Sang Pelindung (Remake)

Karya Alexandra Ivy

Main Cast : Byun Baekhyun & Park Chanyeol

Warning : Genderswitch, typo(s)

Disclaimer :

Cerita ini adalah karya asli Alexandra Ivy dengan judul

When Darkness Comes (Sang Pelindung dalam terjemahan Bahasa Indonesia).

Dan saya hanya meremakenya dengan mengganti cast.

Sumarry :

Beberapa menit sebelumnya, Byun Baekhyun adalah seorang gadis biasa

yang bekerja sebagai pelayan. Sekarang ia adalah seorang Chalice,

wanita yang terpilih untuk menghancurkan kegelapan. Park Chanyeol adalah vampir

yang selama ratusan tahun menjadi pendamping Chalice, meskipun dia tak menyukainya

karena tubuhnya terasa sakit.

.

Baru beberapa jam kemudian Baekhyun terbangun dari tidurnya yang lelap, dan syukurlah tanpa mimpi. Ia membuka kelopak matanya yang terasa berat. Awalnya ia merasa bingung dengan kain satin yang menempel di tubuhnya dan juga kegelapan yang memenuhi ruangan itu.

Baekhyun bukan jenis wanita yang sering terbangun di ruangan yang tidak dikenalinya. Apalagi di atas tempat tidur berseprei satin dan ruangan luas yang gaungnya bisa menyamai Ketedral St. Paul.

Tapi tetap saja, ini lebih baik dari pada ranjang rusak dan bau yang terakhir ditidurinya, aku Baekhyun pada dirinya sendiri. Apalagi dengan tambahan sepasang lengan kokoh yang melingkar di tubuhnya.

Bukan cara yang buruk untuk bangun.

Setidaknya tidak akan buruk kalau saja ingatan tentang iblis, penyihir, dan juga dirasuki oleh roh tidak kembali menyeruak ke dalam ingatannya.

Sambil menyeriangai, Baekhyun berguling ke sisi tempat tidur, menatap pria yang tidur di sampingnya.

Tidak, bukan sekedar pria, dengan tegas Baekhyun mengingatkan dirinya. Vampir.

Diamatinya pahatan sempurna wajah Chanyeol di bawah cahaya remang-remang. Rasanya hampir mustahil kalau ia tidak bisa menyangkal hal itu sebelumnya. Chanyeol adalah impian semua wanita. Hidup telah mengajari Baekhyun bahwa pasti ada sesuatu yang salah di diri Chanyeol.

Baekhyun menarik bibirnya ke satu sisi. Semua wanita tahu bahwa pria yang mampu mencuri hati wanita dengan mudah biasanya pastilah gay, atau gila, atau sudah menikah. Sekarang, kelihatannya Baekhyun harus menambahkan vampir ke dalam daftar itu.

Hampir tidak sadar akan tindakannya, perlahan-lahan Baekhyun menyingkap selimut yang menutupi tubuh Chanyeol. Tampaklah tubuh yang kokoh dan ramping. Sayang, celana jinsnya masih terpasang. Tapi, Chanyeol menanggalkan kemeja sutranya sehingga kini Baekhyun melihat dada indah yang selalu dibayangkannya di mimpi-mimpinya yang nakal. Lebar, halus dengan sedikit bentuk otot yang mampu memuaskan wanita paling menuntut sekalipun. Dan, oh Tuhan, terlihat begitu mendamba untuk dibelai.

Dan, syukurlah tidak ada benjolan aneh atau bopeng yang selalu ada di tubuh iblis. Tidak juga tato bergambar di kulit putih itu.

"Selamat pagi, Sayang." Sebuah suara parau tiba-tiba merebak di keheningan ruangan itu.

Baekhyun mengangkat kepalanya, dan melihat segaris mata abu-abu Chanyeol yang mengintip di bawah alis hitam lebatnya.

Hmmm, ini cukup memalukan.

Berjalan dengan tisu yang menempel di sepatu, atau kalau ada lipstik yang menempel di gigi, atau bahkan memecahkan vas Ming berharga, semua itu bisa dibilang memalukan.

Tapi, kalau harus terpergok sedang memandangi pria setengah telanjang sementara pria itu sedang tertidur, itu jauh lebih memalukan.

Baekhyun langsung menjatuhkan selimut seakan-akan benda itu membakar kulitnya.

"Aku... aku tidak tahu kau sudah bangun." Baekhyun berhasil bersuara.

"Aku mungkin sudah mati, tapi bagaimana mungkin aku bisa tidur dengan wanita cantik yang memandangiku?" Bibir Chanyeol tersenyum nakal. "Katakan padaku Manis, apa yang sedang kau cari? Tanduk dan ekor?"

Kenyataan bahwa ia memang memiliki keinginan tersembunyi untuk menyiapkan dirinya sendiri bahwa Chanyeol tidak memiliki keanehan apapun, membuatnya langsung membela diri.

"Tentu saja tidak."

"Ah, kalau begitu kau berencana untuk memanfaatkan diriku di saat aku tidur? Nakal, tapi aku menyukainya."

"Tidak... aku..." Baekhyun mengerutkan hidungnya, akhirnya sudah bisa menerima bahwa ia memang terpergok. Kenapa tidak sekalian saja terus terang? "Aku tadi hanya penasaran. Kau terlihat begitu... normal."

Chanyeol menegang mendengar pengakuan Baekhyun yang terdengar segan. "Maksudmu normal sebagai manusia?"

"Ya."

"Kau kecewa atau justru lega?"

Baekhyun mengangkat bahunya. "Setelah Halford dan iblis terakhir, aku harus mengakui bahwa aku lega."

Tanpa peringatan, tubuhnya didorong oleh tubuh Chanyeol sehingga tubuh Chanyeol menjulang di atasnya. Kedua tangan Chanyeol menopang di samping kepala Baekhyun.

"Aku mungkin tidak memiliki tiga mata atau ludah asam yang menetes dari taringku." Ujar Chanyeol. Wajahnya yang rupawan terlihat muram. "Tapi jangan sampai kau membuat kesalahan dengan berpura-pura tidak tahu bahwa aku bukan manusia. Aku vampir, Baekhyun, bukan manusia."

Jantung Baekhyun berdetak kencang melihat tubuh Chanyeol yang menjulang bak kesatria berbahaya. Tiba-tiba Chanyeol tidak terlihat seperti manusia. Chanyeol seperti dewa kematian yang memegang nyawa Baekhyun di tangannya.

"Apa maksudmu?" bisik Baekhyun. "Bahwa aku tidak bisa mempercayaimu?"

Alis hitam Chanyeol bertaut. "Tentu saja kau bisa mempercayaiku. Aku rela mati supaya tidak ada lagi yang mengganggumu."

"Kalau begitu kenapa?"

"Aku hanya tidak ingin kau menganggapku sesuatu yang bukan diriku." Mata abu-abu itu menusuk mata Baekhyun. "Itu hanya akan menyakiti kita berdua."

Berpura-pura bahwa ia bukan seorang vampir? Ya Tuhan, apa sih yang dibicarakan laki-laki ini? Baekhyun mungkin saja bisa berpura-pura bahwa meminum segelas es krim vanila dengan topping cokelat adalah makanan sehat selama ada kacang dan juga krim di atasnya. Atau bahwa Johnny Depp adalah cinta sejatinya kalau saja si ganteng itu mau meluangkan waktu untuk mengenalnya lebih jauh.

Tapi kenyataan bahwa pria ini bukan seorang vampir?

Ha. Ha.

Anehnya, ketika Baekhyun membuka mulut untuk berkata bahwa Chanyeol sudah gila, ia mengurungkan niatnya.

Sial. Bisakah ia berterus terang dengan mengatakan bahwa beberapa jam yang lalu ia baru saja berusaha melupakan kenyataan tentang Chanyeol? Saat seperti semalam Chanyeol menyentuhnya dengan lembut di kamar mandi? Dan juga saat Baekhyun berlindung pada pria itu di saat gelap sekaan Chanyeol adalah malaikat pelindungnya?

Jelas itu hanyalah mimpi untuk mengabaikan apa yang tidak ingin dilihat Baekhyun.

Ia mengalahkan pandangannya dari Chanyeol, berjuang keras untuk tidak bersemu merah. "Kita harus bangun."

"Baekhyun, aku mohon, jangan tutup dirimu." Ujar Chanyeol. Suaranya lembut, menenangkan, membuat punggung Baekhyun terasa digelitiki. "Aku tidak bermaksud menakut-nakutimu, hanya saja..."

Tanpa sadar Baekhyun kembali menatap mata abu-abu itu. "Hanya apa?"

"Aku ingin kau mengenaliku sebagaimana aku apa adanya, bukan sekedar bayangan indah yang kau harapkan dariku."

"Aku melihatmu mewalan iblis itu, Chanyeol. Aku tahu apa dirimu."

Tak disangka, Chanyeol menyeringai di bawah sinar remang-remang ruangan itu. "Tidak, kau tidak tahu. Tapi kau akan tahu sebelum semua ini selesai. Dan itu yang aku khawatirkan."

Tiba-tiba Baekhyun mengerti. ini semua bukan hanya tentang pendapat Baekhyun akan vampir. Ini tentang rasa percaya. Rasa percaya Baekhyun padanya.

"Kita berdua tahu bahwa aku pasti sekarang sudah mati kalau kau hanya seorang manusia. Aku hanya menjadi seorang munafik kalau aku menginginkan dirimu menjadi yang lain." Aku Baekhyun. Bibirnya tersenyum malas. "Lagipula, pengalamanku dengan pria dari spesies manusia membuatku tidak semangat untuk menjalin hubungan dengan pria manapun untuk selamanya."

Wajah Chanyeol melembut mendengar pengakuan Baekhyun yang menyedihkan. "Tidak ada kesatria berbaju baja?"

"Kesatria? Mungkin lebih tepatnya seorang pandir."

"Pandir?"

"Yah, pacar terakhirku mencampakanku demi seorang tukang pos. Ya, tukang pos itu pria. Satu lagi sebelum yang itu bertahan cukup lama sampai dia berhasil mengetahui nomor PIN kartu debitku sehingga bisa menguras habis tabunganku."

"Dasar bajingan." Chanyeol menyipitkan matanya.

"Mereka termasuk baik kalau dibandingkan pacar pertamaku yang menganggap jalan terbaik adalah dengan menggunakan tangannya."

Ada keheningan mencekam ketika Chanyeol menatap wajah Baekhyun. "Dia memukulmu?"

"Cuma sekali. Aku belajar dari pengalaman."

"Kau ingin aku membunuhnya?"

Baekhyun berkedip, tidak yakin Chanyeol sedang bercanda atau tidak. "Ah well, tawaran yang menggoda, tentu saja. Tapi aku harus menolaknya."

Chanyeol mengangkat bahunya. "Tawaran itu akan terus berlaku kalau kau berubah pikiran."

"Sebenarnya, aku lebih memilih untuk melupakan bahwa mereka pernah ada." Ujar Baekhyun meyakinkan Chanyeo.

"Itu juga solusi." Tatapan Chanyeol turun ke bibir Baekhyun sebelum kembali ke matanya. "Tapi apa menurutmu itu cukup bijak?"

Baekhyun menyerngit. Tentunya ia tidak akan menerima saran soal hubungan dari seorang vampir setengah telanjang yang sekarang sedang bertengger di atas tubuhnya, kan?

Seorang vampir rupawan yang seksi dan setengah telanjang.

"Menurutku itu cukup bijak dari pada membiarkan seseorang menyantap mereka." Guman Baekhyun.

"Aku hanya bertanya-tanya apa benar kau memang benar-benar belajar dari kesalahanmu." Ujar Chanyeol.

"Aku belajar bahwa aku mempunyai penilaian yang buruk ketika berhubungan dengan pria."

"Atau kau memang mencari yang sudah cukup berpotensi untuk mengecewakanmu sehingga kau tak perlu khawatir untuk berhubungan secara emosional."

"Ya ampun, jangan berlagak menjadi psikolog sekarang." Gerutu Baekhyun, sama sekali tidak berminat untuk berpikir kalau Chanyeol mungkin benar. "Aku tidak butuh dianalisis oleh seorang vampir."

Chanyeol mengangkat alisnya. "Justru karena aku vampir maka aku bisa memberikan penilaian. Kau tidak mungkin hidup di tengah-tengah manusia selama empat abad tanpa mempelajari kebiasaan mereka yang aneh."

"Well, kau tak tahu apapun tentangku."

"Oh ya?" Chanyeol tersenyum tipis. "Aku tahu kau benci bawang dan ikan tuna, kau makan cokelat setiap hari tanpa berat badanmu bertambah, dan kau butuh resep untuk merebus air. Aku tahu kau berpura-pura menyukai musik klasik tapi menyetel radio yang memutar musik punk rock ketika kau tahu tidak ada orang di sekelilingmu. Aku juga tahu kalau kau sembunyi dari dunia ini dan kau merasa sendirian. Kau selalu merasa sendirian."

Baekhyun berusaha untuk bernapas. Sayang sekali paru-parunya saat ini tidak mau diajak kerja sama.

Chanyeol sialan. Baekhyun telah menghabiskan tiga bulan penuh untuk mengamati pria itu diam-diam penuh kekaguman, tapi toh ia tidak bisa mengetahui lebih dalam dari pada bahwa Chanyeol sangat menawan dan sangat mahir bermain piano. Mengetahui bahwa Chanyeol bisa melihat jauh menembus dinding yang telah dibangunnya sejak dulu, sangat menakutkan Baekhyun.

"Baiklah." Guman Baekhyun, "Aku punya masalah dalam hubungan. Oke, oke. Sekarang bisakah kita bangun?"

Senyum Chanyeol semakin lebar. "Tidak perlu buru-buru. Matahari baru saja terbenam."

"Yah, kau bisa sedikit mendapat sinar matahari," kata Baekhyun datar. "Kau sangat pucat."

"Kau ingin melihatku menjadi setumpuk abu, ya?" mata abu-abu itu membara. "Dan bagaimana mungkin aku bisa melindungimu kalau..."

Tersihir oleh nada suara Chanyeol yang menghanyutkan, Baekhyun hampir tidak melihat bayangan yang perlahan muncul dari balik rambut hitam Chanyeol. Tapi ketika bayangan itu bergerak dan mendekat, Baekhyun membelalakkan matanya dan seketika itu juga ia menjerit.

"Tidak!"

000

Karena terlalu hanyut dalam gairah yang sudah menguasai tubuhnya setiap Baekhyun berada di dekatnya, Chanyeol tidak siap ketika teriakan Baekhyun bergema di seluruh ruangan dan langsung bangun secepat kilat.

Chanyeol terlempar ke belakang. Untuk sesaat ia berusaha untuk melepaskan diri dari selimut yang membelit dirinya. Waktu sesaat itu terlalu lama bagi Baekhyun untuk tidak bangun dan segera menyerang bayangan yang berdiri mengancam mereka.

"Baekhyun, jangan!" teriak Chanyeol. Usahanya agak terlambat untuk mencegah serangan Baekhyun yang cepat.

Chanyeol hanya sempat melihat sekilas bayangan tubuh seorang laki-laki sebelum Baekhyun sempat mendorong penyerang itu dan keduanya terjatuh. Dengan cepat, Chanyeol mengangkat Baekhyun dan membungkuk di samping sesosok tubuh yang tak lagi bergerak.

"Tahan, Sayang. Dia sudah mati." Kata Chanyeol. Pandangannya jatuh ke tubuh mengerikan yang mengenakan setelan hitam yang telah rusak dan tangan mengerikan yang masih menggenggam pasak kayu. Pemburu vampir. "Untuk kedua kalinya, aku melewatkan tamuku."

Masih menggenggam kencang kain yang menutupi badannya, Baekhyun melihat tubuh yang tak bergerak itu dengan jijik. Bukan kejutan lagi. Diserang oleh mayat hidup yang membusuk benar-benar harus menjadi pengalaman sekali seumur hidup saja.

"Ya Tuhan, apa itu?"

"Mayat hidup."

"Apa?"

"Zombi." Suara Chanyeol sarat dengan rasa jijik. Bahkan di dunia iblis, penggunaan mantra seperti itu sangat dilarang. Mengganggu dunia bawah tanah merupakan penodaan. "Tubuh mati yang digerakkan dengan kekuatan sihir. Sihir yang tidak dimiliki oleh iblis. Makhluk yang tidak hidup tapi tidak juga mati, karena itulah aku tidak bisa merasakan keberadaannya, sehingga dia bisa menembus mantra perlindungan Kris."

"Zombi." Baekhyun tertawa pendek. Nadanya terdengar agak histeris. "Bagus. Sempurna. Sekarang yang kita butuhkan adalah beberapa mumi dan serigala jadi-jadian, maka kartu monster kitapun lengkap."

Chanyeol mengulurkan tangannya untuk menyentuh tubuh dingin mayat itu yang mendarat dengan wajah terlebih dahulu. "Baekhyun, aku ingin tahu apa yang barusan terjadi."

"Apa maksudmu?"

"Setelah kau melihat zombi ini, apa yang kau lakukan?"

Chanyeol merasakan ketidaknyamanan Baekhyun dengan tuduhannya. "Kau melihatnya. Kau tahu apa yang terjadi."

Chanyeol mengangkat kepalanya dan menatap wajah Baekhyun yang terlihat bingung. Wanita itu masih terguncang dengan kejadian barusan, tapi saat ini Chanyeol belum bisa menenangkan Baekhyun walaupun ia ingin melakukannya. Penting sekali untuk mengetahui apa yang terjadi.

"Kumohon, Baekhyun, katakan apa yang sebenarnya kau lakukan!"

"Apa pentingnya?" tubuh Baekhyun gemetar. "Toh dia sudah mati, kan?"

"Ya. Pertanyaannya adalah bagaimana dia bisa mati."

"Mungkin saja karena kepalanya yang menganga itu."

"Bukan. Itu yang membunuhnya pertama kali. Ketika dia masuk ke kamar ini, dia dikendalikan oleh sihir, bukan karena dia hidup. Tidak ada yang bisa membunuhnya kecuali api yang berasal dari kekuatan mistik."

"Api?" Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Aku hanya mendorongnya."

Chanyeol menggulingkan makhluk itu, lalu membuka kancing kemeja putih yang dipakai sebelum ia dimakamkan. Di keremangan cahaya, pembusukan di dadanya tidak terlalu terlihat, tapi tidak mungkin salah mengenali luka bakar yang berbentuk dua telapak tangan.

Tangan Baekhyun.

"Dorongan yang hebat, Sayang." Guman Chanyeol.

Baekhyun mundur terhuyung-huyung dengan ngeri. "Maksudmu, aku yang melakukan tu?"

Suara Baekhyun yang terguncang membuat Chanyeol beranjak dari mayat itu dan berdiri berhadapan dengan Baekhyun, menghalangi pandangan Baekhyun dari makhluk menjijikkan itu.

"Maksudku, kau telah menyelamatkanku." Ujar Chanyeol dengan tegas. "Kalau kau tidak menghentikan mayat berjalan ini, saat ini kau pasti sudah bertaburan abu yang berasal dari tubuhku."

"Tapi, bagaimana?" bisik Baekhyun. "Bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal seperti itu?"

Tangan Chanyeol memegang bahu Baekhyun dan mengusapnya dengan lembut. "Aku sudah berkata padamu, Phoenix memiliki cara untuk melindungi dirinya sendiri. Tidak ada yang perlu ditakutkan, Baekhyun."

Mata biru itu berkilau penuh emosi. "Aku baru saja membuat lubang besar di... makhluk itu, tanpa mengetahui apa yang sudah kulakukan."

"Kau melindungi dirimu sendiri. Dan juga aku."

Baekhyun mengangkat kedua tangannya seakan tangannya itu adalah dua benda asing. "Tapi aku tidak tahu bagaimana melakukannya."

"Apa itu penting?"

"Tentu saja itu penting." Semburnya galak. "Aku sudah menonton Firestarter. Kau pikir aku mau menjadi manusia obor?"

Chanyeol cukup sigap untuk menahan tawa kecil karena perkataan Baekhyun. Saat ini, Baekhyun benar-benar terguncang.

"Cintaku, tenang dulu! Kau bukan manusia obor." Dengan lembut, Chanyeol meraih salah satu tangan Baekhyun dan meletakkannya di dadanya sendiri. Rasa panas langsung mengaliri tubuh Chanyeol. Rasa panas yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kekuatan Phoenix. "Kau lihat, kan?"

"Tapi..."

"Baekhyun." Chanyeol menempelkan dahinya ke dahi Baekhyun, sambil meremasi jemari wanita itu dengan lembut. "Ini tidak ada bedanya dengan kekuatanmu yang bisa menendang atau mencakar orang jahat. Ini cuma alat. Alat yang bisa membuatmu tetap hidup.

Baekhyun terdiam lama. Lalu, akhirnya tertawa sambil menangis. "Apa tidak ada yang bisa mengganggumu?"

Chanyeol mengangkat kepalanya dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya. "Ini menggangguku. Membuatku sakit di dalam sini."

"Chanyeol."

Wajah Baekhyun terlihat sangat rapuh. Tanpa bisa menahan, Chanyeol mencium bibir Baekhyun. Ciuman yang membuat sekujur tubuhnya sendiri bergetar.

Perlahan, ia mempererat pelukannya ke tubuh Baekhyun yang gemetar, sangat ingin supaya Baekhyun bisa kembali tenang. Ia sangat menginginkan supaya cerita buruk itu segera berakhir. Keinginan yang hampir mustahil, tentunya. Sampai mereka bisa menemukan para penyihir wanita itu, yang bisa Chanyeol lakukan hanyalah melindungi Baekhyun, dan berharap Baekhyun bisa bertahan menghadapi semua kengerian yang ada di depannya.

Chanyeol mengusapkan bibirnya ke pipi Baekhyun dan terus turun ke rahang wanita itu. Dengan sabar ia berbisik di telinga Baekhyun, sampai perlahan-lahan tubuh Baekhyun tidak lagi gemetar.

"Baekhyun, Sayangku." Gumannya seraya mengangkat kepala dan menatap mata Baekhyun. "Kita tidak bisa terus berada disini. Kita harus mengepak barang-barang kita dan bersiap-siap untuk pergi. Kita tidak tahu berapa banyak lagi zombi yang berkeliaran di sekitar sini."

Meskipun pucat, sekali lagi Baekhyun berhasil mengumpulkan kekuatannya. Ia memeluk tubuhnya sendiri, dan mengangguk penuh keyakinan.

"Kita akan pergi kemana?"

"Kita akan mencari tempat pemujaan para penyihir wanita itu." Jawab Chanyeol tanpa ragu. "Dan artinya, aku harus bicara dengan Kris terlebih dahulu."

Alis Baekhyun terangkat kaget. "Dia tahu dimana tempat itu?"

Chanyeol tersenyum. "Tidak. tapi dia memiliki sesuatu yang kita butuhkan untuk menemui mereka."

"Apa itu?"

"Alat transportasi."

.

TBC

.