Better not to Know
Vampire Knight
By : Hino Matsuri
Better not to Know
By : Kawaihana
Vampir bernama Yugure ini bilang kalau orang tuaku dan adiknya ini berteman baik, tapi yang kutahu, mereka berdua sering bertarung, walaupun lebih cocok disebut bertanding karena ayah dan ibuku tak bisa membunuhnya tanpa perintah, dan vampir bernama Niwa itu pun tak pernah melukai mereka berdua dengan fatal. Setidaknya tidak hingga hari itu terjadi…
Chapter 6
Hate and Bite
Yuri POV
Kepalaku terasa pusing sekali, aku seperti habis melihat mimpi yang sangat buruk. Orang-orang dengan raut wajah yang mengerikan dengan gigi taring yang tajam. Tapi tentu saja itu semua hanya mimpi… iya kan? Ngak mungkin yang namanya vampir itu ada. Mereka hanya ada di buku misteri yang pernah kubaca.
Kurasakan tempat yang kutiduri ini bukanlah kasurku. Rasanya seperti sofa, tetapi sejauh yang kuingat sofa dirumah tidak ada yang seempuk ini. Berusaha kubuka mataku yang terasa berat, tapi gagal. Tubuhku pun sepertinya tidak mau mengikuti kemauanku dan terus terasa sulit untuk digerakkan. Yang dapat kugerakkan hanyalah beberapa jari tanganku, tapi sepertinya itu sudah cukup untuk menarik perhatian. Samar-samar aku mendengar suara orang berbicara dan suara langkah-kaki yang mendekat. Aku ingin menolehkan kepalaku untuk mengetahui siapa sang empunya suara, tapi itupun sulit kulakukan.
Yugure POV
Aku menyadari gadis yang sedang berbaring di sofa itu menggerakkan jari-jarinya. "Wah-wah, akhirnya sang putri tidur mulai terbangun." Aku berkata sambil berjalan mendekati si bungsu Shirayuki sambil mengabaikan bentakan amarah dari pemburu vampir yang kini terduduk lemah dan tak ingin aku mendekati adiknya. Melihat diriku yang kini tinggal satu langkah lagi menuju adiknya, amarah sang kakak sepertinya mengalahkan rasa sakitnya dan bangkit untuk menerjangku. Tapi itu tak terjadi, dia tak sempat menyentuhku barang satu helai rambutpun karena Akira sudah lebih dulu menghentikannya.
"Sebaiknya kau simpan saja dulu tenagamu itu, karena kau masih akan membutuhkannya." Aku duduk di sofa yang sama dengan gadis yang sepertinya masih belum benar-benar bisa menguasai kesadarannya. Sepertinya selain pingsan karena shock, Jun juga menggunakan kekuatannya agar gadis ini kehilangan kesadaran lebih lama. Aku membelai rambut hitam panjang milik sang gadis dan mendapat bonus tatapan penuh amarah dan kebencian dari sang kakak.
Aku berhenti membelai rambut sang aduk dan kembali fokus pada sang kakak yang kini terkapar penuh luka dihadapanku "Kau tentu kenal dengan pemburu vampir legendaris bernama Kaien Cross?" Kataku yang lebih mirip pernyataan dibanding pertanyaan. Raut wajah dan bibirnya yang tak bergerak sama sekali itu sudah menjawab pertanyaanku. Tentu saja, pemburu vampir mana yang belum pernah mendengar nama itu. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku, dekati dia dan dapatkan kepercayaannya. "Untuk apa aku menuruti keinginanmu !" sesuai dugaanku, sang pemburu membentakku dengan penuh kebencian. "Tentu saja kau haru melakukannya karena…" aku mengangkat sang adik dan membuatnya duduk menyandar padaku. "...adik kesayanganmu ini akan menjadi jaminannya." aku menyingkirkan helaian rambut hitam panjang yang menutupi leher putih milik sang adik. Apa yang kulakukan otomatis membuat sang kakak panik. Dia berusaha kembali bangkit dari posisinya yang terkapar di lantai bersimbah darah, tapi Akira kembali berhasil menghentikannya. Anak itu walaupun sering bertingkah konyol, tapi kekuatan fisiknya adalah yang paling tinggi diantara yang lainnya.
"Hentikan sialan! Jauhi adikku sekarang juga!" aku terus mengabaikan bentakan itu dan melanjutkan apa yang sedang kulakukan, ya, aku akan mengubah si bungsu Shirayuki ini menjadi vampir seperti apa yang kulakukan pada kedua orang tuanya. Tapi gadis ini memiliki peran yang berbeda tentunya dari pasangan Shirayuki itu.
Jeritan dan makian dari sang kakak semakin keras dan membuat gadis lemah yang ada padaku ini mulai semakin sadar, apa lagi saat aku menjilat leher putihnya itu, bersiap untuk menancapkan taring. Gadis ini mengerutkan wajahnya tanda kalau dia merasakannya. Tanpa basa basi dan disertai teriakan sang kakak, aku memberikan tekanan pada taringku dan melubangi leher sang gadis, menodai leher putih itu dengan dua buah luka dengan darah yang mengalir dari luka-luka itu. Saat aku merasakan darahnya mengalir ke tenggorokanku… tak kusangka, rasanya sangat nikmat. Walaupun kuakui saat aku meminum darah kedua orangtuanya saat itu juga memang terasa nikmat. Darah pemburu vampir tak bisa disamakan dengan darah manusia biasa, rasanya memang lebih nikmat. Tapi yang satu ini berbeda. Darahnya lebih nikmat dibanding darah manapun yang pernah kurasakan. Aku dapat merasakan kalau gadis ini sudah mendapatkan kembali kesadarannya walaupun belum sepenuhnya. Dia menggerakkan tangannya dan menyentuh antara leher dan bahunya yang berlumuran darah.
Hampir saja aku kelepasan dan menghabiskan seluruh darah yang ada di tubuh gadis ini hingga dia kembali kehilangan kesadaran. Untunglah aku berhenti sebelum membunuhnya. Aku melukai pergelangan tanganku dengan menggigitnya hingga berdarah, lalu aku alirkan tetesan-tetesan darah itu ke mulut sang gadis yang kubuat terbuka lebar. Saat darahku sudah cukup banyak menggenang di mulutnya, aku menutup mulut itu dan membuatnya menelan darahku itu.
Aku sudah menggigitnya dan memberikannya darahku agar dia tidak jatuh menjadi level E. kini tinggal menunggu, apakah dia berhasil menjadi vampir ataukah malah mati karena tubuhnya menolak racun vampir dariku. Aku kembali membaringkannya di sofa dan berdiri mendekati sang pemburu yang mengutuki nasibnya karena melihat adiknay sendiri dirubah menjadi vampir di depan matanya sendiri. "Sekarang kita buat peruntungan. Jika adikmu ini tidak berhasil menjadi vampir, aku akan melepaskanmu dan kau juga boleh membawa yah dan ibumu, yah, walaupun mereka sekarang bukan manusia lagi" kataku sambil menyeingai. "Tapi kalau adikmu ini berhasil melewati perubahan dan menjadi vampir, dia akan menjadi tawananku, begitu pula kedua orang tuamu, dan kau harus mengikuti keinginanmu. Karena jika tidak, mereka bertiga akan segera jadi abu" aku melanjutkan kata-kataku tanpa menghilangakn senyuman seringaiku. Sang kakak yang kini amarahnya meletup-letup hanya bisa terkapar telungkup dan menatapku dengan segenap kebenciannya yang dapat terlihat dari matanya itu. Dapat kurasakan dalam hatinya dia ingin sekali menerjangku, membunuh dan mencabik-cabikku. Tapi tentu saja Akira tak membiarkan itu terjadi dan terus menahan pergerakan sang pemburu.
TBC
Chapter 7 Selesai
Ok, hana akui Hana lama banget updatenya...
Tapi jangan lupa Hana mohon kembali Review nya ya ^^
Salam, Kawaihana
