ah!" sedikit tubuh anak Kim itu terlonjak dari duduk berjongkoknya di teras. Perkataan itu seolah memukul telak dirinya. Ia seperti dibaca jelas. Sejelas kertas putih yang ternoda tinta hitam.
"Hm. Kau sejelas jernihnya air surga"
"Aku.. merindukanmu" bibir merah cherry Kai berujar lirih.
Set!
Ya, kelopak mata sayunya tertutup dengan sangat indah.
Seringaian tajam lelaki dingin itu semakin lebar. Kai akan menjadi miliknya.
Cepat atau lambat.
PIK!
Kedua kelopak mata Kai terbuka sempurna.
13. 44 pm..
Detik jam seolah berhenti berbunyi.
Suasana siang mendung kali ini sangat tenang.
Kai berada di pekarangan belakang.
Bersama sosok dingin itu. Dengan kursi kayu panjang.
Dia duduk disamping Kai, memeluk pinggang ramping pemuda belia itu cukup erat.
Membuat kedua telapak tangan Kai menyentuh bahu lebar lelaki itu. Berusaha sedikit mendorong untuk memberi jarak.
Sudah cukup lama keduanya terdiam.
Kai bisa tahu jelas, lelaki itu..
Tidak bernafas.
Dada bidang dingin itu tidak bergerak sedikitpun.
Dingin, kaku, tidak bernafas, seperti mayat.
"Siapa kau sebenarnya?" telah dikumpulkan semua keberaniannya yang tercecer untuk mengeluarkan kalimat tanya sederhana yang kini bahkan terdengar sangat berharga. Dan juga mampu mengancam nyawa Kai kapan saja.
"Suamimu" lelaki bertopi fedora itu menjawab mutlak. Seolah memang hanya itu jawaban yang akan Kai temui meski bertanya hingga kepenjuru antariksa sekalipun.
Lelaki itu melepas sesaat pelukan eratnya, untuk menanggalkan jas hitamnya. Menyisakan kemeja hitam yang terlihat sangat pas pada tubuh mempesonanya.
Dada bidang, perut lurus dengan sixpack yang sedikit tercetak pada kemeja itu, dan bahu lebar, serta kedua lengan kekarnya, Kai tidak melupakan betapa indah tubuh dingin yang tertutup kemeja hitam lengan panjang itu.
Saat malam itu.
Kai tidak bisa lupa.
Kai melihat semuanya, bahkan menyentuh dinginnya saat ia sangat terbakar.
Tubuhnya disentuh, direngkuh, dan dijamah tubuh dingin itu hingga dilambungkan dalam kenikmatan.
Grep!
Sebelah lengan kekar itu kembali memeluk pinggang rampingnya erat.
"Bisakah kau lepaskan topi hitammu?" kedua tangan pemuda Kim berusia 15 tahun itu terangkat berusaha meraih topi fedora hitam lelaki tinggi yang duduk disampingnya itu.
Kai penasaran pada rupa sang lelaki berkulit dingin ini.
Bayang gelap topi fedora itu seolah menaungi bak gelapnya malam, menutupi wajah lelaki itu sangat sempurna.
Sampai saat ini, Kai tidak tahu seperti apa rupa lelaki dinginnya.
Grep!
"Aa!" Kai terlonjak ketika kedua tangannya dengan cepat ditahan hanya dengan genggaman satu tangan dingin itu.
Apakah Kai akan dibunuh saat ini juga?
Kenyataan lelaki dingin itu ada disamping Kai selalu mengancam keselamatan nyawa sang pemuda bersurai merah muda.
"Tidak sekarang, Sayang" suara itu lembut. Menenangkan Kai saat itu juga. Kai merasa emosinya dipermainkan oleh seseorang yang begitu hebat.
"Terimakasih" bahkan Kai tidak tahu, mengapa bibir merah penuhnya itu mengucap terimakasih tanpa alasan yang jelas.
Dingin.
Kai tahu jelas, rasa dingin menusuk tulang-tulang jemarinya, lelaki itu menggenggam kedua tangannya hanya dengan satu genggaman.
Sebuah genggaman dingin.
Melebihi dinginnya salju awal Desember ini.
15. 55 pm..
Matahari mulai menggelincir kearah tenggelam.
Rambut merah muda anak Kim itu terlihat sangat lembut dan indah ketika angin sore mendung itu meniupnya.
Halus.
"Kau indah.." suara lelaki itu terdengar berat. Membuat kedua kelopak mata sayu Kai memberat. Terbuai untuk terpejam nyaman.
Tidak dapat disangkal jika kini Kai menyandarkan tubuhnya pada dada bidang dingin lelaki itu. Sudah beberapa jam ia dalam posisi itu, tapi tak ada rasa pegal menyapanya. Kulitnya bahkan terasa kebal oleh dingin menusuk yang dihantarkan lelaki putih yang ia sandar kini.
"Kau tampan" kedua mata Kai yang semula terpejam itu kini membuka penuh. Membulat indah, terkejut.
Bagaimana bisa ia mengatakan itu padahal belum sekalipun ia melihat wajah lelaki tinggi dingin itu? Kai yang sedari tadi menyandarkan kepalanya di dada bidang dingin itupun mendongak. Melihat bagaimana wajah itu dari bawah. Dari dekat.
Nihil.
Gelap.
Sreet..
"Belum waktunya, Sayang" sebuah belaian lembut telapak tangan dingin di punggung sempit Kai kembali menenangkan hati pemuda Kim itu. Dinginnya menembus pakaian yang Kai kenakan.
Ada satu yang mengganjal di hati dan benak pemuda Kim itu, ia tak tahu sejak kapan datangnya, tapi itu terasa sangat besar menyerangnya.
Berlomba untuk diutarakan saat ini juga.
Saat lelaki itu ada disisinya, perasaan itu makin besar-dan besar.
"Apakah kau.." Kai menghentikan ucapannya, mengigit bibir bawahnya ketika kedua mata indah Kai bergerak gusar, memandang kebawah, kepada kedua kaki jenjang berbalut celana hitam dan sepatu kulit hitam yang dari betis hingga ujung sepatunya mulai pudar. Transparan.
Bukan manusia.
"..." lelaki itu diam. Tidak bertanya akan jeda yang Kai buat.
"Apakah kau.. mencintaiku?" dan itu adalah pertanyaan berat juga. Kai mempersiapkan hatinya.
Lalu Kai pun tahu, lelaki dingin itu tidak pula menjawabnya.
Tidak akan menjawabnya.
Diam cukup lama, mampu membuat Kai menahan air matanya yang berlomba-lomba ingin keluar membasahi pipi gemilnya.
Masih ia tahan.
Setelah menarik nafas dalam-dalam, pemuda manis bersurai merah muda itu menghembuskannya perlahan.
Tangan kanannya terjulur kebawah, jemari lentiknya perlahan meraba kaki kanan dingin berbalut celana hitam panjang itu, ia masih dapat memegangnya hingga lutut lelaki itu.
Tangan kanan Kai kembali meraba kebawah lutut, kebawah, kebawah, keba-
SRETT!
DAK!
"Ah!" tangan kanan Kai terayun bebas membentur dudukan kursi panjang yang diduduki keduanya.
Jika saja sebelah tangan lelaki dingin itu tidak memeluk erat pinggang ramping Kai, mungkin saja anak Kim itu terjerembab ketanah taman belakang rumah berumput itu.
"Kau tahu itu dengan jelas.." suara lelaki itu memperjelas fakta yang selama ini Kai sangkal dan ingin Kai sangkal selamanya.
"Tidak!" kembali Kai meraba dari lutut lelaki itu, hingga pertengahan tulang keringnya-
SRETT!
DAKK!
Tangan Kai yang hendak meraba kaki lelaki itu lebih kebawah, kembali lolos bagai menembus angin kala tangannya itu mencapai bagian yang terlihat samar transparan itu. Kembali membentur kebelakang.
"Andwae.. andwaee.. hiks- andwae! Hiks-hiks!" kemudian isakan Kai terdengar bersamaan dengan tangannya yang kembali meraba, mencoba menyentuh hingga sepatu kulit hitam yang nyatanya transparan, memperlihatkan rumput dibawahnya.
Tapi baru sampai bagian tengah tungkai kaki bawah lelaki itu, tangannya kembali menembus kaki yang terlihat transparan itu.
"Aku-hiks-aku punya perasaan itu! Kau yang membuatnya! Hiks!" tubuh mungil pemuda berusia 15 tahun itu akhirnya bersandar lelah di dada bidang dingin lelaki disampingnya.
"Kau mencintaiku.." suara lelaki itu sebuah pertanyaan yang terdengar seperti perintah mutlak.
Grep!
Tubuh Kai menegang sesaat ketika kedua tangan kekar itu akhirnya memeluknya erat.
Dingin.
Dan Kai diam dalam isakanya.
"hiks-hiks-"
Tidak ia jawab pertanyaan lelaki dingin itu.
Hatinya kacau karena lelaki yang memeluknya erat kini.
Sangat posesif.
16. 12 pm
Sreet..
Kedua tangan kekar itu sepihak melepaskan pelukan erat dari tubuh Kai, sebuah raut kecewa terlihat jelas di wajah polos pemuda belia dengan poni merah muda manis itu.
Masih diam, Kai mengikuti gerak tangan lelaki itu. Menyorot seolah meminta dipeluk erat kembali.
Tapi kedua tangan itu hanya memperlihatkan kedua telapak tangan putih didepannya.
Didekatkan sisi telapak tangan putih itu sehingga membentuk seperti sebuah mangkuk.
Srrreeeessssskkksssshh..
Tak berselang lama, beberapa merah bunga mawar merah tanpa daun dan batang bermunculan dari kedua telapak tangan yang disodorkan didepan Kai.
Brrrssshhh.. pluks.. pluks..
Semakin banyak, semakin menumpuk hingga bertumpahan ke kursi, pangkuan Kai, dan beberapanya lagi terhembus angin sore, jatuh kepada putihnya salju dan hijaunya rumput.
"Mawar merah.." kedua mata sayu Kai memandang takjub kala bunga-bunga mawar merah segar itu mulai merekah terpecah-pecah helai-helai mahkota merah wanginya.
"Aku ingin menyentuhmu, menyentuhmu seutuhnya" perkataan lelaki itu membuat tubuh Kai terkesiap.
Grep! Kedua tangan pemuda berusia 15 tahun itu refleks memeluk tubuhnya sendiri.
Ia akan disentuh. Ia akan dijamah. Ia akan bercinta dengan lelaki dingin itu lagi.
"Aku ingin saat ini juga. Jadi makanlah mawar merah ini.." kedua tangan lelaki itu semakin disodorkan hingga beberapa helai merah mawar itu berjatuhan kembali diantara mereka berdua.
Kedua tangan Kai meremat bajunya erat, gemetar. Dengan kedua matanya yang menatap tumpukan mawar yang kian menggunung.
Kai tak ingin..
Sreet..
Apa yang terjadi tak sesuai dengan apa yang menjadi takut dalam diri Kai.
Krena tangan kanan Kai mengambil sehelai merah mawar segar yang sangat wangi itu, mengambil asal diantara puluhan bahkan ratusan helai-helai pecahan bunga mawar yang kini makin menggunung dan tumpah di pangkuan mereka.
Ragu Kai menatap lelaki dewasa bertubuh tinggi tegap yang duduk sedikit serong menghadapnya.
Helai merah dengan wangi semerbak itu dipandangnya sesaat, sebelum bibir penuh sensualnya membuka kecil..
Haup..
Seringai lebar tercetak jelas di wajah lelaki dingin itu.
Glup~
Pemuda berusia 15 tahun itu menelan helai mawar merah itu.
SRAKK!
"Aaa!" pekikan Kai terdengar kala lelaki dingin itu membuang asal mawar merah yang menggunung di kedua telapak tangannya.
Langsung ia terjang tubuh mungil Kai.
Bunga mawar berjatuhan diantara keduanya..
18. 34 pm..
Matahari benar-benar sudah tenggelam, memberikan lukisan indah semburat jingga membentang dilangit.
Bersamaan dengan salju yang mulai banyak berjatuhan.
Seindah keadaan dua lelaki itu kini.
Diluasnya taman belakang.
Rerumputan menjadi lantai mereka, dan langit menjadi atap mereka.
Saling menghangatkan, meski hanya dingin yang Kai rasakan. Tapi tubuhnya merasa sangat panas kini.
Baju Kai tercerai berai di rerumputan hijau yang tertutup putihnya salju tipis.
Entah sudah berapa waktu mereka habiskan hingga sampai saat ini.
"Angh.. hnh.." desahan Kai kembali lolos kala ia tak sempat mengulum dua jari sedingin ice stick yang menyumpal mulutnya.
Keduanya naked. Memasuki dan dimasuki.
Kai dibawahnya mengerang dan mendesah nikmat. Indah kulit tan itu ketika bersandingan dengan putihnya salju. Dan putih kulitnya. Kontras.
Helai rambut Kai seolah sama pasrahnya, rebahan pada dinginnya rerumputan, tak berdaya.
Kedua mata sayu Kai menatap lembut penuh nikmat membuatnya ingin lebih-dan lebih keras menumbuk hole sempit Kai, meski anak berambut merah muda itu menangis kesakitan.
"Ah! angh! Stop! Sakit! Angh- hnh.. emnghmh.. ssh.. hnh.. ACK! Hiks- sakit! Terlalu keras!" ia merobek dan mengoyak hole sempit Kai dengan brutal.
Plock! Plok! Plok! Clkck! Plock!
Bahkan suara penyatuan mereka dibawah sana terdengar begitu jelas.
"Hole mu sangat nikmat, sayang.. ermh.." lelaki putih itu memperdalam penis besarnya. Menggenjot semakin dalam, kedalam hangatnya hole ketat merah Kai yang seolah melahap dengan rakus penis besarnya yang berurat itu.
Beberapa bunga mahkota mawar merah jatuh seiring gerakannya.
Membuat pemuda belia Kim mendesah panjang sembari mencengkram bahu lebar dinginnya.
"Ah.. ah.. nmh.. hngh.. nnngh.. ehnh! Ssh.." Kai hanya bisa menggelengkan kepalanya lemah merasakan sakit dan nikmat bersamaan yang ia rasakan. Dan nikmat lebih mendominasi itu menjalar hingga keujung jari kakinya bahkan hingga ke ubun-ubunnya.
Lelaki dingin itu menggiring tubuh lemas Kai dalam kungkungannya, beranjak dari dinginnya rerumputan.
BRUK!
"ACK!" Punggung mulus Kai membentur batang pohon rindang di taman belakang.
Beberapa salju yang menumpuk diatas jatuh menimpa rambut halus merah muda Kai dan pundak lebar lelaki dingin itu.
Beberapa kuntum mawar merah segar berjatuhan dari punggung lebar itu ke bawah keduanya.
Naungan rindangnya pohon cemara besar itu membuat Kai tidak bisa melihat wajah lelaki yang kini kembali menggagahinya sangat brutal.
Salju yang tebal terbentuk di dahan dan ujung-ujung hijau cemara itu, serta matahari yang kian meredup, semua membuatnya tak bisa melihat wajah lelaki itu.
Pandangan Kai memburam ketika lelaki itu mengangkatnya tinggi, sehingga kini punggung lelaki itulah yang menyandar pada batang pohon cemara besar.
Brugh! Pluks-pluks-pluk-
Bersamaan dengan itu, Kai bisa melihat sendiri puluhan mahkota bunga mawar merah segar berjatuhan dari punggung lelaki dingin yang kini memeluk erat tubuhnya.
Kedua tangan Kai refleks mengalung pada leher kokoh putih dingin lelaki yang kini mencumbu lehernya penuh nafsu.
Kai bisa rasakan tangannya menjatuhkan tiga kuntum bunga mawar merah yang melekat di belakang tengkuk itu..
Bibir dingin itu menjamah leher jenjang Kai, memberi tanda kemerahan di sekitar bahu dan lehernya entah keberapa puluh kalinya.
Crrrekks! Clps..
Tanda baru itu dijilat oleh lidah dingin dengan lihai, tak bisa Kai tak mendesah nikmat akan hal itu. Kedua tangan Kai mencengkram erat punggung lebar sang lelaki dingin, membuat beberapa mahkota mawar kembali berjatuhan.
19. 57 pm
"Kumohon.. ak-ahng! Aku ingin-ohh.. melihat wajahmuh.. aaahssh" tubuh Kai terlonjak-lonjak, lelaki itu memegangi butt Kai dengan kedua lengan kekarnya, menggendong Kai didepan dengan kedua kaki jenjang Kai yang mengalung indah di pinggang ber absnya.
Jemari putih dinginnya itu ternoda merah darah yang mengalir dari hole Kai.
Tak henti ia menghentak keras dan dalam penisnya, mengaduk-aduk hole sempit itu hingga berdarah, menetes mewarnai salju dan rerumputan dibawah keduanya.
Helai-helai merah bunga mawar bahkan berjatuhan di dada datar mereka yang saling menghimpit..
"Tidak ada yang lebih nikmat selain holemu.. sayang" suara lelaki itu terdengar serak sangat bergairah, membuat kedua pipi Kai memerah. Senikmat itukah tubuhnya?
Tak sadar Kai mengetatkan holenya, membuat lelaki berkulit dingin itu menggeram rendah merasakan penis besarnya dicengkram erat dan seolah disedot kedalam. Nikmat.
PLOCK!
"Ahn! There! Please! Harder!" kedua tangan Kai secara refleks menarik tengkuk kuat itu kearahnya ketika penis besar didalamnya menumbuk dalam tepat pada spotnya.
Menambah banyak merah helai mawar berjatuhan pada putihnya salju..
Tubuhnya mengejang kuat. Tubuhnya seakan haus akan sentuhan lelaki dingin yang kini memangkunya, masih menusuknya dibawah sana dengan tempo cepat diluar nalar manusia.
Peluh membanjiri tubuh Kai, dan lelaki itu menjilati dada rata Kai yang basah keringat.
"Keringatmu bahkan manis, sayang" kecupan-kecupan ringan di pundak Kai yang lelaki itu berikan akhirnya berakhir pada puting kanan Kai yang mencuat merah muda menggiurkan.
"Ah! Ahng! Ohss! Eungh.. please.." jemari Kai meremat tekstur lembut yang Kai yakini adalah rambut lelaki itu. Permintaan Kai dikabulkan, lelaki itu menyedot rakus nipple merah muda Kai seolah dapat keluar susu yang dapat diminumnya.
Terdapat beberapa mahkota mawar yang ikut tergenggam jemari Kai, dan yang lainnya berjatuhan tergeletak di bahu lebar dingin itu..
Rambut lelaki itu dingin, potongan yang lumayan pendek.
Mengetahui sesuatu yang lebih mengenai lelaki itu mampu membuat Kai semakin terangsang.
Penis mungil pemuda berusia 15 tahun itu menegang hebat berwarna kemerahan dengan precum yang sudah keluar sedari tadi. Seolah kepalanya akan meledak untuk menyapa klimaksnya.
Tidak hanya holenya yang digenjot brutal dan nikmat. Nipplenya disedot kuat bergantian, buttnya dipijat beringas, tapi juga penis mungilnya yang menegang hebat itu sedaritadi bergesekan dengan abs sixpack dingin lelaki itu.
"A-aku-" Kai bahkan tidak bisa bicara lebih. Matanya terpejam erat dan hanya desahan-desahan merdu yang keluar seiring dengan sodokan keras penis besar itu didalam holenya yang kian berdarah.
BRUGH!
Puluhan pecahan mawar merah kembali berjatuhan diantara mereka bersama dengan rontokan salju dari dedahanan pohon..
"Bersama.."
Tubuh Kai ikut turun ketika lelaki itu mendudukkan tubuhnya di tanah rerumputan. Dipangkunya Kai, masih dengan kedua telapak tangan dinginnya yang kini beralih memegang erat kedua sisi pinggul Kai. Mengangkatnya naik turun berlawanan dengan arah sodokan penisnya dalam hole sempit Kai.
Pemuda manis Kim itu hanya bisa pasrah mengalungkan kedua lengannya di leher kokoh putih nan dingin itu, sedang kepalanya bersembunyi di perpotongan leher dingin itu, sesekali dikecup leher dingin itu dengan bibir merah bervolumenya.
CROOOOOOTTT!
"Aaaaangghh~"suara desahan Kai menandakan keduanya selesai bersamaan. Putih menyambut Kai, ia merasa diterbangkan keawan, sperma Kai keluar mengotori perutnya dan abs six pack itu. Bersamaan, Kai merasakan holenya penuh sperma yang akhirnya tak dapat holenya tampung.
Berlomba-lomba sperma dingin itu keluar meluber dari hole sempit hangat Kai. Warna sperma itu menjadi kecoklatan, bercampur dengan darah hole Kai.
20. 23 pm
"Kau istriku" sebuah kecupan dapat Kai rasakan di dahinya yang tertutup poni rambut merah mudanya. Perlakuan itu mampu membuat kedua mata Kai terpejam sesaat, sebelum tubuhnya terasa lemas dan berakhir bersandar pada dada bidang dingin itu.
Nafas Kai perlahan teratur, dan jari telunjuknya yang bergerak pada dada bidang dingin itu, menuliskan namanya sendiri di tubuh berbahu lebar kekar yang kini memeluknya posesif.
"Tubuhmu.. aroma mawar merah" menyangkal sekuat apapun, Kai sadar jika pada akhirnya ia sangat menyukai aroma mawar merah memabukkan yang menguar dari tubuh dingin kekar lelaki yang memeluknya kini.
Bahkan Kai merasa seperti bercinta ditengah kasur yang terbuat dari ribuan mawar merah, mengingat banyaknya mahkota bunga mawar yang terhampar diantara keduanya, membukit menutupi hingga pinggang keduanya.
Malam ini mendung, hanya bulan purnama yang sedikit mengintip mereka dari awan malam yang bergerak menutupinya.
Pemuda belia berambut merah muda itu menghembuskan nafasnya yang terdengar kecewa. Jemarinya bermain pada lengan kekar yang memeluknya erat.
Membuat beberapa mahkota mawar kembali muncul lalu berjatuhan.
Rasa kantuk yang menyapa kedua kelopak matanya memang menggiurkan, tapi ada yang mengecewakan untuk pertemuan mereka kali ini.
Itu menurut Kai. Ia merasa kurang.
"Lakukan, jika memang itu mampu menghapus rasa kecewamu, istriku.." dengan lembut lelaki itu meraih kedua pergelangan tangan kecil anak berusia 15 tahun yang duduk di pangkuannya.
Diarahkannya kedua telapak tangan Kai keatas, untuk menyentuh wajah dinginnya.
Kai yang semula masih tidak sadar apa yang disentuhnya akhirnya terkejut dan hendak menarik kedua telapak tangannya dari wajah lelaki itu.
"Tak apa, kau tak bisa melihat wajahku karena saat ini sangat gelap" lelaki itu kembali menggiring kedua telapak tangan Kai untuk menyentuh wajahnya.
Kai bahkan bisa merasakan kedua tangannya sendiri bergetar ketika menyentuh halus wajah dingin lelaki yang kini kembali memeluk pinggang sempitnya.
Meski tidak bisa melihat rupa itu, karena bayang gelap dahan pohon cemara yang menutupi hingga dada mereka berdua, Kai merasa sangat senang.
Sreet..
Sangat perlahan dan hati-hati jemari Kai menelusuri lekuk wajah lelaki dingin itu.
Alis tegas, pipi itu, hidung mancung itu, mata tajam yang bahkan tidak berkedip ketika tanpa sengaja Kai menyentuh ujungnya, bibir tegas, dagu itu, dahi itu, rambut itu, telinga itu.. semua..
Dan mawar merah yang muncul dan berjatuhan setiap Kai menyentuh lelaki itu..
"Hiks.." dari semua yang bisa digambarkan dalam khayalnya, Kai hanya bisa menangis.
"K-Kau sempurna.. Kau tampan.. hiks-" isakan Kai teredam saat lelaki itu meraih bahu sempit pemuda manisnya untuk didekap erat.
"Kau sempurna bagiku.. Kim Kai.." suara terakhir lelaki itu bagai sihir. Membawa Kai kedalam ambang sadarnya, dan jatuhlah Kai.
Jatuh kedalam mimpinya.
Hamparan mahkota mawar semakin menggunung menyelimuti tubuhnya nyaman..
21. 34 pm..
Tling~ Tringgg~
Suara denting kaca menyapa pendengaran Kai.
Perlahan Kai terbangun dari tidurnya, dikerjapkan kedua mata sayunya. Rambut merah mudanya yang berantakan itu membuatnya terlihat semakin sexy.
Cahaya sangat terang menyapanya.
"Euh?" suaranya membeo menyadari ia tertidur di kasurnya dengan pakaian lengkapnya. Diraba leher jenjangnya, tidak ada nyeri dan tidak ada tekstur tidak rata seperti gigitan disana.
Lehernya masih mulus, bahkan rasa nyeri di holenya hilang. Tubuhnya tidak lagi merasakan kelelahan akibat seks hebat berjam-jam sore tadi. Seolah semua hanya mimpi.
Mimpi yang bukan mimpi basah, mengingat tidak ada sperma yang mengotori celananya.
Ting~ Tring~
Kembali bunyi riuh kaca menyapa pendengaran Kai.
Ingin Kai kembali tertidur, tapi ia memang seseorang anak kecil, anak kecil memang masih memiliki rasa penasaran tinggi. Jadi saat ini ia tidak dapat tidur kembali sebelum melihat apa yang sebenarnya terjadi diluar kamar.
Segera ia beranjak dari ranjang tidur, ia bahkan merasa jalannya sangat baik, tidak mengangkang apalagi terseok hingga jatuh. Ia menjadi semakin heran.
CKLEKK..
Dibukanya pintu kamar, dan satu yang bisa ia lihat adalah punggung seorang lelaki berambut ungu disibakkan kebelakang yang sedang menata piring dan gelas di meja ruang tamu.
"Oh, kau sudah bangun, bocah?" ya, itu Baekhyun. Ia menghampiri Kai, dapat Kai lihat Baekhyun masih mengenakan kemeja biru tua dan celana jean biru gelap sama saat lelaki itu berangkat ke kampus tadi pagi.
"Hm.." Kai hanya mengangguk.
GREP!
Jemarinya sudah seperti kebiasaan memegangi kemeja bagian belakang Beval, mereka berjalan ke ruang tamu kemudian.
Puk!
Pemuda belia itu mendudukkan tubuhnya di kursi sofa panjang, didepannya sudah ada sepotong pizza di piringnya dan gelas yang masih kosong.
"Maaf, aku baru pulang larut. Aku melihatmu tertidur pulas, dan aku terlalu lelah untuk memasak, jadi.. hehe" Baekhyun hanya tertawa canggung sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
"Gwenchana Baekhyun hyung, kau selamat sampai rumah saja aku sudah sangat senang" suara Kai masih terdengar lirih karena masih mengantuk.
Mendengar perkataan Kai, terutama bagian 'rumah' mampu membuat Baekhyun berdehem salah tingkah. Pemuda matang itu jadi merasa ia adalah suami yang ditunggu pulang oleh istri manis tan sexynya di 'rumah' mereka. Ya, rumah mereka.
Itu terdengar baik. Senyum Baekhyun mengembang mendapat kesimpulan mengenai rumah ini, rumahnya dan Kai. Keluarga bahagia impian Baekhyun heh?
"-hyung? Kau tak apa? Hei Baekhyun hyung? Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri?" tangan kanan Kai melambai di depan wajah Beval.
"Ah? Apa?" Adken terkesiap. Oh sial, ia ketahuan memikirkan hal-hal aneh(?)
"Kenapa Baekhyun hyung melamun dan tersenyum aneh?" kembali anak manis itu bertanya dengan mulut yang penuh berisi sepotong pizza yang belum ia kunyah sama sekali.
"Tidak ada, aku menertawakan cara makanmu yang aneh itu! Dasar manis!" segera Beval meraih potongan pizza di piringnya sendiri.
"MWO? UHUKK!" teriakan tidak terima Kai berakhir dengan tersedak.
"Aish.. ceroboh sekali heh? Dasar.. tambah manis" dengan cepat Adken menuangkan isi dari botol yang berisi minuman bening berkarbonasi pada gelas kosong Kai.
"Pelan-pelan minumnya. Aish.." Baekhyun berdecak tidak percaya melihat Kai yang menenggak minuman berkarbonasi itu seolah hanya sebuah air putih.
"Lain kali aku tidak akan membiarkanmu makan malam hari" kedua tangan Baekhyun bersedekap didepan dada setelah Kai bernafas lega.
Anak tan itu kemudian mempoutkan bibirnya merespon perkataan Beval tadi.
"Kau harus lekas sembuh, oke.." Baekhyun mengusak rambut merah muda Kai yang sangat halus itu.
"Hyung.. aku merasakan sesuatu yang aneh.." tiba-tiba saja Kai berujar dengan nada yang serius.
Mendengar itu, Beval akhirnya mendekat, duduk disamping Kai yang semula diseberangnya.
"Ada apa?" dengan sangat penasaran Beval menatap Kai lekat.
"Ini masalah waktu itu.. jadi-"
"Kai! Pipimu?! Sejak kapan hah?!" suara melengking Adken memotong perkataan Kai. Kai sendiri tercekat. Ia juga baru sadar.
"P-Pipiku?! Aaa! Baekhyun hyung!" tak jauh beda. Kai berteriak melengking memegangi kedua pipinya.
Bekas luka jahitan itu..
Ada misteri yang harus dipecahkan untuk ini..
Pipi Kai..
Kenapa bisa jadi begitu?
-TBC-
Eat This Rose
BocahLanang Fanfict..
4k+ WORDS! Woooww panjang! Yeeey!
Nah.. NCnya banyak kan? Hampir keseluruhan FF lagih, hehe
Tapi gak se Hot biasanya, karena ini FF horror, ingat.. hhe.
Dan mulai ch ini sepertinya akan lebih banyak mawar.
Bagi yang ingin tahu, bunga mawarnya itu bisa bermunculan sendiri dari seluruh tubuh lelaki dingin itu.
(bukan keluar seperti tumbuhan keluar dari tanah gitu ya, itu ngeri cuy.. masa ada mawar tumbuh di sekujur kulitnya.. Disini tu mawarnya kayak kita kalo kulitnya basah terus kita tempelin mahkota mawar di kulit kita itu. Mawarnya tiba-tiba ada dikulit putih lelaki itu. Tubuh lelaki misterius itu tidak memproduksi/mengeluarkan mawar okay!)
Kalian bisa lihat anime Spirited-Away, disana hantu hitam yang pake topeng itu bisa mengeluarkan butir-butir emas dengan sendirinya. Tapi lelaki ini gak sejelek itu kok bentuknya.
Aku cuma ambil sifat tokohnya aja yang bisa mengeluarkan (dalam ff ini tubuh lelaki dingin itu akan memunculkan mahkota mawar merah, setelah penyatuan mereka di ch ini, tubuhnya akan lebih sering mengeluarkan mawar merahnya, terutama ketika Kai menyentuhnya), kakinya transparan, dan bisa berada dimana-mana. Tubuh lelaki dingin disini seperti tubuh manusia kok (tubuh real), hehe.
Jangan lupa review ya all,
Gomawo ^^
