Gundam SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yoshiyuki Tomino, Hajime Yatate SUNRISE
"Don't Take Him!"
By Setsuko Mizuka
Rate : T
Genre : Friendship and Romance
Pairing : CagalliAthrunXX and LacusKira
Warning : Gaje, OOC (mungkin), AU, Typo(s)!
Summary : Iya, banyak yang tertarik juga dengannya, termasuk si Meyrin. / Jangan sebut nama Meyrin di hadapanku. / Ath, buka FB deh. / Memang ada apa di FB? / Sudah buka saja. Ada sesuatu yang menarik di sana. / KUMOHON! JANGAN MENDEKAT! / Update Chap 7!
~ Chap 7 : About Meyrin and Cagalli's Afraid ~
"Ugh, Mama menyebalkan! Kenapa mesti ikut Papa sih! Kenapa tidak di rumah bersama anakmu yang manis ini? Anakmu ini kesepian tahu dan untung saja ada Cagalli-chan yang mau menemaniku." Suara melankolis plus narsis layaknya seorang aktris terkenal yang tengah memainkan suatu drama terdengar oleh kedua telinga gadis berambut pirang sebahu dari ruang tamu.
"Bisakah kau tak memanggilku dengan suffix-chan?"
Si sumber suara pertama tertawa mendengarnya.
"Huh, kalau tahu begini, aku takkan mau menginap di rumahmu." Cagalli –nama gadis berambut pirang tersebut– berdecak kesal. Ekspresi di wajahnya terlihat lucu. Bibirnya manyun beberapa centi dengan wajah dibuat-buat serius dan datar. Kedua tangannya sengaja ia lipat di depan dada karena sudah jadi kebiasaannya ketika tengah marah.
"Aiiih, jangan cemberut gitu dong," Lacus tersenyum geli, "wajahnya jadi jelek lho."
"Bodo," ketus Cagalli.
Lacus tahu, kembaran dari –ehem– gebetannya ini hanya bercanda. Ia pun duduk di samping Cagalli setelah menaruh nampan berisi dua gelas jus strawberry dan setoples cemilan ke atas meja. "Cag, kau lapar tidak?" tanyanya.
"Tidak terlalu. Kalau kau lapar, makan saja dulu sana."
"Kau kan juga belum makan malam, Cag."
"Aku tidak lapar."
"Temani ya?" pinta Lacus dengan wajah childish sambil tersenyum. "Tapi kau juga harus makan." Melihat Cagalli ingin protes, gadis berambut light pink itu sudah menyela. "Aku tidak terima penolakan."
Cagalli mendengus kesal.
"Ayo, kita makan! Pelayanku sudah menyiapkan makan malamnya."
Lacus menarik Cagalli untuk pergi ke ruang makan yang berada tepat di samping tempat keduanya berada –ruang keluarga–. Seorang pelayan laki-laki berumur 50 tahunan tersenyum dan menyapa majikan beserta sahabat majikannya itu. "Malam, Hime-sama, Cagalli-sama."
"Malam, Arthur-san." Cagalli membungkuk hormat.
"Jii-san, apa makan malamnya sudah siap?" tanya Lacus.
"Sudah siap sejak beberapa menit lalu, Hime." Arthur tersenyum sambil menarik kursi untuk majikannya dan Cagalli duduki. Lelaki itu menyiapkan semuanya dengan rapi dan teliti. Masakannya pun tak kalah enak dengan masakan Nyonya-nya. Cagalli hanya tersenyum begitu mulai menyantap makan malamnya bersama Lacus. Dilihatnya Arthur sedang sibuk membersihkan peralatan dapur di tempat cucian piring.
"Arthrur-san sudah makan?" tanya Cagalli.
Arthur menengok. "Ah, saya bisa makan nanti saja, Cagalli-sama. Saya belum lapar."
"Tapi ini sudah malam, tidak baik makan telat. Kata Kaa-san, jika makan telat, lambung Arthur-san bisa rusak. Emm, bisa terkena penyakit maag juga lho. Daripada menyembuhkan lebih baik mencegahnya sejak awal kan?" Perkataan panjang lebar dari Cagalli yang selalu ia ingat dari sang ibu, tentu saja membuat Arthur tersenyum lebar. Sungguh bahagia pasti punya anak seperti Cagalli, pikirnya mengingat kebaikan serta keberanian si gadis Hibiki ini.
"Terima kasih atas perhatiannya, Cagalli-sama. Tapi sungguh, saya belum lapar."
"Tak apa, Jii-san. Lebih banyak lebih ramai. Ayo makan bersama."
Kini si majikan yang sudah diasuhnya sejak kecillah yang mengajak.
"Ku mohon. Ya, ya, ya?" Lacus memasang tampang memelas.
Arthrun sungguh tak bisa menolak tatapan memohon dari Lacus. Begitu lucu dan selalu membuatnya luluh. Ya Tuhan, mengapa aku tak bisa menolak? tanya Arthur dalam hati sambil menangis terharu. Sungguh drama sekali penghuni rumah Clyne ini. "B-baiklah, saya tak bisa menolak lagi. Terlebih dengan tatapan seperti itu dari Hime-sama," pasrah Arthur.
Lacus tersenyum lebar dan Cagalli hanya mengangguk.
Ketiganya pun makan dengan khidmat diiringi suara dentingan piano yang entah dari mana itu asalnya (kenapa drama banget sih dari awal! #Author tepar#). Bodo amat soal piano, yang terpenting sekarang selesaikan makan malam ini lalu mengerjakan tugas rumah Bahasa Sastra! pikir Cagalli seraya mengangguk-angguk pelan disela acara makan malamnya bersama Lacus dan Arthur. Gadis yang satu ini kadang memang lupa dengan tugas rumah jika tidak langsung ia kerjakan di sekolah.
Acara makan malam selesai, Lacus dan Cagalli memilih untuk ke kamar Lacus yang luasnya lebih dari luas kamar si kembar tak identik. Berhubung Lacus hanya anak tunggal dari keluarga Clyne, jadi yaaa gitu deh (Readers: apa banget sih ni Author nulis).
"Sudah mengerjakan tugas Sastra, Lacus?"
Lacus menengok sambil menutup pintu kamar. "Sastra?"
"Iya. Ada tugas, kan?" Cagalli bersimpuh di atas karpet berbulu abu-abu.
"Ah iya, aku baru ingat. Belum sih, untung kau ingat," kata Lacus.
Cagalli hanya mengangguk dan mencari buku pelajaran yang dimaksud untuk ia kerjakan karena tugasnya dikumpulkan besok. Begitu ketemu, ia langsung menaruh di atas meja kecil berbentuk persegi panjang di depannya (AN: anggap aja meja yang biasa ada di anime-anime, contohnya di Doraemon, eh?). "Aku tak bisa Sastra," erang Cagalli setelah menatap sampul buku.
"Hihi, biar kubantu." Lacus tersenyum sambil ikut duduk berhadapan dengan Cagalli. Beberapa buku serta tempat pensil ia taruh di atas meja. Keduanya pun mengerjakan tugas dengan serius sambil sesekali bercanda.
"Hei, Cagalli."
"Hmm?"
"Bagaimana menurutmu tentang Athrun?"
Deg! Pertanyaan Lacus membuat gerakan Cagalli terhenti. Mata amber-nya menatap Lacus tajam dengan alis mengernyit. "Bagaimana apanya?" tanya Cagalli sedikit tidak mengerti. Kenapa harus Athrun Zala si Tuan Menyebalkan yang ikut masuk ke dalam pembicaran ini? pikirnya kesal. Mendengar namanya saja sudah membuat Cagalli kesal dan hei! Apa-apaan itu tadi! Jantungnya kembali berdetak keras dan lebih cepat dari sebelumnya.
"Yaaa, begitulah. Menurut sudut pandangmu, bagaimana Athrun itu?"
"Kenapa harus Athrun yang dibicarakan? Seperti tak ada yang lain saja."
Lacus menyangga dagunya dengan tangan kiri. Mata blue-gray bak anak balita tengah meminta balonnya menatap sahabat baiknya yang sedikit salah tingkah dengan terus menulis tanpa memandangnya. "Oh ayolah, Cagalli. Aku penasaran nih."
"Penasaran apanya? Aku tak mengerti."
"Kau ini, nggak asyik ah!"
"Memang," singkat Cagalli tanpa berhenti menulis.
"Aku penasaran soal pendapatmu tentang Athrun. Kalau kuperhatikan dengan seksama, kalian itu serasi dan saling tertarik satu sama lain." Lacus tersenyum misterius melihat tubuh Cagalli diam sesaat. "Dia juga baik, perhatian, dan... perfect."
"Huh? Perfect katamu? Nggak salah?"
"Iya, banyak yang tertarik juga dengannya, termasuk si Meyrin."
Cagalli menatap tak suka pada Lacus. "Jangan sebut nama Meyrin di hadapanku."
"Kenapa?" heran Lacus mendengar perkataan Cagalli. Jujur saja, ia tahu kalau gadis berambut pirang ini memang tidak suka. Author tekankan sekali lagi Cagalli tidak suka pada Meyrin, sahabat kecilnya sendiri. Namun Lacus sama sekali tak pernah tahu apa penyebabnya sampai Cagalli seperti orang pendendam begini. Kira juga tak memberitahukannya, jika ditanya pasti laki-laki itu tertawa dan berkata 'lebih baik jangan tanya padaku, tanyakan langsung saja pada orangnya'.
"Tidak penting."
Jleb!
"H-hei, Cagalli. Sahabatmu ini benar-benar penasaran tahu," rengek Lacus(?).
Mata amber-nya menatap mata Lacus. "Apa untungnya aku menjawabnya? Hanya masa lalu dan itu sama sekali tidak penting. Hanya membuatku kesal saja," kata Cagalli dengan nada kesal.
Wajah Lacus cemberut. "Jahat kau, Cag," rajuknya.
"Lebih baik penasaran daripada menyesal nantinya."
"Menyesal? Memang apa yang akan kusesalkan?"
Cagalli melirik pada Author. "Jangan tanya kenapa karena aku hanya disuruh oleh Author sialan yang tak bertanggungjawab untuk berbicara seperti itu." (#Author nyengir gaje# sudah! kembali ke cerita sana!)
"Benar kau ingin tahu?"
Lacus mengangguk cepat.
"Kenapa kau tidak minta belikan saja pada Arthur-san?"
Gubrak!
"Itu makanan, Cagalli... MAKANAN!" Empat sudut siku-siku muncul di kening Lacus. Wajahnya memerah menahan rasa emosi pada si calon –ehem– adik ipar. Ia memilih menghela napas. Tenang... tenang... okay! Orang seperti Cagalli tidak akan menurut jika memakai kekerasan dan emosi, pikir Lacus sambil teringat pada dialog suatu aktor di drama yang pernah ia tonton (Readers: drama lagi, drama lagi).
"Kau ini jadi orang terlalu penasaran ya?"
Lacus tersenyum. "Kalau kau tidak mau bercerita juga tak apa sih."
"Kau yakin?" tanya Cagalli dan dibalas anggukan. "Bagus kalau begitu."
"E-e-eh?"
Cagalli memutar kedua bola matanya karena dihentikan Lacus. "Oh ayolah, Lacus. Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan tugas sialan ini. Tubuhku terlalu lelah," katanya dengan tatapan memelas.
Lacus cemberut dengarnya.
"Okay, okay. Aku akan jawab." Dan pada akhirnya Cagalli menyerah.
"Hehe, sebenarnya kenapa kau tak suka sahabat kecilmu itu?"
Cagalli bercerita sambil menulis dan tanpa menoleh pada Lacus. "Ceritanya panjang, mungkin aku akan menjawabnya secara ringkas. Aku tak suka padanya karena... masa lalu. Saat perayaan tertentu di kota tiap tahunnya, aku dan dia selalu memakai baju yang sama. Dia selalu mengikutiku dan aku muak! Memangnya dia siapa aku sampai semuanya harus sama, kembaranku bukan dia tapi Kira! Kenapa harus dia yang sama denganku, seolah-olah kami itu yang kembar. Aku benci!"
"Cagalli..."
"Dulu aku pernah menginginkan sebuah motor matic dan kau tahu apa yang terjadi?" Melihat Lacus menggeleng, Cagalli melanjutkan. "Sebelumnya aku menceritakan keinginanku itu padanya karena aku terlalu senang. Tanpa diduga setelah aku pulang dari rumah Ojiisan, motor idamanku sudah ada di teras rumahnya. Menyebalkan!" Cagalli menatap bukunya kesal.
Lacus menaikan sebelah alisnya. "Hanya itu?"
"Konyol ya?"
"A-ah, bukan begitu! H-hanya saja, itu kan kekanak-kanakan."
Cagalli mendengus. "Ada lagi yang lebih konyol menurutmu, tapi tidak untukku."
"Apa itu?" tanya Lacus penasaran.
"Hanya hal kekanak-kanakan saja."
Melihat Cagalli sedikit tersinggung dengan komentarnya tadi, membuat Lacus jadi tak enak hati. Tapi kalau dilihat secara baik-baik, permasalahannya memang sangat sepele. "Maaf, Cag. Komentarku tadi menyinggungmu, tapi masa cuma karena itu kalian jadi seperti ini? Cara pandangmu seolah-olah dia adalah musuhmu."
"Memang."
"Eh?"
"Apa?" tanya Cagalli datar sambil menoleh.
Lacus tersenyum penuh arti dan ia yakin Cagalli bergedik ngeri melihatnya. "Maksudmu musuh dalam cinta, hm?" Cagalli memandangnya tidak mengerti. "Di awal aku kan sudah bilang padamu, Meyrin pasti tertarik dan menyukai Athrun," jelas Lacus.
"Musuh yang kumaksud itu berbeda dengan musuh yang kau maksud."
"Ah masa?"
"Ya, kau tak percaya?"
"Kita lihat saja nanti. Aku bertaruh apa yang kukatakan menjadi kenyataan."
Cagalli mengedikan kedua bahunya, menganggap apa yang dikatakan Lacus hanya angin lalu. Apa? Musuh dalam cinta? Maksudnya musuh untuk memperebutkan seorang Athrun Zala yang menyebalkan itu? Konyol sekali. Begitulah pemikiran singkat Cagalli mengenai omongan Lacus. Nothing impossible in the world, apa kau melupakan pepatah itu, Miss Cagalli?
Beberapa menit berlalu dengan keheningan.
Lacus yang baru saja selesai mengerjakan tugas Sastra-nya baru sadar kalau sahabatnya –Cagalli– sudah selesai dari tadi. Mata blue-gray miliknya menatap Cagalli yang sepertinya ketiduran di atas tumpukan buku-buku tugasnya.
"Hihihi."
Seringaian bak seorang iblis muncul di wajah Lacus.
Klik!
Gadis bermahkotakan rambut light pink itu mengambil gambar Cagalli dengan ponsel Blackberry-nya dan tanpa menunggu lagi, ia langsung meng-upload-nya ke situs jejaring Facebook. Sebelum mengunggahnya, Lacus menyempatkan diri untuk mengedit dengan menambahkan blink-blink di sekitar wajah Cagalli. Terlihat manis sekali foto itu, apalagi wajah Cagalli yang manis sangat mendukung.
"Kawaii," gemas Lacus sambil mencubit pelan pipi gadis berambut pirang tersebut.
GUNDAM SEED/DESTINY
Seorang laki-laki berambut dark blue dengan iris mata emerald tengah menggerutu pelan di dalam apartemen mungilnya yang sangat berantakan. Apartemen itu dipenuhi gulungan-gulungan kertas di sana-sini. Entah apa yang ia tulis di kertas-kertas tersebut semalam. Athrun –namanya– hanya bisa mendesah pelan sambil memunguti satu persatu gulungan kertas yang hampir menyerupai bola-bola tenis itu.
"Pemborosan kertas ini sih namanya," gumam si Zala.
Drrrt! Drrrt!
Ponsel Blackberry Aries (azeeek... #Author dibekep#) miliknya bergetar, pertanda ada e-mail masuk. Athrun menghentikan aktifitasnya untuk sementara dan mengecek siapa yang mengirimkan e-mail di saat ia sedang sibuk membersihkan apartemennya setelah berbelanja dari supermarket.
Ath, buka FB deh.
Athrun mengernyit membaca e-mail dari Kira.
Reply: Memang ada apa di FB?
Tak lama kemudian balasan dari Kira datang. "Sudah buka saja. Ada sesuatu yang menarik di sana," bacanya pelan. Sok misterius sekali Kira, seperti adiknya yang memang sudah misterius, pikir Athrun. Ia pun menurut dan membuka jejaring sosialnya.
Beranda
Lacus Queen Pink menambahkan foto baru di album MY PHOTOS
[Foto Cagalli tengah tertidur pulas yang diambil Lacus tadi dengan background blink-blink editan Lacus]
10 detik yang lalu . 29 suka . 2 komentar
Athrun terpaku sebentar melihat foto Cagalli.
E-mail dari Kira membuat laki-laki itu kembali ke alam nyata. Manis ya Cagalli kalau lagi tidur. Athrun tidak membalas, ia justru kembali menatap beranda Facebook dan melihat komentar-komentarnya.
Kira Found Freedom waw! Manis sekali adikku! :3
Lacus Queen Pink Manis mana sama yang upload? :P
Kira Found Freedom ah, susah sekali memilihnya. Mungkin dua2 nya?
Lacus Queen Pink Kok dua2nya? Pilih salah satu donk! XD
Athrun Prince Zala manis yang difoto kurasa... -/-
Kira Found Freedom yang upload deh, kaya nya :D wew! Si calon adik ipar juga komen. Wkwkwk!
Athrun Prince Zala URUSAI YO!
Lacus Queen Pink ^/_/^ arigatou Kira... hihi, komen yang bagus Tuan Athrun Zala. :D
Athrun Prince Zala ah, makasih... sangat tersanjung saya, Queen Pink...
Kira Found Freedom bisakah kau tak memanggilnya seperti itu, Tuan Zala yang menyebalkan? =3=*
Athrun Prince Zala eh? Ada yang marah ternyata... :P dan hei! Jangan ikut2an adikmu yang selalu memanggilku Tuan Zala yang menyebalkan, Kira! Cukup Cagalli saja yang memanggilku seperti itu! #eh?
Lacus Queen Pink -/- kau membuatku malu, Kira. Xixixi, panggilan sayang itu dari Cagalli untuk Athrun. Aw so sweet nyaaa...
Athrun Prince Zala #$%&(_)! #$ $%&
Kira Found Freedom hahahahaha, kalau kau ada di depanku pasti sudah kucubit pipimu Lacus, saking gemasnya. :P eh, eh, eh? Ada yang mengumpat ternyata...
Lacus Queen Pink -/- stop to make me shy, Prince Brown!
Kira Found Freedom hihihi, I don't think to stop it, Princess. :)
Athrun Prince Zala aw, manisnya... ^-^
Lacus Queen Pink kalian berdua menyebalkan! :
Kira Found Freedom mana nih, si Princess Blonde Hibiki? Lagi tidur ya? padahal mau bales si Zala juga. #!&$#% #$%&
Lacus Queen Pink -,-a di foto aja lagi tidur, gimana sih!
Athrun Prince Zala fiuh, selamat berarti saya... :D hahaha
Kira Found Freedom hahaha, kirain bangun lagi gitu, Princess. :P liat aja besok Zala, kau pasti kena.
Athrun Prince Zala kena apa ya? kena panah cintamu kah?
Kira Found Freedom #muntah2 di kamar mandi# najis tralalala deh! Masih normal saya!
Lacus Queen Pink 0_0 a-aku tidak percaya... kalian... kalian...
Kira Found Freedom e-e-eh! Saya masih normal kok, Princess! Sungguh!
Lacus Queen Pink ...
Kira Found Freedom Princess, yg nggak normal itu Athrun, bukan aku!
Athrun Prince Zala eeeit! Saya juga masih normal Tuan Kira Hibiki!
Lacus Queen Pink , KIRA DAN ATHRUN JAHAT! #off
Athrun Prince Zala #sweatdrop tingkat akut
Kira Found Freedom kau harus minta maaf besok, ATHRUN! #off
Athrun Prince Zala loooh?
Kira Found Freedom #on# kau juga harus minta maaf pada Cagalli karena telah mengkhianatinya! #off
Athrun Prince Zala 0_0?
Dearka Love Miriallia cie cie cie... ehem!
Athrun Prince Zala APA KAU, DEARKA?
Milly For Elthman asiiik! ,
Athrun Prince Zala #off
Si putra tunggal keluarga Zala itu mendengus kesal dan memilih keluar dari Facebook-nya. Namun satu pemberitahuan membuat Athrun penasaran. Sebuah permintaan pertemanan dari... Matanya membulat membaca namanya.
Meyrin Hawke FallingInLoveWithHim
Athrun sweatdrop bacanya.
Konfirmasi
GUNDAM SEED/DESTINY
Cagalli Hibiki menguap kecil setelah turun dari motornya. Tubuh Cagalli sedikit menegang begitu angin pagi berhembus menerjangnya. Ia eratkan mantel jaket warna hitamnya sambil menoleh ke samping, tempat Lacus kini berdiri. "Rambutmu berantakan sekali, Lacus."
"Gara-gara kau ngebut, jadi begini kan!"
"Hahaha, sini kurapikan."
Lacus mendekat dan membiarkan Cagalli merapikan rambutnya.
"Sudah," kata Cagalli.
"Kau tahu, Cag. Kau mirip sekali seperti Mama."
Alis Cagalli mengernyit sambil menatap sahabat light pink-nya yang sedang sibuk membenarkan dasi. Ia bingung dengan perkataan Lacus. Mirip darimananya? Aku kan masih muda dan belum berkerut, pikir Cagalli. "Mirip katamu? Nggak salah tuh?"
"Hihi, maksudku kau itu sama lembutnya dengan Mama."
Cagalli menelengkan kepalanya.
"Aduuuh, lucu sekali sih kamu, Cag."
"Auch, sakit tahu!"
Lacus tertawa pelan melihat Cagalli meringis kesakitan setelah kedua pipinya jadi mangsa tangan Lacus. "Makanya jangan buat aku gemas dong, biar aku tak mencubitmu lagi," kata Lacus sambil menunjuk pipi Cagalli.
"Dasar."
Bruuum!
Bruum.
Dua motor yang sangat dikenal oleh kedua gadis berbeda marga itu datang dan berhenti di samping motor Cagalli sehingga motornya terjepit. Untung Lacus sudah menjauh dari motor Cagalli sehingga tidak ikut terjepit. Si pemilik motor warna merah membuka helm lalu tersenyum manis dan membuat Cagalli ingin memuntahkan semua makanan yang ia makan di rumah Lacus tadi pagi.
"Ehem, ehem. Pagi-pagi sudah senyum manis begitu."
Athrun tersenyum lebar mendengar ucapan Kira.
"Aw aw aw! Tuan Athrun Zala mulai genit terang-terangan."
Cagalli yang tidak mengerti hanya bisa diam lalu berdiri di samping Lacus.
"Si Princess Sleepy belum sadar ya?" tanya Athrun dan langsung diinjak kakinya oleh gadis yang diam-diam memfoto si kembaran Kira itu. Ia merintih kesakitan sambil memegangi kaki yang diinjak Lacus dan mendelik padanya.
"Kalian menyembunyikan sesuatu dariku," kata Cagalli penuh kecurigaan.
"Hehe, tidak kok!"elak Lacus.
"Aku tidak percaya itu, Nona Lacus."
"Nandemonai yo!" Sekarang giliran Kira yang mengelak.
"Oh iya, aku ingin bertanya sesuatu pada kalian."
Ucapan Athrun sukses mengalihkan pembicaraan mereka dan kecurigaan Cagalli. Kedua sejoli tersebut –Kira dan Lacus– secara bersamaan menghela napas lega. Setidaknya mereka aman dari amukan si bungsu Hibiki untuk sementara waktu. "Siapa di antara kalian yang memberikan nama FB-ku pada Meyrin?" Bagus, Ath! Kau membuat badmood Cagalli muncul, pikir Kira dan Lacus dalam hati. Benar saja gadis itu langsung menatap horor laki-laki berambut dark blue di hadapannya tersebut.
Hening melanda mereka berempat.
"Kau ya, Cag?" tanya Athrun dengan nada hati-hati karena dipandangi Cagalli terus.
"Huh? Seperti tak ada kerjaan lainnya saja," ketusnya.
"Terus siapa?"
"Jangan tanya padaku mengenai gadis berambut merah yang pernah kau tabrak itu."
Athrun mencelos seketika menatap kepergian Cagalli.
"Kenapa dengannya?" tanya Athrun.
"Kau ini tidak peka ya? Cagalli tidak suka jika kau menyebut-nyebut Meyrin di hadapannya, tahu!" Lacus pun ikut pergi.
"Huh?"
"Kau ini, ckckckck." Kira menggeleng-geleng kasihan.
Athrun menggaruk-garuk kepala belakangnya. "Aku 'kan hanya bertanya."
GUNDAM SEED/DESTINY
Tanda mulainya jam istirahat baru saja terdengar. Cagalli Hibiki tanpa merapikan peralatannya yang masih berantakan di meja langsung berdiri dari kursi dan keluar kelas. Teman-teman sekelas Cagalli menatap gadis itu dengan tatapan heran. Athrun menatap punggung mungil gadis tersebut sampai sosoknya menghilang di tengah kerumunan siswa-siswi yang baru saja keluar kelas.
"Ck, menyebalkan," kesal Cagalli.
Ia merogoh saku kemejanya.
"Yo, Cag!"
Cagalli menatap datar Dearka tanpa menyahut.
"Kau kenapa, Cag? Mana yang lain?" tanya Dearka.
"Entahlah." Gadis berambut blonde itu pun pergi ke ujung koridor. Langkah kaki jenjangnya perlahan menaiki tangga yang berada di ujung koridor. Beberapa senior yang ia lewati menatapnya dengan heran karena biasanya juniornya itu tak pernah ke lantai atas, yaitu lantai 3.
Cagalli terus menaiki tangga sampai ke depan sebuah pintu baja.
Cklek...
Angin musim semi menerjang tubuh mungilnya. Reflek, Cagalli menggosok-gosokkan kedua tangannya agar tetap hangat. Pelan-pelan ia tutup kembali pintu tersebut dan berjalan mendekati pagar berkawat besi yang tingginya melebihi tinggi Cagalli. Begitu dapat tempat yang cocok, ia mendudukan tubuhnya lalu bersandar ke tembok yang tak jauh dari pintu masuk tadi.
Matanya menutup sambil menarik napas.
Ia menghela napas dan bergumam, "kau ini aneh, Cag."
Cagalli menekuk kedua lututnya.
"Kenapa... kenapa aku... sebenci ini?"
Mata amber-nya sedikit berkaca-kaca saat menatap ke lantai. Kepalanya bertumpu pada kedua tangan yang dilipat di atas lututnya. Pikirannya kembali ketika Athrun menanyai perihal Meyrin yang meng-add dirinya. Dalam hati Cagalli kala itu sungguh membuatnya bingung. Ia sangat kaget, marah, sedih, dan... kecewa. Ya, kecewa. Cagalli sendiri juga masih bertanya-tanya mengenai perasaannya tersebut. Perasaan yang sama saat melihat Meyrin ditabrak Athrun secara tidak sengaja; saat keduanya berbicara waktu di rumahnya; dan... seperti saat tadi pagi.
Kita lihat saja nanti. Aku bertaruh apa yang kukatakan menjadi kenyataan.
Tiba-tiba ucapan Lacus semalam muncul di otaknya.
"Huh? Musuh dalam cinta? It's not impossible," desisnya.
Mata amber Cagalli menatap langit berselimutkan awan-awan putih. Matahari tampak malu-malu untuk menunjukan sinarnya dan itu cukup membuat Cagalli nyaman. Angin berhembus kembali, mau tak mau ia harus meringkuk dan memeluk kedua lututnya agar tubuhnya tetap hangat. Gadis itu mencoba menenangkan jiwa dan raganya yang terkadang emosional, tapi wajar sih mengingat ia masih dalam tahap menuju kedewasaannya.
Ingatannya tentang pertemuan dirinya dengan Athrun dulu masuk ke pikirannya.
Hajimemashite! Watashi wa Athrun Zala desu. Yoroshiku onegai shimasu!
Tidak apa-apa, hanya… ingin berkenalan denganmu. Boleh?
Panggil aku Athrun, lebih akrab kalau kau memanggilku seperti itu.
Pagi, Nona Hibiki!
Siapa suruh punya wajah semanis ini.
Hei, siapa pula yang menganggapmu anak-anak? Aku hanya memberikan perhatianku padamu saja kok.
Bicaramu terdengar gugup, aku senang mendengarnya.
Buku catatanku tertinggal di rumahmu kurasa. Tolong carikan ya.
Bantu aku, Cagalli.
Iya, tenang saja. Aku bukan laki-laki yang ingkar janji kok.
M-memangnya kenapa kalau aku tingggal di apartemen? Yang pentingkan, aku punya tempat tinggal dan kuingatkan! Aku bukannya diusir, tapi ingin mandiri!
Setidaknya selesaikan dulu tugas ini sebelum tugas lain datang.
Perkataan demi perkataan masuk ke dalam benaknya. Hal itu membuatnya bingung dan merona, apalagi saat bayangan Athrun tengah tersenyum dan tertawa muncul. Pernah ia membaca sebuah novel yang bertemakan benci menjadi cinta; musuh menjadi kekasih; dan semacamnya. Tapi apa mungkin begitu? Hei! Ini kenyataan! Bukan imajinasi belaka! Cagalli menyerah pada pemikirannya yang terus menolak dan memandang sendu ke lantai. Memang tak ada jaminan jika semuanya terjadi seperti itu. Tapi apa benar aku... menyukai Athrun? Atau lebih parah lagi yaitu... cinta?
Cagalli menjambak rambutnya sendiri karena bingung.
Tidak! Ini tidak boleh terjadi!
Sekelebat bayangan mangkir di pikiran Cagalli.
Tubuh gadis itu bergetar hebat diiringi gelengan kepalanya yang semakin lama semakin cepat. Napasnya pun memburu seolah-olah tengah dicekik seseorang. Kedua tangan yang sedari tadi diam, kini ikut bergetar dan perlahan menuju kedua daun telinganya. Mata Cagalli berkaca-kaca, bersiap untuk meluncurkan cairan bening yang tertahan di kelopak matanya.
"Tidak... Tidak...TIDAK!"
Cklek.
"Cagalli..."
Kedua tangan Cagalli menekan sekuat tenaga agar suara itu tidak terdengar.
Tap, tap, tap.
"KUMOHON! JANGAN MENDEKAT!"
"Cag, kau kenapa?" tanya orang itu cemas.
"Jangan mendekat, kumohon."
Athrun, orang yang sejak tadi mencari Cagalli kini heran melihat gadis tersebut tengah meringkuk di sudut atap sambil memandang takut ke arahnya. Ini bukan Cagalli yang kukenal, tapi ada apa dengannya? Keadaannya sungguh membuat Athrun jadi iba. Ia belum pernah melihat Cagalli seberantakan ini dan Athrun juga belum pernah melihatnya ketakutan seperti itu. Athrun mencoba melangkah mendekatinya namun si bungsu Hibiki itu langsung histeris dan menyuruhnya untuk tidak mendekatinya.
"JANGAN MENDEKAT –hiks– kumohon..."
Athrun jongkok di depan Cagalli lalu mencoba melihat wajahnya.
"Jangan!" Cagalli semakin menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tenanglah, Cag. Ini aku, At-"
"-kubilang jangat mendekat!"
Greb!
Iris mata Cagalli melebar. "Menjauhlah dariku!" teriaknya sambil meronta di dalam dekapan Athrun. Tangisnya makin pecah seiring ia berusaha untuk terlepas dari laki-laki berambut dark blue tersebut. Bahkan Cagalli juga belum sadar bahwa orang yang memeluknya itu adalah Athrun Zala. Di dalam penglihatannya, bukan seorang Athrun Zala yang mendekapnya erat, melainkan 'seseorang' di masa lalunya. Ya, seseorang dari masa lalunya yang tak mau ia ingat-ingat lagi sejak saat 'itu'. cagalli menggeleng cepat. "TIDAK! PERGI KAU DARI HADAPANKU!"
"Cagalli! Tenanglah! Ini aku-"
"-kubilang PERGI! LEPASKAN AKU!"
Kesabaran Athrun sampai pada puncaknya karena ucapannya terus terpotong. Belum lagi sikap Cagalli yang seperti ini membuatnya kesal setengah mati. Siapa sih yang tidak kesal jika kita dipandang menakutkan seolah-olah sudah berbuat jahat padahal kita sendiri tidak melakukan apapun? Melihat Cagalli terus meronta dan berteriak diselingi isakan pilu, membuat Athrun berdecak. "INI AKU, CAG! ATHRUN, ATHRUN ZALA!"
Tubuh Cagalli membeku seketika.
"Ini aku, Athrun," kata Athrun lebih pelan dari sebelumnya tanpa melepas pelukannya dan malah mengeratkannya. Terdengar isak tangis kembali setelah hening beberapa detik. Tangan kiri Athrun membelai lembut rambut Cagalli untuk menenangkan gadis itu. "Tenanglah."
"Ath-hiks-run..." Cagalli memejamkan matanya lalu menenggelamkan wajahnya yang sembab ke bahu laki-laki beririskan permata emerald itu. Ketakutannya kini berangsur-angsur menghilang dan tergantikan oleh kehangatan yang diberikan Athrun.
Athrun tersenyum sambil melepas pelukannya.
"Hiks, hiks."
"Daijoubu." Laki-laki itu menghapus jejak air mata Cagalli dengan ibu jarinya.
Cagalli berusaha berhenti menangis kemudian menunduk.
"Sudah merasa lebih baik?"
"Emm." Cagalli mengangguk pelan.
Athrun masih setia untuk berjongkok di hadapan Cagalli yang kini tengah menghapus air mata di kedua pipinya dengan punggung tangannya. Suasana hening menyelimuti keduanya. Athrun memilih untuk diam sambil memandang Cagalli sementara gadis di hadapannya terus menunduk seolah tak ingin dibaca arah pikirannya oleh Athrun. "Aku tak akan bertanya apapun masalahmu sampai-sampai membuatmu ketakutan seperti tadi hanya karena kedatanganku."
Cagalli menoleh pada Athrun yang kini duduk di samping kirinya dengan kedua kaki tertekuk seperti yang dilakukan Cagalli.
"Melihatmu sudah membaik begitu, sudah cukup untukku."
"Maaf."
Senyum Athrun yang diperlihatkannya tadi luntur seketika mendengar perkataan 'maaf' yang baru pertama kali keluar dari mulut gadis yang sudah secara diam-diam mencuri perhatian juga hatinya hanya untuknya.
"Maaf."
Athrun menatap lurus ke depan. "Tak apa."
"Kenapa kau... kemari?"
"Aku hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu."
"Jika itu tentang Meyrin, aku lebih baik pergi."
Mendengar ucapan Cagalli, membuat Athrun tertawa. "Tidak jadi deh."
Cagalli memasang wajah tanpa ekspresi lalu menaruh dagu di atas lipatan tangannya. Tatapannya terlihat kosong ke depan. Ia menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. Hatinya kembali tenang seperti semula. Cagalli melirik ke samping. "Terima kasih... Athrun."
Athrun tersenyum seraya menoleh.
Mata gadis itu tertutup. Tertidur.
Teng, tong, teng, tong!
"Untuk hari ini saja, aku akan membolos," gumam Athrun pelan. Ia sedikit menggeser tubuhnya untuk mendekati Cagalli yang tengah tertidur. Tangan kanannya menarik bahu Cagalli dan menyandarkannya pada dadanya sendiri, sementara kepalanya ia taruh di atas bahunya.
Cagalli menggeliat pelan, kemudian terdengar dengkuran pelan dari bibirnya.
Tangan kiri Athrun menggenggam tangan kanan Cagalli. Bisa dirasakannya aroma jeruk khas Cagalli jika sedekat ini dan mampu membuat Athrun merasa tenang. Kepalanya ia taruh di atas kepala Cagalli. Tatapannya lurus ke arah genggaman tangan dirinya dengan Cagalli. Bayangan gadis itu beberapa menit lalu muncul, membuat Athrun menatap wajahnya dengan raut wajah sedih. "Aku tidak tahu kenapa kau bertingkah seperti itu, dan jika aku bertanya pun kau pasti takkan mau menjawabnya."
"Athrun..."
Cklek...
To Be Continued
Gomenasai, minna-san untuk update lamanya... TT^TT nggak nyangka udah tiga mingguan lebih menelantarkan fic Mizuka yang satu ini. fic yang lain pun juga masih terlantar. Gomeeen... di minggu pertama Mizuka sibuk MOPDB (Masa Orientasi Peserta Didik Baru), sementara minggu kedua Mizuka milih untuk menyelesaikan proyek Mizuka yang katanya harus dikumpulin bulan Oktober/November sambil beristirahat. Nah, minggu ketiga baru mulai ngerjain fic ini dan baru selesai seminggu lebih, itu pun harus diselingi dengan kegiatan sekolah yang sudah mulai aktif. Curhat nih sedikit, Mizuka sedikit bingung buat alur di chap ini supaya bisa sejalan sama sinopsis yang udah dibuat dari jauh-jauh hari. Jadi maaf kalau membuat semuanya bingung dan kurang memuaskan. u.u
Soal permasalahan Cagalli dan Meyrin itu asli dari kehidupan Mizuka sendiri lho. #bangga plus curcol#
Terima kasih untuk air phantom zala, forthesakeofpiece, Shuuta Hikaru, Guest, lunlun. caldia , MeiddyHuhuday (maaf gak bisa balas satu persatu karena waktu menipis) atas review-nya dan terima kasih juga sudah mampir kemari... :D
Terakhir dari Mizuka, review please?
Mizuka ucapin "Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi yang Menjalankannya!"
