Jam istirahat telah tiba. Mereka yang tengah sibuk mempersiapkan festival terpaksa menghentikan kegiatannya. Begitu pula dengan keempat kawanan itu. Tetapi, mereka memilih tetap berada di dalam kelas dengan ditemani bekal yang mereka bawa dari rumah.
"Jinhwan?" panggil Yunhyung. Yang dipanggil menolehkan kepalanya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Yunhyung khawatir.
Jinhwan melepaskan tumpuan dagunya pada tangannya dan menjawab, "Aku baik-baik saja, kok." Setelah itu, Jinhwan menatap ke luar jendela. Ia tidak benar-benar melihat ke arah lapangan bola, melainkan melamunkan sesuatu yang mengganjal pemikirannya.
'Sebenarnya, apa yang telah terjadi? Mengapa mereka bisa tidak ingat sama sekali?'
Masih terekam dengan jelas ingatannya tentang kejadian semalam. Si vampir pesulap yang datang secara misterius lalu tanpa sebab membunuh sahabatnya, Hanbin.
Tetapi, saat hari ini ia datang ke sekolah dengan terburu-burunya, ia menemukan sahabatnya berkumpul lengkap sambil membuat dekor kelas. Ada Yunhyung, Bobby, dan yang semakin membuatnya terheran-heran adalah adanya kehadiran Hanbin. Bukankah Hanbin semalam telah menjadi korban dari kegilaan vampir itu? Mungkinkah luka gigitan vampir itu tak begitu parah? Atau hal ada hal lain?
Namun, semua dugaannya salah. Ketika ia menceritakan soal vampir yang menggigit salah satu sahabatnya itu, Hanbin dan Yunhyung justru menatapnya heran. Mereka semua mengejek Jinhwan yang sudah terkontaminasi oleh omongan Bobby. Dan tanpa diminta sama sekali, Yunhyung menceritakan bahwa Hanbin hanya mengalami luka kecil pada leher akibat kecelakaan mobil. Pihak yang menumburnya telah bertanggung jawab.
What the hell is going on?!
Jinhwan bukan tipe orang yang cepat lupa. Apalagi jika ini hanya berjarak beberapa jam setelah waktu kejadian. Ia masih ingat betul keadaan Hanbin yang nyaris tak bisa di selamatkan. Luka yang diakibatkan gigitan vampir itu pun bukan luka kecil. Luka itu menyebabkan darah Hanbin keluar sangat banyak sampai-sampai dirinya tidak sanggup untuk melihatnya.
'Siapa dalang dibalik semua ini? Dan apa maksud serta tujuannya?'
Sepulang sekolah, Jinhwan masih saja memikirkan kejadian yang ia alami semalam dan tadi di sekolah. Sungguh tak masuk diakal. Siapakah yang membuat ingatan mereka menjadi berubah?
Tiba-tiba saja ia terpikirkan oleh satu nama yang disebut-sebut oleh si vampir pesulap, yaitu Taehyun.
'Secara sederhana, orang yang bernama Taehyun itu pasti musuh,' batinnya.
"Ugh, sempit sekali."
"Sudah tahu sempit kenapa kau tak bisa diam, hah?"
"Argh!"
Jinhwan berhenti di tempat. Ia merasa tas sekolah yang ia gendong bergerak. Ia pun melepas tasnya lalu mengecek ke dalamnya. Terlihat dua makhluk yang sedang berusaha untuk keluar dari tas yang sempit itu.
"Apa yang kalian lakukan? Dan sejak kapan kau ada di dalam tasku?" tanya Jinhwan pada boneka itu, Mino.
"Keluarkan aku!" pinta Junhoe. Jinhwan pun mengeluarkan keduanya dari dalam tas.
"Sejak kapan kau ada di dalam tasku?" tanyanya lagi pada Mino.
"Mana aku tahu! Tahu-tahu ketika bangun tidur aku ada di dalam tasmu, huh!"
"Heh, kenapa berangkat sekolah tadi kau tak mengecek isi tasmu dulu hah? Merepotkan sekali berdua dengannya." Sudah pasti ucapan ini dari Junhoe.
"Maafkan aku. Aku terlalu terburu-buru ingin menemui sahabatku. Untungnya seharian ini tidak belajar."
Setelah itu, mereka pun sama-sama terdiam. Hanya boneka Mino yang bergerak tak karuan ingin lepas dari tangan Jinhwan. Tanpa pikir panjang, Jinhwan kembali memasukkan boneka itu ke tasnya. Awalnya ia merasakan pergerakan dari dalam tasnya. Namun tak lama kemudian, ia merasa tasnya tidak menunjukkan tanda-tanda apapun.
"Ngomong-ngomong, kenapa bisa..." Jinhwan belum menyelesaikan ucapannya karena langsung disela oleh kucing hitam yang baru saja pindah ke bahunya.
Junhoe memejamkan matanya. "Hentikan pemikiran merepotkanmu itu. Seharusnya kau bersyukur kalau tadi malam hanyalah sebuah mimpi."
"Tapi, itu terlalu nyata. Aku..."
Puk
Lagi-lagi ucapannya terpotong oleh sebuah tepukan pada bahunya. Jinhwan pun membalikkan badannya.
Seorang wanita berdiri di hadapannya. Hal yang paling menonjol dari wanita itu adalah eyeliner tebal pada kelopak matanya serta sesuatu yang besar menonjol pada bagian tubuhnya karena pakaiannya yang ketat. Tidak perlu dijelaskan lebih, kalian pasti tahu 'kan?
"Apa kabar?" tanya wanita itu. Keduanya terdiam sehingga mengundang decak kesal dari wanita itu.
"Kenapa kau tidak jawab, eoh?" Wanita itu menatap tajam ke arah Jinhwan. Jinhwan jadi kikuk sendiri.
"A-aku?" tanya Jinhwan sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Kau. Kakak tertuaku, Sleepy Ash."
"Anu...Maaf. Aku Kim Jinhwan. Eve-nya si kemalasan," jawabnya. Wanita itu terdiam sebentar. Ia menatapi Jinhwan lama. Ia juga menatap ke kucing yang ada di bahu Jinhwan.
"Oh My God!" Wanita itu menepuk jidatnya.
"Cih! Itu kenapa aku gak mau ketemu nih anak. Tempramennya saja yang tinggi. Tapi, isi otaknya...ck!" sindir Junhoe masih memejamkan matanya.
Ia yang geram langsung mengambil Junhoe di bahu Jinhwan. Lalu ia pun menggoyang-goyangkan kucing itu tanpa ampun dan mulai mengomel tidak jelas.
"Anu...kenapa kau tidak bisa mengenali kakakmu sendiri?" intrupsinya. Wanita itu pun berhenti menyiksa Junhoe.
"Saat aku diciptakan, Junhoe sudah pergi berkeliaran entah kemana. Saat ada pertemuan dengan kakak tertua, aku tak menghadirinya. Aku pun tak tahu rupanya bagaimana. Terakhir bertemu adalah 1000 tahun yang lalu dalam bentuk...AW!" Junhoe menggigit jari wanita itu sampai berdarah. Junhoe pun terlepas dari pegangannya.Sungguh menyeramkan bagi sesama saudara vampir.
"Jangan berbicara yang tidak-tidak!"
"Ck, memangnya kenapa? Toh, anak ini kan Eve-mu."
"Aku tak ingin mengakuinya. Dia terlalu lemah," ucapnya. Jinhwan tidak memperdulikannya.
"Aku boleh bertanya...eum..."
"Panggil aku CL."
"Oh, baiklah. Kenapa kau tidak berubah wujud di bawah sinar matahari seperti Junhoe?"
Pertanyaan itu justru membuat CL pundung seketika. Junhoe yang melihatnya hanya terkekeh pelan. Jinhwan pun merasa aneh sendiri.
"Apa pertanyaanku salah?"
"Hehe, tidak. Tapi, dia jadi teringat seseorang hahahaha," tawanya. Baru kali ini Jinhwan melihat peliharaannya tertawa.
"Ada peraturan dimana Servamp tidak boleh menikahi Eve-nya ataupun sebaliknya. Jika mereka melanggarnya, maka salah satu kekuatan mereka akan hilang. Beruntung, aku hanya kehilangan kemampuan merubah wujud."
"Bukannya itu menguntungkan untukmu, ya?" tanya Jinhwan.
"Seharusnya begitu. Tapi, ini di era globalisasi. Suhu bumi semakin meningkat. Kulitku bisa terbakar dan hitam. Aku juga jadi tidak memiliki penyamaran khusus." Jinhwan memgangguk paham.
"Jadi, kalian berdua jangan sampai saling jatuh cinta apalagi sampai menikah," kata CL.
Keduanya saling memandang lalu sama-sama membuang muka. Mereka bergumam sesuatu yang intinya mereka tidak akan pernah melakukannya.
"Sudah tidak ada waktu lagi. Ayo, kita pergi sekarang," ajak CL.
"Kemana?" tanya Jinhwan heran.
"Sekedar untuk memberitahu saja malas. Pokoknya ikuti saja aku," ujar CL. Jinhwan tahu bahwa CL menyindir Junhoe. Pasti kucingnya itu sengaja menyembunyikan sesuatu.
"Hoy, bocah! Kenapa hanya diam di sana?"
"A-ah iya!" Jinhwan berlari menyusul CL lalu berhalab beriringan.
Sepanjang perjalanan, ia mengepoi wanita itu seputar servamp dan saudara-saudaranya. Walaupun CL menjawabnya dengan nada seperti orang marah, namun sesungguhnya ia cukup senang menjawabnya.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di sebuah tempat. Kalau dilihat dari luar, seperti sebuah restoran tradisional yang sepi. Tapi, ketika memasuk ruang masuk dari tempat itu, ternyata itu adalah sebuah club yang berisi banyak orang dewasa.
Jinhwan merasa tidak enak. Ia pun memegang tangan CL dan berjalan menunduk. CL tahu bahwa anak itu merasa bersalah pada dirinya sendiri, sama seperti dirinya. Tapi, mau bagaimana lagi. Tempat paling aman adalah berada di lantai atas di klub itu. Ia pun membiarkan anak itu berpegangan padanya.
"Bodoh memang. Tempat pertemuan kok di tempat seperti ini," gumam Junhoe.
"Seandainya kau tidak menjawab terserah pada dia, mungkin kita bisa mencari tempat lain. Merepotkannya lagi, aku harus menjemputmu karena jawabanmu itu," balas CL. Junhoe hanya meniru cara bicara adiknya itu tanpa suara.
Cklek
Ketiganya berhenti lalu menatap ke depan. Begitu pula dengan Jinhwan yang sudah berani mengangkat wajahnya.
"Oh!" seru laki-laki yang baru keluar dari suatu kamar. Lalu, laki-laki itu pun tersenyum sehingga menampakkan kedua gigi taringnya.
"Akhirnya datang juga."
TBC
4. The Mother of Wrath - CL
Servamp : Amarah / kemurkaan
Eve : Memutuskan untuk tidak memiliki eve setelah kematian suaminya yang sekaligus sebagai eve-nya.
Ket : Servamp nomor 4.
part ini adalah part karangan author btw ini balas komentar kalian gimana ya :') gak paham nih.
nama judul animenya "Servamp"
