Kemana dia?

Dan Sasuke baru menemukan Hinata ketika Hinata membuka pintu kamar mandi dan keluar dari kamar mandi.

"Kau ..."

"Sasuke-kun."

Sasuke menatap Hinata. Hinata mendongak dan menatap Sasuke dengan mata berkaca. Telapak tangannya menggenggam sesuatu. Ada yang salah, pikir Sasuke pasti.

Sebelum Sasuke bertanya, air mata Hinata mengalir, dan kalimat Hinata yang lainnya membuat Sasuke tak mengerti bagaimana harus bersikap.

Haruskah ia merasa senang? Atau malah terbebani? Atau ...

"Aku ... hamil."

Mengingat perlakuan Hinata akhir-akhir ini, mengingat kegiatan malam mereka yang memang sudah beberapa kali dan tanpa pengaman, Sasuke merasa Hinata tidak berbohong.

Hinata hamil. Hinata mengandung darah dagingnya.

Sekali lagi, Sasuke tak tahu harus berekpresi apa.


Our Family

.

By : Hinata (Admin)

.

Disclaimer:

Naruto (c) masashi Kishimoto

.

Warning:

OOC, Hinata POV, Typo, Abal, Dan sepertinya akan jadi multichapter yang panjang. (-_-)"

.

.

Spesial Thanks :

Seluruh anggota page Gudang Fanfic SasuHina (Sasuke-Hinata Indonesia)

Reader-reader yang telah me-review, mem-fave, meng-alert dan menjadi silent reader di fanfiksi ini : kensuchan; ookami Child; Dr. Boo-chan; hinatauchiha69; Cahya LavenderHyUchiha; yamashita miko; Fibonancy Jacquinn; wiendzbica; Rini Andriani Uchiga; chan; chanz; someone; aam tempe; NatsuFurusawa; Samael D'Lucifer; Guest; ZeeMe; TheOnyxDevil; Aisanoyuri; hinachanhime; Uchiha Hinata Hyuuga; SH Indigo Raven; Naomi Hana; Luluk Minam Cullen; ; Eigar alinafiah; Himeeka-chaan; Sasu-kuun; Guestme; Guest (Anna); Uchiha Hinata; Dewi Natalia; yukiko Miyuki; himenaina; eri; namedisupyonn; Umie Solihati; love SasuHina; hana37; stella; Guest; Renita nee-chan; moshi moshi; Guest; MiyukiHara; harukha; Indah; alfiyahhime; saki-chan Hyuuga

Dan semua orang yang belum sempat ditulis tapi belum sempat saya tulis... Sungguh terharu...

.

Fanfiksi ini terinspirasi dari sebuah pertanyaan yang mengganggu pikiran saya :

Mana yang akan kamu pilih, Menikahi orang yang kamu cintai atau mencintai orang yang menikahi kamu?

.

Saya memilih pilihan kedua untuk tema fanfiksi ini : Bagaimana caranya mencintai orang yang menikahi/dinikahi kamu

.

#7: Sebuah Keraguan

.

Summary Chap 7 :

"Jika... Jika aku membiarkan anak ini lahir ke dunia, apakah sikap lembutmu akan berubah?" – Hinata

Jika... jika aku menghalangi anak ini untuk menatap dunia, apakah... apakah kau tak akan memperlihatkan senyummu itu kepadaku? – Sasuke

.

Happy reading... :D

Semoga fanfiksi ini tidak mengecewakan

.


Aku harus menghentikan air mata ini...

Di dalam mobil, kami tak banyak bicara. Aku lebih banyak menatap ke arah luar jendela sementara Sasuke-kun dengan wajah dinginnya memfokuskan pandangan ke jalanan, ke arah jalanan kota Tokyo yang masih terlihat ramai. Tidak macet seperti ibu kota di Indonesia, tapi masih terbilang cukup padat.

Perasaanku kacau. Aku sudah berhenti menangis, tapi rasanya aku akan kembali menangis jika bersuara walau hanya satu kata. Dari pantulan kaca jendela, aku melihat pantulan wajahku dan Sasuke-kun, dan aku merasa tindakanku tadi berlebihan.

Untuk apa aku menangis?

Padahal, ketika aku membeli beberapa buah alat tes kehamilan, aku sudah menyiapkan mental dan perasaanku untuk menerima apapun hasilnya. Padahal, ketika aku menanti alat tes kehamilan itu menunjukkan hasilnya, aku sudah menyiapkan mental sempurna untuk kejadian yang tidak aku kehendaki seperti kenyataan bahwa aku hamil.

Tapi... Tapi ketika alat tes kehamilan itu menunjukkan kemungkinan terburuk bahwa aku kini telah berbadan dua membuat air mataku, tanpa alasan yang jelas, keluar tanpa sebab. Aku menangis, dengan berbagai perasaan aneh yang terus menghantam kepalaku, menghancurkan mental yang susah payah kubangun dan aku mengutuk diriku yang sempat terharu dan senang ketika mendapati bahwa hipotesisku benar.

Aku sempat merasa bahagia karena tengah mengandung anak hasil hubunganku dengan Sasuke-kun?

Aku merasa, aku harus mengutuk satu perasaan itu karena ... karena ... jika Sasuke-kun tak merasakan perasaan yang sama denganku, aku rasa aku akan hancur, berkeping-keping.

"Hasil tes dengan alat itu tidak seratus persen benar. Pasti ada yang salah."

Aku menunduk, menggigit bibir bawahku dan mengepalkan kedua telapak tanganku kuat-kuat untuk mati-matian menahan rasa sesak yang lagi-lagi memaksa sepasang mataku untuk mengeluarkan air mata lagi ketika mengingat kalimat Sasuke-kun tadi sebelum menarikku ke dalam mobil. Dari kalimatnya tadi, sudah jelas bahwa Sasuke-kun mati-matian menolak kenyataan bahwa aku tengah mengandung anaknya.

.

#Our Family – Sebuah Keraguan#

.

Dua jam kemudian, kami telah tiba di apartemen kami. Kami tak langsung masuk ke apartemen, setia di depan pintu masuk dengan aura canggung yang sama dengan yang kurasakan ketika awal kami menikah. Perkataan dokter tadi masih terngiang-ngiang di telingaku, membuat perasaanku masih sesak.

Tapi aku benci aura suram dan canggung seperti ini.

"Sa-Sasuke-kun belum makan malam, bukan?" Dan mati-matian aku bersuara. Suaraku terdengar agak sengau dan tak enak didengar. Aku merasa otot wajahku benar-benar kaku ketika aku memaksakan diri untuk tersenyum, dan tenggorokanku semakin tercekat ketika Sasuke-kun menatapku dalam-dalam. "Aku minta maaf karena tadi tak menyambutmu dengan benar," Aku berjalan mendahului Sasuke-kun memasuki apartemen.

"Hinata ..."

"Aku juga minta maaf karena yah... untuk satu dan lain hal, aku belum menyiapkan makan malam," Aku terlalu shock untuk melakukan kegiatan layaknya ibu rumah tangga ketika dugaan-dugaan itu. "Jadi... Mau kupesankan sesuatu?"

Aku masih tersenyum, meski suaraku agak sengau, setidaknya aku merasa mendengar nada ringan dan ramah di tiap kosa kata yang kuucapkan. Aku juga mati-matian menatap wajah suamiku ketika menawarkan makan malam kepadanya.

Tapi kenapa? Kenapa ...

"Jangan memaksakan diri untuk tertawa, Hinata."

... air mataku mengalir ketika kalimat itu keluar dari mulut suamiku itu?

"Aku..."

Dan aku melebarkan mata ketika melihat gerakan tangan Sasuke-kun yang hendak menyapukan jemarinya ke pipiku.

"Jangan sentuh!"teriakku, mundur satu langkah menjauhi Sasuke-kun. Aku menunduk, menyesal dan entah perasaan apalagi yang muncul ketika semua perasaan bercampur aduk menjadi satu yang membuatku muak. Aku menormalkan nada bicaraku.

"Maaf, Sasuke-kun. Malam ini, aku akan tidur di kamar tamu," Dan tanpa memandang wajah Sasuke-kun, aku berbalik pergi ke kamar tamu, meninggalkan Sasuke-kun, membanting tubuhku ke ranjang dan tak lagi menahan air mataku yang mendesak untuk dikeluarkan.

"Selamat Nyonya Uchiha. Janin anda sudah berumur tiga minggu."

Apa yang harus aku lakukan sekarang?

.

#Our Family – Sebuah Keraguan#

.

Uchiha Itachi mendapati tampang kusut wajah adik tercintanya itu ketika memutuskan untuk menegur tingkah sang Uchiha Sasuke selama beberapa jam belakangan ini.

"Wow... Kau tampak seperti baru saja kalah tender ratusan milyar, otouto?" komentar Itachi sembari duduk di sofa ruang kerja Sasuke, sementara Sasuke sedang duduk dengan tampang muram di meja kerjanya.

"Jangan memancing pertengkaran, Itachi. Saat ini aku sedang tidak mau berdebat denganmu."

"Kalau begitu, seharusnya kau minta izin cuti saja," saran Itachi santai.

"Kenapa aku harus?"

"Karena tingkahmu yang seperti ini membuat para karyawan ketakutan, kalau aku boleh memberitahumu."

Sasuke tak berkomentar karena kalimat kakaknya memang benar. Seharian ini perasaannya benar-benar buruk. Rasanya, semuanya salah dimatanya. Ketika membuka mata di pagi hari dan menoleh ke samping, Sasuke mendapati ranjangnya dingin, itu berarti, Hinata benar-benar tidur di kamar tamu dan itu membuat dirinya marah. Ketika Sasuke bersiap untuk berangkat kerja, pergi ke meja makan dan mendapati meja makan itu dengan sarapan dan segelas kopi, membuat Sasuke sedikit lega. Tapi ketika ada secarik kertas dari Hinata bahwa wanita itu pergi ke rumah keluarganya dan meminta Sasuke untuk tak meneleponnya, rasa lega Sasuke hilang, amarah kembali memuncak dan membuat Sasuke frsutasi.

Tak ada satu hal pun di dunia ini yang dapat memperbaiki mood Sasuke yang buruk. Bahkan moodnya semakin buruk sepanjang perjalanan dari apartemen ke kantor tempatnya bekerja. Sasuke marah ketika mobilnya harus berhenti karena lampu merah, Sasuke kesal ketika melihat security di depan pintu masuk kantornya memberi salam kepadanya, Sasuke kesal ketika lift yang seharusnya membawanya ke ruang kerjanya di lantai paling atas penuh sesak, dan Sasuke melampiaskan kekesalannya itu kepada asistennya yang meminta tanda tangan untuk berkas-berkas yang seperti biasa, selalu menumpuk meski Sasuke sudah menghabiskan malam harinya untuk berkas-berkas sialan itu. Menatap tajam ofice girl yang bertugas membersihkan ruangannya, dan siapapun yang menyapanya sepanjang perjalanannya ke ruang kerjanya.

"Dengan keadaanmu yang seperti ini, aku bersyukur Naruto tidak ada di sini, atau aku akan melihat kau berubah kelewat OOC sehingga bisa dengan tanpa alasan menonjok Naruto."

Sasuke tak menjawab, masih dengan tampang yang tak sedap dipandang mata. Mendapati itu, Itachi menghela napas. "Aku sudah meminta Karin untuk membatalkan jadwal pertemuanmu dengan klien kita, dan sudah meminta ayah untuk memberimu cuti selama tiga hari, sementara pekerjaanmu dengan sangat terpaksa aku ambil alih." Sebelum sempat protes, Itachi kembali bersuara, dengan nada yang tidak boleh dibantah. "Jadi, selesaikan masalahmu dengan istrimu itu baik-baik, Sasuke."

Sasuke bergeming. Menatap Itachi yang memasang tampang seolah dia seorang superior atas Sasuke.

"Dengar Sasuke, kurasa, kau harus menghilangkan sikap ragumu itu dan tak menolak apa yang hatimu katakan."

Sasuke diam, mengabaikan fakta dari mana Itachi tahu masalah dirinya dengan Hinata tanpa Sasuke harus menceritakannya kepada Itachi, dan memikirkan baik-baik kalimat Itachi tadi.

Memangnya, tahu apa Itachi apa yang ada di dalam hati Sasuke?

.

#Our Family – Sebuah Keraguan#

.

Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan melakukan tindakan seperti ini. Aku pernah mendengar bahwa seorang anak, berapapun usianya, tak akan pernah bisa lepas dari orang tua mereka, terutama ibunya. Aku merasa, kalimat itu benar ketika aku menyadari bahwa aku kini sudah berada di depan rumah besar keluarga Hyuuga.

"Eh? Nona Hinata?"

Ketika menoleh, aku mendapati, butler yang dulu melayaniku, setengah berlari menghampiriku. "Anda sendirian? Ada urusan apa anda kemari sepagi ini?"

Dan aku tak dapat mengatakan apa-apa ketika aku merasa sekelilingku gelap, dan sayup-sayup butlerku memanggil namaku keras.

.

#Our Family – Sebuah Keraguan#

.

Aroma teh yang khas memaksaku untuk membuka mata. Pandanganku masih kabur, telingaku masih berdengung tapi yang pasti aku bisa mendengar suara lembut milik ibuku.

"Kau membuat kami panik, Hinata-chan...," Aku merasakan tubuhku dibantu untuk duduk, dan ibu membantuku untuk menyesap teh buatannya. Aku mengucapkan terima kasih pelan kepada pelayan yang membantuku duduk dan bersandar sembari memijat pelipisku. Aku menatap ibuku yang masih memasang senyum menenangkannya, meski aku tahu di mata tuanya terlihat ekspresi cemas.

"Maaf," aku bersuara pelan. "Aku hanya... rindu rumah dan ibu."

Ibuku mengangguk maklum. "Apa kau kemari dengan izin dari suamimu?" Aku tak menjawab dan ibuku tahu apa jawabanku. Beliau mengembuskan napas yang terdengar berat. "Untuk pertama kalinya aku bersyukur ayahmu sedang bekerja di luar sana. Sejujurnya, ibu tidak suka tindakanmu ini, Hinata. Tindakanmu benar-benar mencoreng nama keluarga Hyuuga."

Tak ada yang bisa kulakukan, tak ada yang bisa kukatakan selain menunduk dan mengucapkan maaf. Aku tahu, tindakanku yang pergi dari rumah tanpa izin dari Sasuke-kun selaku suamiku sama sekali bukan sikap istri yang baik, apalagi bagi keluarga Hyuuga yang selalu menjunjung tata krama dan kesopanan, sikapku kali ini bisa dibilang keterlaluan.

"Tapi, ibu tahu kau tidak akan melakukan ini tanpa alasan." Aku mendongak, dan senyum ibu kembali menyelamatkanku. Dadaku sesak penuh keharuan, aku merangsek mendekati ibu dan memeluknya, lalu menangis seperti seorang anak yang kehilangan permennya.

.

#Our Family – Sebuah Keraguan#

.

Aku menceritakan kegundahanku pada ibu, tentu saja, aku tak menceritakan tentang hubungan kami yang tak baik di awal pernikahan kami dan seperti biasanya, ibu mendengarkan ceritaku dengan penuh perhatian, membuat perasaanku sedikit sesak.

Ibuku menyentuh perutku, mengusapnya pelan sembari tersenyum senang. "Tak ibu kusangka akan secepat ini," dan beliau tersenyum bijak sebelum menatap ke arahku dan memasang wajah serius. "Apa Hinata-chan tidak senang ketika mendengar kabar itu?"

"Aku senang, ibu," aku menjawab jujur, menyentuh perutku yang masih rata. "Tapi aku merasa aku belum sanggup menjadi seorang ibu." Lagipula, aku sama sekali tidak siap jika harus mempertahankan janin ini sementara nanti, Sasuke-kun akan mengabaikanku karena tidak ingin memiliki seorang anak.

"Kau tahu, di dunia ini, ada banyak sekali sepasang suami istri yang menginginkan seorang bayi," aku diam, menunduk. "Aki Mutou bahkan memutuskan melakukan program bayi tabung demi memiliki keturunan*. Jadi..."

"Saya tahu apa yang ingin ibu katakan," aku berbicara sopan untuk memotong kalimat ibu. "Tapi... saya masih belum siap. Ibu tahu kan, saya dan Sasuke-kun baru dua bulan mengenal, jadi..."

"Hinata-chan, seorang anak adalah pengikat yang baik dalam sebuah hubungan, percayalah kepada ibu." Aku menatap wajah ibu. "Ibu tidak tahu bagaimana hubungan rumah tangga kalian berdua, tapi yang jelas, ibu pernah merasakan hal yang sama."

Ibu tertawa kecil. "Ibu dan Hiashi-san, ayahmu, juga menikah karena perjodohan. Awal pernikahan kami, cukup buruk. Hiashi-san memang tak bersikap kasar pada ibu, tapi juga tidak bersikap lembut. Rasanya, kami seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama. Tapi, ketika Ibu mengandung dirimu, sikap Hiashi-san mulai berbeda dan akhirnya, kami dapat bertahan hingga setua ini."

Aku tak tahu, apa alasan ibu menceritakan masa mudanya kepadaku adalah karena ibu memang mengetahui separah apa hubunganku dengan Sasuke-kun atau memang murni ibu ingin menghiburku yang merasa tidak cukup baik menjadi seorang ibu.

.

#Our Family – Sebuah Keraguan#

.

Aku menginap semalam di kediaman Hyuuga. Hanabi-chan, menyambut kepulanganku dengan senang. Adik kecilku itu tak henti-hentinya menanyaiku macam-macam. Memaksaku untuk menunjukkan hasil potretanku, memaksaku untuk bercerita tentang Indonesia, tentang bagaimana sifat kakak iparnya yang tak jauh berbeda dari ayah kami, lalu menceritakan tentang pria yang disukainya, yang kalau tak salah bernama Konohamaru.

"Neesan tahu, kemarin, aku menemukan sebuah video yang membuatku berkaca-kaca," Hanabi-chan bercerita. "Mau menonton bersama?"

Aku mengangguk mengiyakan dan Hanabi-chan langsung mengambil laptopnya, menyalakannya dan mulai mencari video yang diceritakannya. Aku tertegun membaca judul videonya dan belum apa-apa, mataku memanas.

"Mengapa harus melahirkan anak ke dunia ini?"

.

#Our Family – Sebuah Keraguan#

.

Keesokan harinya, setelah waktu sarapan pagi terlewat beberapa jam, aku dikejutkan kehadiran Uchiha Sasuke di kediaman Hyuuga. Wajahnya tetap sedatar biasanya, tapi penampilannya jauh dari perfect seperti yang sering kudapati ketika dia keluar dari kamar kami.

Sorot matanya terlihat lelah.

"Kita harus bicara, Hinata."

Padahal, aku tak mendengar suara Sasuke-kun hanya satu hari. Bukan seminggu apalagi sebulan. Padahal hanya satu hari aku tak melihat wajahnya, tapi aku merasa merindukannya melebihi yang pernah kurasakan ketika aku tak bertemu keluargaku bertahun-tahun.

Anggap saja ini bawaan bayi, anggap saja ini semua karena efek nyawa lain di tubuhku, yang jelas, ketika mendengar suaranya, aku tak bisa menahan diri untuk berlari dan memeluknya, erat.

Betapa aku sangat merindukannya.

Wangi tubuhnya, dada bidangnya yang terasa pas sebagai sandaran kepalaku dan bagaimana lengannya perlahan membalas pelukanku, membawaku semakin dekat dengan tubuhnya, aku telah memutuskannya.

Aku tak akan membebani Sasuke-kun dengan kehadiran nyawa lain dalam hubungan keluarga kami.

.

#Our Family – Sebuah Keraguan#

.

"Kau sudah sarapan?"

Sasuke menggeleng dan Hinata tertawa kecil.

"Akan kusiapkan sarapan untukmu," katanya sembari beranjak ke dapur sementara Sasuke memutuskan menunggu sarapannya di meja makan. Iris hitamnya tak lepas dari punggung Hinata yang bergerak menyiapkan sarapan untuknya. Sekitar lima belas menit kemudian, secangkir kopi panas dan sepiring nasi goreng tersaji di meja makan, membuat perut Sasuke berbunyi.

"Sasuke-kun tidak ke kantor?" pertanyaan Hinata hanya dijawab oleh gelengan. Sasuke kini fokus memakan sarapannya dengan lahap, sementara Hinata hanya menatap Sasuke dengan senyum terkembang. Mereka tak banyak bicara, tapi mereka sama-sama menikmati keberadaan satu sama yang lainnya.

.

#Our Family – Sebuah Keraguan#

.

"Sasuke-kun," Aku mendengar suaraku memanggil namanya. Sasuke-kun menatapku. Kami kini berada di ruang keluarga. Layar televisi beberapa meter di depan kami menyala, menampilkan film entah apa. Selesai sarapan, aku mengajak Sasuke-kun menonton bersama, ritual yang belum pernah kami lakukan selama dua bulan lebih kami tinggal bersama. Sasuke-kun setuju, toh katanya hari ini dia mengambil cuti.

Aku tersenyum, berjalan mendahului Sasuke-kun dan duduk di lantai bersandarkan sofa. Sasuke-kun menyusul beberapa menit kemudian dengan dua gelas kosong, satu botol orange juice dan beberapa bungkus snack. Aku tertawa melihat betapa kesulitannya Sasuke-kun membawa semua itu dan beranjak berdiri membantu membawakan beberapa snack dan meletakannya di atas meja.

Aku menanyakan film apa yang ingin Sasuke-kun tonton dan Sasuke-kun hanya mengangkat bahu, aku kebingungan. Jujur saja, menonton film sangat jarang aku lakukan, mungkin Sasuke-kun juga. Jadilah aku memindah-mindahkan chanel untuk beberapa waktu hingga aku memutuskan untuk menonton sebuah movie romantis yang dibintangi artis-artis Jepang yang rasa-rasanya sering muncul di majalah dan iklan.

"Hm?" Sasuke-kun bergumam menanggapi panggilanku. Aku menunduk, menggigit bibir bawah sembari memainkan jari jemariku, gugup. Aku melirik Sasuke-kun, dia masih menatap layar televisi di depan kami dengan wajah datar. Sekilas aku dapat melihat tatapan bosan.

"Kau... menyukai filmnya?"

"Tidak."

"Oh."

Lalu hening. Aku merasa gugup dan itu menyebabkan suasana di antara kami kembali canggung. Aku ingin membicarakan masalah nyawa lain yang kini sedang tumbuh di perutku, tapi aku bingung bagaimana harus memulainya.

"Ada yang ingin kau bicarakan, Hinata?"

Aku bergumam dan Sasuke-kun meraih remote control dan mematikan layar televisi. Sasuke-kun lalu membalikkan tubuhnya hingga menatapku. Kami berhadapan sekarang.

"Katakan," katanya tanpa intonasi yang bisa kumengerti. Aku mengambil napas sebelum berbicara kepadanya.

"Aku... ingin tahu perasaan Sasuke-kun sekarang," Jeda sejenak. "Apa yang Sasuke-kun rasakan sekarang... tentang bayi yang kini ada di perutku?"

"Aku tidak tahu," jawab Sasuke-kun langsung. "Tapi kalau boleh jujur, aku merasa tak percaya."

"Aku juga."

"Dan ... kurasa, aku belum siap untuk menjadi seorang ayah."

"Aku juga... belum siap menjadi seorang ibu." Balasku pelan. Sakit rasanya ketika mendengar Sasuke-kun mengatakan bahwa dia belum siap menjadi ayah, dan aku tak mengerti ketika perasaanku semakin teriris ketika aku mengatakan bahwa aku juga belum siap menjadi ibu.

Aku tahu, kami masih terlalu dini untuk menjadi sepasang orang tua, ditambah kenyataan bahwa pernikahan kami, hubungan yang kami lakukan di atas ranjang, tak pernah dilandasi cinta. Kami kembali diam.

"Kemarin malam, Hanabi-chan dan aku menonton sebuah video berdurasi kurang dari lima menit," aku bercerita, menundukkan kepala. "Judulnya, 'mengapa harus melahirkan anak ke dunia ini?'"

Aku mendongak, Sasuke-kun masih memberikan perhatiannya kepadaku dan aku memberikan seulas senyum kepada Sasuke-kun. "Beberapa orang tua dari seluruh penjuru dunia diminta untuk menonton sebuah tayangan. Sebelum mereka dipersilakan untuk menonton, mereka diminta berbagi kekhawatiran dan ketakutan ketika menanti kelahiran anak mereka. Rata-rata mereka mengatakan khawatir akan masa depan bayi mereka. Lalu film ditayangkan. Sasuke-kun tahu apa film yang ditayangkan kepada mereka?"

Sasuke menggeleng. Aku tersenyum pahit sebelum melanjutkan.

"Mereka diperlihatkan sebuah film dokumenter tentang dunia saat ini. Tentang perang yang berlangsung di berbagai belahan dunia, tentang seorang anak yang menggembala hewan di sungai yang kotor, tentang anak-anak yang sedang belajar. Katanya, mereka tidak perlu khawatir tentang hal itu. Beberapa tahun ke depan, dunia akan berubah. Akan ada banyak air yang bisa mereka gunakan untuk bermain, akan ada pencegahan penyakit dengan produk sehari-hari, lalu pohon-pohon rindang yang akan menemani mereka ketika mereka sedang patah hati," aku tertawa kecil, Sasuke-kun tersenyum simpul. "Narator film itu berkata, 'sudah, biarkan mereka lahir ke dunia, karena kini saat yang tepat untuk esok yang lebih cerah. Untuk semua, untuk generasi berikutnya.'"

Para ibu tersenyum sembari menitikkan air mata haru, dirangkul oleh suami mereka. Salah seorang suami dari beberapa pasang calon orang tua menangis, mengatakan bahwa di negaranya tidak ada air bersih sebanyak itu, yang lainnya mengatakan bahwa di dunia ini perlu banyak orang baik dan mereka percaya anak mereka menjadi anak baik. Dan yang lainnya lagi bilang bahwa mereka harus menjadi orang baik jika ingin anak mereka menjadi baik."

"Selesai menonton film itu, aku jadi malu pada diriku sendiri. Di luar sana, ibu yang tengah mengandung merasa cemas untuk masa depan anak mereka, sementara aku cemas untuk diriku sendiri. Dua hari ini, ketika dokter mengatakan bahwa aku tengah mengandung anakmu, aku tak bisa berpikir dengan jernih." Ada air mata yang keluar, Sasuke-kun tetap diam. Aku memberanikan diri menatap sepasang iris hitam yang kelam itu. "Kita menikah tanpa perasaan apapun, bukan? Kehadiran anak ini, benar-benar diluar dugaan kita, bukan? Sasuke-kun bahkan cenderung membenciku, bukan? Jadi... jadi jika ... jika aku memutuskan untuk melahirkan anak ini, apakah... apakah Sasuke-kun akan semakin membenciku? Apakah aku akan menjadi beban bagi Sasuke-kun? Entah kenapa pikiran-pikiran itu yang menghantui otakku dua hari ini, entah kenapa... aku tak mau jika hubungan kita kembali menjadi dulu."

Aku terengah-engah. Tenggorokanku sakit, aku menyentuh dadaku, meremasnya, berharap dengan begitu, aku bisa meneruskan kalimatku. "Tadinya, aku ingin mengatakan bahwa jika Sasuke-kun memang belum siap menjadi seorang ayah, jika Sasuke-kun tidak menginginkan anak ini, maka aku akan melakukan apapun yang Sasuke-kun mau. Kita tak pernah benar-benar mencintai, usia anak ini juga belum genap satu bulan, jadi aku akan setuju saja jika Sasuke-kun menginginkan aku menggugurkannya... tapi... ternyata aku tidak bisa mengatakannya, aku tak bisa melakukannya. Makanya, maaf Sasuke-kun... maaf... aku... aku akan melahirkan anak ini. Tapi aku akan melakukan apapun agar anak ini tak membebanimu."

Aku terisak, dan menundukkan kepalaku ketika berhasil mengatakan apa yang ingin kukatakan. Tak ada tanggapan dari Sasuke-kun dan itu membuatku tak bisa benar-benar lega. Aku nyaris ingin mengatakan satu patah kata lagi sebelum Sasuke-kun menyentuh punggung tanganku, membuatku mendongak dan tak bisa berkata apa-apa lagi ketika melihat ekspresi Sasuke-kun sekarang.

Terluka, cemas, sedikit ... lega?

"Dua hari ini, aku juga memikirkan banyak hal," suara Sasuke-kun terasa bergetar. "Aku tak pernah mencintaimu, Hinata. Makanya, aku tak bisa membayangkan bagaimana menjadi seorang ayah dari anak yang sedang kau kandung. Aku sempat berpikir untuk memaksamu menggugurkannya. Tapi jika aku memintanya, mendadak aku takut."

Telapak tangan Sasuke-kun menyentuh sebelah pipiku, jarinya yang lain menyentuh bibirku. "Jika aku memintanya, memaksamu melakukan hal keji seperti itu, apakah kau akan tersenyum tulus seperti sebelumnya? Apa kau akan tersenyum seperti waktu itu?"

"Hinata, aku tak akan memintamu membunuh dia," telapak tangan Sasuke-kun yang besar mengelus perutku. "Aku akan bertanggung jawab atas anak ini. Kita jaga dia bersama hingga dia lahir nanti, lalu kita akan memikirkan hal lainnya nanti. Kurasa, itu solusi untuk kita sekarang."

Aku tak bisa mengatakan apa-apa selain memeluk Sasuke-kun dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Kami akan membesarkan anak ini, berdua.

.

.

To be continued

.

Chapter 8 : Siapa namanya?

.

.

Author notes :

Pertama, Saya minta maaf karena telat update... saya baru beres penelitian, jadi baru bisa publish sekarang-sekarang

Kedua, chapter ini chapter terakhir penggalauan dari ketidakpastian hubungan mereka. Chapter depan, mereka akan disibukkan mengurus janin dan bayi mereka... dua chapter ke depan klimaks hubungan SasuHina, dan tiga chapter dari sekarang direncanakan tamat... (n.n)

Ketiga... saya ucapkan terima kasih tidak terkira untuk semua orang yang udah fave dan follow (Kaget liat jumlah fave dan Follownya) dan tentunya review-nya... Hontoni Arigatou gozaimasu

.

.

Saa... Review?

.

.

Salam hangat dan sayang

Hinata