.

"Usahakan untuk memastikan bahwa Ia makan teratur dan meminum suplemen ini"

"Keadaannya begitu buruk, fisiknya begitu lemah .. Janinnya akan terancam Kai .." ujar dokter berkacamata bername tag 'Kim Minseok' berhasil membuat Kai mengaga tak percaya.

Semetara Suho sontak membuang tatapannya ke lain arah setelah mendapat tatapan tajam dari Kai. Ia sama shocknya, Ia sama terkejutnya, HAMIL ? Ia bahkan tak pernah berandai-andai untuk bisa mengandung buah cinta Ia dan Kris.

Kesampingkan semua kenyataan yang telah terjadi saat ini, yang Suho tahu .. perasaannya begitu bahagia sekarang .. teramat bahagia hingga seulas senyum itu begitu sulit Ia sembunyikan.

"A-apa kat-katamu ?"

"Ha-hamil ?"

"Ha- .. APA ?" Kai mencengkram erat kerah jas dokter muda itu, tak terima dengan lelucon murahan yang baru saja teman sekolahnya itu dulu lontarkan.

Minseok menarik diri dari cengkraman Kai, beralih menatap Suho "Kandunganmu sudah memasuki usia satu setengah bulan .." dokter itu tersenyum simpul, terlihat turut suka cita lalu meraih note kecil dari dalam tas dokternya, menuliskan beberapa resep obat dan suplemen kehamilan untuk Suho

" .. trisemester pertama adalah yang paling rawan, jaga dia benar-benar" Suho mengangguk ribut, terlalu bersemangat .. Ia terlalu bahagia .. Ini bagai pelangi ditengah badai, Ia bahkan tak bisa berkata-kata selain tersenyum secerah mentari.

Sementara Kai tengah terpaku, mengaga tak percaya ..

Bukan karena kehamilan merupakan sebuah dosa besar, terlebih hamil dalam keadaan memiliki suami adalah hal yang sangat wajar dan begitu dinanti semua pasangan.

Namun keadaannya berbeda, Suho BUKAN wanita yang berhak hamil -menurut Kai- , tak peduli sebeharga apapun janin itu, kenyataan Suho hamil justru akan semakin memperumit segalanya .. semua keadaan ini akan jauh lebih menyedihkan.

Dan Suho tak tahu itu ..

.

.

.

Our Destiny

Suho : Girl (GS) | Kris : Boy | Yixing : Girl (GS) | Kai | Chanyeol | lead+

Warning : Typo's , Absurd , No Feel

Rated : T+ - M

...

BunnyJoon's Present

...

.

.

.

"Gugatan perceraian karena perselingkuhan sangat mudah untuk dikabulkan. Kau tahu sendiri kan bagaimana hukum perkawinan di negara kita menganut sistem monogami, bahkan sudah ada undang-undang yang mengatur tentang penangkapan pelaku perselingkuhan"

"Terlebih lagi jika kau memiliki bukti yang kuat, kau tak akan membutuhkan jasaku sebagai seorang pengacara untuk memenangkan gugatanmu, karena setelah pengadilan mengabsahkan semua bukti yang kau miliki, gugatanmu akan langsung dikabulkan setelah proses mediasi tak membuahkan hasil"

"Tapi lain halnya dengan perceraian yang sudah disepakati kedua belah pihak, kau hanya perlu melengkapi berkas perceraian dan perceraian kalian akan langsung dikabulkan. Yang ini jauh lebih mudah"

"Namun jika kabar kehamilanmu di umukan dipersidangan, kemungkinan suamimu akan mengajukan banding untuk membatalkan perceraian ini"

"Noona ?" panggil Kai pelan, menatap khawatir pada Suho yang tengah sibuk dengan kediaman panjangnya. Ini sudah setengah jam, Suho bahkan tak menyentuh barang sedikitpun makan malamnya.

"Suho Noona ?" panggilnya -lagi-

"Noonaaa .."

"Oh .. A-ah ? Iya ? Ada apa ?" jawab Suho kebingungan, kembali dari lamunan panjangnya, kembali dari nyanyian rangkaian kalimat Pengacara Park yang berputar bak kaset rusak karena hanya terus mengulang bagian itu-itu saja, dan ini benar-benar sangat mengganggu hari-harinya.

Kai menghela nafas berat "Noona tak perlu datang kepengadilan besok .." Kai meletakkan sepasang garpu dan sendok yang semula berada di genggamannya ".. cukup tandatangani itu, dan sisanya biarkan Pengacara Park yang mengurusnya" ucapnya lembut.

Suho menatap Kai takut-takut, sejujurnya sejak kejadian seminggu yang lalu ketika Suho tak sadarkan diri dalam rengkuhan adiknya itu, Kai sama sekali tak pernah mengatakan apapun soal perceraiannya dengan Kris, Ia bahkan tak bertanya apa-apa, bahkan soal kehamilan ituuu .. Kai hanya bungkam seribu bahasa meski Ia juga pergi ke apotik untuk menebus berbagai macam obat dan suplemen, bahkan membuatkan susu hamil untuk Suho dengan teratur.

Selebihnya hanya kebisuan, seolah tak pernah ada cerita mengenai perceraian dan kehamilan, seolah mereka tidak sedang terlilit kejamnya takdir. Dan ini adalah pembahasan pertama mengenai proses perceraiannya yang terlontar dari bibir adiknya itu

"Aku akan mengurus semua prosesnya hingga selesai, dan Aku berbaik hati untuk tak mengajukan gugatan atau tuntutan apapun padanya" ujar lelaki berkulit tan itu tenang.

"Sekarang hanya fokus pada dirimu .."

".. jaga kesehatanmu .."

".. pikirkan masa depanmu dan -"

"Kenapa ?" tanya Suho cepat, memotong kalimat Kai.

"Kenapa kau tak ingin kita mengajukan tuntutan padanya ?" Suho tahu benar apa yang ada dalam pikiran Kai, Ia sudah menebak dengan jelas tentunya namun tetap saja rasanya Ia marah dan tak habis pikir jika adiknya mampu berbuat sekeji ini pada dirinya.

Sementara Kai yang mendapat tatapan tajam dari sang kakak hanya diam, masih belum merubah ekspresi wajahnya yang benar-benar terlihat begitu tenang, jauh beda dengan Kai yang tempramental seperti yang Suho kenal dulu. Kai mengendalikan seluruh amarahnya di balik wajah tenang dan sikap dinginnya.

"Karena dia tak perlu lagi melakukan apapun untukmu" jawab lelaki itu enteng, ringan.

"Kenapa dia tak perlu melakukan apapun lagi untukku ? Kenapa dia tak boleh bertanggungjawab lagi atas diriku ? Kenapa kau ingin memisahkan kami darinya ?" ujar Suho cepat, terengah-engah dengan wajah memerah menahan luapan amarahnya.

"Kami ?" Kai tertawa remeh "Siapa yang Noona sebut kami ?"

"Kau dan anak dalam kandunganmu itu ?"

"Kau dan anak dari Pria bajingan yang ada dalam kandunganmu itu ?"

"Kau dan bayimu yang telah dibuang oleh keluarga itu ?"

"Kau dan bayimu yang telah ditendang dari keluarga itu ?"

"Kau dan bayimu yang telah dikhianati Pria brengsek itu ?"

"Kau dan-"

"CUKUP! CUKUP KIM JONGIN !" pekik Suho marah, menutup erat kedua telinganya tak ingin lagi mendengar kalimat-kalimat itu.

"Kris hanya tak tahu aku sedang mengandung saat ini .." lirih wanita itu akhirnya meloloskan sebutir kristal bening turun di pipinya ".. Dia hanya belum mengetahui jika aku mengandung anaknya .." isaknya hebat, berurai air mata.

"D-dia .. d-ia .. dia berhak tahu jika di dalam sini .." Suho menunduk menatap perutnya yang masih rata ".. ada darah dagingnya. DIA BERHAK TAHU KAI" pekik wanita itu lantang sembari memeluk perutnya erat, coba melindungi perutnya seolah Kai adalah seorang pemburu kejam yang sewaktu-waktu akan menerkam calon bayinya.

"Lalu ?" Kai masih bersikap tenang, tak peduli dengan tatapan tajam yang Suho tujukan padanya, terlihat seolah tak tertarik namun sejujurnya Kai-lah yang menyimpan benci, amarah dan dendam paling besar atas sosok Kris Wu -calon mantan kakak Iparnya-

"Aku ingin kita mengajukan tuntutan padanya untuk bersedia membiayai segala kebutuhan kesehatan dan pendidikan untuk anak kami .."

".. Aku ingin mengajukan tuntutan padanya untuk tetap berbagi kasih pada anak kami .."

".. Aku ingin anak kami juga menyandang nama besar keluarganya .."

"A-aku .. A-ku .." Suho kehabisan kata-kata, Ia kehabisan ide untuk membeberkan tuntutan-tuntutan apalagi yang seharusnya Ia layangkan pada Kris, karena sungguh .. Suho bukan wanita miskin yang butuh selembar cek hanya untuk membiayai anaknya.

Bukan .. bukan itu yang wanita ini inginkan dari segala hak yang hendak Ia tuntut, bukan uang .. Sejujurnya Ia hanya ingin Kris tahu, hanya ingin dunia tahu, jika kini .. di rahimnya .. di dalam sini, di dalam perutnya juga tengah tumbuh sebuah janin, hasil buah cinta Kris dan Suho, ada sosok suci yang juga butuh pertanggungjawaban.

Suho bukan istri gagal yang membiarkan suaminya membuahi wanita lain. Dia juga wanita normal, memiliki kesempatan melahirkan makhluk suci dari rahimnya, Ia pun mengandung. Dan kau tahu bagaimana rasanya ? Bahkan kata bangga tak cukup untuk menunjukkan kesombongan itu.

Ini anak mereka ! Anak Kris dan Suho ! Anak Wu YiFan dan Kim Junmyeon !

"Jadi apa yang kau harapkan ?" ujar Kai dingin dan entah mengapa Suho merasa hatinya begitu terluka dan tak terima dengan pertanyaan singkat yang Kai lontarkan barusan. Ada perasaan terhina di sana, Kai seolah tengah mengolok-olok dirinya.

Keputusan bercerai adalah pilihan Suho, itu benar. Meninggalkan Kris juga benar keputusan wanita itu. Dan kini apa yang Ia harapakan ? Membuat Kris tahu jika Ia mengandung anak mereka, lalu ? Setelahnya apa ?

"Setelah Kris dan Keluarganya tahu kau tengah mengandung"

"Setelah Kris menerima semua tuntutan-tuntutan yang kau layangkan, lalu Kris membiayai hidup anakmu, Kris juga menyayangi anakmu, seorang anak yang menyandang marga Wu di belakang namanya, lalu apa setelahnya ? HA ?"

Suho terdiam, wanita itu tengah mencerna baik-baik seluruh kalimat Kai hingga benar-benar tersaring halus dalam pikirannya. Tidak, Ia tak ingin apapun, Ia bukan wanita pengharap yang meminta belas kasih dari orang lain, Ia hanya tengah mencoba membela seluruh hak calon bayinya. Iya, hanya demi calon bayinya .. Bukan demi perasaan cintanya ..

"Ketika mereka tahu kau tengah mengandung, lalu Kau berharap mereka mengiba dan bersimpuh di kakimu untuk memintamu tetap tinggal dan membatalkan seluruh gugatan perceraian ?"

"Lalu ? Kau akan berbagi suamimu, keluargamu, seluruh perhatian mereka bahkan ranjangmu dengan wanita lain ?"

"Dan berakhir dengan hidup bahagia bertiga bersama Kris dan wanita itu dan anak-anak kalian ? Kau pikir bisa melakukan itu hanya karena perasaan cinta ? Bangun dari dunia dongengmu Kim Junmyeon!"

Kalimat lantang itu sontak membuat kepala Suho pening ! Sakit itu terlalu hebat hingga rasanya mengerang pun tak cukup untuk meringankan getaran yang menusuk di sana. Semua ucapan Kai sama sekali tak salah, sama sekali bukan kekejian melainkan sebuah kenyataan. Kenyataan yang terlalu pahit, lebih pahit dari kerongkongannya yang tak lagi bisa menyahuti kata-kata sang adik.

Kai benar .. ya .. amat teramat benar hingga rasanya kebernaran itu tak ubahnya belati berkarat berlumur racun yang tengah menyandera urat nadi di lehernya, ujungnya yang runcing jika sedikit saja ditusuk agak kuat akan langsung membuat si korban meregang nyawa tanpa peringatan.

Suho hamil, lalu Kris dan Keluarganya tahu. Lalu apa ? Kris dan Keluarganya meminta Ia tetap tinggal dan tetap menjadi bagian dari keluarga Wu, berjanji akan merawat dan mencintainya, Wooww itu terdengar seperti tawaran yang menggiurkan bukan ?

Namun sayangnya semua tak berhenti disitu, kenyataan lagi-lagi menambahkan bumbu yang terlalu banyak dalam garis takdirnya. Nyatanya kini juga ada wanita lain yang bahkan lebih dulu mengandung silsilah keluarga Wu, mengandung penerus Wu, mengandung benih dari sang calon mantan suami.

Jika Suho tinggal, jika wanita ini akhirnya goyah dan tetap bertahan dalam pernikahannya bersama Kris apakah Ia bisa terima, apakah Ia sanggup untuk berbagi kasih dengan wanita lain ? Berbagi perhatian, berbagi cinta serta berbagi ranjangnya dengan wanita lain ? Jawabannya adalah TIDAK!

Kim Junmyeon hanya wanita biasa, bukan malaikat, hatinya tak semulia itu. Ia tentu bisa merasakan sakit, tentu akan cemburu, tentu akan marah, tentu akan terluka lebih dari ini dan Suho tak ingin, Ia telah begitu lelah saat ini ..

"Harusnya anak ini tak perlu hidup dalam rahimku .."

GILA ! Pikiran Suho telah dirasuki virus kebencian, virus kedengkian, dia terlalu marah

" .. harusnya kau tak perlu hadir nak .. Ini menjadi terlalu sulit untukku .."

Begitu sulit, karena Suho bak labil yang kehilangan pendiriannya, karena anak ini .. karena janin ini .. keinginan untuk hidup kembali bersama Kris menjadi semakin hebat, semakin kuat dan itu merusak diri Suho perlahan.

.

"Keluarga calon mantan suamimu bahkan sudah membawa simpanan suamimu untuk tinggal bersama mereka. Dan yang ku dengar dari orangku, mereka memperlakukan wanita itu dengan sangat baik" Kai berdecak mengejek

Apa ? Secepat ini ? Aku dan Kris bahkan belum resmi bercerai!

Pikiran Suho semakin rusak, ucapan Kai berhasil memprovokasi dirinya, Ia terpancing akan rasa marah dan iri, tersulut rasa kecewa terkhianati. Tapi bukankah Ia yang meminta pada keluarga itu untuk segera bertanggungjawab dan memperlakukan wanita itu dengan baik ? Lalu apa ? Kenapa sekarang ?

Lagi-lagi atas dasar 'Aku mengandung anak dari Kris Wu' Suho berambisius untuk mendapatkan Kris kembali, Suho ingin jahat, ingin melenyapkan Zhang Yixing entah bagaimana caranya, Ia ingin berjuang demi keinginannya, salahkah ?

Bisakah Ia bertindak keji seperti pemeran antagonis di drama sabtu-minggu yang selalu Ia tonton ? Menjadi sosok perempuan keji yang meminta orang lain menggugurkan kandungannya dengan upah selembar cek dengan angka 0 yang bergelinding yang bahkan tak cukup muat untuk kau ketikkan di kalkukator ?

Bahkan untuk menebus Kris dengan menyerahkan seluruh perusahaan milik orang tuanya, Apa bisa semuanya diselesaikan seperti itu ? Jika bisa maka Ia tak segan melakukannya sekarang juga.

"Lalu kau akan datang pada mereka dan mengatakan kau hamil ?"

"Cihh .." Kai bersmirk ria, seolah perkataannya hanya lelucon anak TK

"Bagus, aku penasaran luka apalagi yang akan kau dapatkan. Kau mau ku antar sekarang ke sana ? Akan menyenangkan jika aku melihat sendiri pilihan Kakak perempuanku satu-satunya yang telah MEMBUANG adik kandungnya sendiri hanya karena seorang Pria bejad"

Suho menatap Kai marah, Kai ini apa ? Kai ini siapa ? Bukankah dia adiknya ? Baik, Suho dulu dengan percaya dirinya memilih Kris daripada Kai hingga derita ini yang Ia dapat, lalu ? Tak cukupkah Kai melihat Suho hancur dan terluka seperti ini untuk semua dosa itu ? Kurangkah hingga Kai terus memprovokasi dan merusak Suho semakin parah ?

Jika saja Suho melihat sedikit lebih dalam pada obsidian lelaki berkulit tan itu, Suho pasti akan menemukan kenyataan yang mengegerkan. Ini bukan seperti Ia menyiram bensin ke bara api, bukan karena Kai ingin semakin menyakiti hati Kakaknya, lebih karena Ia ingin Kakaknya berhenti berkorban terlalu banyak, berhentik terluka terlalu dalam, berhenti menderita terlalu lama, karena ketika Suho terluka maka Kai pun terluka.

Memang tak ada yang salah dengan seluruh permintaan Kakak perempuannya. Itu adalah mutlak kewajiban si brengsek Wu itu untuk tahu bahwa calon mantan istrinya tengah mengandung anak mereka.

Tapi Kai juga tak bodoh, otaknya jauh lebih cerdas dan penuh logika yang bekerja matang-matang untuk menerka kejadian masa depan. Yang akan Kakak perempuannya itu terima hanyalah luka .. Semua orang tahu itu, bahkan orang bodohpun tahu luka seperti apalagi yang akan Suho tanggung, dan Kai memperingatkan dirinya untuk menghalau semua luka itu, bagaimanapun caranya.

Namun Kim Junmyeon masih terselubung aura hitam, Ia ingin Kris .. Kris miliknya .. Hanya miliknya ! Dan Kai tak punya cara lain, untuk memisahkan mereka maka Kai harus menjadi lebih keji ..

.

.

.

.

.

Suho tak mengerti apa yang tengah dia rasakan saat ini, Ia baru saja menyelesaikan proses registrasi dan setelah pembubuhan tanda tangan itu perceraian mereka telah sah di mata hukum, mereka kini hanya orang asing .. Tak memiliki hubungan apapun selain 'Mantan Suami dan Mantan Istri'.

Suho merasa separuh jiwanya bagai lenyap, nyawanya melayang entah kemana ..

Suho seperti kehilangan kekuatannya untuk menapak bumi.

Ini terlalu mudah .. sangat mudaahhh ..

Pernikahan yang dulunya Ia pertahankan mati-matian dengan seluruh air mata dan darah, kini terputus karena sebuah tanda tangan dirinya dan Kris .. Perceraian yang disetujui oleh dua pihak benar-benar proses perceraian tertolol, bagaimana bisa bercerai semudah membalikkan telapak tangan ?

Sejak bersiap menuju persidangan, Suho telah merangkai jutaan kalimat bahkan membawa butki surat kehamilannya untuk mengagalkan seluruh proses perceraian mereka. Ia bahkan telah membayangkan bagaimana Kris akan memeluknya erat kemudian memohon-mohon agar dirinya tetap tinggal dan tentu saja Suho akan mengangguk dengan senang hati untuk menyetujuinya.

Namun ketika pertanyaan 'Apakah kedua belah pihak menyetujui keputusan ini ?' terlontar, Suho hanya mampu terdiam, memeluk perutnya erat dan memandang semua kabur. Ia seolah De JaVu .. Ia seolah pernah menyaksikan kejadian yang sama persis seperti ini.

Ya .. Zhang Yixing ..

Wanita yang tengah menunduk dalam berurai air mata sembari memeluk perutnya erat di ruang tamunya akhir pekan dua minggu lalu .. Wanita putus asa yang tak memiliki pilihan lain selain mengaku telah di hamili oleh atasannya di depan sang pelaku dan istri pelaku.

-Lagi- Suho merasa dihancurkan untuk kesekian kali .. Pikiran jahatnya entah menguap terbang kemana, membayangkan betapa sakitnya perasaan itu, membayangkan betapa sulitnya situasi ini, mengklaim jika Ia kini tahu rasanya menjadi sosok Zhang Yixing, lagi-lagi Suho menyerah, untuk kesekian kalinya Ia menyerah ..

Sekarang Suho telah resmi bercerai dari pria yang sesungguhnya masih teramat Ia cintai. Sejak putusan dibacakan hingga detik ini hanya kebisuan yang menyelimuti mereka, tak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk membuka suara. Tapi satu hal yang pasti, keduanya terlihat seperti raga tak bernyawa.

.

.

.

Saat ini Kim Junmyeon dan Wu Yifan sudah berada ditangga paling bawah gedung pengadilan negeri Seoul. Keduanya berdiri saling berhadapan tanpa melihat, Suho dan Kris sama-sama menundukkan kepala dalam-dalam, Kris yang menyembunyikan airmata yang mengalir dengan sendirinya tanpa bisa Ia kendalikan dan Suho yang menatap lamat-lamat perut yang sejak sepanjang sidang perceraian tadi terus Ia peluk erat-erat.

Wanita itu ingin mengakui sesuatu, tidak! Ini bukan pengakuan, Demi Tuhan mengandung anak dari suami sahnya itu bukan dosa yang harus diakui. Toh Ia hanya Kris tahu, hanya itu saja tak ada alasan lain. Mereka sudah bercerai, dan semua tepat seperti yang Kai katakan.

Tak ada tuntutan bahkan untuk sebuah nama Wu dibelakang nama sang calon jabang bayi, semua tak akan berubah, mereka tetap berpisah, tapi entah mengapa Suho hanya ingin Kris tahu, Ia merasa adalah kewajibannya untuk Kris tahu jika Ia akan memiliki seorang anak, dari Kim Junmyeon bukan dari wanita lain.

"K-kris .. A-aku .."

Ayo katakan Kim Junmyeon !

"A-aku .."

Demi Tuhan ! Kau hanya perlu berkata jika di sini ada calon bayi kalian !

"Mau berjanji padaku?" pinta Suho dengan suara bergetar.

Bukan .. bukan ini yang harus kau katakan !

"Emm" sebagai jawaban Kris hanya berdehem sambil menahan laju airmatanya, tak berniat berkata-kata karena sungguh .. bernafaspun begitu sulit baginya saat ini.

"Berjanjilah padaku .. untuk .."

STOP KIM JUNMYEON ! BERHENTI !

" .. belajarlah untuk mencintai Zhang Yixing" Kris menunduk semakin dalam mendengar permintaan Suho, tak kuat menahan perasaan sakit yang tak pernah berhenti menyelimuti dadanya.

TOLOL ! IDIOT ! PENGECUT KAU KIM JUNMYEON !

"Perlakukan dia dengan baik sebagai istrimu .."

KIM JUNMYEON ! KAU GILAAA ?

" .. jangan biarkan dia merasakan apa yang dulu aku rasakan saat awal menikah denganmu" lirihan pelan terdengar dari mulut Kris.

"Hiduplah dengan bahagia .. ber- .. bersamanya .."

YA ! KAU BERHASIL KIM JUNMYEON !

BERHASIL MENGHANCURKAN DIRIMU -LAGI- !

Sejujurnya bukan kalimat itu yang ingin Ia ucapkan, ada kalimat lain yang entah mengapa begitu keras tersangkut di tenggorokannya. Suho hanya perlu berkata dengan lantang "AKU HAMIL KRIS" tapi sungguh .. kenyataan lain membuatnya terlalu takut, Ia terlalu pengecut, Ia trauma untuk terus terluka, Kim Junmyeon hanya ingin berhenti .. berhenti menjadi korban kejamnya cinta.

Keduanya terisak dalam lirih pahitnya perpisahan. Tak pernah mengira bahwa keadaan membawa mereka pada kesakitan mendalam karena harus terpisah ketika masih saling mencintai. Mencintai .. memiliki calon buah hati .. dan memiliki wanita lain dalam kehidupan rumah tangga mereka ..

"K-kau jug-ga .. Berjanjilah padaku .." ucap Kris terputus-putus, tak mampu menahan sesak atas dukanya yang harus melepaskan seorang wanita, wanita yang amat teramat sangat Ia cintai

"Berjanjilah padaku .. Kalau kau akan bahagia" Suho mengangguk pelan, tak sekalipun berniat melayangkan tatapannya pada Kris, sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri, sibuk menyembunyikan rahasia besarnya. Dia bahkan tak sadar apa permintaan Kris padanya. Bahagia ? Biarlah waktu yang menjawab, karena 'Bahagia' bagi Suho adalah barang mewah yang rasanya tak bisa Ia tebus dengan seluruh harta kekayaannya.

Suho pikir ini cukup, Ia tak ingin di sini terlalu lama atau mulutnya akan gatal untuk mengumbar semua yang tengah Ia rahasiakan. Bergegas Suho membalikkan badannya, melangkah pelan meninggalkan Kris yang akhirnya mendongak .. menatap dengan linangan airmata punggung wanita yang akan selalu menjadi bagian terindah dalam hidupnya menjauh tanpa bisa melakukan apapun lagi untuk mencegah kepergiannya.

Melangkah membawa semua kesakitan ..

Membawa semua rahasia besar yang akan Ia tanggung sendirian di masa depan ..

Meninggalkan Kris yang tak tahu apa-apa ..

Seolah Kris hanyalah idiot yang tak pantas tahu kenyataan besar itu ..

Jika di sana, di rahim wanita yang begitu Ia cintai ..

Ada benihnya .. Ada buah cinta mereka .. Ada anak yang didamba-dambakannya ..

Kau akan berpikir Kim Junmyeon adalah wanita gila yang tak punya akal sehat, wanita lemah yang bahkan tak mampu memperjuangkan kebahagiaannya padahal Ia pantas -sangat pantas-. Wanita jahat yang memisahkan anak dari Ayahnya, anak yang seharusnya mendapatkan takdir yang lebih baik dari ini.

Tapi kenyataan membawanya semakin naif, ketakutan akan derita masa depan yang harus Ia dan calon bayinya tanggung adalah garis takdir yang harus Ia hapus. Biarlah .. biarlah seperti ini .. Ia masih punya Kai, dan tak lama lagi akan ada sosok lain yang hadir dalam dunia ini .. Cukuplah .. bekalnya telah cukup untul menyongsong masa depan tanpa derita.

Tanpa air mata ..

Tanpa luka ..

Tanpa kesakitan ..

Tanpa amarah ..

Tanpa pengkhianatan ..

Tanpa Kris ..

"Selamat tinggal Kris .." dengan sisa tenaga yang Ia miliki, Suho menarik kasar cincin bertahta berlian itu dari jari manisnya, cincin yang menjadi benda sangkral pengikat pernikahan mereka, cincin yang telah berada di sana 3 tahun lamanya, sang saksi bisu pernikahan mengerikan yang pernah Ia jalani.

"Appa .. selamat tinggal .." lirihnya pelan bersamaan dengan jatuhnya pengikat yang menjadi tanda bahwa seluruh takdirnya dengan Pria itu .. telah .. berakhir .. TAMAT.

.

.

.

End ?

Ofc NOT!

.

.

.

Ada beberapa pekerja kantor yang tampak terburu dengan langkahnya, seolah tak ingin melewatkan janji makan malam bersama dengan keluarga tercinta. Ada juga seorang anak yang tak henti merengek namun tak dipedulikan oleh ibunya yang asik bercengkrama ria dengan telepon genggamnya.

Dan juga sepasang kekasih yang terlihat begitu damai menikmati sendu suasana senja sambil bergandengan mesra. Menikmati moment kemesraan bersama seolah tak ada siapapun disekitarnya.

Tapi jangan lupakan seorang wanita cantik yang tengah duduk sendiri disebuah kursi besi. Bibirnya terlihat pucat, pandangan kosongnya menandakan jika hanya raganya yang berada di bagian sisi jalan ini, jiwa dan pikiranya entah berada dimana.

.

Namun wanita itu masih mampu mendengar derap langkah bersahutan dari para manusia yang berada disekitarnya, derap kaki mereka laksana musik pengiring jatuhnya daun-daun yang terhempas lembut oleh terpaan angin dingin akhir musim gugur.

Hiruk pikuk atau bahkan dinginnya cuaca sama sekali tak mengusik dirinya. Jika kau ingin tau dimana sebenarnya dia berada saat ini, jangan tanyakan kepadanya, karena dia sendiripun tak tau ada dimana.

Sejak putusan cerainya diresmikan pengadilan beberapa jam lalu, wanita ini hanya berjalan tak tentu arah, dia hanya mengikuti langkah kaki yang membawanya terus melangkah, hingga ketika dia merasa lelah, dia memutuskan untuk duduk terdiam ditempatnya saat ini.

Airmata yang sejak awal mengiringi langkahnya sudah benar-benar mengering. Rona merah dipipi dan hidung menandakan sudah cukup lama dia terpapar angin dingin membekukan di akhir musim gugur, daun telinganya pun sudah mati rasa.

Ia tak ingin melakukan ini, sejujurnya ada rasa ingin melindungi janin dalam perutnya, Suho tak ingin calon jabang bayinya terluka .. Tapi Ia terlalu lelah .. Ia ingin seperti ini .. Barang sebentar saja .. Mengenang perjalan takdirnya hingga menuntunnya sampai ke sini, Suho berjanji ini untuk yang terakhir kali, sungguh !

Suho hanya merasa energinya benar-benar terkuras habis dan dia hanya perlu menunggu ketidaksadaran menguasainya. Yang dia tau kini tubuhnya telah benar-benar kehilangan tenaga bahkan untuk sekedar mengangkat kepala.

Dengan pandangan yang tetap tertuju pada tanah yang ia pijak, Suho melihat sepasang sepatu pantofel hitam mendekatinya. Tak ada sedikitpun niatan darinya untuk mengangkat kepala dan melihat siapa yang kini berdiri dihadapannya.

Sementara sang pemilik tubuh yang merasa wanita dihadapannya tak akan mengangkat kepala, langsung merubah posisinya hingga berjongkok dihadapan wanita itu.

"Ternyata kau disini .. Syukurlah aku menemukanmu" desahan lega keluar dari mulut pria itu "Ya Tuhan! wajahmu merah sekali, kau kedinginan" ucapan lanjutan bernada panik keluar dari mulut sang pria, dengan segera dia melepaskan mantel tebal yang dia gunakan kemudian menyelimuti tubuh Suho.

Pria itu kembali berjongkok dihadapan Suho, menatap wanita itu hangat, mata ini begitu berbinar .. cerah bahkan di senja yang mulai menggelapkan bumi "Aku dan Jongin mencarimu sejak tadi" lanjutnya sambil menggenggam kepalan tangan Suho, menyalurkan rasa hangat yang betul-betul Suho butuhkan saat ini ".. Adikmu sangat mencemaskanmu" ucapnya serius.

Suho seolah menemukan kesadarannya begitu mendengar nama sang adik disebut, "Terimakasih banyak .. Pengacara Park" akhirnya sebuah suara balasan yang keluar dari mulut Suho, sekedar kalimat pendek yang lebih tepat diartikan sebuah gumaman namun benar-benar membuat Pria bermarga Park itu bernafas lega, setidaknya dia mengetahui bahwa wanita dihadapannya dalam kondisi raga yang baik, hanya raganya bukan jiwanya, dia paham betul itu.

"Ayo .. ku antar pulang .." Park Chanyeol –nama asli Pengacara itu- membantu Suho bangkit dari duduknya, dan tak ada perlawanan.

"Pesawatmu malam inikan ?" Suho mengangguk lemah sebagai jawaban.

"Aku akan mengantarmu .." ucap Pria itu terjeda, terdengar tarikan nafas panjang dan helaan yang cukup berat setelahnya

"Aku dan Jongin akan mengantarmu sampai tujuan .." Suho menoleh, mengerutkan dahinya dalam, seingatnya Kai berkata hanya mengirimnya ke sana sendiri, kenapa sekarang ?

"Hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja .."

".. kau dan bayimu .."

"Jongin juga berkata Ia butuh liburan, kemungkinan kami akan tinggal lebih lama di sana" Suho sebenarnya memiliki pertanyaan lain, Pengacara ini bukan pengacara pribadi keluarga mereka, namanya cukup asing karena Suho tak pernah mendengar nama Park Chanyeol di deretan nama-nama pengacara sukses di Korea, apa dia baru menyelesaikan studinya ? Atau selama ini bekerja di luar Korea ? Dan tunggu, Jongin ? Bukankah itu nama asli Kai, dan hanya segelintir orang yang memanggil adiknya dengan nama itu. Siapa Pria ini ?

Suho lelah, tak mau peduli lebih jauh pada rasa penasarannya "Terima kasih .. Terimakasih banyak karena telah menemukanku, Chanyeol-ssi" ucap Suho sungguh-sungguh sambil menerima uluran tangan pria bernama lengkap Park Chanyeol itu.

Melangkah pelan dengan bantuan Chanyeol, Suho berlalu meninggalkan tempatnya, sekaligus meninggalkan semua yang telah terjadi dibelakang. Tanpa Suho tahu, di ujung sudut sana, di balik sebuah pohon rindang berbatang coklat kokoh, ada seseorang yang sejujurnya telah sejak tadi berada di sana, bahkan berjalan gontai mengikuti langkah Suho sejak halaman depan gedung Pengadilan Negeri Seoul.

Sosok Pria berjas hitam itu menyeringai, tersenyum puas atas pemandangan yang tersaji di depannya "Sesuai rencana ? Semudah itukah ?" gumamnya tersenyum lebar.

.


Dulu .. Suho selalu berpegang teguh pada pendirian cintanya ..

'Bahwa cinta yang terluka itu tetaplah sebuah cinta'

Tak peduli sebanyak apa Ia pernah terluka, jika hatinya tetap mendambakan cinta -cinta kepada sosok Pria angkuh berwujud sebuah jiwa Kris Wu- itu adalah nyata ..

Tak peduli seperih apa luka itu menjalar ke seluruh jiwanya -akan semua kesakitan dan derita nestapa yang Ia dapat- Ia tetap akan kembali pada sebuah senyuman diakhir kisah bad romancenya ..

Tak peduli berapa ribu kali perasaan kecewa itu menyelinap, tetap akan ada jutaan maaf –atas semua pengkhianatan yang Ia terima- bertugas melenyapkan kecewa itu entah bagaimana caranya ..

Namun kali ini, Ia lebih memilih melepaskannya ..

Bukan karena Ia lelah tapi karena Ia tahu ini akhir dari kekuatannya, ini tak bisa Ia kendalikan, ini di luar kekuasaannya ..


.

.

.

-tbc-

.

.

.

Duh .. Akang Chanyeol udah keluar ..

Jadi si Pengacara Park ini sosok misterus yang direkrut Kai, jawabannya ada di next chapt yang kemungkinan isinya Full ChanHo moment. Chanyeol yang mencari cara mendapat perhatian dan cinta Suho.

Yang mau benci sama Yixing, bolehh .. Yang mau marah sama Kris, bolehhhh .. Atau mau ikutan nangis bareng Junmyeon, bolehhh .. Tapi kalo mau gebukin Joon, jangaaannnnnn ..

Nanti bakal ada 'child' di sini, Joon gtau mau pake siapa, Sehun dan Luhan child kah ? Atau EXO Baby look a like ? Mohon sarannya yaaa ..

Maaf karena ini puanjang banget masak :3

.

Pengen curhat dikit ..

Ada temen yang nanya, kenapa nulis KrisHo ? Kenapa ga nulis OTP lain ? Pasti FF-mu bakal lebih rame! Dan jujur ini bener-bener biki Joon kesinggung abis -_- KrisHo its Joon first OTP, gada yang bisa gantiin sekalipun mereka uda bertahun-tahun gak punya moment atau apalah ..

Joon gak bakal berhenti nulis tentang mereka sekalipun gak ada yang baca. Jadi mohon yang tidak suka OTP ini, ga perlu repot-repot baca ya ..

.

.

.

Big Thanks :

poriansweet | AkaSunaSparKyu | Ti tokk | Qim | myunggish | syxo67 | PikaaChuu | Suhocang | daebaektaeluv | sayakanoicinoe | ruixi1 | viviyeer