Repeat
By GrandpaGyu
Rate : T
Pair : SasuHina
Naruto © Masashi Kishimoto
Mengulang tujuh sapaan berbeda tanpa jelas waktunya. Berinteraksi dengan orang yang sama tapi dengan kepribadian dan identitas yang berbeda
WARNING : ALUR MAJU MUNDUR, CERITA TENTANG PENDERITA GANGGUAN KEJIWAAN DID, EYD BERANTAKAN, MISS TYPO DAN KESALAHAN LAINNYA.
Note : Cerita ini memang terinspirasi dari drama korea Kill Me Heal Me, sekilas memang mungkin bakalan terlihat mirip#buatYangPernahNontonKillMeHealMe, tapi alur cerita ini berbeda dengan Kill Me Heal Me.
Terimakasih untuk siders, yang udah review, fav dan follow Repeat.
Arigatou gozaimasu minna (-_-)!
Don't Like Don't Read
RnR
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
with love,
GrandpaGyu (-_-)!
.
.
Full Flashback for this chapter
.
.
When She was 7 Years Old
.
.
Si kecil Hinata menatap kosong jalanan dihadapannya. Untuk anak berusia belia sepertinya. Ekspresi itu sama sekali tidak cocok dengan usianya yang bahkan belum genap sepuluh tahun. Tapi kenapa seolah dia sudah menerima cobaan yang setara dengan orang dewasa.
"Pulang !"
Hinata menoleh, dia menatap pria dewasa berwajah serupa dengannya. Mungkin pria dewasa itu ayahnya. Namun, bukan pancaran bahagia yang terefleksi dari dua mata Hinata. Melainkan ketakutan yang teramat sangat. Tangan kecilnya bergetar ketakutan melihat sosok tersebut.
"Kau mau membantah?"
Hinata menggeleng cepat, dia segera berjalan mengekori pria dewasa akhirnya mereka sampai di rumah bergaya klasik yang diketahui adalah manshion Hyuuga. Ya, Gadis kecil itu adalah Hyuuga Hinata. Putri dari pasangan Hyuuga Hiashi dan Hyuuga Hikari. Sayangnya, setelah melahirkan Hinata. Kondisi kesehatan ibunya menurun drastis. Hingga saat melahirkan Hyuuga Hanabi, Hikari harus merenggang nyawa. Tidak lama setelah itu, Hanabi juga menyusul sang ibu. Karena itulah, sang ayah. Hyuuga Hiashi membenci Hinata, baginya Hinata hanyalah si pembawa sial.
"Tou-san. Maaf Hina -"
Plak
Tamparan keras itu membuat tubuh kecil Hinata terpelanting hingga menabrak dinding. Tubuh kecilnya bergetar dan lelehan liquid asin itu membasahi wajah manisnya.
"Sudah berapa kali kubilang, jangan seenaknya keluar. Dasar anak pembawa sial !"
Brugh
Hinata meringis kesakitan saat ayahnya memukul perutnya dengan tongkat golf miliknya. Darah segar keluar dari bibir mungilnya. Perutnya terasa kebas. Hinata hampir saja kehilangan kesadarannya, tapi sebuah tarikan pada surai indigonya membuat Hinata kembali menjaga kesadarannya.
"Kau akan kuhukum !"
Ayah tiga orang anak itu menyeret Hinata dengan tangan yang masih menarik surai indigo Hinata. Membuat Hinata meringis kesakitan. Kepalanya terasa berdenyut nyeri. Tapi dia sama sekali tidak menangis. Dia tahu, ayahnya akan semakin marah jika melihatnya menangis. Jadi Hinata hanya bisa menggigir bibirnya sekeras mungkin. Hingga bibirnya memerah dan mengeluarkan darah.
.
.
.
Hinata memeluk tubuh kecilnya. Sudah hampir tiga jam dia terkurung disini. Di dalam kamar mandi, atau lebih tepatnya dipaksa berendam di air dingin bath up selama tiga jam penuh. Bibir mungilnya sudah membiru karena kedinginan. Kulitnya yang memang berwarna putih kini terlihat semakin pucat. Giginya bergemelutuk menyedihkan. Tuhan, lebih baik ayahnya langsung saja membunuhnya. Jangan menyiksa seperti ini.
"Hinata."
Hinata menatap sayu pintu kamar mandi. Dia bisa melihat bayangan seorang remaja laki-laki yang sangat dikenalnya.
"Nii-san."
Cicitnya hampir tidak terdengar. Remaja laki-laki itu langsung mendobrak pintu kamar mandi dan berjalan menghampiri Hinata. Raut wajahnya terlihat cemas.
"Maafkan Nii-san."
Hinata menggeleng lemah. Sungguh dia bahkan sudah tidak kuat lagi mengatakan apapun. Tubuhnya terlalu lelah. Bahkan dia bisa melihat bayangan ibunya yang seakan ingin melepaskan penderitaannya.
"Ayo kita keluar."
Hinata menggeleng. Remaja bersurai coklat panjang bernama lengkap Hyuuga Neji atau kakak kandung Hinata itu mengkerutkan keningnya.
"Tou-san bisa menghukum Nii-san."
Neji mendesis tidak suka. Dia segera menggendong Hinata keluar dari kamar mandi. Tidak memperdulikan erangan protes dari Hinata. Sungguh Hinata tidak ingin Neji mendapatkan masalah karena menolongnya. Dia tidak mau Neji terluka.
"Apa yang kau lakukan?"
Neji tidak menyahut. Dia menatap benci kearah pria dewasa yang sudah membuatnya lahir ke dunia.
"Kau ingin membunuhnya?"
Pria itu tertawa. Dia menatap Hinata dengan pandangan penuh kebencian.
"Bagus jika dia bisa mati dengan cepat."
Deg
Hinata tidak tahu. Ada bagian dari dirinya yang seolah meronta ingin keluar. Tapi Hinata tidak tahu apa itu. Dia hanya bisa diam digendongan Neji. Menahan sesuatu dari dirinya yang terus saja memberontak di dalam.
"Kau bahkan tidak pantas disebut ayah."
Pria itu diam. Dia menatap Neji tajam. Wajah tanpa ekspresinya tampak mengeras.
"Kau berani melawanku? Hanya karena anak membawa sial itu?"
Neji terkekeh. Dia melirik kearah Hinata yang terlihat meringis kesakitan.
"Tapi dia adikku, Hyuuga-san."
Neji bahkan enggan memanggil pria itu dengan sebutan 'ayah'.
"Kau akan menyesal Neji. Kali ini aku masih memaafkanmu. Sekarang turunkan anak itu."
Neji tidak bergeming. Dia masih menahan Hinata agar tetap berada dalam gendongannya.
"Letakkan dia sekarang atau aku akan membunuhnya tepat di depan matamu."
Neji tidak menjawab, dengan ragu dia menurunkan Hinata. Dia membantu Hinata untuk duduk di sofa ruang tamu dengan hati-hati. Takut menyakiti adik kesayangannya itu. Adik kecilnya yang malang.
"Kau masuk kedalam kamar. Biar aku yang mengurusnya."
Neji akan mengajukan protes. Tapi melihat anggukan yakin Hinata akhirnya dia menyerah. Dia berjalan menuju kamarnya dengan langkah berat. Perasaannya semakin tidak enak sekarang.
"Ikut aku."
.
.
.
Hinata tidak tahu apa yang terjadi. Yang dia ingat, semalam ayahnya mengurungnya di dalam gudang. Diapun lagi-lagi harus tidur di dalam ruangan pengap tersebut. Tapi pagi ini terasa berbeda. Dia sama sekali tidak merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Rasanya begitu ringan. Apa mungkin dia sudah mati sekarang.
Kedip Kedip
Tidak. Dia masih hidup. Buktinya dia masih terbangun di dalam gudang yang sama. Hanya satu yang berbeda. Tubuhnya sudah diobati oleh seseorang. Luka-lukanya juga sudah di perban dengan kain kasa. Hinata menyentuh kain kasa yang melilit di kakinya. Rasanya memang masih sedikit nyeri, namun sudah tidak separah semalam. Cambukan ayahnya tidak bisa dikatakan pelan. Semalam, setelah ayahnya mendorongnya masuk ke dalam gudang, pria itu mencambuk kaki Hinata dengan sabuk miliknya. Hinata sendiri hanya bisa meringis kesakitan, berusaha sekuat mungkin untuk tidak menjerit. Setelah itu tidak ada yang diingatnya.
"Apa mungkin Neji-nii?"
Hinata menatap pintu gudang yang masih dalam kondisi terkunci. Tidak mungkin, Neji-nii tidak akan bisa membuka pintu gudang. Kuncinya pasti sudah disembunyikan ayah. Pikir Hinata. Lalu siapa yang sudah merawatnya.
"Hinata, apa kau baik-baik saja?"
Hinata segera berjalan -walau dengan langkah tertatih menuju pintu gudang. Ketika suara Neji mampir di gendang telinganya.
"Neji-nii. Hinata takut."
Cicit Hinata sambil meraba pintu yang menjadi penghalangnya dari dunia luar.
"Nii-san pasti akan mengeluarkanmu. Tunggu sebentar."
Hinata mengangguk. Lupa jika Neji tidak akan bisa melihat anggukannya. Toh, Neji sudah mengerti tanpa dia harus menjelaskannya.
"Nii-san."
.
.
.
.
'Brugh.'
Bukan, itu bukanlah Hinata. Hinata sendiri hanya bisa meringkuk di balik pintu gudang. Menatap waspada pada langkah kaki besar yang sangat di kenalnya. Tidak, jangan mendekat. Neji-nii Hinata takut.
"Lepaskan Hinata, dia tidak salah apapun."
plak
Suara tamparan nyaring itu membuat Hinata merinding ngeri. Ini sudah keterlaluan. Ayahnya sudah tega menyakiti kakaknya.
"Dia yang sudah membunuh ibumu. Dia juga sudah membunuh Hanabi."
Hinata menggeleng keras. Tidak, dia bukan pembunuh.
"Mereka mati itu takdir, bukan salah Hinata !"
Suara Neji naik beberapa oktaf. Setelahnya, Hinata bisa mendengar suara jeritan tertahan Neji akibat pukulan dari ayahnya. Tubuh kecil Hinata bergetar ketakutan. Dia sangat takut, baru kali ini ayahnya memukul Neji.
"Tidak, hentikan. Jangan memukul Nii-san."
Gumam Hinata sambil mencengkram surai indigonya.
Tapi suara itu tetap menghantuinya. Tidak, jangan lakukan itu. Jangan menyakiti Neji. Jerit Hinata di dalam hati. Anehnya tidak ada lagi suara yang bisa dia keluarkan. Semua seperti tertelan di dalam tenggorokannya. Kepalanya juga berdenyut nyeri, seperti akan terbelah menjadi dua. Sakit sekali. Argh, Hinata terus meringkuk kesakitan sambil memegangi kepalanya.
"HENTIKAN !"
.
.
.
Itu adalah teriakan terakhir Hinata sebelum semuanya menggelap.
.
.
.
.
Tbc
