Memory 3:

Grandmaster sebelum Kirigaya Satoru adalah Otto Reinshdalt. Dia berumur 64 tahun. Tetapi, gaya latihan dan seni bertarungnya mirip seperti Templar Knight pada abad 12-14. Dia punya prinsip bahwa 'Orang yang memiliki jiwa yang tangguh, akan memiliki tanggung jawab besar dan tidak punya rasa takut untuk gagal. Gagal, Bunuh!'. Prinsip itulah yang membuat beberapa member Templar tidak mampu berguru kepadanya. Hanya Satoru dan pria yang bernama S17 yang sanggup dilatih olehnya. Untuk itulah, dia terkejut jika bertemu dengan sesama berguru dengan Otto Reinshdalt.

Kirigaya Satoru berjalan untuk mencari petunjuk baru supaya segera menemukan Piece of Eden. Tetapi, dia harus menemukan manuscript atau box yang berisi peta lokasi Piece of Eden.

Dia menggeledah satu persatu orang yang berhasil dia bunuh. Kemudian, dia menemukan sebuah peta di saku Tentara keempat. Dia membuka peta tersebut, dan ternyata berisi manuscript dalam bentuk FD. Dia rampas dan membaca seksama tulisannya:

"Mr. S, aku ingin kau menangkap Kirigaya Satoru. Terdengar mengerikan, bukan? Tetapi ini perintah dari Menteri Jepang, Akisugi Goro. Dia menginginkan sebuah emas yang tidak pernah habis. Aku tahu kau tidak tertarik hal ini, tetapi percayalah. Dia mau berbagi emas denganmu, dan INGAT! Hanya kau yang terima. Berhati-hatilah dengan Koichirou Yuuki. Kalau perlu, bunuh dia segera!"

TTD,

Mentor

NB: Jangan bunuh Kirigaya Satoru. Ada hal yang ingin aku diskusikan dengannya.

Satoru membaca seksama, dan nafasnya tidak karuan. Bayangkan saja, target para Assassins tidak hanya Piece of Eden, tetapi juga dirinya. Dia tidak paham mengapa mereka ingin menangkapnya? Bukan malah membunuhnya? Dia tidak habis pikir dengan si Mentor.

Namun, Satoru tidak berlarut-larut dalam kebingungan. Dia berusaha mencerna isi pesan tersebut, dan dia bermaksud untuk memberitahukan kepada Koichirou semata.

Beberapa saat kemudian, para member Templar Order, yaitu Morinaga Ichinose, Shimasaki Mayumi, Mayuri, Koichirou Yuuki, dan Kurugawa Koji. Mereka menghampiri Satoru.

"Tidak kusangka, Master benar-benar hebat dalam bertarung," puji Koji.

"Tidak juga. Ngomong-ngomong, ada hal yang ingin aku omongkan," kata Satoru.

Kemudian, Satoru menjelaskan dari pertarungan melawan para Assasins, bertemu dengan S17 serta surat perintah dari Mentor untuk menangkap Kirigaya Satoru dan Koichirou Yuuki.

"Begitu? Aku yakin itu adalah Subject 17," yakin Koichirou.

"Bagaimana kau bisa tahu, master Koichirou?" Tanya Mayuri.

"Dia adalah temanku, dan dia bergabung dengan Templar karena nenek moyangnya adalah Shay Patrick Cormac. Bisa dibilang, gaya bertarungnya sama persis meski sedikit mirip dengan Jacques de Molay." Kata Koichirou.

"Lalu, bagaimana dengan peta tersebut? Apa kau sudah menemukan apa yang kau cari?" Tanya Ichi-san.

"Sebenarnya sich…ketemu…hanya saja…" ujar Satoru ragu.

Memang, dia berhasil menemukan peta tersebut. Tetapi permasalahannya bukan itu.

"Ada apa masalah apa, Master? Tidak biasanya?" Tanya Mayumi.

"Kalian pilih kabar baik apa kabar buruk?" Tanya Satoru.

"Kabar baik saja dolo." Usul Koichirou.

"Para Assassins masih belum mengetahui lokasinya karena aku sudah bunuh semua para tentara. Apalagi, S17 sudah menghancurkan 3 mobil sekaligus. Jadi otomatis mentor tidak bisa mengikuti kita lagi alias AMAN."

"Lalu, kabar buruknya?" Tanya Mayumi.

"Lokasinya benar-benar jauh, dan kalian pasti tidak percaya. Lokasinya berada di istana Versailles, Prancis."

"Dan lebih buruk lagi. Pasti kau bertemu orang itu, kan?" kata Koichirou menghela napas berat.

Satoru mengangguk muram.

"Dan aku tidak ingin membicarakannya. Terlalu sedih." Kata Satoru.

"Apa maksudnya, Koichirou?" Tanya Ichi-san.

"Dia akan bertemu…seorang yang tidak dia sukai…Nikolas Sarkozy, sang member Templar Order."