Under the Mistletoe with Me
(Remake)
Chanbaek's fanfiction based of novel by Kristen Proby
Jadi, ini bukan murni ceritaku. Aku hanya me-remake dari novel karya Kristen Proby dan mengganti nama dalam cerita dengan nama anggota EXO dan lain-lain.
Cerita seluruhnya karangan Kristen Proby
GS, M rated.
Warn! NC scene.
*
Bab 7
Punggungku melengkung, terangkat dari ranjang saat lidahnya tenggelam pada intiku. "Oh, Tuhanku."
"Sangat responsif." Dia menambahkan satu jari lagi dan memutar lidah ajaibnya pada clitku, menggoda dan menjilatinya, kemudian menghisap dengan lembut.
"F*ck, Eyes..."
"Oh ya, kita akan bercinta, tapi sekarang aku sedang bersenang-senang di bawah sini, sayang." Dia tersenyum nakal dan mencium titik yang ia hapal, tempat dimana pahaku bertemu dengan pusatku,
dan aku melenguh lagi, mencengkeram kencang sprei dengan jemariku. Dia menarik keluar kedua jarinya, membelai bibir vaginaku, mengitari clitku, membuatku semakin basah, mata birunya yang intens menatap jarinya yang sedang bermain denganku.
"Sangat cantik," bisiknya pada dirinya sendiri kemudian mengangkat kepalanya untuk memandangku, tersenyum lebar dan melepas seluruh pakaiannya dengan cepat kemudian menaikiku. Dia meletakkan
panggulnya diantara kakiku, terdiam, hanya menatapku.
"Ada apa?" tanyaku.
"Sama sekali tidak ada apa-apa." Chanyeol menciumku tulus, perlahan menyapukan bibirku dengan bibirnya. Dia menggoyangkan pinggulnya, meluncurkan miliknya menembus selubung basahku, dan kemudian perlahan, oh dengan amat pelan, memasukiku seinci demi seinci hingga sepenuhnya dan miliknya terkubur di dalamku.
Aku membungkus lenganku di sekeliling bahunya dan kakiku pada pinggulnya, mendekapnya erat dan dia menempelkan keningnya di keningku.
"Hal terbaik yang pernah kulakukan dalam hidupku adalah menjadikanmu milikku, Baek." bisiknya.
Kupegang wajahnya dengan tanganku dan menggosok hidungnya dengan hidungku, membiarkan airmata menetes menuruni wajahku. Chanyeol menyapunya lembut menggunakan ibu jarinya dan dengan amat pelan mulai menggerakkan pinggulnya. Dia menarik salah satu kakiku
kemudian ditumpangkan di bahunya dan memutar kepalanya untuk mencium betisku. Aku terkesiap dengan posisi baru ini, mempermudah dia memasukiku lebih dalam. Dan tiba-tiba, aku tidak lagi cukup dengan irama yang pelan dan konstan. Aku membutuh-kannya kencang dan keras.
Kugerakkan pinggulku, memompanya naik turun, meremas di sekeliling miliknya.
"Tuhan, babe, jangan meremasku sedemikian kencang. Kau akan membuatku datang."
"Itulah intinya."
Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Aku belum ingin klimaks."
Kucengkeram pantatnya dengan tanganku dan menariknya keras kemudian menjepit di sekeliling miliknya lebih ketat. Dia mem-berenggut dan menarik keluar miliknya. "Hei!"
"Kau tidak bisa patuh dengan apa yang diperintahkan, ya kan?"
"Sepuluh tahun pernikahan dan kau baru menyadarinya?" tanyaku datar.
Dia menghujamku lagi, keras, kemudian menarik diri keluar.
"Argh!" Sial!
Sekarang dia menggodaku, menyelipkan hanya ujung penisnya di dalamku, dan tersenyum dengan bangga padaku. "Apakah kau siap melakukan apa yang diperintahkan?"
Kuangkat pinggulku dengan cepat, mengakibatkan penisnya meluncur lebih dalam, tapi dia malah menariknya keluar. "Oh tidak. Kupikir sebaiknya kau berbalik."
Dengan mudah, dia membalikanku, menarik pantatku naik kemudian
menguburkan miliknya padaku, tangannya mencengkeram pinggulku, menarikku menjauh dan mendekat dengan irama menghukum namun konstan.
"Oh, Tuhan." Dia menelengkupiku dengan dadanya kemudian meraih dan membelai dengan gerakan berputar di sekeliling clitku dengan jarinya.
"Aku akan membuatmu datang, baby, baru setelah itu kau akan membuatku datang. Itulah yang akan terjadi." Suaranya parau, dan jari ajaib itu, dan gerakan keluar masuk yang terus menerus yang
menggesek di dalamku mengirimku ke tepian dan aku menjeritkan namanya ketika aku datang, berdenyut dan gemetaran tak berdaya di bawahnya.
"Seperti itu, cantik. Oh, Tuhan, Baek..." Tiba-tiba dengan brutal dia mencengkeram pinggulku lagi dan mendorong masuk, sekencang dan sejauh yang dia bisa, dan kurasakan dia menumpahkan benihnya di
dalamku.
"F*ck," bisiknya dan menciumi bahuku.
"Iya, aku baru saja melakukannya."
"Sok pintar."
"Ada apa?" Chanyeol menangkup wajahku dengan tangannya dan menatapku dengan dahi mengerenyit saat keluarga kami berjalan mendahului kami, tidak memperhatikan kami.
"Hanya sedikit pusing."
Aku tersenyum meyakinkan, meraih tangannya dan mengecupnya, kemudian dia memasukkan tangan kami yang bertaut ke dalam saku jaketnya untuk membuatnya tetap hangat. Kami berjalan mengelilingi Kebun Binatang Woodland Park di jantung kota Seattle menikmati
pertunjukan lampu Natal yang dipasang oleh mereka setiap tahun.
Malam baru saja naik dan udara terasa dingin serta bersalju, membuat pipi kami merona dan hidung membeku. Selama beberapa hari ini kami mengalami musim dingin bersalju yang jarang terjadi.
Sebenarnya, semenjak kami kembali dari pondok beberapa minggu yang lalu secara mengejutkan cuaca menjadi sejuk. Cuaca sempurna untuk pertunjukan lampu di kebun binatang.
Kebun binatang menguntai ratusan bahkan mungkin ribuan lampu, di seluruh kebun binatang, membentuk hewan dan bunga serta pemandangan. Ketika matahari terbenam semuanya terlihat amat indah. Mereka juga mempertontonkan rusa dan komidi putar yang besar untuk anak-anak.
Ini adalah jalan-jalan tahunan keluarga Park. Tahun ini yang ikut hanya orangtua Chanyeol, Chanyeol, Jessie dan aku, Kyungsoo, Luhan, dan Sehun. Irene pun ikut bersama dua putri kembarnya yang menggemaskan yang berusia lima tahun, Maddie dan Josie.
"Kau telah mengalami pusing selama beberapa minggu belakangan ini," komentar Chanyeol. Dia menepuk punggung Jessie saat ia menggeliat dalam tidur lelapnya pada alat gendongan yang melintang di dada Chanyeol.
"Aku baik-baik saja." Aku tersenyum padanya dan tertawa ketika para gadis kecil memekik ringan ketika mereka melihat lampu yang mempertunjukan kisah negeri dongeng, melompat naik turun agar dapat melihat lebih baik. Irene melihat ke belakang pada kami, meninjau area dengan cepat dan berbalik lagi kepada para gadis.
"Tuhan, aku akan muntah." gumam Kyungsoo dengan jengkel. Sehun dan
Luhan berciuman. Lagi. Aku tertawa mengusap lengan Kyungsoo untuk
menenangkannya.
"Bukankah kau sekarang sudah terbiasa melihat mereka berciuman?"
"Tuhan, apakah mereka harus melakukannya setiap waktu?"
Sehun nyengir, mencium Luhan sekali lagi dan memeluknya erat. "Ya."
"Yuck." Kyungsoo mejulurkan lidahnya dan berjengit, dan aku tidak dapat menahan tawaku.
"Apakah umurmu sembilan tahun?" tanya Chanyeol.
"Tutup mulutmu, Chanyeol." balas Kyungsoo.
Tiba-tiba Chanyeol mencengkeram kerah mantel wolku dan dengan lembut menarikku ke bibirnya, menciumku dengan kuat dan intens. Kudengar Kyungsoo tercekik dan aku pun terkekeh, kubungkus lenganku di sekeliling leher Chanyeol dan membalas pagutannya yang penuh gairah, tapi tetap berhati-hati karena Jessie sedang terbaring meringkuk diantara kami.
"Ciuman yang bagus, Chanyeol." Luhan memuji, kagum saat kami sudah terpisah.
"Kenapa hanya kalian yang bisa mendapatkan semua kesenangan?"
Chanyeol bertanya, masih tetap tersenyum padaku.
Iya, Kenapa juga?
"Disini ada banyak anak kecil, kalian tahu," Kyungsok mengingatkan kami.
"Aku ingin memberi makan rusa," Maddie melompat-lompat dan saudara perempuannya pun menirunya.
"Oke, boleh," ujar Chanyeol dan mengarahkan yang lain untuk berjalan di
trotoar. Irene memandang lewat bahunya, ke arah kami datang dan bermuka masam.
"Irene telah melihat lewat bahunya sepanjang malam," bisikku pada Chanyeol. Dia menatap sekilas pada kecemasan Irebe.
"Hei," Chanyeol meletakkan sebelah lengannya di sekeliling Irene sambil meremas pelan, kemudian menarik diri. "Kau aman disini."
Irene memberinya senyum kecil. "Aku tahu tapi aku tidak dapat menahan diri untuk selalu tetap waspada."
Aku menggamit tangannya dengan tanganku yang bebas saat hanya kami bertiga yang tertinggal diantara yang lain. "Apakah kau akan menceritakan padaku apa yang terjadi?"
Wajahnya melemah dan dia menunduk menatap tanah. Dia menggigiti bibir bawahnya dan kembali menatapku dengan mata cokelat gelapnya dan menggelengkan kepalanya, rambut pirang gelapnya bergerak di sekeliling wajah cantiknya. "Tidak."
"Kenapa?" aku bertanya putus asa.
"Hanya saja lebih baik kau tidak mengetahuinya."
Aku memandang Chanyeol. "Apakah kau tahu?"
Dia menggelengkan kepalanya dan menatap Irene dengan muram. "Tidak. Dia sangat keras kepala."
"Jongdae dan aku telah mengurusnya." gumamnya.
"Oke, jadi memandang ke belakang setiap kau pergi kemana pun, memakai ponsel sekali pakai dan nomor baru serta mengganti warna rambutmu itu kau sebut telah mengurusnya? Selanjutnya apa, Irene, kau akan mengganti nama dan nomor jaminan sosialmu juga?"
Dia memandangku dan kupikir dia akan mulai menangis. Aku merasa menjadi wanita yang menyebalkan.
"Sial, maafkan aku." Aku goyangkan kepalaku dan menghembuskan nafas. "Yang kukatakan tadi kejam. Aku hanya mengkhawatirkanmu, dan sebelumnya kau tidak pernah menyimpan rahasia dariku."
"Aku hanya berusaha membuatmu aman."
"Baiklah." Dia mengangkat wajahnya, memandangku, terkejut. "Oke. Saat kau telah siap menceritakannya, ceritakanlah padaku."
"Jadi, Irene," Chanyeol memulai. "Aku berasumsi kau membutuhkan pekerjaan."
Dia berjengkit. "Yeah, tapi aku tidak ingin mulai melamar pekerjaan dan mendapatkan calon atasan menjanjikan yang melakukan pemeriksaan latar belakang. Itu akan menarik perhatian."
"Betul." Chanyeol mengangguk. "Well, aku sedang membutuhkan karyawan di kantorku. Aku membutuhkan seseorang untuk menjawab telepon, mengurus tagihan-tagihan, hal-hal semacam itu."
"Kupikir kau sudah memiliki seseorang untuk melakukan itu semua." Dia tampak ragu.
"Memang, namun bisnis sedang berjalan dengan baik, dan kami membutuhkan tambahan bantuan. Apakah kau bersedia?"
"Kau menawariku pekerjaan?"
"Yep."
Irene menggigiti bibirnya, mempetimbangkan tawaran itu.
"Tanpa seorang pun perlu tahu, Irene."
"Benarkah?"
Chanyeol hanya tersenyum padanya, dan aku hanya bisa sangat men-cintainya.
"Aku bisa mulai besok." Senyumnya lebar, senyum tulus pertama yang kulihat pada wajah cantiknya sejak dia pulang ke rumah hampir dua minggu yang lalu kemudian menerjang Chanyeol, memeluk Chanyeolseerat yang dia bisa dengan Jessie yang terikat kencang di dada
Chanyeol.
"Hei, jaga tanganmu, nona." aku pura-pura menggerutu. "Dan jangan remukkan bayiku."
Dia tertawa. "Jika dia bukan milikmu, akan kuklaim Chanyeol jadi milikku."
"Nona-nona, tidak perlu berkelahi. Ada cukup diriku untuk dibagi."
Tawa kami meletus, dan Chanyeol cemberut. "Percayalah padaku, babe, kau kewalahan dengan apa yang kau miliki."
"Perusak kesenangan."
"Mom! Mom! Aku akan memberi makan rusa!" Josie berteriak dan berlari dengan penuh semangat kearah ibunya.
"Hebat, Jose! Ada berapa rusanya?"
"Delapan."
"Siapa saja namanya?" Sehun bertanya dan berkedip pada Irene. Aku tidak bisa menahan tawaku pada reaksi Irene. Dia merona seperti seorang remaja setiap kali Sehun memandangnya. Dia masih belum
percaya Luhan telah menikah dengan sang Oh Sehun.
"Donner, Dasher..." Josie mulai menyebutkan.
"Blitzen dan Cupid..." Maddie menambahkan, mengerutkan wajahnya, berpikir keras.
"Comet dan Vixen dan Dancer dan... dan..." Josie dan Madie saling bertukar pandangan, menghitung menggunakan jari mungil mereka.
"Dan Lucky!" jerit Maddie!
"Lucky?" Sehun bertanya dengan tawa tercengang. Kami berusaha menahan tawa dengan menutup mulut dengan tangan kami namun sayangnya gagal total.
"Yep."
"Terdengar bagus untukku."
"Bibi Baekhyun, apakah Jessie ingin memberi makan rusa juga?" Josie
berkata dengan penuh kesungguhan.
"Aku pikir Jessie masih terlalu kecil untuk memberi makan rusa, manis," Aku tersenyum padanya dan membelai kepangan rambutnya yang panjang dan berwarna hitam legam dengan tanganku.
"Well, kalau begitu bolehkah aku melihatnya?" tanya Josie dan Chanyeol
pun berjongkok, membiarkan gadis kecil manis itu melihat bayi yang sedang tertidur pada alat gendongan. Kedua gadis cilik itu telah sedikit terobsesi dengan sepupu mungilnya sejak pertama kali mereka bertemu dengan Jessie. "Oh, dia sedang tidur," Dia berbisik dengan suara nyaring pada Chanyeol.
"Iya, dia sedang tertidur," jawabnya sambil tersenyum. Aku tidak bisa menahan senyumku.
"Kenapa?" dia menatap mata Chanyeol dengan serius, yang saat ini berada
sejajar dengan matanya.
"Karena dia mengantuk."
Josie tersenyum manis. "Oke." Dan dia pun pergi untuk melanjutkan memberi makan rusa bersama kembarannya.
"Kau pandai menangani anak-anak, Chanyeol," Kata Kyungsoo santai sembari
menatap orangtuanya membantu si kembar memberi makan hewan.
"Apa yang kau inginkan, brat?" (anak manja)
"Aku tidak boleh berkata sesuatu yang baik padamu tanpa menginginkan sesuatu?"
Chanyeol tertawa dan menyentuh dot di mulut Jessie. "Oke, terima kasih. Kurasa."
"Demi cinta kasih Tuhan bisakah kalian berhenti?" Kyungsoo tiba-tiba berseru dan kami semua tertawa terbahak-bahak pada pemandangan dari Luhan dan Sehun berpelukan penuh gairah lagi.
"Menyerahlah, Kyung." Sehun bergumam dan kembali memper-tontonkan kemesraan mereka.
"Tuhan, aku membencimu."
Bab 8
"Kita duduk di belakang," Chanyeol berbisik di telingaku ketika kami memasuki bioskop. Ini malam di hari kerja, jadi tidak banyak penonton lain yang mengisi kursi.
"Aku tidak akan bercumbu denganmu di dalam bioskop," gerutuku dan kudengar dia berdecak.
"Ya, kau akan melakukannya."
"Umurku bukan enam belas tahun." Aku menaiki tangga menuju ke atas dan kami menduduki kursi tepat di tengah barisan. Kami berada di bioskop yang menyediakan kursi berpasangan terbuat dari kulit yang dapat diatur bukan seperti kursi bioskop kebanyakan. Ini baru, dan aku bersumpah pada Tuhan, aku tidak akan pernah mau mendatangi bioskop biasa lagi. Chanyeol menaikkan lengan kursi, dengan efektif mengubah kursinya menjadi kursi untuk pasangan yang
nyaman. Kami duduk dan menunggu filmnya mulai.
"Aku tidak bisa percaya kau setuju menonton film cewek," Aku menyuapkan segenggam penuh popcorn ke mulutku dan menyesap minuman soda.
"Aku tidak berencana menonton sebagian besar film itu."
"Aku tidak mau bercumbu denganmu selama film berlangsung. Aku telah menunggu film ini keluar selama berminggu-minggu."
"Aku akan membelikanmu kasetnya format Blu Ray." Dia mengendikkan bahu dan menggigit hotdognya hampir setengahnya.
"Lalu kenapa kita menghabiskan hampir lima puluh dollar untuk menonton film?" Tanyaku.
Dia nyengir padaku kemudian menelan hotdognya. "Kencan Menonton Film sambil Bercumbu."
"Apa?" Tanyaku dibarengi tawa.
"Kita sedang berkencan."
"Jelas."
"Di bioskop"
"Oke." Aku mengerenyit dahi padanya lalu dalam sekejap membalas senyum malasnya. Tuhan, aku sangat menyukai saat ia menatapku seperti itu. Matanya bersinar bahagia dan terlihat terlalu percaya diri.
"Ketika berada dalam gelap." Dia menarikku makin dekat ke sisinya dan membungkus lengannya di sekelilingku, meletakkan tangannya di pinggulku dan berbisik di telingaku, "dan tidak ada seorang pun yang dapat melihatku menyentuhmu."
Sialan, dia baru saja membuatku bergairah di dalam bioskop.
"Berapa lama kau telah memiliki khayalan kecil ini?" Tanyaku datar.
"Sejak usiaku tiga belas tahun."
Aku tertawa dan menyandarkan kepalaku di bahunya sambil mengunyah popcornku. Beberapa penonton masuk dan mencari
tempat duduk, menempati kursi di bawah kami yang duduk di barisan belakang. Lampu meredup saat film dimulai. Setelah lima belas menit, kuletakkan ember popcornku di lantai, aku merasa kenyang,
dan bersandar lagi pada suamiku yang hangat.
Dia bergeser di kursi yang luas hingga punggungnya bersandar pada lengan kursi yang ditegakkan kemudian dia menarikku diantara kedua kakinya, membungkus lengannya di sekeliling bahuku dengan
protektif, dan menciumi rambutku.
Sambil mendesah panjang, aku bersandar santai padanya. Para aktor di film sedang berdebat dengan penuh gairah, dan kemudian tiba-tiba berciuman, dengan sama bergairahnya. Tangan Chanyeol menjelajah dari belikatku turun ke bokongku, dimana dia mengusap lembut dengan gerakan melingkar kecil di sekeliling bokongku.
Dia tidak akan menyerah pada niatnya untuk bercumbu. Dia memiringkan daguku dan menyapu bibirnya di sepanjang bibirku, sangat ringan hingga aku nyaris tidak merasakannya. Itu seperti ciuman bisikan. Bibirnya menggelitiki sisi-sisi mulutku, garis rahangku. Dengan lembut dia mencium hidungku. Tangannya
terbenam di rambutku dan dia menguasai mulutku lagi, masih dengan kelembutan yang absolut.
Aku menghela napas, dan kubuka mulutku untuknya, mengundangnya untuk ciuman yang lebih dalam, dan dia pun menerima undanganku, mencelupkan lidahnya ke dalam untuk menggoda serta bermain
dengan lidahku, lalu menggigit-gigit bibirku lagi. Dia mundur dan mengelus rambutku berirama menggunakan jarinya.
"Tonton filmnya." Bisiknya.
Oh ya benar, filmnya.
Aku menyenderkan kepalaku lagi di dadanya dan merasakan dia mencium rambutku lalu tersenyum. Tangan yang berada di bokongku beranjak naik dan kemudian menyelinap masuk ke dalam jeansku dan menangkup pipi bokongku dengan kencang. Tangannya yang besar,
hangat terasa nikmat, dan terpaksa aku harus membekap mulutku agar suara eranganku tidak nyaring.
Dia memang penggoda!
Tangannya yang lain bergerak turun dari rambutku melewati bahuku, dan dia menyapu sisi payudaraku menggunakan punggung jarinya, kemudian naik lagi ke leherku, dimana dia tahu merupakan titik
paling sensitifku dan dengan amat lembut ia menggerakkan ibu jarinya bolak-balik pada titik tersebut yang mengakibatkan perasaan menggelenyar di seluruh tubuhku.
Oke, kami berdua bisa memainkan permainan ini.
Aku menjalarkan tanganku dengan kuat pada sisi tubuhnya, berlawanan dengan iganya, menuju pinggulnya dan masuk ke bawah kausnya sehingga aku dapat merasakan otot perutnya. Tuhan, mereka sangat kekar dan keras. Dan hangat. Dan tersentak dan mengejang di bawah sentuhanku.
Aku nyengir dan terus menggelitikinya dengan lembut, hanya menggunakan ujung jariku, menyelusuri tonjolan otot di sekeliling iganya. Ereksinya yang bertumbuh terasa di perutku namun mataku masih terpaku pada layar, walaupun aku sama sekali tidak tahu apa
yang sedang terjadi dalam film saat ini. Aku bergeser ke samping dan melepaskan kancing jeansnya kemudian menyelipkan tanganku ke dalam.
Dia terkesiap pelan saat kucengkeram kejantanannya yang keras dan kugoda dia. Tangannya yang berada di bokongku menegang dan bergerak turun diantara lipatan licinku. "Basah," gumamnya pada
rambutku dan mencium kepalaku.
Tiba-tiba dia mendorongku, mengancingkan jeansnya dan menyentakku keluar dari kursi, menarikku di belakangnya ke lorong dan menuruni tangga.
"Kita akan kemana?" aku berbisik kencang.
Dia tidak menjawab sampai kami berada di luar bioskop dan berjalan menyusuri trotoar.
"Eyes, apa yang kau lakukan? Filmnya..." Dia mendorongku ke dinding, mengurungku dengan tubuhnya, mengekang pergelangan tanganku di samping kepalaku dan menciumku dengan rakus, menikmatiku, dan bercinta dengan mulutku.
"Blu Ray," Dia menggeram, mata birunya mencair dan dia menyeretku di belakangnya lagi menuju mobil. "Aku ingin
membawamu pulang dan membuatmu telanjang. Sekarang."
"Well, baiklah kalau begitu."
Dari manakah datangnya hadiah-hadiah ini? Baru saja kutuangkan secangkir kopi pertamaku dan akan naik ke lantai atas untuk mandi dan bersiap-siap sebelum Jessie terbangun, namun ketika aku
melewati Pohon Natal, setidaknya disana ada selusin hadiah baru yang telah terbungkus oleh kertas mengkilat dan dihiasi pita besar, sebagai tambahan dari hadiah yang telah kubungkus dan kuletakkan di bawah Pohon Natal minggu lalu.
Kutaruh kopiku di ujung meja, aku berlutut di lantai dan meraih sebuah kotak merah besar dihiasi pita berwarna emas.
"Letakkan."
Kutarik dengan cepat tanganku dan terduduk pada tumitku dan menengok kepada Chanyeol dengan perasaan bersalah. "Aku tidak menyentuh apapun."
"Darimana ini semua berasal?" Aku bertanya dan melihat sekilas pada
kotak-kotak yang cantik itu.
"Uh, Santa?" Aku melotot padanya.
"Ini bukan pagi di hari Natal, sok pintar."
"Memanggil Santa seorang yang sok pintar berarti bukan menjadi anak baik. Jika terus menjadi anak nakal, kau akan mendapatkan batu arang."
"Akan kutunjukkan perilaku nakal…"
Rengekan Jessie terdengar dari alat baby monitor, dan aku tahu aku hanya punya waktu paling lama dua puluh menit, untuk mandi sebelum dia berkeras bahwa sudah saatnya dia keluar dari tempat tidurnya.
"Kita lanjutkan nanti," Chanyeol bergumam dan menarikku ke arahnya saat aku berdiri. "Nanti malam?" tanyanya sebelum menyapukan bibirnya di atas bibirku.
"Baiklah" Aku tersenyum lebar dan mencium ringan dagunya yang berjanggut tipis, menikmati rasanya pada bibirku.
"Apa yang akan kau lakukan hari ini?" Dia bertanya.
"Pagi ini aku akan mengantarkan Jessie ke ibuku. Beliau bertanya apakah boleh mengasuhnya beberapa jam jadi kupikir aku bisa mengambil kesempatan itu untuk pergi ke supermarket dan mungkin
melakukan pedikur. Kopimu ada di meja dapur."
"Terima kasih, baby. Nikmati waktu sendirimu." Dia menyeringai dan
menciumku ketika ia berjalan keluar pintu untuk berangkat kerja.
"Jangan bekerja terlalu keras."
"Tapi, aku tidak mengerti," Jawabku pada perawat Seulgi. "Kenapa aku harus datang kembali? Kemarin aku baru saja dari sana."
"Tes darah yang kita lakukan kemarin hasilnya telah keluar dari lab, Baek. Dan dokter ingin mendiskusikan beberapa hal."
Hal apa?
"Beliau berkata semuanya baik, dan anda meneleponku mengatakan bahwa hasil labnya normal. Anda dapat langsung memberitahukan hasilnya sekarang."
Aku sedang dalam perjalanan dari supermarket menuju salon kuku untuk melakukan pedikur yang sangat kubutuhkan. Kunjungan lain yang tidak perlu ke dokter sepertinya konyol dan membuang waktu.
"Saya tidak dalam kapasitas mendiskusikan hasil tes melalui telepon.
Dokter Wu perlu bertemu anda. Beliau ada waktu kosong dalam satu jam. Bisakah anda datang?"
Well, sial, selamat tinggal pedikur.
"Yeah, aku akan datang." Kututup teleponnya dengan gusar. Janji temu dokter lagi. Chanyeol kemarin memaksaku untuk melakukan check up karena aku masih mengalami sakit kepala. Tidak terasa menyakitkan, tapi sering terjadi. Dokter menduga itu akibat stress namun tetap menjalankan tes lab untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Semuanya telah kembali normal dan ini hanya rutinitas atau aku akan menghajar seseorang. Aku sudah cukup bosan bertemu dengan dokter.
Teleponku berdering lagi, dan aku tersenyum ketika kulihat itu adalah Irene. "Hei."
"Hei, aku baru saja meninggalkan rumah ibumu. Dia sedang mengasuh Jessie dan menawarkan menjaga si kembar untukku juga. Dimana kau?"
"Sebelumnya aku akan pergi untuk melakukan pedikur..." sebelum aku dapat menyelesaikan kalimatku, Irene terkesiap.
"Tanpa aku? Apa-apaan itu?"
"Untung saja si kembar tidak sedang bersamamu." sergahku datar.
"Aku tahu. Aku berusaha untuk mengeluarkan semua kata sumpah
serapah ketika mereka tidak ada di sekitarku."
"Seperti kataku, sebelumnya aku akan pergi melakukan pedikur, tapi dokterku baru saja menelepon dan ingin melakukan pertemuan lanjutan."
"Kau masih melakukan kunjungan lanjutan setelah hampir lima bulan melahirkan?" Tanyanya.
"Tidak, aku menemuinya karena belakangan aku mengalami sakit kepala. Kurasa ada hasil tes darah yang ingin mereka bicarakan."
"Oh. Well, karena aku sedang tidak bersama si kembar, kau mau ditemani? Kita bisa makan siang setelahnya."
"Tentu saja, terima kasih. Kutemui kau disana." Kusebutkan alamat klinik pada Irene dan menutup telepon. Aku menepi di lapangan parkir klinik dan menunggu Irene di mobil. Tidak butuh waktu lama hingga dia datang.
"Hi, Fran," Kusapa resepsionisnya. "Dokter Wu ingin bertemu denganku lagi hari ini."
"Dia sedang menunggu kedatangan anda. Terima kasih telah berkenan datang dengan pemberitahuan tiba-tiba. Jessie tidak ikut hari ini?" Dia bertanya sambil tersenyum.
"Tidak, aku ada pengasuh hari ini."
Perawat Seulgi muncul dari sudut dan tersenyum padaku. "Oh bagus, anda sudah disini. Anda akan saya antar."
"Sepertinya tidak terlalu sibuk hari ini." Aku berusaha membuat obrolan ringan untuk menenangkan syarafku. Aku benci ruangan dokter. Kau mungkin berpikir dengan lusinan, atau bahkan ratusan jam yang telah kuhabiskan di dalamnya selama lebih dari tiga tahun itu tidak akan menggangguku.
Ya, masih membuatku tak nyaman.
"Setiap tahun saat seperti ini biasanya selalu santai. Terutama minggu ini, minggu Natal." Seulgi melemparkan senyum bersahabat pada Irene.
"Oh, maafkan saya. Ini sepupu saya Irene."
"Senang bertemu dengan Anda. Oke, silahkan duduk, dokter akan menemui Anda sebentar lagi."
"Tempat ini membuatku bergidik," Irene berkata setelah si perawat pergi. Dia menggigil dan memandang vag¡na plastik. "Apa sih maksud sialan mereka meletakkan barang ini disini? Aku tidak mau melihat sebuah jay-jay (vag¡na) tiruan."
"Itu berguna untuk menakuti kita agar tidak berhubungan seks lagi."
"Itu berhasil."
Ada sebuah ketukan pendek di pintu, mengejutkan Irene dan pintu pun membuka, dan dokterku yang tampan, Dr. Delicious (lezat) Wu melangkah cepat masuk kedalam ruangan.
"Terima kasih sudah bersedia datang Baekhyun."
"Tidak masalah. Ini sepupuku Irene."
"Irene." Otomatis dia menjabat tangan Irene, tanpa mengalihkan pandangan dari papan yang sedang dipegangnya. Irene menatapku, mata cokelat besarnya melebar dan seperti berkata, Ya Ampun!
Aku tahu! Jawabku.
"Begini, Baekhyun, saya tahu kemarin kita telah berdiskusi bahwa kemungkinan besar penyebab sakit kepala yang anda alami diakibatkan oleh stress, dan tidak berhubungan dengan diabetes
gestasional ringan -*Gestational diabetes mellitus (GDM) didefinisikan sebagai diabetes yang terjadi selama kehamilan. Ini adalah salah satu masalah kesehatan yang paling umum yang dihadapi oleh wanita hamil dan biasanya berkembang di tengah kehamilan, antara minggu ke 24 dan ke 28 ketika hormon mengganggu
kemampuan ibu untuk menggunakan insulin]- yang anda alami ketika hamil."
"Benar," Aku mengangguk.
"Dan hal itu benar karena hasil lab anda sangat normal berdasarkanangka gula darah anda."
"Bagus sekali." Aku tersenyum dan menyandangkan tas tanganku ke atas bahuku, bersiap untuk pergi bersama dengan hasil tesku.
"Namun," lanjutnya dan kuhentikan gerakanku. "Anda sedang hamil."
"APA?" Irene bergumam dan kemudian meletuskan tawa histeri.
Bab 9
Aku memandang si Delicious untuk beberapa detik, mulutku me-nganga, mataku melotot, lalu tawa Irene menembus kabut yang melingkupi otakku.
"Maafkan saya, apa yang tadi Anda katakan?"
"Anda sedang hamil."
Dan hanya seperti itu, saat cekikikannya telah mulai mereda, Irene melepaskannya lagi.
"Apakah dia habis minum?" Sang dokter bertanya.
"Tidak. Ini hanya tidak masuk akal. Anda sebaiknya memeriksa ulang hasil lab tersebut, dokter. Aku tidak hamil."
"Uh, Yah, Anda memang hamil."
Aku terpaku. Aku mengerjap padanya.
"Hanya kau, Baek." Irene menarik napas panjang dan menghapus airmata di matanya. "Hanya kau yang telah berjuang melewati terapi ketidaksuburan selama tiga tahun, kemudian akhirnya mendapatkan bayi, lalu langsung hamil lagi tanpa harus berusaha mencoba."
"Saya pernah melihat ini sebelumnya," Sang dokter menjawab. "Ada kalanya sistem pada tubuh seorang wanita mengalami semacam "pengaturan ulang" dengan sendirinya setelah hamil, dan dia dapat segera hamil lagi."
Hah.
"Kapankah periode menstruasi terakhir Anda?" Dia bertanya.
"Saya tidak ingat. Kemungkinan sebelum hamil Jessie. Aku baru saja berpikir hormon-hormonku belum benar-benar pulih dari keadaan kehamilan."
"Jadi ada kemungkinan Anda sudah hamil beberapa bulan yang lalu."
"Tahiti?" gumam Irene.
Tahiti.
"Sial, aku minum-minuman beralkohol! Aku tidak menyusui Jessie, jadi aku telah beberapa kali minum sejak dari Tahiti."
"Lebih dari beberapa kali sehari?" tanya sang dokter.
"Tidak, beberapa kali sebulan."
"Anda tidak dalam masalah," dia tersenyum meyakinkan. "Anda tahu
pantangannya. Hubungi dokter kandungan Anda dan mengatur janji konsultasi serta USG."
"Jadi, yang lainnya oke?" Tanyaku.
"Yep, Anda baik-baik saja. Selamat untuk Anda."
Aku menatap nanar Irene selama satu menit, mulutku membuka dan menutup seperti ikan keluar dari air.
"Makan siang," ujarnya dan menggandeng tanganku, menarikku keluar dari kantor. Ada apa dengan orang-orang yang belakangan ini senang menyeretku di berbagai tempat?
"Aku harus membawa pulang belanjaanku dan menjemput Jessie."
"Kita akan membawa pulang belanjaanmu, menyimpan bahan-bahan yang mudah busuk, dan kemudian pergi makan siang. Ibumu sedang menukmati waktunya bersama Jessie."
"Oke."
"Kau bisa mengemudi?"
"Yeah, kenapa?"
"Karena kau berusaha membuka pintu mobilmu dengan lip gloss bukan dengan kunci."
Aku menatap ke lip gloss di tanganku. "Sial."
"Aku yang mengemudi, kita akan meninggalkan mobilku disini, dan aku akan meminta ayahku untuk mengambilnya nanti."
"Oke."
"Bagaimana perasaanmu?" Tanyanya saat menepi di jalanan masuk rumahku. Aku masih memandang ke depan dengan kaku dalam keadaan shock.
"Tidak hamil."
"Ayolah, mari kita bereskan ini supaya kita bisa pergi lagi."
Dengan cepat kami membawa kantong-kantong belanjaan dari mobil ke dapur kemudian menyimpan bahan makanan ke dalam kulkas atau lemari pembeku dan sebelum aku menyadarinya, kami telah kembali ke mobil dan memasuki restoran Mexico terdekat.
"Kita akan minum *margarita" Dia menyeringai ke arahku. "Untukmu tanpa alkohol."
"Sial, tanpa alkohol lagi untuk setahun ke depan."
Kami duduk dan dengan rakus mengambil dan mengunyah keripik *tortilla hangat dan *salsa di dalam keranjang.
"Tidak ada yang salah dengan nafsu makanmu," Irene menyatakannya dengan datar.
"Tutup mulutmu." Aku mengambil dua potong keripik lagi dan meyesap margarita tanpa alkoholku. "Ini sama sekali bukan
margarita."
"Jadi..." Irene mengangkat alis matanya bertanya-tanya.
"Jadi apa?"
"Jangan menjadi orang keras kepala. Bicara." Dia menggigit keripik dan menyesap dengan lama margarita bodohnya kemudian tersenyum sombong.
"Sekarang aku membencimu."
"Tidak, kau tidak membenciku." Dia mengibaskan pergelangan tangannya. "Bagaimana perasaanmu mengenai bayi."
"Oh, Jessie sangat menyenangkan. Dia lucu, dia selalu tertawa terkekeh setiap saat. Ini, aku punya rekaman video di ponselku, aku ingin menunjukkannya padamu..."
Aku menatap pada mata Coklat besar Irene. "Ada apa?"
"Baek, apa kau mengalami penyangkalan. Apakah aku perlu mem-bawamu kembali ke dokter Delectable?" (nikmat)
"Dia adalah dokter Delicious."
"Terserah, aku akan membawamu kembali ke dokter seksi jika itu harus. Kau ingat dengan berita bahwa kau sedang hamil, kan?"
"Oh." Aku kembali duduk bersandar di kursi, sebuah keripik bergantung lemah diantara jariku. "Yeah."
"Benar."
"Aku hamil." Aku mengucapkan kata itu lagi dalam otakku, membiarkannya masuk dan meresap disana. "Tanpa obat-obatan,
ataupun suntikan di pinggul, atau diberitahu selama berbulan-bulan bahwa semua usaha tersebut gagal."
Ya ampun.
"Menurutmu apa yang akan Chanyeol katakan?" Irene bertanya.
Aku tersentak. "Well, secara tidak sengaja, kami membicarakan hal ini beberapa minggu yang lalu. Kami akan menunggu sebelum memiliki anak lagi, tapi aku cukup yakin dia akan bahagia setelah shocknya hilang." Aku mengangkat bahu. Ya, Chanyeol akan baik-baik saja. Kami telah berencana memiliki rumah yang penuh dengan anak di awal pernikahan kami.
"Oh, Tuhan." Aku menelan keripik lainnya dan menyesap air.
"Apa?" tanyanya.
"Aku akan memiliki dua bayi dengan jarak usia kurang dari delapan belas bulan. Dua bayi berpopok. Dua bayi..."
Kedua alisnya naik dan dia menyeringai. "Aku tidak tahu sama sekali bagaimana rasanya."
"Sial, aku tidak menduga hal ini." Aku tertawa dan menarik napas dalam-dalam. "Jessie akan menjadi kakak."
"Bagaimana caramu mengatakan pada Chanyeol?"
"Oh, aku tidak tahu. Harus dengan sesuatu yang menyenangkan." Aku menepukkan tanganku dengan bersemangat.
"Aku tahu! Natal tinggal beberapa hari lagi."
"Aku suka ke mana arah pembicaraanmu ini." Aku menyesap margarita palsuku dan mencondongkan badanku ke depan, men-
dengarkan dengan penuh minat.
"Oke, aku melihatnya di papan iklan online. Apa kau pernah melihat situsnya?"
"Aku kecanduan dengan situs itu." Aku telah menghabiskan waktu berjam-jam di situs tersebut.
"Ini yang harus kau lakukan: pertama, hubungi Luhan. Kemudian..."
"Bagaimana harimu?" tanya Chanyeol lalu menarikku untuk sebuah ciuman. Dia baru saja pulang kantor, dan membawa masakan Italia.
Ya Tuhan, aku mencintainya.
"Hari yang baik," Aku tersenyum pada diriku sendiri dan melompat naik turun dalam kepalaku. "Cukup standar."
"Ada sesuatu yang terjadi?"
Kau sama sekali tidak akan menyangkanya, babe.
"Tidak juga." Aku mengendikkan bahu dan menciumnya tulus lalu mulai mengeluarkan kotak styrofoam yang berisi makanan lezat dari kantung kertas cokelat.
Chanyeol berjalan memasuki dapur untuk mengambil piring dan peralatan makan dari perak dan menurunkan dua gelas anggur serta sebotol Merlot. (merk minuman anggur)
Sial.
"Aku tidak minun anggur, Eyes," kataku dengan nada setidak acuh mungkin.
"Kau yakin? Aku tau betapa sukanya kau makan ayam parmesan sambil minum ini." Dia mengerutkan keningnya dan memiringkan kepalanya. "Apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik," Kulambaikan tanganku dan mengatur piring kami, tersenyum pada Jessie yang sedang duduk di kursi goyangnya di atas meja yang sedang meniupi raspberry dan bermain dengan kakinya.
"Tidak ada sakit kepala lagi?" tanyanya sambil mengembalikan anggur beserta gelasnya ke dapur, kemudian membawa dua botol air untuk kami.
"Tidak, tidak ada beberapa hari ini." Aku tersenyum padanya. "Sama sekali tidak ada sakit kepala malam ini." Aku goyangkan kedua alisku, membuatnya terkekeh dan berusaha keras mengalihkannya dari pembicaraan mengenai hariku.
"Apakah tadi dokternya sudah menghubungi untuk memberitahukan hasil tes kemarin?" Dia bertanya dan menyuap salad.
Kita tidak akan menghadapinya lagi.
"Yeah, semuanya baik-baik saja." Sekarang aku tidak sanggup menatap langsung ke matanya.
Aku benci berbohong padanya, walaupun untuk memberinya kejutan. Dan ini adalah sesuatu yang besar, dan aku amat bersemangat! Mungkin sebaiknya aku memberitahunya...
"Jadi, kalau begitu sakit kepalanya kemungkinan diakibatkan oleh stress?" Dia bertanya, menatap dengan penuh perhatian sembari mengunyah.
"Itulah dugaan dokter." Aku menyesap air minumku dan kembali memakan pasta bersausku. "Tuhan, ini enak."
"Aku tahu kau kewalahan, Baek. Mungkin sebaiknya kau beristirahat sebentar dari aktivitas di blog."
Huh?
"Kenapa aku harus melakukan itu?" aku bertanya dengan cemberut.
"Karena jelas kau sedang menjalani banyak hal, dengan Jessie dan Irene pulang ke rumah dan semuanya." Dia mengangkat bahu sepertinya hal itu masuk akal untuknya.
"Aku cinta blogku. Aku cinta membaca. Para penulis bergantung padaku untuk membantu mereka mempromosikan bukunya, dan menulis review, dan aku tidak ingin berhenti dari itu semua."
"Aku tidak bilang kau harus menghentikannya sekaligus. Mungkin
mundur sebentar. Blog telah menghabiskan banyak waktumu."
"Apakah maksudmu kau tidak ingin aku meneruskan blogku, Chanyeol?" Kuletakkan peralatan makanku dan menatapnya. Dia tidak pernah mengatakan hal ini sebelumnya. Dia selalu terlihat bangga padaku.
Apa-apaan ini?
"Tidak," Dia cemberut padaku. "Tuhan, aku bukan seorang bajingan. Jika kau mencintainya, terus lakukanlah. Dokter mengatakan sakit kepalamu akibat dari stress, dan aku hanya mencoba memikirkan cara untuk mengurangi stressmu."
Dan aku amat siap memulai pertengkaran. Cara yang bagus untuk mengurangi stress. Aku meneguk lagi airku dan menarik napas dalam-dalam.
"Well, kukira bukanlah blog yang membuatku stress," jawabku tenang.
"Oke." Dia menghabiskan pastanya dan mendorong piringnya, memandangku lekat-lekat. "Adakah hal lain yang sedang terjadi?"
Aku menggelengkan kepalaku dan menekan kedua bibirku. "Tidak."
Dia memiringkan kepalanya, sepasang mata sebiru es menatapku dengan tajam. "Jika itu katamu."
"Apakah ibumu menelepon hari ini?" Aku bertanya, mengganti pokok pembicaraan saat aku bangkit dan membersihkan meja.
"Tidak, ada apa?" Dia berdiri untuk membantuku dan kami bekerja cepat membuang boks bekas makanan dan memasukan piring kotor ke mesin pencuci piring.
"Kita akan menghadiri makan malam Natal di rumah Sehun dan Luhan tahun ini, karena mereka memiliki rumah yang lebih luas untuk menampung kita semua." Aku berbalik dan bersandar pada meja dapur lalu tersenyum ketika Chanyeol mengangkat Jessie dari kursi goyang dan mencium pipi mungilnya, berbisik di telinga Jessie, membuatnya terkikik.
Dia adalah seorang ayah yang baik. Aku harus mencengkeram pinggiran meja dapur pada masing-masing sisi pinggulku agar menghindari aku secara tidak sadar mengusap perutku.
Keluarga Park biasanya berkumpul bersama pada malam Natal dan hari Natalnya, namun kami bertukar hadiah pada malam Natal, dan aku amat lega karena aku pikir sudah tidak akan sanggup
menunggu dua belas jam lagi tahun ini.
Kami bertiga pun akan memiliki waktu pribadi pada pagi hari Natal disini di rumah kami sendiri.
"Oh, baiklah. Boleh juga. Apa kau dan aku akan bertukar hadiah disana atau kita akan menunggu hingga pagi Natal disini?" Dia menggigiti jemari Jessie, membuatnya tertawa lebih banyak. "Haruskah kita membiarkan mommy menunggu untuk hadiahnya, peach?"
"Aku ingin memberikanmu satu hadiah disana, dan kita dapat membuka sisanya disini pada esok paginya." Aku bergumam dan matanya menatap mataku, kepalanya miring lagi heran dengan nada suaraku.
"Kau yakin kau baik-baik saja?"
"Aku baik, jangan jadi pengomel, sayang," ujarku dengan nada sarkasme.
"Dengar, mulut itu muncul lagi. Santa masih bisa mengembalikan semua kado yang telah terbungkus dengan cantik di bawah pohon, babe."
Aku menyeringai dengan manis. "Aku mencintaimu." Kukerjapkan bulu mataku main-main dan Chanyeol tertawa, mengakibatkan Jessie juga tertawa.
"Mommy berpura-pura jadi gadis yang baik, tapi dia nakal, Jess. Jangan biarkan dia menipumu." Chanyeol mencium pipinya lagi dan tersenyum padaku. "Kemarilah."
"Apa?"
"Kemarilah cepat."
Aku berjalan ke arah dua orang favoritku lalu dia menyampirkan lengannya di sekelilingku, meletakkan tangannya di pinggangku dan menarikku untuk menciumku.
"Inilah hadiah Natal terbaik, disini," Bisiknya pada mulutku. "Hanya dengan bersama gadis-gadisku."
Oh, coba kau tahu apa yang aku miliku untukmu.
Aku menyeringai padanya kemudian mencium pipi halus Jessie.
"Ini akan menjadi Natal yang luar biasa," gumamku.
*
Note:
Margarita merupakan salah satu minuman khas dari Meksiko. Cocktail yang asam segar ini rasa jeruknya sangat kuat.
Tortilla adalah roti pipih tanpa ragi yang terbuat dari jagung giling atau gandum.
Salsa adalah Bahasa Spanyol untuk saus, dan di negara berbasis bahasa Inggris selalu dirujuk dengan saus pedas dari Meksiko, terutama digunakan untuk saus celup.
AN: Halo. Sebenarnya sampai sini bisa dibilang end sih, but chapter depan ada epilog so tenang aja guys:3
Sekali lagi, terima kasih buat semua review-nya ga nyangka bakal ada yang baca, karena awal nge-remake karena iseng2 aja sih hehe. Dan mohon maaf karena aku tahu ini ambur adul banget sih huhu:( dan mohon maaf juga kalo apdetnya lama wkwk.
Okay see you next chapter!
