BoBoiBoy dan seluruh karakter yang terlibat di dalamnya itu milik Animonsta Studios! Saya hanya meminjam mereka dalam pembuatan fanfiksi ini.

Warning: SHS!Alternative Reality, OOCness, BL, possible typo(s), humor gagal, ada beberapa yang menyangkut mata pelajaran Matematika untuk senior high school, bagi yang tak mau lihat saya persilakan untuk men-skip prompt ini, DLDR.

Prompt 7: Bahasa Matematika (Thanks to my friend Elli corettipucoret Muslihatfor your idea)

.

.

||.||.||.||

.

.

Semenjak kelas Matematika telah usai hari ini Boboiboy memasang wajah masam, mata cokelatnya menatap lembaran kertas yang sudah tertoreh berbagai coretan angka yang telah disusun rapi dari kepalanya seminggu yang lalu. Matanya masih terfokus pada coretan yang terletak di samping kiri atas dengan tinta merah—ya, itulah nilai yang ia peroleh dari ujian Matematika yang diadakan dari seminggu yang lalu.

Dua puluh tiga persen. Itulah nilai yang diperolehnya pada ujian Matematika dengan materi yang paling ia tidak sukai—Logika Matematika.

Bagaimana ia memberitahukan nilainya kepada kakeknya? Pasti ia akan mendapatkan hadiah ceramah yang sangat lama dan pastinya itu akan membosankan. Oh, tapi untungnya Papa Zola—guru kelas Matematika—sangat baik sehingga beliau mengadakan perbaikan untuk nilai Matematika yang masih dibawah standar ketentuan nilai untuk lolos—ini berlaku untuk yang mendapatkan nilai empat puluh lima persen.

Yang berarti pemuda yang mengenakan topi jingga itu harus kembali mempelajari materi yang sangat ia tidak sukai itu. Matanya sudah terlalu malas untuk melihat berbagai jenis pernyataan, pernyataan yang dinegasikan, hukum-hukum yang berlaku dalam ekuivalensi, penarikan kesimpulan, penyusunan bukti, induksi Matematika, dan masih banyak lagi sub-materi yang terdapat dalam Logika Matematika.

Boboiboy mulai mengacak helaian rambutnya frustasi. "Argh! Materi ini membuat kepalaku pusing! Mana untuk lolos remedial itu nilainya harus tujuh puluh persen pula …"

"Untuk apa kau ambil pusing? Kau hanya perlu belajar lagi agar kau bisa lolos remedial."

Boboiboy menolehkan kepalanya ke samping, mata cokelatnya menangkap sosok pemuda berkacamata sedang berdiri sembari menatap angkuh padanya. "Kau sih enak, Fang—tidak perlu ikut remedial …"

"Enak apanya?" Fang membenarkan posisi berdirinya, kemudian perlahan mendekati meja Boboiboy. "Walau aku tidak ikut remedial, tapi nilaiku tetap saja jelek."

"Memangnya nilaimu berapa?"

"Delapan puluh tiga persen."

Seketika mata hitam Fang menangkap tubuh pemuda itu mulai meringkuk sedih di atas lantai sembari diselimuti aura hitam keunguan aneh, sebulir keringat jatuh dari keningnya akibat melihat Boboiboy dalam keadaan seperti itu. "Itu sih sudah bagus …" gumam Boboiboy lirih.

Sesaat Fang menarik napas, kemudian mengeluarkannya dalam sekali hembusan kasar. "Baiklah, aku akan membantumu belajar agar nilaimu bisa di atas ketentuan standarnya."

Pemuda berambut hitam pendek itu mulai bangkit dari acara meringkuk sedih, mata cokelatnya menatap Fang dengan mata berbinar-binar—menatap dengan penuh berharap. Sepertinya Fang salah berbicara—ia mulai mengerutuki tawarannya tadi. Pemuda berambut hitam kebiruan itu hanya menghela napas pasrah, kemudian ia menarik tempat duduk terdekat dan duduk di dekat meja Boboiboy. Jemari lentiknya mengambil lembaran kertas ujian milik Boboiboy dan mulai membahas soal yang terterah dalam kertas ujian itu.

Boboiboy tentunya mendengarkan semua penjelasan dari Fang dengan baik—walau ia tak yakin apa ia akan menangkap semua materi yang telah dijelaskan oleh pemuda berkacamata itu. Satu setengah jam sudah terlewati, waktu berjalan begitu sangat cepat bagi pemuda pemilik kedai cokelat yang terkenal di negerinya itu.

"Kau mengerti dengan semua penjelasanku tadi, kan? Masa soal seperti ini saja tidak bisa …"

Boboiboy hanya berdenggung tidak jelas—mengiyakan atas pertanyaan dari Fang, mata cokelatnya menatap melas pada pemuda yang telah mengajarinya itu. "Iya, aku sudah mengerti." Kemudian sesaat pemuda itu menghela napasnya sejenak. "Aku tahu, kau itu bagaikan tautologi[1], dan aku itu kontradiksi[2] di matamu. Kemudian dilihat dengan menggunakan lensa cekung yang selalu nilainya negatif. Apa-apa aku yang salah …"

Sekali lagi pemuda yang mampu memanipulasi tiga—bukan, lima elemen bumi itu berhasil membuat sebulir keringat jatuh dari pelipisnya. "Kau itu mau curhat atau mengejekku karena aku menggunakan kacamata, hah?!"

"Mungkin keduanya …"

Kini beberapat urat merah perempatan kecil mulai menghiasi kepala Fang, kepalan tangannya mulai diangkat ke udara. Setelah itu hanya tinggal Boboiboy yang tengah dikejar oleh harimau bayangan milik Fang, sementara dirinya mulai berjalan meninggalkan soosk pemuda itu.


[1] Tautologi: Dalam Logika Matematika, berarti nilainya selalu benar.

[2] Kontradiksi: Dalam Logika Matematika, berarti nilainya selalu salah.


P.S: Kalo Anda gagal paham dengan kalimat yang dikatakan Boboiboy—walau sudah ada pengertiannya, ini maksudnya: "Aku tahu, kau itu selalu benar, dan aku selalu salah di matamu. Kemudian dilihat dengan menggunakan lensa cekung yang nilainya selalu negatif. Apa-apa aku yang salah …"