Licorice

Naruto by Masashi Kishimoto

Story by DarkChoffa™

Warning : Alternative Universe, Out Of Character, Typo, Membosankan, Banyak Percakapan, Penuh Adegan Drama, etc.

Rating : T

Pairing : Neji-Ino, Neji-Tenten

~Diwajibkan membaca Hang dulu, latar cerita ini berasal dari sana.~

~Terinspirasi dari drama favorit author : Full House, Flower Boy Boyband dan Nana~

~Anggap saja tampilan Neji itu mirip Takumi Ichinose 'NANA'~

~Kalau sifat mesumnya mirip Neji di Naruto Road to Ninja~

DON'T LIKE? DON'T READ!

Yang nggak suka nggak usah baca -_-

No Copy Paste

Ceritanya gaje, jadi nggak perlu di copy paste. Nanti nyesel doang!

Enjoy Reading

Tekan tombol back kalau kalian merasa bosan.

Part 7

Neji dan Ino kembali ke rutinitas mereka seperti biasa. Tangan Neji sudah dinyatakan membaik semenjak kejadian tak terduganya bersama Ino. Neji kembali sibuk dengan kegiatan bandnya sedangkan Ino berfokus menyiapkan bahan untuk skripsinya. Hubungan mereka masih sama. Mereka masih sering bertengkar dan berdebat.

.

.

.

Tenten tersenyum senang memandang kumpulan poster Aranch di kamarnya. Tenten tak berhenti tersenyum. Ayahnya, Danzou menuruti permintaannnya kali ini. Tenten merapikan dandanannya. Ia merapikan dress mini berwarna merah maroon miliknya. Cantik sekali—Tenten memuji dirinya sendiri di depan cermin besar kamarnya.

Setelah selesai berdandan, Tenten turun ke lantai bawah rumahnya. Disana Ayahnya sudah menunggu lama. Lelaki tua berumur 50 tahun itu tersenyum tipis melihat putrinya menuruni anak tangga rumah mereka. Wajah cantik putrinya malam ini mengingatkannya kembali pada almarhum istrinya.

"Kau sudah siap sayang?" Danzou bertanya pada putrinya.

Tenten mengangguk, "Tentu saja papa, ayo kita berangkat sekarang."

Mereka berdua akhirnya berjalan keluar manshion tempat mereka tinggal. Mereka masuk ke dalam mobil pribadi mereka dan mobil itupun pergi menjauh dari manshion.

.

.

Ino membantu Neji memasang dasi. Ia terus menggerutu kesal. Neji kesulitan memasang dasi. Pria itu berasalan dia jarang memakai pakaian formal, jadi urusan memakai dasi dirasanya cukup sulit untuk dilakukan sendiri. Setelah dasinya terpasang rapi, Neji mengambil jas hitam miliknya. Dia memakai jas itu dengan benar dan rapi.

Ino tak berhenti menatap kagum ke arah Neji. Pria itu berubah 180 derajat dari biasanya. Ia jarang melihat Neji dengan tampilan formalnya. Malam ini Neji terlihat istimewa dengan balutan tuxedo hitamnya. Rambut Neji disisir rapi kebelakang. Kesan maskulin bertambah karena penampilannya kali ini. Ino semakin kagum pada Neji.

Neji gusar karena sedari tadi Ino terus menatapnya tanpa berkedip, "Berhenti melamun bodoh"

"A-ppaa? aku tak melamun. Yang benar saja?" Ino terkaget karena omongan Neji barusan. Ia berusaha menyangkal perkataan Neji.

"Aku akan pergi sekarang. Jangan lupa kunci semua pintu rumah."

"Tentu saja. Hati-hati di jalan."

'Cup'

Neji mengecup singkat bibir Ino. Neji tersenyum menyeringai. Ino hanya diam mematung dengan wajah memanas karena perlakuan tiba-tiba pria itu. Pikirannya melayang entah kemana. Selanjutnya ia tak sadar jika Neji sudah pergi menjauh keluar rumah.

.

.

.

Malam ini Neji berencana melakukan makan malam bersama ayahnya. Semula Neji menolak ajakan ayahnya ini. Tapi karena bujukan dari Ino dan Ibunya, Neji mau mengikuti acaran makan malam ini. Dia tak tau pasti alasan ayahnya mengajak makan malam. Tapi Ino terus membujuknya. Ino beralasan tak ada salahnya menerima ajakan ini. Mungkin hubungan renggang Neji dengan ayahnya selama bertahun-tahun akan membaik karena acara makan malam ini.

Neji berada di sebuah restoran mewah. Dia duduk bersebelahan dengan seorang gadis yang jauh lebih muda darinya. Gadis itu terus tersenyum ramah padanya. Neji gusar dengan sikap gadis itu. Dia hanya diam tanpa membalas senyuman gadis berwajah china itu. Neji hanya menatap datar sekelilingnya. Dia memasang tatapan dingin yang menyebalkan. Dia benar-benar tak suka situasi seperti ini.

Ibu Neji di seberang meja terlihat bingung dengan suasana ini. Ia tak menyangka. Hiashi akan mengajak orang lain untuk makan malam bersama keluarganya. Masami mencium gelagat tidak beres Hiashi kali ini. Instingnya sebagai seorang Ibu berkata seperti itu. Masami dan Hiashi memang tidak dekat. Walaupun mereka sudah menikah puluhan tahun, Masami tetap menjaga jarak dengan suaminya. Hiashi adalah orang yang keras kepala dan tertutup. Mereka jarang berbicara empat mata. Hiashi tak pernah mengajak Masami untuk berunding dalam menyelesaikan masalah. Masami tak tau alasan pasti kenapa dulu ia menerima pinangan Hiashi. Masami tak pernah punya keinginan yang muluk, ia hanya ingin menjadi ibu rumah tangga biasa yang bisa membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

Neji memasang tatapan membunuhnya. Dia mengumpat dalam hati berulang kali. Seharusnya dia menolak ajakan ayahnya jika berakhir seperti ini. Keluarga Neji adalah tipikal keluarga yang memegang erat tradisi dan tata karma. Ayahnya secara turun temurun mewarisi sikap angkuh, sombong dan berkuasa dari leluhurnya. Mereka juga memegang prinsip kolot yang sangat dibencinya. Mungkin alasan itulah yang membuat Neji cukup membenci adik pertamanya, Hinata. Ia memiliki sikap yang sama dengan ayahnya.

"Neji, kau pasti sudah mengerti alasan kenapa aku mengajakmu makan malam" Ayah Neji berkata dengan suara beratnya. Neji hanya diam sambil menatap balik Ayahnya. Dia terlalu malas berbicara dengan pria tua itu. Neji malah dengan santainya melanjutkan acara makannya.

"Kami berdua berencana menjodohkanmu dengan putri kami, Tenten" Danzou menambahkan perkataan Hiashi.

Masami, Hinata dan Hanabi terkejut mendengar ucapan lelaki tua itu. Sedangkan Neji tak terlalu terkejut dengan pembicaraan ini. Dia sudah menebak kejadiannya akan seperti ini. Neji menghentikan acara makannya, dia meletakkan garpu dan sendok dengan kasar. Neji bangkit dari tempatnya duduk. Dia beranjak pergi dari meja tempatnya makan. Dia pergi tanpa berpamitan. Semua orang menatapnya bergantian. Secara tak langsung Neji menolak acara perjodohan ini.

Hiashi mengepalkan tangannya erat. Emosinya berada di puncak ubun-ubun. Putra satu-satunya itu mempermalukannya lagi. Dia tak tau kenapa putra yang dulunya dia banggakan menjadi seorang yang pembangkang seperti ini. Padahal Hiashi merasa dia sudah mendidik Neji dengan sebaik mungkin.

Hiashi meminta maaf pada Danzou karena perlakuan tak mengenakan putranya. Danzou memakhluminya. Danzou berkata mungkin Neji masih perlu waktu untuk lebih mengenal Tenten. Tenten sendiri hanya tertunduk lesu sambil meremas ujung dress mininya. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Pria yang ia idolakan sejak remaja secara terang-terangan menolaknya. Ia meneteskan air matanya saat itu juga. Akhirnya, acara makan malam kedua keluarga tersebut berakhir dengan rasa canggung yang cukup tak mengenakkan.

.

.

Ino duduk di depan jendela kamarnya di lantai dua. Ia termenung sambil menatap langit malam yang penuh bintang. Pandangan mata Ino menangkap pemandangan lautan luas di depannya. Angin malam yang dingin tak menyurutkan niatnya untuk tetap berdiam diri di sana. Ia mengingat kembali kehidupan yang sudah ia jalani selama satu tahun ini. Tentang Ibu dan kakaknya yang menghilang tanpa kabar. Ino terus mencari mereka. Namun hasilnya tetap nihil. Ia juga semakin bingung dengan hubungan ambigunya bersama Neji. Perlakuan Neji akhir-akhir ini membuatnya semakin gila. Mereka semakin menghapus batasan-batasan antara seorang perempuan dan laki-laki. Ino merasa dirinya sudah terlalu jauh melangkah. Ia yakin ia harus segera mengakhiri ini semua sebelum terlambat.

Sudah hampir 6 tahun berlalu sejak peristiwa Ino dikejar anak buah Pain. Ino ingat benar peristiwa itu. Seorang laki-laki seumurannya menolongnya. Ia tak terlalu mengingat wajah laki-laki itu. Ia hanya ingat laki-laki itu berwajah tampan dengan rambut hitam pendek yang terkesan berantakan. Dia juga jauh lebih tinggi darinya. Ino samar-samar mengingatnya. Suasana malam yang gelap saat itu membuat memorinya memburam.

Ino ingin tahu siapa sebenarnya laki-laki itu. Diam-diam Ino berharap ia akan bertemu laki-laki itu lagi. Ino berharap laki-laki itu akan hadir dalam kehidupannya saat ini. Ino akui ia terlihat seperti perempuan bodoh. Ia mencintai laki-laki yang entah rupanya saja tidak ia tahu. Ino terkena cinta pada pandangan pertama karena pertolongan laki-laki itu.

Ino terlalu lelah untuk mencari pria itu. Banyak orang sudah ia tebak sebagai pria penolongnya. Sebenarnya Ino berulang kali menebak pria itu adalah Neji. Tapi ia selalu menepis perasaan itu. Mereka terlihat sama. Mereka sama-sama memegang posisi sebagai seorang gitaris—Ino ingat, dulu pemuda itu bilang ingin menjadi seorang gitaris. Tapi ia tak mau berspekulasi terlebih dahulu. Mungkin Neji hanya sekilas mirip dengan penolongnya. Ino yakin, suatu hari nanti jika memang Tuhan menakdirkan, mereka pasti dapat bertemu kembali.

.

.

Hiashi tak bisa berpikir tenang saat menyelesaikan proyeknya. Sahamnya semakin hari semakin melonjak turun. Industri perhotelan yang selama ini dia kelola mengalami pemerosotan dan sepi peminat. Masalah ditambah dengan sikap putranya yang liar dan bebal. Dia sudah cukup menerima saat putranya memutuskan pergi dan menolak menjadi pewaris perusahaan. Tapi peristiwa malam kemarin kembali mencoreng nama baiknya. Hiashi sebenarnya punya rencana lain dibalik perjodohan Neji dan Tenten. Hiashi terkejut saat pertama kali Danzou menawarinya untuk melakukan perjanjian ini. Putri Danzou tergila-gila pada putranya. Seharusnya Hiashi merasa beruntung dengan perjanjian ini. Perusahaannya pasti akan membaik keadaannya dan akan stabil lagi. Sikap Neji membuatnya khawatir dan merasa serba salah. Danzou memang terlihat baik-baik saja dihadapannya, tapi dia yakin Danzou punya balasan yang setimpal untuknya. Berurusan dengan keturunan Shimura memang memiliki resiko tinggi. Jika tak terangkat tinggi ke atas tentu saja jatuh sangat keras dan menyakitkan ke bawah.

Hiashi berulang kali membolak-balikan kertas kerjanya. Dia mengalami stress. Tiba-tiba dia mencengkram erat jas kerjanya. Lelaki 50 tahun itu terlihat kesakitan. Jantungnya terasa sakit sekali. Rasanya seperti diremas. Dia berkeringat dingin. Tangannya meraba-raba laci meja kerjanya dengan panik. Dia mencari obat untuk menghilangkan rasa sakitnya. Dia tak menemukan apapun di sana. Rasa sakitnya semakin menjalar. Sakit sekali. Dia semakin mencengkram erat dadanya. Pandangan matanya semakin mengabur.

'Brug'

.

.

Ino berjalan tergesa melewati lorong kampusnya. Ia terlihat ketakutan. Ia berjalan dengan cepat. Ino menabrak puluhan mahasiswa tanpa meminta maaf. Ino benapas lega setelah hampir mencapai gerbang keluar fakultasnya.

"Kyaaaaaaaaaaa!" Ino berteriak kencang.

"Apa aku mengagetkanmu Ino-nee?" Kiba muncul secara tiba-tiba didepannya.

"K-kau..disini?" Ino tergagap karena orang yang sengaja dihindarinya muncul tepat dihadapannya.

"Apa kau ada acara setelah ini Ino-nee?" Kiba menanyainya dengan muka penasaran.

"T-tentu saja, aku punya banyak acara setelah ini." Ino beralasan.

Kiba menggigit bibirnya. Dia sedikit kecewa dengan pernyataan Ino.

"Ahh.. Ino-nee pasti sedang sibuk menyusun skripsi. Mungkin lain kali saja kita bisa pergi bersama" Kiba berujar dengan nada sedikit kecewa.

Kiba akhir-akhir ini memang selalu mendekati Ino. Ia menunjukkan rasa sukanya padanya. Ino sendiri cenderung risih saat didekati Kiba. Ia kembali teringat Gaara. Pria yang cukup membuat hatinya sakit. Mereka berbeda, tentu saja. Kiba terlihat polos dan baik. Tapi Ino tak mau lagi berurusan dengan laki-laki. Rata-rata mereka adalah pembual yang hebat. Berurusan dengan seorang Neji saja sudah membuatnya hampir gila. Ino ingin berfokus saja mengumpulkan uang agar bisa segera membeli rumah Neji. Dengan begitu ia akan terbebas dari beban pikiran dan obsesinya terhadap pria tampan bermata lavender itu.

.

.

Seorang pria berambut hitam klimis melepas kacamata hitamnya. Dia mengendarai mobil cup terbukanya dengan tampang angkuh penuh kesombongan. Ditatapnya kota Tokyo yang telah banyak berubah selama 5 tahun ini. Meninggalkan Tokyo selama itu ternyata membawa banyak perubahan yang tak terduga. Tokyo bertambah maju dari sebelumnya.

"Ino..aku datang untukmu. Mungkin aku terlambat satu tahun dari rencanaku. Tapi aku rasa tak ada kata terlambat untuk kita bersama."

Pria itu kembali tersenyum menyeringai.

.

.

.

Neji terduduk setelah menyelesaikan latihan rutinnya bersama Aranch. Dia meneguk sebotol air mineral. Saat memperhatikan anggota lain sedang berkemas di ruang latihan, ponselnya bergetar. Neji mengangkat panggilan telepon yang masuk itu.

"Tumben kau menelponku, Hinata."

"Hiks..hiks..Neji-nii..Daddy…hiks..hiks..dia…hiks"

"Hei, bicaralah dengan jelas!"

"Daddy…D-daddy ada di rumah sakit. Penyakit jantungnya kambuh lagi. A-aku.."

"A-pa? Kambuh lagi? Dimana dia sekarang? Berhentilah menangis. Aku akan kesana."

"Daddy ada di Tokyo hospital. Hiks..hiks.."

Neji segera menyambar kunci mobilnya di meja dorm. Dia berlari tergesa. Anggota Aranch yang lain hanya menatapnya acuh. Mereka sudah bosan dengan perilaku serampangan leadernya ini.

.

.

Suara bising kendaraan terdengar di telinga Ino. Ia menengok lewat jendela besar rumahnya di lantai dua. Sebelah rumahnya terlihat ramai. Terlihat banyak orang berada di depan rumah kosong tersebut. Truk barang berjejer rapi. Barang-barang dalam truk diangkut ke dalam rumah itu. Ino yakin sebentar lagi ia akan memiliki tetangga baru. Ia tak sabar melihat seperti apa tetangga barunya itu. Semoga tetangganya itu adalah orang yang menyenangkan.

.

.

Hiashi berbaring lemah di ruang rawat intensif. Neji melihat perkembangan ayahnya dari balik kaca besar rumah sakit. Ibunya terus menangis. Adiknya, Hanabi berusaha menenangkan ibunya. Sedangkan Hinata hanya menatap datar sekeliling. Dokter sudah bekerja semaksimal mungkin. Penyakit jantung ayahnya kembali kambuh tadi siang. Beruntung nyawa Hiashi masih bisa diselamatkan.

"Daddy harus menjalani operasi, kita harus mencari pendonor jantung segera mungkin" Hinata berujar pada Neji, "Nii-san, bolehkah aku memohon satu hal padamu?"

Neji menatap Hinata. Pikirannya berkecamuk. Walaupun dia tak punya hubungan baik dengan ayahnya, dia masih menghormati pria tua itu. Dan tentang adiknya, walaupun dia membenci adiknya, Neji masih tetap menyayanginya.

"Nii-san tolong terima perjodohan ini. Aku menggantungkan masa depan keluarga kita padamu. Aku yakin keadaan daddy akan membaik jika sekali-kali nii-san menuruti permintaannya"

"Ck..perjodohan itu tak semudah yang kau bayangkan anak kecil! Itu menyangkut masa depan" Neji menasehati Hinata.

"Aku tahu itu, tapi keadaan daddy sedang kritis. Tak ada yang mengelola perusahaaan keluarga kita sekarang. Aku yakin nii-san tak akan mau menggantikan posisi daddy untuk memimpin perusahaan. Aku belum siap untuk mengambil alih perusahaan daddy" Hinata menatap Neji dengan mata berkaca-kaca. Adiknya itu mulai menangis.

"Kau menyuruhku untuk menjadi tumbalmu begitu?" Neji menjawab dengan nada sinis.

"Dari kecil aku selalu kagum padamu nii-san. Daddy selalu membanggakanmu. Kau selalu mendapat posisi sempurna di matanya. Tapi kau tak pernah sekalipun membalas pengorbanan daddy. Bahkan karenamu aku melupakan cita-citaku untuk menjadi seorang pianis. Aku memilih membantu daddy untuk mengurus perusahaannya."

"Itu pilihan hidupmu! Resikonya tentu saja kau tanggung sendiri!"

"A-aku belum siap untuk mengurus perusahaan ayah untuk sementara waktu ini. Aku mohon! Bantulah aku nii-san! Terimalah perjodohan ini untuk sementara waktu."

Hinata terus memohon pada Neji. Gadis 21 tahun itu menangis sambil berlutut di depan kakaknya. Neji tak pernah melihat adiknya seperti ini. Dia melihat sisi lain dari adik yang dibencinya. Hinata adalah sosok pendiam yang jarang berinteraksi dengannya. Dulu, ayahnya selalu membanggakannya dan mengesampingkan Hinata. Gadis itu selalu menjadi nomor dua. Karena perlakuan tak adil ayahnya, Hinata tumbuh menjadi sosok asing bagi Neji. Hinata selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk ayahnya dan menganggap Neji sebagai saingannya.

Saat Neji memutuskan menjadi seorang musisi dan melupakan tugasnya sebagai penerus perusahaan, Hiashi kecewa padanya. Saat itu juga, Hinata muncul sebagai dewi penolong untuk ayahnya. Ia mau menjadi penerus perusahaan ayahnya dan mengubur dalam-dalam cita-citanya sejak kecil untuk menjadi seorang pianist. Hinata ingin ayahnya mengakui keberadaannya. Walaupun dalam hati kecilnya, ia sangat membenci pekerjaan ayahnya ini. Hinata menjalani pekerjaan ini dengan paksaan. Sikapnya yang bermuka dua, membuat Neji membencinya. Neji ingin Hinata menjadi Hinata dulu, adik perempuannya yang manis dan ceria. Bukan Hinata yang egois dan tersiksa hidupnya.

.

.

.

Ino menata masakannya di atas meja makan. Tercium aroma menggoda dari shabu-shabu yang dimasaknya. Ia melirik jam dinding. Pukul delapan malam. Ino mengedarkan pandangannya. Dilihatnya Neji berjalan menuju meja makan dengan tampang datarnya. Ino menyerngit bingung.

"Besok aku akan mengunjungi pameran lukisan di gedung pusat kota. Menurutmu aku ke sana jam berapa?" Ino berbicara sambil memakan nasi di mangkuknya.

"Terserah" Neji menjawab dengan asal.

Ino menatap Neji. Pria ini terlihat seperti memiliki masalah.

"Kau ada masalah?"

"Ya. Ayahku kembali kambuh sakit jantungnya" Neji mulai bercerita. "Dia kambuh karena aku menolak perjodohan yang dia rencanakan untukku"

"Perjodohan?" Ino terkejut.

"Menurutmu sebaiknya aku terima perjodohan ini atau aku tolak saja?"

Hati Ino mencelos mendengar penuturan Neji. Pria itu bercerita tentang masalahnya. Tentang ayah, adik, perusahaan ayahnya dan perjodohan. Ia bingung untuk memberikan solusi. Ino ingin rasanya menyuruh Neji menolak saja perjodohan ini. Tapi Neji bukan siapa-siapa untuknya. Ia hanya bisa memberikan solusi seperlunya. Ia tak ingin terlihat memiliki sifat aneh di hadapan Neji.

"Aku rasa menerima perjodohan itu tak buruk juga. Hidupmu akan tenang dan tak ada masalah lagi. Kau bisa berfokus pada Aranch" Ujar Ino.

Ino meruntuki dirinya sendiri. Ia menyuruh Neji untuk menerima perjodohan ini. Alasannya simple. Jika Neji menerima perjodohan ini, dia tak perlu repot-repot mengurus perusahaan ayahnya. Apalagi sekarang Aranch sedang dalam masa aktif setelah perilisan album mereka. Neji pasti akan sibuk dengan bandnya. Pria itu tak mungkin mengorbankan Aranch. Yang kedua, Neji setidaknya membantu Hinata yang sedang tertekan karena masalah perusahaan. Hubungan renggang mereka mungkin akan membaik. Ketiga, Perusahaan Hyuuga corp. akan membaik dan stabil karena akan dibantu Danzou. Banyak keuntungan yang bisa diambil. Setidaknya itulah yang Ino pikirkan. Sedangkan Neji cukup menerima usulan ini.

Ino merasa dirinya sebagai pihak jahat disini. Ia terlihat sebagai provokator. Tapi ia melihat sisi positif yang bisa diambil Neji. Ino sebenarnya kecewa saat Neji menerima usulannya. Bahkan Neji tak menanyakan bagaimana perasaan Ino saat ini. Ia sedih saat tahu Neji akan menerima perjodohan ini. Cepat atau lambat Ino pasti akan melihat Neji bersanding dengan wanita lain. Ia semakin yakin untuk pergi menjauh dari hidup Neji. Untuk apa mengharapkan seorang pria macam Neji jika hati Ino hanya merasakan sakit dan harapan kosong. Ia yakin pasti ada pria lain yang lebih baik dari Neji.

.

.

Tenten semula selalu terlihat murung sejak acara makan malam bersama keluarga Hyuuga. Ayahnya sangat khawatir dengan putri semata wayangnya ini. Namun rasa khawatirnya sudah hilang. Putrinya kembali ceria seperti dulu. Tenten sedang bahagia. Pria bernama Neji menghubunginya tempo hari. Pria itu meminta maaf karena perlakuan kasarnya saat acara makan malam. Pria itu bahkan mengajaknya makan malam berdua sebagai tanda permintaan maaf. Hati Tenten berbunga-bunga hanya karena peristiwa itu. Mereka makan malam berdua dua hari lalu. Itu adalah moment tak terlupakan untuknya. Neji adalah pria yang mempesona. Dia terlihat sangat sempurna di mata Tenten. Rasa sukanya bukan hanya rasa suka seorang fans terhadap idolanya. Rasa sukanya lebih condong ke arah obsesi seorang wanita kepada seorang lai-laki.

"Adik kecilku sedang melamunkan apa ini?"

"Sai-gege?" Tenten terlonjak kaget melihat kakak sepupunya berdiri di depannya. "Kapan kau pulang? Kenapa tak memberi tahuku terlebih dahulu?"

"Aku sudah pulang kesini sejak seminggu lalu. Maafkan aku. Aku terlalu sibuk mengurus pameran lukisanku."

"Ahh…sekarang kau selalu sok sibuk. Saat aku ke Prancis saja, sangat sulit bertemu denganmu" Tenten memukul Sai dengan lengan kanannya.

"Yah, akukan sedang sibuk di sana."

"Selamat Sai-gege. Aku dengar dari papa kau sudah menamatkan S2-mu di Pranciss. Hebat sekali kau! S1 kau selesaikan 3 tahun, selanjutnya kau selesaikan S2-mu selama 2 tahun."

"Itu semua butuh kerja keras dan usaha Tenten."

"Oh ya, kau sepertinya senang sekali. Ayo ceritakan kebahagiaanmu itu!"

Tenten langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Sai. Ia membisikkan sesuatu pada Sai.

"Kau sudah punya pacar?"

Tenten mengangguk, "Dia sangat mencintaiku Sai-gege. Cepatlah cari pacar! Susul aku" Tenten tertawa. Sai hanya membalas tawa Tenten dengan senyumannya.

.

.

Hari ini Ino memakai dress selutut berwarna kuning cerah. Ia membiarkan rambutnya tergerai dengan aksesoris bando orange yang cantik. Ino juga membawa tas punggung kecil berwarna coklat tua miliknya. Ia menenteng buku catatan kecil di tangannya. Ino berjalan sepanjang jalanan pusat kota Tokyo. Hari ini ia berniat berkeliling kota Tokyo untuk mencari inspirasi bahan skripsinya. Sebenarnya ia sudah putus asa mencari bahan skripsi. Ino ingin memilih menyelesaikan novel romance-crimenya yang hampir jadi saja. Uang hasil penerbitan novelnya kali ini pasti banyak. Ia yakin akan menjadi kaya raya. Ia bisa membeli rumah Neji secepatnya. Ino tersenyum. Lagi-lagi ia berkhayal yang tidak-tidak.

Ino memutuskan akan mengunjungi pameran lukisan di gedung pusat kota. Seniman-seniman seluruh Jepang menunjukan karyanya disana. Ino penasaran dengan pameran itu. Ia ingin sekali mengunjungi pameran itu, tapi waktunya selalu tak tersedia untuk kesana.

Ino masuk ke ruang pameran. Ratusan lukisan terpajang disana. Ino menatap takjub setiap lukisan yang terpajang. Ia meneliti lukisan itu satu persatu. Ino sangat antusias sekali. Ia sangat menyukai pameran ini. Lukisan penuh seni memenuhi ruangan ini. Ino mencacat setiap hal yang menurutnya menarik. Tak lupa ia memotret setiap lukisan yang dianggapnya indah dan menarik perhatiannya.

Ino terkagum saat melihat salah satu lukisan disana. Ia melihat lukisan tentang potret seorang perempuan berambut blonde di sebuah padang bunga yang indah. Ino terpana melihat lukisan satu ini. Ia seperti melihat potret dirinya dalam lukisan itu.

"Lukisan ini saya selesaikan dua tahun lalu di Prancis"

Ino menoleh ke sumber suara. Rombongan wisatawan mengelilingi sebuah lukisan di sebelahnya. Seorang pria berambut hitam terlihat menerangkan bagaimana jalan cerita lukisan itu. Ino tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu. Ia mendekati gerombolan itu. Perlahan gerombolan itu meyebar dan pergi. Setelah gerombolan itu pergi, Ino memfokuskan diri melihat lukisan yang membuatnya penasaran. Lukisan seorang wanita yang terlihat sama seperti lukisan sebelumnya. Tapi kali ini lukisan portrait. Lagi-lagi Ino menyebut lukisan itu mirip lukisan tentang dirinya. Indah sekali lukisan itu.

"Aku melukis wanita yang sangat aku cintai. Aku mencintainya dari dulu hingga sekarang" Ino mendengar suara seorang pria mengajaknya berbicara. Ino tetap berfokus pada lukisan yang diperhatikannya. Ia tak menoleh ke arah pria yang mengajaknya bicara tersebut.

"Beruntung sekali wanita itu…"

"Tentu saja. Kau adalah wanita yang beruntung."

Ino menolehkan wajahnya ke arah pria itu. Matanya melotot seketika. Di depannya berdiri Shimura Sai dengan senyum palsunya. Pria yang membuatnya ketakutan 5 tahun yang lalu. Pria yang berjanji akan kembali ke dalam hidupnya 4 tahun setelah kelulusan SMA. Ini sebuah mimpi buruk bagi Ino. Badan Ino tiba-tiba merasa gemetar merasakan kehadiran Sai. Ia ketakutan. Sangat ketakutan. Perlahan, Ino berjalan mundur dari tempatnya berdiri. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Ino semakin berjalan mundur…mundur….mundur perlahan…lalu ia berlari kencang menjauhi area pameran itu.

Bersambung….

Ho..ho..ho

Akhirnya chapter ini berakhir dengan gaje… se-gaje authornya. #lupakan

Author berterima kasih kepada siapa saja yang sudah meluangkan waktu untuk mereview cerita ini. Untuk cerita ini author bakal bikin banyak orang jadi orang ketiga, tapi porsi mereka kecil-kecilan. Author lebih mengutamakan hubungan antara Neji dan Ino. Oh ya, cerita ini nggak bakal sad ending. Author nggak suka sama cerita yang endingnya sad. Memang sih, ending sad itu lebih mengena di hati dan pasti akan terus diingat.

Author pernah baca fanfic Neji-Ino (lupa judulnya), itu jamannya author masih jadi silent reader. Author suka sekali sama fanfic itu. Tapi sayang sekarang fanficnya sudah dihapus sama authornya. Author selalu mengikuti perkembangan fanfic itu dari awal hingga akhir. Keren banget ceritanya. Tapi endingnya itu bikin nyesek. Neji lebih memilih incest bareng Hinata dan meninggalkan Ino. Ino yang kecewa malah mati ketabrak…hu..hu..hu… author sampai nggak bisa tidur semalaman karena kepikiran ending cerita itu. Sad ending memang menguras pikiran.

Untuk Gaara yang OOC, emang gitu kok sifatnya disini, author bikin dia jadi nista #tertawa jahat…lagi pula author sudah bikin warning OOC… tapi author bakal usahain buat bikin dia jadi gak OOC..

Untuk alur yang kecepetan, author sendiri bingung. Itu adalah salah satu masalah yang cukup sulit author pecahkan. Menulis suatu scene dengan porsi yang pas cukup membingungkan, terlalu pendek dianggap tak menjiwai cerita, sedangkan terlalu panjang jadinya moler-moler tak jelas.

Latar cerita disini, usia mereka rata-rata 20 tahunan keatas, author sebenernya males kalo bikin cerita dengan umur belasan tahun. Hello? Di usia segitu belum waktunya mereka mikir cinta-cintaan yang porsinya menurut author cukup berat. Mereka lebih pantas belajar, menuntut ilmu yang bener dan mikirin masa depan. Untuk usia belasan tahun, Author lebih tertarik dengan kisah persahabatan atau kisah cinta ringan yang sesuai porsi. Author nggak suka kalau mereka sampai lemonan atau jodoh-jodohan. Apalagi sampai nikah, hamil terus punya anak, sedangkan mereka sendiri belum berpenghasilan tetap dan masih bergantung sama orang tua (?) Author yakin mereka terlihat tua sebelum waktunya. Kalau diusia 20 tahun ke atas, author merasa mereka sudah pantes buat kaya gitu. Mereka sudah bisa berpikir ,bertindak dan mencari nafkah. Dan tentunya sudah lepas dari pengawasan orang tua #apaaan coba? -_-

Yang berniat, silahkan REVIEW.

Author butuh saran dan kritik untuk kelancaran dan keberhasilan cerita ini