Disclaimer : Bleach © Tite Kubo-Sensei


Lump Of Affection

Pair : Ichimaru Gin x Kuchiki Rukia

By : Nakki Desinta

.

.


Seventh –Giving Up For You–


.

.

.

22. Aku menyerah?

.

.

Awalnya aku tidak percaya dengan apa yang sedang ku lakukan akhir-akhir ini, tapi seperti inilah kenyataannya, aku sendiri kadang menghela napas panjang setiap kali berpikir untuk merunut keberadaan akal sehatku.

Aku selalu bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat Kakak Byakuya menerima lamaran Gin dengan sangat mudah. Tapi aku tidak bisa bertanya langsung, karena Kakak sendiri seperti menghindari setiap kali aku akan mengarah ke topik itu. Sedangkan Gin sendiri hanya menyeringai setiap kali aku bertanya.

Apa iya Kakak bisa semudah itu mengikuti kata-kata licik Gin? Apa mungkin Gin menggunakan semacam mantra kido yang bisa membuat Kakak jadi seperti itu? Aku hanya jadi penebak dalam hal ini, karena yang paling tau kejelasannya, ya Kakak dan Gin sendiri. Padahal aku kan berhak tau. Iya kan? Kenapa aku malah terkesan jadi orang luar dalam hal ini?

Aku menghela napas berat.

Aku terdiam di dapur barak divisi tiga, membuat teh untukku sendiri, aku akan menyelesaikan laporanku yang tertunda selama seminggu ini, karena proses pertunangan yang terlalu rumit itu.

Ya, harus dipercaya! Sekarang statusku adalah tunangan Kapten Divisi Tiga, Ichimaru Gin.

Proses pertunangan sudah selesai dua hari lalu dan sekarang aku yang kena sial lagi, menyelesaikan laporan yang seharusnya Gin selesaikan. Dia tetap menyebalkan seperti biasa, lihat saja apa yang ia lakukan sekarang. Dia pergi untuk rapat dengan kapten lain di pemandian air panas.

Rapat di pemandian air panas lagi? Dia pikir aku akan percaya?

Itu hanya alasannya untuk mencari pengecualian, untuk kabur dari semua laporan yang menumpuk ini.

Aku mengaduk air yang perlahan berubah warna menjadi cokelat kemerahan itu, membuat gula bercampur di dalamnya.

Selama seminggu sebelum hari itu datang, aku berpikir keras untuk mencari cara kabur dari pertunangan, namun hatiku sendiri mengkhianatiku, disaat aku berpikir untuk kabur, aku malah mengingat saat-saat Gin menolongku, saat-saat Gin membuatku nyaman tepat setelah tragedi malam mengerikan itu. Gin menyebalkan, dan selalu memancing emosiku, namun disaat aku membutuhkan seseorang untuk menolongku dia akan hadir tanpa aku minta, sekalipun pada akhirnya dia menertawakanku. Bahkan aku sempat berpikir bahwa Kakak mungkin akan sangat malu jika aku menjadi calon pengantin yang kabur, dan rentetan alasan itu menjadikanku terjebak dalam perangkap Gin sepenuhnya.

Prosesi pertunangan berlangsung tenang dan khidmat, Gin tidak menunjukkan sedikitpun seringainya hingga kami menukar cincin, dan menerima ucapan selamat dari seisi Gotei 13.

Shiba Kukaku hadir dalam acara itu, dia menyampaikan selamat padaku, mengatakan bahwa aku harus berbahagia dan jangan pernah berpikir untuk menyesali apa yang terjadi pada Kaien. Sekalipun dia tidak rela karena pada akhirnya aku bukan menjadi adik iparnya, dia tersenyum saat mengatakannya, dan mengatakan tidak mungkin memaksaku menikahi Ganju, adiknya yang paling kecil.

"Kau melamun, Ru-ki-a."

Aku tersentak saat merasakan sepasang tangan kurus dan panjang merangkul bahuku dan dia menyandarkan dagunya di puncak kepalaku.

Siapa lagi kalau bukan Gin? Dia selalu bersikap seperti ini setiap kali hanya ada kami berdua, entah mengapa aku merasa ini sisi lain lagi dari dirinya, dan aku tidak menyangka dia juga punya sisi manja seperti ini.

"Aku tidak melamun, tapi sedang membuat teh," kataku tanpa repot-repot berbalik ataupun melepaskan tangannya dariku.

Ini keanehan lain lagi di diriku, aku merasa mulai terbiasa dengan kehadiran Gin di sampingku, bahkan mendekati taraf nyaman. Aku sendiri tidak mengerti apa penyebabnya.

"Kalau begitu buatkan untukku juga," bisik Gin yang semakin bergelayut padaku.

"Ugh! Kau berat Gin!" keluhku yang berusaha menegakkan diri, tapi Gin masih saja bersandar, tidak sadar badannya dua kali ukuran badanku.

"Teh hijau," bisiknya, dan dia sedikit menegakkan diri namun masih dengan posisi yang sama, bahkan sekarang dia memainkan rambutku dengan tangan kanannya.

Aku menghela napas berat, sepertinya dia tidak akan pernah melepaskanku.

"Bagaimana aku bisa mengambil teh jika kau memelukku seperti ini?" kataku.

Karena jujur saja, tinggi badanku ini menjadi rintangan tersendiri untuk mengambil kotak persediaan teh di lemari dapur tepat di atas kepalaku, dan aku selalu berjinjit habis-habisan untuk meraihnya.

"Dasar pendek!" umpatnya.

"Apa?" aku baru saja hendak mengeluarkan serapahku saat kedua tangan Gin terselip di ketiakku, dia mengangkat tubuhku seperti seorang bayi saja, dan ini yang kesekian kalinya. Aku benci sekali!

Dia menjulurkan tangannya agar aku bisa mencapai lemari, dan aku tidak bisa memprotes lagi, segera saja aku mengambil kotak teh dan Gin menurunkanku kembali untuk menjejak lantai.

"Jangan pernah menyinggung tinggi badanku!" kataku marah.

"Itu kenyataan, kan?" jawab Gin santai, dan beralih untuk bersandar di meja tempat ku membuat racikan teh untuknya, berdiri tepat di sampingku.

"Kalau begitu menyesallah sudah bertunangan dengan wanita pendek sepertiku!" kataku lagi, lebih sengit kali ini.

"Aku tidak akan menyesal, karena aku yakin kaulah yang telah aku pilih," bisik Gin yang kembali membawaku ke pelukannya.

Ini tidak adil! Aku selalu saja merasakan detak jantung yang tak menentu setiap kali Gin bersikap seperti ini padaku, dan aku tidak bisa berkutik sama sekali karenanya.

"Kena kau!" gumamnya dengan seringai lebar, tepat saat melepaskanku dari pelukannya.

"Dasar!"

"Bawa tehnya ke ruang istirahat ya, Calon Istriku!"

Gin kabur begitu saja, aku pun tidak ingin mengejarnya. Aku tidak ingin membuang-buang tenagaku untuk menghadapi keisengannya.

Selalu saja begitu, dia akan membuatku tersipu dengan semua tindakan konyolnya dan kabur setelah menertawakanku sepuas hatinya. Itu yang membuatku ragu, benarkah dia sungguh-sungguh memilihku sebagai pasangannya? Bukan untuk menjadikanku bahan tertawaan selamanya?

Aku membawa dua cangkir teh bersamaku, melewati koridor yang kosong tanpa tanda-tanda keberadaan anggota yang lain. Barak divisi tiga sudah sepi, hanya ada beberapa anggota yang mendapat bagian membersihkan area sebelum pulang, beberapa di antara mereka menyapaku dan menawarkan untuk membawakan baki yang ku bawa, namun aku menolak, tidak ingin memberi resiko lain pada diriku jika Gin mendapati bukan aku yang membawa baki teh ini.

Aku mengetuk pintu ruang istirahat kapten divisi tiga, dan tidak mendapatkan jawaban apapun, maka aku masuk tanpa permisi lagi, siapa suruh tidak menjawabku.

Ruangan dengan satu-satunya penerangan itu terlihat redup, memberikan suasana malam tenang yang menentramkan hati, aku sangat pelan membawa baki di tanganku, berusaha untuk menimbulkan suara, karena aku melihat Gin sedang duduk- ralat! Dia tertidur dalam posisi terduduk di depan meja, sedangkan kepalanya bersandar di sisi tempat tidur.

Tempat tidur kapten bukan seperti tempat tidur biasa, bukan hanya model futon sederhana, tapi tempat tidur mereka berbentuk tinggi , dengan busa tebal yang nyaman dan hangat.

Iri boleh saja, tapi salahkan diri sendiri yang tidak bisa jadi kapten, kalau jadi kapten pasti bisa mendapatkan fasilitas yang sama.

Aku meletakkan baki di atas meja, sangat perlahan karena aku tidak ingin membangunkan Gin.

"Gin, tehmu," kataku berbisik, tapi tidak ada reaksi dari Gin.

Aku bergerak mendekatinya, dia tertidur dengan posisi seperti ini apa tidak pegal? Kenapa tidak tidur di tempat tidur saja sih? Aku kan tidak bisa memindahkannya ke tempat tidur! Gin menggeliat pelan dan memeluk dirinya erat-erat, sepertinya dia kedinginan.

Ku raih selimut dari tempat tidurnya dan membentangkannya di tubuh Gin, hingga menutupi batas lehernya.

Dia terlihat sangat lelah. Apakah dia benar telah bekerja sekeras itu? Aku merasa dia seperti pemalas karena melimpahkan semua tugasnya sebagai kapten pada Kira dan aku, Kira untuk hal teknis dan aku yang mengerjakan administrasinya.

"Jika kau selelah itu, kenapa tidak tidur di tempat tidurmu saja?" gumamku seraya duduk di sampingnya, ku peluk lututku sendiri, merasa menyesal karena sudah meremehkannya selama ini. Kalau seperti ini dia terlihat telah bekerja dengan sangat keras hingga kekurangan istirahat.

Aku menoleh pada Gin yang terlelap, terlihat sangat tenang, dan rambut peraknya berjatuhan menutupi sebagian wajahnya, dia terlihat seperti bukan Gin yang suka sekali menarik sudut bibirnya, dia terlihat bagai malaikat serba putih yang menyilaukan mata.

Timbul keinginan hatiku untuk menyentuh rambutnya yang terlihat sangat lembut itu, mungkinkah rambutnya akan terasa sama lembutnya jika aku menyentuhnya?

Ragu-ragu ku julurkan tanganku, mencoba menyentuh helaian rambut Gin. Benar saja, rambutnya sangat lembut, seperti menyentuh helaian sutra, aku tidak bisa membayangkan bagaimana Gin merawat rambutnya hingga bisa selembut ini?

Untuk pertama kalinya aku merasa Gin terlihat tampan, dia tampan dan mempesona tanpa seringainya, andai dia bisa berwajah seperti ini setiap harinya, mungkin ia bisa mengalahkan popularitas Kakak Byakuya di antara shinigami wanita di Gotei 13.

Garis wajah Gin yang tegas dan berujung lancip memberi kesan manis, kulitnya pucat tapi lembut, dan tidak akan pernah mengalahkan warna pucat manapun yang dimiliki para kapten lain. Segala tentang Gin adalah perak dan putih, aku menyukai warna itu..

Tunggu dulu! Aku menyukai warna milik Gin? Tidak! Tidak! Ini salah, aku tidak mungkin menyukai-

"Sudah selesai mengagumiku?"

"Hah?"

Aku tersentak kaget saat Gin membuka mata dan menatapku langsung, raut wajahnya masih sama, tapi aku reflek menghindarinya.

Gin menangkap tanganku cepat, dan menghentakkanku hingga terhempas ke pelukannya, dia membawaku terbaring bersamanya di lantai, kontan aku berontak untuk lepas darinya.

"Tenanglah, Rukia. Seperti aku akan memperkosamu saja!" katanya santai, namun dia berhasil membuatku berhenti meronta.

"Aku akan bersabar hingga waktu yang tepat datang untukku menyentuhmu," bisiknya, dan dengan cepat aku merasakan panas itu merambat di wajahku, dia bahkan sudah memikirkan untuk menyentuhku, menyentuh seperti apa yang ia maksud?

"Besok aku akan pergi ke Dunia Manusia lagi, ada pergolakan Menos di kota Karakura. Aku tidak mengerti kenapa di kota itu selalu saja terjadi masalah," gumamnya seraya menyampirkan selimutnya hingga menutupi kami berdua, dan dia memelukku lebih erat lagi.

Ini pertama kalinya kami berada sedekat ini satu sama lain, sekalipun kami sudah bertunangan aku masih merasa canggung, membuatku tidak mampu bergerak untuk menolak ataupun menerimanya.

"Kapten Yamamoto pun ikut memerintahkanku untuk turun tangan, sepertinya dia lupa kalau aku memiliki seorang tunangan," lanjutnya.

"Apa hubungannya?" tanyaku tidak mengerti.

"Yah, setidaknya biarkan aku bermesraan dengan calon istriku sebentar lagi!" jawabnya dengan dengus tawa, tapi dia langsung mengerang kesakitan karena tanganku memukul dadanya keras.

"Aku tidak ingin melewati hari tanpa melihatmu, Rukia," desisnya dengan tangan memainkan ujung rambutku.

"Kenapa?" tanyaku.

"Kau kan kecil, bagaimana kalau kau hilang karena aku tidak mengawasimu dan bagaimana jika tidak ada seorang pun yang bisa menemukanmu?" celetuknya, lagi-lagi dia membuatku marah dengan jawabannya, ku kira dia serius, tetap saja buntutnya bercanda.

"Dasar!" balasku, namun kali ini dia menangkap tanganku yang hendak mendarat di dadanya lagi.

Dia menggenggam tanganku, membawanya ke atas dadanya dan ibu jarinya membelai kulitku dengan sangat perlahan. Gelenyar aneh itu kembali menyelimutiku.

"Temani aku malam ini, Ru-ki-a," pintanya dalam suara bersenandung seperti biasa.

Kenapa dia meminta? Seolah aku memiliki pilihan untuk menolaknya saja, dan aku membiarkannya membelai tanganku dan ku sandarkan kepalaku sepenuhnya di lengannya, aku mendengarkan napasnya yang perlahan melambat dengan tenang.

Kenapa aku membiarkannya melakukan semua ini padaku? Apakah aku sudah menyerah dan memilih untuk mengikuti permainannya? Mungkinkah aku sudah terlanjur merasa nyaman berada di sisinya?

Aku tidak tau, karena aku sendiri belum bisa membaca isi hatiku sendiri.

Aku terjerat dalam permainan Gin…

.

.

.


23. Tanpa dirinya… tak ku sangka akan begini jadinya

.

.

Aku menemukan diriku terbangun di ruang istirahat kapten sendirian, hanya ada selimut yang membungkus badanku, dan bantal yang menyangga kepalaku, menggantikan tangan Gin yang menjadi sandaranku sebelum aku jatuh terlelap semalam.

Aku merasa sangat kosong, ada satu tempat dalam hatiku yang terasa aneh.

Aku terduduk dan mendapati secarik kertas tergeletak di atas meja, dekat cangkir teh yang aku bawakan untuk Gin semalam, cangkir itu kosong.

Isi kertas itu tertulis…

Aku akan kembali secepatnya

Apa-apaan pesan ini?

Apa dia kehabisan kata-kata? Untuk apa pesan sependek ini, seperti aku mengharapkannya untuk cepat kembali saja.

Aku memutuskan untuk pulang dan mengganti bajuku sebelum kembali melanjutkan tugasku yang tertunda, dan seperti dugaanku, pandangan tidak enak jatuh padaku, dari semua anggota divisi tiga yang melihatku keluar dari ruang istirahat Gin, beberapa di antara mereka ada yang jelas-jelas tersenyum di belakangku.

"Kau baru mau pulang atau baru datang, Kuchiki?" kata Kira saat kami berpapasan di koridor menuju ruang kerja administrasi.

"Mungkin dua-duanya," jawabku tak jelas, sengaja membuatnya bingung.

"Hah.. aku tidak tau mengapa Kapten selalu bertindak ceroboh seperti ini jika itu menyangkut dirimu," keluhnya seraya menghela napas panjang.

"Yang ku tahu dia bukan ceroboh, tapi sengaja ingin mejadikanku bahan olok-olokan semua penghuni Soul Society," sahutku bersungut-sungut.

Kira tidak menjawabku lagi dan langsung berlalu, meninggalkanku yang kembali ke ruang kerja administrasi untuk membereskan kertas-kertas yang belum selesai ku kerjakan, aku akan melanjutkannya setelah aku membersihkan badan dan mengganti bajuku nanti. Karena jujur saja, wangi Gin masih tersisa di bajuku, dan tentu saja yang paling dominan adalah wangi manisan kesemeknya yang bercampur mint.

Kakak Byakuya menyambutku di pintu masuk, aku sudah mengira ini akan menjadi hari yang buruk untukku, setelah melalui malam bukan di rumah keluarga Kuchiki, ditambah tidak memberi kabar dan sekarang aku pulang dengan tampang kusut.

Tambah sempurna karena Kakak yang menyambutku pulang.

Hari sudah cukup siang, bahkan menjelang lewat tengah hari. Aku tidak heran jika aku akan mendapat serapah plus nasehat panjang lebar dari Kakak Byakuya kali ini.

"Kak, maaf aku…"

"Masuklah," kata Kakak dengan suara tenang, memotong permintaan maafku dan menggiringku masuk ke dalam rumah.

Aku terpaku saat melihat beberapa kapten lain berada di ruang tengah rumah keluarga Kuchiki, terutama Kapten Yamamoto yang tampak sangat bersimpati menatapku. Aku merasa napasku tercekat karena perhatian mereka berpusat padaku, membawaku tenggelam dalam tajamnya tatapan mata mereka.

"Kuchiki Rukia," ucap Kapten Yamamoto.

Jantungku berhenti berdetak, firasatku mengatakan ini bukanlah pertanda baik, dan kenapa aku tidak menyadarinya sejak aku melihat Kakak berdiri di pintu masuk tadi? Untuk pertama kalinya Kakak menyambut kepulanganku dengan seragam Kapten lengkap miliknya, padahal dia berada di halaman rumahnya sendiri.

Kapten Hitsugaya maju beberapa langkah hingga ia berada cukup dekat dengan jarak pandangku, ku perhatikan sosoknya yang tak jauh beda tinggi denganku. Haori kapten miliknya robek di beberapa tempat, dan Kapten Kyoraku berdiri di belakang Kapten Yamamoto tanpa topi kebanggaanya, dan aku baru sadar, mereka baru saja pulang dari misi mereka, karena tidak ada satupun di antara mereka yang tampil bersih dan rapi seperti biasanya, termasuk Kakak.

Hatiku sakit seketika, karena aku tidak mendapati keberadaan Gin di antara mereka.

"Kami sengaja menunggu mengatakannya hingga kau pulang," kata Kakak membuka suara, menyadarkanku kembali untuk berada di tengah-tengah mereka.

Kapten Unohana maju untuk meraih bahuku, dan aku mundur untuk menjauhinya, aku tidak ingin mendengar kabar buruk lagi, tidak dengan segala kesadaran dan ketidaksadaranku sekalipun.

Kapten Unohana meremas bahuku, tapi ku tampik tangannya, dan mundur untuk menemukan tangan Kakak yang terbalut perban menangkap bahuku dari belakang.

"Kenapa tidak kalian katakan langsung saja? Aku tidak suka berbasa-basi!" Kapten Kurotsuchi menyambar perhatianku.

"Ada apa?" tanyaku berusaha menguatkan hati.

Semua pandangan berubah ragu, mereka bertukar pandang untuk memutuskan siapa yang akan membuka suara pertama kali.

"Saat pertarungan, kami tiba-tiba saja kehilangan jejak Kapten Ichimaru, dan kami sudah melakukan penelusuran di Dunia Manusia, tapi tidak ada jejak tekanan rohnya sama sekali," jelas Kapten Ukitake dengan perlahan, seolah aku akan mengalami kesulitan untuk memahami tiap kata yang ia ucapkan.

Aku menggeleng pelan, dan merasa takdir sangat tidak adil padaku. Dia membuatku merasakan semua pedih ini dalam satu waktu?

"Lalu apakah kalian menyerah untuk mencarinya?" tandasku, menahan air mata yang menyesak untuk menetes.

"Kami tetap menyebarkan para wakil kapten lain untuk mencarinya, ku harap kau bisa menguatkan diri, Kuchiki," kata Kapten Yamamoto seraya menghentakkan tongkatnya ke lantai kayu yang kami jejak.

Aku menguatkan diri?

Bukankah selama ini hanya berpikir bahwa Gin hanya seseorang yang hobi mengerjaiku? Lalu untuk apa aku menguatkan diri saat ia menghilang seperti sekarang, bukankah seharusnya aku senang kerena tidak ada lagi yang akan menjadikanku bahan tertawaan, tidak ada lagi yang mengatakan aku ini kecil dan bisa hilang, tidak akan ada yang bergelayut manja padaku sambil meminta teh, tidak ada lagi sosoknya…

"Rukia?"

Suara berat Kakak menyadarkanku dari duniaku sendiri, dan merasakan bulir hangat itu mengalir di pipiku begitu saja.

Kenapa?

Untuk apa aku menangis?

Si Rambut Perak itu… selalu saja membuatku merasakan perasaan-perasaan aneh yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Gelenyar aneh, tersipu saat ia menyentuhku, menyerah pada setiap permintaan manjanya, dan sekarang ia membuatku merasa sangat sedih dengan ketidakhadirannya.

"Dasar Gin Bodoh!" umpatku dengan menyeka air mataku, sakit sekali rasanya, sangat sakit hingga membuatku tidak bisa bernapas. Seketika saja wajahnya yang selalu menyeringai menerobos masuk benakku, membuatku merasa sangat ingin melihatnya, sangat… sangat ingin…

Aku kembali merasa kehilangan, namun kali ini jauh lebih dalam menusukku, menyudutkanku dengan perasaan yang tidak aku mengerti. Tak seharusnya aku merasa sebegini kehilangan, karena sebenarnya sosok Gin tidak pernah aku biarkan ku terima di hatiku. Iya kan? Jawab aku hatiku!

Kenapa aku menangisinya? Kenapa aku harus merasa kehilangan seperti ini?

"Kami tetap akan berusaha, kau harus bersabar, Kuchiki," kata Kapten Komamura dengan tepukan ringan di puncak kepalaku, membuat kepalaku terbenam seluruhnya di tangan besarnya.

Mereka berlalu dari ruang tengah, meninggalkanku yang masih berusaha keras menahan tangisku, dan di hadapanku hanya ada Kakak Byakuya.

Samar-samar aku mendengar bisik-bisik di antara mereka.

"Pasti berat untuknya."

"Tentu saja, kehilangan dua tunangan yang seharusnya membahagiakannya."

"Dia perempuan yang hebat, pasti dia sanggup bertahan."

"Aku akan memastikan Hinamori menemaninya melewati saat-saat sulit seperti ini."

Aku terdiam, mungkin bagi mereka ini akan menjadi penghibur yang aku butuhkan, mampu menguatkanku, tapi mereka salah besar, aku sama sekali tidak menginginkan perhatian mereka. Aku hanya ingin memastikan apakah aku masih patut berharap atau tidak?

Beri aku kepastian untuk menggantungkan harapanku!

"Rukia," panggil Kakak seraya meraih bahuku, membawa wajahku hingga bersandar di dadanya.

Aku sempat kaget dengan kehangatan yang mendadak Kakak berikan padaku, namun aku juga tidak memiliki ruang lagi di hatiku maupun benakku selain memikirkan Gin.

Kesedihan ini seperti perlahan menelanku dalam keputusasaan.

"Apakah aku ini pembawa sial? Sebelumnya Kaien dan sekarang Gin," desisku putus asa.

"Ini bukan salahmu, bukan kau yang menentukan semua ini, percaya dan yakinlah Kapten Ichimaru tidak akan meninggalkanmu," kata Kakak lagi, dan tangannya yang terasa kasar membelai puncak kepalaku. Pertama kalinya Kakak bersikap lembut padaku, dan aku tidak merasa lebih baik, masih sama, rasa sakit itu masih menyerang di tempat yang sama. Menghujam ribuan kali hingga setiap tusukannya hanya semakin melemahkanku.

Gin, kembali sekarang juga! Jangan pernah sekalipun berani membuatku merasa sesakit ini, aku bersumpah akan membalasmu. Aku sama sekali tidak terima, ini sangat sakit, aku tidak akan mampu bertahan jika kau membiarkanku merasakan pedih dan sakit lebih dari ini.

Kembalilah, ku mohon….

.

.

.


24. Sampai kapan?

.

.

Tidak ku ketahui berapa waktu telah berlalu, karena aku menghabiskan waktu dengan berlatih keras bersama Kira, tidak memberi ruang pada pikiranku sendiri. Jika ada waktu untukku berpikir, maka aku hanya akan kembali teringat pada Gin, merasa sakit yang sama, sedih yang tak terperi.

Saat pulang dari barak divisi tiga aku akan meminta Renji menemaniku berlatih, membuat tubuhku seletih mungkin, hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa terlelap tidur, tidak memikirkan keberadaan Gin.

Berada di rumah pun ku habiskan waktu dengan membaca buku sebanyak mungkin, memperbaiki sikapku sebagai seorang Kuchiki.

Namun aku sadar, ada yang tidak belangsung normal lagi dalam hidupku. Kekosongan dan kesedihan itu aku isi dengan kesibukan yang akhirnya menggrogoti diriku sendiri, hingga aku mendapati pipiku melesak masuk, menunjukkan tulang pipi yang kurus tak berisi, wajahku sepucat malam.

Cincin pemberian Gin di hari pertunangan kami masih aku kenakan, warna cincin yang bukan putih atau emas seperti yang kebanyakan dipilih pria normal.

Gin tidak normal, dan aku sadar sekali tentang hal itu.

Di antara banyak sekali warna dan bentuk cincin, dia memilih cincin berbahan batu giok dengan warna ungu gelap, dia bilang itu cocok dengan diriku yang terlihat banyak sekali menyimpan rahasia, dan dia bilang ingin menjadi seorang yang berbeda dari semua pria yang pernah aku kenal dengan memberikan cincin perikatan yang tidak lazim.

Dia memang berbeda, tanpa perlu diperjelas lagi.

Sekarang dia pergi tanpa memberikanku petunjuk, bagaimana aku harus menyikapi kepergiannya?

Aku terduduk di beranda, merasakan jantungku berdetak lemah, selemah harapan yang masih ku pegang teguh. Harapan bahwa Gin akan kembali padaku, memberi tahu padaku bahwa ia sedang mengujiku lagi, ingin menertawakan cemas yang aku rasakan untuknya.

Tapi sepertinya aku salah, semua ini seperti penantian yang tak berujung.

"Rukia, sudah malam, tidurlah," suruh Kakak saat menengok kamarku, dan aku hanya menoleh padanya yang berdiri di ambang pintu.

"Aku akan segera tidur, aku hanya perlu udara segar sebentar, Kak," jawabku kembali menatap batang bambu yang bergerak perlahan mengikuti hembusan angin.

Mungkinkah Gin muncul dari gelapnya rumpun pohon bambu seperti waktu itu, dan mengolok-olokku lagi?

Langkah kaki yang menjauh meyakinkanku bahwa Kakak tidak ingin melanjutkan pembicaraan yang hanya akan berakhir pada penolakanku atas permintaannya.

Aku melepaskan cincin dari jari manisku, mungkin ini sudah waktunya aku berhenti berpikir untuk mengharapkan Gin kembali, mungkin dia memang tidak ingin kembali, mungkin dia memang melamarku untuk dia tertawakan di suatu tempat, entah dimana, dia senang karena telah berhasil membuatku benar-benar jatuh dalam perangkapnya, berhasil membuatku terpaku hanya pada sosoknya seorang.

"Siapa yang mengizinkanmu melepasnya?"

Itu bukan suaranya, kataku meyakinkan diri sendiri.

Sekalipun suara itu sangat mirip dengan suara Gin, itu bukan suaranya, itu hanya halusinasiku, aku tidak sungguh-sungguh mendengar suaranya.

Aku memejamkan mata dan meletakkan cincin pertunanganku di lantai, membiarkan cincin itu teronggok pasrah di bawah hembusan angin malam, dan suara desir daun bambu yang saling bergesekan memberikan sedikit ketenangan padaku.

"Pakai, atau aku harus memasangnya dengan mantra kido, Rukia?"

Sebuah tangan mencengkram tanganku, menahan tanganku yang hendak melempar cincin itu dari hadapanku. Jari-jari kurus dan pucat itu sungguh aku kenal dengan baik, kukunya yang terpotong pendek.

Ku beranikan diri untuk menyusuri tangan itu hingga ke pangkalnya, dan aku mendapati rambut keperakan bergerak pelan dihembus angin malam. Aku menahan napas dan melihat sepasang mata berwarna merah terang itu menatapku dengan sengit, diliputi kemarahan.

"Gin?" desisku tidak percaya.

"Ini memang aku, dan aku tidak akan membiarkanmu melepaskan cincin pertunangan ini. Kau masih tunanganku, Rukia. Aku tidak akan memberikanmu pada pria manapun!"

Aku tidak lagi memerhatikan ucapannya, segera saja aku beranjak dan menubruknya, memeluknya seerat tanganku mampu, merasakan kehangatan tubuhnya yang aku rindukan, menyesap wangi khas dirinya yang pudar dalam ingatanku. Entah berapa lama aku menunggunya hingga aku sendiri tidak ingat bagaimana wangi dirinya.

"Apa kau sebegitu rindunya padaku?" bisiknya dengan tangan membalas pelukanku, membawaku masuk lebih dalam ke dekapannya.

"Kau kemana saja? Kau membuatku cemas!" bisikku yang menahan tangis haruku membludak.

"Maafkan aku, Rukia. Kau pasti sangat khawatir," jawabnya seraya membelai rambutku.

"Ku kira kau tidak akan kembali!"

"Aku terjebak di tempat bernama Hueco Mundo, aku harus melawan ratusan hollow dan Gillian, baru aku bisa mencari jalan pulang ke Soul Society. Maafkan aku, hmm?"

Aku mengangguk dan kelegaan yang amat sangat menyelimutiku, setidaknya tidak ada yang pergi dari sisiku lagi, aku bahagia sekali saat melihat warna rambutnya yang menyambut mataku, merasakan kebahagiaan yang aku sendiri tidak mengerti mengapa sangat membuat hatiku mengembang bahkan bertabur bunga.

"Mana kecupan selamat datangnya?" gumam Gin dengan memiringkan pipinya setelah melepaskan pelukanku, dia sengaja menyodorkan pipinya untuk aku kecup.

"Jangan mimpi!" kataku melengos menjauh seraya mendorong kepalanya dariku.

"Jadi begini sambutanmu pada calon suami, hm?" ucapnya masih dengan nada meledek yang sama.

"Aku bahkan berpikir mencari calon suami lain jika kau tidak kembali sampai malam ini," jawabku ketus.

"Oh, Rukia, aku menyakiti hatiku hingga hancur berkeping-keping. Semudah itukah kau menghapusku dari hatimu?" gumamnya dengan tangan tertangkup di dada, meringis seolah sangat kesakitan.

"Salahmu sendiri, siapa suruh meninggalkanku begitu lama," gerutuku kesal.

"Ow, jadi Rukia bisa ngambek juga rupanya." Dia mencubit pipiku, namun tidak ada satu bagian pun yang berhasil ia apit di antara telunjuk dan ibu jarinya.

Dia tertegun memerhatikanku, seketika aku tau, dia tidak melihat perubahan pada diriku.

"Maafkan aku telah membuatmu cemas hingga kurus begini."

Gin menangkup wajahku dengan jarinya yang dingin, padahal jika aku perhatikan dia justru jauh lebih kurus dari yang terakhir kali yang aku ingat.

"Aku memang sedang program diet!" kataku menampiknya.

"Aku tidak suka istri kurus."

"Aku juga tidak ingin menjadi istrimu!"

"Kau tidak punya hak menolak, kau hanya bisa menerima."

"Kau-!"

"Kalau begitu kita menikah besok!"

"Besok?" ulangku tidak percaya.

Aku bahagia dia telah kembali, namun aku juga tidak bisa menerima kabar mendadak seperti ini.

Gin meraihku lagi untuk kembali ke pelukannya, merasakan hangat tubuhnya benar-benar menyelimutiku, mencegah dinginnya udara malam menggigit kulitku. Perasaan aneh lagi aku rasakan hari ini. Selalu saja Gin hadir untuk memberikan perasaan yang tidak aku mengerti.

"Sudah malam, tidurlah. Jangan berpikir aku hanya bayangan semu yang kau lihat, besok kita akan bertemu lagi."

Gin melepaskan pelukannya dan menyentuh puncak kepalaku, dan mengelusnya perlahan, seperti aku anak kecil yang sedang ngambek dan tidak mau tidur.

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi, karena Gin langsung membantuku beranjak dari beranda dan berjalan menuju futonku, dia menunggu hingga aku terbaring dan menyelimutiku.

Dia pun pergi tanpa satu katapun, membuatku menoleh padanya yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandanganku saat ia menutup pintu geser yang mengarah ke beranda. Dinginnya angin malam terhalang pintu, dan aku merasa harus tidur, aku akan menghadapi hari esok.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.


A/N:

.

.

Reply for review :

Dani Reykinawa : Emm, kira-kira apa yang diomongin Gin ke Byakuya. Sebelum di ngomong sih aku dah kasih jimat plus jampi-jampi dari mbah dukung di Karawang *dihajar-ngaco abiz*

Azalea Yukiko : Byakuya dah kena sirep Gin *dihajar lagi*. Aku sengaja membuat Kaien cepat pergi karena harus memberi peluang pada Gin *maafkan aku Kaien*

shirayuki nee : Aku juga selalu merasa sakit setiap kali mengingat duka yang membuat Rukia begitu terpukul, tapi inilah plot yang sudah tercipta. Kita harus menerimanya, mau atau tidak mau *pasrah mode on*

Kusa : Aku sudah meningkatkan jumlah romance di chap ini, apakah masih kurang terasa? *gomen atas kekuranganku*

ojou-chan : Wah-wah, Ojou-chan tau banget gimana cara Gin menaklukan kekerasan hati Abang paling overprotektif itu :-D

Kujo Kazuza Phantomhive : Memang pair Grimm x Ruki super crack, tapi aku tertantang untuk membuatnya *nyengir lebar-author ini emang sotoy abiez*, dan mengenai pair HitsuRuki….. ummm… aku cari plot yang pas dulu untuk chara yang sama-sama berelemen es ini, aku takut nanti malah berakhir dengan Angst.

.

.

.

Btw… tidak terasa chapter depan akan tamat, rasanya cepat sekali waktu berlalu *nangis bombay plus lebay*

Semoga chap depan bisa memberikan kesan yang baik, dengan ending yang memuaskan.

Ok Minna-san, Ganbatte ne! ^_^ *Terima kasih juga sudah bersedia review di Fallen Leaves, aku jadi semakin semangat mendapat dukungan seperti ini dari Anda semua, pokoknya semua peluk dan cium untuk Minna-san*

Selamat melanjutkan aktivitas Anda.

Keep The Spirit On

-Nakki-

17-10-2011