Previous
"Kemari Lu."
Dan setelahnya Luhan kembali ke pelukan Chanyeol dengan Kai yang juga merangkulnya. Merasa sedikit lebih tenang karena janji mereka berempat sewaktu kecil masih tetap terjaga sampai saat ini.
Janji keempat bocah enam tahun yang jari kelingking mereka bertautan di malam natal saat itu. Janji yang mereka jaga sampai saat ini berbunyi
Jika yang satu membuat kesal dan marah yang satu. Maka tugas dua yang lain adalah datang menghibur dan tidak meninggalkan sampai merasa dikecewakan atau marah merasa lebih baik.
.
.
.
.
.
.
.
Triplet794 Present new story :
My Forever Crush
Main Pair : Sehun & Luhan
Support pair : Kim Jongin, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Byun Baekhyun
Genre : Romance, Friendship, Family, Hurt/comfort
Length : Chapter(s)
Rate : T & M
YAOI
.
Typo(s)
.
DLDR!
.
.
.
.
.
Blam….!
"Ayo kita turun. Kita sudah sampai."
Merasa tak memperhatikan jalan membuat Luhan sedikit bingung karena kedua temannya membawa dirinya ke tempat yang jelas bukan asrama mereka. Membuatnya menoleh ke samping ke kanan dan ke kiri sebelum melihat ke arah Kai dan Chanyeol bergantian.
"Kita ada dimana?"
Kai sedikit tersenyum lalu kemudian keluar mobil terlebih dulu membukakan pintu untuk Luhan "Keluar lebih dulu." Katanya mengulurkan tangan untuk Luhan. membuat Luhan sedikit ragu sebelum akhirnya menerima uluran tangan Kai saat ini.
"Kau suka?"
Kali ini Chanyeol yang bertanya membuat Luhan semakin tak mengerti apa yang dibicarakan kedua temannya "Suka? Menyukai apa?"
"Rumah baru kita."
Keduanya merangkul masing-masing pinggang Luhan dan melihat kedepan rumah yang minimalis namun terlihat mewah karena design yang sengaja dibuat sesuai selera keempat penghuninya. Membuat Luhan semakin menaikkan kedua alisnya dan melepas masing-masing rangkulan kedua temannya.
"Rumah kita? Aku tidak mengerti-…Kenapa kita bisa memiliki rumah?" katanya bertanya membelakangi gedung mewah yang kedua sahabatnya katakan adalah rumah mereka dan semakin sakit kepala melihat tingkah Kai dan Chanyeol yang hanya tersenyum penuh arti padanya.
"Orang tua kita membelikannya untuk kita berempat. Dan isi didalamnya-…Sepenuhnya adalah uang kami bertiga yang kami belikan sesuai seleramu. Hitung-hitung sebagai hadiah ulang tahun."
"Lagipula rumah kita dekat dari universitas. Ya-…Walaupun harus tetap menggunakan mobil setidaknya ini masuk kawasan elite dan jauh dari suara kendaraan bermotor." Timpal Kai membuat entah mengapa sesuatu di dalam diri Luhan mendadak tak suka.
"Biar aku simpulkan-.." katanya menaikkan jari telunjuknya meminta kedua sahabatnya berhenti berbicara.
"Universitas apa? Aku bahkan belum memikirkan untuk melanjutkan ke bangku kuliah."
"Kau sudah-…Maksudku kami sudah mengurusnya dan kita akan memulai semester baru kurang dari dua bulan terhitung hari ini."
"Lalu kenapa aku tidak diberitahu?"
"Menurut kesepakatan kami dan orang tuamu. Kau tidak perlu diberitahu karena pasti akan menolak, dan mengingat biaya pendaftaran untuk masuk SM University sangat mahal. Maka kami harus memastikan kau hadir di hari pertama."
"Sial!" katanya menggerutu dan merasa begitu kesal karena lagi-lagi tidak dilibatkan dengan apa yang menyangkut masa depannya.
"Baiklah aku mungkin tidak masalah dengan terdaftar menjadi mahasiswa. Tapi apa maksudmu ini rumah kita? Kenapa kita harus tinggal bersama?"
"Kita lebih baik jika bersama-..Terutama untukmu."
"KIM JONGIN!"
Luhan merasa bersalah karena berteriak pada sahabatnya tapi mengingat semua keputusan ini sangat tiba-tiba membuat emosi Luhan kembali terpancing "Jangan kau bilang kita berempat yang kalian maksud adalah aku, Sehun dan kalian?"
"Ya benar."
"TIDAK! AKU TIDAK MAU-…AKU INGIN TINGGAL SENDIRI!"
Katanya meronta dan berniat pergi sebelum tangan kekar Chanyeol mencengkram erat lengannya "LEPAS YEOL!"
"Lalu apa?"
"Aku ingin pergi dan ingin sendiri. Aku tidak mau-…"
"TAPI KAU BENCI HIDUP SENDIRI!"
Untuk Luhan-..Chanyeol adalah sahabatnya yang nyaris tak pernah marah meladeni apapun sifat arogan yang Luhan tunjukkan. Selalu berusaha sabar untuknya dan memang terbukti selalu menjadi yang paling menenangkan di antara kedua lainnya. Tapi jika kau sudah melihat seorang Park Chanyeol yang biasa bersikap konyol tengah berteriak dengan wajah memerah,itu artinya kau telah melakukan kesalahan besar yang membuatnya marah –tidak- lebih tepatnya membuat seorang Park Chanyeol sangat kecewa.
"Hanya karena kau marah pada Sehun dan ingin berada jauh darinya-…Bukan berarti harus berada jauh dari kami juga kan? Kami sepenuhnya bukan Sehun-…Jadi aku mohon jangan seperti ini Lu. Kami hanya ingin menemanimu."
Kali ini Jongin yang bersuara, melepaskan cengkraman erat tangan Chanyeol dari lengan Luhan dan sedikit memohon pada teman kecilnya "Tapi kau tahu-…Sampai kapan pun kami tidak ada dalam daftar orang yang bisa membuatmu merubah keputusan. Hanya Sehun yang bisa melakukannya. Jadi kami tidak berhak memaksamu." Katanya sedikit mengusap wajah Luhan yang terlihat sangat kelelahan dan mengeras di waktu bersamaan.
"Kau hanya perlu mengingat jika kau butuh rumah untuk berlindung dan bercerita. Maka kami berada di dalam sana. Datanglah pada kami dan pulanglah ke rumahmu saat kau siap." Katanya memberitahu Luhan dan tak lama berjalan masuk kedalam rumah barunya.
"Tidak bisakah?"
Perhatian Luhan teralihkan saat pria yang baru saja membentaknya terlihat menatap menyesal dan memohon padanya. "Aku tidak akan memaksamu lagi. Maaf telah membentakmu." Katanya menyesal dan tak lama mengikuti Kai yang masih terlihat berjalan masuk kedalam rumahnya.
Luhan bisa saja membiarkan kedua temannya masuk ke dalam rumah baru mereka. Mengambil kesempatan untuk pergi menjauh dari ketiga temannya dan hidup dengan cara yang ia mau tanpa harus merasa bersalah karena terus membohongi ketiga temannya.
Tapi yang menjadi pertanyaan Apa Luhan bisa?-…. Apa dia bisa hidup tanpa campur tangan ketiga temannya. Karena semarah apapun Luhan pada ketiga temannya –terutama Sehun-. Luhan akan selalu mencari kedua yang lainnya. Selalu merasa sedikit tenang karena walaupun dalam kondisi tidak ingin berbicara dia masih bisa merasakan kehadiran ketiga temannya tanpa merasa rindu karena tak bertemu.
Luhan masih mengepalkan erat tangannya. Sedikit bertanya-tanya pada dirinya sendiri sebelum menggeleng menyatakan dia tidak bisa. Dia sama sekali tidak bisa menjalani hidup dengan baik tanpa ketiga pria nya yang selalu berada untuknya sejak kecil. Dan jika dia memaksakan diri maka satu-satunya yang akan menderita adalah dirinya sendiri.
"Aku ingin kamarku berjauhan dengan Sehun."
Langkah Kai dan Chanyeol seketika berhenti saat mendengar Luhan berteriak. Keduanya menoleh dan sedikit berharap kalau mereka tak salah mendengar apa yang diucapkan Luhan "Kau ingin apa?"
Luhan sedikit menghapus air matanya sebelum berjalan mendekati Chanyeol yang berada paling dekat dengannya "Aku ingin kamarku berjauhan dengan Sehun. Aku tidak mau sering berpapasan dengannya di dalam rumah. Itu syarat dariku dan aku akan tinggal dirumah itu –dirumah kita-." Katanya mengoreksi membuat wajah Chanyeol dan Kai seketika berbinar.
"Ya tentu-….Kamarmu berada di lantai dua. Sementara kami bertiga berada di lantai dasar." Gumam Chanyeol memberitahu Luhan yang merasa tertarik dengan posisi kamar mereka saat ini.
"Hanya aku yang berada di lantai dua?"
"Ya hanya kau Lu. Kami sengaja memberikan privacy untukmu."
Luhan tampak semakin tertarik dan tanpa sadar tersenyum mengangguk "Menarik-….umhh-.. Tapi bagaimana jika lampu padam atau hujan lebat dengan suara petir yang menyebalkan?"
"Kau memang akan sendiri berada di lantai dua. Tapi kami akan secara bergantian menemanimu sampai kau benar-benar terlelap." Gumam Kai yang kembali berjalan mendekati Luhan dan mengusak sayang surai Luhan yang terlihat sudah dalam mood nya yang baik.
"Hanya kau dan Chanyeol. Aku tidak ingin si Oh menyebalkan itu memasuki kamarku!"
"Apa kau yakin?"
"Ya."
"Kau yakin karena kau masih sangat marah padanya. Nanti pada akhirnya hanya Sehun yang akan diperbolehkan masuk kedalam kamarmu."
"Berhenti menggodaku atau aku-…"
"araseo-..Berhenti mengancam kami. Ayo kita masuk. Kau pasti suka dekorasinya. Kami sendiri yang buat."
Chanyeol memotong ucapan Luhan yang terus mengucapkan kata-kata kasar dan ancaman sedikit terkekeh sebelum akhirnya merangkul pundak Luhan untuk memasuki rumah baru mereka.
"Terimakasih sudah mau pulang." Gumam Kai yang juga merangkul pundak Luhan membuat Luhan mendongak menatapnya sekilas sebelum mengangguk mengiyakan. Merangkul masing-masing pinggang kedua sahabatnya dan berniat memulai cerita baru di rumah baru miliknya dan ketiga temannya yang memang terlihat seperti sebuah rumah untuknya.
"Kau pasti akan suka." Gumam Chanyeol membuka pintu dan
Guk..Guk..
Ketiganya disambut meriah oleh tiga anjing kecil yang tiga tahun terakhir ini tidak dirawat dengan benar karena semua pemiliknya tinggal di asrama. Dan peraturan di asrama adalah tidak boleh membawa hewan peliharaan membuat Sehun dan Kai terpaksa menitipkan anjing mereka pada pelayan dirumah. Dan saat keduanya dinyatakan lulu dari sekolah merekan-..Itu artinya mereka bisa membawa hewan peliharaan mereka untuk ikut tinggal di rumah baru yang akan segera mereka tempati.
Ketiga anjing lucu di depan Luhan memang milik Kai dan Sehun-… Tapi Luhan berani bertaruh dengan hidupnya jika dirinya lebih menyayangi Janggu, Monggu dan Vivi melebihi majikan mereka masing-masing. Dan semua itu terbukti dari respon ketiga anjing yang selalu menghampiri Luhan dengan bersemangat, membuat si pria cantik memekik senang dan tak lama berjongkok mencium rindu ketiga anjing kecilnya "Vivi-ya..Janggu. Monggu. Momma miss ya." Katanya mengusap gemas Janggu dan Monggu bergantian, menciumnya gemas sebelum beralih ke anjing berbulu putih yang tak sabar ingin dicium dan dielus sayang seperti kedua teman lainnya.
Luhan baru saja ingin mencium Vivi –anjing peliharaan Sehun- Namun saat melihat wajah Vivi dia tiba-tiba teringat wajah majikannya. Membuatnya sedikit mendengus lalu kemudian berdiri begitu saja mengabaikan wajah Vivi yang memelas.
"aigoo…Anak-anak Momma lucu sekali." Katanya menggendong kedua anjing Kai dan melenggang begitu saja meninggalkan si anjing berbulu putih yang kini menggonggong memelas.
"Yeol…"
"Apa?" katanya menoleh ke arah Kai yang kini menggendong Vivi di pelukannya.
"Luhan yang sedang marah benar-benar mengerikan. Dia bahkan tega meninggalkan Vivi sendiri." Katanya terkekeh dan mengusap sayang tengkuk Vivi yang terlihat memelas.
"Salahkan majikan Vivi yang membuat si nyonya marah besar."
"Semua memang salah Sehun. kau sabar ya nak. Poppa akan memberimu makan." Katanya mencium Vivi yang tiba-tiba diam dan tak memberikan respon seperti beberapa menit yang lalu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
cklek…!
Terdengar suara pintu rumah yang baru saja ditempati oleh keempat pemiliknya terbuka. Membuat dua remaja lain yang memang masih belum tidur sedikit menoleh dan segera berdiri mendapati teman mereka yang lain memasuki rumah dengan wajah yang terlihat kelelahan.
"Hey kau sudah pulang."
Sehun –si remaja tampan- yang disapa hanya mengangguk dan berjalan menuju ke dapur. Sedikit membuka lemari makanan untuk mencari gelasnya "Dimana gelasku?" katanya menoleh dan menatap Chanyeol yang berada paling dekat dengannya "Di deretan paling atas." Katanya menjawab dan tak sengaja melihat gelas Luhan yang di letakkan di samping gelasnya.
"Luhan sudah pulang?" katanya kembali bertanya dan menuang air ke dalam gelas miliknya.
"Masih tertidur. Dua belas jam berada di dalam pesawat membuatnya mengalami jet lag dan aku rasa wajar jika dia masih tertidur."
"Ditambah berada sendirian di pesawat-…Dia mengalami penerbangan yang mengerikan aku tebak." Timpal Kai sedikit menyindir Sehun membuat Sehun hanya diam dan menghabiskan air di gelasnya.
"Aku akan bicara dengannya." Katanya bergegas melangkah ke kamar Luhan sebelum Chanyeol berdiri menghalau jalan tepat didepannya "Wae?" katanya bertanya tak mengerti.
"Jangan sekarang-…."
"Apa yang jangan sekarang?"
"Jika kau ingin bertemu dengan Luhan jangan sekarang-..Kau tidak melihat wajahnya di bandara tadi. Dia benar-benar marah dan terpukul. Dia bahkan sempat menolak saat tahu kita akan kembali tinggal tahan dirimu dan jangan ganggu Luhanku saat ini."
Sehun ingin sekali mengabaikan ucapan Chanyeol dan hanya masuk kedalam kamar Luhan untuk meminta maaf. Tapi saat melihat kedua temannya benar-benar memperingatkan dirinya tentang keadaan Luhan, membuat Sehun menyadari kalau apapun yang sedang Luhan alami hari ini adalah benar-benar hal yang buruk. dan semua karena dirinya.
Sehun kembali menatap kedua temannya bergantian, sebelum akhirnya menghela dalam nafasnya "Baiklah." Katanya memijat keningnya dan tak lama duduk di sofa tepat di samping Kai.
"Harimu juga tidak menyenangkan huh?"
"Aku baik." Katanya membalas pertanyaan Kai sekilas lalu kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri membayangkan akan semarah apa Luhan padanya.
"Jiyeon bagaimana?"
"Dia belum sadarkan diri. Tapi dokter bilang dia akan baik-baik saja."
"Jangan terlalu memikirkan Jiyeon. Kau sudah melakukan sebanyak yang kau bisa." Timpal Chanyeol yang ikut duduk di samping Sehun dan menepuk pundak sahabatnya untuk menenangkan.
"Kalau saja Luhan seperti kalian-…Aku rasa aku tidak akan kebingungan dan merasa bersalah seperti ini." katanya menoleh bergantian ke arah Kai dan Chanyeol yang hanya tertawa mendengarnya.
"Sayangnya Luhan bukan kami. Dia tidak akan berbaik hati membagi cinta pertamanya dengan orang lain." gumam Kai terkekeh menyenggol kencang bahu Sehun.
"Dan entah mengapa. Aku rasa sifat arogan Luhan adalah alasan kenapa kita semakin menyayanginya."
"Kita tidak akan membiarkan dia merasa diasingkan."
"Semarah apapun Luhan-…Kita ada untuk diam dan mendengarkan."
"Jika kita membalasnya dipastikan akan ada perang dunia ke tiga." Timpal Kai membuat kedua yang lain tertawa membenarkan pernyataannya.
"Civil War…hmm?"
"Lebih dari itu. Bisa jadi Family War kkkk…"
Sehun pun hanya bisa ikut tertawa mendengar celotehan kedua temannya. Merasa begitu beruntung karena setidaknya disaat Luhan tak ingin bertemu dengannya. Dua temannya yang lain bisa bersikap netral dan tidak memojokan dirinya atau Luhan. yah-…Setidaknya ini pertemanan dewasa yang mereka miliki.
"Kalian benar. Aku hanya berharap kita bisa bersama selamanya."
"Kita sudah bersama sejak balita. Jadi kita harus bersama sampai rambut kita memutih." Gumam Chanyeol merangkul pundak Sehun sesekali mengerling Kai.
"Sampai anak-anak kita memiliki anak lagi dan anak mereka memanggil kita haraboji." Timpal Kai ikut merangkul pundak Sehun dan bersemangat membicarakan masa depan mereka.
"Bersama Luhan." gumam Sehun memberi pernyataan membuat Kai dan Chanyeol mengangguk menyetujui.
"Bersama Luhan." balas Keduanya bersamaan dan tak lama ketiganya pun mendongak menatap ke arah kamar Luhan. Sedikit berharap kalau teman kecil mereka terus bersama mereka apapun nanti yang akan terjadi. Tidak meninggalkan mereka dan terus hidup bersama seperti saat ini.
.
Dan disaat malam semakin larut. Rumah yang baru saja ditempati empat penghuninya terasa sepi karena para pemiliknya sudah terlelap di kamar masing-masing. Mungkin keempatnya juga sudah memiliki mimpi indah masing-masing karena hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak beraturan di ruang santai.
Ketiga penghuni lantai bawah mungkin sudah terlelap dan tak terganggu. Tapi tidak dengan si penghuni lantai dua yang mulai bergerak gelisah di dalam tidurnya. Tubuhnya terus berganti posisi ke kanan dan ke kiri, Dahinya mulai mengerut dalam, nafas pria berparas cantik itu tersengal sampai akhirnya
"Haaah..~!"
Si pria cantik tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Jantungnya masih tersengal dan berdebar kencang, nafasnya terputus dengan keringat yang membasahi dahinya. Membuatnya sedikit mencari cahaya karena hanya lampu temaram di kamarnya yang menyinari.
"Mimpi buruk?"
Luhan yang masih tersengal pun dengan cepat menoleh ke arah pintu, merasa begitu gusar melihat sosok yang belum lama meninggalkannya di Manchester tanpa satu kata patah pun sedang berdiri di depan pintunya. Memberikan cahaya yang Luhan butuhkan dan membuat nafasnya perlahan berhembus secara normal.
Biasanya Luhan memang tidak akan pernah bisa tidur di tempat baru untuknya. Entah itu rumahnya sendiri atau tempat asing yang benar-benar baru untuknya. Bukan karena dia pemilih tempat, tapi karena sedari kecil memang sangat sulit untuknya menyesuaikan diri di lingkungan baru. Hal itu terbukti dari mimpi buruk yang terus ia alami di tempat baru. Hampir semua orang tahu Luhan memiliki ketakutan di tempat baru. Tapi hanya ayahnya dan Sehun lah yang selalu Luhan perbolehkan untuk menemaninya di malam pertama.
Namun mengingat kejahatan tak berperasaan yang dilakukan teman kecilnya membuat Luhan bersumpah untuk tidak menerima bantuan pria menyebalkan yang kini tengah menatapnya. Dia bahkan lebih memilih untuk mendapatkan mimpi buruknya daripada harus menerima bantuan dari pria menyebalkan yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
"Bukan urusanmu!" katanya mencari sandal rumahnya dan berjalan melewati Sehun yang terlihat putus asa menatapnya.
"Luhan-…Aku rasa kita perlu bicara."
"….."
Luhan hanya diam tak menjawab dan menuruni tangganya sedikit terburu. Bergegas membuka lemari untuk mencari gelas yang biasa ia gunakan dan merasa kesal karena sama sekali tak tahu dimana gelas favoritnya diletakkan "Gelasku ada dimana." Katanya sedikit menggerutu dan membuka lemari gelas secara berulang namun tetap tak menemukan gelasnya.
"Kai…Yeol…Kalian meletakkan gelasku dima-.." katanya masih berjinjit untuk mencari dimana gelasnya diletakkan.
"Gelasmu disini."
Gerutuan Luhan terhenti saat Sehun berdiri tepat di belakangnya dan dengan mudah mengambil gelasnya yang berada di lemari paling atas "Ini." katanya menyerahkan gelas dengan gambar klub sepak bola favorit Luhan pada si pemilik gelas.
Sret..!
Luhan pun mengambil kasar gelasnya lalu bergegas melewati Sehun untuk menuang air ke dalam gelasnya "Luhan-…Aku minta maaf. Harusnya aku tidak pergi begitu saja."
Genggaman tangan Luhan di gelasnya semakin mengerat. Membuatnya meneguk kasar air yang berada di gelas lalu menatap marah pada teman kecilnya yang sudah menjadi pria pertama yang mengambil seluruh kepolosan dirinya "Apa aku terlihat seperti ingin mendengar penjelasan darimu?" katanya bertanya sinis membuat Sehun sedikit terdiam.
"Aku tidak sudi mendengar penjelasan darimu. Terlebih lagi karena gadis sialan itu!"
"Jiyeon tidak sialan Lu. Dia butuh bantuanku."
"ck. Terus saja membelanya!"
"Aku tidak membelanya. Aku mengatakan yang sebenarnya. Jiyeon sakit dan butuh bantu-.."
"DIAM!"
Sehun seketika menutup mulutnya saat Luhan tiba-tiba berteriak. Dan dengan kepala tertunduk pria cantiknya terlihat seperti terisak namun menggeram karena terlalu marah. Sehun berniat mendekatinya, namun saat kakinya mendekat, Luhan tiba-tiba mengangkat wajahnya dan memandangnya begitu terluka "Caramu memperlakukan Jiyeon sungguh membuatku muak! AKU SANGAT MEMBENCINYA TAPI AKU LEBIH MEMBENCIMU!"
Sekali lagi Sehun hanya bisa terdiam. Dia tidak tahu Luhan memiliki kebencian teramat untuk Jiyeon. Dia juga berani bertaruh kemarahan Luhan pada Jiyeon sama sekali tak beralasan, dan entah mengapa melihat Luhan yang begitu membenci seseorang seperti ini membuat Sehun menyadari kalau dirinya memang terlalu jauh mengusik pria cantiknya.
"Baiklah-…Baiklah kita bicara lain kali. Tapi aku mohon tenangkan dirimu. Jangan seperti ini hmm.."
"Jangan seperti ini?-…Jangan seperti ini bagaimana maksudmu? Jangan marah hanya karena kau pergi begitu saja meninggalkan aku? COBA RASAKAN MENJADI DIRIKU DAN KAU AKAN TAHU BAGAIMANA RASANYA DITINGGALKAN BEGITU SAJA!"
"Luhan-…hey sayang-..Maafkan aku-..Maaf aku-.."
"PERGI KAU! AKU MUAK MELIHAT WAJAHMU! PERGI!"
Cklek…!
Terdengar dua suara pintu kamar terbuka, menampilkan masing-masing pemilik kamar yang kini berlari ke arah dapur karena mendengar sura teriakan. Keduanya pun sedikit terkejut mendapati Sehun dan Luhan bahkan sudah bertengkar disaat waktu menunjukkan pukul dua pagi, membuat Chanyeol berlari ke arah Luhan sementara Kai hanya berdiri di antara Sehun dan Luhan yang masih bersitegang.
"Luhan kenapa berteriak?"
"AKU SUDAH BILANG AKU TIDAK MAU TINGGAL BERSAMA KALIAN LAGI. JANGAN MENGGUNAKAN ALASAN KARENA KITA BERTEMAN SEJAK KECIL DAN KALIAN BISA MENGATURKU SESUKA KALIAN!"
"apa salah kami?" gumam Kai yang sedikit terpancing karena teriakan Luhan yang sedikit banyak menyindir dirinya dan kedua temannya yang lain.
"LEPAS!" katanya masih berteriak dan meronta marah karena Chanyeol terus memeluknya erat dan menjauhkannya dari keberadaan Sehun.
"Luhan kenapa kau berbicara seperti ini? tenangkan dirimu Lu."
Dan berlawanan dengan keinginan Luhan yang terus meronta minta dilepaskan. Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya, menahan seluruh pukulan kencang yang diberikan Luhan sampai akhirnya pukulan tersebut melemah dengan suara isakan teratur yang terdengar dari pria cantiknya saat ini.
"Aku tidak mau tinggal disini." Katanya masih begitu terdengar emosi membuat ketiga yang lain hanya bisa diam kalau tidak mau kemarahan Luhan semakin menjadi.
Dan setelahnya suasana benar-benar menjadi canggung untuk keempat remaja yang tumbuh bersama sejak mereka balita. Menyadari kalau untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun mereka tidak menginginkan satu sama lain.
Pertanyaanya adalah setelah itu apa? Bagaimana kalau mereka benar-benar menjalani hidup masing-masing? Apa mereka lebih baik? Apa mereka akan hidup dengan bebas? Kalaupun iya-...Pada akhirnya mereka hanya akan saling merindukan dan mencari. Bukankah lebih menyakitkan jika kau merindukan seseorang tapi kau tidak bisa melihatnya?
Hal itulah yang sangat dihindari oleh Chanyeol, Kai dan Sehun. Sejenuh apapun hubungan yang mereka jalani sebagai teman. Tak membuat ketiganya lantas menyerah dan membiarkan pertemanan mereka berakhir begitu saja. Kenapa?-….Karena secara tidak langsung mereka berempat sudah memiliki ikatan batin yang unik dimana jika salah satu menghilang maka tiga yang lain akan terus mencari sampai yang mereka cari berada di depan mata masing-masing.
Katakanlah Sehun, Kai dan Chanyeol akan tetap menjalin hubungan walau hidup berjauhan, karena sedari awal mereka memang bertiga. Lalu bagaimana dengan Luhan?-..yah-..mengingat Luhan memilii sifat yang sedikit arogan. Membuat ketiganya yakin sekali mereka melepas Luhan, maka kemungkinan Luhan kembali pada mereka adalah-…tidak mungkin.
"Kau sudah tenang?"
Emosinya masih meluap, tapi dia tahu dia telah menyakiti ketiga temannya dengan ucapan yang dan teriakannya beberapa menit lalu. Membuatnya sedikit terdiam dan tak berniat menambah masalah, sebelum akhirnya mengangguk di pelukan Chanyeol
"Apa aku boleh mengantarmu ke kamar agar kau bisa kembali tidur?"
Luhan kembali diam sebelum akhirnya mengangguk membuat desahan lega jelas terdengar dari Chanyeol yang kini menatap kedua temannya "Baiklah aku akan mengantarmu tidur-…Hanya aku." Katanya menambahkan seolah mengingatkan Sehun untuk tidak mengganggu Luhan lebih jauh lagi.
Kedua temannya yang lain pun hanya diam tak merespon melihat Chanyeol membawa Luhan ke kamarnya. meninggalkan rasa hening yang tertinggal di dapur rumah mereka yang baru sampai akhirnya Kai menatap sedikit mengingatkan pada Sehun "Kau mengganggu Luhan terlalu jauh. Biarkan dia sendiri sementara." Katanya memberitahu Sehun dan tak lama kembali ke kamarnya. sedikit membanting pintu membuat Sehun terkesiap dan secara refleks melihat ke arah kamar Luhan "Maaf."
Dan seolah tak ada habisnya. Kata maaf itu terus terucap membuat Sehun merasa seperti troll bodoh yang tak bisa mengatakan kata selain Maaf pada Luhan. kata maaf yang terdengar lelucon untuk hal kejam yang ia lakukan pada teman kecilnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari tengah berganti dengan cepatnya dan selama pergantian hari itu pula Luhan masih dengan sikap tak bersahabatnya saat bertemu dengan Sehun-…Entah hanya saling menatap atau sekedar menyapa, Luhan tak pernah melakukannya. Yang dia lakukan hanya menjauhi Sehun sebanyak mungkin agar tak terjadi interaksi yang berlebihan antara keduanya.
Luhan membenci teman kecilnya? Membenci cinta pertamanya? Atau-…Membenci pria pertamanya?
Jawabannya tidak-..Luhan sama sekali tidak membenci pria tampan yang kini sedang membawa mobil disampingnya, dia hanya benci jika harus terus mengharapkan Sehun menjadi miliknya sepenuhnya tanpa harus berbagi Sehun kecilnya yang kini berubah menjadi pria dewasa tampan yang semakin digilai oleh orang di sekelilingnya.
"Kau terlihat luar biasa malam ini."
Yang dipuji hanya sedikit menoleh sebelum kembali melihat ke luar jendela, menolak segala interaksi yang bisa membuatnya terlalu bersemangat dan melupakan rasa kesal pada teman kecilnya "Jiyeon akan lebih luar biasa malam ini." Katanya menyindir membuat suara helaan nafas terdengar dari Sehun yang merasa selalu dipojokkan karena teman wanitanya.
"Lu…"
"Sudahlah. Kau terlalu banyak bicara." Katanya menyela membuat Sehun kembali tersenyum getir mendengarnya. "Aku senang kau mau mengikuti acara perayaan kelulusan di sekolah kita."
"Itu sekolahku juga. Jadi tidak perlu berterimakasih. Lagipula aku datang bukan karena aku ingin, tapi Kai dan Chanyeol terus memaksaku." Katanya menggerutu masih tak bergeming menatap pemandangan di malam yang sepi sampai merasa mobil Sehun tiba-tiba menepi dan berhenti di pinggir jalan "Kenapa berhenti?"
"Kenapa lama sekali? Biasanya kau tak pernah marah terlalu lama padaku."
Luhan menyadari nada suara teman kecilnya begitu berat dan putus asa, menatapnya dengan lirih sampai akhirnya Luhan kembali memutus kontak mata mereka dan tertawa marah mendengar pertanyaan Sehun "Aku bahkan memutuskan untuk tidak berbicara lagi padamu." katanya sinis membuat sesuatu dalam diri Sehun memberontak tidak terima.
"Apa karena Jiyeon?"
"Selalu karena Jiyeon." Katanya membalas membuat Sehun yang tertawa marah kali ini "Lalu aku harus apa? Meninggalkan Jiyeon? Seolah tidak peduli padanya? Membiarkan dia kesakitan dan tak menolongnya sama sekali? Atau aku harus membiarkan dia mati begitu saja? KATAKAN?!"
Luhan kembali terpancing emosinya saat ini menyadari perubahan nada Sehun menjadi tinggi membuatnya kembali menatap Sehun dengan tatapan yang jelas sudah sangat tersinggung dan marah "Kalau aku bilang iya. Kau akan melakukan apa?-...Aku ingin kau meninggalkannya, aku ingin kau tidak peduli padanya. Aku bahkan ingin kau membiarkan dia mati begitu sa-..."
"CUKUP!"
Seketika mulut Luhan tertutup saat Sehun berteriak memotong ucapan jahatnya. Merasa begitu berdebar menyadari kalau dia berbicara terlalu jahat membuat rona wajah Sehun memerah dan menatapnya berkobar. Si pria tampan itu bahkan terlihat menoleh ke jendela kaca untuk menenangkan diri, sampai akhirnya mata elangnya kembali menatap mata rusa Luhan yang masih mengobarkan rasa marahnya.
"Kalau kau bisa melakukan semua yang kau katakan padaku. Maka aku juga bisa melakukannya pada Jiyeon. Tapi jika kau tidak bisa meninggalkan, mengabaikan atau membiarkan aku mati. Maka aku juga tidak bisa melakukannya pada Jiyeon. Jelas?" katanya mendesis menyalakan kembali mesin mobilnya secara kasar dan tak lama
Brrmm...!
Sehun kembali menjalankan cepat mobilnya, membuat Luhan bersumpah ingin berteriak memaki pria disampingnya yang telah mengatakan hal begitu mengerikan mengenai bagaimana dirinya harus bersikap.
Luhan sangat mengerti tentang kalimat -jika kau tidak bisa meninggalkan, mengabaikan atau membiarkan aku mati. Maka aku juga tidak bisa melakukannya pada Jiyeon- yang baru saja dilontarkan Sehun. Tapi bagaimana bisa Sehun mengatakannya dengan begitu jelas untuk mengancamnya, membuat mata Luhan terasa begitu panas tak menyangka Sehun akan mengatakan hal yang begitu menyinggungnya.
Dia tahu dia bukan teman pertama yang Sehun temui. Dia juga tahu dia bukan seseorang yang memiliki penyakit yang bisa merebut perhatian Sehun seutuhnya. Tapi bisakah setidaknya dia tidak membela Jiyeon dengan begitu jelas. Sehun bahkan tahu Luhan sangat membenci Jiyeon, tapi yang terus dilakukan pria pertamanya hanya mengulan terus menerus bagaimana Jiyeon untuknya "Aku benar-benar membencimu Oh Sehun."
Sehun mendengarnya-...Namun daripada menanggapi kemarahan Luhan dia lebih memilih diam dengan menaikkan kecepatan mobilnya. Dia tahu dia kembali menyakiti perasan pria cantik yang hampir dua minggu ini terus mendiamkannya. Tapi merasa Luhan terlalu egois membuat sedikit banyak dirinya terpancing dan memutuskan untuk tidak mengatakan apapun yang semakin memperburuk hubungan mereka.
Blam...!
Sehun langsung meninggalkan Luhan seorang diri setelah mereka sampai di basement asrama mereka. Berjalan menjauh tanpa mengatakan apapun pada Luhan membuat si pria cantik menatap tak percaya teman kecilnya dengan air mata yang menetes cepat namun dihapus cepat pula oleh sang pemilik mata yang terus mengatur nafasnya agar tak berteriak memaki teman kecilnya yang terus membuatnya marah.
"Oh Sehun Kau-..."
Drrt...drrt...
Makian Luhan pada Sehun terhenti saat merasa ponselnya terus bergetar. Tergoda untuk mengabaikan getaran ponselnya sebelum akhirnya mengambil ponselnya cepat dan mendapati nama Taecyeon di layar ponselnya.
Luhan menghapus cepat air mata yang membasahi matanya sebelum menggeser slide ponselnya dan
"LUHAN!"
Belum sempat Luhan berbicara, Taecyeon sudah berteriak memanggil namanya membuat si pemilik nama sedikit mengernyit sebelum akhirnya berusaha tenang untuk bertanya "Kenapa berteriak?"
"Luhan cepat datang ke Namsan. Tempat pertama kali kita bertemu!"
Luhan pun dibuat semakin mengernyit menyadari suara Taecyeon yang terdengar begitu cemas "Ada apa?"
"Ini penting. Sungguh-...Aku menunggumu!" ujarnya berkata cepat dan
Pip..!
"TAEC-..!"
Luhan sedikit berterik sebelum kembali mengumpat marah karena Taecyeon benar-benar mengakhiri panggilannya begitu saja. "Sial! Aku harus bagaimana." Katanya kembali risau sebelum melihat mobilnya yang masih berada di basement asramanya terparkir indah di penglihatannya.
"Aku lupa aku memilikimu baby." Gumam Luhan membuka cepat dompetnya untuk mencari sesuatu "Yeah-..i got you!" Katanya memekik senang mendapatkan kunci mobilnya.
Dan daripada memikirkan bagaimana dia harus menghabiskan waktu berpesta. Luhan lebih memilih untuk segera menemui Taecyeon yang terdengar membutuhkannya.
Blam..!
Luhan membuka cepat pintu mobilnya. Sedikit ragu untuk pergi mengingat ketiga temannya berada disana. Dia tahu dia akan membuat masalah baru. Tapi dia juga tahu jika terus berada di keramaian seperti ini sedikit banyak akan membuat mood nya kembali buruk. Dan jika moodnya buruk, itu artinya Luhan akan mengacaukan pesta perpisahan dengan teman-teman satu angkatannya.
"Kalian semua pasti tidak menginginkan kehadiranku." Katanya sedikit tersenyum pahit dengan tangan yang menyalakan mesin mobilnya. Merasa sedikit ragu sebelum akhirnya
Brrmm...!
Luhan menyalakan cepat mobilnya dan pergi begitu saja tanpa berniat memberitahu salah satu dari ketiga temannya.
.
Sementara itu...
"Kau sendiri? Mana Luhan?"
Kai yang sedang tertawa dengan gadis cantik sedikit berjalan menghampiri Sehun dan bertanya padanya "Ada di basement. Chanyeol sedang menjemputnya." Gumam Sehun sedikit melonggarkan dasinya merasa hati dan kepalanya begitu panas mengingat pertengkarannya dengan Luhan.
"Kau baik?" gumam Kai memberikan segelas minuman yang langsung diambil cepat oleh Sehun.
"Kepalaku-..Rasanya kepalaku mau pecah." Gumamnya tersenyum getir dan menenggak cepat segelas air yang diberikan Kai untuknya.
"Jika ini berkaitan dengan Luhan. Aku tidak bisa ikut-.."
"SEHUN...KAI!"
Keduanya pun menoleh saat Chanyeol berlari ke arah mereka dengan tergesa, membuat keduanya menaikkan dahi sebelum akhirnya Kai bertanya lebih dulu pada Chanyeol "Ada apa?"
"Luhan pergi." Katanya terengah dan bersusah payah memberitahu kedua sahabatnya.
"Pergi?" gumam Sehun bertanya mengulang tak mengerti maksud Chanyeol.
"Dengan mobilnya."
"shit! Aku lupa mobilnya masih berada di asrama dan dia memiliki kunci cadangan mobilnya."
Diam-diam tangan Sehun mengepal erat. Merasa Luhan selalu berbuat sesukanya jika mereka sedang bertengkar hebat, dan ini sudah sangat keterlaluan menurutnya.
"Sehun-.."
"Biarkan saja. Kita memiliki perjanjian untuk tidak ikut campur kehidupan malam yang ia jalani kan? Terserahnya ingin melakukan apa. Aku nyaris tidak peduli." Katanya terdengar begitu dingin membuat Kai dan Chanyeol mengetahui keadaan setelah ini akan jauh lebih buruk dari sebelumnya.
"Kai-...Aku hampir tidak tahan dengan kita berempat." Katanya menatap punggung Sehun yang menjauh, membuat Kai sedikit tersenyum getir sebelum mengangguk menyetujui ucapan Chanyeol
"Aku juga."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Blam...!
"Luhan... kau sudah datang."
"Ada apa? Kenapa disini ramai sekali?"
Luhan yang baru sampai di sekitar Namsan Bridge pun sedikit menaikkan dahinya melihat banyak mobil sport yang sedang memasuki arena balap. Merasa bingung mengingat event selanjutnya baru akan dilakukan tiga bulan dari hari ini.
"Myungsoo, Taehyung, Woohyun dan Jungkook. Mereka meminta pada Sungjae untuk perebutan wilayah latihan kita di Songdo malam ini juga."
"Apa maksudmu?"
"Mereka mengatakan pada Sungjae bahwa tim kita mengalami penurunan performa. Dan sangat membuang uang jika tim kita terus berlatih di Songdo."
"Tapi kita sudah membayar Sungjae."
"Aku juga sudah mengatakan itu pada Sungjae. Tapi sepertinya L memberikan lebih dan aku rasa kita harus tetap ikut kualifikasi jika masih ingin memiliki Songdo sebagai wilayah kita."
"Kalau begitu berikan uang lebih pada Sungjae."
"Kita kehabisan uang Lu-...Terakhir kali uang yang kita miliki digunakan untuk memperbaiki mesin Jaehyun dan Mark. Maaf."
Luhan membuka jas putihnya dengan kasar lalu membuangnya asal sebelum kembali menatap Taecyeon sedikit cemas "Kapan kita harus menghadapi mereka?"
"Malam ini."
Luhan kembali dibuat pucat karena pernyataan Taecyeon yang hampir membuatnya menggila. Dia harus turun ke lapangan jika tidak ingin kehilangan tempat latihannya di Songdo. Karena tanpa tempat latihannya dia dan seluruh tim nya hanya akan turun ke "jalanan" tanpa persiapan dan rencana yang matang. Dia bisa saja membiarkan tempat latihan mereka diambil. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan semua teman-temannya yang memang membutuhkan uang.
"Baiklah! Lalu dimana yang lain?"
Kali ini Taecyeon yang terdiam, menatap Luhan denga sedikit rasa bersalah sebelum akhirnya memberanikan diri untuk berbicara "Kita tidak bisa melibatkan mereka Lu."
"Kenapa tidak bisa? Kemampuan mereka sudah di atas rata-rata."
"Aku tahu. Tapi untuk berhadapan dengan Jungkook, L, Namu, dan V, aku rasa itu bunuh diri. Mereka belum tahu Beat The Road (BTR) seperti apa Lu."
"Kau benar." Katanya menghela dalam nafasnya dan sedikit mengusap kasar wajahnya.
"Lagipula Sungjae memiliki peraturannya malam ini."
"Peraturan? Peraturan apa?"
"Salah satu dari kita harus finish di urutan pertama. Mereka tidak fokus pada BTR. Mereka fokus pada kita-..NFS."
"BTR akan melakukan segala cara untuk menyudutkan kita. Dia akan mengincar si pembalap yang ditargetkan mencapai finish dengan cara apapun termasuk membuat kita ditabrak atau bahkan membuat hancur mobil kita-...Tapi kau tenang saja, karena saat si pembalap nomor satu berusaha mencari garis finish. Pembalap nomor dua, tiga dan empat, akan melakukan segala cara agar BTR tidak bisa menyentuhmu atau mengganggumu mencapai garis finish."
"Pembalap nomor dua, tiga dan empat? Kau tidak lihat kita hanya berdua disini? Ini bunuh diri!." Katanya menggeram dan tak lama menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya.
"umh...Luhan."
Taecyeon tiba-tiba memanggil Luhan yang terlihat sangat marah saat ini, membuatnya sedikit ragu untuk mengatakan namun merasa harus untuk memberitahu si pembalap yang akan mencapai garis finish malam ini.
"Ada apa?' katanya masih bergumam masih memikirkan bagaimana caranya memenangkan kualifikasi malam ini.
"Kita tidak berdua malam ini-...Kita berempat." Katanya memberitahu membuat Luhan merasa Taecyeon sedang mengatakan lelucon konyol untuknya.
"Aku tahu kau gugup Taec. Tapi aku janji kita akan menang malam ini. bagaimanapun caranya."
"Tapi kita benar-benar berempat-...Aku menghubungi dua orang untuk membantu kita."
Pernyataan Taecyeon kali ini berhasil menarik perhatian Luhan, membuatnya mengangkat wajah dan menatap bingung pada Taecyeon "Apa maksud-..."
Ckit...
Ckit...
Dan bersamaan dengan pertanyaan tak terjawab yang Luhan lontarkan. Terlihat dua mobil yang terlihat sangat familiar untuk Luhan berhenti tepat di samping mobilnya, membuat Luhan berdiri dan sedikit berdebar menebak siapa yang dihubungi Taecyeon untuk membantu mereka.
"Ok Taecyeon-...Jangan bilang kau menghubungi mereka-.."
BLAM...!
"Menghubungi siapa Lu? Menghubungi kami?"
Dan tebakan Luhan sepenuhnya benar mengenai mobil yang begitu familiar dengan si pengemudi yang satu persatu keluar dari mobilnya. Membuatnya sedikit mengepalkan tangan tak terima menerima bantuan dari dua penghianat yang telah meninggalkannya hampir satu tahun lamanya.
"Kalau kau menebak Taecyeon menghubungiku dan Baekhyun-...Maka seperti biasa-...Tebakanmu selalu benar Lu."
Adalah DO Kyungsoo-...Partner pertama Luhan yang menguasai mesin dan beberapa fitur tambahan untuk mobil sebagai backup rencana mereka di lapangan yang berbicara. Sedikit menatap lama Luhan dan mengenang masa kejayaan mereka sewaktu menjadi partner.
"Kau banyak berubah Luhan. Dan aku merindukanmu. Aku juga akan membantumu malam ini" Katanya memberitahu Luhan yang seluruh wajahnya memerah saat ini.
"Cih! Menjijikan sekali! Kau bilang merindukan aku? Aku lebih baik kalah daripada menerima bantuan kalian."
"As always-..Our Lu is always being our Mad Lu"
Dan kali ini seorang bernama lengkap Byun Baekhyun yang berbicara. Partner Taecyeon di lapangan yang selalu bisa mengalihkan perhatian lawan dengan skill mengemudinya yang jauh di atas rata-rata, sedikit tersenyum menatap Luhan yang masih memandang mengerikan ke arahnya.
"Luhan kita membutuhkan bantuan Baekhyun dan Kyungsoo. Aku mohon jangan membuatnya sulit malam ini."
"Aku tidak menerima bantuan dari penghianat!"
"Wow! Kau menyakiti hatiku Lu." Gumam Kyungsoo tertawa pahit sebelum akhirnya berjalan mendekati Luhan "Kau yang menghianati janji kita. Kau Luhan-...Bukan kami!" katanya menatap balas tatapan mengerikan Luhan dengan sama mengerikannya malam ini.
"Asal kau tahu! Kalau bukan karena Taeyong, Jaehyun, Mark dan Ten. Kami tidak sudi membantumu. Aku tidak tahan dengan sikap aroganmu!"
"Kalau begitu silakan pergi. Aku dan Taecyeon sudah mengurus NFS dan Basecamp dengan baik tanpa bantuan kalian!"
"KAU YANG BERBOHONG PADA KAMI. KAU BILANG AKAN DATANG MALAM ITU. TAPI APA? KAU LEBIH MEMILIH BERSAMA TEMAN-TEMANMU DAN MEMBUAT KAMI MENGALAMI KECELAKAAN MENGERIKAN MALAM ITU! KAU YANG PENGHIANAT BUKAN KAMI!"
Baekhyun berada pada batas kesabarannya melayani sikap arogan Luhan yang tak pernah mau disalahkan. Mengingat bagaimana terakhir kali mereka bekerja sebagai tim dan kekurangan anggota karena Luhan tak pernah datang malam itu, kerusakan mesin dan kehilangan arah dalam rencana-...semua itu adalah penyebab kecelakaan yang hampir membuat Baekhyun dan Kyungsoo meregang nyawa.
"Dan kalau kau ingat kami juga pendiri NFS dan Basecamp kita. Jadi kau tidak boleh merusak sejarah Lu."
Kyungsoo kembali menatap marah pada Luhan, sedikit mendesis sebelum akhirnya berjalan kembali mendekati mobilnya "Jam berapa kualifikasi dimulai Taec?"
"Lima belas menit lagi kita harus sampai di start line."
"Kalau begitu cepat masuk mobilmu dan jangan buang waktu." Katanya memberitahu Taecyeon dan tak lama
Brrmmm...!
Kyungsoo adalah orang pertama yang menuju lapangan meninggalkan ketiga temannya yang masih bersitegang.
"Luhan-...Kali ini aku mohon padamu. aku menunggumu disana." Taecyeon juga masuk kedalam mobilnya, sedikit menatap memohon pada Luhan sebelum
Brrmm...!
Dia meninggalkan Luhan dan Baekhyun di tempat berkumpul mereka, menyusul Kyungsoo sebagai pembalap nomor dua untuk NFS.
"Ini tempat pertama kali bertemu. Dan di tempat ini pula kau mengingkari janji untuk datang menyelesaikan tournament kita. Aku marah padamu dan bersumpah untuk tidak memaafkanmu-...Aku dan Kyungsoo datang kesini untuk NFS bukan untukmu. Jadi kau tetap akan menjadi leader kami malam ini." katanya memberitahu Luhan sambil berjalan mendekati mobilnya dan tak lama masuk kedalamnya.
"Kali ini kau harus datang. Aku menunggumu Boss Lu." Gumam Baekhyun menutup jendela kaca mobilnya dan
Brrmm...!
Dia menyusul Taecyeon dan Kyungsoo sebagai pembalap nomor tiga dari NFS yang akan bersiap.
Meninggalkan Luhan sendiri disana. Meninggalkan si pria arogan yang bahkan menolak disalahkan atas kecelakaan yang menimpa kedua sahabatnya, menolak meminta maaf karena terlalu merasa bersalah dengan akhir harus kehilangan kedua sahabatnya yang memutuskan untuk pergi meninggalkannya dan Taecyeon malam itu.
Dan alasan kenapa Baekhyun dan Kyungsoo meninggalkan NFS malam itu adalah karena mereka terus menerus menyalahkan Kai dan Chanyeol tanpa mengetahui apa yang terjadi hari itu. Membuat Luhan terlampau geram dan tak sengaja berkata kasar dan menyakiti perasaan kedua temannya.
Baekhyun dan Kyungsoo pergi dalam keadaan murka malam itu-...Bersumpah untuk tidak memaafkan Luhan dan tak akan pernah kembali lagi ke NFS. Tapi apa yang terjadi malam ini? kedua sahabatnya kembali bahkan dengan senyum di wajah mereka.
Membuat Luhan tak memiliki alasan untuk marah lebih lama dan memutuskan untuk berjalan masuk kedalam mobilnya. Sedikit ragu untuk menyusul ketiga temannya dengan tangan yang mencengkram erat kemudi mobilnya. Sedikit tertunduk memikirkan ketiga temannya yang mungkin sedang berpesta malam ini. "Maafkan aku." Gumamnya menyalakan mesin mobil dan
Brrmm...!
Luhan menjadi orang keempat yang akan menyusul ketiga temannya. Berusaha mempertahankan milik mereka tanpa harus terluka atau mengeluarkan uang malam ini.
.
tobecontinued
.
Do Kyungsoo-...hadir!
Byun Baek-..Hadir!
Kim Myungsoo-..Hadir!
Kim Taehyung-...Hadiir!
Jeon Jungkook-..Hadir!
Dan akhirnya orang2 tdf keluar semua :"" kkkkk
.
Finally bisa diupdate sebelum weekend. Kan kalo gini kemungkinan entangled apdet bisa weekend. Kemungkinan loh ya. Masih belum bisa janjiini
.
.happy reading review. seeyasoon
