Chater "F" update! Terima kasih sudah membaca dan memberikan review pada chapter sebelumnya. Chapter "F" sekarang berjudul "Firasat", tentang rasa penasaran Hinata dan Naruto. Kalau begitu selamat membaca chapter ini~!

Kibaa Inuzukaa, ryansaputra014 : makasih, ini sudah dilanjut kok.

Kagami Yoshida : Hoo, ternyata begitu. Oke, silakan membaca.

::

::

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

26 Days : Koi of Love © Hikaru-Ryuu Hitachiin

::

Pairing: Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki

::

Genre: Romance

::

Warning: Silahkan dibaca dan lihatlah kesalahan-kesalahan yang kapan saja bisa terjadi di fic ini. Yang pastinya Hinata agak sedikit OOC, itu menurutku.

::

Rated: T

::

~ Happy Reading ~

::

::

::

Firasatku mengatakan, Naruto menyukai Sakura. Firasat seorang wanita itu, tidak mungkin salah. Karena aku dapat merasakannya, perasaan Naruto yang begitu menyukainya. Firasatku juga mengatakan, Naruto mulai penasaran dan curiga dengan apa yang kulakukan selama ini. Kalau ketahuan, bagaimana cara aku menjelaskannya?

Semoga saja, firasatku ini salah. Tapi itu tidak mungkin ya?

::

::

26 Days : Koi of Love ◐

::

::

"Setelah semua pekerjaan selesai dan menunggu sampai ada pekerjaan yang lain, lebih enak baca buku dulu." Hinata mengambil buku yang kemarin dipinjam olehnya di perpustakaan sekolah. "Bacanya yang awal saja," kemudian ia duduk di bangku yang ada di ruang tamu.

"Setelah itu aku akan bersiap-siap ke sekolah," ia membuka halaman pertama, diisi dengan judul dan gambar sampuldepan, tapi berwarna hitam putih. Halaman berikutnya ada daftar isi, dan berikutnya berisi pendahuluan. Ia membuka halaman berikutnya, ia pun membaca pengawalan itu.

BAB I

KONSEP YIN DAN YANG

Dalam filosofi Cina, konsep Yin-Yang biasanya disebut Yin dan Yang di daerah barat. Biasanya digunakan untuk mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan di dunia ini dan bagaimana mereka saling membangun satu sama lain. Konsep tersebut didasarkan pada asal muasal dari banyaknya cabang ilmu pengetahuan klasik dan filosofi Cina serta dapat digunakan sebagai pedoman pengobatan Cina. Juga dapat menjadi prinsip dari seni bela diri yang ada di Tiongkok, sebagai contoh Baguazhang, Taijiquan (Tai Chi), dan Qigong (Chi Kung) dan ramalan Ching.

Yin dan Yang saling berlawanan dalam interaksi dengan dunia yang lebih luas dan sebagai bagian dari sistem yang dinamis. Semua hal memiliki kedua aspek tersebut yakni Yin dan Yang, tapi tidak setiap aspek tersebut memiliki perwujudan yang jelas pada objek dan mungkin pasang surut atau mengalir dari waktu ke waktu. Konsep Yin dan Yang sering dilambangkan dengan berbagai bentuk yang bervariasi dari simbol Taijitu, yang mana lebih umum dikenal pada kebudayaan barat.

Ada beberapa persepsi (terutama di barat) yang mengatakan bahwa Yin dan Yang selalu dihubungkan dengan sesuatu yang baik dan jahat. Namun, filsafat Taoist biasanya tidak memperhitungkan sesuatu yang baik atau jahat dan penilaian moral, dalam kaitannya dengan konsep keseimbangan. Konfusianisme (Filosofi dari Dong Zhongshu, c. Abad 2SM) tidak melampirkan dimensi moral dari Yin dan Yang. Tapi dalam istilah modern, istilah ini sebagian besar telah teradaptasi oleh filosofi Budha Taoist.

"Wah~ Aku tidak mengerti," walaupun berkata seperti itu, tapi Hinata tetap saja melanjutkan membaca. Sebenarnya ia tidak mengerti dengan apa yang barusan dibacanya, tapi ia penasaran.

Para Taijitu dan konsep dari periode Zhou telah diterapkan dalam keluarga dan hubungan relasi. Yin sebagai wanita dan Yang sebagai pria. Mereka menjadi satu sebagai dua bagian dari keseluruhan. Praktisi Yoga Zen, sebuah sistem pelatihan yang diciptakan pada tahun 2007, berpendapat bahwa Yin dan Yang merupakan suatu aliran. Taijitu adalah salah satu simbol yang tertua dan paling terkenal di dunia, tetapi masih banyak orang yang tidak memahami arti dari Yin dan Yang. Hal tersebut menggambarkan salah satu teori filsafat Tao kuno yang paling mendasar dan mendalam. Inti dari hal tersebut adalah dua unsur keberadaan yang berlawanan tapi saling melengkapi. Cahaya yaitu Yang digambarkan dengan warna putih, bergerak naik berpadu dengan kegelapan yaitu Yin yang digambarkan dengan warna hitam dan bergerak turun. Yin dan Yang adalah kekuatan yang berlawanan, tergantung dari aliran siklus alami. Mereka selalu mencari keseimbangan meskipun mereka bertentangan, tapi mereka tidak selalu bertentangan satu sama lain. Sebagai bagian dari Tao, mereka hanyalah dua aspek realitas yang sebenarnya berdiri sendiri. Masing-masing mengandung unsur dari yang lainnya, karena itu terdapat titik hitam dari Yin pada bagian putih dan begitu pula sebaliknya. Mereka tidak hanya sekedar saling menggantikan, namum mereka menjadi bersatu sama lain melalui aliran konstan alam semesta.

"Menjadi bersatu melalui aliran konstan alam semesta?" Hinata diam, kalimat itu membuatnya berpikir. Mereka bisa bersatu? Bisa ya? Bagaimana caranya? Melalui aliran konstan alam semesta. Itu maksudnya apa? Apa dengan sebuah kejadian alam mereka akan bersama?

Angin topan? Hujan? Bencana? Gerhana matahari? Salju? Matahari terbenam? Bulan purnama? Gerhana bulan? Apa mungkin mereka akan bisa bersama? Itu membuat Hinata tambah penasaran.

"Tapi firasatku mengatakan, suatu hari mereka pasti dapat bertemu dan akan bersama. Walau tidak jelas kapan itu akan terjadi, tapi pasti bisa." Hinata menutup bukunya, berdiri dan menaruh buku tersebut diatas meja.

"Sebaiknya aku siap-siap buat ke sekolah sekarang." Hinata menuju dapur, ia akan memasak untuk makan siangnya nanti. Karena ia akan kembali menunggu di sekolah untuk memberi kedua koi itu makan.

Dari dapur, terdengar suara teriakan Hanabi. "Kak Hina~ Ini buku apa?" tanyanya. Hinata yang sedang asyik memasak menghentikan aktivitasnya, ia menengok keluar dapur sebentar.

"Itu buku yang kakak pinjam dari perpustakaan sekolah. Kalau mau lihat silakan saja, tapi jangan lama-lama ya. Karena buku itu akan kakak bawa kembali," setelah mengucapkan itu, Hinata kembali melakukan aktivitas memasaknya.

Sambil menunggu masakannya matang, ia termenung di dapur. Memikirkan apa yang terjadi kemarin, itu benar-benar membuatnya penasaran. Naruto itu, sudah tambah curiga ya? Selain itu, Naruto itu, benar-benar suka Sakura ya?

"Kemarin ada yang janggal dengan Naruto," pikirannya kembali melayang ke kejadian kemarin malam.

Setelah sampai di tempat perpisahan, Naruto kembali bertanya. Lagi-lagi pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh Hinata. Sudah pasti itu akan membuat Naruto curiga dan tambah penasaran. Mungkin sebentar lagi apa yang disembunyikan Hinata akan ketahuan.

'Sebenarnya, adakah sesuatu yang terkait dengan sepasang ikan itu? Mereka selalu keluar secara terpisah, dan itu membuatku penasaran. Kenapa mereka tidak keluar saja bersama? Apa yang membuatmu tertarik pada mereka sampai seperti itunya?'

Sudah pasti Hinata tidak akan memberitahukan tentang mitos yang terkait dengan sepasang ikan tersebut. Karena Naruto tidak akan percaya dan malah tertawa dengan hebatnya. Yang Hinata tahu, koi hitam dan putih itu tidak keluar bersamaan karena mereka sedang bekerja. Yang satu bekerja dan yang satunya beristirahat. Mereka bertolak belakang, makanya tidak bisa bersama. Mereka itu, membuat Hinata tertarik karena mitos yang ada didalamnya.

"Ternyata ribet juga ya,"

"Kak," sosok ini, muncul tepat didepan Hinata. Tanpa disadarinya, membuat Hinata kaget dan hampir saja terjatuh. Padahal Hinata lagi asyik-asyiknya memikirkan Naruto, bukan pikiran yang baik sih.

"Hanabi? Ada apa?" tanya Hinata setelah itu.

"Masakannya," Hanabi menunjuk masakan yang hampir sudah diambang batas kekeringan. Asap-asap keluar dari sela-sela tutup, begitu banyak dan tebal. Mungkin karena sudah didiamkan terlalu lama.

"Astaga!" Hinata langsung berlari menuju sana dan mematikan kompor. Hampir saja mie yang mau dibuatnya lengket-lengket di wajan karena tidak ada air. "Terima kasih Hanabi," ucapnya, kemudian ia meniris mie tersebut agar tidak ada airnya lagi.

Untungnya Hanabi masuk ke dalam dapur dan memperingati Hinata, kalau tidak masakan Hinata kali ini akan gagal. Hinata mau membuat mie goreng kecap ditambah sama telur goreng. Ia membuat untuk jatah empat orang juga, jadi nanti tidak perlu menunggu lagi. Palingan kalau mau makan sisa dipanaskan sebentar saja.

"Apa yang kakak pikirkan?" tanya Hanabi melihat Hinata dengan wajah datar. Belakangan ini Hanabi penasaran dengan kakaknya sendiri. Kadang-kadang menanyakan hal aneh, bengong sendiri, bahkan membaca buku tentang hal yang tidak membuat Hinata tertarik sebelumnya.

"Memangnya wajahku terlihat seperti sedang berpikir ya?" Hanabi mengangguk, Hinata jadi bingung mau bicara apa. Ia hanya tersenyum, "Itu cuma firasat Hanabi saja," ucapnya kemudian.

'Firasat ya? Kadang firasat seseorang itu bisa benar dan juga salah. Tapi entah kenapa, untuk saat ini, aku menginginkan firasatku salah.'

~ VI ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ 6th Day ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ VI ~

"Kak Hinata sudah mau pergi?" tanya Hanabi, ia melihat Hinata yang sudah rapi dengan seragam dan sedang memakai sepatu.

"Iya," setelah selesai memakai sepatu tersebut, Hinata bangkit kembali. Ia mengambil tas yang tadi dititipinya pada Hanabi.

"Hati-hati ya kak," kata Hanabi memperingatkan. Hinata melihat Hanabi sebentar dan membuka pintu, ia terhenti dilangkah ini. "Bukunya sudah dimasukan ke dalam tas, 'kan?" tanya Hinata kembali memandang Hanabi.

"Iya,"

Hinata membawa buku itu agar dapat dibaca kembali, karena pasti bosan kalau tidak melakukan apapun saat sedang menunggu. Di buku itu masih banyak hal yang membuat Hinata penasaran sih. "Kalau gitu kakak pergi dulu ya," keluar sudah Hinata dari rumah.

Matahari yang terik dan begitu panas malah membuat Hinata menghentikan langkahnya. Ia jadi ragu-ragu untuk keluar dari rumah. Panasnya itu lho, benar-benar sampai di tulang! Seakan membakar kulit hingga gosong kalau terlalu lama dibawahnya. "Kok siang ini lebih panas dari biasanya ya?" Ia melihat Hanabi yang mendekatinya.

"Entah ya kak," balas Hanabi mengangkat kedua bahunya. Ini memang aneh, siang ini lebih panas dari biasanya. Kalau jalan ke sekolah, pasti tidak akan kuat bagi orang seperti Hinata. Di tengah jalan akan dehidrasi seketika dan akhirnya pingsan. Mengingat fisik tubuh Hinata yang tidak terlalu kuat.

Hanabi berpikir, bagaimana caranya agar panas siang hari ini tidak terasa? Menemukan jawabannya, ia lansung bergerak. "Tunggu disini sebentar ya kak," Hanabi masuk ke dalam rumah kembali. Ia mengambil kunci duplikat kamar Hinata dan masuk ke dalam kamar Hinata. Diambilnya jaket ungu muda yang menggantung di balik pintu.

Kemudian ia melanjutkan langkahnya ke dalam dapur. Tidak lupa ia mengunci kamar Hinata kembali, tidak lupa juga menaruh kunci duplikat itu diasalnya. Di dapur ia mengambil botol ukuran satu liter dan diisinya dengan air. Ia juga memasukan beberapa bongkahan es batu agar airnya menjadi dingin. Berpikir kembali, apakah ada yang kurang? Kalau hanya bermodalkan jaket, hanya akan melindungi Hinata dari panas, tidak hujan. Jadi Hanabi kembali bergegas mengambil payung. Apakah setelah ini masih ada yang kurang? Sepertinya tidak. Jadi ia keluar dan menyerahkan ketiga benda itu pada Hinata.

"Pakai jaketnya, terus kalau merasa haus diminum minumannya. Kalau hujan, jangan lupa dipakai payungnya." melihat Hanabi, Hinata jadi tertawa. Hanabi itu, tipe yang mengkhawatirkan kakaknya ya. Atau lebih mirip dengan seorang ibu yang khawatir pada anaknya?

"Terima kasih, kalau gitu kakak pergi dulu ya." Hinata memakai jaket tersebut dan menaruh minuman itu didalam tasnya. Kemudian ia berjalan menjauhi rumah sambil melambaikan tangannya pada Hanabi.

Perjalanan memang terasa lebih berat dari biasanya. Hinata harus minum ditengah jalan, jarak rumahnya dengan sekolah memang lumayan jauh. Sepertinya saat ini matahari lebih dekat dari biasanya, buktinya matahari itu terlihat lebih besar.

Setiap hari sekolah terbuka, tidak pernah dikunci karena hampir setiap hari ada anak yang datang ke sekolah untuk mengerjakan tugas. Sebenarnya ada alasan lain kenapa sekolah tidak pernah dikunci. Karena kunci gerbang sekolah hilang, dan sampai saat itu belum dibuat yang baru. Kalau digembok, nanti bukanya gimana? Untungnya di tempat tinggal mereka, tidak ada yang namanya pencuri. Jadi kalau tidak dikunci sekalipun, tidak akan ada yang hilang.

Hari minggu lebih sepi dari hari yang kemarin-kemarin. Hinata baru saja melihat ketua OSIS yang lewat dan tidak menyadari keberadaannya. Menjadi ketua OSIS itu memang merepotkan, setiap hari harus masuk ke sekolah. Banyak tugas yang harus dilakukan untuk kepentingan sekolah. Lupakan itu, sekarang Hinata sudah sampai pada tujuannya.

Ia mengelap keringat yang berada di pelipisnya, membuka topi jaket yang menempel di kepalanya. Mengeluarkan makanan ikan yang sudah disiapkannya, dan menebarkannya disekitar kolam. "Ha~" Hinata menghempaskan dirinya di bangku, beristirahat sebentar.

Ia mengambil buku itu dan membuka bagian simbolisme kembali. "Yang sebaliknya ditandai dengan cepat, keras, padat, fokus, panas, kering, dan agresif. Berhubungan dengan api, langit, matahari, maskulinitas dan siang hari." ia berhenti membaca. Kembali ia teringat dengan ucapan Naruto saat hari Senin lalu.

"Memang begitu ya?" Hinata menutup buku itu kembali. Niat membacanya menghilang karena suatu alasan yang tidak pasti. Sekarang, apa yang harus dilakukan olehnya?

Kembali Hinata melihat koi putih tersebut, "Tidak kesepian ya?" tanyanya. Yah~ Bertahun-tahun begini terus. Kalau Hinata pasti sudah tidak betah dengan keadaan yang seperti itu. Disaat seperti ini saja, baru sebentar sendiri, sudah membuatnya tidak tahan.

Tapi bagaimana dengan masalah Naruto ya? "Apa Naruto sudah mulai curiga? Kenapa aku melakukan ini terus setiap hari? Yah~ Mana mungkin hal seperti ini tidak dicurigai sih." Hinata berjongkok, memandangi koi itu kembali.

"Hei~ Naruto itu benaran menyukai Sakura ya?" tidak ada jawaban, Hinata memelas. "Kenapa aku tanya begitu sama binatang ya? Pantaslah tidak dijawab," diam kembali. Hinata menjadi murung, apa benar cintanya akan terbalas? Hinata jadi kurang yakin.

"Lalu, apa Naruto sudah curiga padaku? Tidak enak juga kalau menyembunyikan rahasia lama-lama." perasaan Hinata jadi tidak enak. Kenapa disaat seperti ini perasaannya malah seperti ini sih? Perasaan yang begitu tidak enak.

"Firasatku ini salah ya? Salah, 'kan?" Hinata benar-benar menginginkan kalau firasatnya itu salah. Salah seratus persen, tidak ada yang benarnya sama sekali. Naruto menyukai Sakura? Naruto mulai mencurigainya? Semoga firasatnya salah. Salah~

Kembali Hinata mengingat ekspresi berbeda Naruto, ekspresi yang tidak pernah diberikannya pada Hinata. Ekspresi orang yang sedang jatuh cinta~ Sakit rasanya mengingat itu kembali. Kalau perlu, Hinata mau mengulang kejadian kemarin. Tidak melihat ekspresi itu, dan tidak bertemu Naruto kemarin.

"Tidak, firasatku memang benar."

Disinilah Hinata, di tempat yang baru-baru ini selalu didatanginya. Bahagia dan sedih, selalu dirasakannya, dan dapat kembali seperti semula. Tapi berbeda dengan yang sekarang. Dihari keenam ini, baru kali ini ia merasa sesedih ini. Apalagi dengan firasatnya sendiri. Baru kali ini, ia merasa tidak suka dengan firasat yang benar. Firasat yang malah membuat hatinya sakit dan terluka.

"Coba kalau salah ya,"

~ VI ~

˚°◦ ◦°˚ ◐ Firasat ◐ ˚°◦ ◦°˚

~ VI ~

"Benar 'kan perkiraanku," ia melihat Hinata yang sedang membaca buku, padahal sebentar lagi sudah gelap.

"Hinata!" Naruto berlari menghampiri Hinata, Hinata yang mendengarnya pun kaget. Kenapa ada murid yang mengetahui namanya? Memangnya siapa yang jam segini ada di sekolah selain dirinya? Yang jelas bukan hantu.

Dengan perlahan, Hinata melihat sosok itu. "Naruto?" tanyanya tidak percaya. Kenapa dia ada disini? Untuk apa kedatangannya kemari? Penuh pertanyaan didalam kepala Hinata. Kenapa disaat seperti ini, ia malah bertemu dengannya?

"Benar 'kan! Untung aku datang kesini," seru Naruto dan langsung duduk disebelah Hinata.

Hinata menutup buku yang dibacanya, "Memang apa untungnya?" tanya Hinata kemudian. Tidak ada, 'kan? Untuk saat ini, tidak ada keuntungann sama sekali jika bertemu dengan Hinata. Hinata tidak membawa apapun yang dapat berguna.

"Untungnya ya? Yah~ Bahaya kalau kau pulang sendirian. Kalau jadi apa-apa padamu dan tidak sampai rumah dengan selamat, aku bisa gawat." jawab Naruto dengan wajah yang dibuat-buat. Ternyata untungnya adalah, terbebas dari ancaman Hiashi.

"Haha~ Maaf kalau merepotkan. Aku jadi selalu merepotkan Naruto deh," mengingat kejadian lalu-lalu hingga sekarang, Hinata memang sudah banyak membuat Naruto repot. Sampai-sampai harus menemani Hinata terus, tidak ada waktu buat dirinya sendiri.

"Sudah~ Jangan dipikirkan." lagian Naruto sendiri yang mau kok, tidak ada masalah sama sekali. Malah lebih mengasyikan bersama Hinata, daripada sendirian di kamar apartemen yang sudah bagaikan rumah sendiri yang sepi.

Naruto melihat buku yang ada ditangan Hinata, "Baca buku apa?" tanyanya penasaran. Judul buku itu tertutup oleh tangan Hinata, jadi ia tidak dapat melihat apa yang dibaca Hinata.

"Ini tentang Yin dan Yang," jawab Hinata.

Tentang pengetahuan umum ya? Naruto kurang tertarik, jadinya Naruto hanya membalasnya dengan ucapan 'oh' saja.

"Kata-kata Naruto waktu itu juga ada di buku ini," Hinata memberitahukan apa yang terdapat didalam buku itu, sesuatu yang pernah diberitahukan sebelumnya oleh Naruto.

"Ada ya? Aku memang pintar sih," dengan nada sombongnya, ia menempatkan jari telunjuk dan jempolnya di dagu. Membanggakan diri sendiri, itulah hal yang dilakukannya saat ini.

Setelah asyik membanggakan diri sendiri, Naruto kembali melihat Hinata. "Kok kesini lagi?" tanya Naruto langsung. Tidak ragu-ragu Hinata menjawab apa yang menjadi kenyataannya. "Iya, 'kan mau kasih makan." jawab Hinata.

"Ya sudah, buruan kasih makan. Sudah gelap nih,"

Setelah itu pun Hinata memberi makan koi hitam itu. Hinata tidak melihat saat kedua ikan itu bertukar, tiba-tiba sudah bergantian saja. Kalau dilihat kejadiannya langsung, mungkin koi putih akan berenang ke dasar. Kemudian koi hitam akan keluar dengan cepatnya.

Hinata berjongkok melihat koi itu, 'Ternyata akan terjadi kejadian seperti ini ya,' batinnya.

Tanpa Hinata sadari, Naruto terus saja menatap Hinata. Ia begitu penasaran dengan Hinata yang sekarang, "Kenapa terus-terusan?" tanya Naruto tidak jelas.

Walaupun tidak jelas begitu, tapi Hinata tahu arti dari pertanyaan itu. "Karena aku mau," jawab Hinata.

Merasa tidak puas dengan jawaban yang seperti itu doang, Naruto pun bertanya kembali. "Tidak ada sesuatu memangnya?" tanyanya. Kali ini pertanyaan itu sukses membuat Hinata bertanya balik.

"Maksudnya?"

Naruto mengalihkan pandangannya, sekarang gantian Hinata yang melihat Naruto. "Yang membuatmu jadi betah ke tempat ini." sedangkan Naruto melihat koi hitam dan memainkan rumput-rumput yang ada didepannya.

"Ti..tidak," jawab Hinata terbata-bata. Kalau jawaban Hinata seperti itu, sudah pasti kalau Hinata berbohong. Yang Naruto tahu, kalau Hinata berbohong pasti sulit untuk berkata-kata.

"Jangan bohong," Hinata sudah tidak tahu harus berkata apa sekarang, diam saja sudah cukup. Tapi kalau diam saja, rasanya ada yang mengganjal. "Yah~ Sudah ketahuan sih," lanjut Naruto karena tidak ada balasan dari Hinata.

"Apanya?" tanya Hinata. Apanya yang sudah ketahuan? Ketahuan kalau Hinata menyukai Naruto? Atau kalau di tempat ini sebenarnya ada sebuah mitos?

"Ini cuma firasat ya," Hinata menatap Naruto serius. "Pertama, setelah kulihat lama-lama ini. Sepertinya Hinata sedang menyukai seseorang ya?" pertanyaan ini sukses membuat Hinata malu.

Blush~ Wajah hinata memerah seketika, tapi ia tidak menjawab pertanyaan Naruto. Ia hanya menjawabnya didalam hati, 'Itu kamu Naruto.' tidak bisa diutarakannya langsung. Karena ini bukan waktu yang tepat, nanti pasti ada waktunya sendiri.

"Kedua, sepertinya ada sesuatu yang berhubungan dengan sepasang koi ini. Sehingga kamu tertarik berlama-lama disini, bahkan setiap hari. Sebenarnya disini itu ada sebuah misteri ya? Legenda atau mitos?" lagi-lagi Hinata terdiam, ia tidak bisa menjawabnya.

Bukan waktu yang tepat untuk dirinya memberitahukan hal itu sekarang. Enam hari memang sudah terlewatkan, tapi sampai saat ini Hinata masih belum memberitahukan tentang mitos itu pada Naruto.

Sebenarnya Naruto tidak suka dengan situasi ini, semuanya diam dan tidak berkata apa-apa. Daripada terus berlanjut seperti ini, sebaiknya Naruto mengubah keadaan. "Yah~ kalau tidak mau menjawab tidak apa sih," Naruto berdiri, ia mengambil tas Hinata yang ada di bangku. "Ayo pulang," ajak Naruto.

"Iya," Hinata berdiri juga, ia menyusul Naruto yang sudah jalan lebih dulu.

Sebenarnya Naruto agak risih dengan keadaan ini. Kenapa Hinata berjalan di belakang terus? Kenapa tidak menjajarkan jalannya dengan Naruto? Sudah gitu, Hinata jalan sambil menunduk. Tidak takut terhantup sesuatu kali ya.

Bahkan Naruto yang berhenti jalan untuk mensejajarkan posisinya dengan Hinata pun tidak diketahui oleh Hinata. Apa ucapannya yang tadi membuat Hinata tidak enak? Itu yang ada dalam pikiran Naruto. Kalau memang iya, dirinya harus mencairkan suasana.

"Jangan dipikirkan ucapanku yang tadi. Ingat, itu hanya firasat lho. Belum tentu benar atau tidak," Hinata terhenti, melihat Naruto yang ternyata ada dibelakangnya.

Kemudian berjalan kembali tanpa membalas ucapan Naruto. Naruto yang ditinggal Hinata jadi berlari menyusulnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada Hinata? Kenapa Hinata jadi seperti itu?

'Firasatmu benar lho, Naruto.'

::

::

To Be Continue ◐

::

::

Chapter "F" akhirnya selesai! Bagaimana dengan cerita di chapter ini? Apakah memuaskan para pembaca sekalian? Terima kasih sudah membaca chapter ini dari awal sampai akhir. Berikan pendapat kalian sekalian melalui kotak review. Mohon maaf kalau chapter kali ini kurang memuaskan, dan sampai bertemu di chapter berikutnya. Berikutnya adalah chapter "G", ditunggu ya.

Thanks To :

Kibaa Inuzukaa, ryansaputra014, Kagami Yoshida.

V

V

V