Elepante menyeringai, "Siapa namamu, anak kecil?"

"Hitsugaya Toushirou, kapten divisi 10, dan JANGAN sebut aku anak kecil." Jawab Hitsugaya sambil mengacungkan zanpakutounya.

"Yah, Kalau memang kenyataan, tak bisa dirubah." Tandas Elepante sambil mengancungkan zanpakutou miliknya juga.

Sementara itu….

"Uh.." erang Hinamori.

"Momo-chan! Akhirnya kau sadar!" pekik Shi senang.

"Kau kehilangan banyak darah, Hinamori-kun. Syukurlah aku membawa pil khusus." Kata Kira sambil membantu Hinamori duduk.

Pandangan HInamori masih kabur. Dilihatnya dua sosok sedang bertarung. "Itu… Hitsugaya-kun?"

Yang lainnya mengangguk. "Dia hebat ya. Coba kau lihat ekspresinya tadi. Dia khawatir sekali denganmu, Hinamori-san." Ujar Haris.

"Khawatir? Aku?"

(Kembali ke pertarungan)

"Kau lumayan hebat, Kecil!" sahut Elepante.

"Banyak omong kau!"

Keduanya langsung berlari menyerang, menangkis dan saling menyabet satu sama lain. Dan serangannya selalu tidak masuk. Hitsugaya sudah terengah-engah.

"Kau sudah capek, Kecil?" ejek Elepante

Hitsugaya menjawab, "Ini belum.. apa-apa!"

Hitsugaya kembali menyerang Elepante. Dan segala serangan kembali bisa ditangkis. Pertempuran a lot itu terhenti dengan terkaparnya Hitsugaya.

"Kenapa.. energiku… makin lama makin habis?" batin Hitsugaya sambil terbatuk-batuk lemas.

"Kau heran, kenapa energimu makin habis. Ya kan?!" tawa Elepante.

Hitsugaya tidak menjawab. "Karena energimu kuserap! Kalau kau dekat denganku, kau akan lemas dan kehabisan tenaga. Kalau kubiarkan, kau akan mati lemas." Terang Elepante sombong.

"Tapi, aku tak akan membiarkan musuhku mati lemas. Setidaknya, aku harus membuatnya seperti gadis itu dulu!"

Elepante kembali menyerang Hitsugaya, "Estar de pie, Troncal!" Zanpakutonya berubah menjadi kapak besar. Namun, selangkah lagi ia bisa membelah Hitsugaya, tiba-tiba

Zregg…

"A.. apa?! Tubuhku?! Tidak bisa bergerak!?" jerit Elepante sambil berusaha memberontak.

Hitsugaya juga heran. Dan memaksakan kepalanya untuk menengok ke arah pohon tempat keempat shinigami berlindung. Elepante hanya bisa menggeram. Sementara itu, Haris sudah maju.

"Satu lagi, kalau bertarung, jangan bocorkan rahasiamu, gajah albino!" teriaknya. "Membunuh jarak jauh juga bukan hal yang mustahil, Bodoh!"

Elepante tersinggung. "Diam kau!! Kubunuh kau baru tau rasa!"

"Kalau mau, ayo tebas aku sini! Setidaknya, lemakmu harus dibakar!!!"

Elepante mulai ngamuk. Lalu mengaum layaknya gajah. Badannya bisa bergerak lagi. Segera saja ia berbalik dan mengangkat kapaknya. Haris juga sudah menghunus zanpakutounya. Namun,

"Sōten ni Zase, Hyourinmaru!"

Belum sempat Elepante menghindar, tubuhnya kembali tak bisa bergerak dan seketika itu juga, berakhirlah riwayatnya dengan membeku. Dan langsung hancur berkeping-keping. "Sayangnya, kita bertarung di dekat sungai." Tukas Hitsugaya.

"Kerja bagus, Shi!" ucap Haris sambil mengancungkan jempolnya.

Shi hanya tersenyum. Menghentikan gerakan Elepante dan memecah belah es yang membungkus Elepante adalah perbuatannya sebagai pengendali angin.

Kemudian, mata Hitsugaya tertuju pada seseorang, "Hinamori?"

Hinamori hanya diam. Dia tak bergeming saat Hitsugaya datang menghampirinya dengan tergesa-gesa. "Hinamori, kau tidak apa-apa kan? Syukurlah! Aku khawatir sekali!" kata Kapten itu sambil mengguncangkan bahu Hinamori. Hinamori hanya diam saja. Tapi sepertinya Hitsugaya tidak begitu peduli. Dan memeluk gadis itu.

"Maafkan aku, aku tidak bisa berbuat apapun untuk melindungimu. Maaf." Tuturnya. Satu hal yang tidak diketahui Hitsugaya adalah, muka Hinamori langsung merah saat itu juga.

"Hi..Hitsu…gaya.." Hinamori langsung pingsan.

Hitsugaya kaget begitu merasakan badan Hinamori terkulai. "Loh, loh? Hinamori? Kau kenapa? Hinamori?"

Kira langsung menggendong Hinamori, "Hitsugaya-taichou, badannya dari tadi masih panas. Dia tidak bisa menerima reaksi mengejutkan seperti itu."

"Jadi harus cepat-cepat dibawa ke divisi 4."

Hitsugaya bengong. "Ya sudah, cepat bawa!"

Semuanya langsung shunpo ke divisi 4.

-080208080208080208080208-

Semuanya, maaf ya kalo agak gak jelas pertarungannya. Habis gue merasa gak begitu ahli dalam menceritakan yang seperti itu. Gomen. ^_^