Dos Halfeti Roses Chapter VII by Serenia Alba

Anime : Saint Seiya

Genre : Crime, Adventure, Drama, Hurt Comfort, etc.

Disclaimer : Saint Seiya milik Kurumada dan Fic tentu milik author

Warning :

-Setiap summary percapter bakal beda

-Albafica disini cewek Assasins

-Saga yang disini ambivalensi kepribadian ganda sesuai di manga (Misal warna rambut disini biru tiba-tiba jadi hitam bukan abu terang)

-Ini semi AU

-Jika pingsan dan nyesek, Tim Medik siap membantu para Reader

-Rate : T (13 or older)

Summary : Situasi semakin menegang, Milo bersama Aphrodite dikejar oleh gerombolan suruhan Ares untuk membawa paksa Aphrodite pulang ke rumah. Sedangkan Albafica mulai menjalankan rencana untuk mendapatkan informasi keterkaitan ramuan Afxithike Chryso dan juga sekte yang dipimpin Fudo. Albafica membuat keputusan yang membuat Shion tidak setuju sehingga sikap Shion menjadi aneh kepadanya hari ini. Keputusan seperti apakah itu?

Chapter VII : Keputusan Tak Terduga.

Siang, Milos Island, Yunani

Motor yang membawa kedua orang itu berjalan dengan kecepatan tinggi. Mereka berdua diikuti oleh segerombolan orang misterius entah apa alasannya, Milo melihat dari kaca spion motornya bahwa ada salah satu diantara mereka hendak bersiap-siap menembak dari sebuah senapan bertipe HK G36. Dia menaikkan kecepatan motor menjadi kecepatan maksimal, melaju sangat cepat sehingga yang ia bonceng memegang pakaiannya semakin erat.

Senapan-senapan itu menembakkan peluru kepada mereka berdua tanpa jeda. Mereka terus menghindar dan menghindar dari peluru-peluru yang dilumuri cairan aneh itu. Jantung dokter muda berdetak kencang karena panik, dia juga merasakan tangan gemetar Aphrodite memegang jaketnya karena takut. Dokter muda tak membawa senjata apapun yang dapat ia pakai untuk menyerang balik.

Jika tak ada perlawanan sama sekali mereka akan terus dikejar atau bisa jadi terbunuh. Di sela-sela kepanikannya, salah satu di antara mereka berteriak kepada Milo untuk berhenti. Mobil itupun menambah kecepatan untuk menyusul mereka.

"Sial pelurunya habis!" keluh salah satu orang misterius tersebut.

"Dokter..." bisik gadis itu pelan.

"Pegangan yang erat. Aku akan mencari jalan lain," kata Milo. "Ini kesempatan kami saat peluru mereka habis," batinnya melihat mobil sedan yang mengikuti mereka dari kaca spion.

Meskipun begitu panik, dia tetap fokus mencari jalan untuk melarikan diri. Matanya yang berfokus pada satu jalan lebar dengan pemandangan pertokoan tersebut, dia terus mencari-cari jalan tembusan, akhirnya diapun menemukan jalan kecil juga sempit yang hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki. Milo segera berbelok ke jalan itu dan memasuki gang.

~Dos Halfeti Roses~

.

.

Mobil sedan misterius pun berhenti sehingga mereka turun dari mobil. Mereka melihat jalan yang dilalui oleh Dokter bersama si gadis, tapi sayang keberadaan mereka berdua hilang dalam sekejap saat memasuki gang tersebut. Tiba-tiba ponsel diantara mereka berbunyi, si pemilik ponsel pun mengangkat teleponnya.

"Ya, Tuan Ares ?"

"Gadis itu sudah kau dapatkan ?" tanya Ares dari telepon.

"Dia bersama Dokternya berhasil melarikan diri,"

"Tidak masalah, pokoknya kalian kejar gadis itu sampai dapat," ujar Ares.

"Baik.." jawabnya.

"Aku heran, kenapa Tuan Ares sangat tertarik kepada gadis itu," keluhnya kesal.

"Kau tidak tau? Gadis itu bagaikan harta termahal bagi Beliau," kata temannya yang agak kurus.

~Dos Halfeti Roses~

.

.

Athena, Yunani

Pria rambut hitam berkemeja putih dengan rompi hitam sedang duduk di kursi kantornya. Dia kali ini mengepalkan tangan untuk menghancurkan bingkai foto yang berada di atas mejanya, foto seorang gadis kecil bergaun putih panjang tanpa lengan bersama dirinya sambil memegang buket mawar merah.

"Sial, benar-benar! Aku tidak akan menyerah!" teriaknya marah, hal itu terlihat dari pupil mata merah membara miliknya.

Pria itu langsung mengambil foto tersebut untuk dihancurkan. Akan tetapi dia merasa ada sesuatu yang menghentikan aktivitasnya ini.

"Jangan… Jangan sekali-kali kau hancurkan benda itu!"

"Kenapa? Kenapa kau selalu saja mengangguku?!" seru Ares marah.

"Kau tidak akan bisa menghancurkan apapun!"

"Aku mengerti, kau tetap sayang kepada Aphrodite meskipun dalam wujud foto. Kau sungguh menyedihkan, Tuan CEO!" Ares tersenyum mengejek, "Ya, silakan kau nikmati foto gadis mawar cantikmu, haha."

"Aphrodite…"

Pria itu langsung memeluk fotonya dengan lembut. Dia merasakan semuanya, semua perasaanya. Dia menunduk sambil mengeluarkan air matanya dan tersenyum, rambutnya kembali menjadi biru tua.

Milos Island, Yunani

Milo melihat kembali dari kaca spion motornya. Tak ada satupun mobil sedan yang mengikuti mereka, sekarang kondisi mereka berdua aman. Roda yang berputar cepat tersebut itu lama-lama terdiam oleh hentakan rem si pengendara, diapun menatap gadis bermata biru dan menanyakan keadaannya.

"Apa kau terluka? Apa kau terkena cairan hitam aneh itu?" Milo berkata dengan wajah khawatir, gadis itu menggeleng.

"Saga…" gumam Aphrodite termenung.

"Ada apa, Dite?" Milo bertanya.

"Tidak, aku merasa Saga memanggilku…" Aphrodite menjawab.

"Kau hanya lelah, sebaiknya kita harus pulang sebelum orang-orang itu mengejar kita lagi," ujarnya tersenyum tipis.

Albafica Pov

Pria berambut hijau toska tersenyum licik sembari menunggu jawaban Shaka. Orang-orang kuil terlihat menegang karena ini, Shion menatap kepada Fudo dengan tatapan tajam saat pria itu mencoba mengedipkan matanya kepadaku, sedangkan aku tersenyum menyeringai untuk mulai menjalankan rencanaku.

Shaka memang berhasil dibuat kepalang bingung olehnya, tapi tidak denganku. Aku akan ikut serta dalam rencana gilaku meski persentase risiko akan selamat sangatlah sedikit. Aku pun menjawab pertanyaan pria tak tau malu tersebut.

"Aku akan… Aku akan menerima lamaranmu, " kataku dengan jelas, semua orang terkaget-kaget menatapku termasuk Shion dan Shaka.

" Apa maksudmu Alba?!" Shion menatap heran kepadaku.

"Pertanyaan itu buatku, Albafica. Kau tidak perlu.." Shaka berkata.

"Tidak, Shaka. Aku akan terima lamarannya," kataku.

"Nona benar-benar menerimanya?" tanya Fudo tak percaya.

"Tentu saja aku yakin menerimanya, Tuan Fudo. Akan tetapi ada syarat yang mesti kau penuhi," jawabku membalasnya dengan senyuman palsu.

"Apakah itu Nona?" Fudo penasaran.

"Setelah kau menikah denganku, kembalikan harta kuil ini."

"Kalau begitu, kita akan menikah tepat besok siang di Istanaku," ujar Fudo.

"Wah kau cukup berani untuk cepat-cepat menentukan tanggal pernikahanya!" pujiku.

"Aku tidak sabar untuk menikah, jadi berdandanlah yang cantik," katanya dengan nada menggoda, dia bersama rombonganya pergi meninggalkan kuil.

~Dos Halfety Roses~

.

.

Setelah rombongan Fudo meninggalkan kuil, semua orang masih menatap kepadaku. Aku rasa mereka masih meragukan kata-kataku, khususnya untuk Dokter yang merupakan partnerku. Dia paling kelihatan tidak menyukai keputusanku.

"Albafica, apa kau sangat yakin dengan hal ini?" Shaka mencoba meyakinkanku.

"Aku yakin, lagipula kuilmu jauh lebih berharga. Selain itu, kalian akan mendapatkan benda berharga kalian kembali," jelasku.

"Maafkan aku, Albafica. Gara-gara aku, kau jadi terlibat dengan si kepala sekte sesat itu," kata Shaka menunduk, aku pun menjawab sambil tersenyum tipis, "Tidak apa-apa, Shaka."

"Shaka, sepertinya kami harus kembali resort. Kami permisi dulu," kata Shion menarik tanganku dengan kasar.

"Kita kan tidak ada-" aku mencoba memberi tahu Shion.

"Sudahlah, ayo sekarang ikut aku! Kita perlu bicara empat mata!" serunya makin erat menarik tanganku.

Shion membawaku masuk ke mobil. Dia terlihat seperti menahan sebuah amarah yang sebentar lagi akan meledak bagai bom atom. Dia menyetir mobil dengan pikiran yang dipenuhi emosi, hampir saja dia menewaskan seekor anak kucing dan majikannya. Giliran aku memintanya berganti posisi menyetir, dia hanya bilang "Hn.".

Aku bertanya kenapa dengan cara menyetirnya tadi, dia cuma bilang "Tidak apa-apa". Jawabannya yang satu ini sangat tidak biasa, entah kenapa aku benci jawaban dia yang satu ini. Kalimat "Tidak apa-apa" dari mulutnya itu mirip jawaban yang dilontarkan oleh seorang wanita jika sedang mengalami suatu hal. Maknanya bukan arti dari kalimat tersebut tapi bermakna banyak, tidak mewakili isi hatinya, apalagi pikirannya.

Aku diam seribu bahasa saat menatapnya, dia pun juga sama. Dia ini kenapa? Kadang menatapku, kadang juga berpura-pura fokus mengemudi. Pria ini... Lama-lama aku jadi ingin menggantikannya menyetir akibat terlalu ugal-ugalan, aku sangat lelah karena ini.

~Dos Halfeti Roses~

.

Tingkah anehnya ini tetap tak berubah meskipun sudah sampai di resort. Dia menarik tanganku bahkan lebih tepatnya menyeretku ke dalam kamar yang sangat luas itu. Kami berdua duduk di kursi kayu dekat balkon dan saling bertatapan satu sama lain.

Sunyi... Sangat sunyi seperti tak ada orang. Cuma ada suara angin laut yang menemani kami berdua, tak ada obrolan atau perbincangan sama sekali. Sebenarnya aku sudah jenuh dengan situasi menoton begini, jadi akulah yang memulainya.

"Shion, kau mau kita saling bertatap sama lain sampai petang sore? Waktu lima belas menitku terbuang karena ini," kataku mulai beranjak untuk pergi.

Dia menjawab, "Kau boleh pergi setelah pembicaraan ini selesai."

"Baik, apa maumu Dokter Shion?" tanyaku memasang wajah jengkel saat beranjak duduk kembali di kursiku.

"Tetap duduk manis di situ, jadi kenapa kau mau menerimanya?" Shion melipatkan kedua tangannya.

"Sekarang aku yang bertanya, apa yang kau kesali tentang itu?" Aku bertanya lagi.

"Sebab aku menolak."

"Lalu?"

"Kau menolak lamaranku saat di Macau, belum lagi kau pernah melarikan diri dari Belanda saat aku ingin bicara soal pernikahan denganmu waktu itu. Sekarang hanya dalam sekejap mata, kau menerima lamaran pernikahan dari seorang pemimpin sekte sesat?! Pria itu bahkan hampir meremehkanmu sebagai seorang wanita, menghardik orang tua, bahkan dia merampas harta orang lain."

"Karena kau, aku sampai berniat melacak keberadaanmu," dia menjelaskan dengan tatapan mata penuh amarah padaku, aku hanya melongo.

"Ada lagi yang ingin kau bicarakan padaku?" Aku berusaha menahan amarahku yang terpusat pada kepalan tanganku. Meskipun aku sudah mengalah, dia tak menjawab sama sekali pertanyaanku.

"Tidak, sekarang jawab pertanyaanku," jawabnya acuh tak acuh.

"Baiklah Shion," desahku, akupun berdehem, "Kau ingin mengetahuinya, kan?"

"Ada berbagai macam alasan kenapa aku menerimanya. Salah satunya aku tidak bisa melihat orang lain menderita, kau tahu itu?"

"Dan aku tau kau tidak suka karena cemburu bukan?" aku mencoba menggodanya dengan senyuman simpul.

"Aku tak mengerti ucapanmu," Dia mencoba berpura-pura untuk tidak menatapku.

"Manis sekali alibimu, Dokter. Harapan dari Kotak Pandora sangat terlihat dari lumpuk hatimu," kataku beranjak bangkit dari kursiku, lalu berjalan mendekati Shion.

"Shion, Apa-apaan ini!? Lepaskan!" teriakku panik saat Shion menarik tanganku dan membuat tubuhku berhasil ia rangkul.

"Biarkan aku membuka kebenaran hatimu, Nona Albafica," bisiknya menatapku tersenyum lembut, wajahnya semakin dekat denganku.

"Oh, benarkah itu?" Aku tertawa.

"Jangan suka bertingkah seolah kau tidak tau,"

"Kita lihat saja nanti," kataku mencoba melepaskan diri dari tangan Shion yang merangkul tubuhku.

~Dos Halfeti Roses~

Awalnya aku memang berhasil lepas darinya, tapi kurasa itu belum sepenuhnya. Pergelanganku berhasil ia gapai, lalu kutarik sehingga aku berada dibelakangnya dan mencoba mematahkan tulang-tulangnya itu. Tak kusangka dia berhasil merangkulku lagi dengan wajahnya yang semakin dekat pada wajahku, akupun berusaha menjewer telinganya itu sehingga sedikit tendengar suara Shion yang mendesah kesakitan.

Itu seperti Tarian Waltz dengan kombinasi perkelahian kami berdua. Tak ada satupun yang mengalah, aku berniat untuk memukulnya saat ia berusaha menghindar. Alhasil semua itu berakhir tepat di atas tempat tidur berukuran 200 x 200 cm tersebut, kedua tanganku yang ditahan olehnya dengan tubuhku yang berbaring di bawah tubuh Shion.

"Menyerahlah, Albafica," kata Shion tersenyum menyeringai menatapku, wajah mulai saling mendekat satu sama lain.

"Menyerah?" bisikku terkejut.

"Jangan khawatir, kau sudah menjadi milikku sebelum dia," bisik Shion.

"Terlalu dini untuk membuatku menyerah, Shion," kataku tersenyum tipis. Aku langsung menendang tepat di tubuhnya sehingga dia jatuh tersungkur ke lantai dan meringis kesakitan.

Brakk!

"Sakit? Akan lebih sakit jika kau melakukannya," kataku berempati.

"Kejam sekali, lagi pula kau pertama yang menggodaku!" keluh Shion menatap tajam.

"Oh, aku menggodamu?" aku memasang wajah tanpa dosa sambil menunjuk diriku.

"Benar-benar..." Shion memasang wajah kesal, aku tertawa karena ini. Sebuah suara datang dari ketukan pintu kamar dari luar, seorang pelayan membuka knop pintu.

"Masuk.."

"Nona Albafica, Puteri Saori sedang menunggu Anda di Cafetaria," katanya.

"Bilang padanya, aku akan segera ke sana..." ujarku.

"Baik," jawabnya langsung menutup pintu.

"Nah, aku sudah menjawab pertanyaanmu bukan? Sampai jumpa nanti, Dokter~" kataku melangkah menuju pintu.

~Dos Halfeti Roses~

Saat kututup pintu kamarnya, Shion masih menatap tajam kepadaku. Dia benar-benar membuatku bertanya-tanya tentang sikapnya hari ini, memikirkannya saja membuatku pusing sekali melebihi Drama India yang tak sengaja kutonton kemarin. Tanpa disangka-sangka aku cepat sampai di Cafetaria setelah sembari memikirkannya.

"Albafica, silakan duduk," kata Saori ramah.

"Ah iya," kataku saat beranjak duduk dan bertatap muka dengannya.

"Wajahmu kusut sekali, ada sesuatu yang membuat hatimu rumit?" Saori penasaran.

"Oh ini cuma masalah kecil, ngomong-ngomong ada apa kau memanggilku ke sini?" tanyaku.

"Dengar-dengar katanya ada sebuah sekte sesat di sini, aku juga mendapat kabar ketuanya seorang pemuda yang memiliki kekuatan magis," kata Saori.

"Sebetulnya, aku baru saja bertemu juga menerima lamarannya tadi."

"Hah? Benarkah itu? Aku bahkan tidak tahu kau akan menikah," mata emerald Saori terbelalak sempurna, aku hanya tersenyum geli padanya.

"Tentu saja tidak, kau terlalu naif. Aku punya rencana kenapa aku melakukannya," jawabku.

"Katakan tentang rencanamu, Albafica," Saori tertarik dengan pembicaraanku.

"Rencanaku memang agak sedikit fatal. Kau masih ingat Afxithike chryso yang ada di pameran saat itu?"

"Ya, ramuan langka itu adalah hadiah pemberian seseorang sebagai hadiah hari kemerdekaan Yunani itu kan?"

"Nama ramuan itu juga dijadikan sebagai sekte. Aku pernah mendengar Ayahku pernah membicarakan sekte itu sebelum dia meninggal. Sempat terpikir olehku, hal ini akan didapatkan sebuah informasi. Jadi aku berpura-pura menerima lamaran pernikahan saat seorang temanku diancam oleh ketua sektenya."

"Pernikahan palsu itu akan terjadi besok tepat siang hari di istana. Aku akan memanfaatkan sesi upacara pernikahan untuk membuat ketuanya dibawah pengaruh racunku, sehingga kita akan tahu rahasia dari sekte tersebut." jelasku.

"Walaupun sedikit fatal, menurutku itu ide yang menarik. Hal apa yang yang bisa kubantu untukmu?" Saori semakin penasaran.

"Nanti aku akan meminta beberapa hal yang harus aku siapkan. Dan jika sampai malam aku tidak kembali, tolong kau panggil polisi untuk mengepung tempat sekte sesat itu dan menangkapnya besok," jawabku.

"Bagaimana soal temanmu? Apa dia tahu soal rencanamu?"

"Tidak, aku kali ini sengaja tidak melibatkannya. Aku akan menyusup ke sana seorang diri," kataku menunduk lalu menatapnya.

"Kalau begitu serahkan saja padaku, aku akan mempersiapkan semuanya untukmu besok," ujar Saori mengangguk pelan menandakan bahwa dia setuju.

"Terima kasih, Nona."

"Sepertinya ada seseorang yang mencarimu ke sini," Saori tersenyum saat menengok kepada orang yang berdiri di dekat pintu masuk Cafetaria, Shion. Dia berjalan santai mendekati meja kami sambil menatapku, dia benar-benar aneh hari ini. Aku merasa akan ada sesuatu yang ganjil.

"Nona Saori, bisakah Anda meminjamkan satu mobil untukku?" tawarnya.

"Memang buat apa Dokter Shion?" tanya Saori.

"Aku dan Albafica akan makan malam di luar ini, jadi bolehkah?" tawarnya sekali lagi.

"Tentu saja boleh asal jangan sampai larut malam," Saori tersenyum kepada Shion dan aku. Mataku berkedip cepat sambil menatapnya bingung.

"Alba, ayo ikut aku," kata Shion menarikku dari tempat duduk.

"Semoga kalian menikmati makan malamnya," kata Saori.

Kami berdua berjalan meninggalkan Saori. Aku berjalan dengan Shion sambil bergandengan tangan yang erat, yang jelas aku tak bisa lepas seperti lem. Aku berjalan sambil menoleh ke Saori yang tersenyum untuk membantuku, namun rasanya sia-sia aku meminta kepada wanita muda itu.

~Dos Halfeti Roses~

Shion menghidupkan sebuah mobil sport setelah dia meminta sebuah kunci mobil kepada penjaga hotel. Ketika aku hendak membuka pintu mobil, dia langsung membukakanku pintu lalu masuk ke mobil, entah apa yang merasukinya dia menjadi sangat kalem dan sopan sekali.

Mobil yang dibawanya itu berjalan melewati jalan tol kota dengan kecepatan tinggi. Aku hendak protes kepadanya eh dia malah menjawab "Kau tidak perlu panik, karena kau juga suka ngebut saat mengemudi.", padahal aku belum sama sekali berbicara tapi dia sudah tahu aku ingin mengatakan sesuatu padanya. Jadi aku langsung diam lalu menoleh ke arah jendela mobil.

"Hey Nona Albafica, kenapa kau diam saja?" pertanyaannya berhasil membuat lamunanku terganggu.

"Kita akan kemana, Shion?" kataku menopang dagu sembari melihat pemandangan jendela mobil.

"The Pavilion, aku akan mengajakmu ke situ," jawabnya.

"Kenapa kita tidak kembali saja ke Resort? Lagipula makanan di sana sama enaknya kok," sanggahku.

"Ingat, sekarang akulah yang menentukan tempat makan malam kita," katanya jelas dan singkat.

Aku hanya keheranan lalu menoleh kepadanya. Berbicara maupun diam saja juga salah, apapun dimatanya kepadaku adalah salah semua.

~Dos Halfeti Roses~

Langit menguning dan awan-awan putih menjadi kemerahan, aku berdiri di depan sebuah bangunan hotel yang megah. Di depan hotel itu ada pilar-pilar ditemani tanaman hijau berukuran sedang berpot tepat di sebelahnya, bebatuan warna gelap mengkhiasi jalan di depan hotel, aura gemerlap hotel ini sangat terlihat jelas dengan warna kuning keemasan pada dinding. Para pelayan menunjukkan kami arah menuju restoran pilihan Shion yang tepat berada di dalamnya.

Kami pun langsung memasuki hotel tersebut. Aku melihat ornamen kayu bercorak unik pada saat berjalan di koridor, meja yang diatasnya ada sebuah benda berwarna merah dan putih di setiap sudut, tak lupa karpet merah bercorak menuntun kami menuju restoran.

Bahkan di restorannya sendiri sangat terlihat klasik. Ada beberapa pohon palem yang tumbuh besar pada sebuah pot putih, karpet besar berwarna biru yang berada dibawah meja-meja pengunjung, tak lupa dengan ornamen-ornamen kayu di sekitarnya.

"Selera makanmu harus dijaga ya apalagi kau mau menikah!" cibir Shion saat aku hendak memakan Nasi Biryani dan Chicken Kathi, aku cuma menatapnya heran.

"Terima kasih telah peduli denganku Dokter," balasku kembali melanjutkan memotong makananku menggunakan sendok dan garpu.

"Aku dengar daging sangat bagus untukmu apalagi mungkin di sana ada sistem Mansa dan Mudra, kau mungkin akan membuat semua anggota sekte itu suka padamu," lanjutnya.

"Apa maksudmu? Aku bahkan tak bisa makan banyak," sangkalku makin mengerutkan dahi menatap Shion.

"Oh ya aku juga pernah dengar dari temanku di Borneo sana, kalau di sana ada sihir yang bisa memikat hati orang lain dengan nama.. Pelet ah ya pelet! Apakah kau sedang terkena pelet?" tanya Shion penasaran.

"Hah? Apa?" aku semakin tidak paham padanya.

"Pelayan!" panggil Shion, pelayan pun mendatangi meja kami.

"Ada yang bisa kubantu, Tuan?" tawar si Pelayan membungkukan badannya kepada kami.

"Aku ingin memesan lagi Pavillion Salad dan Panzanella untuk wanita ini," kata Shion.

"Tunggu sebentar, akan saya antarkan," jawabnya pergi mengambil pesanan yang diminta Shion.

"Kau mau membuat perutku kembung, Shion?" kataku sinis.

"Tidak, hanya saja ada yang bilang obat penawar untuk menyembuhkan pelet adalah memberikan sayuran dan makanan sebanyak mungkin. Jadi silakan makan yang banyak, Nona," ujar Shion.

"Berhenti.."

"Apa perlu aku membawamu ke cenayang untuk tahu cara menghilangkan pelet? Kebetulan aku dapat kabar dari temanku ada seorang cenayang di Kota Mumbai?" tawar Shion sekali lagi. Kali ini dia sangat membuatku jengkel.

"Dengar, aku tidak terkena pelet maupun tidak pernah datang kepada cenayang. Dan ketika semasa sekolah ada buku tentang Ramuan Cinta Rosemary Dewi Aphrodite, aku langsung berpikir untuk menyudahi artikel-artikel itu. Bahkan aku tak percaya seorang dokter jenius sepertimu bisa percaya takhayul," celotehku agak sedikit marah dengan nada agak meninggi.

"Ini pesanannya, Tuan..." seorang pelayan langsung menaruh pesanan kami dari nampannya lalu pergi, aku pun memulai kembali aktivitas makanku.

"Bagaimana enak, bukan?" tanya Shion tersenyum kepadaku.

"Sungguh sangat lezat! Saking lezatnya aku ingin melemparkan makanan ini ke wajahmu!" pujiku tersenyum mengejek.

~Dos Halfety Roses~

Kami pulang ke resort setelah menyelesaikan makan malam mewah tapi tak berkesan itu, karena baru kali ini aku makan banyak secara terpaksa. Lalu Shion mengajakku ke halaman terbuka dengan pemandangan pantai tepat di belakang resort sehabis ia mengembalikan kunci mobil. Untungnya, cuaca malam ini cukup cerah sehingga kami bisa duduk santai menikmati rembulan di malam hari.

"Shion..." panggilku.

"Hn?" sahut Shion.

"Kalau boleh aku jujur, entah kenapa hari ini kau sangat cerewet sekali dari biasanya dan aku sangat kesal," kataku.

"Tidak, aku bahkan biasa saja hari ini." Sanggahnya.

"Kau lebih cerewet daripada aku, itulah kenapa aku bilang begitu. Tidak cuma itu, kau tidak terlalu fokus dalam beberapa waktu lalu," kataku lagi.

"Dari lumpuk hatiku, aku tak percaya perkataanmu kalau kau menerima lamaran orang asing yang jelas-jelas tak pantas untukmu. Tidak seperti aku yang.. Ah sudahlah!" jelasnya, "Tapi... Apakah semua perkataan itu benar?"

"Ya, aku menerimanya karena ada beberapa alasan yang tak bisa kuberi tahu sekarang. Aku juga tak pernah kena pelet seperti yang kau katakan. Jadi maafkan aku Shion, kumohon jangan halangi aku," kataku menatapnya penuh dan berhasil membuat matanya membulat sempurna sampai dia tak bisa berbicara. Aku berjalan lalu berhenti sejenak.

"Ngomong-ngomong, terima kasih karena kau telah mengajakku makan malam bersama," lanjutku berjalan lagi.

Kali ini Dokter muda itu benar-benar terdiam akibat perkataaku. Aku berjalan ke kamar sembari ingin tertawa karena sepertinya dia sangat percaya dengan sandiwaraku ini, tapi tetap kutahan supaya rencanaku tetap berjalan.

End Albafica POV

Shion terlihat sangat terkejut setelah dia mendengar jawaban Albafica. Mulutnya bungkam saat wanita bersurai rambut biru itu pergi meninggalkannya, dia hanya bisa menatapnya semakin jauh dari penglihatan matanya. Wanita itu seolah-olah membuatnya terjangkit serangan jantung mendadak sesaat.

Tak lama setelahnya seorang gadis bersurai ungu mengenakan gaun kuning datang. Gadis itu duduk bersebelahan sambil menikmati teh hitam, lalu membuka obrolan bersama si Dokter yang terlihat diam bagai patung tersebut.

"Bagaimana makan malamnya, Dokter?" Saori bertanya.

"Cukup menyenangkan," jawabnya singkat.

"Lalu kenapa wajah Anda ditekuk begitu? Ada masalah?" Saori penasaran.

"Saya tidak mengerti, Nona Saori. Teman saya Albafica, sangat membuat saya terkejut atas keputusannya."

"Ceritakan pada saya kalau begitu," ujarnya.

"Ini sangat tak biasa, saya tak percaya kalau dia dilamar pria lain yang sebenarnya adalah ketua sekte sesat. Sialnya, gadis itu malah menerimanya! Padahal pria itu baru saja dia kenal. Ah, apa yang harus saya lakukan Nona Saori?!" serunya terlihat panik. Saori hanya tersenyum canggung, dia tahu pasti Albafica tak berniat memberi tahu tujuan sebenarnya .

"Sepertinya Anda salah paham, Dokter. Dan saya rasa Albafica tidak membiarkan Anda tau soal rencananya besok," jelas Saori menyereput tehnya.

"Rencana? Rencana apa?" Shion bertanya.

"Albafica... Berani-beraninya kau menipuku," batin Shion merasa ingin marah saat membayangkan Albafica sedang tertawa kesetanan dengan latar belakang api membara melihatnya berhasil ditipu.

"Dia bilang pernikahan besok itu cuma umpan agar dia bisa mengetahui informasi hubungan sekte itu dengan Afxithike chryso di Yunani. Saya rasa ada benarnya karena benda yang dicuri oleh Ares itu ada keterkaitan organisasi misterius. Jadi saya berniat membantu rencananya."

"Saat saya tanya apakah Anda tau soal rencananya, dia bilang tidak akan melibatkan Anda apalagi rencana ini sangat fatal," jelas Saori.

"Tapi.. Kenapa dia tidak mau memberi tahu saya jika rencananya sangat fatal?" tanya Shion merasa heran.

"Dia sangat khawatir kepada Anda. Seorang wanita akan menyembunyikan perasaannya meskipun dalam kondisi tersulit sekalipun. Dia takut kehilangan seseorang yang dia sayangi saat saya melihat dia menundukkan kepala," lanjutnya.

"Jadi begitu..." respon Shion yang asalnya ingin marah berubah menjadi mimik sedih.

"Saya lihat kalian tampak dekat satu sama lain. Dokter, bisakah Anda membantunya? Saya merasa tidak enak untuk rencananya ini." tawar Saori tersenyum tipis.

"Tentu saja, aku ini partnernya jadi pasti akan membantunya. Anda bisa memberi tahu saya apa yang dia perlukan," kata Shion ketus.

"Oh ya, Dokter bisa membuat racikan obat?" tanya Saori.

"Iya, saya bisa membuatnya malam ini jika dia memerlukannya," jawab Shion.

"Baiklah kalau begitu. Besok pagi saya akan memanggil Anda untuk mengambil barang-barang yang dia perlukan," ujarnya.

"Oke, terima kasih telah memberi tahu saya, Nona Saori," katanya tersenyum beranjak berdiri lalu pergi dari hadapan wanita bersurai ungu yang terlihat bingung. Shion mengambil langkah lebar menuju kamarnya.

"Lihat saja, Albafica. Aku akan menolongmu sekaligus membuat perhitungan kepadamu karena berhasil menipuku," batinnya tersenyum menyeringai.

Pukul 05.00 Milos Island, Yunani

Seorang pria berambut biru memakai jaket hitam hendak pergi ke suatu tempat. Dia langsung merespon ada seorang gadis berambut biru pastel memanggilnya saat sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua. Gadis itu tersenyum tipis menatapnya yang berada di dekat pintu.

"Ah Aphrodite, kau bangun pagi sekali!" sapa Milo.

"Milo, kau mau kemana?" Aphrodite bertanya dengan wajah polos.

"Ke suatu tempat," jawabnya.

"Tidakkah kau sarapan dulu lalu kita pergi bersama?" tawarnya tersenyum tipis.

"Oke, jika itu maumu. Aku akan mengajakmu habis sarapan," kata Milo langsung duduk di meja makan.

To be continue

Hypnos : "Tuh Dek, biar elu ga jones coba lu ke dukun Hecate siapa tahu aja dia jual pelet!"

Thanatos : "Jahat lu, mentang-mentang malam ini malem minggu malah minta adik lu yang ganteng ini pake pelet." (Tersinggung di pojokkan)

Hecate: "Pelet apaan? Aku mana pernah buat ramuan somplak gituan." (nyengir)

Hades : "Iya Tos, Cuma elu doang yang jones dari jaman mitologi. Entar gue tanyain ke Istri gue kalau dia punya kenalan cewek sama elu, ya doain aja Personil Nimfa 48 mau ame elu."

Eden : "Pelet ? Pelet ikan buat mancing ?" (Wajah tanpa dosa)

Phantasos : "Makasih sama my honey el cid yang ngirimin aku mikropon pas malam minggu pula." (Nunjukin mikropon warna pink yang sedang tren di dumay)

Icelus : "Itu bukan mikrofone, Dek." (Nyengir)

Hypnos : "Berani-beraninya lu ngirimin barang laknat ini ke anak gue, sini lu Cid !" (Bawa Obor Hestia)

El Cid : "Sumpah bukan gue Om yang ngirim, itu tuh pelakunya, pedobear tebar pesona yang di sebelah sana!" (Nunjuk-nunjuk si Aspros yang lagi tebar pesona)

Aspros : "Eh si Om, kebetulan gue ada jadwal meeting sama Chris di Jerman. Bye bye Om!" (Langsung ngibrit pake Another Dimension)

Hypnos : "Eh sini lu!" (Ngejer Aspros pake teleportasi)

Defteros : "Untung Shion yang jadi Pope. Coba kalau si Kakak gue dah ambles tuh kuil Pope gara-gara dia ngebangun kerajaan pedo harem." (Ngelus dada)

Author Cindy : "Bener, ancur dah yang ada Sanctuary."

Haruto : "Kak, pelet entu apaan ya?"

Integra : "Udah Dek, jangan dibahas itu barang gak berfaedah!" (Nyengir)

Glosarium

HK G36 : Singkatan dari Heckler dan Koch G36, merupakan senapan serbu yang dirancang pada tahun 1990 oleh perusahaan senjata Jerman Heckler and Koch. Senapa ini merupakan senapan utama Angkatan Bersenjata Jerman, dan variannya digunakan oleh satuan kepolisian dan militer lainnya.

Borneo : Nama lain kalimantan.

Chicken Kathi : Sejenis jajanan pinggiran jalan dari Kolkata, India. Bentuk aslinya seperti kebab yang berisi sayur-sayuran, potongan daging ayam panggang, dan bumbu rempah-rempah.

Kotak Pandora : Kota ini milik wanita pertama ciptaan para dewa yang bernama Pandora. Sewaktu pernikahan Pandora diperingatkan oleh saudara suaminya jikalau akan ada malapetaka saat ia membukanya. Karena ia sangat penasaran, semua malapetaka menyebar ke seluruh dunia dan menyisakan satu hal yaitu harapan.

Mansa : Makan segala jenis daging sampai sekenyang-kenyangnya.

Mudra : Makan segalama makanan sampai sekenyang-kenyangnya.

Nasi Biryani : Sejenis hidangan berupa nasih yang dimasak dengan rempah-rempah ditambah sayuran, atau daging. Cara memamasaknya, beras digoreng di dalam Minyak samin sebelum di dalam air bersama rempah-rempah hinggah setengah matang.

Pavillion Salad : hidangan sayuran dengan topping.

Panzanella : salad dengan roti kering yang dilembutkan dengan air dan dihidangkan dengan tomat, basil, dan cuka.

Waltz : suatu jenis tarian ruangan dan tarian rakyat dalam ketukan 3/4, dilakukan terutama dalam posisi tertutup. Gerakan dasar utama dari suatu waltz adalah suatu putaran penuh dengan dua tahap dengan tiga langkah pertahap.

Seputar Fic

Terima kasih kepada kawan-kawan yang memberi ide soal penolakan Shion, bahkan ada yang sampe true story kata-katanya. Lagian di sini itu reaksi Shion kayaknya keras banget sampai-sampai buat si Albafica pusing. Soal hidangan sama restoran itu aku ampe niat nyari letak dan ciri-ciri makanannya. Yang menggoda iman itu pas cari scene di My Love From the star, Do Min Joon diintrogasi gara-gara Cheon Song Yi ga percaya kalau alien. Nah udahan yak, kita lihat nanti nikahan Fudo di Chapter selanjutnya!

Like and Review ya!

Terima Kritik dan Saran!