-A Story About L.O.V.E-
.
.
100 DAYS LOVE
-Biancadeo-
.
EPILOG
.
Warna bola salju sedikitnya membuat noda pada sepatu yang telah disemir rapih. Langkah menyisakan jejak teratur dan udara putih melingkupi. Pohon hias berjajar pada jalan terang dan hangatnya toko roti dipinggiran menyajikan cerita indah. Cinta selalu menjadi tokoh utama, tersaji diantara hati yang enggan mengakui bagaimana rasa itu telah lama bersemayam. Tembok besar penggalang menjadi setipis kain putih, tidak peduli apapun yang kasat mata akan menjadi jelas terlihat.
Ini adalah malam natal, segala sesuatunya berubah menjadi bingkisan berpita dan nyanyian gereja. Warna merah serta senyum lebar menyapa dengan riang, aroma kue dan hangat perbincangan ikut pula menyamankan suasana. Ini adalah momen yang lama dinantikan, bersama dengan orang tersayang merajut kasih yang kian tak terhingga.
Dua orang dengan mantel tebal mengitari jalanan ramai, terjebak diantara hiruk-pikuk perayaan serta gemerlap lampu hias. Senyum cerah tak lepas dari sudut bahkan saat salah satu dari keduanya nyaris tersedak minuman. Menemukan Dyo berdiri diatas panggung megah dengan iringan orchestra dan decak kagum dari banyak peminat tentu menjadi kado terindah bagi Jongin. Si Pria putih terus menyajikan senyum hati serta sirat kesan bahagia, maniknya berkilau berpadu dengan terang lampu kota.
Ada banyak hal yang ingin dijabarkan oleh Jongin, namun mengingat keduanya baru bertemu setelah sekian lama, Jongin masih berusaha agar tidak terlalu berlebihan dalam mengumbar bahagia.
Kali ini keduanya memilih untuk duduk, menunggu waktu tengah malam di pada rerumputan dekat keramaian kota. Orang-orang berfoto dan berbagi cerita, malam indah untuk hati yang sedang berbunga. Sejujurnya, Jongin mendapati wajah lesu Dyo sesekali, mungkin pria itu lelah atau semacamnya. Suasana disekitar menjadi lebih padat, ini sudah hampir tengah malam dan kilat kembang api bersiap untuk dinyalakan. Jongin mendapati pria disamping menunggu dengan harap, Dyo dengan gerak cepat berdiri saat langit menyajikan berbagai kilat warna dan suara ledak keras.
Jongin berfokus pada perubahan wajah pria disamping, ini menakjubkan mengingat saat keduanya masih terjebak dalam seragam sekolah Dyo begitu dingin, maniknya terkadang kosong dan senyum paksa lebih kentara. Kali ini mimik itu terus berubah, seruan keras keluar dari pita suara, maniknya lebar penuh minat, rona merah pada kedua pipi, bahkan kedua telapaknya bertepuk tangan senang.
Saat Jongin tidak ada niat untuk memperhatikan objek lain selain pria disamping, tanpa peringatan Dyo menoleh kearahnya. Manik keduanya saling menangkap jelas dibawah kilat api pada langit tua, Dyo berhasil menangkap manik gelap Jongin dari jarak terdekat. Setelah penantian yang terasa tak berujung, pada akhirnya Dyo merasakan nafas Jongin merayap sampai pada kulit terluar, hidung lancipnya berhasil bersentuh lembut dengan milik Jongin, bibir keduanya hanya dibatasi oleh angin tipis. Pria yang lebih putih sadar bahwa Jongin memutuskan untuk maju, menghilangkan jarak yang tersisa. Namun tanpa sadar Dyo memilih mundur, mendorong pelan Jongin tepat di pundak. Pria yang terdorong diam sejenak, maniknya memberi tatap kecewa.
Jongin melangkah mundur dua langkah, membiarkan Dyo menarik nafas dalam. Sejenak Jongin merasa ada yang salah dengan pria dihadapan, mimiknya menjadi dingin dan tidak bersahabatan. Kilat kembang api dilangit berhenti dan wajah pria yang lebih putih mulai kembali meredup. Ini adalah pencahayaan yang kurang namun cukup jelas untuk Jongin melihat senyum miring dari sisi sudut bibir hati milik pria itu, ia ingat bahwa sama sekali tidak menyukai Dyo dengan senyum semacam ini. Kemudian dengan cepat Dyo berbalik, berjalan lurus tanpa menoleh kebelakang sama sekali.
Jongin panik, ia melangkah cepat mendahului pria lainnya, berdiri tepat menghadangi langkah Dyo dengan nafas sedikit terengah dan kedua telapak mengenggam cemas. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan dengan keadaan wajah Dyo yang mulai kusam, namun ini adalah tekadnya bisa sampai disini, menapak tanah yang sama dengan pria ini, menghirup udara yang sama dengan pria ini, menatap manik yang sama dengan pria yang dikenalnya lewat kontrak 100 hari masa sekolah menegah atas.
"ada apa denganmu?" Jongin memberanikan diri berucap, menantang manik yang mulai beringas dihadapan. Sejenak hanya diam yang menjadi respon dari Dyo, manik pria itu masih menatap Jongin dengan tidak menyenangkan sebelum setelahnya ia berucap.
"apa maumu kali ini Jongin?" itu adalah kali pertama Jongin mendengar Dyo melantunkan namanya setelah sekian lama, ini begitu menyejukkan walau alunan itu masih terdengar penuh dengan sisa dengki.
"apa maksudmu? Aku tidak—"
"pergi dari sini!" Dyo berucap kasar, mendorong Jongin dengan putus asa dan berjalan cepat menjauh.
Jongin berdiri ditempat selama beberapa saat, mencoba mencerna bagaimana Dyo pergi menjauh. Muncul dalam benak angan bagaimana kejadian beberapa tahun lalu, ia selalu membiarkan pria itu pergi. Jongin membiarkan Dyo pergi saat menawarkan bantuan ketika kaki Jongin terkilir akibat sepak bola, Jongin membiarkan Dyo pergi ketika muncul konflik rekayasa fotonya bersama wanita yang tersebar di media, Jongin membiarkan Dyo pergi ketika teror menjadi titik terlemahnya dan Jongin membiarkan Dyo pergi saat terakhir kali mereka dibandara. Itu menyakitkan dan kali ini ia tidak akan membiarkan Dyo pergi untuk yang kesekian kali.
Secepat kilat Jongin berlari mengejar target yang kini telah berapa di penghujung jalan, Jongin meraih erat pergelangan tangan itu hanya untuk disentak berulang kali oleh si yang empunya. Ia melupakan satu hal bahwa pria itu begitu kuat untuk tubuhnya, bahkan Jongin baru sadar otot Dyo terlihat jelas dari pangkal nadi. Jongin mengerahkan semua kekuatan yang tersisa untuk menarik pria yang lebih putih ke dalam gang kecil jauh dari keramaian.
"apa maumu?!" Dyo berteriak lantang setelah tubuhnya ditubrukan dengan keras pada tembok bata yang basah dan berlumut.
"kau bertanya apa mauku?! Aku disini, dan aku melihatmu Dyo-ya, aku ingin kembali mengobrol denganmu dan— oke, salahku karena tiba-tiba berusaha menciummu tapi tidakkah kau ingin mengobrol denganku dan bukannya pergi begitu saja?!" Jongin terengah setelah berucap, kembali lagi ia menyaksikan bagaimana bibir itu menyerinai jahat, dan demi tuhan Jongin sungguh itu mengubur senyum menjijikan itu kedasar bumi.
"aku tidak berharap kau datang Jongin" Dyo berucap lirih namun dengan aksen yang pas, masuk kedalam pendengaran pria lainnya tanpa hambatan. Jongin merasa dirinya hancur sesaat sebelum setelahnya memberanikan diri berucap
"kau tidak berharap aku datang? kau tidak senang aku datang—"
"aku tidak pernah mengharap kau datang! meskipun aku berusaha untuk menelan setiap permintaanku pada tuhan, pada bintang yang jatuh, pada lampion yang terbang atau apapun, aku selalu berusaha menelan harapanku untukmu! Kau tidak pernah menyukaiku, kau datang padaku lalu kau menyentakku pergi, kau datang padaku lalu kau mengusirku, kau datang padaku hanya untuk kembali membiarkan ku pergi! Kali ini apa?! Kau datang lagi padaku, lalu esok? Apa esok hari kau akan membuangku kembali?! Keparat! Kau memaki bajingan untukku setiap saat ketika kita duduk dibangku sekolah tanpa sadar bahwa disini kau yang berperan sebagai bajingan, bajingan yang bahkan lebih kotor dari sampah!" tanpa aba-aba Dyo meninju Jongin tepat pada rahang.
Jongin mundur perlahan, ia merasakan nyeri teramat pada pangkal rahangnya. Rasa amis serta asin bercampur pada lidah, mungkin darah keluar dari dalam mulut karena pukulan keras itu. Pria yang dipukul masih bergeming, mengabaikan bagaiman kini darah mulai keluar dari sela bibir. Otaknya tersumbat untuk terus memikirkan untai kalimat Dyo, bagaimana ia bahkan dengan tidak tahu malu muncul kembali tanpa memikirkan perbuatannya dimasa lalu. Saat dimana pria itu berkorban banyak hal untuknya, dimana pria itu memberikan banyak hal untuknya, dan Jongin hanya menerima tanpa merasa perlu untuk memberi.
Pria berkulit perunggu itu roboh seketika saat Dyo memberi banyak pukulan kewajah. Tubuh cantik Dyo duduk diatas Jongin yang kini terkapar tidak berdaya, memberi pukulan bertubi dan merutuk berbagai macam ucapan kotor. Jongin tetap diam, air matanya jatuh dengan penyesalan yang mungkin tak berujung. Samar ia melihat bayang marah Dyo diatasnya, pria itu memukulnya asal, wajah memerah dan tangis yang menguasai. Jika saja dengan ini segalanya akan berubah, Dyo akan kembali padanya dan mereka bisa bahagia, menerima pukulan sampai rusuknya patahpun Jongin sama sekali tidak mempermasalahkan.
Sejenak Jongin berusaha untuk membuka kelopak ketika dirasa pukulan Dyo terhenti. Pria itu bernafas tidak teratur, kedua tangannya beristirahat dikedua sisi pinggul Jongin. Dua pasang manik itu bertatap lama, tidak ada yang berucap. Isak tangis Dyo menjadi dominan begitu maniknya menangkap butir air mengalir dari sudut kelopak Jongin. Pria yang terbaring sungguh menyedihkan, dengan banyak darah dan memar pada wajah, leher sampai pada belikat. Jemari putih milik Dyo perlahan mendekat lagi pada wajah Jongin, membelainya lembut tanpa niat untuk menyakiti. Bibir hatinya bergumam kata 'maaf' berulang kali tiada henti, dan tangis semakin serak terdengar begitu Jongin menatapnya sembari tersenyum lemah.
Dyo kembali merangkak diatas pria yang terbaring, tangannya dengan lembut menyeka air mata yang juga mengalir deras dari kelopak Jongin. Pria itu mendekatkan wajahnya, merasakan nafas berat pria yang terlentang dan mencium wewangian amis yang kentara. Ia memberi ciuman lembut pada bibir Jongin, menekan permukannya dengan pelan dan penuh hasrat. Bibir hati itu menuruni rahang, menjilat setiap inci luka yang terpapar. Tanpa rasa jijik Dyo menelan segala yang masuk pada indra pengecapnya, keringat, bekas memar dan darah milik Jongin. Pria itu mengerang rendah, merasakan sensasi nyeri, perih yang menyenangkan pada setiap jengkal yang disentuh oleh benda lunak dalam mulut Dyo.
Begitu selesai dengan pekerjaannya, Dyo beralih ikut terlentang disamping. Pria itu menyelipkan lengannya sebagai tumpuan kepala Jongin sebelum setelahnya menarik si pria perunggu kedalam pelukan hangat. Walau tidak melihatnya secara langsung namun Dyo jelas merasakan Jongin tersenyum didalam pelukannya, pria itu bergumam sesuatu yang acak sebelum setelahnya kepalanya mendongak dan manik indah itu menangkap milik Dyo dengan penuh pilu.
"maafkan aku, sungguh maafkan aku. Aku.. aku ingin melihatmu, aku ingin bersamamu.. aku merindukanmu. Dyo-ya, aku—"
"shhh, aku tahu. Aku tahu. Maafkan aku" mendengar Jongin dengan susah payah mengeluarkan sisa suaranya Dyo menyela dengan lembut. Pria itu kembali membawa Jongin kedalam pelukan, menciumi setiap helai rambut yang kini setengah basah. Ia begitu merasa lucu memikirkan keduanya berakhir pada gang sempit dan terlentang diatas tanah becek, namun apapun itu, bagaimanapun, dimanapun selama ia bersama Jongin, segalanya akan menjadi baik.
"kupikir kau akan membunuhku" Jongin berucap setelah jeda hening panjang. Ia mendongak sedikit untuk melihat bagaimana mimik wajah pria lainnya. Dyo memberi senyum hangat, kemudian berucap
"tadinya begitu, tapi ternyata aku tidak bisa hidup tanpamu"
"ew ew, oh god. So cheesy"
"Hey Jongin!"
Pria yang merasa terpanggil mencari asal muasal suara, ia menolehkan kepala kesegala arah hanya untuk melihat Dyo berdiri diujung sana, kedua tangan melambai dan senyum cerah terpatri indah. Jongin melebarkan manik, tidak ada diingatannya bahwa ia memberitahu bocah itu dimana tempatnya berkuliah, jadi bagaimana Dyo bisa ada disini?
Begitu Dyo berjalan santai kearahnya, Jongin menyipitkan manik. Jelas terlihat bahwa banyak anak gadis disana yang memandang pacarnya penuh kagum, beberapa diantaranya berbisik dan mungkin banyak yang mengenal Dyo mengingat dulunya bocah itu adalah bintang K-pop. Jongin mencibir tidak senang bagaimana Dyo sesekali menebar senyum dan mengumbar pesona bahkan pada lelaki yang berkedip kearahnya.
"ada apa dengan wajahmu?" Dyo bertanya saat keduanya sedang berjalan menuju mobil. Kali ini Dyo menjelaskan bahwa ia ingin menjemput pacarnya dan pria sialan ini dengan bangga tidak mau memberitahu darimana ia tahu dimana Jongin berkuliah.
"Hey Jongin, kamu akan menjadi jelek jika terus seperti itu, ditambah dengan luka lebammu itu, wajahmu jadi seperti kodok! Aku tidak mau punya pacar berwajah kodok!" Pria yang lebih putih kembali berucap sembari menyikut lengan Jongin begitu didapati pria itu tidak memberi respon.
"tidak usah jadi pacarku kalau begitu!"
"ah tidak tidak. Walau wajahmu jelek kupikir aku tetap jatuh cinta padamu, aku tidak peduli meskipun kau berubah menjadi kodok atau kadal sekalipun, aku tetap mencintaimu!" kembali Dyo berucap riang, membentuk hati dengan kedua jemarinya didada. Jongin hanya mendengus malas sebelum setelahnya ia kembali memberi respon
"berhenti dengan bualanmu, berhentilah bergurau!"
"oh baiklah-baiklah. Ada apa?" kini Dyo berhenti dihadapan Jongin, menghadang langkah anak itu.
"lihat sekelilingmu, lihat anak-anak itu!" Jongin tidak tahu bagaimana menumpahkan kekesalannya, ia marah karena alasan yang tidak menentu namun tetap saja itu sungguh menganggunya. Jongin memperhatikan bagaimana pria yang putih memperhatikan sekeliling dengan alis berkerut, ia meyakini dalam hati Dyo masih tidak mengerti maksudnya.
"berhentilah tebar pesona Do Kyungsoo! Berhenti menatap balik mereka dan berhentilah tersenyum pada orang-orang itu!" pada akhirnya Jongin memberanikan diri untuk berucap, mengabaikan bagaimana ia nantinya akan terlihat kekanakan. Ia menunggu respon pria lainnya karena Dyo hanya diam sejenak sebelum setelahnya pria itu tertawa lebar.
"tunggu, tunggu, lihat tingkahmu! Kau begitu menggemaskan Oh tuhan" Dyo berucap susah payah diantara tawa, jemarinya menyeka butir air yang jatuh dari sudut kelopak.
"berhentilah cemburu, kau tahu aku hanya menyukaimu" pria putih itu kembali bergumam begitu Jongin hanya menatapnya dengan amarah sebagai respon.
"oke, oke. Maafkan aku, apa aku harus menutup mataku setiap kali menjemputmu?" Jongin masih diam dan Dyo terus saja mengoceh.
"ah, oke aku menyerah! Apa maumu kali ini?" Pria yang lebih putih kini ganti terdiam, menatap Jongin dengan manik menyipit. Jongin menghela nafas sebelum setelahnya berjalan pelan melewati Dyo.
"ayo pulang" kata si pria perunggu dengan pelan. Mungkin dia lelah karena kegiatan, atau lelah karena diluar kendali kenyataannya Dyo begitu hyper.
"oh tuhan Jongin, kau tahu aku mencintaimu. Bahkan jika kau menjadi gendut, berlemak, tua dan keriput, atau aku harus terus mendorongmu diatas kursi roda sekalipun, aku masih akan mencintaimu sampai keujung bumi!" Dyo masih berucap sembari menyamakan langkah dengan Jongin disamping.
"itu bodoh, bumi bulat dan tidak berujung"
"kau ini tidak menyenangkan!"
"Astaga! Apa tempat ini baru saja dilanda tsunami?" Dyo secara otomatis mencaci begitu tersaji dihadapannya ruang apartemen besar yang begitu berantakan. Ada banyak sisa makanan, bungkus tidak terpakai, pakaian kotor dan kaus kaki berbau busuk dimana-mana. Dyo bisa meyakini dengan mudah bahwa kaus kaki menjijikan itu adalah milik Jongin.
"jangan berlebihan. Kami tinggal berlima dan kami semua laki-laki, tidak ada pembantu dan yeah— beginilah" Jongin memberi respon sembari memimpin jalan untuk masuk.
"kau tinggal berlima?"
"Um, Jumyeon, Minseok, Kris dan Luhan. Kami semua pada akhirnya berhasil sampai disini"
"kalian berlima berhasil bersekolah disini? Dengan otak bodoh kalian? Keajaiban macam apa itu" Dyo menatap remeh kearah Jongin hanya untuk mendapat lemparan bantal pada puncak kepala.
"yeah, kami belajar giat dan beberapa kenalan ayahku disini juga membantu. Kecuali Minseok, dia masuk dengan beasiswa penuh" Jongin menjawab santai sebelum setelahnya meninggalkan Dyo sendirian di ruang tengah.
Pria putih itu memperhatikan sekitar, ia bingung akan mengambil duduk dimana dan memilih untuk menyingkirkan beberapa majalah dewasa disofa. Membersihkan tempat itu dari serpihan keripik dan duduk dengan tidak nyaman.
"jadi— dimana mereka semua?" Dyo mulai bertanya begitu melihat Jongin keluar dari dapur dan membawa sebuah nampan berisikan dua gelas air.
"mereka punya urusan masing-masing tentu saja" Jongin mulai duduk nyaman, mengabaikan bagaimana barang-barang sejujurnya menganggu penglihatan.
"bagaimana kalian bisa hidup ditempat seperti ini? ini lebih seperti kandang" pria yang lebih putih berucap jijik sembari melempar tatap sekeliling.
"kami hidup damai dan tenang, berhentilah memprotes tempat ini!" sedikitnya Jongin menegur hanya untuk melihat bibir Dyo cemberut lucu.
"ah— bagaimana dengan Baekhyun hyung?" Jongin melempar pertanyaan setelah dikira pria lainnya hanya mencibir sebagai respon.
"Baekhyun hyung? Ah, dia tinggal bersamaku" Dyo menjawab santai setelah menghabiskan setengah gelas, mengabaikan tatap membara Jongin.
"kalian tinggal bersama?! Berdua?"
"tentu saja, dia punya sebuah club dikota ini dan memutuskan untuk tinggal dan mengurusnya" pria itu bersandar pada sofa setelah berucap.
"hey, bagaimana bisa kalian tinggal berdua—"
"Oh tuhan, berhentilah menjadi cemburu! Dia lebih mencintai uang dari pada penis!" Dyo menyela dengan geram sebelum Jongin sempat untuk menyelesaikan kalimatnya. Jongin diam, menjulurkan lidah kekanakan hanya untuk mendapat tatap melotot dari pria lainnya.
Keduanya terdiam sejenak, sesekali berebut remote control karena Jongin lebih menyukai film action dari pada melihat berita global. Ayolah, anak muda mana yang masih menonton berita kecuali pria bodoh ini, bahkan si pintar Minseok akan tetap memilih kartun untuk menjadi tontonan.
Melihat majalah dewasa yang telah disingkirkan dibawah meja, Jongin menyerinai. Ia baru saja menyadari bahwa hanya tinggal berdua dengan Dyo didalam apartemen, meyakini bahwa ke-empat temannya memiliki urusan masing-masing dan biasanya mereka akan pulang larut. Maka Jongin segera berdiri, menarik pergelangan tangan Dyo dan menyeret pria itu menuju kekamarnya dilantai dua. Jongin masih melupakan hal-hal kecil seperti bahwa Dyo masihlah bertenaga kuat, maka pria perunggu itu mengerahkan sisa kekuatannya untuk berhasil mengunci Dyo bersama dengan dirinya didalam kamar.
"aku bisa menebak kau pasti sedang horny, tidak perlu menyeretku seperti itu!" pria yang lebih putih mendengus setelah berucap. Maniknya mengamati sekitar dan takjub karena kamar ini lebih bersih dari ruang manapun yang sedari tadi dilewatinya.
"bagaimana bisa kamarmu bersih?"
"berhentilah bertanya dan cium aku" Jongin menyerinai, memberi kedipan mata sebelum setelahnya tubuhnya didorong mundur menabrak tembok.
Ciuman itu terjadi dengan kasar dan tanpa ampun, lidah bermain dengan lidah dan geraman bersatu padu. Jemari Dyo dengan beringas meraih pinggul Jongin, bermain dengan puting yang telah tegak sebelum setelahnya mulut itu ganti menjilati rahang dan turun sampai pada belikat. Dyo dengan susah payah merobek kemeja Jongin dan berhasil menjilati setiap inci tubuhnya. Jongin dengan hasrat yang telah memburu ikut mengambil t-shirt Dyo dari tubuhnya, memaparkan pemandangan otot paling indah masuk pada indra penglihatan. Keduanya saling beradu tanpa ampun.
Entah bagaimana Jongin kini mendapat dirinya melayang diatas Dyo, menjilati setiap jengkal yang terlihat dan memberi ciuman panas pada bibir hati yang kini merah menggoda. Keduanya mendesah dan terus memberi sentuh pada ereksi satu sama lain dengan girang. Tidak ada yang menghalangi, tidak ada yang menjadi dinding penghambat, segalanya mengikuti alur dan Jongin mendapati dirinya bahagia begitu tersaji dihadapannya wajah Dyo yang memohon untuk diberi lebih.
Keadaan berbalik dengan cepat, kini Jongin berada dibawah kuasa Dyo. Pria putih itu menjilati bibirnya lapar. Maniknya menjelajah pada tubuh Jongin yang kini telanjang, Dyo bahkan tidak ingat kapan ia telah menelanjangi mangsanya. Jongin menggigil begitu udara malam menyergap, dan secara otomatis menutup penisnya yang kini telah setengah tegak. Dyo menyerinai puas, ia tidak memungkiri bahwa miliknya juga butuh dipuaskan, ia perlu menyobek lubang Jongin atau memiliki penis Jongin didalam dirinya atau mereka bisa melakukan keduanya. Namun Dyo memilih untuk memandangi Jongin lebih lama, seseorang yang dirindukannya bertahun-tahun akhirnya muncul dan menjadi pacarnya, itu adalah keajaiban tuhan. Jongin adalah keajaiban sekaligus kado natal terindah.
Pria yang terlentang menyadari bahwa Dyo tersenyum manis menatapnya, kali ini tidak ada nafsu yang membara dan Jongin menyadari dirinya nyaman berada diantara tatap itu
"Hey sayang" Dyo memulai pembicaraan, tubuhnya masih melayang diatas Jongin dan kedua lengan berada disekitar pria yang terlentang sebagai tumpuan.
"Um?"
"apa kau berfikir untuk menikah— denganku tentu saja"
"hah?" Jongin mengkerutkan kening, merasa aneh dan geli dengan percakapan seperti ini. perutnya serasa dikoyak dan ia bersusah payah untuk tidak tertawa karena Dyo bermimik serius.
"yeah, menikah. Kau tahu, sepasang cincin, gereja, mengucap janji suci dan berciuman didepan tamu undangan. Kita bisa mengadopsi beberapa anak, mungkin dua orang anak laki-laki dan dua perempuan, atau mungkin anak kembar? dan— oh! Kita akan punya anak anjing, atau kucing? Kita akan berlibur, lalu—"
"Hey! Kau memaksaku menikah bahkan saat umurku belum menginjak 23 tahun?! Aku bahkan belum menyelesaikan kuliahku!" Jongin mulai memasang wajah gelisah, ia melotot pada Dyo dan tidak habis fikir bahwa seperti ini lah watak Dyo sesungguhnya. Begitu berisik dan menyulitkan.
"kau pikir berapa umurku? Kita ini seumuran! Aku juga belum menyelesaikan kuliahku!" pria yang lebih putih tidak mau mengalah, maniknya ikut melotot pada pria yang terlentang.
"lalu mengapa kau mengajakku menikah dan mengadopsi anak, atau anak kucing, atau anjing atau apapun? Kau fikir mau diberi makan apa mereka?!" pria perunggu itu itu meneriaki Dyo dengan nada menjengkelkan.
"Hey, berhenti berteriak! Aku hanya— aku hanya tidak mau kau tinggalkan!" setelah berucap Dyo sedikit menunduk, maniknya tidak cerah seperti biasa dan sinar wajahnya meredup.
Jongin dengan lembut mengambil dagu pria yang lebih putih dengan jemarinya, tersenyum lembut dan menariknya kedalam ciuman hangat. Itu begitu lembut dan menyenangkan.
"aku tidak akan meninggalkanmu, aku bersumpah" Jongin berucap diantara ciuman, dan ia yakin dengan segenap hati bahwa Dyo tersenyum setelahnya.
"jadi, bagaimana dengan tunangan?" pria yang lebih putih kembali berucap setelah mengangkat wajanhya, ia memberi kecup ringan pada ujung hidung Jongin dan direspon dengan tawa ringan dari pria itu.
"mungkin kita memikirkan yang satu itu" Jongin memberi respon yang pasti kali ini, ia merasa geli melihat tatap binar dari Dyo yang masih setia melayang diatasnya.
Keduanya bertatap lama, Jongin bersyukur pada tuhan yang masih memberinya kesempatan untuk kembali melihat senyum hati yang sama, suara serak yang sama dan aroma yang sama. Sementara Dyo, pria itu masih akan terus berharap bahwa disisa umurnya akan menjadi panjang dan bisa terus bersama dengan Jongin. Apapun itu, asalkan ia bisa merasakan nafas Jongin disekitar, maka tidak ada lagi pintanya yang lain.
"jadi— mungkin kau akan mengijinkanku untuk tinggal bersamamu sebelum hari pertunangan kita?" Jongin berucap saat Dyo mulai memberi kecup ringan pada rahang. Pria putih itu berhenti sejenak, maniknya kembali menangkap manik Jongin dengan alis berkerut, kemudian melotot seakan menyadari sesuatu
"dan membiarkan apartemenku menjadi kandang babi seperti tempat ini? BIG NO! Kau tinggal sendiri!" Dyo bangkit dari kasur dan mengambil kain bajunya dengan gerak cepat.
"Dyo-ya! Kau bilang akan menikahiku!"
"Tidak! Menikahlah dengan kaus kaki busukmu itu!"
"Aku membencimu!"
"Oh tuhan, aku mencintaimu juga!"
Berulang kali Baekhyun menghela nafas dengan frustasi, ini tidak baik untuk menglihatannya dan sungguh ia hanya ingin pulang melebihi apapun. Sejak semalam Dyo memborbardir tidurnya dengan cerita mengenai Jongin yang datang saat opera, bocah itu mengatakan bahwa Jongin seperti kado natal terbaik, mentari pagi saat musim dingin, mantel hangat saat musim panas dan bunga Sakura saat kemarau mendera, Ugh sungguh menggelikan. Kali ini bocah sialan itu meminta Baekhyun untuk ikut mengunjungi apartemen Jongin, sejujurnya Baekhyun sedikit heran bagaimana Dyo memperingatkan dirinya untuk membawa tissue basah dan pengharum ruangan ketika berangkat, namun pria yang lebih tua memilih untuk mengindahkan.
Jadi— disinilah Baekhyun, dengan jijik melihat bagaimana mengerikan kondisi apartemen Jongin, ditinggali oleh lima anak lelaki remaja dengan hormon berlebih. Tidak akan sedikitpun celah bersih disini, bahkan bau sperma menyerbu dari sudut manapun. Baekhyun sempat bertanya-tanya dalam hati apakah mereka selalu masturbasi bersama, apakah mereka saling bersetubuh ataukah mereka memang maniak seks? Oh god.
"kau seharusnya memintaku untuk membawa peralatan pembersih ruang" Baekhyun berbisik ke telinga yang lebih muda.
"kau akan terkena serangan jantung jika melihat keadaan dapurnya" Dyo balas berbisik.
"apa apartemen ini tidak memiliki pelayanan pembersih?"
"mereka akan mengundurkan diri segera setelah melihat tempat biadab ini" pria yang lebih muda berdecih setelah berucap, mengeratkan pegangan pada kantong makanan yang dibawanya untuk makan siang.
"kapan kita akan pulang?" pria berambut jambu itu mulai merengek.
"kita bahkan baru sampai hyung!" Dyo sedikit menyentak, pria yang lebih tua baru saja akan menjawab namun gagal karena Luhan segera datang menyambut. Lelaki tampan itu bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana tidur, senyum cerah terpatri begitu melihat wajah tidak asing Dyo berdiri kaku didekat pintu.
"Dyo-ya! Baekhyun hyung! Oh tuhan, Hey Jongin! bagaimana bisa kau membiarkan mereka menunggu disini, mari masuk tuan tuan!" Luhan memberi komando dengan keras.
"duduklah, aku akan memanggil yang lain!" pria itu sekali lagi memberi komando dengan wajah cerah.
"hey Luhan, menurutmu dimana kami akan duduk? Bahkan tidak ada ruang kosong yang bersih disini, apa apartemen ini baru diserang binatang buas?! Oh sial" Baekhyun mulai mengumpat.
"mereka sendirilah binatang buas itu hyung" Dyo berucap santai dan meletakan kantong makanan dengan asal diatas meja, mengabaikan tatap Luhan yang mulai cemberut.
Baekhyun mulai mendesah, jemarinya perlahan menyingkirkan sesuatunya dari sofa, ada banyak barang disana, sisa makanan, kaus kaki, celana bekas bahkan kain pel. Luhan ikut membantu tentu saja, wajahnya sedikit merah karena malu mengingat betapa jorok tempat tinggal itu.
Sembari menunggu kelimanya bersiap dan mandi, Dyo memutuskan untuk sedikit merapikan meja makan. Baekhyun menolak untuk membantu sehingga ia memilih untuk mengambil piring didapur. Pria berambut jambu itu terkejut untuk yang kesekian kali melihat bagaimana dapur mereka terlihat seperti rumah tikus, bahkan ia kesulitan untuk mencari piring bersih.
Semua siap dan para laki-laki itu duduk dengan tidak tenang, Dyo sedikit mengalami sakit kepala dengan kebisingan ini. Sungguh sebuah mimpi buruk dengan menyatukan Jumyeon, Minseok dan Baekhyun sekaligus, mereka akan sangat berisik dan meributkan banyak hal. Kris masih dengan tenang menyantap makanannya, wajahnya tegas dan kali ini rambutnya dicat merah cerah. Meskipun bergabung dalam kebisingan, namun Minseok masih dengan argument pintarnya, melibatkan berbagai teori dari setiap buku yang pernah dibaca. Luhan masihlah lelaki tampan yang pemarah, dia adalah juru masak disini. Jumyeon tidak jauh berbeda dengan Baekhyun hyung, keduanya adalah dua orang paling berisik. Mereka akan membicarakan banyak hal, mulai dari siapa presiden Amerika ke-32 sampai mengapa ikan bernafas dengan insang.
"Hey guys, kalian harus tahu satu hal!" Jongin memecah kebisingan dengan suara lantang. Baekhyun berdecih disamping dan terus makan, mengabaikan wajah Jongin perlahan menjadi kisut karena merasa diabaikan.
"Hey, aku sedang berbicara!"
"sejak tadi kau berbicara jadi katakan saja!" Luhan berucap kesal disela makannya.
"Dyo akan menikahiku!" pria perunggu itu berucap keras. Pria yang duduk dimeja terdiam seketika terkecuali Dyo yang kini sudah tersedak makanannya. Baekhyun berdeham sebelum kemudian berteriak pada si muda yang kini sibuk minum untuk meredakan kerongkongan.
"kau akan menikahinya?! Tanpa persetujuanku?!"
"Hey, lihat tempat ini! Aku hanya akan menjadi pembantu rumah tangga jika menikah dengannya!" Dyo berucap serak namun keras, melotot pada Jongin yang kini berwajah masam. Keempat temannya tertawa keras, bahkan Minseok nyaris terjatuh dari tempatnya dan Jumyeon hampir memuntahkan makanan. Mereka geli dengan fakta bagaimana cinta Jongin kini berbalik sebelah pihak.
"Dyo-yaaaaa" Jongin mulai merengek.
"berhenti merajuk!" Dyo kembali melanjutkan makan ditengah tawa yang lain sebelum kemudian Jongin berdiri dengan tiba-tiba, pria perunggu itu melangkah kedapur tanpa sepatah kata. Melihat itu Dyo menghela nafas, dengan cepat ia ikut berdiri dan menyeret kaki menuju dapur.
"mereka bahkan belum menikah dan sudah terjadi pertengkaran rumah tangga" Kris bergumam setelah kedua pasangan itu meninggalkan ruang.
Dyo bersandar pada dinding dapur begitu melihat Jongin tidak ingin diganggu, ini sudah berjalan beberapa menit setelah keduanya memilih untuk meninggalkan kebisingan diruang makan. Pria yang lebih putih sudah merengek meminta maaf pada Jongin, namun pria perunggu itu masih diam seribu kata.
"Oh baiklah-baiklah! Kau menang! Dengar, kita akan tetap menikah sayang. Aku tidak peduli bagaimana nanti apartemen kita akan berubah menjadi kapal pecah atau kandang babi sekalipun, aku tidak peduli jika nanti kaus kakimu berserakan dimana-mana, atau serpih makanan yang berjatuhan dan menyebabkan banyak hewan merayap datang, atau sepraiku yang mulai berubah warna karena tidak diganti atau apapun. Aku tidak akan peduli asal aku bisa bersamamu!" Dyo menyudahi ceramahnya dan mendapati Jongin berbalik, menyajikan senyum menawan dengan manik berbinar cerah. Ah sungguh apapun rela Dyo lakukan asalkan bisa terus melihat pemandangan seperti ini.
"Ouch, kau romantis sekali my sweet pie!" garis senyum menggoda tersirat dari bibir apik Jongin begitu setelah berucap, ia terkekeh begitu Dyo balas berkedip genit kearahnya.
"apapun untukmu sweet heart" setelahnya Dyo mendekatkan diri kearah Jongin, menangkup rahangnya lembut dengan kedua tangan. Sementara pria lainnya segera mengistirahatkan kedua telapak pada pinggul Dyo, jemarinya bermain disekitar kemaluan dengan gerak menggoda.
"oh my sweety cake, berhentilah menggoda" pria putih itu terus berucap diantara desah, berusaha untuk menegakkan bagian bawah milik lawannya.
"kau mulai tegak my beloved sunshine" kali ini Jongin membalas, bersuara dengan oktaf rendah, maniknya berkedip cepat sementara lidah mulai bermain dengan pangkal leher Dyo. Jemarinya terus menyentuh selangkaan pria itu dengan seduktif, mengiringi berbagai macam suara rintih dari keduanya.
"Oh Jongin, sayang, honey, sentuh milikku Oh!" yang lebih putih kali ini meraup mulut Jongin, lidahnya menjelajah sampai pada pangkal tenggorokan, Jongin mendesah keras menghantarkan rangsang terhadap dirinya.
Keduanya berciuman ganas, jemari Jongin dengan lihai menarik turun celana Dyo sampai terjatuh diatas marmer. Dyo menggigit bibir bawahnya keras begitu lidah Jongin terus turun melewati pusarnya. Satu lagi pemandangan indah adalah bagaimana melihat bibir bengkak Jongin ada disekeliling kemaluannya yang tegak. Itu memberikan rangsang tersendiri dan Dyo akan merelakan banyak hal untuk bisa terus melihat ini dari jarak dekat.
Keduanya terus melanjutkan kegiatan, tidak ada yang memakai bawahan kali ini. Penis keduanya terus menjulang tegak tanpa tahu diri, mereka terus mendesah, menggeram dan bermain diantaran gumpal sperma. Dapur menjadi lebih berantakan dan bau busuk sperma serta air mani menyeruak memenuhi ruang. Tidak ada yang peduli, Jongin belum mau berhenti dan sepertinya Dyo tidak memiliki niat untuk melepas kemaluan Jongin dari tangannya.
"apa menurutmu mereka bertengkar didalam sana?" Jumyeon memulai obrolan tengah begitu dirasa Jongin maupun Dyo belum juga kembali.
"ayolah, pasangan itu punya banyak urusan rumah tangga" Minseok berucap cuek, melahap ayamnya yang tinggal separuh.
"abaikan mereka, kau tidak—" belum sempat Baekhyun menyelesaikan obrolannya, terdengar suara perabotan berkarat terjatuh dari arah dapur. Semua yang duduk dimeja terdiam sejenak, Kris hanya berkedip singkat sebelum setelahnya berucap
"apa sebaiknya kita lihat ada apa dibelakang?"
"apa mungkin mereka saling membunuh?" Jumyeon kembali berucap sembrono, segera Luhan melempar sisa tulang kearahnya. Ini sudah beberapa tahun berlalu dan apapun yang keluar dari mulut Jumyeon tetap tidak ada yang membantu.
"ini mengerikan, bagaimana jika dapur kami jadi berantakan!" Minseok mendesah setelah berucap, mulutnya bahkan masih penuh dengan daging ayam.
"tempat itu bahkan lebih mirip gudang dari pada dapur!" Baekhyun berbicara dengan aksen jelas, mengabaikan bagaimana keempat lainnya mendengus tidak setuju.
Beberapa saat setelah kelompok lelaki itu memutuskan untuk mengabaikan, suara yang sama kembali terdengar. Kali ini lebih nyaring, ada perabotan besi yang jatuh, mungkin juga beberapa benda pecah. Kelimanya menghentikan kegiatan makan sejenak untuk saling memandang sebelum setelahnya berlarian dengan gerak cepat menuju dapur.
"Hey guys ada ap— OH FUCK!" Jumyeon adalah yang pertama muncul dari balik dinding, maniknya melihat pemandangan paling menjijikan yang pernah ada. Disana ada dua tubuh tanpa busana bergulat mesra diatas marmer, bibir bertaruh dengan bibir dan penis bertubruk dengan penis. Keduanya terus saling meraup, mengabaikan lantai yang kian kotor dan dipenuhi dengan jejak putih sperma bercampur dengan sampah dan sisa makanan.
"Ugh aku bisa memuntahkan ayamku!"
"kalian binatang menjijikan!"
"Oh shit ini dapur demi tuhan! kau menghancurkan selera makanku!"
"OH YOU JERK! Jauhkan sperma busukmu dari jatah makan kami!"
Baik Jongin maupun Dyo keduanya masih terbaring diatas marmer, mengabaikan bagaimana tubuh yang masih lengket dan bau busuk yang menelusuk indra penciuman. Kepala Jongin bersandar pada lengan Dyo dan keduanya masih berlomba berebut nafas lelah. Senyum senang terpancar indah dan bintik merah jambu mendominasi dua belah pipi. Ini adalah awal dan Jongin mulai mendongak dan memandangi manik Dyo dengan cerah, ada sejenis pelangi disana dan banyak bias cahaya terang tersirat. Sementara pria putih itu menunduk, memberi sentuh lembut pada kulit perunggu jongin dengan jemari. Jongin seperti bintang jatuh. Cemerlang dalam gelap dan mencerminkan banyak harap.
"Jongin, aku mencintaimu"
"aku lebih mencintaimu"
"mari kita membuat kontrak untuk selalu bersama sampai 100 tahun kedepan"
"yeah, mari kita selalu bersama untuk 10, 100 dan 1000 tahun kedepan!"
Kedua kelingking menyatu dan senyum tulus tersaji. Kini Jongin mengerti bahwa cinta tidak memalsukan, ada banyak kejadian dan ia baru sadar bahwa Dyo adalah manusia penggoda yang paling berisik. Satu lagi fakta yang terungkap bahwa Jongin tidak lebih seperti gadis pemalu dan pemarah sekaligus. Itu kekanakan dan Dyo selalu menyukai bagaiman pria perunggu itu merajuk kepadanya.
Nah selesai sudah cerita ini kawan:)
.
.
Kali ini ceritanya benar-benar selesai kawan hihi
Aku tidak tau apa kutulis diepilog:( tapi aku harap kalian semua menyukai epilogku hihi!
semoga semakin banyak yang memberi review yaa💓
Terimakasih banyak untuk semuanya yang sudah follow dan favorite!
Terimakasih untuk Sleepyinsomniacx, , ninidpooh, soo1201, Lily Park 1, Kimk41, BenihKaisoo, Meloozyx, Ayys, Kyungie22, Guest, zkdltn, TulangRusuknyaDyo, cherry, Kamboja, TELEPORT GIRL, colakadi, Lovesoo, wulankai500, randommedy, Kyubear9597, xixiii88, asterfujo, rubykaisoo, yukitoya, chansekyuu, Guest, Kyungie22, srpromise, Neng-Aya
TERIMAKASIH SEKALI UNTUK REVIEW KALIAN YANG BERHARGA💓💓💓
tunggu cerita selanjutnya hihi💓
sekian dari Biancadeo!
See youu💓
